YAYASAN GALUH (Bantuan Sembako), beralamat di Jl. Cut Mutia, Bambu Kuning No. XI, Kampung Sepatan, RT. 3/2, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawa Lumbu, Kota Bekasi Jawa Barat. Yayasan Galuh diketuai oleh Bpk. Suhanda Gendu (59) anak dari Gendu Mulatip yang merupakan pendiri dari Yayasan Galuh. Yayasan ini menampung orang-orang cacat mental/gila baik yang punya keluarga ataupun yang ada di jalanan. Sejak tahun 1980, Yayasn Galuh sudah berdiri diatas tanah serta sebagian bangunan dengan total luas 4.000m, saat ini sudah menampung sekitar 370an pasien dari Bekasi dan kota lainnya, dalam sebulan kebutuhan beras untuk Yayasan bisa mencapai 6 ton ditambah lauk pauk yang harus mereka siapkan dengan dibantu oleh relawan sebanyak 45 orang. Mereka adalah orang-orang yang pilihan Tuhan, dengan Ikhlas dan tanpa pamrih merawat dan mengobati orang-orang skizofrenia, cacat mentalnya dan tak terurus pihak keluarganya. Mereka sangat membutuhkan bantuan kita, Alhamdulillah sejak tahun 2012 #SedekahRombongan telah rutin menyampaikan bantuan untuk keperluan operasionaln dan pada bulan Juni 2016 kembali #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk keperluan operasional yayasan ini setelah santunan sebelumnya masuk pada Rombongan 846. Semoga bantuan ini bermanfaat untuk Bapak Suhanda dan tentunya untuk pasien-pasien yang sekarang berikhtiar di Yayasan Galuh. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 5.000.000,-
Tanggal : 22 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @harjie_anis

Bantuan Sembako

Bantuan Sembako


ALEX MANTUFANUAN (52, Stroke). Alamat: Tanah Merah RT. 12/7 Kelurahan Penumpang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bang Alex begitu beliau disapa, bermula 4 bulan yang lalu tiba-tiba Bang Alex mengalami kekakuan di tangan dan kaki kirinya. Kemudian dibawa ke Klinik terdekat, dokter di klinik mengatakan jika bang Alex menderita stroke. Karena keterbatasan biaya bang Alex tidak memeriksakan dirinya ke dokter, bang Alex cukup memeriksakan diri ke klinik terdekat. Sehari-hari bang Alex bekerja serabutan, sekarang saat kondisinya sedang sakit seperti ini bang Alex tidak bisa berbuat banyak. Alhamdulillah, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan bang Alex saat para pasien #SR yang dirawat di RSUD Koja Tanjung Priuk banyak yang dibantu pengurusan surat-suratnya oleh bang Alex, santunan untuk biaya berobat dan kebutuhan harianpun disampaikan untuk membantu bang Alex. Bang alex menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 22 Juni 2016
Kurir: @ddsyefudin  @harji_anis @untaririri

Pak alex menderita Stroke

Pak alex menderita Stroke

RIZA SAPUTRI (16, Sinoviosarkoma). Alamat : Ds. Teluk Kandai RT. 1/1, Kelurahan Teluk Kandai, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Gadis manis yang akrab disapa Riza ini adalah siswi kelas 2 SMP yang telah cuti selama 6 bulan karena harus menjalani proses pengobatan yang panjang. Bermula pada bulan Juli 2015 silam, di paha sebelah kanan Riza terdapat benjolan sebesar telur ayam, beberapa bulan sebelumnya sudah ada tapi Riza tidak berani mengatakan kepada orang tuanya. Sejak saat itu, orang tua Riza membawa Riza berobat ke RS. San Sani, tapi pihak dokter tidak mengetahui diagnosa pasti dari sakit yang diderita Riza. Tidak puas berobat di rumah sakit tersebut, orang tua Riza kemudian membawa Riza berobat ke RS. Eka Hospital, disana dokter mengatakan jika Riza menderita Tumor Jinak, tapi karena keterbatasan alat akhirnya pihak rumah sakit merujuk Riza ke RS. Arifin Ahmad Pekan Baru. Di RS. Arifin Ahmad, Riza langsung dirujuk pengobatan lanjutannya ke RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Pada bulan November 2015, Riza bersama dengan kedua orangtuanya berangkat ke Jakarta untuk berikhtiar mencari kesembuhan. Di RSCM Riza langsung mendapat penanganan medis, setelah menjalani beberapa pemeriksaan, bulan Desember 2015, Riza dilakukan tindakan biopsi dan dari hasil biopsi tersebut dokter mengatakan jika Riza menderita Sinoviosarkoma. Setelah dilakukan tindakan biopsi, benjolan di paha Riza sempat membesar. Selama ini pengobatan yang dijalani adalah pemberian kemoterapi. Nanti untuk tindak lanjutnya akan dilakukan tindakan pengangkatan tumornya jika respon pemberian terapi posistif. Hampir Selama 7 bulan Riza dan kedua orang tuanya berada di Jakarta untuk menjalani pengobatan tentu bukan menjadi hal yang mudah. Sebelum ke Jakarta ayah Riza, bapak Syafrizal (43) adalah seorang petani kebun dan ibunya, ibu Santi (38) sehari- hari menjadi ibu rumah tangga biasa. selama di Jakarta bapak Syafrizal tidak bisa berkebun lagi, untuk kebutuhan sehari-hari selama di Jakarta harus berhemat. Alhamdulillah Kurir #SR dipertemukan dengan keluarga ini dan kembali menyampaikan bantuan untuk kebutuhan selama di rumah sakit, setelah bantuan sebelumnya masuk Rombongan 850. Saat ini Riza menjalani rajan jalan di Poli Bedah Anak di RSCM Kiara. Riza dan keluarganya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan. Riza juga meminta doa dari #SahabatSR semoga jalan dia untuk mencari kesembuhan diberi kemudahan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000, –
Tanggal : 22 Juni  2016
Kurir : @ddsyaefudin @harji_anis @cahyani_eka @untaririri

Riza menderita Sinoviosarkoma

Riza menderita Sinoviosarkoma


MUH. RIZKI (5, Rabdomiosarcoma) Alamat: Kampung Pabuaran RT. 1/5, Kelurahan Kertajaya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sungguh menyedihkan nasib Rizki, bocah yang sejak kecil sudah menderita Rabdomiosarcoma. Saat itu mata sebelah kirinya menonjol keluar. Melihat kondisi anaknya yang sepeti ini, orang tua Rizki sempat bingung harus bagaimana karena jika berobat pasti akan berlangsung lama sementara bayangan tentang biaya terus menghantuinya. Ibunya, Siti Solihat (39) menyatakan kesulitan yang mereka hadapi dimana mempunyai tanggungan 5 anak semuanya masih kecil-kecil. Ayahnya, Acang (41) adalah seorang supir truk pengangkut pasir. Dengan keyakinan dan harapannya akan kesembuhan Rizki, orang tua Rizki memutuskan untuk membawa Rizki berobat ke Jakarta. Karena saat itu, Rumah Sakit Daerah tempatnya berobat tidak dapat menangani penyakitnya. Ditengah proses pengobatan yang dijalani Rizki, Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga ini. Melihat semangat Rizki yang ingin sembuh begitu luar biasa, kami merasa bertanggung jawab untuk membantunya. Bantuan lanjutan untuk biaya hidup selama Rizki menjalani pengobatan kembali disampaikan setelah bantuan sebeumnya masuk Rombongan 792. Kini Rizki kecil masih terus menjalani kontrol rutin di RSCM Kirana.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 22 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @endangnumik @harji_anis

Risky menderita Rabdomiosarcoma

Risky menderita Rabdomiosarcoma


ANGKASA RAMADHAN (6, Gangguan Pencernaan). Alamat : Kp. Kumejing RT. 3/6, Desa Sukaindah, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Orang tuanya biasa memanggil dengan nama Aang, yang sejak lahir memang sudah ada kelainan. Namun, dokter belum berani untuk ambil tindakan dan harus tunggu ketika ia sudah agak besar. Ada benjolan yang terdapat seperti lubang kecil terletak sekitar 5 cm di atas bokong. Ia tidak pernah merasakn mulas saat akan buang air besar, sehingga kotorannya berceceran saat ia sedang main bersama teman-temannya. Tentu saja hal ini kadang membuat Aang dijauhi dari teman-temannya. Ketika Kurir #SedekahRombongan berkunjung ke rumahnya, Aang belom memiliki jaminan apa-apa untuk berobat dan rencananya akan segera dibuatkan kartu BPJS. Ayahnya, Pak Joni (44) seorang buruh serabutan, sedangkan ibunnya, Bu Acih (41) ibu rumah tangga. Saat ini Aang menjalani pemeriksaan lanjutan ke RS. Hasan Sadikin Bandung. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan dapat merasakan kesulitannya sehingga menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya akomodasi ke RS. Hasan Sadikin Bandung. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 847.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 23 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @mardisay

Angkasa menderita Gangguan Pencernaan

Angkasa menderita Gangguan Pencernaan


KEISYA RIA AMANSYAH (6, Epilepsi). Alamat: Gang Swadaya 1 Kp. Cabang RT.2/6, Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ayah Keisya bernama Dasman Firmansyah (31), sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan. Ibunya bernama Mimin Minarti (29), seorang ibu rumah tangga.  Jumlah tanggungan mereka 3 orang.  Semenjak lahir di RS Permata Bunda Cibitung Bekasi, Keisya sudah mendapatkan perawatan intensif karena gangguan pernapasan dan kejang.  Keisya dirawat selama 3 minggu dan  diperbolehkan pulang setelah dinyatakan sehat. Namun, setelah 1 minggu di rumah Keisya kembali kejang-kejang dan di rawat di RSUD Cibitung selama 1 bulan. Setelah itu Keisya mengalami kejang berulang  kali sampai dirawat di rumah sakit.  Seiring bertambah usia Keisya,  kedua orangtuanya merasa beban semakin berat. Hingga akhirnya ada teman orangtua Keisya yang memberikan bantuan untuk berobat ke RS Hasan Sadikin Bandung.  Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, Keisya dinyatakan menderita epilepsi. Ada beberapa obat yang tidak ditanggung oleh BPJS, sehingga harus beli sendiri. Jarak tempuh Cikarang-Bandung membuat Ibunya Keisya mengambil keputusan baru untuk melanjutkan pengobatan Keisya ke RSCM Jakarta. Alhamdulillah #SedekahRombongan dapat menyampaikan santunan untuk biaya akomodasi ke RSCM Jakarta. Santunan sebelumya masuk di Rombongan 831. Semoga Allah memberi kesembuhan untuk Keisya. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 22 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudi @SuharnaYana @untariri @hapsarigendhis

Keisya menderita Epilepsi

Keisya menderita Epilepsi


AGUS SUWANDI (55, Stroke). Alamat : Kp. Rawa Lintah RT.4/3, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pertengahan bulan Maret 2016, saat Pak Agus sedang di tempat kerja ia mengaalami kejang-kejang dan lemas. Upaya keluarga hanya membawa Pak Agus ke pengobatan alternatif karena tidak ada biaya. Namun hingga saat ini tidak ada perkembangan yang baik sehingga membuat keluarga mulai putus asa. Sebenarnya Pak Agus memiliki Kartu BPJS Kesehatan yang preminya sudah tidak dibayar selama 2 tahun terakhir. Sebagai seorang kepala keluarga, Pak Agus bekerja sebagai juru parkir untuk memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya. Semenjak ia sakit, sudah tidak ada penghasilan lagi sehingga membuat perekonomian keluarga ini terpuruk. Istri Pak Agus, Bu Yanti (45) sudah 3 tahun tidak dapat melihat karena penyakit glukoma yang dideritanya. Alhamdulillah, mereka dipertemukan dengan Kurir #SedekahRombongan sehingga dapat membantu membayarkan tunggakan BPJS Pak Agus dan kemudian langsung mengevakuasinya ke RS. Sentra Medika Cikarang. Bantuan awal pun disampaikan untuk membayar iuran BPJS dan bekal selama di rumah sakit. Semoga Pak Agus cepat membaik dan dapat beraktivitas kembali. Aamiin..

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 22 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana Via Mamat Maksudi

Pak agus menderita Stroke

Pak agus menderita Stroke


SALMEH BINTI NAPIS (42, Tumor Ovarium). Alamat : Kp. Gaga RT. 1/2, Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sudah 1 tahun Bu Salmeh merasakan sakit pada perutnya dan semakin membesar. Dari hasil USG dokter kandungan, Bu Salmeh dinyatakan ada tumor di luar rahim dan disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Ketiadaan biaya yang membuat proses pemeriksaannya sempat terhenti, karena untuk hidup sehari-hari saja mereka sangat kesulitan. Suaminya, Pak Rohman (48) hanya seorang buruh serabutan yang penghasilannya tidak menentu. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan menyampaikan bantuan awal biaya akomodasi ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 24 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana Via Nah Jaronah

Bu salmeh menderita  Tumor Ovarium

Bu salmeh menderita Tumor Ovarium


BASTIAN ARDIANSYAH (16, Fraktur Clavicula). Alamat : Kp. Gaga RT. 5/2, Desa Sukamantri, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Sekitar awal bulan Mei 2016, Bastian terjatuh dari sepeda motor dan sempat menjalani perawatan di RS. Anissa Cikarang selama 10 hari. Namun setelah ia pulang dari rumah sakit, ia merasakan sakit di samping leher sebelah kanan. Setelah dirontgen, ternyata ada bagian tulang yang patah. Dengan berbekal kartu KIS PBI, Bastian menjalani serangkaian pemeriksaan di RSUD Kabupaten Bekasi. Sayangnya mereka kesulitan untuk ongkos berobat ke rumah sakit sehingga perlu dibantu. Ayahnya, Pak Tuan (48) hanya seorang buruh serabutan sedangkan Ibunya, Bu Sumiyati (45) ibu rumah tangga. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan menyampaikan bantuan awal biaya akomodasi ke rumah sakit dan rencananya Bastian akan menjalani operasi pada tanggal 30 Mei 2016 di RSUD Kabupaten Bekasi. Semoga operasinya dapat berjalan lancer. Aamiin…

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 23 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @mardisay

Bastian  menderita Fraktur Clavicula

Bastian menderita Fraktur Clavicula


RUSDATUL UMAH (3, Hydrocepalus). Alamat : Ujung Harapan RT. 8 /5, Desa Bahagia Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. Umah sejak lahir terlihat mengalami hydrocephalus. Ukuran kepalanya semakin lama semakin membesar. Umah pernah dibawa salah satu berobat ke RSCM Jakarta, dan dilakukan pemeriksaan laboratorium, namun setelah itu tidak dilanjutkan lagi. Umah terlahir dari seorang ibu bernama Opiyah (32) seorang ibu rumah tangga. Sedangkan ayahnya bernama Rudi Hartono (36) bekerja sebagai tukang bor sumur. Kondisi ekonominya sangat memperihatinkan, terlebih dengan adanya cobaan terhadap putrinya. Setelah menjalani beberapa kali tahapan pemeriksaan, pada hari ini Umah menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Bekasi sebelum dilakukan tindakan operasi pertama pemasangan Vv Shunting. Pada tanggal 22 Juni 2016, Umah mengalami drop dan dilarikan ke RSUD Kabupaten Bekasi untuk dapat penanganan. Setelah menjalani perawatan 1 malam, akhirnya Umah meninggal di RSUD Kabupaten Bekasi. Kurir #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan uang duka kepada orang tua Umah. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 833.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 23 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @Supr1ono @hapsarigendhis

Umah menderita Hydrocepalus

Umah menderita Hydrocepalus


POPTI atau Perhimpunan Orangtua Penderita Thalassemia Indonesia adalah sebuah organisasi yang di dalamnya berhimpun orangtua dengan latar belakang anaknya menderita Thalassemia. POPTI berperan menjembatani komunikasi antara orangtua penderita thalassemia dengan pihak rumah sakit dalam pengurusan obat, dan terkadang juga  mencarikan bantuan untuk penderita thalassemia yang kurang mampu. Saat ini totalnya ada 147 penderita Thalassemia yang menjalani tranfusi rutin di RS Sentra Medika Cikarang. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak usia sekolah yang setiap 2-4 minggu sekali datang ke rumah sakit untuk menjalani transfusi. Selain itu, mereka harus rutin minum obat kelasi besi. Syukur alhamdulillah hampir semua pengobatan dicover oleh jaminan BPJS. Akan tetapi dari 147 anak ini ternyata  memiliki latar belakang sosio-ekonomi yang berbeda-beda. Berdasarkan data POPTI, ada 50 anak yang berasal dari keluarga tidak mampu sehingga membutuhkan uluran tangan donatur untuk membayar iuran BPJS atau biaya transport ke rumah sakit. Meskipun menggunakan BPJS kelas 3 biaya iuran tetap dirasakan berat. Bahkan ada satu anak yang jaminan BPJS-nya telah  dinonaktifkan karena lebih dari 3 bulan tidak dibayar. Ada anak yang sejak kecil ditinggal orangtuanya dan sekarang tinggal bersama neneknya yang tidak bekerja. Anak yang lain ada yang ditinggalkan ibunya karena sang ibu tidak bisa menerima keadaannya. Ada orangtua yang harus menggadaikan telepon genggam untuk biaya transport dari kota Bekasi ke rumah sakit. #SedekahRombongan bertemu anggota POPTI di rumah sakit dan menyampaikan bantuan lanjutan untuk membayar iuran BPJS anak-anak dengan Thalasemia yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 818.

Jumlah Bantuan: Rp.1.000.000,-
Tanggal : 24 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @SuharnaYana @untaririri @hapsarigendhis

Bantuan untuk membayar iuran BPJS atau biaya transport ke rumah sakit.

Bantuan untuk membayar iuran BPJS atau biaya transport ke rumah sakit.


MUHAMMAD SYAKIR (2 Bulan. Pendarahan Intrakranial). Alamat : Kampung Ciputih RT.02/17 Desa Karamat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Muhammad Syakir adalah anak pertama buah pernikahan antara Pak Heri Katrianto (43) dan Ibu Dewi Lilis S.(42). Pada suatu malam di awal Juni 2016 bayi mungil ini tiba-tiba menangis dan terus-terusan rewel. Selain mengalami demam cukup tinggi, ia juga kerap kejang-kejang. Keesokan hari orangtua Syakir memeriksakannya ke dokter praktek dan Puskesmas terdekat. Tim medis di fasilitas kesehatan tingkat satu ini kemudian merujuk penanganannya ke RSUD Soreang. Karena belum memiliki jaminan kesehatan apa pun, ia didaftarkan sebagai pasien umum yang harus membayar sendiri. Sebelum dirujuk ke IGD RSHS Bandung, ia sempat dirawat inap dua hari di RSUD Soreang atas anjuran dokter spesialis anak. Tanpa jaminan kasehatan, Syakir akhirnya dievakuasi ke RSHS Bandung dan terdaftar sebagsi pasien SKTM yang persyaratannya menyusul. Selama dua puluh hari dirawat inap di RSUP itu, ia juga sempat mendapatkan tindakan operasi. Ia bahkan dirawat beberapa hari di ruang PICCU RSHS Bandung. Pada akhir Juni 2016 ia diperbolehkan pulang. Kondisi bayi Syakir alhamdulillah membaik. Perkembangannya sangat menggembirakan. Adapun total tagihan selama ia ditangani di RSHS Bandung adalah Rp.35.001.000,-. Dipotong nominal jaminan dari SKTM Kabupaten Bandung (Rp 5000.000,-) tagihan akhir menjadi Rp.30.001.000,- Mendapat tagihan yang di luar kemampuan mereka, keluarga dhuafa ini hanya bisa terdiam dan menangis. Mereka tergolong dhuafa yang penghasilannya h takKebingungan mereka sampai beritanya kepada #SedekahRombongan atas informasi dari kader PKK di desa mereka. Bersama keluarga Syakir, kemudian kurir #SR menemui bagian administrasi keuangan RSHS Bandung, mencari solusi untuk pembayaran tagihan rumah sakit atas nama bayi tersebut. Bersyukur pihak manajemen RSHS amat peduli atas cobaan yang menimpa mereka dengan memberi kemudahan pembayaran secara diangsur selama 12 bulan. Dengan empati sedekaholics #SR, alhamdulillah, kurir #SR dapat menyampaikan bantuan untuk keluarga M. Syakir yang digunakan untuk membayar cicilan pertama tagihan biaya rumah sakit atas nama Muhammad Syakir. Pada hari yang sama alhamdulillah MTSR Bandung juga berkesempatan menjemput M. Syakir dan orangtuanya pulang ke rumahnya.

Jumlah Bantuan : Rp.2.000.000,-
Tanggal : 20 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda

Syakir menderita Pendarahan Intrakranial

Syakir menderita Pendarahan Intrakranial


HENDRA GUNAWAN,  (26, Giant Cell Tumor). Alamat: Kampung Rawa Sentul RT. 2/4, Desa Jaya Mukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Sejak 3 tahun yang lalu  Hendra mulai merasakan nyeri dan bengkak pada lutut sebelah kirinya, yang mengharuskan Hendra berobat. Namun karena ketidaktahuannya akan gejala-gejala tumor yang dideritanya, Hendra memilih berobat secara tradisional. Selama satu tahun, penyakitnya malah bertambah parah. Bengkak di lututnya semakin membesar. Akhirnya ia memutuskan untuk berobat di RS Medirosa Bekasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Hendra didiagnosa mengidap tumor pada tulang lutut kaki kirinya, yang dalam istilah medis dikenal sebagai Giant Cell Tumor. Penanganannya kemudiandan dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung. Pada tahun 2012, Hendra menjalani operasi pertama dan dilanjutkan dengan radioterapi sebanyak 30 kali di RS Hasan Sadikin Bandung. Selama rutinitas pengobatan tersebut, Hendra tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung. Pada Juni 2016 Hendra menjalani operasi pengangkatan PEN yang sudah lama tertanam di kaki kirinya. Operasi yang dilaksanalan di rumah sakit di Kota Bandung ini alhamdulillah berjalan lancar. Hendra diberikan kekuatan dan kemudahan dalam proses ikhtiarnya menuju kesembuhan. Meskipun demikian, Hendra masih harus terus kontrol ke RSHS Bandung. Karena itu, dengan empati sesekaholics #SR, pada saat dia singgah di RSSR Bandung, alhamdulillah kurir #SedekahRombongan dapat menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya pembelian obat Actonel –sebutir Rp.132.000 yang tidak ditanggung BPJS– serta pembelian tongkat dan bekal selama dia tinggal di Bandung. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 848.

Jumlah Bantuan: Rp.1.000.000,-
Tanggal: 18 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @avinptr

Pak hendra menderita  Giant Cell Tumor

Pak hendra menderita Giant Cell Tumor


ILPHI FITRIA (2,5 tahun. Diagnosa : Retinoblastoma). Alamat : Kampung Gardu RT.5/2 Desa Bojongasih, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Ipi — begitu panggilan sehari-harinya– adalah anak kedua, hasil pernikahan Pak Yayan Priyanto (32) dengan Bu Ike Nurmaya (25). Anak yang masih sangat membutuhkan sentuhan kasih sayang ayah dan ibunya ini kini tinggal bersama nenek dan bibi dari ibunya. Berdasarkan penuturan neneknya, pernikahan ayah-ibu De Iphi gagal; masing-masing sudah menikah lagi. Kesedihan anak yang belum mengerti arti hidup ini seperti belum cukup. Pada Agustus 2015 anak pendiam itu sering menangis karena merasakan gatal, pedih, dan nyeri di matanya. Neneknya kemudian memeriksakannya berkali-kali ke Puskesmas dan dokter praktek. Sampai akhir tahun 2015 kondisi matanya masih belum juga sembuh. Nenek dan bibinya mulai khawatir. Dengan memanfaatkan jaminan Kartu BPJS Kelas 3, penanganan medisnya lalu dirujuk ke RSUD Bungut Sukabumi. Berdasarkan hasil pemeriksan di sana, Ipi diduga mengidap kanker yang menyerang retina matanya (retinoblastoma). Karena pengobatannya dirujuk ke RS Mata Cicendo dan RSHS Bandung, pada akhir Januari 2016, nenek dan bibinya kemudian membawanya ke Bandung. Selama berobat di kota kembang ini mereka tinggal di mushalla RSM Cicendo dengan izin Satpam. Dari mushalla sederhana itu, selama 20 hari, mereka berangkat ke RSHS atau RSM untuk menjalani tahapan awal pemeriksaan Dek Ipi. Kisah tentang penyakit mematikan yang diderita Ipi serta kegigihan ibu, nenek, bibinya dalam mengikhtiarkan kesembuhan balita itu akhirnya sampai kepada #SedekahRombongan atas informasi dari pasien dampingan #SR yang sempat bertemu di RSM Cicendo dan berempati kepada mereka. Kurir #SR di Bandung kemudian menjemput mereka di mushalla tersebut dan mengajak mereka tinggal di Rumah Singgah #Sedekah Rombongan (RSSR). Mereka begitu gembira saat ditempatkan di rumah kedua mereka yang lebih layak dijadikan tempat tinggal selama berobat di RSHS. Karena mereka juga sudah kehabisan bekal uang saku untuk kelanjutan pengobatan De Iphi, alhamdulillah #SedekahRombongan pun memberi mereka bantuan untuk biaya berobat selama tinggal di Bandung. Pada pertengahan Maret 2016, Dek Ipi masuk ruang rawat inap di RSM Cicendo; tiga hari kemudian dilanjutkan dengan tindakan operasi matanya. Didampingi ibunya, beberapa hari ia dirawat pasca operasi mata yang berhasil itu. Alhamdulillah. Akan tetapi, pada saat memeriksa Ipi, tim medis di RSM Cicendo menemukan adanya potensi benjolan di lehernya. Kepada keluarganya, dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan ke RSHS untuk memastikan benjolan tersebut. Perjuangan Ipi rupanya masih panjang. Setelah tuntas operasi mata di RSM Cicendo, ia harus menjalani pemeriksaan lagi di RSHS Bandung. Pada bulan Mei 2016 ia dua kali datang ke RSHS Bandung untuk menjalani kemoterapi. Masa kritisnya telah terlewati. Alhamdulillah #SR dapat membantunya menjalani pengobatan. Pada bulan Juni 2016 Ipi, didamoinhi nenek dan ibunya, datang kembali ke Bandung dan tinggal di RSSR Bandung untuk menjalani kontrol rutin di Rumah Sakit Mata Cicendo dan kemoterapi di RSHS Bandung. Keluarga Ipi masih membutuhkan bantuan untuk terus menjalankan perintah Allah Swt: mengikhtiarkan kesembuhan. Memahami betapa beratnya cobaan yang dialami Dek Ipi dan keluarganya, kembali #SR meyampaikan batuan dari sedekaholics untuk Ipi dan keluarganya. Bantuan ke-4 yang diterima neneknya di RSSR Bandung ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi dan biaya sehari-hari selama mereka berobat di Kota Kembang. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 853.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 23 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda

Ilphi menderita Retinoblastoma

Ilphi menderita Retinoblastoma


SAMINAH BINTI DARKIM (55, Kanker Payudara). Alamat : Blok Kebon Kalimenir I RT.6/6, Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandang Haur, Kabupten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Alamat ini adalah tempat tinggal Bu Saminah bersama suaminya, Taram, yang sehari-hari dikenal sebagai buruh tani serabutan di kampungnya. Di gubuknya ini, pada 4 Juni 2016, Bu Saminah dikunjungi kurirr #SR asal Indramayu. “Saya sakit kanker payu dara  selama dua tahun dan akibat sangat buruk terjadi dalam dua bulan belakangan ini,” katanya menceritakan kisah pedih hidupnya. Bu Saminah juga menuturkan bahwa ia pernah diperiksa di RSUD Sentot Patrol indramayu. Tetapi, pengobatannya tidak berlanjut karena tidak ada biaya. Meskipun sudah memiliki Kartu BPJS, tetapi Ibu Saminah tidak berani berobat karena untuk sekadar ongkos pun ia kerap tak punya uangnya. Keluarga dhuafa ini layak dibantu. Selain miskin, mereka juga diuji Allah dengan penyakit. Karena kemiskinan dan ketidaktahuan, Bu Saminah mengabaikan benjolan kecil di payudaranya; ia memilih untuk tidak memperdulikannya. Bahkan karena keadaan dan desakan kebutuhan, Ibu Saminah terpaksa bekerja sebagai buruh di sawah untuk membantu perekonomian suaminya. Setelah mengalami keadaan memburuk dalam dua bulan, kini hampir 90% payudaranya tergerogoti penyakit kanker. “Ketika dilakukan pemeriksaan di RSUD Pantura Sentot Indramayu, dokter menyarankankan agar saya dirujuk ke RSHS Bandung tetapi saya tak menghiraukannya; dokter saat itu mengatakan bahwa saya harus menyiapkan dana sekitar Rp.25.000.000,-.Saya pasrah saja,” tambahnya. Bagaimana tidak bingung! Suaminya hanya seorang buruh tani yang tidak jelas dan tak seberapa pendapatannya. Ibu Saminah hanya bisa menahan darah dan nanah yang terus menggerogoti payudaranya. Kini ia memilih tinggal di rumah adiknya, agar ada saudara yang bisa mengurusnya walaupun usianya sudah sama tua. Suaminya sendiri menetap di kampung halaman selama musim panen agar ia mencari nafkah. Kemiskinan rupanya tak menyurutkan impian mereka untuk hidup lebih baik. Alhamdulillah, di antara harapan mereka mendapatkan jawaban dari Allah Swt: sedekaholics berempati atas apa yang dialami Bu Saminah dengan memberi mereka santunan dan menjadikannya pasien dampingan #SR. Karena kondisinya menurun, pada minggu pertama di bulan Juni 2016 ia diantar kurir #SR ke Rumah Singgah SR untuk menjalani pengobatan di RSHS Bandung. Alhamdulillah pemeriksaannya berjalan lancar. Akan tetapi sejak tanggal 20 Juni 2016 ia kerap menangis san minta diantar pulang. Akhirnya pada 23 Juni 2016, pukil 20.30 ia diantar pulang ke rumahnya menggunakan MTSR Bansung. Pada kesempatan itu, kurir #SR juga memberinya
bantuan untuk Bu Saminah yang diterima oleh suaminya. Bantuan kedua ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi, membeli dan, dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 857. Pada hari Jumat, 24 Juni 2016, pukul 06.00 kurir #SR mendapatkan kabar dari keluarganya bahwa Bu Saminah binti Darkim telah meninggal dunia. Innaa lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun. Semoga Almarhumah Ibu Saminah binti Darkim mendapatkan ampunan dan rahmat Allah Swt.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 23 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda

Ibu saminah menderita Kanker Payudara

Ibu saminah menderita Kanker Payudara


SOFI BINTI SUNETA (4 Bulan. Gagal Jantung). Alamat: Jl. Desa Lombang RT.2/2 Blok II, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Bayi Sofi adalah anak dari pernikahan Bapak Suneta bin Kanilah dengan Ibu Suwenti. Sejak dilahirkan ia harus berurusan dengan dokter dan rumah sakit. Ia diduga kuat mengalami “gagal jantung”. Berbagai upaya medis dilakukan orangtuanya untuk menyembuhkan anak tercintanya itu. Sofie sempat dirawat di RS Cirbon, dirujuk ke RSUD Indramayu dan akhirnya disarankan untuk ditangani di RS Jantung Harapan Kita Jakarta. Beberapa dokter praktek pun menganjurkannya  dirawat inap di rumah sakit spesialis penanganan jantung. Karena belum memiliki jaminan kesehatan (BPJS), Sofie didaftarkan orangtuanya sebagai Pasien Umum; artinya, fasilitas dan pelayanan RS harus dibayar sendiri. Keluarga dhuafa itu amat terbebani dengan biaya rumah sakit itu. Rupanya Allah Swt lebih menyayangi anak yang masih suci itu. Pada hari Rabu, 27 Mei 2016 Dinda Sofie meninggal dunia. Jenazahnya kemudian dimakamkan di rumah nenek dari ibunya, di Blok Sapi Mati RT 24 RW 06 Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bisa hadir bertakziyah dan menyampaikan bantuan sedekaholics #SR kepada orangtua Dek Sofie. Semoga santunan ini dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Semoga Dinda Sofi dijemput rahmat Allah SWT, dan orang tua yang ditinggalkannya diberi ketabahan dalam menjalani ujian. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiuun!

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 6 Juni 2016
Kurir @ddsyaefudin @mayasari

Sofi menderita  Gagal Jantung

Sofi menderita Gagal Jantung


MUHAMMAD ALFARIZI KURNIAWAN (10 bulan. Gizi Buruk). Alamat : Jalan Desa No. 4 RT.8/2, Kelurahan Babakansari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Muhammad Al-Farizi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, buah pernikahan Pak Anton (26) dengan Ibu Suryani (31). Muhammad lahir dari keluarga dhuafa. Ayahnya sehari-hari bekerja apa saja. Menjadi buruh harian tentu tak seberapa harganya dan tak tentu penghasilannya. Ibunya hanya disibukkan dengan urusan rumah tangga. Bisa jadi karena kemiskinan dialami keluarga ini, salah satu anak mereka tumbuh tidak seperti umumnya anak-anak normal. Berdasarkan hasil pemeriksaan di Puskesmas, Al-Farizi diduga menderita gizi buruk sejak usia 7 bulan. Saat ini berat badannya 4,5 kg dengan tinggi badan 59 cm. Sayang sekali ia belum pernah mendapatkan perawatan maksimal di rumah sakit atau dokter. Setelah ada kunjungan dari UPT Puskesmas Babakansari, Al-Farizi dinyatakan menderita Pneumonia (radang paru-paru) berat dan kekurangan energi protein (KEP) berat. Menurut petugas Puskesmas, Al-Farizi harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan dan perawatan. Akan tetapi, apa daya tangan tak sampai. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penghasilan ayahnya tak memadai, apalagi untuk biaya berobat. Karena keterbatasan ekonomi itulah ia tidak mempunyai biaya memeriksakan atau mengobati Al-Farizi. Lebih menyedihkan lagi, keluarga mereka tidak memiliki Jaminan Kesehatan apa pun karena mereka tidak memiliki Kartu Keluarga (KK). Kondisi mengkhawatirkan Al-Farizi dan kesulitan ekonomi keluarganya itu akhirnya sampai kepada kurir #SedekahRombongan di Kota Bandung atas infoemasi keluarga dan Ketua Karang Taruna Babakansari Kiaracondong yang sudah mengenal kurir #SR. Kepada kurir yang berkunjung ke rumahnya, mereka menyampaikan keinginannya mendapatkan bantuan untuk biaya merawat dan mengobati anaknya. Bersyukur kurir SR dapat bersilaturahmi dengan keluarga tabah ini. Alhamdulillah, harapan mereka kemudian mendapatkan empati dari sedekaholics #SR dengan memberi mereka bantuan berupa uang tunai. Bantuan awal yang diterima orangtua Al-Farizi ini digunakan untuk biaya membuat Kartu BPJS serta biaya transportasi-akomodasi berobat ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 17 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @Lilis Dariyah @Tantri

Alfarizi menderita Gizi Buruk

Alfarizi menderita Gizi Buruk


SABRINA ADIBATUL FITRIA (2, Hydrochepalus). Alamat : Kp. Pulo RT.5/3 Desa Sukakarya, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sabrina lahir pada tanggal 13 Agustus 2013 lalu. Saat dilahirkan, Sabrina terlihat sehat seperti bayi baru lahir pada umumnya. Setelah Sabrina berusia 2  minggu mulai terjadi pada perubahan fisiknya. Kepalanya terlihat mulai membesar dan membuat orantuanya kebingungan, hingga kemudian mereka membawa Sabrina  berobat.  Karena ukuran kepala Sabrina terlihat semakin lama semakin membesar dan tumbuh kembangnya terganggu, orangtua Sabrina membawanya berobat ke RS Mitra Keluarga saat Sabrina berusia 1 tahun. Namun,  karena keterbatasan biaya orang tua Sabrina memutuskan untuk menghentikan pengobatan. Orang tua Sabrina hanya bisa pasrah dan berharap ada donatur yang berbaik hati mau membantu membiayai pengobatan anak mereka. Ayahnya, Pak Jumhari (41) adalah seorang buruh pabrik, sedangkan ibunya, Siti Romlah (38) ibu rumah tangga. Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan dengan tubuh yang kurus kering terbaring di rumahnya. Senin tanggal 27 Juni 2016, Sabrina akan menjalani kontrol di RSUD Kabupaten Bekasi. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan telah menyampaikan santunan lanjutan untuk biaya akomodasi ke rumah sakit. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 831. Semoga santunan ini dapat membantu meringankan beban orang tua Sabrina. Mohon doa terbaik untuk Sabrina kecil, semoga Allah memberikan kesembuhan kepada Sabrina.  Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 25 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @SuharnaYana Via Emma Hermawati @hapsarigendhis

Sabrina menderita Hydrochepalus

Sabrina menderita Hydrochepalus


MURNI BINTI INAN (52, Diabetes Militus). Alamat : Kp. Pulo Kapuk RT. 3/5, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Bu Murni menderita Diabetes Militus sejak 2 tahun yang lalu. Upaya pengobatan sudah banyak yang ia lakukan demi kesembuhan kakinya, dari pengobatan di klinik tradisional dengan obat-obatan herbal dan pengobatan di puskesmas. Namun luka di kakinya tidak kunjung sembuh. Hingga akhirnya pada awal bulan Juni 2016, ia menjalani amputasi kaki di RSUD Kabupaten Bekasi dengan menggunakan jaminan Kartu KIS PBI. Saat ini Bu Murni menjalani kontrol rutin setiap minggunya di RSUD Kabupaten Bekasi. Bu Murni mengalami kesulitan untuk biaya akomodasi ke rumah sakit sehingga kadang sempat terhenti. Ia hanya seorang janda, suaminya sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu akibat sakit. Saat ini untuk kebutuhan sehari-hari ia hanya mengandalkan pemberian dari menantunya. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan menyampaikan bantuan awal untuk biaya akomodasi ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 25 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana Via Mamat Maksudi

Ibu murni menderita Diabetes Militus

Ibu murni menderita Diabetes Militus


ADE ROMANSAH BIN BOHIDIN ( 34, Kecelakaan Kerja tangan kiri diamputasi). Alamat : Kp. Pangapekan RT. 2/5, Desa Cogreg, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Ade adalah seorang pekerja bangunan yang mengalami nasib nahas karena beliau mengalami kecelakaan kerja ketika sedang mengerjakan pembangunan rumah tinggal di daerah Salopa, Kabupaten Tasikmalaya. Ia terjatuh dari lantai 3 bangunan yang sedang dikerjakannya. Setelah sempat dibawa ke RSUD dr. Soekardjo, keluarga Pak Ade sempat membawa beliau pulang paksa karena khawatir tidak dapat membayar biaya rumah sakit, karena belau tidak memiliki fasilitas jaminan kesehatan. Walaupun kemudian dengan bantuan aparat desa setempat beliau mendapatkan fasilitas Jamkesda dari Pemkab Tasikmalaya, namun keluarganya mencoba membawa Pak Ade ke pengobatan alternatif ahli tulang. Karena luka yang dideritanya cukup parah, pengobatan alternatif tidak sanggup untuk menanganinya sehingga Pak Ade kembali dibawa ke RSUD dr. Soekardjo, sementara luka yang dideritanya sudah bertambah parah dan mulai membusuk yang akhirnya tangan kiri Pak Ade harus diamputasi. #SedekahRombongan yang mendapatkan kabar tentang kondisi Pak Ade segera menemuinya dan kemudian mengantarkan beliau pulang ke kampung halamannya selepas menjalani operasi amputasi dan dirawat di RSUD dr. Soekardjo. Bulan Juni 2016 Pak Ade kembali menjalani kontrol ke RSUD dr. Soekardjo dan mendapatkan surat keterangan sebagai pengantar untuk pemasangan tangan palsu. Saat ini Pak Ade masih berupaya mengikuti program pemasangan tangan palsu di Polres Kabupaten Bekasi. Setelah dilakukan pengukuran seminggu yang lalu, tanggal 25 Juni 2016, Pak Ade dijadwalkan akan melakukan uji coba dan pemasangan tangan palsu, namun ada perubahan jadwal, sehingga ia kembali pulang ke kampung halamannya di Tasikmalaya. Kurir #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjuatan biaya akomodasi selama Pak Ade di Bekasi. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 856.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 25 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @mardisay

Pak Ade menderita Kecelakaan Kerja tangan kiri diamputasi

Pak Ade menderita Kecelakaan Kerja tangan kiri diamputasi


PARJIMAN PANCAN (60, Kanker Kolon) Bertempat tinggal di Desa Pancan RT 3/6, Ngasem, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Bapak Parjiman telah menjadi pasien dampingan #SRsolo sejak 4 bulan lalu. Saat ini beliau masih harus menjalani kemoterapi setiap hari Kamis di RS. Moewardi Solo. Santunan ke-2 untuk beliau kembali disampaikan sejumlah Rp. 500.000,- setelah santunan sebelumnya berada dalam rombongan 803. Santunan tersebut digunakan untuk membantu biaya transportasi beliau. Beliau mengucapkan terimakasih serta memohon doa aga segera diberikan kesembuhan. Aamiin.

Jumlah Santunan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 10 Juni 2016
Kurir: @mawan , @aisyahnka , @anissetya60

Pak parjiman menderita Kanker Kolon

Pak parjiman menderita Kanker Kolon


ARIS MUDAKIR (46tahun, Kanker Usus) beralamat di Bakpo RT 013 Ngepringan, Jenar, Sragen, Jawa Tengah. Sekitar tahun 2009, Pak Aris yang saat itu masih bekerja sebagai buruh penebang tebu sering mengalami sakit pada bagian perut. Berbulan-bulan hanya berobat di bidan setempat. Setelah tidak kuat menahan sakitnya, beliau kemudian dibawa ke RSUD Sragen. Dokter mendiagnosa usus buntu, sehingga disarankan untuk operasi. Keluarga setuju dan dilakukan operasi. Setalah menjalani operasi, Pak Aris kembali bekerja lagi sebagai buruh penebang tebu karena menurutnya kesehatannya sudah pulih. Pekerjaan yang menguras tenaga tersebut mengakibatkan kesehatan Pak Aris memburuk. Selama 4 tahun terakhir ini, kesehatannya menurun. Sering merasakan sakit dan panas pada bagian perut, menurut dokter di salah satu klinik, Pak Aris menderita infeksi lambung. Pak Aris selalu mengkonsumsi obat bebas apabila sudah tidak bisa menahan sakitnya. Bahkan Pak Aris sudah tidak kuat apabila harus berjalan jauh. Oleh keluarga dibawa ke Rumah Sakit Amal Sehat tanpa menggunakan fasilitas kesehatan karena RS tersebut swasta. Pak Aris 3 kali dirawat di RS Amal Sehat dengan biaya kurang lebih Rp 5.000.000,00 setiap dirawat. Untuk menutupi biaya tersebut, Ibu Sami (45tahun) meminjam uang kepada keluarganya. Sampai saat ini belum bisa melunasinya. Ibu Sami tidak memiliki pendapatan yang pasti karena penebangan tebu hanya dilakukan apabila musimnya. Bahkan rumah yang ditempati keluarganya, atap banyak yang berlubang, lantainya masih berupa tanah,  dan berdinding anyaman bambu. Selama 4 tahun menahan sakit, Pak Aris sudah tidak lagi bekerja. Padahal masih memiliki tanggungan anak keduanya Astuti Wulandari (9 tahun) yang masih sekolah kelas 3 di SD N 1 Ngperingan. Sedangkan anak pertama Endi Setiyobudi (21 tahun) yang hanya lulusan SD ini bekerja di pengisian air ulang dengan upah Rp 50.000,00 setiap kerja apabila musim kemarau karena kebutuhan air yang banyak. Uang tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar biaya sekolah adiknya dan untuk biaya berobat Pak Aris. Keluarga membutuhkan bantuan untuk pengobatan Pak Aris. Saat ini Pak Aris dirawat di RS Dr.Moewardi Solo. Kini beliau diketahui bila menderita kanker usus, rencananya akan dilakukan kemoterapi pertama bulan Juni bila kondisi beliau baik. Santunan lanjutan kembali disampaikan kepada pak Aris. Santunan sebelumnya masuk dirombongan 831. Pak Aris dan keluarga mengucapkan banyak terimakasih kepada #sedekaholics semoga Allah membalas setiap amal ibadah kita. Aamiin.

Jumlah Santunan : Rp 500.000,00
Tanggal : 2 Juni 2016
Kurir : @mawan @aisyahnka @ shofawa

Pak aris menderita  Kanker Usus

Pak aris menderita Kanker Usus


SULAMI SELOREJO (35, Pengapuran Otot) Bertempat tinggal di Kp. Selorejo RT 31, Desa Mojokerto, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Mbak Lami, sapaan akrabnya pada 2014 silam merupakan pasien dampingan #SRsolo. Tinggal bersama dengan Mbah Ginem (81) orangtua angkat Mbah Lami di rumah bantuan dari perangkat desa setempat. Awalnya, Mbak Lami tumbuh normal sebagaimana anak sesusianya, namun karena sebab yang tidak diketahui, anggota tubuh Mbak Lami mulai sering mengalami sakit. Untuk mengupayakan sembuh, Mbak Lami pernah dibawa ke tempat pijat tradisional namun, tak kunjung ada hasil. Karena ketiadaan biaya, Mbak Lami pun tidak melanjutkan pengobatan kembali. Karenanya, hingga dewasa, Mbak Lami tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya kecuali menggerakkan pergelangan tangan serta sebagian kecil kaki. Seluruh tubuhnya kaku tidak bisa ditekuk, untuk bangun Mbak Lami membutuhkan bantuan dari orang lain. Oktober 2014 silam, kurir #SRsolo dipertemukan dengan Mbak Lami, kemudian membawa Mbak Lami berobat ke Solo. Namun, dokter mengatakan sakit yang diderita Mbak Lami mengalami kendala dalam penyembuhan dikarenakan langkanya kasus yang ada dan ketiadaan obat. Dengan ketabahan hati, Mbak Lami menerima penjelasan dokter. Santunan pelapasan pun disampaikan untuk biaya kebutuhan harian serta transportasi dan masuk dalam rombongan 634. Pada hari kartini 21 April 2016 lalu, kurir kembali berkunjung ke tempat Mbak Lami, ternyata kondisi Mbak Lami semakin memburuk, luka di kakinya semakin parah karena sering digaruk menggunakan tongkat penyangga yang digunakan oleh Mbak Lami. Kurir #SRsolo kemudian mencoba menghubungi perawat terdekat untuk dapat membantu medikasi luka Mbak Lami. Santunan pun kembali disampaikan untuk biaya pengobatan, Mbak Lami mengucapkan terimakasih untuk #sedekaholics semoga Allah membalas kebaikan kita. Aaamiin.

Jumlah Santunan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 6 Juni 2016
Kurir: @mawan @aisyahnka @shofawa

Pak sulasmi menderita Pengapuran Otot

Ibu sulasmi menderita Pengapuran Otot


PARSEL LEBARAN (Pasien Dampingan SR Solo Raya) Ramadhan telah memasuki penghujung waktu, pertanda hari kemenangan akan tiba. Sebagian besar umat muslim berlomba-lomba untuk memperoleh berkah ramdahan di sepuluh hari terakhir yang ada. Mereka juga mempersiapkan kebutuhan pokok lain untuk menyambut hari kemenangan baik berupa sandang, pangan maupun papan. Namun, tidak semua dapat merasakan nikmatnya perayaan kemenangan ramadhan, seperti yang dialami pasien dampingan #SRsolo yang sejak berbulan-bulan harus rutin menjalani kontrol termasuk di bulan penuh keberkahan ini. Pulang-pergi ke Rumah Sakit, rawat inap, dan berbagai pengobatan lainnya membuat mereka urung merayakan hari kemenangan. Kurir #SRsolo kemudian menyiapkan parsel lebaran agar setelah kontrol para pasien dapat pulang dan menikmati parsel yang ada. Total, 20 paket parsel lebaran Masing-masing bernilai Rp. 100.000,-. dibelanjakan. Pasien-pasien dampingan mengucapkan banyak sekali terimakasih dan syukur yang tiada henti. Semoga keberkahan ramadhan menjadi milik kita semua serta semakin membuat baik bagi kita semua dikemudian hari. Aaamiiin.

Jumlah Santunan: Rp. 2.000,000,-
Tanggal: 26 Juni 2016
Kurir: @mawan @aisyahnka @anissetya60 @ciciii @hendra

Parcel lebaran untuk  pasien dampingan SR

Parcel lebaran untuk pasien dampingan SR


FARID (1 tahun,CRANIOSYNOSTOSIS), Farid adalah seorang anak dari keluarga kurang mampu yang beralamatkan di RT 1 RW 1 Lingkungan Krajan, Desa Kayu Putih, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Penyakit yang dideritanya adalah Craniosynostosis telah dialaminya sejak usia masih sangat kecil. Keterbatasan ekonomi membuatnya sulit mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit hingga sampai bertemu dengan Tim Kurir Sedekah Rombongan yang akhirnya diputuskan untuk mendapatkan pendampingan dari Sedekah Rombongan. Santunan yang diberikan digunakan untuk kontrol pasca operasi kedua. Santunan yang di berikan semoga bermanfaat bagi Adek Farid dalam mencapai kesembuhan dan para sedekaholic diberikan ganti berlipat ganda dariNYA. Aamiin

Jumlah santunan: Rp.500.000,-
Tanggal: 22 April 2016
Kurir: @yudhoari @gredyanto

Farid menderita CRANIOSYNOSTOSIS

Farid menderita CRANIOSYNOSTOSIS


NURSELA (14, Celebral Palsy). Alamat : Desa Kasang Kota Karang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Sela tidak bisa melakukan aktivitas seperti anak-anak yang lain, ia mengalami kelumpuhan nyaris di seluruh anggota tubuhnya. Berbicara pun ia tidak sanggup. Awalnya, di usia 7 bulan Sela diberi suntikan imunisasi. Setelah itu, ia demam tinggi dan kemudian mengalami kelumpuhan. Ade Ratna Sari (38), ibu Sela, adalah seorang janda. Ia harus membanting tulang untuk menghidupi Sela dan satu orang adiknya yang berusia 5 tahun. Ade bekerja menjadi pembantu rumah tangga dan tukang cuci di sejumlah keluarga di Lorong Koni, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi. Karena Bu Ade harus berangkat kerja sejak pagi buta, Sela ditinggal di rumahnya seorang diri dalam kondisi pintu terkunci, sementara adiknya dititipkan di keluarganya. Bu Ade pulang kerja dan tiba di rumah setiap harinya rata-rata pukul 7 atau 8 malam. Ia harus meninggalkan anak-anaknya demi mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarga dan membayar cicilan utang. Selama ini, Sela sudah sering dibawa ke dokter dan rumah sakit. Ia juga sudah berkali-kali menjalani terapi, akan tetapi kelumpuhannya tidak juga hilang. Menurut dr. Hydrat, syaraf Sela sudah tidak dapat diperbaiki sehingga ia mengalami kelumpuhan permanen. Kurir #SedekahRombongan merasakan kesulitan keluarga Sela, tim kurir berkunjung ke rumah Sela dan menyampaikan bantuan untuk penambahan gizi dan membeli pampers Sela.

Jumlah Bantuan : Rp 750.000,-
Tanggal : 7 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @SintaTantri@EmhadiUsman @ririn_restu

Nursela menderita Celebral Palsy

Nursela menderita Celebral Palsy


MAHFUD EFENDI, (49 TAHUN, PROSTAT). Ber Alamat Jalan Jayanegara IV/119 Lingkungan Condro Utara RT 003 RW 008, Desa Kaliwates, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember.
Bapak Mahfud adalah Seorang penjual tembakau di pasar sukowono jember yang penghasilannya cukup untuk membiayai sehari-hari. Bapak Mahfud memiliki empat seorang anak. Istrinya Ibu Nikmatul Ulfa berprofesi sebagai Ibu rumah tangga.
Bapak Mahfud mengalami penyakit Kelainan Prostat sejak delapan bulan yang lalu dan yang awal mula di periksa di Puskesmas terdekat. Setelah diperiksa di puskesmas terdekat Bapak Mahfud diminta untuk di rujuk ke rumah sakit dr.soebandi Patrang Jember untuk pemeriksaan lebih lanjutan. Tetapi Bapak Mahfud tidak memiliki banyak biaya untuk pemeriksaan lebih lanjut karna karena keterbatasan biaya untuk kesehariannya. Tim Sedakah Rombong bersilahturahmi ke tempat tinggal Bapak Mahfud dan menyampaikan santunan untuk Akomodasi pemeriksaan di rumah sakit dr.soebandi. Semoga sedekah para sedekaholic dalam membantu Bapak Mahfud menjadi catatan amal baik dan mendapatkan ganti berlipat ganda dari ALLAH AZZA WA ZALLA. Aamiin.

Jumlah Santuna : Rp. 500.000,-
Tanggal : 29 Februari 2016
Kurir : @yudhoari , @gredyanto

Pak mahfud menderita PROSTAT

Pak mahfud menderita PROSTAT


MILYANI BIN KUSYANTO (9, Anemia Aplastik). Alamat : RT. 5 Desa Kunangan, Kec. Taman Rajo, Kab. Muaro Jambi. Prov. Jambi. Milyani adalah seorang anak kelas 4 SD yang menderita penyakit Anemia Aplastik. Pada awalnya, tidak ada yang menyangka jika Miyani yang bertubuh padat, gemuk dan ceria serta agak manja ini menderita penyakit yang berat. Pada awalnya pertumbuhan Milyani sama seperti teman sebayanya, namun sejak Agustus 2015 ia sering tampak lemas, pucat, mudah kelelahan dan tubuhnya sering memar berwarna hitam tanpa sebab. Orang tuanya mulai khawatir dan membawa Milyani ke RS Bhayangkara Kota Jambi. Di rumah sakit tersebut diketahui kadar Hb (Hemoglobin) Milyani rendah dan membutuhkan transfusi. Beberapa hari dirawat RS Bhayangkara, Dokter menyarankan agar Milyani melakukan pemeriksaan lanjutan di RS Palembang. Akan tetapi, dikarenakan faktor biaya orang tua Milyani meminta agar ia dibawa pulang dahulu sehingga pemeriksaan lanjutannya ditunda. Orang tua Milyani berupaya meminjam uang kesana kemari, dan akhirnya pada Januari 2016, Milyani dibawa ke RSUD Raden Mattaher Jambi. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan Dokter mengatakan bahwa Milyani mengalami kelainan darah dimana jumlah sel darah putih (Leukosit) dan kadar Hb-nya, dalam jumlah yang sangat rendah. Oleh pihak RS Raden Mattaher Milyani disarankan dirujuk ke RS M. Hussein di Palembang untuk penanganan lebih lanjut. Akhirnya Januari 2016, ia dibawa ke Palembang dan disana tinggal di rumah singgah dengan biaya perorang Rp 25.000/hari, sehingga untuk biaya penginapan bersama orang tuanya Rp. 75.000/ hari. Di RS Palembang Milyani melakukan pemeriksaan laboratorium kembali dan dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui Milyani menderita penyakit Anemia Aplastik, dimana sumsum tulang berhenti memproduksi sel sel darah baru yang mengakibatkan seluruh kadar sel darah di dalam tubuh menurun. Sulitnya bertahan di Palembang karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, akhirnya keluarga memutuskan Milyani dirawat di Jambi saja. Namun sesampainya di Jambi kondisi Milyani kembali menurun, ia mengalami muntah darah dan buang air besar berdarah, sehingga ia langsung dibawa ke IGD RSUD Raden Mattaher. Hingga saat kunjungan Kurir #SedekahRombongan, Milyani sudah 12 kali masuk rumah sakit dan dalam 1 bulan bisa 2-3 kali masuk rumah sakit. Kurir #SedekahRombongan sangat merasakan kesedihan keluarga Milyani, mengingat ayahnya Kusyanto (34) bekerja sebagai buruh serabutan dan ibunya, Murniati (32) hanya sebagai ibu rumah tangga. Kurir #sedekahrombongan memberikan bantuan untuk kebutuhan berobat terlebih lagi ada beberapa obat yang tidak ditanggung oleh BPJS.

Jumlah Bantuan :  Rp. 2.000.000,-
Tanggal : 7 Mei 2016
Kurir : @sintatantri@dea, Bu Tuti

Milyani menderita Anemia Aplastik

Milyani menderita Anemia Aplastik


EPRIYANTI (34, Tumor Payudara). Alamat : RT. 8 Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi.  Penyakit  yang diderita Epriyanti bermula dari benjolan kecil yang terasa nyeri di ketiaknya. Benjolan tersebut baru diketahuinya sejak November 2015. Ketika itu, ia masih berada di Padang. Dikarekan khawatir dengan kondisi yang dialaminya, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke bidan. Dari pemeriksaan bidan setempat, Epriyanti diberi anti nyeri dan bidan menyarankan untuk diperiksakan di  rumah sakit jika keluhan tidak berkurang dan agar mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dikarenakan faktor biaya akhirnya Epriyanti kembali ke Sungai Bahar. Di Sungai Bahar pun, rasa nyeri dan benjolan tersebut tidak berkurang, bahkan benjolannya telah merambat ke bagian Payudara. Epriyanti hanya bisa bersabar dan mengobati penyakitnya dengan pengobatan tradisional. Usaha itupun belum mendapatkan hasil yg signifikan, dan puncaknya pada 2 bulan yang lalu tepatnya Februari 2016 benjolan yang terdapat di payudaranya telah pecah. Dengan kondisi seperti itu, ia masih terus bekerja demi kebutuhan sehari-hari dan belum memeriksakan dirinya ke dokter. Dikarenakan rasa sakitnya tidak berkurang, akhirnya pada 7 April 2016 ia memberanikan diri untuk berkonsultasi di Klinik Hidayah Sungai Bahar. Tenaga medis pun menyarankan untuk segera dirujuk ke rumah sakit agar segera mendapatkan pengobatan. Bermodalkan BPJS kelas III, saat ini Epriyanti tengah menjalani perawatan di RS Royal Prima Jambi untuk diambil sampel Patologi Anatominya. Saat Kurir #SedekahRombongan berkunjung di rumahnya benjolan pada payudaranya kembali muncul dan terasa nyeri padahal baru keluar dari  rumah sakit sekitar 2-3 Minggu. Kami kurir #SedekahRombongan merasakan kesulitan yang dialami oleh Epriyanti mengingat ia masih menumpang di rumah warga dan hanya bekerja sebagai buruh dengan gaji Rp1.000.000,-/ bulan. Penghasilan dari ia bekerja pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membiayai 4 orang anaknya, mengingat sejak ia menderita penyakit tersebut suaminya meninggalkannya. Kurir #sedekahrombongan memberikan bantuan untuk kebutuhan berobat.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 28 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @SintaTantri@IlfaMid @ririn_restu

Epriyanti menderita Tumor Payudara

Epriyanti menderita Tumor Payudara


I KADEK EVAN MIRA PRAMANA (4, Haemangioma). Alamat : Banjar Bunutin, Desa Payangan, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Anak dari Bapak Edi Mirayanto (33) yang bekerja sebagai buruh sopir truk dan Ibu Ni Wayan Mustriasih (33) seorang ibu rumah tangga ini menderita Haemangioma. Riwayat sakit Kadek Evan bermula saat ia berusia 1 tahun. Saat itu sudah tampak benjolan kecil di pipinya yang jika dilihat dari dalam mulut bejolan tersebut berwarna biru. Seiring bertambahnya usia Kadek Evan, benjolan tersebut semakin membesar. Oleh orang tuanya Kadek Evan diperiksakan ke bidan desa yang menyarankan agar Kadek Evan diperiksa di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kadek Evan pun berobat ke rumah sakit satu minggu sekali. Hingga Kadek Evan berumur 4 tahun, orang tuanya kehabisan biaya hingga ia tidak bisa berobat lagi. Kadek Evan kini tidak bisa bermain seperti anak-anak yang lain, karena khawatir jika ia jatuh akan mengalami pendarahan. Sudah puluhan juta dihabiskan untuk berobat Kadek Evan dan orang tuanya tak lagi memiliki uang. Terlebih lagi beberapa waktu yang lalu ayah Kadek Evan mengalami kecelakaan dimana dari hasil rontgen tulang ekor dinyatakan retak dengan diagnosa os pelvis radius superior kiri. Pak Edi diharuskan operasi yang membutuhkan biaya lebih dari seratus juta, karena tak memiliki biaya ia hanya dirawat di rumah saja dan dipijat. Keluarga ini tidak memiliki BPJS, karena jumlah anggota keluarga yang banyak sehingga mereka merasa tak mampu membayar iuran setiap bulan nantinya. Untuk makan dan kebutuhan sehari – hari saja mereka kesulitan. Bersyukur kurir #sedekahrombongan dapat bertemu dengan mereka dan dapat memberikan bantuan agar Kadek Evan dapat melanjutkan pengobatan. Semoga Kadek Evan bisa segera sembuh dan ceria seperti sedia kala.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 25 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @tuniknata @sukma @ririn_restu

Kadek Evan menderita

Kadek Evan menderita haemangioma


ALM. WAYAN SUKARDA (73, Retensi Urine). Alamat : Banjar Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Bapak Sukarda pada awalnya mengeluh tidak bisa buang air kecil selama lima hari dan tidak pernah dibawa berobat karena tidak ada biaya. Bapak Sukarda hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan. Bersyukur Tuhan mempertemukan dengan Kurir Sedekah Rombongan dan segera membawanya ke UGD RSU Bangli untuk diperiksa. Setelah diperiksa ternyata kondisinya sudah parah dan harus dibuatkan lubang di perut agar bisa buang air kecil. Selama dirawat kondisinya memburuk dan harus mendapatkan tranfusi darah. Ternyata Tuhan mempunyai rencana lain, Tuhan lebih menyayangi Bapak Sukarda dan memanggilnya ke pangkuan-Nya. Semoga almarhum bahagia di sisi Tuhan.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 25 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @tuniknata @dewi @ririn_restu

Alm pak wayan menderita Retensi Urine

Alm pak wayan menderita Retensi Urine


ZAHRA RAHMA DINI (9, Thypoid Enchephalopati). Alamat : Jl. Dr Susilo, Gg.  Haji Satim, No. 20, RT. 5/3 Sumur Batu, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung, Provinsi lampung. Zahra adalah seorang pelajar kelas  IV SD. Berawal dari 3 minggu yang lalu Zahra sakit panas, demam tinggi dan badannya menggigil, orang tuanya mengira Zahra hanya demam biasa dan hanya diberi obat paracetamol tanpa menggunakan resep dokter. Tiba-tiba Zahra kembali demam tinggi dan kejang-kejang, lalu orang tuanya membawanya ke dokter. Karena penanganannya dianggap terlambat, dokter yang memeriksa merujuknya ke RS DKT dan selama seminggu Zahra dirawat di sana. Selama dirawat kondisi Zahra tak kunjung membaik, tiga hari belakangan Zahra justru merasakan sakit kepala hebat dan kembali kejang – kejang. Selama di rumah sakit Zahra sudah lima kali mengalami kejang-kejang hingga tak sadarkan diri selama 5 hari. Karena kondisi Zahra semakin memburuk, ia dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Moeloek (RSAM) Lampung dan setelah melalui serangkaian pemeriksaan hasil diagnosa dokter  Zahra menderita demam thypoid yang sudah menjalar ke sel otak dan dari hasil scan terjadi pengerutan di sel otak atau dalam bahasa medisnya dikenal sebagai thypoid enchephalophati. Ayah Zahra, Subarjo (42) hanya bekerja sebagai buruh serabutan dan ibunya, Neneng Suningsih (42) tidak bekerja. Karena Zahra dirawat di rumah sakit membuat ayahnya tidak dapat bekerja karena harus menunggui Zahra. Beruntung Zahra sudah memiliki fasilitas kesehatan BPJS sehingga meringankan biaya pengobatannya. Kurir #SedekahRombongan yang mengetahui hal ini sangat prihatin atas beban derita yang dialami keluarga Bapak Subarjo, untuk mengurangi beban hidupnya #SedekahRombongan Lampung memberikan bantuan yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup dan pengobatan Zahra.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 12 Juni 2016
Kurir : @wirawiry @arisasamara @trii20 @liliani @xkurniawatix @akuokawai @ririn_restu

Zahra menderita Thypoid Enchephalopati

Zahra menderita Thypoid Enchephalopati

REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 Yayasan Galuh 5,000,000
2 Alex 1,000,000
3 Riza 500,000
4 M Rizki 500,000
5 Angkasa 500,000
6 Keisya 500,000
7 Agus 1,500,000
8 Salmeh 500,000
9 Bastian 500,000
10 RUSDATUL UMAH 500,000
11 Popti 1,000,000
12 M Syakir 2,000,000
13 Hendra 1,000,000
14 Ilphi 1,000,000
15 Saminah 1,000,000
16 Sofi 500,000
17 MUHAMMAD ALFARIZI 500,000
18 Sabrina 500,000
19 Murni 500,000
20 Ade 500,000
21 Parjiman 500,000
22 Aris 500,000
23 Sulasmi 500,000
24 PARSEL LEBARAN 2,000,000
25 Farid 500,000
26 Nursela 750,000
27 MAHFUD EFENDI 500,000
28 Milyani 2,000,000
29 EPRIYANTI 1,000,000
30 I KADEK EVAN 1,000,000
31 ALM. WAYAN SUKARDA 1,000,000
32 ZAHRA RAHMA DINI 500,000
Total 30,250,000

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 30,250,000,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 861 ROMBONGAN

Rp. 38,505,531,382,-