ANGGA HARI SATIAWAN, (7, Epilepsi). Alamat: Kp. Cibogogirang Peuntas RT. 9/3, Desa Cibogogirang, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Angga begitu sapaan akrab di kapungnya, ia adalah siswa kelas 1 SDN 2 Cibogogirang. Anak ketiga dari pasangan  Pak Komarudin (49) dan Bu Ai (43) ini sudah mengalami penyakit Epilepsi dari usia 1 tahun, ia sudah beberapa kali berobat ke beberapa klinik dan pernah rawat inap di RS Siloam selama 3 hari dan harus berobat jalan ke RSHS Bandung untuk mendapatkan resep obat Depakene. Gejala yang sering terjadi pada Angga adalah kejang-kejang dan demam tinggi. Awal bulan April Angga tidak masuk sekolah karena sakit selama dua minggu, Bu Neneng sebagai guru kelasnya pun menengok rumah Angga. Saat itu Angga tidak terlihat sakit, lantas Bu Ai menceritakan bahwa penykit Angga adalah Epilepsi, sudah beberapa bulan ini tidak meminum obat karena tidak mempunyai biaya untuk kontrol berobat ke RSHS. Akibatnya dalam sehari Angga bisa mengalami kejang-kejang sampai 7 kali. Bu Ai merasa hawatir jika Angga masuk sekolah dan penyakitnya kambuh di kelas sehingga mengganggu kegiatan pembelajaran. Bu Ai ingin sekali membeli obat tersebut namun tidak ada di Purwakrta dan harus menggunakan resep dokter di RSHS. Maklum saja Pak Komarudin hanya bekerja kuli bangunan yang penghasilannya tidak menentu sehinggia untuk biaya berobat Angga ia harus mencari pinjaman kemana saja. Bersyukur info tersebut sampai kepada kurir #SedekahRombongan dan langsung mengunjungi rumahnya yang saat itu Angga sedang mengalami kejang-kejang. Kami pun mengerti kesulitan mereka dan menyampaikan bantuan awal untuk biaya transportasi berobat jalan ke RSHS Bandung untuk mendapatkan resep obat Angga. Semoga Angga mendapatkan kesembuhan agar ia bisa beraktivitas seperti halnya anak yang lain.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 30 Mei 2016
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal @ukhti_fuzi

Angga menderita Epilepsi

Angga menderita Epilepsi


DADAH HAMIDAH (10, Radang Selaput Otak). Alamat : Kampung Babakan Timur RT.4/7 Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Dadah adalah anak pertama, buah pernikahan Pak Acep Suprianto (31) dengan Bu Rosmawati (30). Sejak usia 40 hari ia kerap mengalami kejang-kejang; terkadang disertai dengan jeritan dan tangisan. Dari mulutnya juga sering keluar air liur. Berbekal Jamkesmas, orang tua Dadah berkali-kali memeriksakannya ke klinik terdekat dan Puskesmas setempat. Ketika berusia satu tahun, Dedah pernah dirawat inap di salah satu rumah sakit rujukan di Kabupaten Bandung, yaitu RSUD EBAH Kecamatan Majalaya, berdasarkan rujukan dari Puskesmas. Setelah dirawat sekitar dua minggu, penanganannya lalu dirujuk ke RSHS Bandung. Akan tetapi, sampai saat ini orangtuanya belum pernah memeriksakannya ke rumah sakit rujukan nasional itu. Hampir sepuluh tahun Dadah teronggok tak berdaya. Orang tua dan keluarganya juga tak bisa berbuat apa-apa. Kepedulian dari warga telah berkali-kali mereka terima untuk membantu biaya berobat sehingga dua tahun yang lalu Dadah sempat mendapat tindakan awal (rontgen); tetapi mereka tidak melanjutkannya karena terkendala masalah biaya. Ayahnya Dadah hanya seorang buruh angkut bata yang bekerja serabutan. Penghasilannya tak seberapa dan tak menentu. Ibunya, sampai kini tercatat sebagai buruh di pabrik tekstil dengan upah yang masih jauh dari memadai. Kalaupun digabungkan, penghasilan mereka berdua tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka yang wajar. Padahal, selain merawat Dadah, keluarga dhuafa ini pun harus membesarkan anak kedua mereka yang masih bayi (usia 10 bulan). Rumah bilik mereka yang sempit dan kumuh itu menjadi saksi bisu kepedihan hidup mereka yang entah sampai kapan mereka jalani. “Kami hampir putus asa mengusahakan kesembuhan Dadah. Ingin sekali berobat sampai tunas. Tapi kami tak sanggup membiayainya,” kata ibunya Dadah sambil menangis, saat ditanya kurir #SR mengenai kesiapannya untuk meneruskan pengobatan. Kisah duka mereka sampai kepada #SedekahRombongan atas informasi dari kurir #SR di Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung. Saat menjenguk Dadah dan keluarganya, ketiga kurir dan kedua orang tua Dadah tak kuasa menahan air mata, sambil berdoa memohon kesembuhan untuk Dadah. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics, kurir #SR dapat mengunjungi Dadah dan keluarganya untuk kedua kalinya, dan kembali menyampaikan Tanda Cinta Dhuafa berupa bantuan uang yang diterima orangtua Dadah di rumahnya. Bantuan Kedua ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat ke RSUD rujukan, membeli vitamin tambahan, serta biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 833.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 4 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @AzepBima @hengkisenandika @LilisDariah

Dadah menderita Radang Selaput Otak

Dadah menderita Radang Selaput Otak


NANDANG SUHENDAR (76, Stroke dan Lumpuh) Alamat: Jl. Desa No. 27 RT.5/2 Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bapak Nandang yang hidup sendirian –dan bisa disebut sebatang kara– ini tinggal di sebuah rumah yang tidak terawat. Setelah istrinya meninggal, Bapak Nandang sering sakit. Pada tahun 2013 ia diduga terkena stroke. Akibat serangan stroke, tangan dan kakinya menjadi lumpuh sehingga ia harus menggunakan kursi roda. Sayang, semenjak ibunya meninggal dan Pak Nanang sakit-sakitan, anak-anaknya yang sudah berkeluarga jarang sekali mengunjunginya. Setiap hari Pak Nandang menghabiskan waktunya dengan duduk di pinggir tempat tidur. Sampai saat ini penderitaan dalam kesendiriannya semakin menyedihkan karena hampir tidak ada dari keluarganya, bahkan anak-anaknya sendiri, yang datang menjenguk apalagi menemaninya. Kebutuhan makan dan minumnya diperoleh dari tetangga atau orang-orang yang merasa iba. Mereka yang peduli itu menjenguk dan memberinya sumbangan bergantian. Beruntung ada pemuda-pemudi Karang Taruna setempat yang telaten dan suka-rela merawatnya. Namun, bantuan dari warga rupanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Pak Nandang dan untuk biaya kontrol dan pengobatan Pak Nandang ke rumah sakit sama sekali belum ada yang membantunya. Kabar duka tentang kehidupan Pak Nandang akhirnya sampai kepada kurir #SedekahRombongan melalui Bapak Darajat, Ketua Karang Taruna setempat. Bersyukur kurir #SedekahRombongan dapat berkunjung ke rumah Bapak Nandang. Atas cinta-kasih dan bantuan sedekaholics, pada kunjungan pertama itu alhamdulillah kurir #SR juga dapat menyampaikan santunan untuk biaya pembuatan Jaminan Kesehatan, biaya transportasi kontrol ke rumah sakit, dan akomodasi berobat.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 5 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @AzepBima @hengkisenandika @LilisDariah @tantri @hapsarigendhis

Pak nandang menderita Stroke dan Lumpuh

Pak nandang menderita Stroke dan Lumpuh


MIKANDA BIN UMIN (49, Darah tinggi). Alamat: Jl. Tamansari Bawah No.99 RT.07/20 Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kotamadya Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bersama empat anak dan satu istrinya, ia tinggal di rumah kontrakan amat sederhana di tengah padatnya kota Bandung. Ia menganggur: tanpa pekerjaan, tak punya penghasilan. Ia merasakan beratnya menjalankan roda kehidupan rumah tangganya. Masih beruntung anak pertamanya sudah bekerja dan istrinya berjualan Mie Ayam. Meskipun demikian, tuntutan hidup keluarga duafa ini jauh lebih besar dibanding penghasilan mereka. Dua anaknya masih sekolah; yang satu kelas 3 SLTP, yang satu lagi Kelas 2 SD. Yang paling kecil balita usia 2 tahun. Kesulitan hidup semakin dirasakan keluarga prasejahtera ini  sejak Pak Mikanda sakit-sakitan. Pada tahun 2012 dia terserang penyakit darah tinggi dan kolesterol. Setelah itu ia juga mengalami stroke ringan; bahkan pernah dirawat di RS Borromeus selama satu minggu dengan biaya dibantu dari tempat ia bekerja waktu itu sebagai supir di PT. LIMAS RAGA INTI. Alhamdulillah ikhtiarnya berhasil waktu itu dan ia mendapat kesembuhan. Setelah sembuh, Pak Mikanda sempat bekerja seperti biasa. Pada Maret 2015 dia terjatuh ketika sedang melaksanakan tugas pekerjaannya. Dia diduga kuat mengalami stroke berat dan tidak bisa bicara. Setelah kejadian itu Pak Mikanda pernah diperiksakan ke RS Borromeus oleh teman sepekerjaannya. Pihak RS menyarankan Pak Mikanda menjalani terapi atas saran dokter. Setelah mengalami stroke berat, Pak Mikanda tidak bisa bekerja lagi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, dia mengandalkan hasil usaha istrinya berjualan yang modalnya berasal dari tempat Pak Mikanda bekerja (pesangon). Penghasilan anaknya yang sudah bekerja hanya cukup membantu buat makan tetapi tidak cukup untuk biaya berobat. Uang pesangon yang ia terima rupanya dipakai juga untuk biaya mengontrak rumah ukuran 3×5 meter dengan biaya Rp.5.000.000,- per tahun. Sisanya dibelikan kendaraan motor buat operasional belanja setiap hari. Pak Mikanda dan keluarganya berharap dapat melanjutkan pengobatan ke rumah sakit sampai tuntas. Harapannya disampaikan kepada kurir #SR saat berkunjung ke rumah kontrakannya. Dan alhamdulillah, dengan empati sedekaholics #SR, kurir #SedekahRombongan Bandung Raya juga dapat menyampaikan Santuna kepada Pak Mikanda dan keluarganya. Bantuan Awal ini digunakan untuk biaya pembuatan BPJS Mandiri serta biaya transportasi dan akomodasi.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @AzepBima @LilisDariyah  @Hengkisenandika @Tantri @hapsarigendhis

Pak mikanda menderita Darah tinggi

Pak mikanda menderita Darah tinggi


KUSWOYO BIN TRIPUNJUL (30, Katarak & Kanker Hidung). Alamat: Kp. Jelekong RT.6/1 Desa Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Kuswoyo adalah anak pertama almarhum Bapak Tripunjul dan Ibu Aan binti Cece (51). Kuswoyo memiliki 3 orang adik: satu orang bersekolah di SMA dan dua orang lagi masih di Sekolah Dasar. Sejak tahun 2000 pandangan matanya buram sehingga ia mengalami kesulitan untuk melihat. Setelah diperiksa, ternyata ia menderita katarak. Kuswoyo pernah menjalani operasi di RS Mata Cicendo Kota Bandung dan dirawat selama satu minggu. Penglihatannya sempat membaik, namun kini pandangan matanya kembali buram, malah semakin parah dan seperti mengalami kebutaan. Selain katarak, sejak tahun 2005 Kuswoyo diduga kuat terjangkit kanker hidung. Semasa ayahnya masih hidup, ia pernah menjalani pengobatan di Kota Solo dan 12 kali menjalani kemoterapi serta dirawat di rumah sakit. Belum tuntas masa pengobatan kanker hidung yang menyerangnya, ayahnya meninggal dunia. Kuswoyo pun kembali pulang bersama ibunya ke Desa Jelekong Kabupaten Bandung dan hanya sesekali memeriksakan penyakit kanker di hidungnya. Bersama ibu dan adiknya kini ia tinggal di rumah bilik yang sangat sederhana. Dengan menanggung beban penyakit yang ia alami, dan demi memenuhi kebutuhan hidupnya, Kuswoyo bekerja sebagai tukang pijat. Karena matanya sudah tidak melihat, ia dikenal sebagai “tukang pijat tuna-netra.” Untuk memudahkan pekerjaannya sebagai “tukang pijat panggilan”, ia dibantu adiknya yang paling besar yang setia mengantar dan menuntunnya ke tempat orang yang membutuhkan jasanya. Karena penghasilannya yang tidak menentu dan harus membantu membiayai keluarganya, Kuswoyo jarang punya biaya untuk kontrol dan berobat. Bahkan setelah pemerintah setempat membuatkan jaminan kesehatan (KIS) pun, Kuswoyo sering tidak punya ongkos untuk berobat ke rumah sakit yang letaknya di Kota Bandung. Padahal penyakit kanker di hidungnya masih harus terus diobati dan penyakit kataraknya semakin membuatnya buta. Cerita duka Kuswoyo dan keluarganya yang dhuafa itu diketahui salah seorang warga yang kemudian menyampaikannya kepada kurir #SedekahRombongan. Bersyukur kurir #SR dapat berkunjung dan bertemu dengan keluarga mereka. Alhamdulillah, kurir #SR juga dapat menyampaikan titipan langit melalui para sedekaholics #SR dan akan mendampinginya berobat sampai tuntas. Bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk biaya transportasi berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan ke Rumah Sakit Mata (RSM) Cicendo Bandung. Pada saat kurir #SR menyampaikan bantuan, Kuswoyo sedang ada panggilan memijat ke tempat yang jauh, diantar adiknya. Setelah ditunggu sampai Pukul 21.00, ia belum pulang juga sehingga santunan diterima oleh ibunya disertai kedua adiknya yang masih kecil. Pada pertengahan awal Juni 2016, kurir #SR kembali mengunjunginya untuk yang ketiga kalinya, Kuswoyo baru setelah menjalani operasi pada matanya. “Besok juga harus ke rumah sakit lagi. Kata dokternya harus setiap hari dikontorl.”  jelas ibunya. Selain harus terus terus melakukan pemeriksaan ke RS Mata Cicendo, Kuswoyo masih harus menjalani pemeriksaan untuk menangani kanker di hidungnya. Dia masih membutuhkan uluran tangan untuk meringankan beban hidupnya. Berempati atas apa yang dialami Kuswoyo dan keluarganya, kembali kurir #SR di Bandung memberi mereka bantuan lanjutan dari sedekaholics yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat ke rumah sakit, dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum yang ketiga ini tercatat di Rombongan 838.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 3 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @asepbima @hengkisenandika @hapsarigendhis

Pak kuswoyo menderita Katarak & Kanker Hidung

Pak kuswoyo menderita Katarak & Kanker Hidung


ARSINI BINTI WADI (55, Suspek : Kanker Tulang Hidung). Alamat : Desa Kedung Krisik Utara, RT.2/5, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Bersama suaminya, Akim (70), Ibu Arsini tinggal berdua di rumahnya yang sangat sederhana, yang dibangun atas kepedulian warga. Meskipun tidak dikaruniai anak, pasangan suami-istri dhuafa ini bekerja keras untuk mencari nafkah. Tetapi, karena faktor usia juga pendidikan dan keterampilan yang tendah, mereka sulit keluar dari kubangan kemiskinan. Apalagi, sejak Ibu Arsini sakit, kehidupan ekonomi mereka semakin terpuruk. Awalnya, enam tahun lalu (tahun 2000) Ibu Arsini mengalami nyeri di sekitar hidung dan pipi sebelah kirinya. Seiring dengan adanya nyeri di sekitar hidung, tumor juga mulai tumbuh di tulang hidungnya dan semakin hari semakin membesar hingga menutup lubang hidung dan matanya. Upaya penyembuhan tak banyak yang mereka lakukan. Ibu Arisini (55) hanya ibu rumah tangga biasa, dan suaminya sudah lama tidak lagi mencari nafkah. Bahkan, rumah yang mereka tempati kini sebelumnya sangat memprihatinkan dan tidak layak ditempati. Karena faktor ekonomi inilah, selama 6 tahun ini pasien hanya sesekali berobat di Puskesmas. Pada tahun 2016 keluarga dhuafa ini bertemu dengan kader PKK di kampungnya. Berkat bantuan kader itu kemudian Bu Arsini dibantu berobat ke RSUD Gunung Jati Cirebon. Pihak RS menyatakan bahwa pasien harus dirujuk ke RSHS Bandung. Karena kendala biaya, saat itu pasien tidak dapat diberangkatkan. Berbagai upaya mencari bantuan akhirnya dilakukan, melalui Pemda Cirebon, Dinas Kesehatan, juga berbagai organisasi sosial, tetapi belum membuahkan hasil yang maksimal. Bersyukur, atas kehendak Allah kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan pasien dan keluarganya. Setelah bersilaturahmi dengan mereka, pada 1 Juni 2916, kurir #SR di Cirebon berketetapan hati untuk membantu Ibu Arsini dan mengajukannya sebagai pasien dampingan #SR. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics #SR, pada tanggal 2 Juni 2016 pasien lalu diberangkatkan ke  Bandung, untuk tinggal sementara di Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Bandung dalam rangka berobat ke RSHS Bandung. Dengan izin Allah Swt pula alhamdulillah kurir #SR dapat menyampaikan santunan kepada Bu Arsini. Bantuan awal yang mereka terima di RSSR Bandung ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi dan uang saku selama ia berobat di RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal :  3 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @Heni_Nuraini

Ibu arsini menderita Suspek : Kanker Tulang Hidung

Ibu arsini menderita Suspek : Kanker Tulang Hidung


MELLATUL LATIFAH (12, Hidrocepalus dan Jantung Bocor). Alamat: Kp. Pasuaran Cidudut RT. 1/2 Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Gadis manis ini bernama Mellatul Latifah, sehari-hari biasa disapa Mella. Mella adalah anak pertama dari pasangan Bapak Aji Suardi (41) dan Ibu Ika Novita (28). Mella terlahir 12 tahun lalu, saat dilahirkan Mella tidak langsung menangis seperti bayi pada umumnya. Sebulan dua bulan Mella tumbuh layaknya anak seusianya, badannya gemuk dan menggemaskan. Tapi saat menginjak usia 10 bulan, perlahan tapi pasti Mella mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan. Sampai akhirnya saat Mella berusia 1,5 tahun orang tua Mella membawa Mella berobat ke RS Dramaga Katih Bogor, Mella dianjurkan untuk melakukan rawat jalan tiap 2 minggu sekali. Sampai pada usia 10 tahun, Mella sering mengalami pusing, muntah dan cepat lelah ditambah diujung kuku tangan dan kakinya sering mengalami kebiruan. Karena khawatir orang tua Mella membawa Mella ke RSUD Bogor, di RSUD Mella dilakukan pemeriksaan CT Scan dan hasilnya terdapat gumpalan darah di otak Mella. Dokter menyarankan supaya Mella dirujuk ke RS Fatmawati, 2 malam dirawat Mella dilakukan tindakan Echocardiografi dan hasilnya mengatakan jika Mella menderita Jantung Bocor dan kemungkinan gumpalan di otak diperoleh dari infeksi di jantungnya. Tapi pihak dokter menyarankan supaya Mella dirujuk ke RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo karena keterbatasan fasilitas. Tanggal 26 November 2015, Mella bersama kedua orang tuanya berangkat ke RSCM dengan tujuan mencari kesembuhan. Di RSCM, Mella menjalani serangkaian pemeriksaan seperti EKG, Echocardiografi dan CT Scan, dan hasilnya Mella menderita Jantung Bocor, Hidrocepalus (terdapat penumpukan cairan di otak) dan tidak terdapat organ Limpha di tubuh Mella. Saat itu orang tua Mella sempat stress karena begitu besar ujian yang harus diterima oleh gadis kecilnya. Januari 2016, Mella menjalani operasi untuk mengangkat gumpalan kecil di otaknya, Alhamdulillah saat itu kondisi Mella berangsur membaik. Mella pulang ke rumah. Berselang 2 minggu kondisi Mella kembali drop, Mella sering mengeluh pusing. Sampai sekarang Mella masih harus menjalani rawat jalan di Poli Kardiologi, Neurologi, Bedah Syaraf dan Psikiatri. Ditengah proses perjuangannya untuk bolak balik ke Poli,  kondisi Mella menurun dan sekarang harus menjalani perawatan di RSCM. Hampir 6 bulan orang tua Mella, mendampingi Mella berobat entah sudah berapa banyak biaya yang dikeluarkan, sampai orangtua Mella rela menjual barang-barang pribadinya. Sehari-hari Bapak Aji bekerja sebagai penjual roti di kawasan Tanah Abang dan Ibu Ika sebagai Ibu Rumah Tangga, tapi semenjak mendampingi Mella berobat Bapak Aji tidak bisa bekerja penuh, karena harus bergantian menjaga Mella di rumah sakit. Alhamdulillah, ditengah perjuangan Mella mencari kesembuhan #KurirSR dipertemukan dengan Mella dan kedua orangtuanya, dan menyampaikan bantuan awal untuk biaya membeli obat yang tidak tercover oleh BPJs dan  untuk memenuhi kebutuhanharian selama menjalani perawatan di RSCM. Hampir sebulan ini Mella mendapat perawatan di ruang anak RSCM, Alhamdulillah kondisinya berangsur membaik. Mohon doa terbaik dari rekan-rekan semoga Mella lekas diberi jalan untuk sembuh. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 6 Juni  2016
Kurir: @ddsyaefuddin @harji_anis @untaririri

Mella menderita Hidrocepalus dan Jantung Bocor

Mella menderita Hidrocepalus dan Jantung Bocor


DINA AGUSTINA (37 Tahun, Kanker Nasofaring). Alamat: Dusun Sanggrah RT 07 RW 03, Desa Pakandangan Sangra, Kec. Bluto Kab. Sumenep, Jawa Timur. Pertengahan tahun 2013 ketika masih tinggal di Bekasi, hidung Bu Dina terasa mampet semacam pilek. Setelah pindah domisili ke Madura awal tahun 2014, diperiksakan ke dokter spesialis dan beliau di vonis mengidap tumor jinak. Pertengahan tahun 2014 Bu Dina dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan sudah melakukan operasi pada maret 2015. Tindakan yang saat ini dilakukan adalah kemoterapi yang kedua. Kondisi pasien saat ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Yang dikeluhkan pasien adalah biaya transportasi dari rumah di Sumenep ke RSUD Dr. Soetomo yang mahal, serta biaya kost ketika sedang berada di Surabaya untuk ikhtiar mencari kesembuhan. Bahkan tidak jarang pasien tidur di teras rumah sakit yang sudah tentu tidak layak dijadikan tempat istirahat. Apalagi untuk jadwal berobat bisa 2 kali dalam satu bulan. Suami bu Dina sebelumnya bekerja sebagai pengajar di yayasan islam di Sumenep tetapi diberhentikan karena sering izin untuk menemani istri berobat ke Surabaya. Saat ini suami beliau bekerja serabutan, terkadang bertani. Pasien tinggal dirumah orang tua suami, bersama bapak dan ibu mertuanya serta seorang anak di Sumenep. Setelah melalui survey, Bu Dina resmi menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan. Saat ini Bu Dina melakukan kemoterapi yang kelima. Santunan sudah diberikan dan telah teracatat pada rombongan .Keluarga sangat terbantu dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari para sedekaholic melalui #SedekahRombongan, karena dengan bantuan tersebut sampai saat ini Bu Dina masih bisa terus berikhtiar mencari kesembuhan.

Jumlah Santunan : Rp. 1.650.000,-
Tanggal : 9 Februari 2016
Kurir : @Wahyu_CSD @ivaninteen @Renaldityo

Dina menderita Kanker Nasofaring

Dina menderita Kanker Nasofaring


ADIS BIN SANUSI, (69, Infeksi Saluran Kencing). Alamat: Jl. Budi Mulia RT. 3/4 No. 19, Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Bapak Adis, begitulah beliau sering disapa oleh orang-orang disekitarnya. 2 tahun terakhir ini Bapak Adis sering mengeluh jika buang air besar sakit. Namun, Pak Adis tak kunjung memeriksakan dirinya ke rumah sakit terdekat. Beliau hanya mencoba beberapa pengobatan alternatif, tapi apa daya semua itu tidak membuahkan hasil. 2 bulan lelah menjalani pengobatan tanpa hasil, Pak Adis mulai melakukan pengobatan secara medis. Di mulai dengan sering kontrol ke Puskesmas dan klinik terdekant, saat itu Pak  Adis dinyatakan menderita pembesaran Prostat. Lama tidak ada keluhan, Pak Adis tidak lagi kontrol. Tapi beberapa bulan yang lalu Pak Adis merasakan keluhan yang sama lagi. Kemudia oleh keluarga dibawa ke Puskesmas terdekat, kemudian dirujuk RSUD Koja supaya Pak Adis mendapat penangan medis yang lebih baik. Di RSUD Koja, dokter mengatakan jika Prostatnya kambuh dan sekarang juga mengalami Saluran Infeksi Kencing. Sempat beberapa hari menjalani perawatan di RSUD Koja, kini Pak Adis sudah diperbolehkan pulang tapi masih harus menjalani kontrol rutin. Disini kendala baru muncul, yaitu biaya akomodasi. Pak Adis sudah tidak dapat bekerja lagi, sehingga untuk hidup sehari-hari beliau hanya bergantung sama istrinya, Ibu Sani (65) yang sehari-hari berjualan bubur. Alhamdulillah, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan Pak Adis sekaligus menyampaikan bantuan untuk biaya akomodasi rawat jalan ke RSUD Koja. Mohon doa untuk kesembuhan Pak Adis, semoga dimudahkan dan diberi kelancaran. Aamiin.

Jumlah bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 5 Juni 2016
urir: @ddsyaefudin @harji_anis @anasaramadhan @untaririri

Adis menderita Infeksi Saluran Kencing

Adis menderita Infeksi Saluran Kencing


ENI SUHENI (51, Tumor Payudara). Alamat : Jl. Budimulia RT.10/4 Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Enie Suheni atau yang akrab disapa Iaabu Eni, sehari-harinya berprofesi sebagai buruh cuci. Ibu Eni sudah 4 tahun ini menderita tumor payudara. Gejala awal yang  dirasakannya ada benjolan kecil dan sakit jika disentuh pada payudaranya. Pengobatan pertama dilakukan di Puskesmas terdekat dan dari puskesmas Ibu Eni kemudian dirujuk ke RSUD Sukmul Jakarta Utara, namun karna keterbatasan peralatan di RSUD tersebut, Ibu Eni kemudian dirujuk pengobatan lanjutannya ke RS Husada Jakarta Pusat. Operasi pengangkatan tumor pernah dilakukannya 3 tahun yang lalu di RSUD Koja Jakarta Utara, namun karna kehidupan yang miskin dan keterbatasan biaya pasca operasi Ibu Eni tidak pernah melakukan kontrol rutin dan melanjutkan pengobatannya, sehingga tumor pada payudaranyapun tumbuh kembali. Alhamdulillah #SedekahRombongan dipertemukan dengan Ibu Eni, bantuan lanjutan kembali kami sampaikan untuk biaya akomodasi ke rumah sakit, setelah bantuan sebelumnya masuk pada Rombongan 846. Pasca menjalani operasi pengangkatan payudara, kini Ibu Eni masih harus menjalani kontrol rutin di RSUD Koja. Semoga pengobatannya dimudahkan dan ibu Eni Suheni diberikan kesembuhan, Aamiin

Jumlah bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 5 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @harji_anis @anasaramadhan @untaririri

Ibu eni menderita Tumor Payudara

Ibu eni menderita Tumor Payudara


TATI ROHAYATI (34, Kanker Usus). Alamat : Kampung Bangun Sari, RT. 1/5, Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Ibu Tati adalah istri Pak Aep Saepuloh (35) yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kecil di desanya. Bersama suaminya, ia tinggal menumpang di rumah orang tuanya. Keluarga kecil berpenghasilan kecil ini seolah tak lepas dari musibah. Selain ditempa dengan kemiskinan materi, mereka juga diuji kesabarannya dengan penyakit yang dialami Ibu Tati. Semoga musibah ini termasuk salah satu perwujudan kasih-sayang Allah Swt untuk Ibu Tati dan keluarganya. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di Puskesmas dan RSUD di Garut, diduga ia terkena penyakit kanker di ususnya. Tim medis RSUD itu kemudian merujuk penanganan medisnya ke RSHS Bandung. Selama menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Rujukan Pusat itu ia ditemani adiknya yang setia mendampingi; suami Ibu Tati tidak bisa menemaninya karena harus mencari nafkah untuk anak-anak. Kini Ibu Tati sudah menjalani kemotrapi yang ke-2 dari 6 kali jadwal terapi yang direncanakan dokter dan para medis di RSHS Bandung. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bisa dpertemukan Allah Swt dengan keluarga dhuafa yang tabah ini, dan berharap bisa bersama-sama membantu ibu Tati berikhtiar untuk kesembuhannya. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics #SR, ia mendapatkan bantuan dan pendampingan. Bahkan, selama menjalani terapi di RSHS, ia selalu tinggal di Rumah Singgah #SedekahRombongan (RSSR) Bandung. Di rumah singgah ini pula Bantuan Awal dari #SR  disampaikan kepada Ibu Tati yang digunakan untuk keperluan membeli obat, vitamin, bekal selama di Bandung, dan biaya transportasi. Pada akhir Mei, kurir #SR menjemput Ibu Tati ke rumahnya menggunakan MTSR Bandung agar ia bisa menjalani kemoterapi dan kontrol lanjutan. Karena ia masih membutuhkan dukungan dan bantuan untuk terus  beeobat, kembali sedekaholics #SR memberinya Santunan Lanjutan yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi selama berobat dan biaya sehari-hari. “Jazakumullah Khairan Katsiran!” Doanya saat menerima bantuan. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 846.

Jumlah Bantuan: Rp.1.000.000,-
Tanggal: 5 Juni 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @avinptr

Ibu tati menderita Kanker Usus

Ibu tati menderita Kanker Usus


ARYA NICHOLAS SAPUTRA (10, Diagnosa : DBD). Alamat : Dusun Tiga, RT.2/6 Desa Kanci, Kecamatan Kanci, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Arya semestinya bisa bermain dan belajar untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Namun, pagi iti mendadak badannya panas tinggi. Selama seminggu ia beristirahat di rumah, tetapi tidak ada perbaikan. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, orang tua Arya –yaitu Bapak Rajak (35) dan Ibu Elsa Nuraini (33)– kemudian membawa Arya berobat ke RSUD Gunung Jati Cirebon. Para medis di rumah sakit rujukan utama di Cirebon ini menyatakan bahwa pasien menderita DBD dan harus segera dirawat di ruang ICU. Saat itu trombositnya menunjukkan angka 50.000 (normal minimal 150.000-200.000). Karena ruang ICU RSUD Gunung Jati penuh, mereka mencarikan rumah sakit lain yang memiliki ruang ICU yang kosong. Satu-satunya rumah sakit yang ruang ICU -nya tersedia saat itu adalah RS Permata Cirebon. Sayang, RS swasta ini tidak menerima pasien peserta BPJS. Untuk menempati ruang ICU, Pak Rajak diharuskan menyimpan deposito Rp.6.000.000,- Demi keselamatan nyawa Arya, Pak Rajak meminjam uang kepada saudara dan kerabatnnya. Penghasilannya, sebagai sales makanan, tidak mencukupi untuk membayar biaya rumah sakit. Di saat teman-temannya sedang menjalani ujian kenaikan kelas, Arya mesti berjuang melawan serangan sakitnya. Alhamdulillaah, setelah menjalani rawat inap tiga hari di ruang ICU, akhirnya Arya dapat melewati masa kritisnya. Kurir #SedekahRombongan menjumpai Pak Rajak saat beliau sedang kebingungan mencari dana untuk melunasi kekurangan tagihan biaya rumah sakit, Rp.500.000,-Saat itu ia tidak memegang uang, sedangkan mencari pinjaman lagi sangatlah sulit. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics #SR, akhirnya Pak Rajak bisa melunasi kekurangan biaya rumah sakit. Bersyukur kurir #Sedekah Rombongan juga berkesempatan mengantarkan Arya dan orang tuanya kembali pulang berkumpul kembali bersama keluarga besarnya. Meski belum memiliki rumah sendiri dan masih tinggal menumpang di rumah mertuanya, Pak Rajak tetap bersyukur melihat senyum terukir di wajah anak tercintanya. Kekuatirannya kehilangan nyawa anaknys, kini hilang berkat pertolongan Allah dan bantuan para sedekaholics #SR.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 24 Mei 2016
Kurir : @ddsyaefudin @Heni_Nuraini

Arya menderita Diagnosa : DBD

Arya menderita Diagnosa : DBD


NOVITA INDAH TRIYATMO (6, Bantuan Biaya Sekolah). Alamat: Desa Cangkring RT.01/15 Desa Plumbon, Kecamatan Tegal Wangi, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Novita adalah anak bungsu, buah cinta pernikahan Ibu Ida (50) dengan Bapak Tasman (55). Suami-istri ini rermasuk pasangan yang tidak mudah menyerah menghadapi tantangan kehidupan: kesulitan ekonomi yang selalu menyertai mereka. Pada awal tahun 2000, untuk membantu perekonomian keluarga, Ibu Ida meninggalkan keluarganya bekerja menjadi TKI di Taiwan dan Malaysia selama beberapa tahun. Pengalaman yang kurang menyenangkan di Malaysia serta perasaan berat meninggalkan suami dan anak-anak yang masih kecil, membuatnya pulang ke tanah air. Bersama suaminya, ia kemudian mencoba menaklukkan kerasnya kehidupan ibu kota Jakarta agar ketiga anaknya, yang diasuh neneknya di kampung, bisa terus bersekolah. Ibu Ida bekerja sebagai asisten rumah tangga di satu keluarga di Jakarta, dan suaminya bekerja sebagai supir di keluarga yang sama. Tantangan demi tantangan terus mereka hadapi: sang nenek di kampung meninggal dunia. Kematian sang nenek memaksa pasangan ini kembali ke kampung dan bekerja serabutan. Bapak Tasman memilih bekerja sebagai buruh pabrik rotan di sekitar rumahnya, sedangkan ibu Ida bekerja sebagai tukang cuci keliling dan membuka warung rujak di rumahnya. Yang patut diteladani dari mereka adalah kesadarannya yang tinggi akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anaknya. Di tengah kemiskinan yang mereka alami, mereka bersedia bekerja apa saja –bahkan berhutang– asal anak-anaknya bisa menamatkan sekolah, minimal hingga tamat SMU. Mereka menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan yang baik di zaman sekarang tanpa pendidikan yang cukup. Mereka berharap dn berjuang agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Bersyukur kurir #SedekahRombongan berkesempatan menjumpai Ibu Ida saat ia sedang berjualan gorengan keliling. Ketika kurir #SR menanyakan mengapa ia berjualan keliling, ia menjawab, “Kami tidak bisa berjualan lagi di rumah karena modal usaha kerap habis untuk menyambung biaya sekolah anak-anak, sementara penghasilan Pak Tasman sebagai buruh pabrik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.” Pekerjaan apa pun ia lakukan agar kedua anaknya bisa lulus sekolah, yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari pengamatan kurir #SR, pasangan Bapak Tasman dan Ibu Ida tergolong orang tua yang baik, taat beribadah. Dengan segala keterbatasan, mereka berhasil mendidik anak-anak mereka menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan mengerti kesulitan ekonomi orang tuanya. Selepas sekolah, biasanya mereka membantu ibunya berjualan. Anak bungsu mereka seorang puteri kelas 6 SD, yang dikenal cukup pintar di sekolahnya. Memahami akan harapan mulia mereka, alhamdulillah, #SedekahRombongan dapat menyalurkan bantuan dari para sedekaholic sebagai santunan dana pendidikan anak dan modal usaha kepada mereka. Berkat bantuan #SR, Ibu Ida bisa kembali berdagang di rumahnya, guna membantu perekonomian keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya. Semoga bantuan yang diterima Ibu Ida ini bermanfaat untuk keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

Jumlah Bantuan : Rp.700.000,-
Tanggal : 26 Mei 2016
Kurir : @ddsyaefudin @Heni_Nuraini

Ibu novita menderita Bantuan Biaya Sekolah

Ibu novita menderita Bantuan Biaya Sekolah


MISRI BINTI KERTADIRANA (100, Suspek : Stroke). Alamat : Dusun Manis RT.5/1 Desa Kalanggis Kulon, Kecamatan Kalimanggis, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Ibu Misri bisa dikatakan “orang tertua di kampungnya”. Ia tinggal sendirian di rumah bilik peninggalan mendiang suaminya. Sekali-kali cucu atau saudaranya menengok Ibu Misri yang kini sering sakit-sakitan. Menurut seorang mantri (tenaga medis) yang pernah dipanggil ke rumahnya, ia diduga terserang stroke tangan dan kaki: tangan dan kaki sebelah kiri tidak bisa bergerak. Mendatangkan tenaga medis (mantri) adalah satu-satunya ikhtiar medis yang mampu ia lakukan. Berobat ke dokter atau rumah sakit menjadi barang mahal di mata mereka. Ibu Misri termasuk dhuafa yang layak dibantu. Selain lemah secara ekonomi, ia juga tergolong janda tua yang tak berdaya yang juga diuji Allah dengan penyakit. Sayang, karena tidak ada biaya, ia belum mendapatkan penanganan medis yang maksimal. Lokasi tempat tinggal mereka yang jauh dari rumah sakit dan Puskesmas semakin mempersulitnya mendapatkan pengobatan; apalagi kondisinya kini menurun dan susah berjalan. Informasi tentang kesulitan hidup dan penderitaan Ibu Misri akhirnya sampai kepada kurir #SedekahRombongan yang kemudian menjenguknya pada tanggal 27 Mei 2016. Berdasarkan pengamatan kurir Rabby Maulana, Ibu Misri amat layak dibantu untuk meringankan beban deritanya. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics, pada tanggal 30 Mei 2016, kurir #SedekahRombongan dapat menyampaikan bantuan untuk Ibu Misri. Santunan yang diteeima saudaranya ini digunakan untuk biaya pembuatan Kartu BPJS, biaya transportasi-akomodasi berobat, dan biaya sehari-hari.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 30 Mei 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @robby477

Ibu misri menderita Suspek : Stroke

Ibu misri menderita Suspek : Stroke


ELON RAMLAN (48, Lumpuh, Stroke dan Hipertensi). Alamat : Dusun Cikawung RT.7/4 Desa Cihideung Hilir, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Tukang bubur ini sehari-hari dipanggil Pak Elon. Bersama istrinya, Ibu Wati, dia tinggal di rumah yang amat sederhana. Hampir satu tahun ia tak bisa menjalankan usahanya semenjak ia sakit-sakitan. Berbagai upaya dia lakukan, baik secara medis maupun nonmedis, untuk mengembalikan kesehatannya agar ia bisa beraktivitas seperti biasa. Puskesmas, dokter praktek, dan rumah sakit menjadi langganannya memeriksakan diri dan  mengkonsultasikan keluhan penyakit yang ia alami. Pak Elon bahkan pernah diperiksakan ke dokter saraf dan dirawat di RSUD Wales selama 11 hari. Selama berobat, bahkan sampai kini, ia didaftarkan sebagai pasien umum karena tidak mempunyai jaminan kesehatan apa pun. Karena itu, sering kali ia meminjam uang kepada pihak ketiga untuk biaya berobat. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada tanda-tanda kesembuhan. Ia malah kini susah bicara dan tidak kunjung sembuh. Pengobatannya hampir terhenti, padahal ia ingin meneruskannya sampai tuntas. Harapan Pak Elon untuk terus mengupayakan kesehatan, akhirnya sampai kepada kurir #SR di Kuningan, yang kemudian menjenguk Pak Elon di rumahnya. Menurut penelaahan kurir #SR, Pak Elon termasuk dhuafa yang layak dibantu untuk meringankan beban yang membelenggu kehidupannya. Selain termasuk keluarga miskin, penyakit yang ia alami juga termasuk kategori penyakit berat dan serius yang penanganannya cukup lama. Saat terakhir dikunjungi kurir, ia bahkan tidak bisa berdiri sama sekali. Berempati atas apa yang dialami Pak Elon dan keluarganya, sedekaholics #SR kemudian memberinya santunan yang digunakan untuk biaya pembuatan BPJS Mandiri Kelas 3, biaya transportasi-akomodasi berobat, dan biaya sehari-hari.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 2 Juni 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @robby477

Pak elon menderita  Lumpuh, Stroke dan Hipertensi

Pak elon menderita Lumpuh, Stroke dan Hipertensi


RSSR SEMARANG (Rumah Singgah Sedekah Rombongan) adalah Rumah Singgah yang digunakan pasien-pasien dampingan #SedekahRombongan dari luar kota untuk menginap selama proses pengobatan di Rumah Sakit. Di Semarang sejak Agustus 2014 kami mengontrak rumah di Jl. Pleburan 6 No.7 Semarang untuk digunakan sebagai tempat tinggal pasien sambil mereka berobat di Rumah Sakit sekitar Semarang. Fungsi dari adanya Rumah Singgah ini adalah misalnya ada pasien #SedekahRombongan yang berasal dari luar kota Semarang, biasanya dari wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Batang, Pekalongan, Pati, Jepara, Purwodadi, Rembang, dsb yang harus menjalani pengobatan di Semarang selama berbulan-bulan dan hanya perlu masuk Rumah Sakit seminggu sekali misalnya untuk kemoterapi, kontrol rutin, atau proses pengobatan yang lain tidak perlu bolak balik ke rumahnya dan bisa menempati Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR). Laporan ini ditujukan untuk kebutuhan makan pasien dan kebutuhan sarana prasarana lain untuk melengkapi kebutuhan Rumah Singgah Sedekah Rombongan di Semarang selama bulan Februari 2016.

Jumlah Bantuan: Rp 8.456.373
Tanggal: 29 Februari 2016
Kurir: @indrades dan All Kurir Semarang

Bantuan oprasional  untuk kebutuhan makan pasien dan kebutuhan sarana prasarana lain

Bantuan oprasional untuk kebutuhan makan pasien dan kebutuhan sarana prasarana lain


MTSR SEMARANG (Mobil Tanggap Sedekah Rombongan) dengan Nomor Polisi H 8690 QF, adalah mobil ambulance operasional tim #SedekahRombongan yang mengcover wilayah Pantura JawaTengah dari Brebes hingga Rembang yang terpusat di Semarang Jawa Tengah. Karena semakin tingginya mobilitas tim dan semakin banyaknya dhuafa sakit yang menjadi pasien dampingan tim #SedekahRombongan di wilayah Pantura Jateng ini menuntut adanya mobil yang riwa riwi digunakan untuk membantu mobilitas pasien. Mobil ambulance MTSR ini berfungsi untuk membantu transportasi dhuafa sakit terutama para pasien dhuafa dampingan #SedekahRombongan di area tim Pantura Jateng. Selain itu, ambulance MTSR di Semarang ini juga sering digunakan untuk membantu masyarakat umum ke Rumah Sakit dan jenazah jika diperlukan. Bantuan ini ditujukan untuk servis mobil, bensin, dan kebutuhan lain ambulance MTSR selama bulan Februari 2016.

Jumlah Bantuan: Rp 6.314.500
Tanggal: 29 Februari 2016
Kurir: @indrades dan All Kurir Semarang

Bantuan untuk servis mobil, bensin, dan kebutuhan lain ambulance MTSR selama bulan Februari 2016.

Bantuan untuk servis mobil, bensin, dan kebutuhan lain ambulance MTSR selama bulan Februari 2016.


MTSR SEMARANG (Mobil Tanggap Sedekah Rombongan) dengan Nomor Polisi AD 9716 DL, adalah mobil ambulance operasional tim #SedekahRombongan yang mengcover wilayah Pantura Jawa Tengah dari Brebes hingga Semarang dan terpusat di Pekalongan Jawa Tengah. Karena semakin tingginya mobilitas tim dan semakin banyaknya dhuafa sakit yang menjadi pasien dampingan tim #SedekahRombongan di wilayah Pantura Jateng ini menuntut adanya mobil yang riwa riwi digunakan untuk membantu mobilitas pasien. Mobil ambulance MTSR ini berfungsi untuk membantu transportasi dhuafa sakit terutama para pasien dhuafa dampingan #SedekahRombongan di area tim Pantura Jateng. Selain itu, ambulance MTSR di Pekalongan ini juga sering digunakan untuk membantu masyarakat umum ke Rumah Sakit. Bantuan ini ditujukan untuk servis mobil, bensin, dan kebutuhan lain ambulance MTSR selama bulan Februari 2016.

Jumlah Bantuan: Rp 5.573.500
Tanggal: 29 Februari 2016
Kurir: @indrades dan All Kurir Semarang

Bantuan untuk servis mobil, bensin, dan kebutuhan lain ambulance MTSR selama bulan Februari 2016.

Bantuan untuk servis mobil, bensin, dan kebutuhan lain ambulance MTSR selama bulan Februari 2016.


USWATUN KHASANAH BINTI SUNARI (28 Tahun, Trauma lumbal) Alamat: Sideleg, RT. RW. Selokarto Kec. Blado Kab. Batang Jawa Tengah. Berawal sejak masih duduk di bangku SMA pernah jatuh, setelah jatuh dipijat dan sembuh. Setelah lulus sekolah Uswatun tepatnya tahun 2007 Merantau ke Jakarta. Kurang lebih baru 1 bulan bekerja di Jakarta tiba-tiba Uswatun mengalami lumpuh setengah badan dari pantat sampai kaki dan hingga sampai sekarang masih mengalami kelumpuhan. Di Jakarta sempat dilakukan pengobatan selama tiga bulan dan tidak ada perubahan sama sekali sehingga keluarga memutuskan untuk di bawa ke kampung halaman. Selama di kampung sempat di bawa ke RSUD Batang selama 1 bulan, karena tidak ada perubahan juga akhirnya keluarga melakukan pengobatan herbal dan tradisional sampai sekarang. Keadaan mbak Uswatun saat kurir #SedekahRombongan bersilaturahmi ke rumah masih terbaring dan tidak bisa bergerak hanya senyuman pasrah Lillahita’ala. Santunan sebesar Rp. 1.000.000 tersampaikan. Mudah-mudahan bisa mengurangi beban keluarga untuk pengobatan Uswatun Khasanah. Semoga Alloh memberikan kesembuhan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000
Tanggall: 15 Februari 2016
Kurir : @indrades @Onyji

Ibu uswatun menderita Trauma lumbal

Ibu uswatun menderita Trauma lumbal


ETI KUSTIYAH (34, Tumor Rahim). Alamat : Jl Tabrani Ahmad, RT. 8/3, Desa Pal lima, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Propinsi Kalimantan Barat. Berawal dari lima tahun yang lalu Eti merasakan sakit yang luar biasa di perutnya dan mengalami pendarahan di kemaluannya. Saat itu Eti memberanikan diri memeriksakan kondisinya ke rumah sakit dan karena kondisinya menurun ia langsung dirawat. Dokter mendiagnosa Eti menderita usus buntu dan harus segera dioperasi, namun karena tak memiliki uang ia kebingungan bagaimana harus membayar biaya operasi yang tak sedikit. Alhamdulillah Eti dibantu bibi dan teman – teman dekatnya yang mengumpulkan uang hingga ia bisa menjalani operasi dengan lancar. Lima tahun berlalu, Eti kembali merasakan sakit di perutnya dan masih mengalami pendarahan. Eti ingin sekali berobat namun ia kebingungan karena tak memiliki uang dan kartu BPJS yang ia miliki tak bisa digunakan karena menunggak pembayarannya selama tiga bulan. Dari pengobatan sebelumnya, Eti didiagnosa menderita tumor rahim. Eti tak lagi tinggal dengan orang tuanya karena hubungan yang kurang harmonis. Sekitar llima tahun ini ia menumpang tinggal di kos temannya yang juga membantunya memenuhi kebutuhan sehari – hari. Untuk berobat pun Eti bergantung pada bibinya yang mungkin tak dapat selamanya membantu. Dengan sedih Eti menceritakan kondisinya pada kurir #sedekahrombongan yang kemudian memberikannya bantuan untuk biaya berobat dan memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 22 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 @ririn_restu

Ibu eti menderita Tumor Rahim

Ibu eti menderita Tumor Rahim


ATEK BINTI SIEM (60, Kanker Payudara). Alamat : Dusun Pelita RT. 1/11, Desa Mekar Sari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dua tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2014  muncul benjolan kecil di payudara Ibu Atek. Karena pada waktu itu tidak terasa sakit dan dianggap hanya benjolan biasa, Ibu Atek tidak memeriksakannya ke dokter. Ia tetap menjalani aktifitasnya seperti biasa yaitu membantu suaminya ke sawah untuk menanam padi. Hingga akhirnya satu tahun berlalu benjolan yang tadinya kecil semakin membesar dan terasa sakit hingga Ibu Atek tidak dapat menjalani aktivitasnya sehari – hari. Jarak rumah sakit yang jauh dari kediaman Ibu Atek serta ketiadaan biaya membuat suami Ibu Atek, Bapak Apheng, hanya bisa membawa istrinya berobat ke pengobatan alternatif. Namun cara tersebut belum menimbulkan hasil yang signifikan, hingga akhirnya saudara dan tetangga membawa Ibu Atek ke RSUD Sudarso Pontianak dikarenakan kondisinya yang mulai lemah akibat tidak adanya asupan makanan dan minuman selama dua hari. Saat mengunjungi rumah Ibu Atek, kurir #SedekahRombongan merasakan betul kesulitan yang dialaminya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari saja mereka kesulitan apalagi untuk kebutuhan pengobatan. Kurir #sedekahrombongan memberikan bantuan awal untuk operasional selama di rumah sakit dan membeli obat – obatan yang tidak ditanggung BPJS.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 22 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 @ririn_restu

Ibu atek menderita Kanker Payudara

Ibu atek menderita Kanker Payudara


ALMARHUMAH SULASTRI (54, Kanker Payudara). Alamat : Dusun Karya 11 RT. 1/4, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Berawal dari dua tahun yang lalu ketika itu muncul benjolan kecil di payudara Ibu Sulastri. Ibu Sulastri tidak mempedulikan benjolan kecil tersebut hingga akhirnya dua bulan kemudian benjolan tersebut semakin membesar dan terasa sakit. Pada waktu itu suami Ibu Sulastri, Pak Adi, tidak memiliki uang simapanan untuk membawa istrinya berobat, dengan bermodalkan kartu Jamkesmas dan bantuan dari tetangga serta keluarga dibawalah Ibu Sulastri ke RS Kartika Husada. Sesampainya di sana dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi sebelum benjolan itu semakin membesar, pihak keluarga menyetujuinya dan akhirnya operasi berjalan lancar. Satu tahun pasca operasi, bekas operasi di payudara Ibu Sulastri mulai terasa sakit dan timbul luka. Pada waktu itu keluarga tidak segera membawanya ke rumah sakit mengingat jauhnya jarak serta ketiadaan biaya. Karena semakin menurun kondisinya, maka dokter Puskesmas Sungai durian beserta kerabat berinisiatif membawa Ibu Sulastri ke Puskesmas terdekat hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Sudarso pontianak untuk pemulihan serta pengobatan lebih lanjut. Takdir berkata lain, pada Kamis, 19 Mei 2016 pukul 8 malam Ibu Sulastri meninggal dunia, kurir #SedekahRombongan memberikan santunan duka kepada keluarga, semoga amal ibadah almarhumah diterima Allah SWT.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 23 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 @ririn_restu

Ibu almh sulastri menderita Kanker Payudara

Ibu almh sulastri menderita Kanker Payudara


NGATINI BINTI AMIR, (36, Tumor Dagu). Alamat Dusun Ngaliyan RT 03 RW 13 Kel. Kalongan Kec. Ungaran Timur Kab. Semarang. Sepuluh tahun yang lalu, sekitar tahun 2004, Bu Ngatini awalnya memiliki keluhan sakit gigi, kemudian muncul benjolan kecil di area dagunya. Benjolan tersebut semakin lama semakin membesar. Saat itu, Bu Ngatini diantar periksa ke RSUP Dr. Kariadi Semarang oleh tetangganya yang bekerja sebagai perawat di RSUP Dr. Kariadi. Bu Ngatini divonis terkena tumor dagu jinak oleh dokter dan harus dilakukan operasi. Menurut dokter meskipun tumor tersebut jinak namun apabila tidak diambil maka semakin lama akan semakin besar dan akan mengganggu kegiatan sehari-hari Bu Ngatini. Namun karena jarak dari rumah beliau menuju RSUP Dr. Kariadi yang cukup jauh, terlebih dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan sampai sekarang belum dilakukan operasi pengangkatan tumor padahal tumor dagunya sudah sangat besar. Bu Ngatini bekerja di sebuah perumahan sebagai buruh bagian merawat taman. Suami Bu Ngatini, Pak Kuat dahulu bekerja sebagai kernet truk di Sumatra namun sekarang hanya  bekerja serabutan di rumah. Bu Ngatini masih mempunyai tanggungan 2 anak yang masih kecil dan bapak mertua yang sudah lansia. Saat ini Bu Ngatini sudah memiliki  fasilitas BPJS tanpa bayar yang dibuatkan oleh perangkat desa setempat. Karena faktor kurangnya pengetahuan sehingga Bu Ngatini memerlukan pendampingan dalam proses pengobatan. Serta dibutuhkan banyak biaya transportasi mengingat jarak rumah dengan RSUP Dr. kariadi sangat jauh. Tanggal 27 Januari 2016 Tim #SedekahRombongan bertemu dengan Bu Ngatini, setelah melakukan obrolan panjang akhirnya tim kurir sepakat untuk mendampingi pengobatan Bu Ngatini.  Pada tanggal 4 Februari 2016, atas rujukan dari RSUD Ungaran, Bu Ngatini melakukan kontrol pertama di RS Tugu Semarang dengan dampingan tim #SedekahRombongan di Poli Onkologi. Karena kondisi tumornya yang sudah sangat besar dan sudah menyerang rahang, dokter menyarankan untuk segera dilakukan operasi dengan resiko Bu Ngatini akan kehilangan semua gigi bagian bawahnya sebab rahang bawah harus diganti dengan pen. Dan Bu Ngatini bersedia dengan resiko tersebut. Alhamdulillah, tanggal 28 April 2016, Bu Ngatini menjalani operasi pengangkatan tumor di Rumah Sakit Daerah Kariadi. Operasi berjalan dengan lancar dan saat ini Bu Ngatini sedang dalam masa pemulihan pasca operasi di RSDK. Bantuan disampaikan untuk membantu biaya akomodasi pengobatan Bu Ngatini saat di Semarang. Mohon doanya semoga Bu Ngatini lekas sembuh dan dapat beraktifitas seperti semula.

Jumlah Bantuan         : Rp 1.300.000,-
Tanggal                : 30 April 2016
Kurir                  : @indrades , @idaiddo , @lianhumaira

Ibu ngatini menderita Tumor Dagu

Ibu ngatini menderita Tumor Dagu


ALFAN TAUFIQU (11, Kanker Kelenjar Getah Bening) Dik Alfan adalah putra dari Akhmad Sobirin (35) dan Eni Linda Wati (36). Alamat Desa Kasepuhan Kec. Batang Kab.Batang Jawa Tengah. Dik Alfan sejak 2 tahun yang lalu mulai menunjukkan gejala kelainan pada tubuhnya, beberapa benjolan sempat tumbuh di tubuh Dik Alfan. Saat itu benjolan-benjolan tersebut sudah dioperasi namun tumbuh lagi dan kondisi tubuhnya secara umum terus menunjukkan penurunan. Dokter di RSUD Batang menyarankan agar Dik Alfan dirujuk ke RS Kariadi Semarang agar mendapatkan perawatan lebih intensif. Namun karena keterbatasan biaya, orang tua Dik Alfan yang hanya bekerja sebagai buruh biasa tidak mampu melanjutkan proses pengobatan tersebut. Hingga akhirnya pada bulan November 2014, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan DikAlfan dan membawanya ke Semarang untuk melakukan pengobatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Saat ini Dik Alfan dalam tahap observasi oleh tim dokter di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan belakangan diketahui ada kelainan juga pada Limfa. Dengan adanya benjolan pada limfa maka Dik Alfanharus menjalani kemoterapi. Kemoterapi tahap pertama dinyatakan telah selesai. Saat ini Dik Alfansedang menjalani kemoterapi tahap ke dua siklus ketujuh di RSUP Dr Kariadi. Dan sudah dilakukan perawatan yang insetif oleh para Dokter di RSUP Dr Kariadi. Alhamdulilah berkat bantuan dan doa dari Sedekaholiq kondisi Dik  Alfan semakin membaik. Proses Kemoterapi akan dilanjutkan untuk menekan benjoln pada Limfa. Semoga Allah memudahkan pengobatan Dik Alfan. Bantuan ini ditujukan untuk membantu biaya akomodasi Dik Alfan dan keluarga selama pengobatan di Semarang.

Jumlah bantuan : Rp.1.700.000
Tanggal : 30 April 2016
Kurir : @indrades, @idaiddo, @Qiiyu

Alfan menderita Kanker Kelenjar Getah Bening

Alfan menderita Kanker Kelenjar Getah Bening


JUARIYAH BINTI SUTI MUKTI (43, PENDERITA PENJEPITAN SYARAF TULANG BELAKANG DAN LUMPUH) Alamat :Jl.sadewo VII/40 RT.001/RW.004 kel.Pendrikan Lor, Semarang Tengah, Jawa Tengah. BuJuariyah adalah seorang guru les dan mengaji bagi anak-anak disekitar rumahnya. Bu Juariyah  telah mengalami kelumpuhan dan penjepitan syaraf tulang belakang selama 10 tahun, hal ini menyebabkan BuJuariyah hanya bisa duduk dan tidak bisa jalan. Suami Bu Juariyah yaitu Pak Wawan (48) hanyalah seorang tukang pijat dan mengalami kebutaan. Dari penghasilan sebagai guru les dan tukang pijat membuat mereka belum bisa membawa Bu Juariyah berobat secara maksimal. Pada pertengahan bulan Juli 2015 kurir #SRSemarang bertemu dengan Bu Juariyah dan keluarga. Alhamdulillah kini Bu Juariyah telah menjadi pasien dampingan #SRSemarang. Saat ini Bu Juariyah telah menjalani paket Terapi  berupa fisioterapi (FT) dan Okupasi terapi (OT) untuk mempertahankan kekuatan dan agar semua anggota tubuh bisa digerakkan dengan baik. Kemudian karena setelah dilakukan Terapi Okupasi dan bagian tangan respon cukup baik dan kemampuannya meningkat, maka disarankan dokter untuk menjalani Okupasi Terapi (OT) dan melatih gerakan tangannya dirumah sendiri. Sampai saat ini bujuariyah menjalani fisioterapi selama dua minggu berturut- turut , terakhir kaki beliau disinar dan berusaha untuk diluruskan tetapi mengalami kesakitan pada kakinya dan akan dilakukan bergantian dengan Okupasi Terapi. Pada jumat tanggal 22 April 2016 saat hendak menjalani terapi, Bu Juariyah dilarikan ke IGD karena kondisinya drop. Beliau dirawat selama 1 minggu untuk memulihkan kondisinya dimana tekanan darah tidak stabil. Kemudian tanggal 29 April beliau diizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik.Terima kasih #Sedekaholic yang telah  ikut membantu untuk pengobatan Bu Juariyah, semoga Bu Juariyah segera pulih dan bisa lebih bermanfaat bagi sesama.

Jumlah Bantuan  : Rp. 1.300.000
Tanggal  : 29 April 2016
Kurir  : @indrades , @idaiddo , @syamok

Ibu juariah PENDERITA PENJEPITAN SYARAF TULANG BELAKANG DAN LUMPUH

Ibu juariah PENDERITA PENJEPITAN SYARAF TULANG BELAKANG DAN LUMPUH


ASRO BIN JAELANI (48, Tumor Nasofaring). Bapak Asro bertempat tinggal di Prembaen Selatan No. 21, RT. 5, RW.4, Kelurahan Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Sejak kira-kira 1.5 tahun yang lalu, Bapak Asro mendapati benjolan kecil di lehernya. Awalnya beliau mengira benjolan tersebut hanya benjolan biasa yang akan hilang dengan sendirinya, namun semakin hari benjolan di lehernya tersebut semakin membesar dan beliau mulai merasakan nyeri di bagian leher sampai kepala. Kemudian, beliau memeriksakan diri ke dokter di sebuah klinik di Kota Semarang. Dokter mendiagnosis bahwa Bapak Asro menderita kanker kelenjar getah bening dan memberi rujukan untuk berobat ke RS Kariadi Semarang. Karena terkendala oleh biaya, Bapak Asro memutuskan untuk tidak berobat ke RS Kariadi dan memilih untuk meminum obat-obatan herbal. Bapak Asro hanya bekerja sebagai tukang tambal ban dan buruh serabutan lepas dengan pendapatan tidak menentu. Sedangkan istrinya hanya bekerja sebagai buruh pencuci piring di sebuah Event Organizer. Jika pendapatan Bapak Asro dan isterinya digabungkan, kira-kira hanya mencapai Rp900.000,- tiap bulan. Beliau memiliki seorang anak yang saat ini sedang duduk di bangku SMA. Rumah yang beliau tempati pun, meskipun layak huni tetapi rumah itu merupakan rumah orang tuanya. Selain itu, beliau belum memiliki jaminan kesehatan apapun yang dapat membantu melunasi biaya pengobatan beliau. Pada awal tahun 2016 ini, Bapak Asro dipertemukan dengan Sedekah Rombongan. Setelah melalui beberapa proses survey dan wawancara, akhirnya beliau mendapatkan bantuan melalui Sedekah Rombongan. Pada Februari 2016, beliau memeriksakan diri di RSUD Tugurejo Semarang menggunakan kartu BPJS yang baru beliau miliki. Dokter mendiagnosis beliau menderita tumor nasofaring dan dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi Semarang. Semakin hari tumornya semakin membesar sehingga beliau tidak dapat menelan makanan. Berat badan beliau kini hanya 30kg dengan tinggi badan kira-kira 170cm. Saat pertama kali kontrol ke RSUP Dr Kariadi Semarang, beliau langsung dibawa ke IGD dan menjalani rawat inap untuk perbaikan kondisi umum. Sedekah dari #SahabatSR telah tersampaikan untuk akomodasi, perbaikan gizi, dan biaya berobat Bapak Asro.

Jumlah             : Rp 1.313.850,-
Tanggal           : 28 April 2016
Kurir                : @indrades @idaiddo @fatkhiyaah

Pak asro menderita Tumor Nasofaring

Pak asro menderita Tumor Nasofaring


SUNARTI BINTI JOYO KARNO (47, Tumor Perut dan Batu Ginjal) Alamat: DK. Jenggolo Desa Banyuurip Margorejo, Kota Pati, Jawa Tengah. Bu Sunarti adalah seorang ibu rumah tangga. Berawal pada awal tahun 2014, Bu Sunarti sering mengeluh sakit pada perut. Kemudian Bu Sunarti dibawa ke rumah sakit setempat untuk periksa namun peralatan kesehatan yang kurang memadai sehingga Bu Sunarti dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk memperoleh tindakan lebih lanjut. Bu Sunarti menjalani rontgen dan berbagai tindakan medis di RSUP Dr. Kariadi Semarang, hasilnya positif bahwa Bu Sunarti menderita tumor perut dan batu ginjal. Hal tersebut yang membuat perut Bu Sunarti sering sakit. Bu Sunarti dianjurkan untuk kontrol rutin sambil menunggu tindakan selanjutnya. Setelah menjalani kontrol rutin, pada awal bulan juni 2014 Bu Sunarti menjalani operasi pengangkatan tumor perut. Dan proses operasi berjalan lancar. Bu Sunarti menjalani kontrol rutin pasca operasi. Setelah kondisi membaik, Bu Sunarti dijadwalkan untuk menjalani kemoterapi. Bu Sunarti sangat bersemangat untuk sembuh, sehingga Bu Sunarti selalu tepat waktu menjalani kontrol dan kemoterapi. Meskipun jarak rumah ke RSUP Dr. Kariadi sangat jauh serta biaya transportasi yang cukup besar tidak pernah mengurangi semangat Bu Sunarti untuk berobat. Terkadang Bu Sunarti harus meminjam uang kepada tetangga untuk bisa berangkat berobat. Atas ijin Allah SWT pada awal maret 2016, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan Bu Sunarti. Dengan berbagai pertimbangan, kurir sepakat untuk melakukan dampingan kepada Bu Sunarti selama pengobatan. Dan membawa Bu Sunarti ke Semarang untuk melanjutkan proses pengobatan yaitu kemoterapi. Alhamdulillah saat ini Bu Sunarti sudah menjalani kemoterapi ke tujuh dan dijadwalkan kemoterapi ke delapan. Bantuan disampaikan untuk membantu biaya akomodasi Bu Sunarti selama di Semarang. Mohon doanya semoga Bu Sunarti lekas sembuh.

Jumlah Bantuan : 1.693.010
Tanggal : 30 April 2016
Kurir : @indrades , @idaiddo , @lianhumaira

Ibu sunarti menderita Tumor Perut dan Batu Ginjal

Ibu sunarti menderita Tumor Perut dan Batu Ginjal


GIAT AGUS SALIM (15, Patah Kaki) Alamat Pasar Banggi Rt 01 Rw 03 Kab. Rembang, Jawa Tengah. Seorang pemuda yang masih duduk di sekolah menengah pertama ini harus tegar dalam menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah. Peristiwa ini terjadi ketika Dik Giat mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan salah satu kakinya di amputasi. Kecelakaan ini terjadi ketika Dik Giat dan teman-temannya sedang mengendarai sepeda motor, mereka pun bercanda satu sama lain di jalanan raya. Kemudian, seorang temannya itu menarik Dik Giat dari belakang, sehingga Dik Giat pun jatuh dari motor. Sebuah truk tronton yang bermuatan kosong tepat berada di belakangnya, ban truk tronton itu seketika melindas kaki Dik Giat. Dik Giat pun dilarikan di rumah sakit daerah Jepara, dari rumah sakit daerah Jepara di rujuk ke RSI Sultan Agung Semarang. Akan tetapi, dengan melihat kondisi keluarganya Dik Giat dimana Ayahnya yaitu Heri Sugiarto (47) bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya Surjanah Wati (34) hanya menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan Dik Giat memiliki 3 saudara yaitu Shafitri Aulia Firdaus (9), Muhammad Akmal Satrio (8), Sadam Husen (4) yang sedang membutuhkan biaya untuk sekolah. Akhirnya keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan Dik Giat di RSI Sultan Agung Semarang. Dik Giat hanya memperoleh pengobatan seadanya kurang lebih 7 bulan lamanya. Pada awal Maret 2016, kurir #SR Pati dipertemukan dengan keluarga Dik Giat. Atas beberapa  pertimbangan, tim kurir sepakat untuk mendampingi pengobatan Dik Giat. Kemudian Dik Giat dibawa ke Semarang untuk melanjutkan pengobatan di RSI Sultan Agung Semarang. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, pihak RSI Sultan Agung Semarang menyarankan untuk mengamputasi salah satu kaki Dik Giat yang terlindas karena mengalami pembusukan. Setelah menjalani amputasi kaki, ternyata Dik Giat mengalami masalah pada saluran kandung kemih. Dik Giat pun dilarikan lagi di rumah sakit daerah Jepara, kemudian dirujuk di RSI Sultan Agung semarang. Dari pihak RSI Sultan Agung semarang, menyarankan untuk di rujuk di RS. Orthopedi Solo. Setelah menjalani pemeriksaan di RS. Orthopedi Solo ternyata dokter menyatakan tidak ada masalah dengan kaki pasca amputasi. Namun memang terjadi masalah pada kandung kemih Dik Giat, sehingga Dik Giat dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk melanjutkan pengobatan. Saat ini Dik Giat sedang menjalani kontol rutin di RSUP Dr. Kariadi Semaang sebelum menjalani tindakan lebih lanjut. Bantuan disampaikan untuk membantu biaya akomodasi Dik Giat dan keluarga selama berobat di Semarang.

Jumlah Bantuan : Rp 1.498.881,-
Tanggal : 29 April 2016
Kurir : @indrades @idaiddo @bram_gp

Giat menderita Patah Kaki

Giat menderita Patah Kaki


RUDI HARTONO ( 40, Kanker Kulit) Alamat : Bumiharjo 1/7 Ngandong Keling,  Kota Jepara, Jawa Tengah. Pak Rudi biasa ia dipanggil. Berawal pada pertengahan tahun 2007 yang lalu, ketika Pak Rudi sedang membantu tetangga merenovasi rumah kemudian kakinya tersangkut kabel listrik dengan teganggan yang sangat tinggi seketika Pak Rudi  tersengat arus listrik tersebut. Kemudian tetangga membawa Pak Rudi ke RSUD Kartini Jepara. Karena luka pada kaki yang parah, sehingga harus dilakukan tindakan operasi untuk mengamputasi kaki kiri. Proses operasi berjalan lancar dan Pak Rudi menjalani proses perbaikan pasca operasi. Pasca operasi Pak Rudi harus terus menjalani kontrol  agar luka bekas operasi segera sembuh. Berbekal Jamkesmas pada waktu itu, sang Istri, Bu Nani (36) dengan setia mengantar Pak Rudi rutin kontrol di RSUD Kartini. Setelah merasa baik, Pak Rudi tidak melanjutkan kontrol rutin. Selain merasa kondisi sudah baik, disebabkan biaya transportasi yang cukup banyak sehingga Pak Rudi tidak melanjutkan pengobatan. Selang 9 tahun pasca operasi, Pak Rudi kembali merasakan sakit pada bagian kaki kanan. Setelah dilakukan pengecheckan ternyata Pak Rudi menderita kanker kulit yang mengharuskan diamputasi kaki kanannya. Saat itu kondisi Pak Rudi sangat drop karena dengan kehilangan kedua kakinya membuat Pak Rudi tidak bisa bekerja seperti biasa. Sedangkan Pak Rudi memiliki tanggungan 4 orang anak yang masih sekolah. Namun Allah berkehendak lain, Alhamdulillah tim kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga Pak Rudi. Saat ini Pak Rudi telah menjadi pasien dampingan SR Semarang. Pak Rudi kembali melanjutkan pengobatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk tindakan kemoterapi. Karena kondisi yang semakin membaik, Pak Rudi kini menjalani kemo rawat jalan, dan Alhamdulilah saat ini Pak Rudi telah diusulkan untuk pembuatan kaki palsu oleh salah seorang dokter RSUP Dr. Kariadi dan sudah dalam tahap pengukuran, semoga Pak Rudi lekas sembuh dan dapat segera beradaptasi menggunakan kaki palsu baru nantinya sehingga dapat beraktfitas seperti biasanya.

Jumlah bantuan : Rp 2,500.000
Tanggal : 29 April 2016
Kurir : @indrades @idaiddo , @arifiin_yaa

Pak rudi menderita Kanker Kulit

Pak rudi menderita Kanker Kulit


Suminah binti Kusnadi (43, Kanker Payudara). Alamat: Kedungcino RT 12/4 Kedungcino, Jepara Jateng. Ibu Sumini nama panggilannya adalah istri dari Bapak Triman dan memiliki 1 orang anak. Bu Sumini mulai merasakan sakit pada awal 2015 di bagian payudara. Awalnya payudara terlihat membengkak seperti dating bulan, tetapi terus menerus menjadi tambah parah.Payudara semakin bertambah besar dan sakit. Karena tidak mengerti dan keterbatasan dana, penyakit bu sumini dibiarkan saja tanpa diobati. Semakin sakit, akhirnya pada 3 bulan terakhir bu sumini sempat mencoba pengobatan tradisional jawa dan dianjurkan melakukan puasa mutih. Pekerjaan sebagai buruh amplas pun ditinggalkan karena penyakit semakin parah. Bu sumini sebagai tulang punggung keluarga. Suami bu sumini, pak Triman yang berusia 80 tahun sudah tidak bekerja karena terlalu tua, dan anaknya masih kelas 3 SMP. Karena keadaan kesehatan bu Sumini tak juga membaik, pada bulan Desember 2015 akhirnya memeriksakan diri ke RSUD. Kartini Jepara dan baru disinilah didiagnosa Ca Mamae dan langsung dirujuk ke RSUP Kariadi Semarang. Pemeriksaan awal dilakukan di RSUP Kariadi. Pada akhir Januari 2016 SR Semarang dipertemukan dengan Bu Suminah dan sepakat untuk mendampingi proses pengobatannya. Kemoterapi I telah dilakukan pada 16 Februari 2016 di RSUP Kariadi Semarang, kemoterapi ke II pada 8 Maret 2016 dan telah selesai melakukan kemoterapi ke 3. Saat ini Bu Suminah menunggu panggilan ranap untuk dilakukan operasi.

Jumlah Bantuan: 1.000.000
Tanggal: 29 April 2016
Kurir: @indrades, @idaiddo, @restirianii, @lianhumaira

Ibu suminah menderita Kanker Payudara

Ibu suminah menderita Kanker Payudara


ELI NURJANAH ( 42, TUMOR DAGU ) Alamat : DK Tumpek Rt 04/06, Pakujati, Kec. Paguyangan, Brebes. Bu Eli begitu biasa ia dipanggil. Ketik pertama kali ada benjolan kecil di dagu nya, beliau hanya mengira bahwa itu hanyalah jerawat dan dibiarkan begitu saja. Namun, lama kelamaan karena terasa nyeri beliau memeriksakan benjolan di dagunya ke rumah sakit bedah Jatiwinangun di ketahui bu eli menderita tumor ganas stadium awal, bahasa medisnya Mentalis Pheriferal Sheet Nerve Tumor Maligna atau benjolan dagu membesar cepat. Dari RS Jatiwinangun Purwokerto dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi Semarang. Kalau beliau ingin mendaftar sebagai pasien umum akan segera di tangani tapi dengan biaya Operasi sebesar Rp. 20.000.000. Kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu dan saat ini pun Bu Eli masih belum punya rumah sehingga masih hidup bersama di keluarga mertua serta suami hanya bekerja sebagai kuli bangunan, membuat mereka melupakan niat untuk operasi dengan dana sebesar itu. Namun, tim #Sedekah Rombongan akan mengusahakan agar Bu Eli bisa di operasi dengan BPJS kesehatan. Pada tanggal 7 desember Bu Eli telah di operasi pengambilan tumor di dagu dan saat ini sedang dalam tahap pemulihan. Hasil operasi Bu Eli bagus hanya saja memang bagian wajah agak miring sehingga di butuhkan kemo terapi dan kemungkinan ke depan akan dilakukan operasi lagi untuk me rekontruksi bentuk wajah agar kembali normal dan tidak miring. Pada tanggal 27 februari Bu Eli mulai proses kemo terapi yang pertama dan seharusnya kemo terapi lagi pada tanggal 15 Maret hanya saja ternyata leukositnya tidak mencukupi sehingga harus minum penambah leukosit baru kemudian kontrol lagi apda tanggal 21 Maret. Jika Leukosit sudah mencukupi tanggal 21 Maret Bu Eli dijadwalkan untuk kemo yang kedua. Tanggal 13 April bu eli cek lab lagi ke Karyadi dan setelah dinyatakan kondisnya baik pada tanggal 14 April Bu Eli rawat inap untuk kemo yang ketiga. Dijadwalkan kembali untuk penyinaran di Radio Therapy pada tanggal 16,17,18 Mei #Sedekah Rombongan memberikan santunan untuk biaya akomodasi Bu Eli.

Jumlah Bantuan     : Rp 1.500.000
Tanggal            : 29 April 2016
Kurir              : @indrades, @idaiddo, @sekarkusumadewi, @lianhumaira

Ibu eli menderita TUMOR DAGU

Ibu eli menderita TUMOR DAGU


AIYSAH SIDDIKA (19, Lupus). Alamat : Dusun Tuing RT. 4, Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Propinsi Bangka Belitung. Sejak 2 tahun lalu, Aiysah sudah divonis dokter mengidap penyakit lupus, tepatnya saat ia masih sekolah kelas 3 SMK. Awal mulanya, Aiysah mengalami sakit di kaki dan tangannya disertai muncul bercak -bercak merah di wajah. Kondisi tersebut membuatnya kian lemah tidak bertenaga. Aiysah harus keluar masuk rawat inap  di rumah sakit dan kontrol seminggu sekali. Informasi terbaru kondisi lupus Aiysah sudah mulai menyerang jantung, ginjal dan berat badan turun drastis hingga 12 kg. Pihak RSUD Sungailiat yang menangani Aiysah merujuk berobat ke Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang. Orangtua Aiysah yang tidak punya pekerjaan tetap hanya bisa mengobatinya apa adanya. Proses pengobatan selama ini menggunakan layanan jaminan kesehatan BPJS. Rekomendasi dokter untuk segera dirujuk ke Palembang tidak bisa dipenuhi keluarganya karena alasan tidak ada biaya. #SedekahRombongan bersyukur bisa bertemu dan membantu Aiysah dan keluarganya. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Aiysah dan keluarga berobat kontrol di Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban keluarga.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000
Tanggal : 20 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok, Herda @ririn_restu

Aiysah menderita Lupus

Aiysah menderita Lupus


SRI PUJIATI (48, Anemia). Alamat: Kp. Randukuning RT. 011 RW.003 Kel. Pati Lor, Kec. Pati, Kab. Pati, Jawa Tengah. Bu Sri nama panggilannya. Sehari-hari Bu Sri bekerja sebagai penjual gorengan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bu Sri tinggal bersama suami yaitu Pak Temon (63) juga sebagai pekerja serabutan dan anak yaitu Wahyu (23) yang belum memiliki pekerjaan. Berawal pada pusing dan lemas yang Bu Sri rasakan namun tidak kunjung sembuh. Keluarga membawa Bu Sri untuk periksa di RSUD Dr. Soewondo Pati agak dapat diketahui secara jelas perihal sakit Bu Sri. Hasil lab menunjukkan kalau Bu Sri menderita anemia sehingga harus dirawat di RSUD Dr. Soewondo untuk mendapat perawatan lebih intensif. Akan tetapi Bu Sri memilih pulang untuk dirawat di rumah karena tidak adanya biaya untuk berobat. Bu Sri hanya memperoleh pengobatan seadanya di rumah. Pada tanggal 24 Maret 2016, tim kurir dipertemukan dengan keluarga Bu Sri. Atas berbagai pertimbangan kami sepakat mendampingi Bu Sri dalam proses pengobatan. Bu Sri dirujuk di RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk menjalani control rutin sebelum dilakukan tindakan selanjutnya. Bantuan disampaikan untuk membantu biaya akomodasi Bu Sri selama di Semarang.

Jumlah Bantuan          : Rp. 500.000,-
Tanggal                 : 21 April 2016
Kurir                   : @indrades , @idaiddo

Ibu sri menderita  Anemia

Ibu sri menderita Anemia


SUWANDI BIN MUNARJO (46, Serous Retina Datachment), Beralamat di Kalikidang RT. 002 RW. 006, Kec. Sokaraja, Kab.Banyumas, Jawa Tengah. Pak Wandi nama panggilannya adalah seorang penjual tahu di pasar wage daerah setempat. Pak Wandi tinggal bersama sang istri yaitu Ibu Saryati (44) yang kesehariannya membantu Pak Wandi jualan. Sekitar 3tahun yang lalu saat berjualan tiba-tiba  Pak Wandi merasakan sakit kepala dan pandangannya kabur.  Keluarga membawa Pak Wandi berobat ke RSU Banymas. Dari hasil pemeriksaan dokter mendiagnosa bahwa saraf kornea mata Pak Wandi terputus sehingga tidak dapat melihat. Kemudian Pak Wandi dirujuk ke RS. Dr. Yap Yogyakarta untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut dokter menyarankan untuk menjalani operasi dan operasi tersebut dibutuhkan persiapan sekitar satu tahun. Kesulitan biaya menjadikan Pak Wandi tidak melanjutkan pengobatan di RS. Dr. Yap Yogyakarta karena biaya operasi tidak dapat dicover oleh BPJS. Padahal seharusnya pengobatan harus berlanjut demi kesembuhan Pak Wandi. Alhamdulillah, pada awal maret 2016, tim kurir #SR dipertemukan dengan keluarga Pak Wandi. Saat ini Pak Wandi telah menjadi pasien dampingan #SR. Pak Wandi dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk menjalani kontrol rutin dan hasil control menunjukan bahwa Pak Wandi tidak akan di operasi karena matanya sudah tidak bisa melihat sama sekali. Pak Wandi selanjutnya bisa melakukan kontrol di rumah sakit daerah apabila ada keluhan. Bantuan disampaikan untuk keperluan biaya akomodasi selama pengobatan.

Jumlah Bantuan          : Rp. 500.000,-
Tanggal                 : 21 April 2016
Kurir                   : @indrades , @idaiddo

Pak suwandi menderita Serous Retina Datachment

Pak suwandi menderita Serous Retina Datachment


KAZIK ISMAIL (2 bln, suspect tumor perut). Alamat : Jl Cengkong Abang RT. 1, Desa Cengkong Abang, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Propinsi Bangka Belitung. Kazik merupakan pasien dampingan #Sedekahrombongan yang dirawat di Rumah Sakit Bhakti Timah Pangkalpinang. Awalnya ia terindikasi mengidap tumor di dalam perutnya tetapi masih perlu perawatan dan observasi yang lebih dalam. Kazik melewati beberapa pemeriksaan sampai bisa diketahui penyakitnya. Selama dalam perawatan di rumah sakit, Kazik berstatus pasien umum karena belum memiliki BPJS. Pak Gusnayadi, orang tua Kazik, belum memiliki penghasilan tetap dari pekerjaannya sebagai penyadap karet. #Sedekahrombongan mendampingi Kazik dari awal hingga akhir dirawat. Perawatan di rumah sakit dilakukan selama 6 hari dari tanggal 22 – 28 Maret 2016. Alhamdulillah setelah dianalisa selama masa perawatan, Kazik dinyatakan bersih dari tumor dan sudah bisa pulang ke tempat tinggalnya. Biaya keseluruhan perawatan di rumah sakit ini sebesar 3.968.374. Alhamdulillah #SedekahRombongan bisa membantu keluarga Kazik dengan melunasi secara bertahap biaya selama di rumah sakit. Kazik sebelumnya sudah dibantu pada Rombongan 830.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.000.000
Tanggal : 26 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok via Herda @ririn_restu

Kazik menderita suspect tumor perut

Kazik menderita suspect tumor perut


KAZIK ISMAIL (2 bln, suspect tumor perut). Alamat : Jl Cengkong Abang RT. 1, Desa Cengkong Abang, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Propinsi Bangka Belitung. Kazik merupakan pasien dampingan #Sedekahrombongan yang dirawat di Rumah Sakit Bhakti Timah Pangkalpinang. Awalnya ia terindikasi mengidap tumor di dalam perutnya tetapi masih perlu perawatan dan observasi yang lebih dalam. Kazik melewati beberapa pemeriksaan sampai bisa diketahui penyakitnya. Selama dalam perawatan di rumah sakit, Kazik berstatus pasien umum karena belum memiliki BPJS. Pak Gusnayadi, orang tua Kazik, belum memiliki penghasilan tetap dari pekerjaannya sebagai penyadap karet. #Sedekahrombongan mendampingi Kazik dari awal hingga akhir dirawat. Perawatan di rumah sakit dilakukan selama 6 hari dari tanggal 22 – 28 Maret 2016. Alhamdulillah setelah dianalisa selama masa perawatan, Kazik dinyatakan bersih dari tumor dan sudah bisa pulang ke tempat tinggalnya. Biaya keseluruhan perawatan di rumah sakit ini sebesar 3.968.374. #SedekahRombongan kembali memberikan bantuan lanjutan untuk pelunasan biaya rumah sakit setelah sebelumnya dibantu pada Rombongan 830 dan pada 26 April 2016.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.968.374,-
Tanggal : 23 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok via Herda @ririn_restu

Kazik menderita suspect tumor perut

Kazik menderita suspect tumor perut


WASPIAH  BINTI SARONI  (55, Kanker Payudara). Alamat: Jl. Jetak RT. 02 RW. 01 Sindangwangi, Kec. Bantarkawung, Kab. Brebes, Jawa Tengah. Bu Waspiah adalah seorang janda yang mempunyai 3 anak angkat. Sudah beberapa tahun ini Bu Waspiah ditinggal suaminya karena meninggal. Berawal pada awal tahun 2010 lalu, Bu Waspiah merasakan nyeri pada bagian payudara. Kemudian Bu Waspiah membawa ke puskesmas daerah setempat. Bu Waspiah diberi obat pengilang nyeri. Selang beberapa hari sakit Bu Waspiah tidak kunjung sembuh. Bu Waspiah semakin merasa kesakitan pada bagian payudara dan merasa ada benjolan pada payudara beliau. Atas bantuan saudara, Bu Waspiah dibawa ke RSU Kardinah Tegal untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa Bu Waspiah menderita Kanker Payudara sehingga harus dilakukan kemoterapi. Bu Waspiah sedikit ragu untuk menjalani kemoterapi karena tidak adanya fasilitas kesehatan sehingga dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk proses pengobatan. Selama ini Bu Waspiah hanya mengandalkan uang dari anak angkatnya yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta. Pada tahun 2012 sakit Bu Waspiah semakin parah. Sehingga masyarakat sekitar menjadi iba dan membawa Bu Waspiah untuk berobat ke RSU Kardinah Tegal. Setelah menjalani beberapa tindakan medis, dokter menyarankan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara yang sudah membusuk. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Bu Waspiah masih membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan pasca operasi. Sedangkan bantuan dari masyarakat hanya cukup untuk biaya operasi saja, hingga Bu Waspiah tidak melaanjutkan pengobatan. Pada awal Maret 2016, kurir #SR dipertemukan dengan keluarga Bu Waspiah, hingga kita sepakat untuk mendampingi dalam proses pengobatan Bu Waspiah. Saat ini Bu Waspiah sudah menjadi pasien dampingan #SRSemarang dan melanjutkan pengobatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Saat ini Bu Waspiah sedang menjalani kontrol rutin di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Bantuan disampaikan untuk membantu biaya akomodasi Bu Waspiah selamaberobat. Semoga Bu Waspiah lekas sembus.

Jumlah Bantuan          : Rp. 1.000.000,-
Tanggal                 : 20 April 2016
Kurir                   : @indrades , @idaiddo , @amnah haru

Ibu waspiah menderita Kanker Payudara

Ibu waspiah menderita Kanker Payudara


MARDIANTONO PANCUR (27, Disabilitas). Alamat : Jl. Pancur Dalam, Kelurahan Lontong Pancur, Kecamatan Pangkal Balam, Kota Pangkal Pinang, Propinsi Bangka Belitung. Bapak Tono adalah pasien dampingan #SedekahRombongan. Satu tahun yang lalu Bapak Tono mengalami kecelakaan motor bersama temannya yang mengakibatkan kaki sebelah kirinya luka parah dan harus diamputasi saat itu juga. Bapak Tono adalah anak tertua dari 3 bersaudara. Sebelum kecelakaan Bapak Tono adalah tulang punggung keluarga yang membantu mencari nafkah keluarga. Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh harian serabutan yang penghasilan sehari-harinya tidak menentu, sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga. Kondisi Bapak Tono setelah diamputasi membuatnya agak minder dan tidak bisa beraktivitas lagi. Pada 19 Maret 2016, Bapak Tono sudah berangkat ke Palembang bersama kurir #sedekahrombongan untuk melakukan pengukuran awal pembuatan kaki palsu. Proses pembuatan kaki palsu ini membutuhkan waktu selama 1 bulan dan Alhamdulillah pada 23 April 2016, Bapak Tono kembali berangkat ke Palembang untuk pengepasan dan penyelesaian akhir kaki palsunya. Untuk keberangkatan ke Palembang, #SedekahRombongan kembali menyerahkan bantuan untuknya. Sebelumnya Bapak Tono sudah dibantu di Rombongan 829. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar dan saat ini Bapak Tono sudah bisa menggunakan kaki palsunya. Semoga dengan adanya kaki palsu ini bisa memberikan semangat baru untuknya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.250.000
Tanggal : 23 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @Effendy_babel @ririn_restu

Bantuan kaki palsu

Bantuan kaki palsu


RAFA AHMAD (3, Alagille Sydrome). Alamat : Desa Nangka RT. 9 Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Saat awal kelahirannya, kondisi Rafa terlihat normal, namun setelah dua minggu kemudian seluruh badannya menguning. Oleh orang tuanya ia diperiksakan ke RSUD dan didiagnosa mengidap penyakit yang sangat langka, Alagille Syndrome positif, yakni penyakit kelainan kromosom sifat sel. Dokter bahkan memvonis Rafa hanya bisa bertahan selama tiga bulan saja. Penyakit ini menyerang fungsi berbagai organ tubuh vital, mulai dari fungsi hati, jantung dan ginjal secara bersamaan. Penderita penyakit ini akan menderita kelainan di beberapa organ khususnya hati. Jumlah aliran empedu sangat minim sehingga mengakibatkan aliran terhambat ke kantong empedu kemudian berbalik ke belakang dan menimbulkan kerusakan sel hati. Keluarga kalut mendengar vonis dokter tersebut dan hanya bisa pasrah. Waktu berlalu, delapan bulan Rafa mengalami panas tinggi dan sering buang air besar. Dokter menyarankan Rafa dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk pengobatan intensif. Tepatnya bulan Maret 2015, Rafa baru bisa berobat ke RSCM Jakarta setelah ada bantuan dari salah satu tokoh di Bangka Selatan dan Baznas. Bantuan tersebut dipergunakan keluarga untuk membeli tiket pesawat, menyewa kos – kosan dan biaya hidup selama di Jakarta. Rafa harus menjalani pengobatan intensif selama 2 bulan. Pak Hazir, orang tua dari Rafa adalah seorang petani karet. Terkadang untuk menutupi kebutuhan keluarga, Pak Hazir juga membersihkan kebun orang lain. Rafa adalah anak pertama dan untuk pengobatannya sudah banyak harta yang terjual. Setelah menjalani pengobatan di RSCM, Rafa sudah kembali ke Bangka Belitung untuk menjalani kontrol dua kali dalam seminggu. Kurir #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan untuk berobat dan membantu membeli keperluan  Rafa. Sebelumnya Rafa sudah dibantu pada Rombongan 829.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000
Tanggal : 24 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok via Ahmad Hendra Martadinata @ririn_restu

Rafa menderita Alagille Sydrome

Rafa menderita Alagille Sydrome


SRIANI BINTI NGATMINA (51, kanker payudara)bertempat tinggal di jalan Laksda Adi Sucipto CZI RT 06/RW 01 Blimbing, Malang. Beliau lahir pada 10 Juni 1965, dan beberapa tahun lalu terdapat indikasi bahwa beliau menderita kanker, ternyata memang benar kanker payudara telah ada di tubuh Bu Sriani. Operasi pun dilaksanakan, bahkan tercatat sudah terjadi 3x operasi. Pasca operasi, kemo pertama dilakukan sebanyak 6x untuk kankernya, lalu dilanjutkan kemo kedua 6x pula untuk menguatkan tulangnya, tapi hanya dijalankan 1x, sementara sisa kemo 5x tidak dilanjutkan karena kondisi beliau kurang baik. Di samping operasi dan kemo, sinar radioterapi 25x juga sudah selesai dilakukan. Kondisi terakhir bu Sriani hanya terbaring di tempat tidur, tidak bisa beraktivitas, kondisi separuh badan dari pusar sampai kaki tidak bisa bergerak. Selain itu, jika beliau ingin BAB tidak terasa & memiliki luka infeksi di pantat, oleh sebab itu nafsu makan juga menurun karena sulit untuk menelan makanan. Bu Sriani dan suaminya, Pak Rusdi merasakan kesulitan dan kekurangan sehingga memerlukan bantuan terutama untuk pengobatan sehari-hari. Kurir #SedekahRombongan pun ingin membantu keluarga ini. Tapi sayangya Bu Sriani telah terlebih dahulu dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Akhirnya santunan senilai RP 1.000.000 telah tersalurkan untuk santunan kematian bu Sriani.

Jumlah : Rp 1.000.000
Tanggal : 6 Juni 2016
Kurir : @FaizFaeruz @kurniawanekko @Tica_Fajarica

Sriani menderita kanker payudara

Sriani menderita kanker payudara


ARI BIN KARNEDI (16, Tumor Otak). Alamat : Trans 1 Blok 4, Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Ari, anak dari Bapak Karnedi dan Ibu Yuliani tidak pernah menyangka akan mengalami penyakit tumor otak ini. Penyakit yang sudah dirasakan sejak 9 bulan yang lalu ini membuat Ari harus kontrol dan suntik syaraf rutin setiap sebulan sekali ke Rumah Sakit Arsani Sungailiat yang berjarak 4 jam perjalanan dengan kendaraan umum. Ari rutin mendapatkan suntik syaraf untuk menahan rasa sakit di kepalanya. Dokter memvonis Ari mengalami tumor jinak di otaknya sehingga menyebabkan sebagian syarafnya ikut terkena dampaknya. Saat ini Ari merasa lemah dan harus mendapatkan perawatan intensif, indra penglihatan dan pendengarannya juga sudah tidak bisa berfungsi normal. Jika pengaruh obat suntik syarafnya sudah habis, Ari merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Bapak Karnedi adalah seorang buruh harian tidak menentu di pertambangan timah inkonvensional. Penghasilan yang tidak menentu juga membuat Bapak Karnedi tidak bisa memberikan pengobatan yang lebih intensif kepada Ari. Meskipun sudah mendapatkan pelayanan jaminan kesehatan BPJS, Bapak Karnedi tetap harus mengeluarkan biaya kurang lebih 2.5 juta untuk suntik syaraf yang tidak dicover BPJS. Biaya tersebut tidak bisa lagi beliau siapkan setiap bulannya untuk Ari karena keterbatasan ekonomi. Alhamdulillah Kurir #SedekahRombongan bersyukur bisa bertemu dengan Ari dan keluarga sehingga bisa membantu meringankan sedikit beban mereka. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Ari dan keluarga berobat kontrol di rumah sakit. Semoga Ari bisa segera sembuh.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.500.000,-
Tanggal : 24 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok, @Effendy_babel @ririn_restu

Ari menderita Tumor Otak

Ari menderita Tumor Otak


KASIANI BINTI NITIGIMAN (43th, Kanker Serviks). Merupakan pasien dampingan #SRMalang sejak awal bulan Agustus. Saat ini beliau bersama suaminya Bapak Lil Aswardi (45th) tinggal di rumah singgah atau RSSR Malang yang bertempat di Jalan Serayu No. 07 Malang. Beliau mempunyai 2 orang anak bernama Edwin (19th) dan Anirahayu (11th). Sebelum sang istri sakit Bapak Lil bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan tidak menentu. Bu Kasiani merasakan sakit sejak bagian pinggang beliau terasa nyeri terus menerus, sering mual, nafsu makan berkurang dan disertai panas dingin. Setelah di USG ditemukanlah kista dan jarak satu minggu kemudian Bu Kasiai menjalani operasi pengangkatan kista di RSUD Palembang. Kista tersebut kemudian di P.A dan dinyatakan masih ada penyakit yang tertinggal di tubuhnya. Kemudian beliau disarankan untuk menjalani pengobatan selanjutnya yaitu kemotrapi di RS Palembang. Namun, beliau mengurungkan niatnya karena disarankan pihak keluarga untuk menjalani kemoterapi di Malang. Saat ini hasil lab beliau menunjukkan kondisi yang bagus, dan satu bulan lagi kontrol untuk ct-scan. Santunan kembali kurir sampaikan kepada beliau untuk uang saku senilai Rp 500.000. Keluarga merasa bersyukur atas bantuan yang diberikan dan mendoakan keberkahan untuk #SahabatSR serta kurir. Semoga Bu Kasiani dapat segera sembuh Amin..

Jumlah Bantuan : Rp 500.000
Tanggal : 5 Juni 2016
Kurir : @FaizFaeruz @lazuardipermana

Ibu kasiani menderita Kanker Serviks

Ibu kasiani menderita Kanker Serviks


SUMIATI BINTI SUHUD , (48th, Kanker Payudara). Merupakan pasien dampingan #SRMalang sejak bulan Agustus 2015. Saat ini beliau tinggal bersama suaminya Pak Tumirin (53th) di Dusun Kartosari RT 01 RW 04, Desa Kandat, Kec Kandat, Kab Kediri, Jawa Timur. Sehari-hari Pak Tumirin bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan tidak menentu. Sedangkan istrinya Bu Sumiati tidak bekerja. Beliau sempat mengalami putus asa dalam usahanya untuk berobat. Karena pekerjaan sebagai buruh harian lepas membuat proses pengobatan Bu Sumiati putus-sambung. Awal mula sakit yang diderita beliau pada pertengahan 2014 terdapat benjolan sebesar telur puyuh di payudara sebelah kiri. Dikiranya benjolan biasa namun lama kelamaan semakin membesar. Pada akhir 2014 pun dibawa ke rumah sakit Bhayangkara untuk diperiksakan dan mendapat tindakan awal yaitu foto rontgent. Dari hasil pemeriksaan tersebut kemudian di temukanlah adanya kanker payudara di tubuh beliau. Terakhir kali beliau menjalani kontrol ke poli onkologi setelah dokter menyatakan jika penyakit Bu Sumiati sudah metastase sampai ke otak. Kondisi terakhir bu Sumiati sekarang suah tidak kuat untuk aktivitas apapun, dan hanya bisa berbaring di rumah. Beliau hanya bisa tidur di atas ranjang dan membuka mata pun bahkan tidak mampu, sehingga untuk minum perlu bantuan sedotan. Pak Rin sebagai suami beliau pun tetap setia merawat bu Sumiati. Santunan ke-10 pun kembali kurir sampaikan kepada beliau berupa uang saku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sejumlah Rp 500.000. -. keluarga merasa bersyukur atas santunan yang diberikan semoga dengan sedekahmu dapat meringankan beban yang ditanggung saat ini, dan Bu Sumiati dapat segera sembuh Amiin..

Jumlah bantuan: Rp 500.000
Tanggal: 5 Juni 2016
Kurir: @FaizFaeruz @nay_munaa

Ibu sumiati menderita Kanker Payudara

Ibu sumiati menderita Kanker Payudara


SAHWANI BINTI ASJONO, (46, kanker serviks) menetap di sebuah rumah di RT 12/RW 04, Kalitapen, Kecamatan tapen Kota Bondowoso. Bu Sahwani mulai menderita sakit sejak November, 2015. Penyakit ini pun memerlukan tindakan cepat sehingga beliau dan keluarga memutuskan untuk melakukan operasi. Operasi berjalan lancar dan berhasil di Rumah Sakit Bhayangkara Bondowoso. Pasca operasi, keadaan kesehatan bu Sahwani membaik, dan pihak dokter menyarankan agar bu Sahwani dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang agar mendapatkan penanganan dan perawatan yang lebih optimal. Akhirnya bu Sahwani pun mengikuti hal yang telah disarankan oleh dokter. Setelah operasi, Bu Sahwani perlu melakukan kemo yang otomatis dilakukan di RSSA. Jauhnya jarak dari Bondowoso ke Malang tentu menyulitkan keadaan ekonomi bu Sahwani sekeluarga untuk mencari transportasi, belum lagi biaya rumah sakit dan penginapan untuk keluarga beliau. Apalagi pekerjaan suami beliau sebagai kuli bangunan dengan penghasilan tak tentu. Syukurlah, kami sebagai kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan beliau, sehingga bisa membantu mengurangi beban keluarga bu Sahwani. Bantuan senilai Rp 633.800 pun telah tersalurkan untuk membeli obat dan uang saku. Bu Sahwani juga telah menjalani foto rontgen, hasilnya bisa diambil 12 Juli saat jadwal kontrol. Semoga setelah operasi ini, kemo dan pengobatan bu Sahwani semakin lancar, sehingga beliau bisa segera sembuh.

Jumlah : Rp 633.800
Tanggal : 6 Juni 2016
Kurir : @FaizFaeruz @Gandy3

Ibu sahwani menderita kanker serviks

Ibu sahwani menderita kanker serviks


Octiara Adryandini Dharmawanti (25, Kanker Serviks), ya itulah nama gadis belia yang beralamatkan di Dabasah RT 13/RW 03 Bondowoso.  Darmawan budi harto serta Ibu Herlin Sulistyowati itulah nama kedua orangtuanya yang setia merawatya .Octiara yang memiliki  riwayat penyakit pada bagian vitalnya, gadis yang kini berusia 25 tahun, yang sempat  dirawat Biopsi di RS Sanglah , dari RS Soebandi yang kemudian pada ahirnya dirujuk ke Malang. Octiara mengeluhkan sakit yang berawal dari keputihan, yang tak dirasa lama kelamaan bercak darah pun keluar pada bagian vital Octiara, serta dibarengi dengan rasa sakit. Hingga kini kondisi Octiara masih lemas akibat penyakit yang ia deritanya.saat ini gadis belia ini tinggal bersama neneknya yang tak berpenghasilan. selama pengobatan berlangsung ternyata keluarga masih saja memiliki tanggungan, yakni membiayai semester sekolah untuk kedua anaknya. Octiara pun bertemu dengan tim #SedekahRombongan. Operasi pun telah dijalani Tiara bulan Mei 2016, bulan Juni ini waktunya lepas jahitan dan harus kontrol di rumah sakit atau puskesmas terdekat jika pulang kampung nanti. Bulan ini Octiara menerima santunan yang dipergunakan untuk membeli obat, transportasi, keperluan pengobatan seperti perban dan garam inggris. Semoga setelah suksesnya operasi Tiara bisa segera sembuh ya

Bantuan : Rp 856.390
Tanggal : 7 Juni 2016
Kurir : @FaizFaeruz @AfiatBuchori

Octiara menderita Kanker Serviks

Octiara menderita Kanker Serviks


AHMAD ZAINURI (19th, Kanker Nasofaring /Rongga belakang hidung) yang biasa dipanggil Zainuri beralamat di Jl Ki Ageng Gribig Gang  6 RT 02 RW 05  Kelurahan Madyopuro  Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Rumah berukuran 4m  x 6 m harus dihuni 5 orang,  Zainuri bersama kedua kakak adiknya dan kedua orangtuanya Bapak Hendri & Ibu Ngateni . Bapak Hendri bekerja sebagai sopir travel serabutan dan Ibu Ngateni bekerja sebagai buruh linting di sebuah pabrik rokok di Kota Malang,  penghasilan perbulannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari hari. Penghasilan kedua orangtua Zainuri belum mencukupi apabila harus digunakan untuk renovasi rumahnya, atap rumah Zainuri sering bocor apalagi pada musim hujan seperti ini. Perabot rumah tangga seperti tempat tidur, bantal dan lainnya terkadang basah terkena tetesan air hujan. Zainuri beserta keempat anggota keluarganya pun harus tidur bersama di kasur yang lembab setiap harinya, tentulah menjadi kurang nyaman dan tidak nyenyak apabila lembab menyelimuti tidurnya. Bulan Mei 2016, Zainur dinyatakan lulus dari Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 9 Malang dengan nilai yang cukup memuaskan. Jadi Zainur ingin kursus corel dan Photoshop untuk ketrampilannya dan bekal usahanya. Bulan ini santunan kami salurkan untuk uang saku Zainur. Semoga Zainur segera sembuh.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000
Tanggal: 5 Juni 2016
Kurir: @faizfaeruz @afiatbuchori

Zainuri menderita Kanker Nasofaring /Rongga belakang hidung

Zainuri menderita Kanker Nasofaring /Rongga belakang hidung


SUKARTI LAMIN (51, Diabetes Melitus). Alamat : Trans 1 Blok 3, Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Penyakit yang dialami oleh Ibu Sukarti berawal dari kakinya yang terkena duri pada saat sedang membersihkan pekarangan rumahnya. Luka tersebut semakin hari semakin memburuk hingga akhirnya keluarga membawa Ibu Sukarti berobat ke Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang dan menjalani rawat inap selama 6 hari. Dari hasil pemeriksaan dokter, Ibu sukarti menderita diabetes melitus sehingga mempercepat proses pembusukan di kakinya. Dokter menyarankan jari tengah Ibu Sukarti diamputasi. Akan tetapi Ibu Sukarti berkeberatan dan memutuskan untuk pulang ke rumah sesuai permintaan sendiri. Kondisi Ibu Sukarti saat ini lemah dan kurus, kakinya semakin bengkak dan sakit. Ibu Sukarti berobat dengan BPJS. Untuk mencapai rumah sakit beliau harus menghabiskan waktu 3 s.d. 4 jam dengan kendaraan umum dan biaya yang tidak sedikit. Hal itulah yang terkadang menjadi kendalanya untuk berobat rutin ke rumah sakit. Ibu Sukarti adalah ibu rumah tangga dan istri dari Bapak Lamin (69). Bapak Lamin sehari – harinya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak menentu. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bersyukur bisa bertemu dengan Ibu Sukarti dan Bapak Lamin sehingga bisa membantu meringankan sedikit beban mereka. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Ibu Sukarti berobat kontrol di rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 24 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok, @Effendy_babel @ririn_restu

Ibu sukarti menderita Diabetes Melitus

Ibu sukarti menderita Diabetes Melitus


SUMARNI AGUS ROBAI (45, Kanker Paayudara). Alamat :  Desa Panca Tunggal, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Ibu Sumarni merasakan sakit yang luar biasa di bagian payudaranya sejak satu  tahun terakhir ini. Awalnya muncul benjolan kecil di sekitar payudaranya dan semakin hari benjolan tersebut semakin besar dan sakit. Ibu Sumarni mencoba berobat ke bidan yang ada di desanya dan dirujuk berobat ke RS Depati Hamzah Pangkal Pinang. Dari hasil pemeriksaan, baru diketahui Ibu Sumarni mengalami kanker payudara dan harus segera dilakukan operasi. Ibu sumarni sudah 4 kali melakukan kontrol dengan dokter bedah yang mempersiapkan jadwal operasinya. Namun karena kendala biaya pengobatan dan biaya akomodasi membuat Ibu Sumarni menunda operasi tersebut. Ibu Sumarni Sukarti pemegang kartu jaminan kesehatan BPJS. Untuk mencapai rumah sakit beliau juga harus menempuh waktu 3 s.d. 4 jam dengan kendaraan umum dan biaya yang tidak sedikit. Hal itulah terkadang menjadi kendala beliau untuk berobat rutin ke rumah sakit. Ibu Sumarni dan suaminya, Bapak Agus Robai, adalah peserta transmigrasi dari Jawa Timur. Suaminya sehari-hari bekerja sebagai petani yang penghasilannya tidak menentu. Semenjak mengalami sakit kanker payudara Ibu Sumarni sudah tidak bisa bekerja menjadi buruh harian lagi. Kondisi ini membuat kehidupan mereka semakin sulit. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bisa bertemu dengan Ibu Sumarni dan Bapak Agus sehingga bisa membantu meringankan sedikit beban mereka. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Ibu Sumarni berobat kontrol ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 24 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok, @Effendy_babel @ririn_restu

Ibu sumarni menderita Kanker Paayudara

Ibu sumarni menderita Kanker Paayudara


ARYA WAHYUDI, (12 hari, lahir tanpa anus) beralamat di Patuk Sukolilo RT 19/ RW 07, Wajak. Kabupaten Malang, Jawa Timur. Arya lahir dari pasangan suami istri yaitu Bapak Wahyudi (33) dan Ibu Endang lastutiana (28). Mei bulan lalu Arya lahir dan sejak terlahir itu pula iya terdiagnosa oleh bidan setempat, tempat ibunya melahikannya bahwa Arya tidak memiliki anus. Hal ini pun menyebabkan Arya segera dilarikan ke RSSA Malang atas saran bidan tersebut. Keadaan saat itu tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua Arya. Apalagi setelah mendengar biaya operasi senilai 4 juta rupiah yang harus mereka bayar untuk operasi Arya. Padahal bapak Wahyudi hanya berkerja sebagai buruh tani, sementara Ibu Endang sendiri tidak bekerja alias sebagai ibu rumah tangga.
Sebenarnya Arya bisa beraktifitas dengan normal namun tidak bisa buang air besar. Sehingga menyulitkan dirinya untuk bisa beraktivitas dengan leluasa. Kurir #SedekahRombongan yang bertemu keluarga ini pun berniat membantu. Sayangnya pada 8 Juni berita duka telah kami terima bahwa Arya meninggal. Santunan atas kematian pun kami berikan, semoga keluarga diberi ketabahan dan kekuatan.

Bantuan : Rp 1.000.000
Tanggal : 8 Juni 2016
Kurir : @FaizFaeruz @mfyusuf

Arya lahir tanpa anus

Arya lahir tanpa anus


MAGHFIROH BINTI YUNAN PURNOMO (6, Hydrocephalus dan Kelainan Struktur Wajah) Dik Maghfiroh adalah putri ketiga dari pasangan suami istri Bapak Yunan Purnomo (45) dan Ibu Nur Alfiana (42) yang beralamat di Ds. Godong Rt 03/ Rw 01 Kec. Wonopringgo Kab. Pekalongan, Jawa Tengan. Dik Maghfiroh sudah mengalami kelainan terutama pada struktur wajah dan tempurung kepalanya sejah lahir. Beberapa hari setelah kelahiran Dik Maghfirohlangsung dibawa ke RSUP Dr. Kariadi Semarang atas rujukan rumah sakit daerah setempat. Kurang lebih sekitar satu bulan Dik Maghfiroh dirawat secara intensif di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Namun karena keterbatasan biaya waktu itu, ayah Dik Maghfirohyang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini bersama keluarganya memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan yang seharusnya masih panjang. Pada Januari 2015 kami dipertemukan Allah dengan Dik Maghfiroh di Pekalongan, kami bersama keluarga sepakat untuk memulai proses pengobatan kembali di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan saat ini Dik Maghfiroh sedang menjalani kontrol rutin di RSUP Dr. Kariadi Semarang dalam dampingan tim kurir #SedekahRombongan di Semarang. Bantuan pun di sampaikan guna membantu kebutuhan akomodasi Dik Maghfiroh dan keluarga selama di Semarang. Mohon doa nya semoga proses pengobatan DikMaghfiroh berlajan dengan lancar dan segera sehat kembali.

JumlahBantuan  : Rp 964.000,-
Tanggal        : 15 Mei 2016
Kurir          : @indrades , @idaiddo , @auliarahman04, @desiariyanii

Maghfiroh menderita Hydrocephalus dan Kelainan Struktur Wajah

Maghfiroh menderita Hydrocephalus dan Kelainan Struktur Wajah


MUHAMMAD ASYARI, (22, Kanker Hidung). Alamat: desa tluwuk rt 8 rw 2 wedarijaksa pati. Ari, biasa ia dipanggil adalah seorang mahasiswa semester 7 di STAIN Kudus. Gejala penyakitnya berawal bulan oktober 2014, awalnya pilek terus2n tpi cuma bagian kiri aja. Lama kelamaan berbau lalu muncul benjolan tapi belum bengkak.Kedua orangtuanya khawatir terhadap kondisi anaknya sehingga memeriksakan kondisi ari ke puskesmas. Setelah diberi obat dari puskesmas, benjolannya kempes. Akan tetapi muncul benjolan lagi jika obatnya habis. Kemudian ari dirujuk ke poli tht RS.Soewondo. Di RS.Soewondo sampel diambil lalu dikirim ke RSUP Karyadi untuk dianalisis. Setelah dianalisis, didiognosa tumor ganas. Setelah pemerikasaan dan pengambilan sampel di RS.Soewondo Pati, Ari mengalami pembengkakan di luar hidung. Kemudian dilakukan operasi di RSUP.Karyadi untuk diambil PA nya. Pada PA pertama diagnosa acute maxsiori sinusitis yg menyerang sel lalu karena mengalami pendarahan pada kemo kedua kemudian disinar dulu dan dilakukan PA ulang ternyata hasilnya berbeda yaitu didiagnosa LNH signosial yg menyerang kelenjar kemudian diganti obatnya dan mengulang program kemo dari pertama. Setelah tahu bahwa anaknya didiagnosis kanker oleh pihak RS kedua orang tua Ari mengalami kebingungan mengenai biaya untuk pengobatan karena tidak diberi kartu jamkesmas oleh pihak desa. Setelah mencari informasi data di puskesmas ternyata ari terdaftar sebagai penerima kartu jamkesmas. Belum usai kegelisahan yang dialami, kedua orang tua Ari harus menanggung biaya perjalanan dan akomodasi selama menjalani pengobatan di Semarang. Ayah Ari, Said (50) dan ibunya, Uswatun Hasanah (45) mengungkapkan kesedihan saat dijenguk Kurir #‎SedekahRombongan . Maklum saja bapak Said bekerja menjadi buruh jemur gabah dan bu Uswatun Hasanah tidak bekerja dengan menanggung hidup kedua anaknya. Mereka bolak-balik semarang-pati untuk menjalani pengobatan. Jika terpaksa harus bermalam, ibu Uswatun Hasanah dan Ari menginap di rumah singgah RSUP Karyadi yang harganya tergolong murah. Kurir #SedekahRombongan merasakan kesulitan mereka, bantuan pun disampaikan untuk membantu biaya akomodasi selama pengobatan. Program kemo pertama sudah usai. Sebelum merancang program selanjutnya, untuk saat ini dokter masih memantau perkembangan kesehatan Ari melalui kontrol, endoscopy, ct-scan dan radiasi nuklir. Kini kondisi Ari semakin membaik. Hasil laboratorium dan endoscopy terakhir sudah bagus tapi masih ada jaringan mati dan harus dibersihkan sebelum operasi plastik. Ibu Uswatun sempat bercerita kepada kurir #SedekahRombongan bahwa merasa bersyukur dan terbantu sejak dipertemukan dengan #SedekahRombongan. Semoga kesehatan Ari segera pulih kembali sehingga ia dapat beraktivitas seperti biasa.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 13 Mei 2016
Kurir : @indrades , @idaiddo , @vazen

Asyari menderita Kanker Hidung

Asyari menderita Kanker Hidung


ABDUROHIM BIN SAFARIYANTO (9, Kanker Kelenjar Getah Bening). Putra kelima dari pasangan Bapak Safariyanto (42) pekerjaan sebagai Buruh Serabutan dan Ibu Sriani (46) adalah seorang Ibu Rumah Tangga warga desa Plosok Rt 03 Rw 04  Kec.Jati Kab.Kudus Jawa Tengah. Sejak sekitar tahun 2008 Dik Rohim sudah mengalami gejala sakit Kanker Kelenjar Getah Bening dan sudah mulai menjalani berbagai pengobatan di RSUD Kudus dan di RSUP Dr. Kariadi Semarang untuk mengusahakan kesembuhannya. Sampai suatu saat proses pengobatan ini sempat dihentikan karena keterbatasan biaya. Hingga kami dipertemukan dengan Dik Abdurohim sekitar 2 tahun lalu hingga saat ini kami mendampingi proses pengobatan Dik Rohim selama menjalani pengobatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Setelah berjuang melawan kanker kelenjar getah bening selama kurang lebih 7 tahun, kemaren hari kamis tanggal 12 Mei 2016 dik rohim dinyatakan meninggal saat menjalani proses pengobatan di RSUP Dr. Kariadi.  Bantuan diberikan untuk membantu biaya akomodasi dan santunan meninggalnya Abdurohim bin Safariyanto.

Jumlah Bantuan : Rp 1.600.000,-
Tanggal : 15 Mei 2016
Kurir : @indrades , @idaiddo , @mbakipa

Rohim menderita Kanker Kelenjar Getah Bening

Rohim menderita Kanker Kelenjar Getah Bening


YOHANA GABEK (32, Disabilitas dan Asma). Alamat : Jl Kampak Kelurahan Air Salemba, Desa Gabek, Kota Pangkalpinang, Propinsi Bangka Belitung. Sakit yang diderita Yohana saat ini bermula saat berusia satu tahun ia jatuh dari gendongan kakak kandungnya. Peristiwa tersebut membuat struktur tulangnya menjadi tidak sesuai posisinya lagi. Saat berusia 20 tahun, Yohana mencoba berobat urut untuk mengembalikan posisi tulangnya. Akan tetapi tidak membuahkan hasil justru kakinya menjadi bengkak. Dokter sudah memvonis kondisi struktur tulang Yohana tidak bisa kembali normal. Sejak itulah Yohana tidak mau lagi berobat dan menjalani terapi. Selain itu, Yohana juga memiliki sakit asma akut yang apabila kondisinya dingin asmanya kambuh. Jika asmanya kambuh, ia hanya bisa berobat dengan diuap saja. Yohana harus berjalan dengan menyeret salah satu kakinya. Yohana berasal dari Palembang dan sudah 10 tahun merantau di pulau Bangka. Anak ke-5 dari 10 bersaudara ini pernah berkeluarga. Selama hidup di Bangka, Yohana tidak pernah mau meminta – minta meskipun kondisi badannya kekurangan. Meski kesulitan berjalan, Yohana tetap ingin bekerja untuk membiayai hidupnya sendiri. Ia bekerja di pabrik tempe dengan gaji Rp50.000/hari.  Yohana tinggal menumpang di rumah keluarga adiknya. Untuk berangkat kerja, Yohana harus diantar oleh adiknya dan terkadang harus menginap di rumah temannya. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bisa bertemu dengan Yohana. Bantuan awal diberikan semoga bisa membantu kebutuhan sehari – hari Yohana dan meringankan sedikit beban hidupnya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 24 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok via ibaddurahman @ririn_restu

Yohana menderita Disabilitas dan Asma

Yohana menderita Disabilitas dan Asma


SURAHMAT BIN ANSONI (17, Polio). Alamat : Trans 3 Desa Panca Tunggal, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Surahmat, remaja yang sabar dan pantang menyerah, telah merasakan sakit sejak berusia 1 tahun. Selama ini Rahmat hanya bisa diam dan berbaring di tempat tidurnya. Informasi dari keluarga, saat masih kecil, Surahmat sudah pernah dibawa periksa di desanya tetapi karena keterbatasan biaya, pemeriksaan lanjutan di kota Pangkalpinang tidak bisa dilakukan. Selama ini Surahmat menggunakan jaminan kesehatan BPJS. Orang tua Surahmat, Bapak Ansoni sehari-hari hanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak menentu. Ibu kandung Surahmat sudah tidak bersama lagi sejak 5 tahun yang lalu, sehingga sehari-hari Surahmat hanya di urus oleh bapaknya.  Alhamdulillah kurir #SedekahRombonga bisa bertemu dengan Surahmat dan keluarganya untuk membantu mereka. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Surahmat berobat kontrol di rumah sakit. Semoga bantuan ini diterima dengan baik.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 24 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @effendy_babel @ririn_restu

Rahmat menderita Polio

Rahmat menderita Polio


BEJO SULIONO (55, Stroke).Alamat : Trans 4 Desa Sumber Jaya Permai, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Sudah hampir 2 tahun lamanya Pak Bejo menderita stroke yang membuat bagian tubuh sebelah kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Saat terkena serangan stroke, keluarga tidak bisa membawanya langsung ke rumah sakit karena jarak yang jauh ke rumah sakit. Mereka juga tidak memiliki sanak saudara lain yang bisa menemani nantinya di RSUD. Untuk ke rumah sakit juga membutuhkan biaya transportasi yang saat itu juga menjadi salah satu beban keluarga walaupun Pak Bejo sudah memiliki BPJS. Hari -hari Pak Bejo dihabiskan dengan duduk dan berbaring dirumah. Pak Bejo dan keluarga merupakan peserta transmigrasi dari Jawa Timur yang mengadu nasib di pulau Bangka. Pak Bejo memiliki anak yang masih duduk di kelas 4 SD. Sebelumnya ia bekerja sebagai petani namun sejak stroke menyerang, Pak Bejo tidak bisa bekerja lagi untuk mencari nafkah keluarga. Kondisi ini membuat istrinya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sampai saat ini pun pak Bejo hanya mengandalkan layanan Puskesmas yang masih terbatas fasilitas medisnya. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bisa bertemu dengan Pak Bejo dan dapat memberikan bantuan awal untuk biaya berobat dan memenuhi kebutuhan sehari – hari. Semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan sedikit beban hidupnya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 24 April 2016
Kurir : @yahyaisyoyok, @Effendy_babel, Ibaddurahman @ririn_restu

Pak bejo menderita Stroke

Pak bejo menderita Stroke


BAYI NY. SRI WIJAYANTI (1 Bln, Lahir Prematur). Alamat : Jl. Pandan Arum No. 55, RT 31, Kelurahan Karang Jati, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur. Anak pasangan Sri Wijayanti (30) dan Fitriansyah (40) ini lahir prematur pada 17 April 2016 sehingga harus dirawat di ruang inkubator di RSU Kanusojo Djatibowo. Ibu Sri sudah diperbolehkan pulanh namun bayinya masih harus menjalani perawatan. Ibu Sri tidak bisa menjaga bayi yang baru dilahirkannya karena juga memiliki dua anak lainya yang masih sangat kecil berusia 3 tahun dan 11 bulan. Kini Ibu Sri tinggal bersama ibu kandung dan dua saudara tirinya. Bayi Ibu Sri sudah diperbolehkan pulang pada 23 April 2016, namun menyisakan tanggungan utang biaya perawatan pasca melahirkan karena hanya Ibu Sri yang memiliki BPJS. Untuk akomodasi selama perawatan di rumah sakit saja Ibu Sri dan suami harus menggadaikan BPKB motor mereka. Kurir #sedekahrombongan merasakan kesulitan yang dialami Ibu Sri dan memberikan bantuan untuk membayar tunggakan dan memebeli kebutuhan bayinya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 24 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @fperwiro @ririn_restu

Bayi ny sri lahir prematur

Bayi ny sri lahir prematur


LENI PALIMBUNGA (2 Bln, Pnemonia, Infeksi Tali Pusar dan Sepsis). Alamat :  Jl. Jend. A. Yani No. 23 , RT 022, Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur. Anak ke-5 dari pasangan Paulus Palimbunga (41) dan Yuliana Kiding Allo (36) lahir pada 15 Maret 2016. Ia lahir prematur dengan berat badan 2,6 kg dan panjang 52 cm saat kandungan Ibu Yuliana berusia 7 bulan. Leni lahir melalui pertolongan bidan dan dua minggu sejak kelahirannya ia demam dan tidak mau menyusui. Leni kemudian dibawa ke Puskesmas Mekarsari dan dirujuk ke RSU Kanujoso Djatiwibowo. Tubuh Leni berwarna kuning dan susah bernapas karena didiagnosa menderita pnemonia. Selain itu ia juga mengalami infeksi tali pusar dan sepsis. Sakit yang diderita Leni membuat ia dirawat di ruang NICU selama enam hari dan kemudian dirawat di ruang perawatan bayi. Ibu Yuliana sudah memiliki BPJS namun Leni baru didaftarkan sehingga BPJS-nya belum bisa digunakan. Karena itulah biaya perawatan Leni menggunakan jaminan umum dengan biaya yang tidak sedikit. Pak Paulus yang sehari – harinya bekerja sebagai buruh harian lepas tak bisa menanggung biaya sejumlah Rp17 juta, itu pun hanya untuk biaya perawatan selama di NICU. Saat Leni dirawat pun Pak Paulus terpaksa meminjam uang Rp1 juta pada orang. Kurir #sedekahrombongan merasakan kesulitan yang dialami Pak Paulus dan Ibu Yuliana dan memberikan bantuan untuk membayar tunggakan rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 24 Mei 2016
Kurir : @arfanesia @fperwiro @ririn_restu

Leni menderita Pnemonia, Infeksi Tali Pusar dan Sepsis

Leni menderita Pnemonia, Infeksi Tali Pusar dan Sepsis


MOCH.YASIN (48 TAHUN Gangguan Saraf Motorik) Tinggal di Jalan Manggis VII No 27 Lingkungan Krajan RT 001 RW 011, Desa Jember Lor, Kabupaten Jember. Bapak Moch Yasin adalah seorang buruh serabutan yang penghasilannya cukup untuk makan saha. Bapak Yasin memiliki dua seorang anak. Istrinya Ibu Nikmatul Ulfa berprofesi sebagai Ibu rumah tangga.
Riwayat sakit Pak Yasin bermula dari jatuh ditengah aktivitasnya. Pada mulanya dikira hanya jatuh biasa namun lama kelamaan muncul kesemutan di talapak tangannya dan kesakitan di bagian punggung tangannya. Tak lama kemudian Beliau kembali jatuh untuk kedua kalinya dan kali ini kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan, setelah itu oleh pihak keluarga Pak Yasin di rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan medis. Setelah diperiksa Bapak Yasin didiagnosa mengalami Gangguan Saraf Motorik. Karena kondisi perekonomian yang kurang mencukupi tindakan medispun tidak dapat dilanjutkan. Praktis sejak saat itu semua aktivitas harian Pak Yasin dilakukan diatas dipan kayu karena beliau telah kehilangan kemampuan geraknya. Dalam menjalani hari-harinya sang Istri dengan penuh kasih sayang merawat semua keperluan beliau dengan sabar.
Ketika Tim Sedekah Rombongan Jember bersillaturahmi ke rumah Pak Yasin, beliau sedang terbaring lemah di atas dipan kayu dengan keterbatasan gerak dan komunikasi. Disambut dengan hangat oleh pihak keluarga dan diputuskan untuk melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit Dr. Soebandi.
Santunan yang disampaikan dipergunakan untuk akomodasi selama perawatan di Rumah Sakit. Semoga sedekah para sedekaholic ini menjadi catatan amal baik dan mendapatkan balasan berlipat ganda dariNYA. Aamiin.

Jumlah Santunan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 09 Mei 2016
Kurir : @yudhoari , @gredyanto

Pak yasin menderita Gangguan Saraf Motorik

Pak yasin menderita Gangguan Saraf Motorik

REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 Angga 500,000
2 Dadah 500,000
3 Nandang 500,000
4 Mikada 500,000
5 Kuswoyo 500,000
6 Arsini 500,000
7 Mellatul 1,000,000
8 Dina 1,650,000
9 Adis 500,000
10 Eni 500,000
11 Tati 1,000,000
12 Arya 500,000
13 Novita 700,000
14 Misri 1,000,000
15 Elon 500,000
16 RSSR Semarang 8,456,373
17 MTSR Semarang 6,314,500
18 MTSR Semarang 5,573,500
19 Uswatun 1,000,000
20 Eti 500,000
21 Atek 1,000,000
22 AMLH Sulastri 1,000,000
23 Ngatini 1,300,000
24 Alfan 1,700,000
25 Juariyah 1,300,000
26 Asro 1,313,850
27 Sunarti 1,693,010
28 Rudi 2,500,000
29 Suminah 1,000,000
30 Eli 1,500,000
31 Aiysah 1,500,000
32 Sri 500,000
33 Suwandi 500,000
34 Kazik 2,000,000
35 Kazik 1,968,374
36 Waspiah 1,000,000
37 Mardiantono 1,250,000
38 Rafa 1,000,000
39 Sriani 1,000,000
40 Ari 2,500,000
41 Sumiati 500,000
42 Sahwani 633,800
43 Octiara 856,390
44 Ahmad 500,000
45 Sukarti 1,000,000
46 Sumarni 1,000,000
47 Arya 1,000,000
48 Maghfiroh 964,000
49 M Asyari 500,000
50 Abdurohim 1,600,000
51 Yohana 1,000,000
52 Surahmat 1,000,000
53 Bejo 1,000,000
54 Bayi Ny Sri 1,500,000
55 Leni 1,500,000
56 M Yasin 500,000
Total 74,773,797

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 74,773,797,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 854 ROMBONGAN

Rp. 37,999,429,597,-