SUHAR bin JURI, (50, Patah dan Retak Tulang Kaki). Alamat:  Kecamatan Bumiharjo RT.03/RW .01, Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pak Suhar, sebelumnya bekerja sebagai bakul (penjual) ikan, sekitar 5 bulan yang lalu ketika sedang mengambil ikan di tengkulak, beliau memanjat untuk memetik buah jambu, namun beliau terjatuh dari pohon dan dan langsung tidak dapat berjalan, lalu Pak Suhar digotong ke rumah oleh teman-temannya. Keesokan harinya kaki kiri bagian paha bengkak sangat besar, Pak Suhar sudah tidak dapat beraktifitas sama sekali dan hanya bisa tiduran di atas tempat tidur. Sempat berobat pijat dan alternatif, namun tidak kunjung sembuh. Langkah medis belum diambil karena tidak memiliki dana dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Kemudian ada teman dari Pak Suhar yang ingin menolong untuk mencarikan dokter dan dipanggilkan ke rumahnya untuk informal check kondisi pak Suhar, dokter tersebut berasumsi sebenarnya dari waktu jatuh tulang Pak Suhar sudah patah dan disarankan segera ke Rumah Sakit. Kemudian oleh temannya juga dibantu menguruskan jaminan kesehatan. Setelah itu dibawa ke RSUD Kartini Jepara pada 22 Februari 2016 dan keesokan harinya Pak Suhar langsung diberikan tindakan pemasangan pen Kondisi saat ini, Pak Suhar sudah kembali ke rumah dan dalam proses pemulihan tulang yang mungkin waktunya lama karena mengingat usia. Istri Pak Suhar, Ibu Astuti hanya sebagai ibu rumah tangga, terkadang membantu membersihkan ikan dari rumah ketika Pak Suhar masih bekerja sebagai penjual ikan. Setelah Pak Suhar sakit, Ibu Astuti lebih banyak merawat Pak Suhar dan 2 anak perempuannya yang masih kecil. Anak pertama kelas 6 SD dan anak kedua Kelas TK Kecil. Saat ini keluarga Pak Suhar hidup seadanya dibantu oleh saudaranya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. #SedekahRombongan merasakan kesulitan mereka, bantuan ini disampaikan untuk membantu kebutuhan sehari-hari, karena kondisi Pak Suhar belum dapat bekerja dan tidak ada penghasilan dari keluarga.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 21 Maret 2016
Kurir : @robbyadiarta @RifqiGalihAdinata

Pak suhar menderita Patah dan Retak Tulang Kaki

Pak suhar menderita Patah dan Retak Tulang Kaki


SALAMI, (76, Dhuafa Jompo). Dusun Manggis RT.02/RW.08,  Kelurahan Bawen,  Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Mbah Salami merupakan janda yang sudah lama ditinggal meninggal oleh suaminya. Beliau tidak memiliki anak dan saudara dekat, bahkan warga sekitar juga tidak banyak mengetahui latar belakang keluarga Mbah Salami. Masyarakat sekitar hanya mengetahui bahwa Mbah Salami sudah lama berada di Desa Manggis dimana tidak memiliki rumah dan keluarga. Oleh warga sekitar beliau dibuatkan tempat tinggal seadanya secara swadaya dari masyarakat dengan lokasi menumpang diatas tanah milik salah satu warga. Mbah Salami sudah tua dan renta, bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah tidak bisa, untuk makan sehari-hari beliau mengandalkan pemberian dari para tetangga. Mbah Salami setiap bulannya sebenarnya mendapatkan santunan Raskin dari pemerintah, namun karena keterbatasan ekonomi dan tenaga yang sudah renta, beliau bahkan tidak sanggup untuk memasak walau untuk dirinya sendiri. Tanggal 7 Maret 2016, kurir #SedekahRombongan Salatiga-Ungaran mendatangi kediaman Mbah Salami diantar oleh Pak Bekel Rusmanto, beliau yang menunjukkan kepada kurir #SedekahRombongan bahwa ada warganya yang sangat membutuhkan bantuan dan beliau bersama dengan perangkat desa lain yang menggerakkan warga untuk memberikan bantuan termasuk pembuatan tempat tinggal untuk Mbah Salami. Tanggal 23 Maret 2016 kurir #SedekahRombongan kembali mendatangi kediaman Mbah Salami untuk menyampaikan santunan kepada Mbah Salami didampingi oleh Pak Bekel Rusmanto dan Pak RT setempat. Dalam penyampaian santunan kurir sengaja meminta didampingi oleh perangkat desa setempat mengingat kondisi Mbah Salami yang sudah lanjut usia dan lemah.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 23 Maret 2016
Kurir : @robbyadiarta @agtianrestiarto

Bantuan termasuk pembuatan tempat tinggal untuk Mbah Salami

Bantuan termasuk pembuatan tempat tinggal untuk Mbah Salami


SUTUR, (80, Dhuafa Jompo). Alamat: Dusun Blondo RT.01/ RW.07, Kelurahan Bawen,  Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Mbah Sutur bukan asli warga dusun Blondo, namun sudah lama tinggal di Desa Blondo. Berdasarkan cerita dari warga setempat dahulu sewaktu masih muda beliau adalah orang berada yang tinggal di Semarang. Beliau tidak memiliki anak, namun beliau memiliki anak angkat. Setelah suami Mbah Sutur meninggal dunia, kehidupan Mbah Sutur berubah, anak angkatnya menjadi nakal dan susah dikendalikan bahkan harta benda Mbah Sutur habis dipakai oleh anak angkat beliau. Dengan kondisi sudah tua dan tidak memiliki apa-apa beliau pulang ke kampung dan menetap di Desa Blondo, karena disana masih ada kerabat jauh dari Almarhum suaminya. Saat ini Mbah Sutur tinggal di rumah kosong milik kerabat jauh beliau bersebelahan dengan kandang kambing. Untuk makan sehari-hari Mbah Sutur biasanya meminta ke warga. Tanggal 23 Maret 2016 kurir #SedekahRombongan Salatiga-Ungaran mendatangi kediaman beliau untuk menyampaikan bantuan yang didampingi oleh Pak RT dan Pak Bekel setempat.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 23 Maret 2016
Kurir : @robbyadiarta @agtianrestiarto

Bantuan tunai untuk kebutuhan sehari-hari

Bantuan tunai untuk kebutuhan sehari-hari


RUDI HARTONO, (40, Kanker Kaki/Amputasi Kaki). Alamat: Kp. Bumiharjo RT.01/RW.07, Ngandong, Keling, Jepara, Jawa Tengah. Pak Rudi mengalami kecelakaan kerja, kaki kiri Pak Rudi tersetrum listrik parah dan mengakibatkan kaki kiri harus diamputasi serta kulit kepala bagian kiri terkelupas. Setelah 9 tahun dari kejadian tersebut, kaki kanan Pak Rudi menderita Kanker ganas dan kembali mengharuskan diamputasi pada Januari 2016 di RSUP Kariadi Semarang. Alhamdulillah Pak Rudi dipertemukan dengan #Sedekahrombongan, dimana selanjutnya setelah operasi dan amputasi kaki kanan Pak Rudi dipantau untuk kontrol kesembuhan luka paska operasi dan amputasi. Setelah luka sembuh dan sudah angkat jahitan, Pak Rudi didampingi untuk kontrol kembali ke RSUP Kariadi Semarang dan untuk konsultasi terkait kemotherapi. Setelah itu, Pak Rudi juga sudah mulai dijadwalkan untuk kemotherapi, dimana saat ini Pak Rudi sudah sampai di kemoterapi ke 2. Dalam perjalanannya Pak Rudi selalu dipantau dan didampingi #Sedekahrombongan. Insya’ Allah #SedekahRombongan berkomitmen untuk mendampingi dan memantau proses kesembuhan secara medis Pak Rudi sehingga Pak Rudi bisa beraktifitas kembali. Pak Rudi inginmendapatkan kaki palsu setelah proses medis selesai dan dinyatakan boleh untuk memakai kaki palsu oleh dokter sehingga bisa kembali bekerja. Pak Rudi merupakan pasien dampingan dari #SedekahRombongan yang pernah dibantu pada rombongan 815, bantuan ini diberikan untuk membantu akomodasi Pak Rudi dalam menjalankan kontrol dan kemotherapi lanjutan.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 21 maret  2016
Kurir : @robbyadiarta @RifqiGalihAdinata

Pak rudi menderita Kanker Kaki/Amputasi Kaki

Pak rudi menderita Kanker Kaki/Amputasi Kaki


SANDU MUZIZAT MAHA PUTRA, (4bln, Meningoencefalocele). Alamat: Jalan Mandala RT.09/RW.03, Kelurahan Marga Tunggal, Kecamatan Jayaloka, Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan. Per tanggal 23 Februari 2016 Dik Sandu sudah mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Provinsi Muhammad Hoesin Palembang. Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Namun, dikarenakan usia dan kondisi fisik, sandu belum memungkinkan untuk dilakukan operasi saat itu juga. Selama beberapa hari Dik Sandu diberikan penanganan perbaikan fisik. Kurang lebih seminggu pertama, hasil perbaikan tidak menujukan hasil yang signifikan, Dik Sandu semakin kesakitan dan kadar HB drop. Melihat kondisi yang seperti itu dan jumlah antrian ruang PICU, Dik Sandu terpaksa butuh waktu untuk tetap tinggal di Rumah Sakit. 3 kali jadwal operasi gagal karena kondisi fisik yang melemah dan antri ruangan. Bantuan akomodasi #SedekahRombongan digunakan Pak Amsira Ayah DikSandu sebagai biaya hidup di rumah sakit dan biaya hidup anak-anaknya yang ditinggal dirumah. Mengingat lamanya waktu tinggal di Rumah Sakit dan kondisi Pak Amsira tidak dapat bekerja karena harus menunggu anaknya. Dalam kurun waktu 30 hari, akomodasi sudah banyak berkurang, sehingga melalui Kurir perintis Palembang melalui Tim Salatiga menyampaikan amanah tambahan bantuan akomodasi. Bersamaan dengan disampaikannya amanah tersebut, kabar gembira pun diterima, operasi Dik Sandu dipastikan hampir mendekati 100% berhasil, sekarang memasuki tahap pemulihan dan ketika kondisi kesehatan stabil, Dik Sandu di izinkan pulang. Sandu merupakan pasien dampingan #SedekahRombongan yang pernah dibantu dalam Rombongan 807 dan ini adalah bantuan tambahan akomodasi.

Jumlah bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 24  Maret 2016
Kurir : @robbyadiarta @agtianrestiarto @faizalmoo @tias

Sandu menderita Meningoencefalocele

Sandu menderita Meningoencefalocele


MTSR Gunung Kidul. Selain menyediakan fasilitas MTSR untuk pasien dhuafa, dana sedekah melalui #SedekahRombongan ini juga disalurkan untuk biaya rumah sakit, terlebih bagi pasien yang belum mendapatkan asuransi pemerintah. Kadang-kadang, pasien juga dirujuk untuk cek lab di laboratorium khusus sehingga biaya harus ditanggung sendiri. Biaya akomodasi pasien ini digunakan untuk biaya cek lab, membeli obat, fotokopi berkas, dll.  Semua pasien merasa lega setelah mendapat manfaat dari penggunaan dana ini.

Jumlah.     : Rp. 3.158.050
Tanggal.    : 31 Januari 2016
Kurir.          : @kissherry, @aji_kristanto

Bantuan operasional  untuk biaya cek lab, membeli obat, fotokopi berkas, dll

Bantuan operasional untuk biaya cek lab, membeli obat, fotokopi berkas, dll


JOKO SANTOSA (23 Tahun, Kanker Nasofaring). Alamat : Kalibenda RT.01/RW.03 Kalibenda, Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah. Joko tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sebelum terdiagnosa menderita kanker nasofaring, pemuda lulusan sekolah menengah kejuruan ini bekerja sebagai karyawan swasta. Semenjak sakit, Joko keluar dari pekerjaannya, kemudian menjalani pengobatan di RS. Emanuel Banjarnegara, Jawa Tengah. Selama sakit, ia terus didampingi oleh ibunya. Meski sudah berobat selama beberapa minggu tidak tampak perkembangan signifikan pada kesehatan Joko. Akhirnya Joko dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, yang memiliki sarana & prasarana yang lengkap. Pihak keluarga merasa kebingungan karena harus membawa Joko ke rumah sakit lain. Tentu mereka harus menyediakan dana yang besar juga, padahal kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan. Alhamdulillah, #SedekahRombongan dipertemukan dengan Joko dan ibunya. Setelah berdiskusi dengan pihak keluarga dan berkoordinasi dengan #SedekahRombongan Jogjakarta maka #SedekahRombongan memutuskan untuk mendampingi proses pengobatan Joko. Joko dan ibunya pun segera hijrah dari Banjarnegara ke Jogjakarta. Kondisi Joko kian memprihatinkan selama perjalanan hijrah tersebut. Sesaat setelah sampai di RSSR Jogja, ia dilarikan ke unit gawat darurat RSUP Dr. Sardjito, Jogjakarta. Joko terpaksa langsung rawat inap karena kondisinya kian menurun. Joko kemudian menjalani cek lab dan transfusi darah karena kadar Hb rendah. Setelah beberapa hari dirawat, ia menjalani reontgen tulang, dan hasilnya mengatakan bahwa ada penyebaran sel kanker. Joko disarankan untuk melakukan kemoterapi, dilanjutkan dengan radioterapi, dengan catatan setelah kadar Hb normal dan kondisi fisiknya dinyatakan mampu. Joko disarankan untuk menjalani 6X kemoterapi, disertai dengan kontrol rutin dan kontrol pra & pasca kemoterapi di poli onkologi. Setelah menjalani kemoterapi, keluhan yang sering ia rasakan yaitu pusing, nyeri pada kanker, nyeri pada tulang seluruh tubuh. #Sedekaholic melalui #SedekahRombongan kembali menyalurkan bantuan yang digunakan untuk biaya akomodasi dan uang saku selama melakukan pengobatan di Jogjakarta. #SedekahRombongan juga memberikan fasilitas selama berobat berupa tempat tinggal sementara di RSSR Jogja, dan untuk transportasi selama berobat menggunakan MTSR Jogja. Sementara untuk biaya rawat inap dan pengobatan lainnya ditanggungkan kepada pemerintah karena Joko memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah, BPJS. Alhamdulillah, Joko dan Ibunya sangat bersyukur, karena berkat bantuan #Sedekaholic mereka bisa melanjutkan pengobatan Joko. Kondisi Joko kini masih stagnan, ia masih harus menjalani kemoterapi dan radioterapi beberapa kali. Mari kita doakan supaya Joko segera pulih dan selalu diberikan kekuatan untuk melewati cobaan penyakitnya dan segera mendapat kesembuhan, Aamiin…

Jumlah Bantuan : Rp 1.189.876
Tanggal : 30 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana_

Joko menderita Kanker Nasofaring

Joko menderita Kanker Nasofaring


WAHYUNI (38 Tahun, Kanker Payudara). Bu Wahyuni tinggal di Dusun Walikan RT.04/RW.05 Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Sehari-harinya ia bekerja sebagai pedagang sayuran keliling menggunakan sepeda butut miliknya. Bu Wahyuni terdiagnosa menderita kanker payudara sejak medio Tahun 2015. Pada awalnya ia tidak merasakan sakit, padahal lengan kirinya sudah mulai membesar. Lama kelamaan, leher dan pipi kirinya juga mengalami pembengkakan. Anehnya, bagian yang bengkak tidak terasa sakit tapi kebas. Bu Wahyuni kemudian memeriksakan diri ke RSUD Wonosari, Gunung Kidul, tetapi setelah diperiksa belum diketahui apa penyakitnya. Bu Wahyuni kemudian dirujuk dari RSUD Wonosari, Gunung Kidul, ke RSPAU dr. S. Hardjolukito, Yogyakarta. Bu Wahyuni kemudian menjalani serangkaian tes dan observasi untuk mengetahui penyakitnya. Setelah menjalani pemeriksaan yang lebih lanjut, diketahui bahwa Bu Wahyuni menderita kanker payudara. Alhamdulillah, Allah menunjukkan jalan kepada Kurir #SedekahRombongan untuk bertemu Bu Wahyuni dan keluarganya. Bu Wahyuni kemudian menjadi salah satu pasien dampingan #SedekahRombongan Wilayah Jogjakarta dan memulai proses penyembuhan penyakitnya. Bu Wahyuni menjalani pengobatan kemoterapi di RSPAU dr. S. Hardjolukito, Yogyakarta. Pada Desember 2015 dan April 2016, setelah kemoterapi ia mengalami kejang-kejang di rumah, dan segera dilarikan ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Pertolongan pertama segera diberikan, kini keadaannya sudah membaik meski harus rawat inap di rumah sakit. Rupanya sel kankernya telah bermetastase ke otak dan menyerang syaraf otak. #SahabatSR melalui #SedekahRombongan kembali memberikan bantuan kepada Bu Wahyuni untuk biaya pengobatan, biaya pembelian obat (yang tak ter-cover bpjs), dan pembelian susu peptamen untuk menambah nutrisi pasien. Semoga Bu Wahyuni segera pulih dan selalu diberikan kekuatan untuk melewati cobaan penyakitnya dan segera mendapat kesembuhan, Aamiin…

Jumlah Bantuan : Rp 519.240
Tanggal : 15 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana

Ibu wahyuni menderita Kanker Payudara

Ibu wahyuni menderita Kanker Payudara


ARTI BINTI KARNAWI (53 Tahun, Kanker Payudara). Bu Arti merupakan warga Kempong RT.04/RW.19 Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, DIY. Bu Arti sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Suaminya telah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit. Bu Arti memiliki empat orang anak, dua anaknya sudah dewasa dan sudah bekerja. Sementara dua lainnya masih berstatus pelajar, masing-masing duduk di bangku sekolah menengah kejuruan dan sekolah menengah pertama. Bu Arti terdiagnosa menderita kanker payudara sejak empat tahun yang lalu, bahkan kankernya telah menjalar sampai ke tangan. Sejak sakit ia tidak sanggup lagi untuk bekerja, dan untuk hidup sehari-hari dibantu oleh dua anak pertama dan keduanya. Bu Arti kemudian berobat ke RSUD Wates, Kulon Progo, dan menjalani operasi. Biaya yang dikeluarkan tidak terlalu membebaninya karena menggunakan fasilitas jaminan kesehatan dari pemerintah, Jamkesmas. Dua tahun setelah operasi, Bu Arti kembali merasakan sakit dan nyeri pada payudaranya. Ia lalu kontrol ke RSUD Wates, Kulon Progo, namun dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito, Jogja. Setelah diperiksa, ia dianjurkan untuk segera melakukan radioterapi dan kemoterapi, rupanya stadium kankernya sudah cukup parah. Ia memulai pengobatannya kembali, ia sudah empat kali bolak-balik berangkat ke rumah sakit tapi proses kemoterapinya selalu ditunda. Tim #SedekahRombongan Jogja kemudian membawa Bu Arti ke RSSR Jogja untuk mempermudah akses ke rumah sakit. Saryono, anaknya yang kedua, terpaksa berhenti bekerja untuk merawat dan mendampingi ibunya selama pengobatan. Setelah berobat, belum ada perkembangan yang signifikan akan penyakitnya namun kontrol dan pengobatan masih terus dilanjutkan. Semua itu dilakukan dalam upaya menjemput kesembuhannya. Ia ingin sehat kembali agar dapat mengurus dua anaknya yang masih membutuhkannya. #SahabatSR melalui #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan yang digunakan untuk biaya pengobatan selama tinggal di RSSR Jogja. Mari kita berdoa bersama supaya Bu Arti segera sembuh dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari, Aamiin…

Jumlah Bantuan : Rp 599.130
Tanggal : 28 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana_

Ibu arti menderita Kanker Payudara

Ibu arti menderita Kanker Payudara


HARTOYO KARNO (53 Tahun, Kanker getah bening). Pak Karno ialah kepala keluarga dari tiga orang anak. Bersama istri dan ketiga anaknya, beliau tinggal di Duren RT.001/RW.006  Ponjong,Ponjong,Gunungkidul, DIY. Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat keluarga ini sempat pasrah mendengar vonis dokter. Tetapi, semangat sembuh Pak Karno yang mengidap kanker getah bening ini tetap ada. Pak Karno pernah dibiopsi tetapi kanker malah menyebar. Saat ini Pak Karno masih menjalani perawatan kemoterapi. Dalam kondisi mengidap penyakit tersebut, praktis Pak Karno tidak bias bekerja. Sementara, ia memiliki tanggungan kepada keluarganya berupa biaya hidup, keinginan memiliki sepeda untuk sekolah anaknya, karena setiap hari harus menempuh jarak lima kilometer untuk sampai di sekolah. Selain itu, Pak Karno yang selama ini tidur di lantai ingin sekali bisa memiliki ranjang/dipan untuk tempat tidurnya. Alhamdulillah, melalui #SahabatSR Pak Karno dapat menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan. Saat ini Pak Karno dan istri tinggal sementara di Rumah Singgah #SedekahRombongan (RSSR) Jogja 2. Bantuan ini digunakan untuk pemeriksaan laboratorium, pembelian obat dan susu peptamen untuk menambah nutrisi pasien. Tanggal 28 April mendatang, Pak Karno akan menjalani radioterapi. Mari kita juga berdoa bersama supaya Pak Karno segera diberi kesembuhan, Aamiin…

Jumlah Bantuan : Rp 611.623
Tanggal : 31 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana

Pak karno menderita Kanker getah bening

Pak karno menderita Kanker getah bening


MOBIL TANGGAP SEDEKAH ROMBONGAN JOGJA RAYA (Biaya Operasional dan Pembelian Bahan Bakar). #MTSR merupakan kendaraan operasional yang siap siaga mensupport segala kegiatan #SedekahRombongan. #MTSR kini kian dikenal oleh masyarakat sebagai mobil tanggap yang siap melayani masyarakat pada umummya dan kaum dhuafa pada khususnya. #SedekahRombongan Jogja Raya kini mempunyai tiga unit mobil tanggap, dua diantaranya adalah mobil ambulans dan satu lainnya adalah mobil penumpang. Tiga unit #MTSR ini mengcover wilayah Kota Jogja dan sekitarnya. Masyarakat yang membutuhkan kendaraan operasional ini dapat menelepon ke nomor hotline 081906800900. Alhamdulillah, keberadaan MTSR telah memberikan banyak manfaat kepada masyarakat dan kaum dhuafa yang membutuhkan.  Setiap hari, #MTSR dimanfaatkan untuk menjemput dan mengantar pasien dhuafa dari rumah tinggal atau rumah singgah ke rumah sakit, dan mengantarkannya kembali. #MTSR juga dipakai wara-wiri oleh para Kurir #SedekahRombongan untuk mensurvey calon pasien dan menyalurkan bantuan kepada pasien. Tak hanya itu, #MTSR kerap digunakan untuk mengangkut jenazah dhuafa pulang ke rumah duka. Semakin hari pergerakan #MTSR semakin tinggi, maka tak heran pengeluarannya pun juga tinggi. Selama Bulan Maret 2016, #MTSR Jogja Raya membutuhkan biaya sebesar Rp. 10.393.800 Biaya ini meliputi biaya pembelian bahan bakar dan biaya perawatan operasional lainnya yang meliputi biaya servis, tuneup, ganti oli, ganti ban, dan cuci mobil. Sedekah dari #SahabatSR sangat membantu dan menunjang kebutuhan Tim #SedekahRombongan dalam menyantuni dan melayani para dhuafa. Semoga sedekah yang diberikan dapat menjadi ladang pahala bagi #SahabatSR. Mudah-mudahan kedermawanan #SahabatSR dibalas dengan berkah di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp 10.393.800
Tanggal : 31 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana_

Biaya Operasional dan Pembelian Bahan Bakar

Biaya Operasional dan Pembelian Bahan Bakar


MUHAMMAD FAUZAN RISWANDI (13, Kaki Leter O) bertempat tinggal di Semoyan RT 01, Banguntapan, Banguntapan, Bantul, DIY. Dik Fauzan sudah mengalami kaki leter O semenjak kecil, sehingga sangat sulit baginya untuk berjalan. Keluarga Dik Fauzan juga sudah berusaha untuk mendapatkan pengobatan untuk kakinya, sehingga semoga Dik Fauzan diharapkan dapat berjalan normal seperti teman-teman lainnya. Untuk berjalan sehari-sehari, Dik Fauzan sangat kesulitan untuk berjalan, sehingga membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Namun karena tidak ada biaya, keluarga tidak dapat membelikan kursi roda untuk Dik Fauzan. Walaupun bertempat tinggal di Bantul, DIY, Dik Fauzan mendapatkan penanangan di RS. Suradji Tirtonegoro, Klaten. Untuk mencapai RS. Suradji Tirtonegoro, keluarganya sangat kesulitan, karena tidak ada kendaraan yang dipergunakan untuk mengantarkannya. Alhamdulillah, #SedekahRombongan dipertemukan oleh Allah SWT dengan pihak keluarga Dik Fauzan untuk menyampaikan santunan titipan #Sedekaholics senilai Rp. 500.000 yang dipergunakan untuk pembelian susu untuk kebutuhan kalsium, serta untuk membantu biaya akomodasi dan pembayaran BPJD. Keluarga Dik Fauzan mengucapkan banyak terimakasih kepada #Sedekaholics atas bantuannya, semoga bantuan ini dapat membantu dalam mempercepat kepulihan Dik Fauzan.

Jumlah Bantuan : Rp 800.000
Tanggal: 12 Februari 2016
Kurir: @KissHerry  @RofiqSILVER @Tya_Nurulendah

Bantuan tunai untuk pembelian susu untuk kebutuhan kalsium, serta untuk membantu biaya akomodasi dan pembayaran BPJD

Bantuan tunai untuk pembelian susu untuk kebutuhan kalsium, serta untuk membantu biaya akomodasi dan pembayaran BPJD


MUHAMMAD BACHRUDIN (48th, Santunan Tunai) alamat Delingsari RT 01/ RW 04 Ambarketawang Gamping Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Bapak Muhammad Bachrudin usia 48 tahun yang berprofesi sebagai pengasuh Panti Asuhan Yatim Abudzar Al Ghifari di Delingsari Ambarketawang Gamping Sleman DIY bersama dengan istri tercintanya Ibu Tri Suratmi usia 50 tahun. Keluarga Bapak Muhammad Bachrudin dianugerahi 6 orang anak sehingga menjadikan beban hidupnya berat. Sejak 5 tahun terakhir menjadi pengasuh panti namun tidak mendapatkan tunjangan dari panti tersebut, hal ini sangat menambah berat beban kehidupan keluarga beliau.
Alhamdulillah #SedekahRombongan oleh Allah SWT dipertemukan dengan Bapak Muhammad Bachrudin untuk turut serta meringankan beban dan derita hidup beliau, dengan menyampaikan santunan untuk meringankan beban kehidupan keluarga beliau senilai Rp. 2.000.000
Semoga santunan dari #SedekahRombongan berkah dan membawa manfaat.Terimakasih kepada #sedekahollics yang memberikan amanah kepada kami.

Jumlah: Rp. 2.000.000
Tgl: 22/03/2016
Via: @Saptuari @faisal_gudeg @KedunkUSSIL

Bantuan tunai untuk kebutuhan sehari-hari

Bantuan tunai untuk kebutuhan sehari-hari


Ibu.Syachroni Nasution (73th , Diabetes + Pengapuran Tulang), alamat asal di Pedurenan Jatiwaringin Jatiasih Bekasi Jabar, saat ini  tinggal di Wonorejo Ngemplak Sleman, Mas Ali Thoib anaknya juga sedang sakit tumor tulang dan saar ini masih proses penyembuhan sehingga tidak bisa bekerja mencari penghasilan. #SedekahRombongan sudah memberikan bantuan untuk keluarga ini, agar ditengah sakitnya mereka tetap semangat untuk bisa sehat kembali

Jumlah Bantuan: 1.000.000
Tanggal Penyampaian: 1 April 2016
Kurir: @Saptuari & Rusmadi

Ibu syahroni menderita Diabetes + Pengapuran Tulang

Ibu syahroni menderita Diabetes + Pengapuran Tulang


Ika Fitriani (22 Tumor Mamae), adalah istri Khairul 22 tahun warga dari Karangtritis sumberwungu Tepus Gunung Kidul. Sakit mbak Ika terasa ketika ada benjolan di kedua payudaranya, yang semakin lama makin mengeras. Karena tidak punya biaya sakitnya didiamkan saja. Suaminya bekerja sebagai penjahit tas freelance di rumah yang hanya mengerjakan pekerjaan jika ada pesanan. Lewat tetangganya mbak Tutik, kondisi mbak dimintakan bantuan ke #SedekahRombongan, setelah disurvey dalam 3 hari kemudian sudah dibawa ke RS Harjolukito Jogja, Sakit Tumor Mamae yang berbulan-bulan di derita sudah dioperasi, sudah diangkat dan menunggu pemulihan saja. Semoga segera sembuh dan dapat beraktivitas kembali.

Jumlah bantuan: Rp. 3.500.000
Tanggal: 3 Maret 2016
Kurir: @Saptuari

Ika menderita Tumor Mamae

Ika menderita Tumor Mamae


AENAH binti ARSAI (54, Kanker Gusi). Alamat: Dusun Dano, Rt. 008/016, Desa Cisantana, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Istri dari Bapak Ardi (55) ini menderita penyakit kanker gusi. Berawal dari sekitar 2 tahun yang lalu, terdapat benjolan di gusi disertai dengan rasa sakit. Kemudian, beliau memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Umum Kuningan. Pihak dokter memutuskaan untuk mencabut gigi Ibu Aenah yang terletak di dekat benjolan. Tak lama setelah gigi dicabut, gusi Ibu Aenah menjadi bengkak dan tak kunjung kempes. Akhirnya beliau memutuskm untuk kembali berobat ke RSUD Kuningan, namun beliau mendapat rujukan ke Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon. Demi kesembuhannya, akhirnya beliau ke Rumah Sakit Gunung Jati. Tapi, sayangnya pihak Rumah Sakit kembali memberikan rujukan kepada Ibu Aenah untuk berobat ke RSHS Bandung. Tak menyerah, keluarga Ibu Aenah segera membawa Ibu Aenah ke Bandung. Akhirnya beliau mendapat perawatan di RSHS Bandung. Setelah melewati berbagi macam pemeriksaan, ternyata beliau mengidap kanker gusi dan harus segera mendapat tindakan operasi. Selama di Bandung, Ibu Aenah dan keluarga mengontrak rumah. Pada saat itu, jangka waktu putusan tindakan operasi dengan jadwal operasi cukup lama, yaitu sekitar satu bulan. Mau tidak mau Ibu Aenah dan keluarga tinggal di Bandung lebih lama. Sayangnya, ketika menunggu jadwal operasi, kondisi Ibu Aenah drop dan membuat pihak keluarga memutuskan untuk membawa beliau pulang ke Kuningan. Hal tersebut membuat tindakan operasi batal dilakukan. Ketika sampai di Kuningan, kondisinya tidak menunjukkan hasil yang baik, bengkak di gusinya semakin membesar hingga sebesar bola basket mainan anak-anak dalam hitungan bulan.  Akhirnya, beliau sering menjalani perawatan dan check up kesehatan di Rumah Sakit Cigugur Kuningan hingga sekarang. Sebetulnya, beliau ingin melanjutkan pengobatan di RSHS Bandung, namun karena biaya untuk berobat kembali ke RSHS sudah habis terpaksa beliau berobat di Kuningan saja. Saat ini bengkak yang pada gusi dan mulut Ibu Aenah semakin membesar dan benjolan pada bagian leher juga suka mengeluarkan nanah. Bila rasa sakit nya kambuh, beliau tidak bisa tidur karena menahan sakit yang luar biasa. Walaupun beliau bisa berobat dengan menggunakan bantuan kartu jaminan KIS, beliau sudah kehabisan biaya untuk melakukan pengobatan sekaligus transportasi ke Bandung, terlebih, ada obat yang tidak di-cover pembiayannya oleh jaminan KIS. Maklum saja, suami beliau bekerja sebagai seorang buruh petani. Ibu Aenah dan suami tinggal bersama tiga orang anak dan 2 menantu juga beberapa orang cucu. Untuk menambah biaya hidup sehari-hari, keluarga ini membuka warung kecil-kecilan di rumahnya. Namun, penghasilan yang didapat memang hanya cukup untuk biaya pokok sehari-hari. #SedekahRombongan bergerak membantu Ibu Aenah agar beliau bisa terus melakukan pengobayan. Semoga Allah memberi kesembuhan untuk Ibu Aenah.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000.
Tanggal: 16 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @evinhere @nitaapuji Irsyad, Diah

Ibu aenah menderita Kanker Gusi

Ibu aenah menderita Kanker Gusi


INDAH AGUSTIN Binti UNDANG (10, DBD dan Susp. TB)  Alamat : Kp. Bongas RT 03/02 Desa Sukakarsa, Kec. Sukarame Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Anak dari pasangan Undang (36) dan Sopi (30) dengan profesi ayahnya sebagai buruh harian lepas dengan tanggungan 4 orang. Sudah 3 (tiga) hari suhu tubuh Indah panas tinggi diserta deman yang tak kunjung turun sehingga harus dibawa ke Puskesmas setempat untuk dilakukan perawatan, selama  satu malam dirawat di puskesmas akan tetapi tidak kunjung ada perubahan, sehingga pihak puskesmas memutuskan untuk merujuk Indah RSUD Kab. Tasikmalaya dengan diantarkan oleh Ambulan Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan dokter pasien dinyatakan terkena Deman Berdarah (DBD) dengan jumlah  trombosit yang rendah serta ada kelainan paru-paru yang diduga terjangkit TB, namun pihak dokter belum dapat memvonis mengidap TB hingga menunggu hasil rongent, sehingga mengharuskan anak ini dirawat di rumah sakit, sudah hampir 1 minggu Indah dirawat intensif di rumah sakit dan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar disekolah padahal menjelang UTS, dengan kondisi tersebut sehingga konsentrasi orang tuanya fokus terhadap kesembuhan sang anak. Meskipun pekerjaan orang tua terabaikan. walaupun fasilitas KIS dikantongi orang tuanya. tetapi biaya hidup dan bekal harus disediakan secara mandiri, padahal penghasilan orang tuanya terhambat akibat belum dapat melakukan kerja sebagaimana mestinya. dan sesekali memaksa orang tua Indah meminjam kepada tetangga dan saudara untuk menutupi kebutuhan hidup selama menunggu sang anak. Atas kemurahan dan Rahmat Alloh swt, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan bapak Undang yang saat ini sedang kebingungan, #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk bekal sehari-hari serta tambahan asupan nutrisi tambahan agar Indah dapat segera stabil trombositnya dan kembali sehat.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000.
Tanggal: 29 Maret 2016
Kurir: @luchakiem Rahmat Muzacky

Indah menderita DBD dan Susp. TB

Indah menderita DBD dan Susp. TB


LENA MULYANA binti SOBAR ( 13, Radang sendi). Alamat lengkap : RT 08/02 Dusun manis Desa Cibingbin Kec Cibingbin Kab. Kuningan. Lena adalah seorang anak yang sedang beranjak remaja, dia duduk dikelas 1 SLTP. Sebelum divonis sakit, lena adalah gadis yang ceria dan pandai. Entah tiba-tiba penyakit ini muncul dan menggerogoti keceriaannya. Sekitar 5 bulan yang lalu tiba-tiba penyakit ini muncul. Menurut keluarganya, awalnya karna jatuh ketika pelajaran olahraga. Lalu beberapa bulan kemudian, daya tahan tubuh lena mulai menurun. Lena hanya berobat ke dokter umum dan divonis mengidap sakit radang sendi. Kedua kaki lena seperti lemas dan tidak bisa menahan beban tubuh jika terlalu lama berdiri, atau jongkok. Dan kulitnya terasa gatal serta timbul bercak putih disekitar kulit. Belum sempat dibawa ke Rumah Sakit, dan baru mengikuti terapi satu kali. Rencananya lena akan dibawa ke rumah sakit di kota Kuningan untuk pemeriksaan lebih lanjut, dengan memanfaatkan kartu sehat. Tapi untuk bolak-balik ke Rumah sakit memerlukan biaya dengan jarak yang lumayan jauh, sedangkan keluarga lena tidak mempunyai cukup biaya untuk biaya transport. Maka dari itu, #SedekahRombongan bergerak untuk membantu meringankan biaya transport lena.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000.-
Tanggal: 24 September 2015
Kurir : @luchakiem @evainhere Winda Nurmayanti

Lena menderita Radang sendi

Lena menderita Radang sendi


ROHIM bin ASWANI (45, Diabetes dan Susp. syaraf terjepit). Alamat lengkap : Dusun Pahing RT 04/04 , Desa Luragung Landeuh, Kec. Luragung, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Bapak Abdur Rohim dikenal sebagai seorang pengajar ngaji di dusunnya. Beliau juga seorang imam mushola di wilayah dusun yang beliau tinggali. Abah Ohim merupakan sapaan akrab murid-muridnya. Beliau dikenal seorang yang ramah dan baik.  Beliau memiliki anak yang telah menikah dan tinggal terpisah dengan beliau. Saat ini beliau tinggal berdua dengan istrinya. Abah ohim menderita sakit diabetes serta darah tinggi, dan sekarang ini telah diduga mengalami syaraf terjepit dan tulang belakang patah. Hal itu disebabkan karna ketika beliau jatuh dari sepeda beliau melakukan pengobatan tradisional berupa diurut. Namun mungkin telah terjadi kesalahan dalam proses pengurutan yang menyebabkan beliau divonis syaraf terjepit oleh pihak medis. Saat ini beliau melakukan semua aktifitas di tempat tidur karna untuk sekedar duduk saja beliau mengalami kesakitan. Beliau belum memeriksakan kondisinya ke Rumah sakit besar dengan alasan tidak ada kerabat yang menemani. Sebelumnya beliau pernah dirawat di sidawangi Cirebon Sumber karena paru-paru. Selanjutnya beliau juga pernah dirawat di Puskesmas karena darah tinggi dan diabetes. Namun karena beliau tidak memiliki biaya, untuk pembayaran rawat inap beliau mendapat sumbangan swadaya dari masyarakat. Dengan alasan tersebut, #Sedekah Rombongan memberikan santunan untuk meringankan beban Bapak Ohim.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 September 2015
Kurir : @luchakiem @evainhere Melisa @nitaapuji

Pak rohim menderita Diabetes dan Susp. syaraf terjepit

Pak rohim menderita Diabetes dan Susp. syaraf terjepit


ADIN BIN MARWAN (80, stroke). Alamat : Dusun Kliwon, desa Wilanagara RT 04/02 Kec. Luragung Kab. Kuningan, Jawa Barat. Bapak Adin adalah seorang bapak sekaligus seorang kakek yang tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang telah menikah. Beliau dulu bekerja sebagai petani, namun sekarang sudah tidak bekerja lagi, istrinya pun dulu berjualan tahu keliling, tapi sekarang sudah tidak bekerja, karna beliau pun sering sakit dan mengurus suaminya. Untuk biaya hidup sehari-hari beliau mengandalkan menantunya yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Sudah 10 tahun beliau menahan rasa sakit, kemungkinan beliau menderita penyakit stroke. Berawal 10 tahun lalu, yang beliau rasakan adalah adanya rasa panas dan dingin bergantian. Selain itu, tubuhnya juga menjadi lemah dan lunglai seperti tidak bertenaga. Awalnya beliau berpikir bahwa sakitnya itu hanya sakit panas dingin biasa, namun lama-lama membuat beliau sulit bergerak bebas. Bertahun-tahun beliau berjalan dengan bantuan tongkat. Satu bulan terakhir, beliau benar-benar tak bisa beraktifitas, beliau hanya bisa berbaring di tempat tidur. Untuk sekedar membalikkan posisi tidur saja beliau membutuhkan bantuan orang lain. Hal itu terjadi setelah beliau pergi ke dokter langganannya, namun ketika itu beliau diperiksa oleh dokter pengganti karna dokter yang biasa memeriksanya tidak ada. Entah salah obat atau bagaimana, pihak keluarga belum menannyakan kepada pihak yang bersangkutan. Berdasarkan ciri-ciri yang dialami bapak. Adin, kemungkinan beliau terkena stroke, karna ada bagian tubuhnya yang sulit digerakkan atau terasa sakit bila digerakkan. Karna keadaan sehari-hari beliau mengandalkan dari orang lain. #SedekahRombongan memnyampaikan santunan untuk meringankan beban Pak Adin. Semoga beliau dan keluarga diberi kesabaran atas sakitnya dan semoga Allah meringankan sakitnya.

Jumlah Bantuan: Rp 500.000,-
Tanggal : 28 September 2015
Kurir : @luchakiem @evainhere Melisa @nitaapuji

Pak adin menderita stroke

Pak adin menderita stroke


HATIAH BINTI SAN BAHERI (53, Katarak). Alamat Dusun Kliwon RT 11/01 Desa Cibingbin Kab. Kuningan, Jawa Barat. Ibu Hatiah adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 3 orang anak. Tapi beliau tinggal dengan anak bungsunya, karna kedua anak yang lainnya sudah berkeluarga. Sedangkan beliau sudah bercerai dengan suaminya. Beliau mengeluh penglihatannya berkurang sekitar setahun yang lalu. Bukan karna faktor usia, tapi karna ternyata beliau mengidap sakit katarak. Beliau juga punya riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu. Beliau sering berobat jalan, dan pernah mau di operasi dua kali tapi karna tekanan darahnya sangat tinggi, maka operasinya batal. Untuk saat ini kondisi tekanan darah beliau sudah mulai turun, dan sudah mulai kontrol ke rumah sakit untuk persiapan operasi selanjutnya. Beliau memanfaatkan asuransi kesehatan BPJS, tapi untuk biaya ke rumah sakit beliau harus menyewa kendaraan, karna lokasi desa ke rumah sakit, lumayan jauh. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban ibu Hatiah, semoga bermanfaat dan menjadi jalan untuk kesembuhan beliau, amin.

Jumlah bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal: 15 September 2015
Kurir : @luchakiem @evainhere

Ibu hatiah menderita Katarak

Ibu hatiah menderita Katarak


ATEP NURJAMAN (26, Abses Mandibula). Alamat: Kp. Leuwihieum, Rt. 5/4, Kel. Sukarinduk, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Saudara Atep bekerja sebagai buruh di sebuah bengkel. Tempat ia bekerja bisa dikatakan cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sayangnya, saat ini  pekerjaannya sedikit terhambat karena ia mengindap sebuah penyakit sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya, terdapat benjolan kecil di pahanya yang mengakibatkan rasa gatal sekaligus sakit. Ia mengira benjolan tersebuat adalah bekas gigitan semut. Namun, seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut semakin membesar dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Karena rasa sakit yang tak kunjung reda, kemudian ia berobat ke Puskesmas. Bukan sekali atau dua kali ia berobat, ia sudah berkali-kali berobat ke Puskesmas, akan tetapi kondisinya belum menunjukkan tanda-tanda untuk sembuh. Tak lama, akhirnya ia segera dirujuk ke RSUD Kota Tasikmalaya. Setelah diperiksa oleh dokter yang menanganinya, pihak dokter menjelaskan bahwa ternyata ia mengindap penyakit Abses Mandibula. Karena kondisinya cukup mengkhawatirkan, akhirnya ia pun menjalani rawat inap di RSUD dan sudah 3 hari ia menjalani perawatan. Dengan keadaan tersebut, tentu ia tidak bekerja. Proses rawat inap yang ia jalani sudah dipastikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bulan April 2015, tepatnya tanggal 15, Atep kembali harus dirawat di RSUD dr. Soekardjo, kondisinya sempat ngedrop, sehingga keluarganya membawa Atep ke IGD RSUD, dan kembali harus dirawat selama beberapa hari. Bulan September 2015 Atep harus menjalani kontrol rutin seminggu sekali di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya. Untuk kelancaran pengobatannya #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan ke-3 untuk meringankan biaya perawatan Atep, setelah sebelumnya masuk d Rombongan 817. Semoga ia lekas diberikan kesembuhan oleh Allah, amiiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 2 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik @miftahudinsr

Atep menderita Abses Mandibula

Atep menderita Abses Mandibula


TEPRI SANTOSO bin SUGI MUKTI (23, Kelainan Saluran Kencing dan Lumpuh). Alamat: Kp Leuwihieum, Rt. 3/4, Kel. Sukarindik, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya. Tepri adalah putra dari pasangan Bapak Sugi Mukti (70) dan Ibu Suhernawati ( 52 ). Ia masih berusia 23 tahun, namun kesehatannya terganggu karena sudah 5 bulan ia mengindap penyakit sejenis kelainan saluran kencing. Sakit yang ia alami berawal dari seringnya meraskan sakit ketika buang air kecil. Selain itu, tubuhnya sering demam dan sakit pada bagian kaki. Melihat kondisi tersebut, kedua orang tua Tepri membawa Tepri ke Puskesmas untuk berobat. Namun, setelah menjalani rawat jalan dengan berobat satu minggu sekali selama dua bulan, penyakit yang ia idap belum juga menunjukkan perubahan positif. Bahkan, ia pun mendapat rujukan untuk melanjutkan pengobatan ke RSUD Dr. Soekardjo Tasikmalaya. Akan tetapi, saran dari pihak Puskesmas tidak segera dilanjutkan oleh Tepri dan keluarga. Hal tersebut dikarenakan kedua orangtua Tepri tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pengobatan ke RSUD. Ayah Tepri, Bapak Sugi, hanya bekeja sebagai buruh tani ⁠yang harus menafkahi 3 orang anggota keluarganya. Keluarga Tepri ini tinggal di sebuah rumah yang berukuran kecil, itupun hanya rumah sewaan yang harus dibayar setiap bulan. Tak lama, keadaan Tepri sempat kritis sehingga ia segera dibawa ke RSUD Dr. Soekardjo untuk menjalani perawatan. Hingga saat ini, Tepri telah menjalani rawat inap selama 5 hari. Alhamdulillah, jaminan kesehatan dari pemerintah daerah bisa mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan oleh kedua orang tua Tepri. Namun, tetap saja untuk biaya sehari-hari selama Tepri dirawat, Bapak Sugi masih merasa kesulitan. Maklum, selama Tepri sakit beliau tidak bekerja sama sekali, beliau menemani Tepri yang terbaring lemah di RSUD. #SedekahRombongan memberikan santunan kepada Tepri dan keluaraga agar Tepri tetap melanjutkan perawatan tanpa terhalang keterbatasan biaya yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Semoga Tepri lekas sembuh dan Allah selalu memberi kesabaran untuk keluarga Tepri.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000
Tanggal: 8 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik

Tepri menderita  Kelainan Saluran Kencing dan Lumpuh

Tepri menderita Kelainan Saluran Kencing dan Lumpuh


Joko Suryanto (44, Lumpuh Kaki), takdir Allah yang membuatnya harus tegar. Kecelakaan ketika berkendara membuatnya lumpuh seumur hidup sehingga tidak bisa lagi normal mencari nafkah. Warga Singobayan 83 RT05/01 Pakuncen Wirobrajan Jogja ini harus bertahan hidup dengan berjualan racun tikus dari pintu ke pintu. Mas Triyono difabel yang dulu pernah dibantu #SedekahRombongan mengajukan mas Joko untuk dibantu juga agar bisa bergabung dengan armada Difa Cititour yang dikelolanya. Alhamdulillah dengan sedekahmu di #SedekahRombongan akhirnya bisa membantu mas Joko punya kendaraan baru, sebuah motor matic dengan sespan yang siap mengantarkan penumpang. Semoga dalam keterbatasan mereka tetap bisa semangat melanjutkan hidup.

Jumlah Bantuan Rp. 13.500.000
Tanggal: 5 Maret 2016
Kurir: @Saptuari via Triyono

Bantuan sebuah motor matic dengan sespan

Bantuan sebuah motor matic dengan sespan


BUDI Bin NANAN (26, Kelainan Saluran Kencing). Kp. Cikupa, RT 4/3, Desa Cigunung, Kec. Parungponteng, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Budi memiliki istri bernama Bu Intan (21), pekerjaan sehari-hari sebagai buruh tani, dengan tanggungan 2 orang. Lama penyakit satu bulan,pernah berobat ke dr. Parhan, namun karena tidak ada biaya untuk pengobatan dan transport maka iya melanjutkan pengobatannya ke Puskesmas. Setelah diperiksa oleh petugas medis, Pak Budi harus dirujuk dan dirawat di RSUD dr. Soekardjo, karena peralatan yang kurang memadai. Dan ahirnya ia pun di rujuk ke RUD dr. Seokardjo Kota Tasikmalaya. Pak Budi menjalani oerasi colostomy untuk membuat saluran pembuangan sementara, dan sudah sepuluh hari dirawat inap. Pak Budi yang bekerja sebagai buruh tani ini kebingungan, karena ia harus punya bekal selama dirawat. Sedangkan penghasilannya hanya cukup untuk biaya sehari-hari, dan sekarang ia tidak dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan lagi karena sedang dirawat. Alhamdulillah, Pak Budi yang tadinya akan dibawa pulang paksa karena kehabisan bekal, dapat melanjutkan pengobatannya di rumah sakit sampai dinyatakan boleh pulang oleh dokter yang menanganinya, setelah mereka dipertemukan dengan #SedekahRombongan yang segera menyampaikan santunan untuk akomodasi sehari-hari selama Pak Budi dirawat. Bulan September 2015 Budi harus menjalani kontrol rutin 2 minggu sekali. Karena tempat tinggalnya yang cukup jauh dari RSUD dr. Soekardjo, ia harus mencarter mobil, sehingga #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk membantu biaya transportasi dan akomodasi Budi.

Jumlah bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 28 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik @miftahudinsr

Budi menderita  Kelainan Saluran Kencing

Budi menderita Kelainan Saluran Kencing


TANTI ROHYATI (33, Melahirkan) dan PUTERI YASMIN (12 hari, BBLR+Atresia Ani). Alamat: Kp. Pasantren RT 5/2 Desa Sukamahi Kec. Sukaratu, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Tanti pada kehamilan bulan ke 8, pertengahan September 2015 merasakan pusing dan perutnya mulas serta mengalami kontraksi. Tadinya ia tidak begitu menganggap hal ini sebagai hal yang serius karena ia merasa belum saatnya ia melahirkan. Namun rasa pusing dan mulas tersebut semakin lama semakin sakit, sehingga akhirnya keluarga membawanya ke Bidan terdekat. Sesampainya di tempat Bidan ia pun menjalani pemeriksaan dan Bu Tanti akhirnya dirujuk ke RSUD dr. Soekardjo karena tekanan darahnya tinggi, sehingga perlu mndapatkan pertolongan di rumah sakit yang peralatan dan tenaga medisnya lebih lengkap. Bu Tanti pun segera dibawa ke IGD RSUD dr. Soekardjo dengan bantuan ambulan dari Puskesmas. Sesampainya di RSUD , ia segera mendapatkan pertolongan pertama di IGD. Setelah kondisinya membaik, ia kemudian langsung masuk ruangan rawat inap. Besoknya dengan bantuan dokter spesialis kandungan, Bu Tanti melahirkan melalui proses persalinan normal, namun karena kondisinya lemah dan mengalami pendarahan saat melahirkan ia harus dirawat inap selama seminggu. Sementara itu bayi yang baru dilahirkannya secara prematur, yang diberi nama Puteri Yasmin, harus dirawat di ruang Neonatal karena selain BBLR (Berat Bayi Lahir Ringan) hanya 1,7 kg, ia pun menderita kelainan lahir tanpa lubang anus (atresia ani) sehingga harus menjalani pembedahan colostomy. Alhamdulillah kondisi bayi dan ibunya berangsur membaik dan diperbolehkan pulang. Masalah muncul kemudian, mereka harus membayar biaya perawatan yang cukup besar untuk ukuran mereka, karena mereka mendaftarkan perawatanya sebagai pasien umum, mereka belum memiliki fasilitas jaminan kesehatan. Di tengah kebingungan keluarga ini dipertemukan dengan #SedekahRombongan yang memahami kesulitannya, dan segera memberikan bantuan kepada keluarga yang tergolong miskin ini. #SedekahRombongan menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk melunasi biaya perawatan Puteri Yasmin, sementara untuk perawatan ibunya, Alhamdulillah bisa dibantu dengan fasilitas Jamkesda. Semoga Bu Tanti dan bayinya berlanjut sehat, amiiin.

Jumlah bantuan: Rp. 6.250.000,-
Tanggal: 30 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik

Bantuan biaya persalinan dan untuk melunasi biaya perawatan Puteri Yasmin

Bantuan biaya persalinan dan untuk melunasi biaya perawatan Puteri Yasmin


MESJID AL-BAROKAH (Pembelian Speaker dan Amplifier).  Alamat: Kp. Rancapari RT 2/4 Desa Sarimanggu, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak sebulan terakhir tidak terdengar suara adzan berkumandang dari Mesjid Al-Barokah di Kampung Rancapari Desa Sarimanggu. Hal ini disebabkan karena speaker dan amplifier di mesjid itu rusak, sehingga membuat masyarakat di sekitar mesjid sering telat untuk shalat berjamaah, karena panggilan adzan tidak dapat mereka dengar, apalagi lokasi rumah masyarakat di sekitar situ cukup renggang dan berjauhan. Masyarakat sekitar mesjid kebanyakan berprofesi sebagai buruh tani yang kesehariannya dihabiskan untuk bekerja di sawah dan kebun, penghasilan mereka hanya cukup utuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun demikian, sebelum ini mereka bergotong-royong merenovasi mesjid tersebut dengan biaya hasil swadaya masyarakat sekitar, namun dana DKM saat ini sudah habis, sehingga belum bisa membeli speaker dan amplifiernya. Atas inisiatif Ketua DKM Al-Barokah, mereka meminta bantuan kepada #SedekahRombongan untuk biaya pembelian amplifier dan speaker mesjid tersebut. #SedekahRombongan menyampaikan bantuan untuk biaya pembelian perangkat yang dibutuhkan, sehingga saat ini dari mesjid Al-barokah sudah dapat terdengar lagi kumandang adzan di setiap waktu shalat tiba. Alhamdulillah, semoga bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan berkah melimpah bagi para sedekaholic #SR. Ketua DKM dan masyarakat sekitar meyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada #SedekahRombongan atas bantuan yang sudah mereka terima. Do’a untuk kebaikan para Kurir dan Sedekaholic #SR mengalir dari para jemaah msjid tersebut, juga pada saat diadakan pengajian di mesjid Al-Barokah tersebut.

Jumlah bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 13 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik Obet Pond

Pembelian Speaker dan Amplifier

Pembelian Speaker dan Amplifier


YOGI TRIYANDI (24 thn, Gagal Ginjal), Kp Boregah RT 1/4 Desa Cilampunghilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. Yogi adalah seorang buruh yang bekerja di sebuah bengkel genset di Jakarta. ia baru saja menikah selama seminggu ketika kondisi kesehatannya tiba-tiba memburuk. Selayaknya pengantin baru, pasangan ini hampir tidak sempat mengecap indahnya berbulan madu, karena Yogi harus segera dirawat di rumah sakit. Ibu Yogi, Bu Nendah sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu setelah mengidap penyakit kanker. Tanggal 3 September Yogi dilarikan ke RS Jasa Kartini dalam keadaan koma. Alhamdulillah ia masih bisa tertolong dan sempat dirawat di sana selama 8 hari. Karena kondisi ginjalnya sudah parah, kemudian ia dirujuk ke RSHS Bandung, ia dirawat selama 5 hari di Rumah Sakit tersebut. Di sana ia mendapatkan pemeriksaan di bagian Kedokteran Nuklir, dan hasilnya ia diharuskan untuk menjalani cuci darah dua kali setiap minggu, yaitu hari Senin dan Kamis. Yogi sempat terlambat menjalani jadwal cuci darah karena penuhnya ruangan di RSUD Dr. Soejardjo Tasikmalaya, sehingga kondisinya sempat memuruk. Untunglah atas ijin Allah, setelah mendatangi hampir semua RS di Tasikmalaya, pada tanggal 17 September, Kami dapat membawanya ke RS TMC yang masih memiliki tempat kosong untuk menjalani cuci darah. Di RS TMC ini Yogi dirawat selama 4 hari 3 malam untuk memulihkan kondisinya yang sempat ngedrop. Saat ini Yogi masih melanjutkan pemeriksaan di RSHS Bandung sambil menjalani cuci darah rutin seminggu 2 kali di Tasikmalaya. Yogi diharuskan untuk menjalani pemasangan alat yang ditanam di tangan kirinya di Yayasan Habibie yang berlokasi di Bandung untuk mempermudah cuci darah yang harus ia jalani seminggu dua kali. Hari Rabu tanggal 15 Oktober 2014 Kami mengantar Dik Yogi ke Yayasan Habibie di jl.Tubagus Ismail Bandung, dan mendampinginya selama 2 hari di sana. Tanggal 12 September 2015 setelah menjalani cuci darah dan diperbolehkan pulang, baru saja sampai tempat parkiran RS TMC, kondisi Yogi memburuk, sehingga ia langsung dilarkan ke IGD RS TMC. Ia harus dirawat di RS tersebut selama 3 hari  sampai kondisinya mulai membaik. Karena dalam satu hari terdaftar sbg pasien BPJS di tempat yang sama, maka untuk yang kedua, pihak RS TMC tidak bisa menggunakan kartu BPJS, sehingga harus daftar sebagai pasien Umum. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk melunasi biaya perawatan Yogi selama menjalani perawatan di RS TMC setelah santunan sebelumnya masuk di Rombongan 624.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.750.000,-
Tanggal : 15 September 2015.
Kurir : @luchakiem

Yogi menderita Gagal Ginjal

Yogi menderita Gagal Ginjal


ROHBIAH binti SARBINI (51, Kanker Rahim). Alamat: Dusun Sorok RT 26/1, Desa Darmacaang, Kec. Cikoneng, Kab. Ciamis, Jaw Barat. Bu Rohbiah adalah istri dari Pak Maman (55) seorang buruh tani yang memiliki tanggungan 4 orang anak. Bu Rohbiah sudah lama menderita tumor rahim, namun ia tidak bisa menjalani pengobatan secara medis karena ketiadaan biaya. Ia hanya mencoba berobat dengan pengobatan tradisional, itu pun hanya mengandalkan info dari orang lain, yang menyarankan untuk mencoba diobati dengan daun-daunan dan obat herbal yang mampu suaminya beli. Lama kelamaan ternyata penyakit Bu Rohbiah malah bertambah parah, ia sering merasa kesakitan di bagian perutnya dan perutnya semakin membesar. Akhirnya setelah membuat kartu BPJS, Bu Rohbiah mencoba berobat ke Puskesmas, yang kemudian merujuknya ke RSUD Ciamis, karena kondisi kankernya sudah stadium tinggi. RSUD kemudian merujuk Bu Rohbiah ke RSHS Bandung, sehingga keluarga kebingungan karena mereka tidak memiliki biaya untuk berangkat ke Bandung, belum biaya sehari-hari selama mereka di sana. Alhamdulillah atas info dari pasien lain yang pernah dibantu SR, mereka dipertemukan dengan #SedekahRombongan yang segera menmpai Bu Rohbiah di rumahnya. Setelah surat rujukan diurus, Bu Rohbiah pun diantar dengan MTSR ke RSHS Bandung. Seminggu di RSSR, saat menjalani pemeriksaan awal, Bu Rohbiah dipanggil oleh Yang Mahakuasa, beliau meninggal saat sedang berjuang untuk kesembuhan penyakitnya, insya Allah beliau syahidah. Jenasah Bu Rohbiah diantarkan Kami sampai ke rumahnya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk biaya transportasi, biaya akomodasi sehari-hari selama beliau menjalani pemeriksaan di Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 15 September 2015
Kurir : @luchakiem, @adesrtasik,  @miftahudinsr, Reza Alba

Rohbiah menderita Kanker Rahim

Rohbiah menderita Kanker Rahim


DADANG RAHMAT (29, Kaki Gajah). Alamat: Kp. Pangadangan RT 7/2 Desa Cibalanarik Kecamatan Tanjungjawa Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dadang saat ini hidup menumpang di rumah orang tuanya, sejak ditinggalkan oleh istrinya yang sudah menikah lagi dengan pria lain. Istrinya tidak tahan hidup dengannya, karena selain Dadang menderita penyakit kaki gajah, juga kesulitan ekonomi yang mereka alami, maklum lah sejak Dadang menderita penyakit ini, mobilisasinya jadi terhambat. Ia hanya dapat tinggal di rumah, kadang menjahit sambil memlihara ayam, dengan penghasilan yang tidak seberapa. Penyakit Dadang memang sudah dinyatakan sembuh dari cacing filariasis, namun bekas penyakit tersebut yang menimbulkan kakinya bengkak, tidak kunjung hilang. Dadang hampir putus asa, berbagai upaya pengobatan sudah ia jalani, mulai dari medis ke dokter puskesmas/rumah sakit, maupun pengobatan alternatif. Tak sedikit biaya yang sudah ia keluarkan, harta bendanya pun satu per satu ia jual demi mengupayakan kesembuhannya, namun belum mendapatkan hasil yang menggembirakan. Akhirnya ia dipertemukan dengan #SedekahRombongan, sehingga semangatnya untuk berobat yang tadinya sudah hampir hilang, kembali muncul. #SedekahRombongan menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk pengurusan BPJS, transportasi dan akomodasi pemerikasaan awal Dadang ke Puskesmas dan RSUD. Bulan September Dadang mulai menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung, ia mendapatkan rujukan untuk menjalani pemeriksaan di sana. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk kelancaran pengobatan lanjutan Dadang di RSHS Bandung, setelah sebelumnya masuk di Rombngan 813. Semoga ikhtiar Dadang mendapatkan hasil yang menggembirakan. Dadang sudah siap menghadapi resiko apa pun demi kesembuhan penyakitnya.

Jumlah Bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 2 September 2015
Kurir: @luchakiem Rahmat Muzacky @miftahudinsr

Pak dadang menderita Kaki Gajah

Pak dadang menderita Kaki Gajah


ETI binti SUKARYA (40, CA Mammae), Kampung Cikembang RT 2/1, Desa Wargakerta, Kecamatan. Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Eti yang berstatus janda cerai mati dengan tanggungan 3 orang ini sudah bertahun-tahun menderita penyakit yang sangat ditakut kaum perempuan ini. Namun ia menutup rapat-rapat keadaannya ini, sampai-sampai keluarga dan saudara-saudaranya pu banyak yang tidak tahu kalau ia menderita penyakit yang cukup ganas ini. Setelah ia merasa tidak kuat lagi merasakan penyakitnya, karena ia kerap merasakan sakit yang amat sangat sampai sering ia tidak dapat tidur, akhirnya ia berterus terang bahwa ia menderita kanker payudara. Melihat kondisi penyakitnya yang sudah parah, saudara Bu Eti segera menginformasikannya kepa Kepala Desa setempat. Pak Asep Kepala Desa Wargakerta mengontak Kurir #SR untuk meminta bantuan agar #SR dapat membantu pengobatan Bu Eti karena selain seorang janda, Bu Eti berasal dari keluarga yang kurang mampu. Pak Kepala Desa membantu dengan membuatkan fasilitas Jamkesda dari PemKab Tasikmalaya, bahkan ia pun mengantar Bu Eti ke RSHS Bandung, karena rupanya RSUD Kabupaten maupun Kota Tasikmalaya tidak bisa menangani penyakit Bu Eti yang diperkirakan sudah mencapai stadium 3 dan merujuknya ke RSHS Bandung. Bu Eti tinggal sementara di RSSR Bandung selama menjalani rangkaian pemeriksaan sebelum dlakukan tindakan medis lebih lanjut untuk pengobatan penyakitnya. Sampai saat ini Bu Eti sudah 2 kali pulang pergi ke Bandung untuk menjalani pemeriksaan di RSHS dan didampingi sepenuhnya oleh Kurir #SR. Bu Eti masih menunggu hasil PA yang telah dilakukannya di RSHS Bandung. Untuk menjaga kondisinya, Bu Eti mengkonsumsi obat-obatan herbal sambil menunggu penatalaksanaan medis lanjutan di RSHS Bandung. Tanggal 29 Desember 2014 Bu Eti kembali berangkat ke RSHS untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dan konsultasi hasil PA, untuk sementara sekarang ia tinggal di RSSR Bandung. Di bulan Januari 2015 Bu Eti sudah 2 kali pulang pergi dari Tasikmalaya ke RSHS Bandung untuk menjalani kemoterapi. Untuk tetap menjaga kondisi kebugaran tubuhnya selama menjalani kemoterapi, Bu Eti juga mengkonsumsi obat-obatan herbal. Saat jadwal kemoterapi bulan Februari 2015 ternyata HB Bu Eti kurang, sehingga dirujuk balik ke RSUD Kab Tasikmalaya untukmenjalani transfusi. Setelah HB-nya cukup Bu Eti akan kembali menjalani kemoterapi lanjutan di RSHS.  Tanggal 2 Maret 2015 Bu Eti kembali menjalani jadwal kemoterapi di RSHS Bandung. Bulan April 2015 Bu Eti menjalani kemoterapi dan kontrol ke RSHS Bandung. Bu Eti untuk Bulan Mei 2015 kembali menjalani kemo dan kontrol rutin 2 minggu sekali ke RSHS Bandung. Bulan Juni 2015 Bu Eti menalani jadwal kemoterapi 2 kali di RSHS Bandung. Bu Eti masih menjalani terapi lanjutan di RSHS Bandung selama bulan Juli 2015. Perkembangan penyakitnya cukup menggembirakan, lukanya sekarang keliatan sudah mulai mengering. Bu Eti masih harus menjalani kontrol di RSHS Bandung selam bulan September 2015. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk pembelian obat-obatan dan suntik vitamin, transportasi serta biaya sehari-hari selama Bu Eti menjalani kemoterapi di RSHS Bandung untuk bulan September 2015, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 14 September 2015
Kurir : @luchakiem

Ibu eti menderita CA Mammae

Ibu eti menderita CA Mammae


IMAS KARTINI (28 thn, Anemia Hemolitik), Kp. Cigadog RT 4/1 Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Imas, stri dari Pak Diki Permadi (38) seorang tukang jualan cilok (sejenis makanan kecil terbuat dari tepung kanji) ini sudah menjalani proses pengobatan yang cukup panjang, sejak dari Puskesmas, RSUD Kabupaten Tasikmalaya, RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, dan terakhir dirujuk ke RSHS Bandung. Awalnya tanggal 1 Oktober Bu Imas mengalami sakit keras yang mengakibatkan tubuhnya lemas dan beberapa kali mengalami pingsan. Pak Diki yang memiliki 4 orang anak yang masih kecil-kecil ini, segera membawanya berobat ke Puskesmas terdekat. Semula dokter mendiagnosa Bu Imas hanya menderita penyakit maag dan memberinya obat maag sirup. Tanggal 9 Oktober Bu Imas kembali berobat ke dokter, kali ini menurut dokter ia menderita kolik, hepatitis, dan penyakit lambung, dan ia pun diberi beberapa jenis obat yang harus diminum setiap hari dan diharuskan menjalani rawat jalan untuk memantau perkembangan penyakitnya. Karena perkembangan penyakitnya belum kunjung membaik, tanggal  12 Oktober Bu Imas dirujuk ke RSUD Kabupaten Tasikmalaya, karena HB-nya menurun drastis, sampai 4,3. Ia kemudian dirawat inap selama 7 hari dan di sana ia diberi terapi pengobatan dengan beberapa jenis obat, infus, kemudian menjalani pemeriksaan rontgen dan tes darah sampai tgl 18 Oktober 2014. Karena kehabisan bekal, Pak Diki membawa Bu Imas pulang paksa untuk menjalani perawatan di rumah, meskipun Bu Imas dirujuk ke RSHS Bandung dengan diagnosa Suspect AIHA. Salah seorang kepala perawat di RSUD Kabupaten Tasikmalaya menyarankan Pak Diki untuk menemui Kurir #SedekahRombongan agar mendapat bantuan untuk melanjutkan pengobatan Bu Imas ke RSHS Bandung. Ketika Kami menemi Bu Imas, di rumahnya, kondisinya sudah sangat lemas sehingga atas ijin keluarganya segera mengevakuasinya ke RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Tanggal 24 Oktober Bu Imas masuk ke IGD RSUD Kota Tasikmalaya, kemudian diberi terapi pengobatan dan alhamdulillah HB-nya naik menjadi 5,9. Selanjutnya Bu Imas dirawat selama 7 hari dan menjalani pengobatan dengan suntikan, infus dan obat-obatan. Alhamdulillah kondisinya mulai membaik, HB-nya naik sampai 7.  Menurut pihak RSUD Dr. Soekardjo, Bu Imas harus mendapatkan transfusi darah jenis WRC (Washed Red Cell) yang pemrosesannya belum bisa dilakukan di PMI Tasikmalaya, sehingga tranfusi darah tidak bisa dilakukan di Tasikmalaya. Kemudian Bu Imas dirujuk ke RSHS Bandung dengan diagnosa Anemia Hemolitik. Pada tanggal 30 Oktober 2014 pukul 21.30 dengan didampingi oleh dua orang perawat dari RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Kami mengantarnya ke RSHS Bandung dengan MTSR untuk selanjutnya ia akan menjalani perawatan di RS tersebut. Pasca menjalani perawatan selama satu minggu di RSHS Bandung, dimana ia menjalani rangkaian pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan sample dari sumsum tulang belakang, dan transfusi WRC golongan darah O+ sebanyak 3 labu, tanggal 5 Nopember 2014 Bu Imas diperbolehkan pulang dengan HB terakhir 9,8. Rabu 12 Nopember Bu Imas dijadwalkan untuk kontrol lagi ke RSHS Bandung. Hari Selasa 25 Nopember 2014 Bu Imas kembali berangkat ke RSHS untuk menjalani jadwal kontrol. Alhamdulillah kondisinya membaik dan HB-nya terakhir tercatat 12,2. Meskipun demikian ia tetap harus menjalani kontrol 2 minggu mendatang untuk mengobservasi perkembangan kesehatannya. Hari Rabu tanggal 10 Desember 2014 Bu Imas kembali menjalani kontrol rutin dwi mingguan di RSHS Bandung. Sehari sebelumnya dengan MTSR Kami mengantar Bu Imas ke RSSR Bandung. Hasil pemeriksaan terhadap perkembangan kesehatan Bu Imas dinilai tim dokter sangat bagus, HB terakhir adalah 13,2 sehingga kontrol selanjutnya dijadwalkan tidak dwi mingguan lagi tetapi setiap bulan. Tanggal 5 Januari 2015 Bu Imas kembali menjalani kontrol rutin ke RSHS. Kali ini kondisinya kurang bagus, sehingga ia harus tinggal beberapa hari di Rumah Singgah SR untuk menjalani beberapa pemeriksaan dan harus kembali ke RSHS tanggal 19 Januari.  Untuk mendukung pengobatan medis dan menjaga kondisinya selain mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter, Bu Imas juga mengkonsumsi obat-obatan herbal. Bu Imas bulan Februari menjalani 2 kali kontrol rutin ke RSHS Bandung, jika HB-nya turun ia akan menjalani transfusi darah tipe WRC (Washed Red Cell) di RSHS, karena di UTD PMI Tasikmalaya belum bisa. Bulan April 2015 Bu Imas seminggu 2 kali harus menjalani kontrol ke RSHS Bandung. Alhamdulillah bulan Mei 2015 Bu Imas kondisinya cukup menggembirakan sehingga ia bisa menjalani kontrol rutin ke RSHS dengan lancar, namun ia disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi untuk menjaga HB-nya agar tetap stabil. Kondisi Bu Imas masih belum stabil di bulan Juni 2015, HB-nya kadang bagus tapi lebih sering ngedrop sehingga ia harus kembali ke RSHS Bandung setiap 2 minggu sekali untuk menjalani transfusi darah. Bu Imas masih sering mengalami kondisi kesehatan yang menurun, sehingga pada bulan September ia harus dua kali menjalani transfusi darah di RSHS Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk biaya transportasi, pembelian obat-obatan, asupan gizi, dan biaya sehari-hari selama Bu Imas menjalani perawatan di RSHS Bandung, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824.

Jumlah Bantuan : Rp 1.500.000,-
Tanggal : 14 September 2015
Kurir : @luchakiem @miftahudinsr

Ibu imas menderita Anemia Hemolitik

Ibu imas menderita Anemia Hemolitik


NAURA SALSABILA binti MAIN HERMAIN (8, Acute Lymphoblastic Leukaemia). Alamat: Kp. Pasar Rebo, Rt. 4/6, Kel. Indihiang, Kec. Indihiang, Kota Tasikmalaya. Naura adalah putri dari pasangan suami istri Bapak Main Hermain (48) dan Ibu Yanti Nurmayanti (46). Naura menderita penyakit Acute Lymphoblastic Leukeumia (ALL) atau Lekeumia Limfositik Akut (LLA) sejak berumur 1 tahun. Leukeumia Limfositik Akut (LLA) merupakan penyakit yang sering menyerang anak-anak. Secara umum, LLA adalah suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit dan berubah menjadi ganas. Kemudian, dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. Naura yang kini berusia 8 tahun ini sudah 7 tahun menderita penyakit LLA dengan gejala tubuh sering lemas, wajah terlihat pucat dan sering demam. Kedua orang tua Naura sudah melakukan pengobatan terbaik sesuai kemampuan keduanya. Naura sudah melakukan pengobatan dari mulai berobat ke klinik terdekat, Puskesmas, hingga berkali-kali harus menjalani rawat inap di RSUD Dr. Soekarjdo Kota Tasikmalaya. Berdasarkan anjuran dari pihak RSUD, Naura harus melanjutkan pengobatannya ke Bandung. Namun, tidak adanya biaya yang dimiliki oleh kedua orang tua Naura membuat Naura tidak segera melanjutkan pengobatan ke Bandung. Ayah Naura hanya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan pas-pasan untuk membiayai 5 orang anggota keluarga. Pengobatan ke Bandung memerlukan biaya yang lumayan besar untuk biaya transportasi, akomodasi, dan keperluan lain-lain selama di Bandung. Bulan Mei 2015 Naura menjalani jadwal kemoterapi lanjutannya di RSHS Bandung. Bulan September Naura menjalani kemoterapi 2 minggu sekali di Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan kepada Naura agar ia bisa melanjutkan pengobatan kemoterapinya, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 821. Semoga kesabaran selalu Allah berikan kepada Naura sekeluarga dan semoga Allah lekas memberikan kesembuhan untuk Naura. Aamiin.

Jumlah Santunan: Rp. 1.000.000
Tanggal: 3 September 2015
Kurir: @luchakiem @miftahudinsr

Naura menderita Acute Lymphoblastic Leukaemia

Naura menderita Acute Lymphoblastic Leukaemia


AISYAH binti YAYAT SUPRIATNA (21, Thalasemia). Alamat: Kp. Sindanggalih RT 12/05, Sukaratu, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak delapan belas tahun yang lalu, Aisyah sudah mengidap Thalasemia ketika ia masih berusia tiga tahun. Awalnya tubuhnya terlihat kekuning-kuningan kemudian orangtuanya mulai khawatir dengan keadaan Aisyah dan membawanya ke Puskesmas terdekat. Setelah berobat jalan setiap satu minggu sekali selama empat tahun namun tidak ada perubahan yang signifikan. Kemudian Aisyah dirujuk ke RSUD Tasikmalaya karena minimnya peralatan medis di Puskesmas dan kemudian menjalani pengobatan di RSUD Tasikmalaya. Setelah beberapa kali berobat jalan ternyata Aisyah divonis mengidap penyakit Thalasemia dan harus ditransfusi darah tetapi  harus dirujuk ke RSHS  Bandung. Ketika berobat jalan di RSHS, pengobatan Aisyah sering terbengkalai terbentur masalah biaya karena kondisi keluarga Aisyah yang memprihatinkan sehingga sampai sekarang kondisi Aisyah belum membaik. Ayah Aisyah, Yayat Supriatna (49), adalah seorang buruh serabutan dan ibunya, Lisnawati (41) adalah seorang ibu rumah tangga. Meskipun keluarganya punya BPJS, tetapi mereka terbebani perbekalan sehari-hari ketika berobat jalan di RSHS. Ketika #SedekahRombongan mengunjungi kediaman Aisyah, keluarganya mengungkapkan kegembirannya atas bantuan yang disalurkan untuk bantuan pengobatan Aisyah. Bulan Mei 2015 Aisyah kembali menjalani jadwal transfusi di RSHS Bandung. Bulan Juni 2015 Aisyah kembali menjalani transfusi darah di RSHS Bandung. Bulan September, Aisyah kembali menjalani transfusi darah di RSHS Bandung dan #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk transportasi dan akomodasi Aisyah ke RSHS, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824. Semoga Aisyah segera dapat melanjutkan pengobatannya dan  diberi kesembuhan agar bisa menjalani hari-harinya dengan senyum keceriaan.

Jumlah bantuan: Rp 750.000,-
Tanggal: 13 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik

Aisyah menderita Thalasemia

Aisyah menderita Thalasemia


FAIRUS SAFANA binti HIDAYATULLAH (2, Hidrosefalus, TB Paru). Alamat: Kp. Talaga RT 01/08, Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ketika dilahirkan, keadaan fisik Fairus sudah terlihat tidak normal. Kepalanya yang membesar tidak seperti bayi kebanyakan. Orangtuanya sudah membawanya ke puskesmas sampai ke rumah sakit untuk ditangani. Berkali-kali keluar masuk rumah sakit hingga berobat jalan selama lima bulan pernah Fairus jalani. Namun, sampai sekarang keadaannya masih memprihatinkan karena tidak ada perubahan yang menggembirakan. Orangtua Fairus, Hidayatullah (47) dan Irmawati (36) sudah berusaha mengobati buah hatinya ini sesuai dengan kemampuannya, tapi kemampuan perekonomian mereka sangat terbatas, mengingat Hidayatullah hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Sebenarnya mereka mempunyai jaminan kesehatan Jamkesda, tapi mereka mempunyai tujuh anak yang harus dibiayai dan mereka membutuhkan biaya tambahan untuk bekal selama berobat di rumah sakit. Sehingga ketika menerima bantuan dari #SedekahRombongan yang berasal dari donasi para sedekaholic, mereka mengungkapkan kelegaannya karena bisa melanjutkan pengobatan Fairus yang diperkirakan oleh dokter akan memakan waktu yang lama, mengingat Fairus menderita beberapa penyakit komplikasi yang cukup berat. Bulan April 2015 Fairus diduga menderita hernia, namun yang akan didahulukan adalah pengobatan TB Parunya dulu, serta terapi yang harus ia jalani di klinik swasta. Fairus bulan Mei 2015 masih menjalani terapi rutin TB Paru dan terapi gerak utuk melatih syaraf motoriknya di klinik swasta. Santunan disampaikan kembali untuk biaya terapi dan pengobatan Fairus selama bulan Mei 2015. Fairus selama bulan September 2015 kembali menjalani pengobatan TB Paru dan terapi rutin setiap 2 minggu sekali di RSUD dr. Soekardjo dan klinik Syifa Medina Tasikmalaya, santunan kembali disampaikan setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824. Semoga Fairus dapat segera sembuh dan merasakan kegembiraan seperti anak-anak yang lainnya, amiin.

Jumlah bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 9 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik

Fairus menderita Hidrosefalus, TB Paru

Fairus menderita Hidrosefalus, TB Paru


KHOERUNNISA ASWANDA (1 thn, Hirschprung Desease).  Jl. Cipedes 1 RT 3/1 Kelurahan Cipedes Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Buah hati dari Ibu Yuli, seorang single parent yang sehari-hari bekerja sebagai staf di sebuah TPA ini, dari semenjak bayi sering sakit-sakitan. Sang bayi kerap menangis dan susah BAB, sehingga perutnya membesar. Bu Yuli membawa Khoerunnisa ke Bidan, lalu bidan langsung merujuknya ke RSUD karena diperkirakan bayinya menderita kelainan saluran pencernaan.  Akhirnya Khoerunnisa menjalani operasi pemindahan lobang pembuangan sementara (colostomy) di RSUD dr. Soekardjo, karena hasil pemeriksaan dokter menunjukkan ia menderita Hirschprung Desease.  Awalnya Bu Yuli masih mendapatkan fasilitas jaminan kesehatan BPJS dari mantan suaminya, namun setelah berpisah ia dan bayinya tidak dapat lagi menerima manfaat BPJS karena sudah dicabut keanggotaannya/tidak dilanjutkan. Untuk pengobatan selanjutnya, Khoerunnisa dirujuk ke RSHS Bandung, karena operasi pertama bertujuan hanya sebagai tindakan medis sementara agar Khoerunnisa tidak kesulitan BAB. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban Bu Yuli, yang dipergunakan untuk biaya pembuatan BPJS dan transportasi serta akomodasi sehari-hari selama Khoerunnisa menjalani pengobatan di RSHS Bandung. Bulan Juni 2015 Khoerunnisa kembali menjalani 2 kali jadwal kontrol dan observasi di RSHS Bandung. Bulan September 2015 Khoerunnisa menjalani observasi lanjutan untuk persiapan operasinya sebanyak 2 kali, dan #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk mendukung kelancaran pengobatannya, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824. Semoga Khoerunnisa dapat menjalani pengobatan lanjutannya dengan lancar dan segera sembuh, amin.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 22 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik @miftahudinsr

Khoerunisa menderita Hirschprung Desease

Khoerunisa menderita Hirschprung Desease


DARSIH binti SAPE’I (60, CA Endometrium) Kp. Rancapaku RT 2/3 Desa Rancapaku Kccamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Mak Darsih, begitu ia biasa dipanggil, tinggal menumpang di rumah anaknya, Bu Imas (53) yang sehari-harinya tidak memiliki pekerjaan tetap. Pak Mamat, menantunya hanya sesekali datang ke rumah itu karena sudah memiliki istri muda. Sementara anaknya ia dan Bu Imas tinggal bersama 3 orang cucu Mak Darsih, 2 orang masih usia sekolah, sedangkan yang sudah dewasa, Yanti, mengalami gangguan jiwa. Kondisi keluarga pra sejahtera ini sangat mengkhawatirkan, tidak terlihat banyak perabotan rumah tangga di rumahnya. Rumah itu pun merupakan hasil jerih payah Bu Imas yang dulu pernah bekerja di Arab Saudi. Karena tidak ada dari anggota keluarganya yang bisa mencari nafkah, sementara Pak Mamat pun hanya sesekali saja memberikan nafkah bagi keluarganya, itu pun hanya cukup dipergunakan untuk keperluan sekolah cucu Mak Darsih, sehingga memaksa Bu Imas kadang-kadang harus mencari nafkah dengan menjadi pengemis di lampu merah di Kota Tasikmalaya. Keadaan ekonomi yang sulit, harus ditambah lagi dengan kondisi kesehatan Mak Darsih yang akhir-akhir ini sering merasakan sakit di bagian perutnya, sehingga kerap kai harus bolak-balik ke Puskesmas atau memanggil mantri Kesehatan yang tinggal tak jauh dari rumah mereka. Pihak Pskesmas sudah menyarankan untuk memeriksakan kondisi Mak Darsih ke Rumah Sakit, namun karena khawatir harus mengeluarkan biaya yang besar, mereka belum dapat melakukannya. AKhirnya dengan dibantu oleh kepala desa setempat, Mak Darsih berhasil mendapatkan jaminas kesehatan daerah dari PemKab Tasikmalaya. Setelah dibawa ke RSUD SMC, Mak Darsih langsung dirujuk ke RSHS karena diperkirakan menderita penyakit kanker yang stadiumnya sudah cukup parah. Atas informasi dari Kepala Desa setempat, #SedekahRombongan dapat bersilaturahim dengan Mak Darsih dan keluarganya, dan mulai bulan April 2015, beliau menjadi pasien dampingan SR, meskipun dala untuk memastikan tindakanm proses pengobatannya Mak Darsih sering tidak ada dari pihak keluarga yang mendampinginya, sehingga harus didampingi Kurir SR. Mak Darsih menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan medis selama di RSHS untuk dapat menentukan tindakan medis selanjutnya, selama sebulan beliau berada di RSSR Bandung. Bulan Juni 2015 Mak Darsih mulai kembali observasi di RSHS Bandung, setelah akhir Mei yang lalu kembali ke Tasikmalaya. Bulan September 2015, Bu Darsih menjalani Radioterapi dalam di RSHS Bandung. #SedekahRombongan kembali memberikan santunan  transportasi, dan akomodasi bekal sehari-hari selama Mak Darsih menjalani radioterapii di RSHS Bandung setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824.  Semoga ikhtiar pengobatan Mak Darsih dimudahlancarkan Allah SWT, amiin.

Jumlah Bantuan: Rp 1.500.000,-
Tanggal: 9 September 2015
Kurir: @luchakiem @MiftahudinSR Reza Alba

Ibu darsih menderita CA Endometrium

Ibu darsih menderita CA Endometrium


NUNUNG binti MUNIR (37, Kanker Payudara). Alamat: Kp. Leuwihieum, RT 4/4, Kel.Sukarindik, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Nunung berasal dari keluarga yang sederhana. Ia merasakan ada benjolan di payudaranya sejak sekitar 8 bulan yang lalu, namun karena kekurangtahuan dan kekhawatiran harus mengeluarkan baya yang besar, ia pun belum memeriksakannya ke dokter. Benjolan yang asalnya kecil lama kelamaan bertambah besar dan sering terasa sakit. Barulah setelah ia merasa tidak kuat lagi karena sering kesakitan, ia menceriterakan keadaannya kepada seorang bidan yang tinggal tidak begitu jauh dari rumahnya. Kemudian ia disrankan untuk memeriksakannya ke dokter Puskesmas, namun karena khawatir harus mengeluarkan biaya yang besar, kembali Bu Nunung mengurungkan niatnya. Alhamdulillah Allah mempertemukan Bu Nunung dengan #SedekahRombongan yang memahami kesulitannya. Dengan berbekal surat Keterangan Tidak Mampu dari RT,RW dan Kelurahan, Kurir SR segera membantu membuatkan Jamkesda melaui Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dan alhamdulillah 2 hari kemudian selesai. Bu Nunung pun mulai pemeriksaan penyakitnya secara berjenjang mulai dari Puskesmas, yang kemudian merujuknya ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Setelah dokter RSUD melakukan observasi selama kurang lebih seminggu, dokter menyarankan Bu Nunung untuk menjalani operasi pengangkatan payudara. Awalnya Bu Nunung merasa shock medengar saran dokter ini, namun setelah mendapatkan penjelasan dari dokter akhirnya ia bersedia untuk menjalani operasi pada tanggal 14 April 2015. Bulan Mei 2015 Bu Nunung memulai pengobatan lanjutannya di RSHS Bandung pasca menjalani operasi di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya. Bulan Juni 2015 Bu Nunung menjalani rangkaian pemeriksaan di RSHS Bandung untuk menentukan terapi lanjutan penyakit kanker payudara yang dideritanya. Bulan September 2015, Bu Nunung mulai menjalani kemoterapi di RSHS Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk biaya transportasi, dan akomodasi selama Bu Nunung menjalani pengobatan lanjutan di RSHS Bandung setelah sebelumnya masuk di Rombongan 824. Semoga Bu Nunung cepat pulih dan bisa beraktifitas lagi seperti semula, amiin.

Jumlah Bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 9 September 2015
Kurir: @luchakiem @AdeSRTasik @MiftahudinSR

Ibu nunung menderita Kanker Payudara

Ibu nunung menderita Kanker Payudara


MTSR TASIKMALAYA (B1495SU, Operasional+Maintenance). Mulai Bulan Mei tahun 2014, #SedekahRombongan area Tasikmalaya memiliki Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR). Area operasional MTSR Tasikmalaya mencakup Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Garut, Kabupaten Pangandaran, dan juga mengantar pasien yang dirujuk ke RSUP Hasan Sadikin Bandung. Bulan Juli 2014 MTSR Tasikmalaya melakukan servis besar di Layanan Servis Resmi Suzuki. Awal September kembali masuk bengkel untuk service kakai-kaki, ganti shockbreaker depan, per belakang, sekaligus ganti oli, filter oli, dan penggantian vanbelt. Selain untuk biaya pemeliharaan MTSR melalui servis rutin, biaya pemeliharaan juga dipergunakan untuk membeli sebuah ban karena ban cadangan sudah rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi. Pada tanggal 3 November 2014 MTSR Tasikmalaya mengalami kerusakan pada perseneling pada saat sedang dalam perjalanan menjemput pasien ke RSSR Bandung. Selain itu MTSR Tasikmalaya juga sedikit bermasalah pada bagian stir-nya. Mengingat frekuensi penggunaan MTSR Tasikmalaya yang tinggi karena harus bisa menghandle pasien-pasien baik di area Priangan Timur, dan agar kondisi mobil tetap prima, #SedekahRombongan kembali memberikan bantuan untuk biaya service MTSR Tasikmalaya. Bulan Januari 2015 MTSR Tasikmalaya kembali melakukan service kaki-kaki dan penggantian satu set ban yang sudah mulai menipis agar dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pasien dan pengemudi. Bulan Februari 2015 MTSR Tasikmalaya melakukan penggantian satu set kopling,  per belakang, dan pembelian Accu. Frekuensi penggunaan MTSR semakin tinggi, seiring dengan semakin dikenalnya kiprah #SedekahRombongan di wilayah Priangan Raya, sehingga untuk mendukung kelancaran operasional MTSR Bulan September 2015, kembali titipan #SahabatSR dipergunakan untuk biaya operasional, service rutin, ganti oli, berikut ongkos pengerjaannya selama bulan September 2015.

Jumlah Bantuan: Rp 3.500.000,-
Tanggal : 30 September 2015
Kurir : @luchakiem @miftahudinsr Reza Alba, Qiner

Biaya Operasional+Maintenance

Biaya Operasional+Maintenance


AHMAD JALLALUDIN (1,5, Luka  Bakar) Anak ke-3 dari Pak ASNANI BIN SAHUDI(41) dan Ibu MUJIATI binti TAIB (35) yang beralamat di Jl. Tunggu Raya RT.01/09 Meteseh, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Sehari-hari Pak Asnani bekerja sebagai penjual bensin eceran dan tukang tambal ban sedangkan sang Ibu berjualan gorengan di warung yang sama di Jl. Tunggu Raya menumpang ditempat usaha milik saudara dengan ukuran kurang lebih 5×4 m. Ditempat ini terjadi musibah yang membuat Dik Ahmad meninggal dunia. Pada waktu sekitar jam 11 siang sehabis membeli bensin 30 Liter untuk dijual kembali, seperti biasa Bu Mujiati menakari bensin literan di dalam warung dan ditemani Dik Ahmad dan Pak Asnani sedang melayani penambalan ban. Kemudian hal yang tak disangka terjadi serta kejadiannya begitu cepat sehingga tidak dapat dihindari. Kemungkinan Dik Ahmad tidak sengaja menendang botol bensin literan itu  kemudian mengenai api yang digunakan untuk menambal ban Pak Asnani. Saat itu juga terjadi kebakaran pada warung mereka. Api menjalar dengan cepat sekali dan membakar hampir sebagian tempat usaha. Spontan sang nenek dan Pak Asnani datang untuk menyelamatkan Dik Ahmad. Tetapi kondisi semakin parah. Pak Asnani sekeluarga ikut menjadi korban kebakaran dan berusaha menyelamatkan sang buah hati. tetapi apa daya api yang begitu besar tidak dapat dikendalikan. Kemudian dilarikan ke RS Ketileng dan dirawat di ruang ICU RSUD Ketileng Semarang. Ibu dan nenek Dik Ahmad menjalani perawatan akan tetapi Pak Asnani hanya menjalani perawatan ringan. Luka parah dialami oleh Dik Ahmad 95% badannya terbakar. Namun Dik Ahmad masih bisa bertahan.Selama seminggu menjalani perawatan di ruang ICU, pada tanggal 31 Januari 2016  Dik Ahmad menghemmbuskan nafas terakhir dan berpulang ke pangkuan Allah SWT. Meninggalnya Dik Ahmad membuat luka yang mendalam dari pihak keluarga. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik untuk Dik Ahmad dan memberi ketabahan pada keluarga yang ditinggalkan. Semoga bantuan dr Sedekah Rombongan dapat bermanfaat.

Jumlah bantuan : Rp.1.000.000
Tanggal : 02 Februari 2016
Kurir : @indrades, @idaiddo, @Qiiyu,

Ahmad menderita Luka  Bakar

Ahmad menderita Luka Bakar


YUSIA DHAFIA (2, Hydrocephalus). Alamat : Jl. Mulawarman Gg. Aman, RT 24, Kelurahan Batakan, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur. Yusia merupakan anak pertama pasangan Didik Hermanto (30) dan Darfi (25). Pak Didik bekerja sebagai buruh lepas dan Bu Darfi berjualan gorengan. Selama Yusia keluar masuk rumah sakit, Bu Darfi tidak lagi berjualan karena sibuk mengurus Yusia. Yusia dilahirkan pada usia kehamilan 36 minggu dengan berat badan lahir 2,2 kg. Pada umur 4 bulan ia sering mengalami demam dan kepalanya mulai membesar. Diagnosa awal adalah epilepsi karena matanya sering berkedip-kedip. Kemudian Yusia dibawa ke dokter spesialis anak pada  umur 7 bulan dan dinyatakan menderita Hydrocephalus. Dilakukan tindakan operasi saat Yusia berumur 8 bulan dan dinyatakan oleh dokter syaraf penangananya sudah terlambat. Saat operasi dipasang VP Shunt dari kepala ke lambung untuk mengalirkan cairan dari kepala menuju lambung. Dua bulan kemudian dioperasi lagi karena VP Shunt buntu dan harus dibersihkan. Pada 1 Februari 2016, Yusia mengalami demam dan muntah-muntah disebabkan oleh VP Shunt buntu sehingga dilakukan tindakan operasi yang ke-3 untuk membersihkan VP Shunt. Tidak sampai sebulan, kemudian buntu lagi dan dilakukan operasi ke-4 pada 1 Maret 2016. Dua hari setelah operasi, Yusia mengalami kejang-kejang, badan membiru dan napasnya sempat terhenti. Setelah melewati masa kritis, Yusia menjalani operasi yang ke-5 untuk mencabut VP Shunt dan cairan dari kepala dialirkan keluar. Pada 7 Maret 2016, Yusia kembali dioperasi yang keenam kalinya untuk memindahkan selang ke atas dahi. #SedekahRombongan memberikan bantuan untuk pembelian VP Shunt yang tidak ditanggung BPJS. Saat penyerahan bantuan Yusia kembali masuk RS karena demam berdarah.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 5 April 2016
Kurir : @arfanesia @fperwiro @ririn_restu

Yusia menderita Hydrocephalus

Yusia menderita Hydrocephalus


MASJID AL MUKAROMAH (Bantuan Tunai). Alamat : Jl Gandaria 1, Kel. Air Kepala Tujuh, Kec. Gerunggang, Kodya. Pangkal Pinang, Prop. Bangka Belitung. Pada tahun 2003 Masjid Al Mukaromah didirikan secara pribadi oleh Pak H. Zulkarnain dilahan milik beliau. Sejak berdirinya hingga 17 Juni 2015, masjid tersebut dikelola sendiri oleh keluarga Pak Haji Zulkarnaen tanpa ada bantuan dari pihak luar. Pada tanggal 17 Juni 2015, masjid tersebut diwakafkan untuk masyarakat RT. 6 Kelurahan Air Kepala Tujuh, Kecamatan Gerunggang. Setelah proses penyerahan ke masyarakat dilakukan, dibentuklah kepengurusan yang baru untuk pengelolaan Masjid Al Mukoramah. Pada 9 Februari 2016, Masjid Al Mukaromah mengalami musibah banjir setinggi 70 cm sehingga mengakibatkan beberapa peralatan masjid mengalami kerusakan. Kondisi Masjid masih banyak perlu perbaikan namun para pengurus kesulitan dalam penggalangan dana untuk melakukan perbaikan dan pembelian perlengkapan masjid. Masjid hanya dipergunakan untuk sholat wajib 5 waktu dan tidak dipergunakan untuk sholat jum’at. Beberapa Al-quran dan buku-buku agama lainnya  disimpan seadanya sehingga kelihatan tidak rapi dikarenakan tidak ada lemari khusus penyimpanan. Bantuan disampaikan oleh #SedekahRombongan yang Insya Allah akan dipergunakan untuk pembelian lemari etalase untuk penyimpanan Al Quran dan buku-buku lainnya.

Jumlah bantuan : 1.000.000
Tanggal  : 20 Februari 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @Effendy_babel @ririn_restu

Bantuan untuk pembelian lemari etalase untuk penyimpanan Al Quran dan buku-buku lainnya.

Bantuan untuk pembelian lemari etalase untuk penyimpanan Al Quran dan buku-buku lainnya.


SITI MARYATI (16, Bocor Jantung). Alamat: Kp. Citatah rt 1/6 Desa Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Siti Maryati adalah anak sulung dari pasangan Bapak Iin Solihin (45) seorang pedagang bakso dan Ibu Eks (40) yang sehari-hari disibukkan dengan mengurus rumah tangga dan ketiga anaknya. Siti sejak bayi memang sudah divonis dokter menderita kelainan jantung bawaan, namun selama ini ia belum pernah mendapatkan pengobatan yang serius oleh dokter spesialis jantung. Ia hanya sesekali memriksakan kondisinya ke dokter/rumah sakit jika kondisinya dirasa mulai merasakan sakit, seperti mudah merasa lelah dan tangannya kebiruan. Memang sejak kecil Siti kerap menderita sakit, sehingga badannya pun kurus dan kurang berkembang. Di sekolah ia jarang ikut pelajaran olah raga karena jika ia kelelahan, maka sakitnya akan kambuh, dan kondisinya sangat mengkhawatirkan. Seiring berjalannya waktu, Siti pun tumbuh dengan segala keterbatasannya. Saat ini ia sudah bersekolah di SMK jurusan Farmasi. Namun kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan membuat Siti seringkali berurusan dengan pihak sekolah karena orang tuanya kerap telat membayar kewajiban ke pihak sekolah. Seperti yang terjadi pada bulan Mei 2015, Siti terancam tidak bisa ikut ujian karena ia belum memenuhi kewajiban membayar iuran hampir selama setahun, ditambah dengan uang masuk yang masih tertunggak. Total ia harus melunasi pembayaran sebesar Rp 3.788.000,00 agar ia dapat ikut ujian. Orang tua Siti sudah mencoba meminta keringanan kepada pihak sekolah, apalagi saat itu ibunya Siti juga sedang melahirkan anak ketiganya dan dirawat di rumah sakit. Namun karena pihak sekolah tidak juga memberikan keringanan, akhirnya Pak Iin Solihin memberanikan diri meminta bantuan ke pada #SedekahRombongan. Alhamdulillah, gayung pun bersambut, #SedekahRombongan yang memahami keulitan Siti dan orang tuanya, memberikan bantuan berupa santunan dari #SahabatSR untuk melunasi semua tunggakan Siti ke pihak sekolah. Tanggal 22 juli 2015 Siti mendapatkan telpon dari RSHS Bandung agar pada hari Senin 26 Juli 2015 menjalani pemeriksaan lanjutan di RSHS Bandung. Tanggal 15 Maret 2015 Siti harus menjalani pemeriksaan untuk rencana tindakan katerterisasi pada tanggal dan 22 Maret 2016, sehingga ia harus 2 kali bolak balik Tasikmalaya-Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk transportasi dan akomodasi sehari-hari selama Siti menjalani pemeriksaan dan tindakan medis di RSHS Bandung. Semoga pengobatan penyakit bocor jantung Siti dapat dilanjutkan sampai sembuh. amiiin.

Jumlah Bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 17 Maret 2016
Kurir: @luchakiem Reza Alba

Siti menderita Bocor Jantung

Siti menderita Bocor Jantung


DADANG RAHMAT (29, Kaki Gajah). Alamat: Kp. Pangadangan RT 7/2 Desa Cibalanarik Kecamatan Tanjungjawa Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dadang saat ini hidup menumpang di rumah orang tuanya, sejak ditinggalkan oleh istrinya yang sudah menikah lagi dengan pria lain. Istrinya tidak tahan hidup dengannya, karena selain Dadang menderita penyakit kaki gajah, juga kesulitan ekonomi yang mereka alami, maklum lah sejak Dadang menderita penyakit ini, mobilisasinya jadi terhambat. Ia hanya dapat tinggal di rumah, kadang menjahit sambil memlihara ayam, dengan penghasilan yang tidak seberapa. Penyakit Dadang memang sudah dinyatakan sembuh dari cacing filariasis, namun bekas penyakit tersebut yang menimbulkan kakinya bengkak, tidak kunjung hilang. Dadang hampir putus asa, berbagai upaya pengobatan sudah ia jalani, mulai dari medis ke dokter puskesmas/rumah sakit, maupun pengobatan alternatif. Tak sedikit biaya yang sudah ia keluarkan, harta bendanya pun satu per satu ia jual demi mengupayakan kesembuhannya, namun belum mendapatkan hasil yang menggembirakan. Akhirnya ia dipertemukan dengan #SedekahRombongan, sehingga semangatnya untuk berobat yang tadinya sudah hampir hilang, kembali muncul. #SedekahRombongan menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk pengurusan BPJS, transportasi dan akomodasi pemerikasaan awal Dadang ke Puskesmas dan RSUD. Bulan September Dadang mulai menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung, ia mendapatkan rujukan untuk menjalani pemeriksaan di sana. Bulan MAret 2016 Dadang masih menjalai terapi pengobatan dengan mengkonsumsi obat-obatan sesuai yang disarankan oleh dokter RSHS, yang akan dicoba untuk selama setahun. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk kelancaran pengobatan lanjutan Dadang yang dipergunakan untuk pembeian obat-obatan di luar jaminan BPJS selama sebulan. Semoga ikhtiar Dadang mendapatkan hasil yang menggembirakan. Dadang sudah siap menghadapi resiko apa pun demi kesembuhan penyakitnya.

Jumlah Bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 14 Maret 2015
Kurir: @luchakiem Rahmat Muzacky @miftahudinsr

Dadang menderita Kaki Gajah

Dadang menderita Kaki Gajah


NIA DEWIANTI binti ARDAN (34, Kanker Usus). Alamat: Dusun Sukamukti, RT 002/004, Desa Mekar Raharja, Kec. Talaga, Kab. Majalengka, Jawa Barat. Ibu Nia adalah istri dari Bapak Andrianan (34) yang berprofesi sebagai seorang pedagang sayuran keliling. Penyakit Ibu Nia berawal ketika beliau sering mengeluh sakit di bagian perut. Akhirnya, beliau memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit dan segera mendapat perawatan di Rumah Sakit Majalengka selama 7 hari hingga menghabisakn biaya sekitar 9 juta rupiah. Namun, sayangnya tidak ada perubahan positif berkenaan dengan kondisi kesehatannya. Kondisinya semakin parah, beliau semakin mengeluh bahwa perutnya semakin sering terasa sakit. Kemudian, beliau segera memeriksakan kondisinya ke RS. Sekar Kamulyan, Cigugur, Kuningan. Pihak dokter yang menangani beliau mengatakan bahwa beliau harus segera menjalani tindakan operasi. Hasil USG, tes darah dan rongten menunjukkan bahwa Ibu Nia menderita penyakit Kanker Usus/Colon. Di hari yang sama, kebetulan ruang perawatan kelas 3 telah penuh terisi pasien, hanya tersisa ruang perawatan kelas 1 Dan VIP. Mau tidak mau, beliau masuk ke ruang perawatan kelas 1. Di hari kedua, tanggal 14 Maret 2016 lalu beliau menjalani tindakan operasi pemotongan usus dan pindah ruang perawatan ke kelas 2. Kemudian, pada tanggal 19 Maret 2016 lalu, beliau juga menjalani operasi untuk mengeluarkan usus besar dan pindah ruang perawatan ke kelas 3. Pada tanggal 28 Maret 2016, beliau diijinkan pulang dengan rincian biaya mencapai Rp. 32.690.664, itupun telah ada pemotongan dari pihak Rumah Skit. Biaya sebanyak itu mau tidak mau harus dikeluarkan agar beliau bisa pulang ke rumah. Namun, untuk mendapatkan biaya sebanyak itu, Ibu Nia dan keluarga akhirnya harus menguras tabungan yang ada, ditambah dengan menjul motor, menjual perlengkapan rumah tangga, hingga meminjam keluarga, bahkan ada donatur yang memberikan bantuan. Sayangnya, ketika beliau membutuhkan banyak biaya seperti sekarang ini, beliau tidak memiliki jaminan kesehatan seperti KIS, BPJS atau jaminan kesehatan yang lain. Alhamdulillah, biarpun demikian, saat ini beliau sudah pulang dari Rumah Sakit dan dalam proses penyembuhan. Hanya saja, beliau sudah kehabisan biaya untuk melakukan pengobatan lanjutan (kontrol). Harta benda berharganya telah beliau jual untuk perawatan di Rumah Sakit sekaligus 2 kali operasi. Suami Ibu Nia pun belum kembali bekerja seperti sebelumnya. Terlebih, selama Ibu Nia menjalani perawatan, suami Ibu Nia setia mendampingi Ibu Nia hingga beliau tidak bekerja sama sekali. #SedekahRombongan memberikan santunan kepada Ibu Nia dan keluarga agar Ibu Nia bisa tetap melanjutkan pengobatan jalan demi kesembuhannya. Semoga Allah memberikan ketabahan dan kemudahan rezeki untuk Ibu Nia dan keluarga.

Jumlah Santunan: 3.000.000,-
Tanggal: 31 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @evainhere Diah

Ibu nia menderita Kanker Usus

Ibu nia menderita Kanker Usus


IMAS KARTINI (28 thn, Anemia Hemolitik), Kp. Cigadog RT 4/1 Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Imas, stri dari Pak Diki Permadi (38) seorang tukang jualan cilok (sejenis makanan kecil terbuat dari tepung kanji) ini sudah menjalani proses pengobatan yang cukup panjang, sejak dari Puskesmas, RSUD Kabupaten Tasikmalaya, RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, dan terakhir dirujuk ke RSHS Bandung. Awalnya tanggal 1 Oktober Bu Imas mengalami sakit keras yang mengakibatkan tubuhnya lemas dan beberapa kali mengalami pingsan. Pak Diki yang memiliki 4 orang anak yang masih kecil-kecil ini, segera membawanya berobat ke Puskesmas terdekat. Semula dokter mendiagnosa Bu Imas hanya menderita penyakit maag dan memberinya obat maag sirup. Tanggal 9 Oktober Bu Imas kembali berobat ke dokter, kali ini menurut dokter ia menderita kolik, hepatitis, dan penyakit lambung, dan ia pun diberi beberapa jenis obat yang harus diminum setiap hari dan diharuskan menjalani rawat jalan untuk memantau perkembangan penyakitnya. Karena perkembangan penyakitnya belum kunjung membaik, tanggal  12 Oktober Bu Imas dirujuk ke RSUD Kabupaten Tasikmalaya, karena HB-nya menurun drastis, sampai 4,3. Ia kemudian dirawat inap selama 7 hari dan di sana ia diberi terapi pengobatan dengan beberapa jenis obat, infus, kemudian menjalani pemeriksaan rontgen dan tes darah sampai tgl 18 Oktober 2014. Karena kehabisan bekal, Pak Diki membawa Bu Imas pulang paksa untuk menjalani perawatan di rumah, meskipun Bu Imas dirujuk ke RSHS Bandung dengan diagnosa Suspect AIHA. Salah seorang kepala perawat di RSUD Kabupaten Tasikmalaya menyarankan Pak Diki untuk menemui Kurir #SedekahRombongan agar mendapat bantuan untuk melanjutkan pengobatan Bu Imas ke RSHS Bandung. Ketika Kami menemi Bu Imas, di rumahnya, kondisinya sudah sangat lemas sehingga atas ijin keluarganya segera mengevakuasinya ke RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Tanggal 24 Oktober Bu Imas masuk ke IGD RSUD Kota Tasikmalaya, kemudian diberi terapi pengobatan dan alhamdulillah HB-nya naik menjadi 5,9. Selanjutnya Bu Imas dirawat selama 7 hari dan menjalani pengobatan dengan suntikan, infus dan obat-obatan. Alhamdulillah kondisinya mulai membaik, HB-nya naik sampai 7.  Menurut pihak RSUD Dr. Soekardjo, Bu Imas harus mendapatkan transfusi darah jenis WRC (Washed Red Cell) yang pemrosesannya belum bisa dilakukan di PMI Tasikmalaya, sehingga tranfusi darah tidak bisa dilakukan di Tasikmalaya. Kemudian Bu Imas dirujuk ke RSHS Bandung dengan diagnosa Anemia Hemolitik. Pada tanggal 30 Oktober 2014 pukul 21.30 dengan didampingi oleh dua orang perawat dari RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Kami mengantarnya ke RSHS Bandung dengan MTSR untuk selanjutnya ia akan menjalani perawatan di RS tersebut. Pasca menjalani perawatan selama satu minggu di RSHS Bandung, dimana ia menjalani rangkaian pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan sample dari sumsum tulang belakang, dan transfusi WRC golongan darah O+ sebanyak 3 labu, tanggal 5 Nopember 2014 Bu Imas diperbolehkan pulang dengan HB terakhir 9,8. Rabu 12 Nopember Bu Imas dijadwalkan untuk kontrol lagi ke RSHS Bandung. Hari Selasa 25 Nopember 2014 Bu Imas kembali berangkat ke RSHS untuk menjalani jadwal kontrol. Alhamdulillah kondisinya membaik dan HB-nya terakhir tercatat 12,2. Meskipun demikian ia tetap harus menjalani kontrol 2 minggu mendatang untuk mengobservasi perkembangan kesehatannya. Hari Rabu tanggal 10 Desember 2014 Bu Imas kembali menjalani kontrol rutin dwi mingguan di RSHS Bandung. Sehari sebelumnya dengan MTSR Kami mengantar Bu Imas ke RSSR Bandung. Hasil pemeriksaan terhadap perkembangan kesehatan Bu Imas dinilai tim dokter sangat bagus, HB terakhir adalah 13,2 sehingga kontrol selanjutnya dijadwalkan tidak dwi mingguan lagi tetapi setiap bulan. Tanggal 5 Januari 2015 Bu Imas kembali menjalani kontrol rutin ke RSHS. Kali ini kondisinya kurang bagus, sehingga ia harus tinggal beberapa hari di Rumah Singgah SR untuk menjalani beberapa pemeriksaan dan harus kembali ke RSHS tanggal 19 Januari.  Untuk mendukung pengobatan medis dan menjaga kondisinya selain mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter, Bu Imas juga mengkonsumsi obat-obatan herbal. Bu Imas bulan Februari menjalani 2 kali kontrol rutin ke RSHS Bandung, jika HB-nya turun ia akan menjalani transfusi darah tipe WRC (Washed Red Cell) di RSHS, karena di UTD PMI Tasikmalaya belum bisa. Bulan April 2015 Bu Imas seminggu 2 kali harus menjalani kontrol ke RSHS Bandung. Alhamdulillah bulan Mei 2015 Bu Imas kondisinya cukup menggembirakan sehingga ia bisa menjalani kontrol rutin ke RSHS dengan lancar, namun ia disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi untuk menjaga HB-nya agar tetap stabil. Kondisi Bu Imas masih belum stabil di bulan Juni 2015, HB-nya kadang bagus tapi lebih sering ngedrop sehingga ia harus kembali ke RSHS Bandung setiap 2 minggu sekali untuk menjalani transfusi darah. Bu Imas masih sering mengalami kondisi kesehatan yang menurun, sehingga pada bulan September ia harus dua kali menjalani transfusi darah di RSHS Bandung. Tanggal 9 Maret 2016, pukul 21.30 malam,  kondisi Bu Imas kembali ngedrop, MTSR segera menjemput dan mengantarnya ke IGD RSUD dr. Soekardjo. Setelah menjalani perbaikan KU, besoknya Bu Imas diantar dengan MTSR ke RSSR Bandung, untuk selanjutnya menjalani pengobatan dan transfusi darah di RSHS Bandung. Alhamdulillah kondisinya sedikit-demi sedikit mulai membaik. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk biaya transportasi, pembelian obat-obatan, asupan gizi, dan biaya sehari-hari selama Bu Imas menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo dan RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp 1.500.000,-
Tanggal : 10 Maret 2016
Kurir : @luchakiem @miftahudinsr

Ibu imas menderita Anemia Hemolitik

Ibu imas menderita Anemia Hemolitik


SOLEHUDIN bin TURSINO (25, Gangguan Jiwa). Alamat: Dusun Cikangkung RT 02/04, Desa Cikembulan, Kec. Sidamulih, Kab. Pangandaran, Jawa Barat. Solehudin merupakan seorang pemuda berusia 25 tahun yang mengalami gangguan kejiwaan sejak berumur 19 tahun. Menurut keterangan dari pihak keluarga, ia mengalami gangguan kejiwaan ketika ia bekerja di sebuah warung bakso. Saat ini, pasien Solehudin tinggal bersama Ibunya, Ibu Sarsih (52) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sedangkan ayahnya, Bapak Tursino telah meninggal dunia. Pihak keluarga sudah memeriksakan kondisi pasien Solehudin ke dokter umum yang ada di kampungnya. Kondisi terakhir pasien saat ini, ia menjadi pribadi yang tertutup, ia selalu mengurung diri dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, bila diajak berbicara jawabannya juga kurang nyambung. Untuk biaya pengobatan, pihak keluarga sedikit terbantu dengan adanya kartu jaminan KIS yang dimiliki oleh pasien. Namun, karena sang Ibu hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pasien belum bisa dibawa ke rumah sakit khusus gangguan kejiwaan. Soleh ditangani di RSUD Banjar. Ia mendapatkan pengobatan dan kontrol rutin di RSUD Banjar setiap dua minggu sekali, ia harus mencarter mobil setiap kali berangkat ke RSUD Banjar, karena lokasi tempat tinggalnya di Pangandaran yang cukup jauh. #SedekahRombongan memberikan santunan untuk biaya transportasi dan akomodasi sehari-hari selam Soleh dirawat. Semoga kesabaran selalu diberikan kepada pasien Solehudin dan keluarga.

Jumlah Santunan: Rp 500.000,-
Tanggal: 2 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @fhier_dha Indar Kusnandar

Solehudin menderita Gangguan Jiwa

Solehudin menderita Gangguan Jiwa


WIDIA SRI ASTUTI binti HARTONO (11, VSD/Kelainan Jantung Bawaan). Alamat: Dusun Manis, Rt. 003/01, Desa Widarasari, Kec. Kramatmulya, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Widia adalah seorang pasien yang mengalami kelainan jantung bawaan. Diusianya yang masih amat belia, ia harus merasakan sakit yang luar biasa karena ada kelainan pada jantungnya tersebut. Ia mengalami gejala awal dari kelainan jantung bawaan ini sejak kecil, saat usianya masih sekitar 5 tahun. Bapak Hartono dan Ibu Sri Hartati, kedua orang tua Widia tidak hanya tinggal diam melihat kondisi putrinya tersebut. Usaha keduanya untuk menyembuhkan putrinya sudah mereka tempuh walau tidak maksimal. Keduanya selalu memeriksakan kondisi Widia ke RSUD Kuningan karena dalam jangka waktu satu bulan, Widia bisa masuk rumah sakit sebanyak 2-3 kali untuk menjalani rawat inap. Namun, pihak dokter RSUD memberikan saran agar Widia segera dibawa ke RS. Harapan Kita Jakarta untuk menjalani perawatan secara lebih intensif. Tetapi, keterbatasan biaya yang dimiliki orang tua Widia membuat Widia belum bisa menjalani pengobatan di RS. Harapan Kita sekalipun ia telah memiliki kartu JAMKESMAS. Terlebih sang ayah hanya bekerja sebagai buruh harian lepas yang penghasilannya tidak menentu. Alhamdulillah, Allah mempertemukan Widia dengan kurir #SedekahRombongan. Akhirnya, dengan menggunakan mobil MTSR Widia bisa berangkat ke RS. Harapan Kita Jakarta untuk memeriksakan kondisi jantungnya. Santunan pertama yang diberikan oleh kurir #SedekahRombongan sebesar Rp. 1.000.000 digunakan untuk biaya pengurusan surat-surat dan transportasi ke Jakarta. Sedangkan, santunan kedua sebesar Rp. 500.000 diberikan kepada pasien Widia untuk biaya akomodasi sehari-hari selama rawat inap di RS. Harapan Kita. Saat ini, Widia masih menjalani proses pengobatan di RS. Harapan Kita. Alhamdulillah, tidak ada kesulitan atau kendala selama proses pengobatan dilakukan. Setelah menjalani pemeriksaan di Klinik Jantung Anak dengan serangkaian pemeriksaan EKG, rongten, cek laboratorium dan echocardiografi, dokter menyarankan untuk rawat inap. Sementara ini, Widia masih dirawat di IGD RS. Harapan Kita untuk menunggu ruangan. Namun, tak berapa lama, Alhamdulillah ia telah mendapat ruangan rawat inap, yaitu di kamar 2612 lantai 6. Selain itu, kondisi terakhir Widia memang masih dikatakan dalam tahap observasi dikarenakan terjadi pembengkakan pada tubuhnya. Jadi, tindakan medis yang akan dilakukan pun akan fokus pada perbaikan kesehatan umum terlebih dahulu. Semoga Widia kuat selama menjalani proses penyembuhannya dan lekas diberikan kesembuhan oleh Allah SWT.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.500.000
Tanggal: 1 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @evainhere Sanusi Heryanto @endangnumik @harjie_anis

Widia menderita  VSD/Kelainan Jantung Bawaan

Widia menderita VSD/Kelainan Jantung Bawaan


RINI RAHMAWATI (5, Lumpuh+Gangguan THT). Alamat: Kp. Taraju RT 14/4 Desa Mandalagiri Kec. Leuwisari Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Rini pernah mengalami sakit panas sampai kejang-kejang 2 tahun yang lalu. Sejak saat itu ia tidak bisa berjalan dan kesulitan dalam pendengarannya, sehingga perkembangan bicaranya pun terlambat. Saat ini ia berjaan dengan cara ngesot, dengan kakinya digusur. Sehari-hari Rini hanya diam di rumah, sesekali ia memandang ke luar jendela saat teman-teman sebayanya bermain. Orang tua Rini, Pak Rohmat (48) dan Bu Imas (38) hanya bisa mengelus dada melihat keadaan anaknya tersebut. Ketidakmampuan biaya membuat mereka selalu mengurungkan niatnya untuk mengobati buah hatinya ini. Keluarga yang memiliki tanggungan 4 orang ini memang termasuk keluarga yang serba kekurangan, Pak Rohmat sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan, yang lebih sering menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan. Syukurlah akhirnya mereka dipertemukan dengan #SedekahRombongan yang mengerti betul kesulitan keluarga ini. #SedekahRombongan segera membantu membuatkan fasilitas kesehatan dari pemerintah daerah, karena kebetulan mereka luput dari pendataan penerima Jamkesmas. Setelah surat jaminan selesai, Rini pun akan memulai pengobatannya secara berjenjang, dari Puskesmas, ke RSUD SMC dan kemudian ke RSHS Bandung. Bulan Maret Rini masih menjalani pengobatan rutin di RSHS Bandung setiap dua mingu sekali. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk biaya transportasi dan akomodasi sehari-hari selama Rini menjalani pengobatan di RSUD SMC dan RSHS Bandung. Semoga Rini dapat segera sembuh dari penyakitnya, amiin.

Jumlah bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 3 Maret 2015
Kurir: @luchakiem

Rini menderita Lumpuh+Gangguan THT

Rini menderita Lumpuh+Gangguan THT


HANA NUR HALIMAH (7, TOF). Kp. Nyempet RT 4/ 2 Desa Padakembang Kec. Padakembang Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Puteri dari Bapak Mulyana (34) dan Ibu Syukrilah (37) ini sejak kecil sering sakit-sakitan. Ia didiagnosa menderita bocor jantung, namun orang tuanya belum mampu mengobati Hana dengan lebih serius karena ketidakmampuan biaya, maklumlah Pak Mulyana hanya seorang buruh bangunan dengan tanggungan 6 orang, yang lebih sering menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan. Ketika bertemu dengan #SedekahRombongan, Hana belum memiliki fasilitas  jaminan kesehatan apa-apa, sehingga Kurir SR segera mengajukan pembuatan Jamkesda untuk membantu meringankan biaya pengobatannya. Hana hampir sepanjang hidupnya terus bolak balik berobat.Sejak lahir berobat mulai ke Pukesmas 2 minggu sekali, tapi belum ada perubahan yang berarti, kemudian mencoba pengobatan ke alternatif  1 bulan sekali sampai 6 bulan, selanjutnya hanya diobati di rumah karena tidak punya biaya. Pernah beberapa kali dirawat di RS SMC karena jika sedang kambuh, Hana sesak nafas dan badan serta tangannya membiru. Sebenarnya Hana sudah mendapatkan rujukan ke RSHS dan harus menjalani pemeriksaan ECHO karena di RS SMC belom ada fasilitas tersebut, namun karena tidak ada biaya, akhirnya Hana hanya dibiarkan berobat seadanya di rumah. Tanggal 9 Maret malam, ibu Syukrilah, ibu Hana, menelpon Kurir SR mengabarkan kalau kondisi anaknya sedang mengalami sesak nafas dan jari-jari tangannya membiru. MTSR segera meluncur menjemput dan mengantarkannya ke IGD RSUD SMC dan selanjutnya dirawat selama beberapa hari di sana. Karena Jamkesda Rini belum diperpanjang kembali, terpaksa Rini didaftarkan sebagai pasien Umum. #SedekahRombongan menyampaikan santunan lanjutan nuntuk biaya perawatan dan akomodasi sehari-hari selama Hana menjalani pengobatan di RSUD SMC. Semoga Hana kondisinya membaik dan dapat segera melanjutkan pengobatannya, amiin.

Jumlah bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 9 Maret 2015
Kurir: @luchakiem Reza Alba

Hana menderita menderita bocor jantung

Hana menderita menderita bocor jantung

FAIRUS SAFANA binti HIDAYATULLAH (2, Hidrosefalus, TB Paru). Alamat: Kp. Talaga RT 01/08, Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ketika dilahirkan, keadaan fisik Fairus sudah terlihat tidak normal. Kepalanya yang membesar tidak seperti bayi kebanyakan. Orangtuanya sudah membawanya ke puskesmas sampai ke rumah sakit untuk ditangani. Berkali-kali keluar masuk rumah sakit hingga berobat jalan selama lima bulan pernah Fairus jalani. Namun, sampai sekarang keadaannya masih memprihatinkan karena tidak ada perubahan yang menggembirakan. Orangtua Fairus, Hidayatullah (47) dan Irmawati (36) sudah berusaha mengobati buah hatinya ini sesuai dengan kemampuannya, tapi kemampuan perekonomian mereka sangat terbatas, mengingat Hidayatullah hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Sebenarnya mereka mempunyai jaminan kesehatan Jamkesda, tapi mereka mempunyai tujuh anak yang harus dibiayai dan mereka membutuhkan biaya tambahan untuk bekal selama berobat di rumah sakit. Sehingga ketika menerima bantuan dari #SedekahRombongan yang berasal dari donasi para sedekaholic, mereka mengungkapkan kelegaannya karena bisa melanjutkan pengobatan Fairus yang diperkirakan oleh dokter akan memakan waktu yang lama, mengingat Fairus menderita beberapa penyakit komplikasi yang cukup berat. Bulan April 2015 Fairus diduga menderita hernia, namun yang akan didahulukan adalah pengobatan TB Parunya dulu, serta terapi yang harus ia jalani di klinik swasta. Fairus bulan Mei 2015 masih menjalani terapi rutin TB Paru dan terapi gerak utuk melatih syaraf motoriknya di klinik swasta. Santunan disampaikan kembali untuk biaya terapi dan pengobatan Fairus selama bulan Mei 2015. Fairus selama bulan Maret 2015 k6mbali menjalani pengobatan TB Paru dan terapi rutin setiap 2 minggu sekali di RSUD dr. Soekardjo dan klinik Syifa Medina Tasikmalaya, santunan lanjutan kembali disampaikan yang dipergunakan untuk biaya transportasi, akomodasi sehari-hari, biaya terapi, dan asupan makanan untuk meningkatkan gizi Fairus yang juga mengalami perkembangan badan yang agak terlambat. Semoga Fairus dapat segera sembuh dan merasakan kegembiraan seperti anak-anak yang lainnya, amiin.

Jumlah bantuan: Rp 1.000.000,-
Tanggal: 5 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @miftahudinsr

Fairus menderita  Hidrosefalus, TB Paru

Fairus menderita Hidrosefalus, TB Paru


ETI binti SUKARYA (40, CA Mammae), Kampung Cikembang RT 2/1, Desa Wargakerta, Kecamatan. Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Eti yang berstatus janda cerai mati dengan tanggungan 3 orang ini sudah bertahun-tahun menderita penyakit yang sangat ditakut kaum perempuan ini. Namun ia menutup rapat-rapat keadaannya ini, sampai-sampai keluarga dan saudara-saudaranya pu banyak yang tidak tahu kalau ia menderita penyakit yang cukup ganas ini. Setelah ia merasa tidak kuat lagi merasakan penyakitnya, karena ia kerap merasakan sakit yang amat sangat sampai sering ia tidak dapat tidur, akhirnya ia berterus terang bahwa ia menderita kanker payudara. Melihat kondisi penyakitnya yang sudah parah, saudara Bu Eti segera menginformasikannya kepa Kepala Desa setempat. Pak Asep Kepala Desa Wargakerta mengontak Kurir #SR untuk meminta bantuan agar #SR dapat membantu pengobatan Bu Eti karena selain seorang janda, Bu Eti berasal dari keluarga yang kurang mampu. Pak Kepala Desa membantu dengan membuatkan fasilitas Jamkesda dari PemKab Tasikmalaya, bahkan ia pun mengantar Bu Eti ke RSHS Bandung, karena rupanya RSUD Kabupaten maupun Kota Tasikmalaya tidak bisa menangani penyakit Bu Eti yang diperkirakan sudah mencapai stadium 3 dan merujuknya ke RSHS Bandung. Bu Eti tinggal sementara di RSSR Bandung selama menjalani rangkaian pemeriksaan sebelum dlakukan tindakan medis lebih lanjut untuk pengobatan penyakitnya. Sampai saat ini Bu Eti sudah 2 kali pulang pergi ke Bandung untuk menjalani pemeriksaan di RSHS dan didampingi sepenuhnya oleh Kurir #SR. Bu Eti masih menunggu hasil PA yang telah dilakukannya di RSHS Bandung. Untuk menjaga kondisinya, Bu Eti mengkonsumsi obat-obatan herbal sambil menunggu penatalaksanaan medis lanjutan di RSHS Bandung. Tanggal 29 Desember 2014 Bu Eti kembali berangkat ke RSHS untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dan konsultasi hasil PA, untuk sementara sekarang ia tinggal di RSSR Bandung. Di bulan Januari 2015 Bu Eti sudah 2 kali pulang pergi dari Tasikmalaya ke RSHS Bandung untuk menjalani kemoterapi. Untuk tetap menjaga kondisi kebugaran tubuhnya selama menjalani kemoterapi, Bu Eti juga mengkonsumsi obat-obatan herbal. Saat jadwal kemoterapi bulan Februari 2015 ternyata HB Bu Eti kurang, sehingga dirujuk balik ke RSUD Kab Tasikmalaya untukmenjalani transfusi. Setelah HB-nya cukup Bu Eti akan kembali menjalani kemoterapi lanjutan di RSHS.  Tanggal 2 Maret 2015 Bu Eti kembali menjalani jadwal kemoterapi di RSHS Bandung. Bulan April 2015 Bu Eti menjalani kemoterapi dan kontrol ke RSHS Bandung. Bu Eti untuk Bulan Mei 2015 kembali menjalani kemo dan kontrol rutin 2 minggu sekali ke RSHS Bandung. Bulan Juni 2015 Bu Eti menalani jadwal kemoterapi 2 kali di RSHS Bandung. Bu Eti masih menjalani terapi lanjutan di RSHS Bandung selama bulan Juli 2015. Perkembangan penyakitnya cukup menggembirakan, lukanya sekarang keliatan sudah mulai mengering. Bu Eti masih harus menjalani kontrol di RSHS Bandung selam bulan September 2015. Bulan Maret 2016 Bu Eti menjalani Radioterapi lanjtan di RSHS Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan yang dipergunakan untuk pembelian obat-obatan dan suntik vitamin, transportasi serta biaya sehari-hari selama Bu Eti menjalani radioterapi lanjutan di RSHS Bandung untuk bulan Maret 2016.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 14 Maret 2016
Kurir : @luchakiem @miftahudinsr

Ibu eti menderita CA Mammae

Ibu eti menderita CA Mammae


AISYAH binti YAYAT SUPRIATNA (22, Thalasemia). Alamat: Kp. Sindanggalih RT 12/05, Sukaratu, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak delapan belas tahun yang lalu, Aisyah sudah mengidap Thalasemia ketika ia masih berusia tiga tahun. Awalnya tubuhnya terlihat kekuning-kuningan kemudian orangtuanya mulai khawatir dengan keadaan Aisyah dan membawanya ke Puskesmas terdekat. Setelah berobat jalan setiap satu minggu sekali selama empat tahun namun tidak ada perubahan yang signifikan. Kemudian Aisyah dirujuk ke RSUD Tasikmalaya karena minimnya peralatan medis di Puskesmas dan kemudian menjalani pengobatan di RSUD Tasikmalaya. Setelah beberapa kali berobat jalan ternyata Aisyah divonis mengidap penyakit Thalasemia dan harus ditransfusi darah tetapi  harus dirujuk ke RSHS  Bandung. Ketika berobat jalan di RSHS, pengobatan Aisyah sering terbengkalai terbentur masalah biaya karena kondisi keluarga Aisyah yang memprihatinkan sehingga sampai sekarang kondisi Aisyah belum membaik. Ayah Aisyah, Yayat Supriatna (49), adalah seorang buruh serabutan dan ibunya, Lisnawati (41) adalah seorang ibu rumah tangga. Meskipun keluarganya punya BPJS, tetapi mereka terbebani perbekalan sehari-hari ketika berobat jalan di RSHS. Ketika #SedekahRombongan mengunjungi kediaman Aisyah, keluarganya mengungkapkan kegembirannya atas bantuan yang disalurkan untuk bantuan pengobatan Aisyah. Bulan Mei 2015 Aisyah kembali menjalani jadwal transfusi di RSHS Bandung. Bulan Maret 2016 Aisyah kembali menjalani trnsfusi darah di RSHS Bandung,  dan #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk transportasi dan akomodasi sehari-hari selama Aisyah menjalani perawatan di RSHS. Semoga Aisyah segera dapat melanjutkan pengobatannya dan  diberi kesembuhan agar bisa menjalani hari-harinya dengan senyum keceriaan.

Jumlah bantuan: Rp 750.000,-
Tanggal: 12 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @miftahudinsr

Aisyah menderita Thalasemia

Aisyah menderita Thalasemia


ATEP NURJAMAN (26, Abses Mandibula). Alamat: Kp. Leuwihieum, Rt. 5/4, Kel. Sukarinduk, Kec. Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Saudara Atep bekerja sebagai buruh di sebuah bengkel. Tempat ia bekerja bisa dikatakan cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sayangnya, saat ini  pekerjaannya sedikit terhambat karena ia mengindap sebuah penyakit sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya, terdapat benjolan kecil di pahanya yang mengakibatkan rasa gatal sekaligus sakit. Ia mengira benjolan tersebuat adalah bekas gigitan semut. Namun, seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut semakin membesar dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Karena rasa sakit yang tak kunjung reda, kemudian ia berobat ke Puskesmas. Bukan sekali atau dua kali ia berobat, ia sudah berkali-kali berobat ke Puskesmas, akan tetapi kondisinya belum menunjukkan tanda-tanda untuk sembuh. Tak lama, akhirnya ia segera dirujuk ke RSUD Kota Tasikmalaya. Setelah diperiksa oleh dokter yang menanganinya, pihak dokter menjelaskan bahwa ternyata ia mengindap penyakit Abses Mandibula. Karena kondisinya cukup mengkhawatirkan, akhirnya ia pun menjalani rawat inap di RSUD dan sudah 3 hari ia menjalani perawatan. Dengan keadaan tersebut, tentu ia tidak bekerja. Proses rawat inap yang ia jalani sudah dipastikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bulan April 2015, tepatnya tanggal 15, Atep kembali harus dirawat di RSUD dr. Soekardjo, kondisinya sempat ngedrop, sehingga keluarganya membawa Atep ke IGD RSUD, dan kembali harus dirawat selama beberapa hari. Bulan September 2015 Atep harus menjalani kontrol rutin seminggu sekali di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya. Tanggal 2 Maret 2016 kondisi Atep kembali memburuk, sehingga di masa tunggu untuk mendapat panggilan dari RSHS Bandung ini, untuk kesekian kalinya ia harus dilarikan ke RSUD dr. Soekardjo untuk mendapatkan perawatan. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk meringankan biaya perawatan Atep, terutama untuk biaya mengganti biaya transportasi, karena keluarganya sempat mencarter mobil, dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia dirawat di RSUD dr. Soekardjo. Semoga ia lekas diberikan kesembuhan oleh Allah, amiiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 1 Maret 2015
Kurir: @luchakiem @miftahudinsr,

Atep menderita Abses Mandibula

Atep menderita Abses Mandibula


EMPONG binti HARUN (45, Tumor di kaki) Kp. Lewihieum RT 2/4 Kelurahan Sukarindik, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Empong, janda yang tinggal bersama kedua orang anaknya ini sudah sekitar 2 bulan menderita tumor di bagian bawah telapak kakinya. Awalnya berupa bintik hitam seperti tahi lalat yang semakin hari semakin membesar. Karena ketiadaan biaya, Bu Empong belum bisa memeriksakan penyakitnya ke Puskesmas ataupun rumah sakit. Ia hanya mengobatinya dengan ramuan tradisional, sekedar mengurangi rasa sakitnya. Bu Empong juga luput dari pendataan keluarga miskin, karena itu ia tidak memiliki fasilitas jaminan kesehatan dari pemerintah, meskipun keadaan keluarganya sanagat layak untuk dibantu. #SedekahRombongan yang mendapatkan informasi tentang keadaan Bu Empng dari Ketua RT setempat segera mengunjungi rumahnya. Atas persetujuan Bu Empong dan keluarganya, Kami merencanakan untuk memeriksakan Bu Empong ke RSUD dr. Soekardjo setelah mengurus fasilitas Jaminan kesehatan yang akan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Alhamdulillah, ajuan fasilitas Jamkeskinda untuk Bu Empong disetujui Dinas Kesehatan, dan dua hari kemudian Kami mengantar Bu Empong untuk mendapatkan pemeriksaan di RSUD dr. Soekardjo. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter RSUD memperkirakan Bu Empong menderita tumor ganas di kakinya, sehingga untuk pemeriksaan lebih lanjut dokter merujuknya ke RSHS Bandung. Rencananya Kami akan membawa Bu Empong ke RSHS hari Minggu tanggal 23 Nopember 2014. Hari Minggu tanggal 23 Nopember 2014 Kami mengantar Bu Empong untuk melakukan pemeriksaan di RSHS Bandung. Selama empat hari Bu Empong menjalani rangkaian pemeriksaan di RSHS dan tinggal sementara di RSSR Bandung. Hari Jumat tanggal 28 Nopember ia pulang dulu ke Tasikmalaya dijemput dengan MTSR, untuk selanjutnya akan menjalani pemeriksaan lanjutan 2 minggu yang akan datang. Tanggal 3 Desember Bu Empong kembali menjalani pemeriksaan di RSH Bandung. Kali ini jadwalnya adalah pemotongan sebagian organ yang sempat mengelupas, sekalian juga akan dilakukan biopsi. Hasil biopsi dijadwalkan akan bisa diambil pada hari Senin tanggal 8 Desember 2014. Tanggal 17 Desember 2014 Bu Empong kembali berangkat ke RSHS Bandung untuk menjalani kontrol. Ia juga akan berkonsultasi dengan tim dokter RSHS mengenai rencana tindakan medis yang akan dijalaninya. Awal Februari Bu Empong memenuhi jadwal kontrol untuk pemeriksaan penyakitnya serta konsultasi hasil biopsi untuk penentuan tindakan medis selanjutnya. Tanggal 23 Februari Bu Empong dijadwalkan untuk menjalani operasi dan alhamdulillah sudah mendapatkan ruangan. Bulan April 2015 Bu Empong menjalani kontrol 2 kali seminggu ke RSHS Bandung. Pasca menjalani operasi, Bu Empong mulai menjalani kontrol rutin pada Mei 2015 untuk mengobservasi perkembangan hasil operasinya selanjutnya juga akan ditentukan apakah tindakan medis selanjutnya. Penyakit kanker di kaki Bu Empong masih harus dipantau perkembangannya. Tim dokter masih mempertimbangkan apakah akan dilakukan kemoterapi atau radioterapi, sehingga observasi 2 minggu sekali masih terus dilakukan dalam bulan Juni 2015. Bu Empong bulan Juli 2015 kembali menjalani kontrol rutin 2 minggu sekali di RSHS Bandung. Tim Dokter masih melakukan observasi terhadap perkembangan kanker di kakinya. Bulan Maret 2016 Bu Empong menjalani radioterapi lanjutan di RSHS Bandung. Beliau tinggal selama seminggu lebih di RSSR Bandung selama menjalani radioterapi. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan yang dipergunakan untuk biaya transportasi dan biaya akomodasi sehari-hari selama Bu Empong menjalani radioterapi di RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 4 Maret 2016
Kurir : @luchakiem @MiftahudinSR

Bu empong menderita Tumor di kaki

Bu empong menderita Tumor di kaki


ONAH MUHSONAH (51, Sirosis Hepatis). Alamat: Dusun Randegan ll, Rt. 2/9, Desa Raharja, Kec Purwaharja, Kota Banjar. Istri dari Bapak Amir Saripudin (56) ini menderita Sirosis Hepatitis. Sudah dua tahun Ibu Onah menderita penyakit tersebut. Ikhtiar demi ikhtiar telah beliau jalani, namun meskipun beliau sudah berobat ke klinik dan Puskesmas terdekat belum ada tanda-tanda adanya perkembangan baik berkenaan dengan kesehatannya. Suami Ibu Onah bekerja sebagai seorang buruh dengan penghasilan yang tidak menentu. Bapak Amir bekerja demi memenuhi kebutuhan tiga anggota keluarganya. Bebannya bertambah manakala sang istri menderita penyakit Sirosis Hepatitis. Saat ini, beliau tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pngobatan istrinya walaupun ada jaminan Jamkesda. Biaya untuk kebutuhan sehari-hari diluar bantuan dari jaminan kesehatan tersebut masih harus ditanggung oleh Bapak Amir dan Ibu Onah sendiri. Hal tersebut yang membuat beliau memutuskan untuk melanjutkan pengobatan seadanya dengan mengonsumsi obat-obatan warung yang dijual bebas di kampung. Kondisi terkini Ibu Onah sangatlah memprihatinkan, beliau hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidurnya. Setelah Bu Onah mendapatkan bantuan yang pertama dari SR, kndisinya mulai membaik, beliau sudah bisa duduk yang tadinya hanya bisa berbaring saja. Bulan Maret Bu Onah kembali menjalani kontrol dan pengobatan di RSUD Banjar. #SedekahRombongan memberikan santunan lanjutan agar beliau bisa kembali menjalani pengobatan dengan baik setelah sebelumnya masuk di Rombongan 810.

Jumlah Santunan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 2 Maret 2016
Kurir: @luchakiem @fhier_dha @miftahudinsr @nitaapuji

Ibu onah menderita  Sirosis Hepatis

Ibu onah menderita Sirosis Hepatis


TITIN SUMARNI (36, CA Nasofaring) Kp. Babakan Ciwit RT 5/3, Desa Rancapaku, Kec. Padakembang, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Bu Titin adalah istri dari Bapak Samsul (43) yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang peternak itik, walaupun sebenarnya kebanyakan itik-itik tersebut adalah milik orang lain. Pak Samsul hanya sebagai buruh yang dibayar dari hasil penjualan telur-telur itik yang dibagi dua dengan pemiliknya. Tentu saja dengan tanggungan 2 orang anak yang masih kecil-kecil penghasilannya tersebut hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja. Namun demikian keluarga ini tetap terlihat bahagia, sampai sekitar 4 bulan yang lalu, Bu Titin menderita penyakit kanker yang pada awalnya hanya diperkirakan sebagai sakit gigi biasa saja. Awalnya Bu Titin merasa sakit gigi, karena ada giginya yang bolong, kemudian ia mengoreknya dengan menggunakan peniti. Entah karena tertusuk peniti, tak lama setelah itu dagunya mulai membengkak. Karena dianggapnya hanya sakit gigi biasa, ia pun hanya mengobatinya dengan obat-obatan dari warung dan tidak memeriksakannya ke dokter. Namun lama kelamaan pembengkakannya semakin menjadi dan tidak kunjung sembuh. Akhirnya Pak Samsul memeriksakan istrinya ke dokter. Dokter kemudian meyarankan untuk melanjutkan pemeriksaan Bu Titin ke Rumah Sakit, namun karena mereka khawatir akan biaya rumah sakit, saran dokter tersebut belum bisa mereka laksanakan. Akhirnya karena tidak kuat setiap hari menahan rasa sakit, Bu Titin yang kebetulan tinggal tidak jauh dari Rumah Singgah SR Tasikmalaya, meminta bantuan ke SR. #sedekahRombongan pun dengan sigap segera membuatkan fasilitas jaminan kesehatan BPJS untuk meringankan biaya pengobatan Bu Titin. Setelah menjalani pemeriksaan secara berjenjang mulai dari Puskesmas, kemudian RSUD dr. Soekardjo, Bu Titin pun dirujuk ke RSHS Bandung, karena diperkirakan Bu titin menderita kanker Nasofaring. Setelah Bulan lalu Bu Titin menjalani pemeriksaan awal di RSHS, Bulan Maret 2016 ia menjalani jadwal kemo di RSHS Bandung. SedekahRombongan menyampaikan santunan yang dipergnakan untuk biaya transportasi dan akomodasi sehari-hari selama Bu Titin menjalani kemoterapi di RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan: Rp. 1000.000,-
Tanggal: 14 Maret 2016
Kurir: @luchakiem

Ibu titin menderita CA Nasofaring

Ibu titin menderita CA Nasofaring


MTSR TASIKMALAYA (B1495SU, Operasional+Maintenance). Mulai Bulan Mei tahun 2014, #SedekahRombongan area Tasikmalaya memiliki Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR). Area operasional MTSR Tasikmalaya mencakup Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Garut, Kabupaten Pangandaran, dan juga mengantar pasien yang dirujuk ke RSUP Hasan Sadikin Bandung. Bulan Juli 2014 MTSR Tasikmalaya melakukan servis besar di Layanan Servis Resmi Suzuki. Awal September kembali masuk bengkel untuk service kakai-kaki, ganti shockbreaker depan, per belakang, sekaligus ganti oli, filter oli, dan penggantian vanbelt. Selain untuk biaya pemeliharaan MTSR melalui servis rutin, biaya pemeliharaan juga dipergunakan untuk membeli sebuah ban karena ban cadangan sudah rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi. Pada tanggal 3 November 2014 MTSR Tasikmalaya mengalami kerusakan pada perseneling pada saat sedang dalam perjalanan menjemput pasien ke RSSR Bandung. Selain itu MTSR Tasikmalaya juga sedikit bermasalah pada bagian stir-nya. Mengingat frekuensi penggunaan MTSR Tasikmalaya yang tinggi karena harus bisa menghandle pasien-pasien baik di area Priangan Timur, dan agar kondisi mobil tetap prima, #SedekahRombongan kembali memberikan bantuan untuk biaya service MTSR Tasikmalaya. Bulan Januari 2015 MTSR Tasikmalaya kembali melakukan service kaki-kaki dan penggantian satu set ban yang sudah mulai menipis agar dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pasien dan pengemudi. Bulan Februari 2015 MTSR Tasikmalaya melakukan penggantian satu set kopling,  per belakang, dan pembelian Accu. Frekuensi penggunaan MTSR semakin tinggi, seiring dengan semakin dikenalnya kiprah #SedekahRombongan di wilayah Priangan Raya, sehingga untuk mendukung kelancaran operasional MTSR Bulan Maret 2016, kembali titipan #SahabatSR dipergunakan untuk biaya operasional, service rutin, ganti oli, berikut ongkos pengerjaannya selama bulan Maret 2016.

Jumlah Bantuan: Rp 3.500.000,-
Tanggal : 30 September 2015
Kurir : @luchakiem @miftahudinsr Reza Alba, Qine,

Bantuan Operasional+Maintenance

Bantuan Operasional+Maintenance


JIHAN FATIN (10 Bulan, Atresia Bilier & Sirosis). Jihan merupakan anak ketiga dari A. Mujib (37 Tahun) dan Etik (30 Tahun), mereka tinggal di Wiyono RT.04/RW.02 Grabag, Kec. Grabag, Kab. Magelang, Jawa Tengah. Jihan dilahirkan dalam keadaan seluruh tubuh berwarna kuning. Saat usianya dua bulan, bayi mungil ini mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun. Orang tuanya kemudian membawanya ke sebuah tempat praktek bidan, dari sana dirujuk ke RSU Tidar Kota Magelang. Berdasarkan observasi, dokter mendiagnosa menderita atresia bilier atau kelainan fungsi hati. Jihan kemudian dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dokter mendiagnosa menderita sirosis atau kerusakan hati. Pengobatan untuk penyakit ini yaitu dapat ditempuh dengan cara cangkok hati dengan estimasi biaya 1‒1,5M. Jihan memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah, BPJS. Meski memiliki jaminan kesehatan, namun tidak bisa dimaksimalkan karena maksimal mengcover 250 juta rupiah. Riwayat kesehatannya yaitu pernah mengalami koma selama dua bulan dan demam tinggi & kejang sampai memengaruhi fungsi syaraf mata. Bagian punggungnya pun mengalami decubitus karena terlalu lama berbaring. Kesulitan ekonomi juga dirasakan kedua orang tuanya terutama biaya transportasi dan akomodasi dari Grabag ke Yogyakarta. Setiap berobat mereka menyewa mobil dengan harga sewa cukup mahal. Selain itu mereka juga kesulitan untuk pembelian obat dan susu pregistimil. Ayahnya, bekerja sebagai karyawan swasta, sementara ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Alhamdulillah, melalui salah satu tokoh masyarakat, Kurir #SedekahRombongan dapat bertemu dengan Jihan dan keluarganya. Melalui persetujuan dua belah pihak, akhirnya bayi berusia sepuluh bulan ini menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan. Setelah menjalani rawat inap selama lebih dari lima bulan, akhirnya Jihan diperbolehkan untuk rawat jalan. Jihan dijadwalkan kontrol setiap dua minggu sekali di poli anak, poli kulit, poli syaraf dan poli penyakit dalam di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. #SedekahRombongan kemudian memberikan bantuan biaya pengobatan, transportasi dan akomodasi. Pembelian susu pegistimil untuk Jihan pun menggunakan dana dari #SahabatSR. Mari kita juga berdoa bersama supaya Jihan segera sembuh, Aamiin…

Jumlah Bantuan : Rp 1.572.380
Tanggal : 15 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana

Jihan menderita Atresia Bilier & Sirosis

Jihan menderita Atresia Bilier & Sirosis


ALMH. NGATINEM BIN NGARTO (49 Tahun, Kanker Payudara). Alamat: Gunung Cilik, RT.04 Desa Muntuk, Kec. Dlingo, Kab. Bantul, DIY. Almarhum Bu Ngatinem sebelumnya bekerja sebagai buruh tani. Riwayat penyakit kanker payudaranya berawal dari enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010. Ia memiliki benjolan di payudaranya, ia lalu memeriksakan diri ke RSI Hidayatullah Yogyakarta. Saat itulah diagnosa penyakitnya ditemukan, berdasarkan pemeriksaan ternyata benjolan tersebut adalah kanker. Bu Ngatinem memutuskan menjalani operasi, setelah dioperasi ia dinyatakan sembuh oleh dokter. Namun satu tahun kemudian, timbul benjolan lagi, ia pun kembali berobat, ia menjalani kemoterapi dan kontrol rutin setiap minggunya di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Bu Ngatinem memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah, BPJS. Namun saat itu ia memiliki kendala biaya transportasi dan akomodasi, dan pembelian obat yang tidak tercover BPJS. #Sedekaholic melalui #SedekahRombongan menyampaikan bantuan yang dipergunakan untuk membiayai transportasi, akomodasi dan pembelian obat. Bu Ngatinem layak mendapatkan bantuan karena kondisi ekonomi keluarganya sedang kekurangan. Terlebih semangat hidup beliau sangat tinggi, selalu berupaya dan berusaha keras dalam proses pengobatannya. Kita manusia hanya bisa berusaha, tapi pada akhirnya Tuhan-lah yang menentukan segalanya. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit kondisi kesehatannya kian menurun. Bu Ngatinem akhirnya meninggal pada Senin, 25 Januari 2016 lalu di RSUD Panembahan Senopati Bantul, innalillahiwainnailaihiroojiun… #Sedekaholic melalui #SedekahRombongan kembali bersilaturahmi dan berbelasungkawa sembari menyampaikan santunan belasungkawa untuk keluarga Bu Ngatinem. Keluarga menyambut baik Kurir #SedekahRombongan dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan selama ini. Pihak keluarga memohon doa untuk almarhumah semoga almarhumah diterima di sisi Tuhan YME, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, Amin…

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 17 Februari 2016
Kurir : @KissHerry @RofiqSILVER @FahmiSQ

Almh bu ngatinem menderita Kanker Payudara

Almh bu ngatinem menderita Kanker Payudara


RUMAH SINGGAH SEDEKAH ROMBONGAN JOGJA 1 DAN 2 (Biaya  Operasional). #RSSR Jogja 1 dan 2 beralamat di Jl. Wonosari Km. 7 Bumen Wetan RT.07 Mantup, Banguntapan, Bantul, DIY. #RSSR Jogja 1 dan 2 merupakan rumah bersama yang dipergunakan untuk singgah dan/atau tinggal sementara bagi para pasien dampingan #SedekahRombongan. #RSSR Jogja 1 dan 2 kian dikenal oleh masyarakat sebagai rumah singgah yang diperuntukkan khusus bagi pasien dampingan #SedekahRombongan yang sedang melakukan rawat jalan dan berasal dari golongan tidak mampu atau dhuafa. Pasien yang rumahnya jauh dibawa ke rumah singgah terlebih dahulu sebelum dibawa berobat ke rumah sakit, setelah selesai berobat dipulangkan kembali ke rumah masing-masing. Pasien yang singgah di #RSSR Jogja 1 dan 2 mayoritas berasal dari luar Kota Jogja. #RSSR ada karena tuntutan kebutuhan dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. #RSSR dibangun dan dikelola dari dana sedekah #SahabatSR yang menitipkannya melalui #SedekahRombongan. Selama Bulan Maret 2016, #RSSR Jogja 1 dan 2 membutuhkan biaya sebesar Rp 26.784.117. Biaya ini meliputi biaya administrasi, biaya operasional, biaya konsumsi dan biaya medikasi. Biaya operasional terdiri dari biaya listrik dan air, serta keperluan lain di #RSSR. Biaya konsumsi meliputi biaya logistik untuk menunjang gizi pasien dampingan #SedekahRombongan. Biaya medikasi terdiri dari perawatan dan pembelian alat dan obat-obatan. RSSR Jogja 1 dan 2 juga digunakan sebagai kantor administrasi pusat yang membantu kinerja #SedekahRombongan secara nasional. Biaya administrasi terdiri dari biaya perkantoran. Sedekah dari #SahabatSR sangat membantu dan menunjang kebutuhan Tim #SedekahRombongan dalam menyantuni dan melayani para dhuafa. Semoga sedekah yang diberikan dapat menjadi ladang pahala bagi #SahabatSR. Mudah-mudahan kedermawanan #SahabatSR dibalas dengan berkah di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Berikut rincian pengeluaran RSSR Jogja 1&2 :

Biaya operasional : Rp 7.376.017

Medikasi : Rp 4.344.600

Konsumsi : Rp 15.063.500

Jumlah bantuan : Rp 26.784.117
Tanggal : 31 Maret 2016
Kurir : @kissherry @namaku_arini @chandiana_

Bantuan operasional untuk  biaya administrasi, biaya operasional, biaya konsumsi dan biaya medikasi

Bantuan operasional untuk biaya administrasi, biaya operasional, biaya konsumsi dan biaya medikasi


AHMAD Zainuri (19th, Kanker Nasofaring /Rongga belakang hidung) yang biasa dipanggil Zainuri beralamat di Jl Ki Ageng Gribig Gang  6 RT 02 RW 05  Kelurahan Madyopuro  Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Anak kedua dari 3 bersaudara pasangan Bapak Hendri dan Ibu Ngateni ini harus menjalani masa mudanya untuk menjalani pengobatan di RS Syaiful Anwar Malang. Sakit radang yang awalnya diduga radang biasa dan tak kunjung sembuh hampir 1 tahun ternyata menimbulkan  benjolan di sekitar leher Zainuri , semakin lama benjolan tersebut semakin membesar dan membuat Zainuri sulit  berbicara sejak 3 bulan terakhir. Akhirnya Zainuri dibawa ke RS Syaiful Anwar,  saat awal pengobatan,  fasilitas kesehatan Zainuri mengalami masalah sehingga tagihan rumah sakit belum bisa terbayarkan. Ayah Zainuri  bekerja sebagai sopir travel serabutan dan Ibunya  bekerja sebagai buruh linting  disebuah pabrik rokok di Kota Malang,  penghasilan perbulannya belum bisa mencukupi biaya pelunasan tunggakan  rumah sakit. Alhamdulilah Sedekah Rombongan akhirnya dipertemukan dengan Zainuri sehingga dapat membantu meringankan biaya tunggakan rumah sakit  Ahmad Zainuri.

Jumlah Bantuan Rp 1.000.000
Tanggal: 18 Maret 2016
Kurir: @faizfaerus @fajarnurhidayat

Ahmad menderita Kanker Nasofaring /Rongga belakang hidung

Ahmad menderita Kanker Nasofaring /Rongga belakang hidung


KATINI BOYOLANGU ( 47 tahun, Kanker Payudara). Bertempat tinggal di Dusun Genting, RT 003 RW 003 Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Bu Katini merupakan pasien dampingan #SRMalang. Bu Katini tidak hidup sendirian, namun beliau hidup bersama suaminya yaitu Bapak Sugiono yang selalu mendampingi. Riwayat pengobatan beliau adalah ketika beliau merasakan gejala sakit pada payudaranya di awal tahun 2014, Bu Katini dibawa untuk berobat ke RSUD Tulungagung, kemudian oleh RSUD Tulungagung beliau mendapat rujukan untuk dibawa ke RS Syaiful Anwar Malang untuk melakukan kemoterapi sebanyak 12 kali. Namun, selain keterbatasan biaya, beliau dan suami memiliki masalah transportasi dan tempat tinggal apabila melakukan kemoterapi di Malang. Santunan lanjutan dari rombongan 806 diberikan kepada Bu Katini digunakan untuk uang saku pengobatan kemoterapi selama di RS Syaiful Anwar dan transport sewa mobil dari Tulung Agung ke Malang. Alhamdullilah  Bu Katini sekeluarga sangat senang atas bantuan dari #sedekahholic. Semoga rezeki para #sedekahholic selalu di lancarkan dan Ibu Katini juga segera di beri kesembuhan. aminn

Jumlah Bantuan: Rp 800.000
Tanggal: 3 Maret 2016
Kurir : @FaizFaeruz @oby_bee

Ibu katini menderita  Kanker Payudara

Ibu katini menderita Kanker Payudara


FADHIL BIMO PRATAMA, (10, Radang Selaput Otak). Alamat: : Jl. Pejaten Barat 2,  No. 22 RT 7/8 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bimo biasa dia disapa adalah seorang pelajar yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar Bangka 3 Pagi. Awalnya Bimo berasa lemas dan pusing saat di sekolah, sesampainya dirumah ibunda Bimo memberikan obat warung setengah butir kepada Bimo untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, tetapi rasa sakit dikepalanya itu tak kunjung reda malah makin menjadi. Akhirnya pada malam harinya orang tua Bimo memutuskan untuk membawa Bimo ke RSUD Pasar Minggu, dan Bimo sempat di rawat di IGD RSUD Pasar Minggu selama 3 hari. Bimo juga harus menjalani CT Scan untuk mengetahui penyakit yang diderita, Karena peralatan medis di RSUD Pasar Minggu belum memadai akhirnya Bimo dirujuk ke RS M.H Thamrin Salemba untuk perawatan lebih lanjut karna kondisi Bimo sekarang sudah tidak dapat mengenali siapapun bahkan kedua orang tuanya. Ayah Bimo, Suprapto (35) dan ibunya, Nur Qhomariah (36) mengungkapkan kesedihan dengan kondisi Bimo saat dijenguk Kurir #SedekahRombongan. Sebagai tulang punggung keluarga Pak Suprapto bekerja sebagai Security untuk menafkahi istri dan anaknya. Fasilitas kesehatan yang dimiliki adalah BPJS Kelas 3. Alhamdulillah, Allah SWT. mempertemukan Kurir #SedekahRombongan Jakarta berdasarkan info dari #SedekahRombongan Lampung dengan Pak Suprapto dan keluarganya. #SedekahRombongan Lampung merasakan kesulitan mereka, bantuan awalpun disampaikan. Semoga bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban hidup Pak Suprapto dan keluarganya serta biaya pengobatan. Mereka sangat berterima kasih kepada Sedekahholic dan #SedekahRombongan Lampung dan Jakarta atas bantuan yang diberikan dan mendoakan semoga selalu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Aamiin. Semoga Bimo kesadarannya segera membaik dan kesehatannya pulih kembali sehingga ia dapat sekolah seperti biasa.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 3 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @arisasamara @anassaramadhan @siskakhadija @akuokawai

Fadhil menderita Radang Selaput Otak

Fadhil menderita Radang Selaput Otak


IRFAN HAKIM, (3, TBC Paru + Cerebral Palsy). Alamat: Jln. Hidayah No.70 Komplek Rajabasa Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung. Irfan, biasa ia dipanggil adalah balita yang masih sangat dini untuk untuk berbaring lemah di rumah sakit. Sejak berusia 3 bulan Irfan sudah mengalami kejang tetapi keluarga hanya membawanya berobat jalan. Setelah memasuki usia 1 tahun penyakitnya kambuh dan dibawa ke rumah Sakit Umum Pringsewu karna pada saat itu keluarga irfan tinggal di Tanggamus tempat neneknya, setelah 5 hari dirawat di Rumah Sakit Umum Pringsewu irfan diperbolehkan pulang, dan keluarga irfan kembali tinggal dirumahnya di Bandar Lampung, tidak lama tinggal di Bandar Lampung penyakitnya kambuh lagi dan dibawalah Irfan oleh pihak keluarga ke Rumah Sakit Bintang Amin dan dirawat selama 5 hari,  setengah bulan keluar dari rumah sakit irfan pun kambuh lagi dan dibawa lagi kerumah sakit Bayangkara tetapi kondisi irfan masih belum membaik sehingga pihak rumah sakit merujuknya ke Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung untuk penanganan lebih lanjut. Saat di RS Abdul Moeloek Irfan didiagnosis terkena penyakit Cerebral Palsy atau kelumpuhan otak yang menyebabkan Irfan sering mengalami kejang dan TBC Paru. Irfan sudah ditinggal ayahnya (Alm. Taufik Hidayat) saat usia 3 bulan dan ibunya Ny. Sulastri (32) sekarang harus menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga untuk membiayai kedua anaknya, Ibu Sulastri yang keseharianya sebagai buruh cuci di lingkungan setempat, merasa kesulitan untuk membiayai kebutuhan keluarga dan menanggung biaya pengobatan Irfan apalagi Irfan Sering keluar masuk Rumah Sakit, keluarga ini memiliki jaminan kesehatan berupa Jaminan Kesehatan Daerah. Alhamdulillah, Allah SWT. mempertemukan Kurir #SedekahRombongan Lampung dengan Bu Sulastri dan keluarganya. #SedekahRombongan Lampung merasakan kesulitan mereka, bantuan awalpun disampaikan. Semoga bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban hidup Ibu Sulastri dan keluarganya serta biaya pengobatan. Mereka sangat berterimakasih kepada Sedekahholic dan #SedekahRombongan Lampung atas bantuan yang diberikan dan mendoakan semoga selalu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 4 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @arisasamara @kurnia_wati99 @akuokawai

Irfan menderita TBC Paru + Cerebral Palsy

Irfan menderita TBC Paru + Cerebral Palsy


HANI NURHAWATI (35, Lupus dan Kanker Kulit). Alamat: Jl. Cicadas Girang, RT.1/6, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Istri Aji Hendratna (39) ini adalah ibu dari 4 anak. Mereka tinggal di rumah kontrakan kecil dan sempit. Sejak 3 tahun lalu, ia didiagnosis kanker kulit dan penyakit Lupus. Meski penyakitnya tergolong berat, Bu Hani tidak patah semangat. Ia semakin rajin bekerja dan mencari nafkah sebagai buruh cuci untuk tambahan biaya berobat. Sampai saat ini ia tak henti mengikuti pengobatan rawat jalan pada dokter yang bertugas di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Ia menyadari bahwa jaminan kesehatan BPJS PBI Kelas 3 tidak menjamin seluruh obat yang diresepkan dokter untuknya. Kondisi memprihatinkan muncul bila sedang kambuh, dari kulit kepalanya akan timbul perdarahan. Meskipun demikian, Bu Hani tetap menerima keadaan yang menimpa dirinya dan tetap bertawakal kepada Allah atas penyakit yang ia derita. Ia juga mencoba terus pasrah walau kini ia ditinggal suaminya yang tak kuat menerima ujian. Karena ketidaknyamanan dan stres, kondisinya semakin memprihatinkan. Ia merasakan nyeri, gatal, dan perih hampir di setiap bagian dari tubuhnya. Pada 18 September 2015 kurir #SR menemuinya di RSHS. Kondisnya masih memprihatinkan dan ia harus terus berobat. Begitu juga saat ia dijemput selesai berobat pada 14 November 2015, ia masih diharuskan berobat dan alhamdulillah sedekaholics #SR memberinya bantuan. Pada akhir Desember 2015, ia mengeluhkan rasa sakit di telinganya. Kondisi Bu Hani semakin memburuk. Pada awal Februari 2016, dia meminta bantuan kurir #SR untuk berobat karena beberapa bagian dari kulit kepalanya kerap mengeluarkan nanah. Maka untuk meringankan beban Bu Hani, pada bulan itu #SedekahRombongan juga memberinya bantuan untuk biaya berobat. Pada akhir Maret 2016 Bu Hani kembali memohon bantuan #SR untuk melanjutkan pengobatan. Saat bertemu di RSHS Bandung, ia menyampaikan bahwa kanker di kulit kepalanya semakin menyebar. Ia masih ingin terus berobat. Untuk meringankan beban Bu Hani, kembali #SedekahRombongan memberinya  menyampaikan Titipan Langit yang digunakan untuk uang transport-akomodasi berobat dan biaya hidup sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 804.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 31 Maret 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Ibu hani menderita Lupus dan Kanker Kulit

Ibu hani menderita Lupus dan Kanker Kulit


MUHAMMAD IQBAL FAUZY (16, Gangguan Ginjal). Alamat : Kampung Ranca Ucit RT.4/6 Desa Ranca Panggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Bersama ayah, ibu, dan kelima saudara kandungnya, ia tinggal di rumah sederhana yang masih belum selesai pembangunannya. Ayahnya, Pak Hasanudin (36) bekerja sebagai tukang ojek di kampungnya dengan penghasilan tak menentu. Ibunya, Rosnawati (36 ), selain disibukkan dengan mengurus anak-anaknya, juga berdagang warungan di rumahnya. Bagi Pak Hasanudin, bukan hal yang mudah membesarkan keenam anak-anak mereka dalam kondisi ekonomi yang tergolong dhuafa. Apalagi putra kedua mereka, Iqbal, mengalami penyakit berat yang membutuhkan penanganan serius. Sejak November 2015, siswa Kelas 2 SMK Jurusan Otomotif ini tak dapat buang air kecil dan buang air besar dengan lancar.  Dengan menggunakan Kartu Jamkesmas, orangtuanya kemudian memeriksakan Iqbal ke puskesmas dan RSUD Cililin dan sempat dirawat dua minggu. Iqbal diduga menderita kebocoran ginjal. Ia kemudian dirujuk ke IGD RS Dustira dan ke IGD RSHS Bandung. Karena tidak ada biaya untuk terus dirawat di rumah sakit, keluarganya hanya pasrah mengobatinya di rumah. Harapan Iqbal untuk terus berikhtiar sampai sembuh dan bisa bersekolah lagi akhirnya sampai kepada kurir #SR atas informasi tetangga mereka. Kurir #SedekahRombongan kemudian menjenguk Iqbal di rumahnya dan malam itu juga membawanya ke IGD RS Dustira. Tim medis di rumah sakit binaan TNI AD ini memutuskan untuk merawat inap Iqbal malam itu juga. Dan alhamdulillah, dengan empati sedekaholics, malam itu #SedekahRombongan dapat menyampaikan bantuan awal untuk Iqbal dan keluarganya. Santunan yang diterima kakak Iqbal ini digunakan untuk biaya akomodasi dan biaya sehari-hari selama Iqbal dirawat di rumah sakit. Setelah dirawat, Iqbal gigih memperjuangkan kesembuhannya dengan rutin kontrol dan menjaga kesehatannya. Pada akhir Maret 2016, saudaranya memberitahu kurir #SR di Bandung bahwa Iqbal masih membutuhkan biaya untuk menuntaskan ikhtiarnya. Saat berjumpa dengan Iqbal dan keluarganya, ia tampak semakin membaik setelah menjalani kontrol dan pengobatan di minggu terakhir bulan Maret 2016. Berdasarkan hasil cek di laboratorium, insya Allah, Iqbal mendekati kesembuhan. Ibunya pun sudah mulai bersemangat berdagang lagi di depan rumahnya. Meskipun demikian, pengobatannya belum diberhentikan oleh dokter yang menanganinya dI RSU Dustira Kota Cimahi. Ia masih harus kontrol dan membutuhkan bantuan. Dengan izin Allah Swt dan kedermawanan sedekaholics, alhamdulillah, kembali kurir #SR menyampaikan Titipan Langit kepada Iqbal dan keluarganya. Bantuan kedua yang mereka terima di rumahnya ini digunakan untuk biaya membeli obat, tranportasi-akomodasi, dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 802.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 1 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Iqbal menderita Gangguan Ginjal

Iqbal menderita Gangguan Ginjal


WATI BINTI RUSMAN (13, Suspect kelumpuhan saraf otak). Alamat: Kampung Jampe Berun RT.3/7 Desa Sindang Kerta, Kecamatan Sindang Kerta, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Bersama ayah dan ibunya, kini Wati tinggal menumpang di rumah nenek dari ibunya. Di rumah panggung berdinding bilik ini bernaung dua keluarga. Baru dua bulan keluarganya pindah ke Bandung Barat. Sebelumnya mereka tinggal di wilayah Banten di daerah terpencil, di rumah sederhana yang dibangun di atas tanah milik Perhutani. Karena tidak ada lagi pekerjaan, ayah-ibunya membawanya hijrah ke tempat kelahiran ibu Wati, Sumiati (41) di Sindangkerta. Ayahnya, Rusman (45) pernah bekerja di sana sebagai penyedap karet. Kepindahan mereka juga dipicu keinginan ayah-ibu Wati untuk melupakan kesedihan mereka ditinggal  kedua kakak Wati yang telah meninggal. Wati terlahir dalam keadaan normal. Akan tetapi, ketika berusia lima bulan, Wati kerap mengalami kejang, sulit menerima asupan makanan dan sulit tidur. Selama bertahun-tahun di Banten, Wati belum pernah diperiksakan secara serius ke rumah sakit. Walaupun sudah memiliki Jamkesmas, mereka belum pernah memanfaatkannya karena jarak yang jauh dan ketidakadaan biaya operasional. Dua bulan di Bandung, ibunya menguatirkankan kondisi anaknya. Ia kemudian menemui Kepala Desa Sindangkerta, meminta petunjuk dan bantuan untuk mengobati Wati.  Berdasarkan informasi dari Kepala Desa, alhamdulillah, #SedekahRombongan bisa bersilaturahmi dengan keluarga dhuafa ini. Didampingi Kepala Desa Sindagkerta, kurir #SR kemudian memeriksakannya langsung ke RS Dustira Kota Cimahi. Tim medis rumah sakit binaan TNI AD ini menduga Wati mengalami kelumpuhan otak. Wati harus menjalani fisioterapi dua kali dalam seminggu. Setelah menjadi pasien dampingan #SR dan mendapatkan perhatian khusus dari Kepala Desa dan kader PKK setempat, pengobatan Wati semakin teratur. Berat badannya kini bertambah meskipun belum ada tanda-tanda pembaikan yang berarti. Wati masih harus kontrol rutin seminggu sekali dan masih membutuhkan bantuan sedekaholics. Memahami beratnya musibah yang menimpa Wati dan keluarganya, sedekaholics #SR kembali menyampaikan bantuan yang diterima ibunya di rumah orangtuanya. Bantuan ini digunakan untuk transportasi-akomodasi berobat, membeli susu, dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat administrinya di Rombongan 783.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000.-
Tanggal : 1 April 2015
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Wati menderita Suspect kelumpuhan saraf otak

Wati menderita Suspect kelumpuhan saraf otak


ENDANG SUSILAWATI (45, Stroke). Alamat: Kampung Kaum Kidul Barat RT.3/16 Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bu Endang Susilawati tinggal bersama suami dan anaknya di rumah sederhana peninggalan orangtuanya. Suami Bu Endang, Bpk. Endang A,(53), sehari-hari dikenal sebagai supir angkot jurusan Ciwidey-Patengan dan terkadang bekerja serabutan untuk menambah penghasilan. Walau tanggungan keluarga mereka 2 orang, tampak berat mereka menjalankan roda rumah tangganya. Rumah pengap mereka menjadi saksi derita Bu Endang yang selama tiga tahun ia diduga terserang stroke. Awalnya lengan kanan Bu Endang tak dapat  digerakkan, lalu lengan kirinya. Cukup lama ia menjalani keseharian dengan kedua tangan dan lengannya tak berfungsi maksimal. Berbekal Jamkesmas, upaya medis yang pernah mereka lakukan hanya sampai ke Puskesmas dan menjalani pengobatan alternatif dengan diurut tradisional. Enam bulan yang lalu kedua kakinya bahkan tak bisa berjalan sempurna. Bu Endang hanya bisa terbaring pasrah. Keluarganya tidak memeriksakannya lebih jauh ke rumah sakit karena kuatir masalah biaya. Kebingungan keluarga Endang akhirnya sampai kepada #SedekahRombongan melalui informasi perangkat Desa Ciwidey. #SedekahRombongan kemudian mendampinginya berobat ke RSUD Soreang, RSUD Al-Ihsan Baleendah dan terakhir ke RS Hasan Sadikin Bandung. Di rumah sakit rujukan nasional ini ia sempat dirawat lima hari. RSHS Bandung kemudian memperbolehkan perawatan Bu Endang ke rumah sakit daerah. Sampai saat ini Bu Endang berobat jalan sebulan sekali ke RSUD Soreang. Ia juga rutin terapi urut yang dianggapnya membantu latihan pergerakan kaki dan tangannya. Ia kini mulai bisa berjalan selangkah demi selangkah. Tetapi sampai kini ia belum bisa berbicara dengan jelas. Bu Endang masih menjalani terapi dan berobat. Keluarga dhuafa ini masih membutuhkan bantuan para dermawan. Karena itu, dengan rahmat Allah Swt dan empati sedekaholics, kembali #SedekahRombongan memberinya bantuan lanjutan untuk biaya sehari-hari, transportasi, dan akomodasi berobat. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 792.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 2 April 2015
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Ibu endang menderita Stroke

Ibu endang menderita Stroke


KEYSA PUTRI FEBRIYANI (7 hari, Lahir Prematur). Alamat : Kampung Pagersari RT.1/5 Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwdey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bayi Keysa adalah anak ketiga buah pernikahan Pak Rudi Permana (46) dengan Ibu Heni Nuraeni (35). Keysa lahir hari Minggu, 21 Februari 2016 di RSUD Soreang. Ibunya, Bu Heni melahirkan Keysa dalam kondisi prematur dan tertutup ketuban. Mulanya di pagi hari libur itu Bu Heni mengalami pendarahan ketika sedang menjalankan aktivitasnya di dapur. Ibu hamil itu kemudian diperiksakan ke Poned Puskesmas Pasirjambu. Menurut pemeriksaan bidan di sana, Bu Heni sudah mengalami “pembukaan empat”. Bu Heni kemudian dirujuk ke IGD RSUD Soreang. Ia lalu ditangani proses melahirkannya di Ruang Dahlia. Alhamdulillah dia mendapatkan pertolongan maksimal, dengan menggunakan Kartu Jamkesmas. Alhamdulillah pada pukul 10.00 WIB bayi itu dilahirkan. Ibu dan bayinya selamat. Namun, bayi mungil itu lahir dalam keadaan prematur. Bayi –yang kemudian dinamai Keysa Putri Febriyani– itu harus mendapatkan perawatan khusus di ruang khusus, dalam  inkubator, selama enam hari. Ibunya sendiri dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang dua hari setelah  melahirkan. Karena bayi Keysa belum memiliki jaminan kesehatan apa pun dan kedua orangtuanya merasa tak sanggup untuk membayar biaya rumah sakit, keluarga dhuafa itu menjadi kalut. Kebingungan mereka akhirnya sampai kepada #SedekahRombongan atas informasi kader PKK di Desa Ciwidey. Bersama warga yang peduli, akhirnya dibuatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) Kab. Bandung atas nama Bayi Keysa untuk membayar biaya perawatannya. Berdasarkan informasi salah seorang tenaga medis, hari Minggu 28 Februari 2016, bayi Keysa bisa dibawa pulang. Maka MTSR 1629 bersama orangtuanya segera menjemputnya di RSUD Soreang. Akan tetapi, setelah diperiksa lebih cermat oleh dokter yang memanganinya, ternyata pada lambungnya masih ada cairan yang diduga sisa ketuban. Bayi Keysa akhirnya dirawat intensif. Biaya perawatannya diperkirakan Rp.6.000.000,- Memahami betapa beratnya tempaan hidup keluarga dhuafa ini, alhamdulillah, sedekaholics #SR sempat memberinya bantuan untuk biaya pembuatan SKTM Kab. Bandung, buaya transportasi-akomodasi, dan biaya sehari-hari orangtua Keysa selama di rumah sakit, serta menjadikannya sebagai pasien dampingan. Perawatan bayi Keysa ternyata jauh dari perkiraan. Ia dirawat 20 hari. Setelah dinyatakan membaik kesehatannya, Keysa diperbolehkan pulang. Akan tetapi orangtuanya kebingungan untuk membayar tagihan biaya perawatan Keysa. Mereka tidak bisa membawanya pulang sebelum membereskan administrasi keuangannya. Tagihan dari RSUD Soreang Rp.9.350.000,-. Karena jaminan SKTM Kab. Bandung an. Bayi Keysa sudah dapat dipergunakan, alhamdulillah sebagian pembayarannya menggunakan surat keterangan itu senilai Rp.5.000.000,- Masih ada sisa tagihan yang barus dibayar orangtua Keysa, yakni Rp.4.350.000,-. Sayang, orangtua Keysa masih tak sanggup membayar sisanya. Didampungi kurir #SR, ayahnya Keysa kemudian bernegosiasi dengan bagian keuangan RSUD Soreang. Pada 15 Maret 2016 itu akhirnya dicapai kesepakatan : pembayaran sisa tagihannya secara diangsur, Rp.500.000,- perbulan. Alhamdulillah Sedekaholics #SR kemudian membayarkan sisa tagihannya, Rp.500.000,- sebagai angsuran pertama dan Keysa bisa dibawa pulang. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 810.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 30 Maret 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Keysa lahir kondisi prematur dan tertutup ketuban

Keysa lahir kondisi prematur dan tertutup ketuban


REDI GUSTIANDI (23, Gangguan Kejiwaan). Alamat: Kampung Ciwidey Tengah RT.2/10 Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Anak kedua dari Bapak Aman (56) dan ibu Leni (56) ini tingggal di rumah kontrakan di Ciwidey bersama ketiga saudara kandungnya. Lima tanggungan keluarga ini amat memberatkan mereka. Apalagi, sejak empat tahun yang lalu, Redi mengalami gangguan kejiwaan. Berbagai upaya penyembuhan telah dijalankan keluarganya, baik melalui alternatif maupun medis (rawat jalan). Ia belum pernah dirawat inap secara intensif di rumah sakit, sampai mereka menjadi pasien dampingan #SR. Sebelum mendapatkan bantuan rutin dari sedekaholics #SR, Redi tidak memiliki jaminan kesehatan, baik Jamkesmas maupun BPJS. Fasilitas yang mereka miliki hanya SKTM dan Gakinda Kabupaten Bandung yang nominal jaminannya sangat terbatas. Domisili keluarga ini tidak menetap. Mereka kerap berpindah kontrakan. Perekonomian keluarga Rendi amat terpuruk. Ayahnya hampir dua tahun tidak bekerja karena sakit, dan kini sudah meninggal dunia (wafat: Oktober 2015). Karena Redi dan keluarganya perlu dibantu, kader PKK Desa Ciwidey menghubungi #SedekahRombongan untuk bersama-sama mencarikan solusi. Alhamdulillah kini Redi sudah memiliki Kartu BPJS Mandiri dan sudah termanfaatkan sejak 6 April 2015. Gangguan yang dialami Redi kerap meresahkan warga, sehingga kemudian ia dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Selama 19 hari akhirnya Redi dirawat inap di RSHS Bandung dengan dampingan #SedekahRombongan. Pada 5 Mei 2015 Redi diizinkan pulang dan harus kontrol seminggu kemudian. Kini pengobatan Redi bisa dilakukan di RSUD Soreang. Ia kontrol rutin sebulan sekali. Pada bulan Desember 2015, MTSR 1629 sempat mengantarnya ke RSUD Soreang bersama pasien yang lain. Pada 6 Februari 2016, ibunya memberitahu kurir #SR bahwa kondisi kejiwaan Redi memburuk. Ia lalu diantar kembali kontrol ke RSUD Soreang. Sehari kemudian ibunya mengabarkan bahwa anaknya mulai tenang. Pada awal April 2016 ibunya kembali menghubungi kurir #SR dan menuturkan bahwanl Redi masih harus berobat. Karen keluarganya masih sangat membutuhkan biaya untuk meneruskan pengobatan Redi, kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan untuk biaya transportasi-akomodasi, membayar iuran BPJS, dan keperluan sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat administrasinya di Rombongan 804

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 4 April 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Redi menderita Gangguan Kejiwaan

Redi menderita Gangguan Kejiwaan


NENG SETIAWATI (26, Gangguan Jiwa). Alamat: Kampung Cimuncang Utara RT.3/6 Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Sehari-hari Eneng tinggal bersama di rumah orangtuanya. Ia  pernah berumah tangga, namun kemudian bercerai. Eneng memiliki satu anak laki-laki berusia 6 tahun yang tinggal  bersamanya. “Sejak kecil anak saya telah kehilangan kasih sayang ibu yang melahirkannya. Ibunya, Iin Marlina, telah lama meninggal dunia karena sakit, 16 tahun yang lalu saat Eneng masih anak-anak. Ketika berumah tangga, ia begitu keras menjalani hidupnya. Saat usahanya mulai membaik dan ia amat mencintai keluarga dan suaminya, ia malah diceraikan tanpa kesalahan. Tampaknya ini yang membuat Eneng seperti sekarang ini”, cerita Tatang S (52), ayah Eneng sambil menitikkan air mata dengan suara tertahan. Itulah potret buram keluarga dhuafa. Sementara itu, Pak Tatang, tak bisa berbuat banyak untuk mengobati luka batin anak kelima dari enam bersaudara ini. Hampir setahun Eneng tidak mendapatkan pengobatan yang berarti. Penghasilan Pak Tatang tak seberapa. Ia hanya juru parkir di taman kota Ciwidey. Eneng mulai menunjukkan gejala gangguan jiwa ketika ia  lebih senang menyendiri dalam kegelapan,  berhari-hari tidak mau makan, dan minum, serta mulai tidak melakukan perawatan diri. Fungsinya sebagai seorang ibu mulai terganggu. Berbagai upaya medis dan nonmedis telah dilakukan, akan tetapi kegoncangan jiwanya malah semakin menjadi. Tampaknya luka kehidupan dan kekecewaan itu teramat susah disembuhkan! “Neng bahkan kerap melukai diri sendiri. Tetapi kami tak’kan putus asa untuk berusaha menyembuhkannya. Hanya saja, kami tak sanggup lagi mencari biaya untuk mengobatinya. Jaminan kesehatan pun kami tak punya,” tambah ayahnya. Alhamdulillah #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga yang sedang mendapat ujian ini. Pada tahun 2014 #SedekahRombongan mendampinginya berobat ke RSJ Cisarua dan RSHS Bandung, hampir enam bulan. Kurir SR juga memfasilitasi pembuatan Kartu BPJS untuk jaminan biaya berobatnya. Paea akhir 2014 ia dinyatakan semhuh setelah dua bulan ia menjalani kontrol ke RSUD Soreang. Neng bisa berkomunikasi seperti biasa bahkan beraktivitas kembali. Ia bahkan membangun keluarga baru. Akan tetapi, pada awal April 2016 orangtuanya menghubungi kurir #SR mengabarkan bahwa penyakit Neng kambuh lagi. “Mungkin persoalan rumah tangga yang menyebabkan penyakitnya kambuh lagi,” kata bapaknya sambil menunduk. Berempati atas musibah yang tak henti dialami Bu Neng dan keluarganya, kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan untuk kelanjutan berobat Bu Eneng. MTSR Bandung alhamdulillah sempat mendampinginya berobat ke RSUD Soreang dan RSJ Cisarua Lembang Kab. Bandung Barat. Bantuan yang disampaikan di rumah saudaranyà ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi, bayar iuran BPJS, dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat masuk di Rombongan 656.

Jumlah Bantuan: Rp.1.000.000,-
Tanggal : 5 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Eneng menderita Gangguan Kejiwaan

Eneng menderita Gangguan Kejiwaan


DONI SYAIFUL RAHMAN (19, Thalasemia Major). Alamat : Jl. Ancol Kawung No. 34 RT.4/3, Kelurahan Ancol Kawung, Kecamatan Ancol, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Doni adalah anak kedua dari Bapak Sabar (58) dan Ibu Lisa Setiawati (50). Anak pertama Pak Sabar, Desy, telah meninggal dunia di usia 25 tahun dengan  penyakit yang sama diderita Doni. Pak Sabar sempat  membiayai pengobatan dua orang anaknya tanpa jaminan kesehatan apa pun. Semua hasil jerih payah usaha Pak Sabar sudah habis terkuras. Kini yang tersisa hanyalah gubuk kecil di ujung gang sempit,  yang kini jadi tempat tinggal mereka. Rumah pengap itu menjadi saksi betapa selama ini mereka harus memikul cobaan hidup yang teramat berat! Penghasilan Pak Sabar sebagai pedagang bakso tahu pikulan keliling tentu tAkan seberapa dibandingkan dengan tuntutan hidup dan keniscayaan yang harus mereka hadapi setiap hari. Meskipun demikian, Pak Sabar tak pernah merasa lelah berusaha, sambil mengobati anaknya. Doni diduga mengidap penyakit Thalasemia Major sejak usia 9 bulan. Beberapa tahun terakhir ia harus ditransfusi darah dua minggu sekali. Akibat transfusi itu terjadi pembengkakan limpa dan perutnya membesar. Ia sering mengalami sesak nafas dan harus diberi bantuan oksigen  Meskipun tabung oksigen  sudah dimilikinya, mereka harus mengisinya dua kali setiap bulan. Sebelum Doni terdaftar sebagai peserta BPJS, biaya transfusi dibayar sendiri dari hasil kerja dan pinjaman karena pengajuan SKTM tidak pernah selesai. Kini biaya transfusi darah sudah  ditanggung BPJS. Tetapi, untuk membeli obat yang lain, biaya transportasi dan kebutuhan oxygen harus mereka keluarkan sendiri walau mereka harus meminjam ke pihak ketiga. Padahal, hutang mereka terdahulu yang digunakan untuk membiayai pengobatan putranya –sebelum ada BPJS– belum terlunasi. Pak Sabar dan keluarganya membutuhkan bantuan untuk biaya pengobatan yang tidak ditanggung BPJS, transportasi, dan biaya tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Biaya yang mereka butuhkan untuk membeli obat, isi ulang oxygen, dan lain-lain per bulan sekitar Rp.800.000,-. Cerita duka keluarga dhuafa ini sampai kepada kurir #SedekahRombongan berdasarkan informasi salah satu radio swasta di Kota Bandung. Alhamdulillah #SR dapat bersilaturahmi dengan keluarga yang tabah dan tawakal ini dan menjadikan Doni sebagai pasien dampingan. Pada awal April 2016 kurir #SR Bandung Raya menjenguk Doni di rumahnya. Kondisinya belum membaik. Ia masih memerlukan bantuan untuk melanjutkan pengobatannya. Dengan rahmat Allah Swt, alhamdulillah #SR kembali menyampaikan titipan langit melalui para sedekaholics untuk membantu meringankan beban hidup keluarga dhuafa ini. Bantuan yang mereka terima di rumah gubuknya ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat rutin dan membeli gas oxygen. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 805.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 3 April 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @hapsarigendhis

Doni menderita Thalasemia Major

Doni menderita Thalasemia Major


WAHYU BIN SARMITA (83, Darah Tinggi dan Sesak Nafas). Alamat: Kampung Cibeuneur RT.2/1, Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pak Wahyu –begitu warga memanggilnya– kini tinggal berdua bersama istrinya di rumah bilik yang sangat sederhana dan sempit. Sehari-hari ia juga dikenal warga sebagai petugas kebersihan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tanpa penghasilan yang pasti.  Istrinya, Bu Entin (71), sekali-kali membantu pekerjaan mulia Pak Wahyu yang kini kerap terbengkalai sejak Pak Wahyu sakit-sakitan. Sudah cukup lama Pak Wahyu mengidap penyakit sesak nafas dan dan tekanan darah tinggi.  Akhir-akhir ini ia bahkan sering mengalami pusing dan sesak nafas berat. Karena faktor usia, Pak Wahyu juga mengalami kurang pendengaran. Sayang sekali, pengobatan yang dijalaninya hanya diperiksa ke Puskesmas dan sesekali berobat ke dokter umum jika penyakitnya dia rasa semakin parah. Walaupun sudah memiliki Kartu BPJS Kelas 3, mereka belum memanfaatkannya secara maksimal karena ketiadaan biaya transport dan akomodasi berobat; karena untuk menutupi biaya hidup sehari-hari pun mereka kewalahan. Penghasilannya sebagai sukarelawan kebersihan di TPU tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Penghasilannya hanya diperoleh atas belas-kasihan dan sedekah pengunjung makam yang berziarah. Akibat penyakit yang dideritanya, ia tidak bisa bekerja seperti biasa dan lebih sering tinggal di rumah. Kebutuhan sehari-harinya ia peroleh dari pemberian anaknya yang sudah berkeluarga atau dari belas-kasihan para tetangganya. Kegetiran hidup Pak Wahyu dan keluarganya akhirnya sampai kepada kurir #SR di Bandung berdasarkan informasi dari tokoh masyarakat dan ketua RW. Kurir #SR, Hj. Lilis Dariyah dan Hengki Hendrawan kemudian mengunjungi Pak Wahyu di rumahnya. Pak Wahyu dan keluarganya memang sangat layak dibantu. Ia tergolong dhuafa sakit yang tetap semangat untuk mengikhtiarkan kesembuhan. Karena itu, sampai kini ia termasuk pasien dampingan #SR. Pada awal April 2016 kurir #SR menjenguknya untuk kedua kalinya. Ia masih membutuhkan uluran tangan.   Alhamdulillah, dengan empati dari sedekaholics #SR, kembali Titipan Langit telah disampaikan kepada Pak Wahyu. Bantuan kedua yang ia terima di rumahnya ini digunakan untuk biaya berobat dan biaya hidup sehari-hari. Bantuan sebelum ini telah tercatat di Rombongan 805.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 3 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @HengkiSenandika @muchtar@LilisDariyah @hapsarigendhis

Wahyu menderita Darah Tinggi dan Sesak Nafas

Wahyu menderita Darah Tinggi dan Sesak Nafas


EEN BINTI WAHYAR (62, Keropos Tulang Belakang). Alamat: Kampung Pangeteran RT.04/13 Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Keropos tulang belakang yang diderita Ibu Een sudah dialaminya sejak 2012. Berdasarkan penuturannya, ia kerap merasakan nyeri yang teramat pada perutnya, yang diikuti pula rasa sakit pada tulang punggung dan pinggang, serta rasa linu di sekujur badannya. Meskipun termasuk dhuafa, ia terus berupaya mengobatinya. Tindakan medis pernah dia tempuh di RSUD Ujung Berung. Berdasarkan hasil rontgen, diketahui ada keretakan pada cincin tulang belakang Bu Een. Sebagai terapinya, dokter kemudian memakaikan alat penyangga tulang di badannya. Pada tahun 2015 Bu Een kembali memeriksakan kondisi kesehatannya di RSUD Ujung Berung Kabupaten Bandung. Tim medis menyimpulkan bahwa cincin tulang belakang Bu Een tidak bisa diobati lagi, dan dia harus terus-menerus memakai alat penyangga tulang, dibantu dengan obat pereda nyeri dan suplemen tulang yang diresepkan dokter. Menurut tim medis, pemakaian alat penyangga tulang itu dianggap penting; jika tidak memakai alat tersebut, dia tidak akan bisa berdiri –apalagi berjalan– dan tulang punggungnya akan terasa sakit yang dapat menghambat aktivitas sehari-hari. “Jika pergi berobat, saya kerap mengalami kesulitan. Berjalan pun susah,” kata Bi Een. Seperti dikemukakan kurir yang menemuinya, “Kasihan Bu Een! Ia tak bisa berjalan seperti biasa. Kediamannya pun terletak di daerah pegunungan. Kondisi jalannya terjal dan menanjak. Lebih dari itu, akses untuk mendapatkan jasa tranportasi umum pun susah didapat.Karena itu, Bu Een sering menggunakan jasa ojeg yang ongkosnya cukup tinggi (Rp.70.000,- per orang pulang-pergi); jika harus menggunakan angkot, Bu Een menyewanya dengan biaya Rp.250.000.” Biaya transportasi berobat Bu Een sangat mahal. Padahal, untuk membiayai kehidupan sehari-hari, ditambah keperluan hidup kedua cucunya, Bu Een peroleh dari bantuan warga atau sedekah beberapa kelompok pengajian yang menjenguknya, atau dari zakat yang hanya diperolehnya sekali dalam setahun. Alhamdulillah, dengan kemurahan hati Yang Maha Rahman Maha Rahim, melalui ibu-ibu pengajian yang acap kali menjenguknya, informasi mengenai derita Bu Een akhirnya sampai kepada kurir #SedekahRombongan, yang dilanjut dengan kunjungan langsung ke kediaman Bu Een. Berdasarkan kesaksian kurir #SR Bandung, Bu Een sangat layak mendapatkan bantuan untuk biaya berobat. Dengan empati sedekaholics #SR, alhamdulillah Santunan Awal pun disampaikan kurir #SR kepada Bu Een. Bantuan yang ia terima di rumahnya ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat, biaya membeli obat, dan biaya sehari-hari. Semoga bantuan ini membawa berkah bagi semua!

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 2 April 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @hengkisenandika @Lilis Dariyah @hapsarigendhis

Ibu een menderita Keropos Tulang Belakang

Ibu een menderita Keropos Tulang Belakang


ASRI AGUSTIN (15. Suspek : Penyakit Kulit dan Sembelit). Alamat: Kampung Pangeteran RT.04/13 Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Penyakit kulit yang diderita Asri mulai terasa sejak ia duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Pada mulanya di wajah Asri timbul bintk-bintik yang mirip dengan bisul kecil. Seiring perjalanan waktu, bintik-bintik itu semakin lama semakin banyak, menyebar, dan menyiksa karena menimbulkan rasa gatal yang hebat. Selain itu, ia juga cukup lama mengalami gangguan pada pencernaan. Sayang, Asri belum pernah memeriksakan penyakitnya ke dokter karena tidak ada biaya dan jauhnya tempat tinggal Asri —ia dan keluarganya tinggal di kampung, di daerah pegunungan. Bersama ayahnya, Asri numpang di rumah neneknya yang juga sedang sakit. Ayahnya, meskipun sehat, tidak dapat membiayainya berobat. Penghasilannya sebagai buruh bangunan dan kerja serabutan tidak mencukupi kebutuhan dasar hidup mereka. Meskipun demikian, ayah Asri terus berusaha untuk menyekolahkan anaknya padahal ongkos ke sekolah menghabiskan sekitar Rp.150.000,- per minggu. Keluarga dhuafa ini layak dibantu. Kehidupan mereka serba sulit. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka juga membutuhkan bantuan untuk berobat di tengah tingginya biaya transportasi karena akses dari rumah ke pusat kesehatan yang jauh dan sulit ditempuh. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, selain dari penghasilan ayah Asri yang tak mencukupi itu, juga diperoleh dari bantuan warga dan jemaah pengajian yang datang memberi santunan. Atas kehendak Allah SWT, informasi mengenai kesulitan yang dialami Asri dan keluarganya akhirnya sampai kepada kurir #SedekahRombongan. Berempati atas kesulitan yang dialami Asri dan keluarganya, sedekaholics #SR kemudian memberi mereka bantuan yang disampaikan kurir #SR di rumah sederhana itu. Santunan Awal ini digunakan untuk biaya transportasi dan akomodasi berobat serta biaya sehari-hari. Semoga bantuan ini menjadi berkah bagi semua dan membawa kesembuhan khusunya bagi penerima bantuan, yakni Asri.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @hengkisenandika @Lilis Dariyah @hapsarigendhis

Asri menderita Penyakit Kulit dan Sembelit

Asri menderita Penyakit Kulit dan Sembelit


ANNISA BINTI WAWAN (3 Tahun. Hydrochepalus). Alamat: Kampung Bojong Malaka, RT.2/13, Desa Kopo, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ayah Annisa, Wawan (29) bekerja sebagai kusir delman; sedangkan ibunya, Isma, hanya ibu rumah tangga. Saat Annisa berusia satu bulan, ia didiagnosis hydrochepalus. Berbekal Jamkesmas waktu itu Annisa sudah menjalani pemasangan selang (vp shunt) dan tiga kali mendapat tindakan operasi. Tetapi, sampai saat ini penyakitnya belum teratasi. Pada akhir tahun 2014 dokter menyarankan Annisa dioperasi kembali. Akan tetapi, orangtuanya merasa belum siap. Apalagi saat itu Annisa tidak terdaftar lagi sebagai peserta Jamkesmas. Masalah biaya rumah sakit menjadi kendala. Sebelumnya Annisa dirawat di RSHS Bandung karena penyakitnya kambuh, kepalanya terus membesar dan diduga mengalami meningitis. Tata laksana  terhadap keadaan Annisa membutuhkan waktu lama dan diperlukan kesiapan moril dan materiil. #SedekahRombongan kemudian mendaftrakan Annisa sebagai peserta BPJS sehingga orangtuanya tidak perlu merasa khawatir akan biaya pengobatan yang sangat mahal. Sampai Januari 2015 Annisa berobat jalan ke RSUD Soreang menggunakan jaminan kesehatan BPJS. Setelah Annisa memiliki Kartu BPJS, Alhamdulillah orang tuanya termotivasi kembali untuk melanjutkan tindakan operasi keempat bagi Annisa. Sayang, operasi belum dilaksanakan karena kondisi Annisa belum stabil. Ia kerap mengalami kejang setiap hari. Bahkan kini kedua matanya tak bisa melihat. Pada 30 Juni 2015, Kurir #SR bisa bertemu lagi dengan Annisa dan keluarganya setelah beberapa bulan mereka mengadu nasib di Cirebon. Untuk kesekian kalinya, mereka didampingi kembali mengawali pemeriksaannya ke RSUD Soreang kemudian ke RSHS Bandung. Pada awal Oktober 2015 Annisa mengalami kejang-kejang. Ia kemudian diperiksakan ke bidan dan Puskesmas. Ibunya Annisa, Bu Isma sendiri sedang mengandung anak ketiga. Dua kali Bu Isma diantar MTSR kontrol rutin pekembagan kehamilannya. Dokter Kandungan RSUD Soreang menduga kelahirannya melalui operasi. Dan pada 17 November 2015 Bu Isma melahirkan putri ketiganya melalui operasi cessar. Sementara itu kondisi anak keduanya, Annisa memburuk. Hampir setiap malam ia kejang dan demam. Pada pertengahan Januari 2016 kurir #SR menemui Annisa dan keluarganya untuk pemeiksaan rutin ke RSUD Soreang. Secara medis, tindakan terakhir untuk mengurangi cairan dan pembesaran kepalanya adalah operasi. Akan tetapi, sampai saat ini tindakan itu belum dilaksanakkan, menunggu kesiapan kedua orangtuanya. “Kami masih trauma Pak. Sudah dua kali Annisa dioperasi, tetapi kepalanya masih seperti itu,” jawab ibunya ketika ditanya kurir mengapa tindakan operasinnya selalu ditunda. “Bantu kami membeli obat untuk menangani Annisa kalau kejang dan kebutuhan susu. Apalagi, kami bulan ini harus ikut suami ke Cirebon,” tambahnya. Memahami begitu beratnya cobaan yang dialami keluarga miskin ini, kembali bantuan dari sedekaholics #SR disampaikan kepada mereka. Bantuan yang diterima saudaranya ini digunakan untuk biaya membeli obat dan susu serta biaya hidup sehari-hari. Bantuan untuk Annisa sebelum ini administrasinya sudah masuk di Rombongan 800.

Jumlah Bantuan : Rp.750.000,-
Tanggal : 30 Maret 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Anisa menderita Hydrochepalus

Anisa menderita Hydrochepalus


MTSR BANDUNG (B 1629 SZF, Biaya Operasional Maret 2016 dan Servis Kaki-Kaki). Sejak bulan Mei tahun 2014, #SedekahRombongan Bandung dipercaya untuk meningkatkan pengkhidmatan kepada saudara kita yang sakit lagi miskin dan papa, melalui pelayanan Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR). Menghadapi medan Kabupaten Bandung yang sebagian besar dataran tinggi dan daerah-daerah lainnya di Jawa Barat, tentu saja MTSR harus tampil prima dan siap kapan saja saat dibutuhkan warga. Sampai saat ini keberadaan MTSR sangat dirasakan manfaatnya, baik oleh pasien dampingan #SR maupun warga dhuafa lainnya yang membutuhkan. Bahkan sejak Februari 2015 intensitas penggunaan MTSR Bandung semakin tinggi. Maka ketersediaan bahan bakar MTSR Bandung dan penggantian pelumas secara rutin menjadi suatu keharusan; begitu juga dengan servis rutin. Selain itu, supaya tetap layak dan laik jalan, kewajiban membayar pajak kendaraan pun harus ditunaikan. Alhamdulillah para #Sedekaholic #SedekahRombongan memahami tuntutan tersebut dan telah membayarkan Pajak Tahunan MTSR Bandung serta biaya pembelian BBM/bensin Premium MTSR Bandung bulan Maret 2016, pembelian pelumas, dan servis kaki-kaki. Insya Allah, MTSR Bandung akan semakin dirasakan manfaatnya, khususnya oleh warga dhuafa di wilayah Bandung dan pasien miskin dari wilayah lain di Jawa Barat. Bantuan operasional sebelum ini, administrasinya tercatat di Rombongan 822. Semoga kedermawanan (tsaqawah) para Sedekaholics #SR dibalas Allah Swt dengan berkah dan jannah di dunia dan akhirat. Amin.

Jumlah Bantuan: Rp. 2.000.000,-
Tangggal: 7 April 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda

Biaya Operasional Maret 2016 dan Servis Kaki-Kaki

Biaya Operasional Maret 2016 dan Servis Kaki-Kaki


ALZENA SAFA (4, Gizi Buruk). Alamat: Jl. Budi Mulia No. 24 RT. 6/4, Kelurahan Pedemangan Barat, Kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Alzena, gadis kecil berusia 4 tahun ini hanya memiliki berat badan 10 kg. Tubuhnya kecil dan lemas. Alzena, tidak seperti balita seusianya yang suka atau bisa makan apapun yang diinginkan. Alzena, hanya bisa minum susu. Dalam sehari biasanya Alzena minum susu 5 sampai 6 botol. 1 kaleng susu hanya cukup untuk 1 minggu. Ayah Alzena, bapak Untung Subagio (30) sehari-hari hanya bekerja sebagai penjaga toko di kawasan Glodok Jakarta Barat, sementara Ibu Rohana (27) adalah seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya mengurus pekerjaan rumah dan merawat Alzena. Sebagai seorang penjaga toko, penghasilan yang diterima bapak Untung tidak seberapa, bahkan, untuk memenuhi segala kebutuhannya saja sering kurang. Selain untuk membeli susu untuk Alzena, bapak Untung masih harus membayar kontrakan, biaya sekolah anak pertama dan biaya makan sehari-hari. Tentu beban ini dirasa berat oleh bapak Untung, ia tidak bisa membayangkan jika setiap kali ada kekurangan harus pinjam dengan tetangga. Alhamdulillah, skenario Allah mempertemukan #KurirSR dengan bapak Untung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya transportasi selama berobat setelah bantuan sebelumnya masuk pada Rombongan 820. Dari hasil pemeriksaan team dokter RSUD Koja, Alzena Safa juga menderita sakit paru – paru dan harus mengkomsumsi obat selama 6 bulan dan oleh team dokter Alzena Safa dirujuk pengobatan lanjutannya ke RSCM Jakarta.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal: 1 April 2016
Kurir: @ddsyaefuddin @endangnumik @anasaramadhan

Alzena menderita Gizi Buruk

Alzena menderita Gizi Buruk


SANIA PUJI RIANI (7, Jantung Bocor). Alamat: Nayu Barat, RT.5/13, Nusukan, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Sania, biasa ia dipanggil. Sejak lahir mengalami kelainan organ dalam, yaitu jantung bocor. Namun hal itu baru diketahui beberapa tahun terakhir ini. Awalnya, Bapak Bambang Sumedi (31) dan Ibu Dwi Wulandari (25) memeriksakan kondisi Sania ke puskesmas terdekat. Dari Puskesmas dirujuk ke RSDM Moewardi Surakarta. Setelah beberapa kali pemerikasaan. Akhirnya pihak RS merujuk Sania ke RSCM. Tim kurir #SR sendiri mendapat informasi terkait kondisi Sania melalui PMI Surakarta. Setelah melakukan koordinasi, kurir #SR langsung survei. Ketika itu, kami dapati bahwa keluarga Bapak Bambag tinggal dalam rumah seukuran 2x4m. Berdampingan dengan rumah neneknya. Selama ini Bapak bambang bekerja dengan penghasilan tidak menentu. Rata-rata 20.000 s.d 35.000 rupiah per hari. Adapun Ibu Dwi, ia bekerja sebagai juru masak di warung milik tetangga dengan penghasilan kurang lebih 25.000 rupiah per hari. Pada bulan agustus 2014 dan januari 2015, tim kurir #SR telah memberikan santunan pertama sebesar Rp.500.000, dan Rp.1.000.000,-. Bantuan lanjutan kembali disampaikan untuk biaya mengurus surat rujukan setelah bantuan sebelumnya masuk pada Rombongan 820. Untuk sementara Sania Puji Riani harus kembali pulang ke Solo untuk mengurus BPJS dan akan kembali ke RS Harapan Kita untuk melakukan ctscan sebelum masuk pada penjadwalan operasi yang kedua.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 1 April 2016
Kurir: @ddsyaefudin @harjie_anis @endangnumik @lastiko @Cicicinta

Sania menderita Jantung Bocor

Sania menderita Jantung Bocor


ENI SUHENI (51, Tumor Payudara). Alamat : Jl. Budimulia RT.10/4 Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Enie Suheni yang sehari – harinya berprofesi sebagai buruh cuci sudah 4 tahun ini menderita sakit tumor payudara. Gejala awal dirasakannya ada benjolan kecil dan sakit jika disentuh pada payudaranya. Pengobatan pertama dilakukan di puskesmas terdekat dan dari puskesmas ibu Enie Suheni kemudian dirujuk ke RSUD Sukmul Jakarta Utara, namun karna keterbatasan peralatan di RSUD tersebut, ibu Enie Suheni kemudian dirujuk pengobatan lanjutannya ke RS Husada Jakarta Pusat. Operasi pengangkatan tumor pernah dilakukannya 3 tahun yang lalu di RSUD Koja Jakarta Utara, namun karna kehidupan yang miskin dan keterbatasan biaya pasca operasi ibu Enie Suheni tidak pernah melakukan control rutin dan melanjutkan pengobatannya tumor pada payudaranyapun tumbuh kembali. Alhamdulillah #SedekahRombongan dipertemukan dengan ibu Enie Suheni, bantuan lanjutan kembali untuk biaya transportasi kembali disampaikan setelah bantuan sebelumnya masuk pada Rombongan 820. Kondisi Eni Suheni Alhamdulillah stabil, insyaAllah tanggal 4 April 2016 ibu Eni Suheni sudah masuk ruang rawat inap untuk penjadwalan operasi, rencananya setelah operasi nanti akan diteruskan dengan 3 kali kemotherapi lanjutan. Semoga pengobatannya dilancarkan. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal : 1 April 2016.
Kurir : @ddsyaefudin @endangnumik

Ibu eni menderita Tumor Payudara

Ibu eni menderita Tumor Payudara


RAHMA RAHIDATUL (3, epilepsy, CP spastis). Alamat: Jembatan Besi RT.6/1, Kelurahan Jembatan Besi Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Ayah Rahma bernama Eri Sepriadi (34) seorang pedagang es susu kedelai di Pasar Inpres Jembatan Besi. Ibunya, Muslimah (35) seorang ibu rumah tangga. Mereka memiliki jaminan kesehatan BPJS. Rahma saat ini perlu dibantu karena membutuhkan biaya pemeriksaan mata di Klinik Mata Sumatera Eye Centre Rawamangun Jakarta sebesar Rp 930.000,-. Rahma menderita gangguan penglihatan dan epilepsi serta cerebral palsy (CP). Kedua orangtuanya tidak memiliki biaya transport yang cukup, sehingga Rahma tidak kontrol di Poli Neurologi dan juga tidak menjalani terapi di Unit Rehabilitasi Medis RSCM. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk biaya membayar kontrakkan dan biaya transport setelah bantuan sebelumnya masuk pada Rombongan 811. Kondisi Rahma Alhamdulillah stabil, rahma masih rutin terus melakukan terapi di poli rehabmedik RSCM Jakarta. Semoga pengobatannya dilancarkan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 1 April 2016
Kurir : @ddsyaefudin @harji_anis @endangnumik.

Rahma menderita epilepsy, CP spastis

Rahma menderita epilepsy, CP spastis


YAYASAN GALUH (Pusat Rehabilitasi Cacat Mental), beralamat di Jl. Cut Mutia, Bambu Kuning No. XI, Kampung Sepatan, RT.3/2, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawa Lumbu, Bekasi. Ketua: Bpk. Suhanda Gendu, 59 tahun, anak dari Gendu Mulatip (Pendiri). Yayasan ini menampung orang-orang cacat mental/Gila baik yang punya keluarga ataupun yang ada di jalanan sejak tahun 1980, Diatas Tanah serta sebagian bangunan dengan total luas 4.000m, saat ini ada sekitar 320an pasien dari Bekasi dan luar kota lainnya, Kebutuhan beras dalam sebulan mencapai 6 Ton + Lauk Pauk yang harus mereka siapkan dibantu relawan sebanyak 45 orang. Mereka adalah orang-orang yang terpilih Tuhan dengan Ikhlas dan tanpa pamrih merawat dan mengobati orang-orang skizofrenia, cacat mentalnya dan tak terurus pihak keluarganya. Mereka sangat membutuhkan bantuan kita, Alhamdulillah sejak tahun 2012 #SedekahRombongan rutin menyampaikan untuk keperluan operasional Yayasan Galuh dan pada bulan April 2016 kembali #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk keperluan operasional yayasan ini setelah santunan sebelumnya masuk pada Rombongan 811. Semoga bantuan ini bermanfaat.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.500.000,-
Tanggal : 1 April 2016.
Kurir : @ddsyaefudin @harjie_anis @endangnumik

Santunan untuk keperluan operasional yayasan

Santunan untuk keperluan operasional yayasan


NGADIO BIN SAKIP ( 45 tahun, kanker lidah stadium 4). Bapak Ngadio ini bertempat tinggal di daerah Telkong Ngrajan RT 02 RW 07 Kecamatan Junrejo Batu Malang. Bapak Ngadio belum memiliki istri , Bapak Ngadio ini memiliki seorang ayah yang bernama Bapak Sakip yang telah almarhum, juga seorang ibu yang telah meninggal dunia bernama Ibu Bainah., Beliau sehari-harinya bekerja sebagai buruh lepas yag berpenghasilan Rp 25.000 perhari. Di awal beliau menderita sakit, beliau mengalami sariawan, namun sariawan tersebut tidak kunjung sembuh sehingga beliau sempat melakukan operasi di rumah sakit Dr. Soetomo pada bulan Juli 2015 untuk mengambil benjolan di bawah lidah yang dilakukan lewat leher. Untuk pengobatan rutin beliau, beliau dijadwalkan melakukan sinar 35 x, namun mulai sinar ke 21, sinar sudah dihentikan karena keadaan Bapak Ngadio yang relatif lemah. Sampai akhirnya Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Bapak Ngadio, namun belum sempat untuk pendampingan pengobatan bersama Sedekah Rombongan ternyata Allah SWT lebih dahulu memanggil beliau. Bantuan diberikan untuk membantu biaya pengurusan pemakaman, semoga amal ibadah Bapak Ngadio di terima disisi Allah SWT.

Jumlah Bantuan: Rp 1.000.000
Tanggal : 30 Maret 2016
Kurir :  @faizfaerus @dhani_017 @PakMini

Pak ngadio menderita kanker lidah stadium 4

Pak ngadio menderita kanker lidah stadium 4


UMI SYIFA (4.5 tahun, Diare). Umi syifa adalah gadis cantik yang tinggal di dusun Patuksari rt 02, rw 01 desa Plaosan Kec. Wonosari, Kab Malang. Syifa memiliki ibu yang sangat menyanyanyanginya bernama Ibu Ika, Ayah Syifa sudah lama meninggal, sejak ia ber usia 2 tahun. Pada ahirnya Syifa pun tinggal bersama neneknya sejak ia ber usia 2 tahun. Sejauh ini Ibu Ika membanting tulang di luar kota untuk bisa mencukupi kehidupan Syifa, nenek Syifa dan kakak Syifa yang kini ber usia 8 tahun tinggal di rumah peninggalan alm ayah syifa. Namun ternyata gadis cantik ini menderita sakit diare, awalnya Syifa mengalami panas dan diare yang sudah 3 hari. Diare 4- 5 kali suhu tubuh mencapai 40, 3 c, karena tidak ada biaya Syifa tidak membawa  Syifa untuk berobat. beberapa tetangga menjenguk dan berinisiatif untuk membawa ke puskesmas karena Syifa sudah mulai tidak sadar dan tubuh kaku kejang2, di Puskesmas mendapat perawatan awal dengan pemasangan infus dan injeksi antibiotik. 2 jam d observasi Syifa masih belum sadar. ternyata hasil Laborat menunjukkan gula darah nya rendah. Mungkin ini penyebab penurunan kesadaran. dari pihak puskesmas menyarankan untuk d rujuk ke rumah sakit yg lebih besar. dan akhirnya Syifa d rujuk ke RS.Wava Husada Kepanjen Malang dengan harapan mndapatkan perawatan yg tepat dan baik. Pengobatan perawatan Syifa di puskesmas ialah hasil pembiayaan dari sukarelawan para tetangga. Melihat kondisi yang memprihatinkan akhirnya Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Syfa, bantuan digunakan untuk biaya pengobatan selama dirawat di RS Wava Husada Kepanjen Malang, kini Syfa sudah kembali sehat dan dapat bermain bersama teman-temannya kembali.

Jumlah Bantuan : Rp 2.500.000
Tanggal : 1 Maret 2016
Kurir  : @Faizfaeruz @hendrasasmita

Syifa menderita Diare

Syifa menderita Diare


SUPIATI BINTI ROFIK (46th, Ca Serviks). Alamat : Desa Sekar Putih RT 19 RW 05, Jalan KH Ali Bondowoso, Jawa Timur. Bu Supiati merupakan pasien dampingan #SRMalang. IBu Supiati adalah seorang ibu rumah tangga. Ibu Supiati mengalami sakit pada awal januari tahun 2013. Awal mula sakitnya yaitu terjadi di bagian pinggang yang terasa nyeri terus menerus, sering mual, nafsu makan berkurang dan disertai panas dingin di bagian tubuh Bu Supiati. Mengetahui kondisi tersebut Bu Supiati segera memeriksakan ke rumah sakit terdekat. Setelah di cek lab kemudian diketahui jika beliau didiagnosa Ca. Serviks. Sakit yang dirasakan selama ini belum seberapa dengan tingkat beban yang ditanggung keluarga Bu supiati.Suami Ibu Supiati bapak Nur Ali yang berusia 50 tahun keseharian beliau hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan Rp 500.000,- sebulan. Dengan Penghasilan tersebut ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan 3 orang anaknya. Anak yang pertama bernama Moch Ari Sofianto yang masih duduk di bangku SMA berumur (16th) anak kedua beliau bernama Anita Arfaini juga sekarang duduk di bangku SMA berumur (15th) dan anak ketiga beliau bernama Agung Hendra yang masih duduk di bangku SD berumur (10th). Beliau sekeluarga sempat mengalami putus asa dalam usahanya untuk berobat. Karena tidak memiliki biaya dan biaya nya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-sehari. Alhamdulilah dengan izin Allah kurir #SedekahRombongan dipertemukan kepada keluarga Bu Supiati. Santunan lanjutan dari rombongan 786 kembali disampaikan kepada beliau sejumlah Rp 500.000,- yang digunakan untuk biaya akomodasi, uang saku dan iuran BPJS. Kondisi terkini beliau alhamdulilah berangsur-angsur membaik dan sudah tidak ada keluhan. Saat ini Bu supiati menjalani kontrol rutin Paspmer setiap 3 bulan sekali di RSSA. Ucapan terimakasih disampaikan keluarga Bu Supiati kepada kurir #SedekahRombongan dan para #sedekahholic.Alhamdulillah sedekahmu tersampaikan hari ini semoga dengan sedekah dari #sedekahholic dapat meringankan beban keluarga Ibu Supiati dan semoga Ibu Supiati lekas sembuh. Aminn

Jumlah bantuan: Rp 500.000,-
Tanggal: 18 Maret 2016
Kurir: @FaizFaerus @Dhani_017

Ibu supiati menderita Ca Serviks

Ibu supiati menderita Ca Serviks


PAINAH, istri Alm Pak Basuri (73, katarak &  masalah pencernaan). Alamat: Bangsri RT 01/04, Patokpicis, Wajak, Malang,  Jawa Timur. Awalnya Painah merasakan panas, dan saat ini menderita katarak dan mengalami kesulitan saat buang air kecil serta besar tidak lancar sehingga terkadang perut menjadi kembung dan keras. Kendala lain yaitu jauhnya jarak yang harus ditempuh untuk buang air yaitu sekitar 50 meter dari rumah. Painah telah melakukan pemeriksaan 3x, tapi belum juga mengetahui penyakit apa yang diderita. Painah ibu dari 6 anak ini tinggal dalam sebuah rumah yang dihuni oleh 6 orang. Dengan mata pencaharian sebagai petani yang hanya cukup untuk menghidupi anak-anaknya karena Painah ialah orang tua tunggal, sehingga untuk keperluan berobat saat ini Painah hanya mengandalkan hutang dari temannya untuk biaya pengobatan, di samping KIS yang sudah dikantongi. #SedekahRombongan merasakan kesulitan ibu dan keluarga ini, berharap bisa membantu Painah sebagai orang tua tunggal yang saat ini sedang menderita katarak dan masalah pencernaan.

Jumlah Bantuan : Rp 600.000,-
Tanggal : 1 Maret 2016
Kurir : @faizfaerus @oby_bee @ekokurniawan

Ibu painah menderita katarak &  masalah pencernaan

Ibu painah menderita katarak & masalah pencernaan


JAMIK BINTI SUKARTO (60th, Tumor Leher). Alamat : Jalan Gading Kembar 2 RT 30 RW 04, Kec Tumpang, Kab Malang, Jawa Timur. Bu Jamik adalah ibu rumah tangga biasa. Awal mula sakit yang diderita beliau mulai tahun 2004. Pada awal bulan Januari 2004  keluarlah benjolan kecil di leher beliau. Benjolan kecil itu dirasa semakin besar dari tahun ke tahun. Tidak ada rasa nyeri atau rasa sakit yang dialami Bu Jamik hanya berat yang dirasa beliau. Sampai saat ini benjolan semakin besar dan terus membesar seperti ukuran kepala manusia. Beliau bekerja mencari kayu bakar dan menanam padi di ladang orang dengan penghasilan tak tentu. suami beliau yang telah meninggal. Membuat Bu Jamik tidak mempunyai simpanan uang untuk berobat ke rumah sakit karena dari penghasilan beliau hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Bantuan lanjutan dari rombongan 787, bantuan sebesar Rp 24.000.228,- yang digunakan untuk biaya operasi pengangkat tumor via umum di RS Lavalatte Malang, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS dan uang saku selama Bu Jamik di rumah sakit. Operasi umum dilakukan karena kondisi Bu Jamik yang semakin melemah dan BPJS milik Bu Jamik masih bermasalah serta tidak memungkinkan untuk menunggu, kini Bu Jamik sudah tidak merasa terbebani akan benjolan pada lehernya dan kembali semangat menanam padi, mencari kayu untuk kehidupan sehari-hari.

Jumlah bantuan: Rp 24.000.228
Tanggal: 7 Maret 2016
Kurir: @faizfaeruz  @dhani17

Ibu jamik menderita Tumor Leher

Ibu jamik menderita Tumor Leher


MELLY SULISTIAWATI (18, Kecelakaan). Alamat : Kasang Pudak, RT. 3/4, Kec. Kumpe Ulu, Kab. Muaro Jambi. Melly biasa ia dipanggil, merupakan  anak bungsu dari dua bersaudara. Pada 27 Januari 2016 lalu, ia mengalami kecelakaan yang sangat  tragis. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB ketika Melly pulang sekolah. Biasanya ia dijemput oleh ayahnya, namun hari itu ayahnya tidak menjemput sehingga Melly memutuskan untuk naik ojek.  Takdir berkata lain, kecelakaan itupun terjadi. Melly mengalami pendarahan hebat pada bagian kepala. Teman-teman dan guru sekolahnya yang menyaksikan kejadian tersebut, segera mengambil inisiatif membawa Melly ke Rumah Sakit (RS) Siloam. Melly bersimbah darah, kerangka tulang  belakang Melly retak akibat benturan keras, sekujur tubuhnya lecet-lecet karena terguling di aspal, seketika seluruh tubuhnya menjadi mati rasa, namun Melly masih sadarkan diri. Di RS Siloam Melly hanya ditangani sebentar oleh dokter, mengingat RS  ini merupakam  RS elit sehinga keluarga Melly yang sudah hadir kala itu meminta agar Melly segera dirujuk ke RS Umum. Melly pun dibawa ke RS Abdul Manap, setelah beberapa jam disana akhirnya dokter menyampaikan  bahwa Melly harus segera dioperasi, sebab ada serpihan tulang yang masuk pada bagian otaknya, yang dikhawatirkan akibat benturan keras itu mengakibatkan otak Melly menjadi terganggu. Singkat cerita Melly pun dibawa ke RSUD Raden Mattaher Jambi. Dokter juga menyampaikan  jika tidak segera dioperasi, kondisi Melly akan semakin memburuk. Dengan bermodalkan BPJS, kedua orang tua Melly berharap operasi bisa segera dilaksanakan. Dokter mengatakan, “Jika dalam rentang waktu 1×8 jam operasi tidak segera dilakukan, keadaan Melly akan semakin buruk”. Entah mengapa, hingga tiga hari kemudian Melly masih belum dioperasi, bahkan Melly  dipindahkan dari ruang ICU ke ruang Bedah kamar B3. Kondisi Melly ketika pertama kali kami kunjungi masih sangat memprihatinkan, walaupun keadaannya sudah jauh lebih membaik dibanding pertama kali ia dirawat. Melly ketika itu memang masih belum bisa bergerak, terlebih lagi bagian kepala dan leher yang sangat parah kondisinya. Ayah Melly, Sumarno (50) mengungkapkan keluhannya perihal biaya kebutuhan selama proses operasi dan perawatan di RS, sebab ayah Melly hanyalah buruh bangunan yang penghasilannya tidak pasti. Pada kunjungan kedua kurir #Sedekahrombongan, Melly sudah dibawa pulang dan perawatan dilanjutkan di rumah. Melly telah menjalankan operasi, serpihan tulang-tulang yang masuk ke bagian otaknya sudah dibersihkan, kondisi Melly mulai membaik, walaupun tubuhnya belum bisa berfungsi sepenuhnya. #SedekahRombongan merasakan kesulitan mereka, bantuan awalpun disampaikan. Semoga Melly segera sehat dan dapat sekolah seperti biasa.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 1 Maret 2016
Kurir : @arfanesia @sinta_tantri@pian_al_qassam @ririn_restu

Melly mengalami Kecelakaan

Melly mengalami Kecelakaan


PONIJAH RAHAYU (64, Bantuan Tunai). Alamat : Jati Rahayu RT. 3/3, Kelurahan Terukis Rahyu, Kecamatan Martapura, Kabupaten Oku Timur Sumatera Selatan.  Suami Bu Ponijah sudah lama meninggal sejak anak pertama masih kecil. Ibu Ponijah saat ini tinggal bersama anak bungsu beliau Slamet Oktarianto (17) yang masih bersekolah SMA kelas 2, sedangkan anak pertamanya  Yuli Agustina (19) sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Bu Ponijah sehari-hari pekerjaannya tidak tetap terkadang bekerja sebagi buruh cuci harian. Di samping itu juga, tetangga ada yang menitipkan kambingnya untuk diurus oleh Ibu Ponijah. Pendapatan yang jauh dibawah rata rata membuat keluarga Ibu Ponijah kesulitan memenuhi Kebutuhan sehari hari, ditambah anaknya yang bungsu masih bersekolah. Kembali #SedekahRombongan menyampaikan santunan lanjutan untuk biaya pembuatan sumur setelah sebelumnya memberikan bantuan berupa kambing dan masuk di Rombongan 783. Keluarga Ibu Ponijah mengucapkan terimakasih atas bantuan yang telah diterimanya. Semoga mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.800.000,-
Tanggal : 15 Maret 2016
Kurir: @arfanesia @sintamurtinaa @ririn_restu

Bantuan tunai untuk biaya pembuatan sumur

Bantuan tunai untuk biaya pembuatan sumur


CHEYSA STEYVHANY DARMA (8, Lupus). Alamat : Gg. Zamrud IX RT. 9/2, Kelurahan Semabung Lama, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang, Propinsi Bangka Belitung. Cheysia, gadis kecil usia 8 tahun berjuang keras dalam menjalani hidupnya. Selain kondisi perekonomian keluarganya yang sangat memprihatinkan, Cheysa juga harus bertahan hidup dan berjuang melawan penyakit lupus. Penyakit yang diderita Cheysia merupakan penyakit turunan yang sebelumnya diderita almarhum ibunda Cheysia. Ibunda Cheysia meninggal dunia 2 tahun yang lalu dengan kondisi lupus stadium 4. Saat itu ibunda Cheysa juga sudah sempat dirujuk ke RSCM Jakarta dbantu Badan Amil Zakat Pangkalpinang tetapi akhirnya dibawa pulang setelah beberapa waktu dirawat. Penyakit Cheysa sendiri baru diketahui keluarga saat berobat ke dokter pada 12 November 2015. Dokter mengnyatakan Cheysa sudah terkena lupus stadium 2. Dokter telah memberikan rekomendasi kepada keluarga untuk membawa Cheysa ke RSCM Jakarta untuk mendapatkan pengobatan rutin. Saat ini penyakit lupusnya sudah menyerang organ tubuh seperti otak dan paru – paru Cheysa. Cheysa sering lupa dengan hari, lupa dengan posisi bangku di sekolahnya, dll. Bahkan tidak jarang Cheysa kondisi kesehatannya menurun. Cheysa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Mereka berdua sudah yatim piatu sejak Cheysa berusia 2 tahun dimana ibunda Cheysa dan ayahnya meninggal dunia karena sakit. Cheysa dan adiknya Celvin tinggal bersama nenek kandungnya, Yusnani, di rumah kecil yang sangat memprihatinkan. Nenek Yusnani sendiri memiliki suami, dan dua orang anak yang juga tinggal di rumah tersebut. Yang sangat memprihatinkan dalam keluarga tersebut adalah dimana Nenek Yusnani menjadi satu – satunya tulang punggung keluarga yang harus menghidupi keseharian lima orang di rumah tersebut. Suami Nenek Yusnani sudah tidak bisa bekerja lagi karena beliau terkena penyakit motorik setelah mengalami kecelakaan, anak ke-2 juga mengalami penyakit yang sama dengan suaminya, sedangkan anak ke-3 masih bersekolah. Nenek Yusnani sendiri juga telah divonis sakit Sirosis Hati. Penyakit yang nenek Yusnani alami tidak membuatnya tinggal diam diri mengharapkan bantuan orang lain. Padahal dokter sudah dengan tegas menasehati beliau untuk istirahat di rumah dan tidak bekerja lagi karena khawatir dengan kondisi penyakitnya. Untuk membiayai hidup keseharian mereka, Nenek Yusnani berjualan kerupuk keliling. Keuntungan yang diperoleh dari setiap kerupuk adalah 1.500/bungkus. Apapun yang terjadi Nenek Yusnani tetap bekerja setiap hari dan ikhtiar ini beliau lakukan untuk keluarganya dan untuk membiayai pengobatan Cheysa setiap bulan ke Jakarta. Alhamdulillah Kurir #SedekahRombongan bersyukur karena ALLAH SWT dengan kuasa-NYA mempertemukan kami dengan Nenek Yusnani saat berjualan kerupuk di Rumah Sakit Bhakti Timah Pangkalpinang. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Cheysa dan Nenek Yusnani berobat kontrol di RSCM Jakarta. Semoga dengan adanya bantuan ini bisa meringankan beban hidup keluarga mereka. Amin

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 27 Februari 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @Effendy_babel @ririn_restu

Cheysa menderita Lupus

Cheysa menderita Lupus


RAFA AHMAD (3, Alagille Sydrome). Alamat : Desa Nangka RT. 9 Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Saat awal kelahirannya, kondisi Rafa terlihat normal, namun setelah dua minggu kemudian seluruh badannya menguning. Oleh orang tuanya ia diperiksakan ke RSUD dan didiagnosa mengidap penyakit yang sangat langka, Alagille Syndrome positif, yakni penyakit kelainan kromosom sifat sel. Dokter bahkan memvonis Rafa hanya bisa bertahan selama tiga bulan saja. Penyakit ini menyerang fungsi berbagai organ tubuh vital, mulai dari fungsi hati, jantung dan ginjal secara bersamaan. Penderita penyakit ini akan menderita kelainan di beberapa organ khususnya hati. Jumlah aliran empedu sangat minim sehingga mengakibatkan aliran terhambat ke kantong empedu kemudian berbalik ke belakang dan menimbulkan kerusakan sel hati. Keluarga kalut mendengar vonis dokter tersebut dan hanya bisa pasrah. Waktu berlalu, delapan bulan Rafa mengalami panas tinggi dan sering buang air besar. Dokter menyarankan Rafa dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk pengobatan intensif. Tepatnya bulan Maret 2015, Rafa baru bisa berobat ke RSCM Jakarta setelah ada bantuan dari salah satu tokoh di Bangka Selatan dan Baznas. Bantuan tersebut dipergunakan keluarga untuk membeli tiket pesawat, menyewa kos – kosan dan biaya hidup selama di Jakarta. Rafa harus menjalani pengobatan intensif selama 2 bulan. Akan tetapi, dikarenakan tidak ada biaya lagi, keluarga memutuskan untuk pulang ke Bangka meskipun seharusnya pada Bulan Mei 2015 kemarin Rafa wajib kontrol rutin. Menurut dokter, satu-satunya jalan medis yang harus dilakukan adalah cangkok hati yang diperkirakan membutuhkan biaya 1.2 Miliar. Pak Hazir, orang tua dari Rafa adalah seorang petani karet. Terkadang untuk menutupi kebutuhan keluarga, Pak Hazir juga membersihkan kebun orang lain. Rafa adalah anak pertama dan untuk pengobatnnya sudah banyak harta yang terjual. Ayah Rafa sudah mencoba meminta bantuan ke Pemda setempat bahkan ke DPR RI saat berada di Jakarta, namun usahanya belum membuahkan hasil. Kurir #sedekahrombongan bersyukur bisa bertemu dengan adik Rafa dan keluarga dan berusaha membantu mereka. Kurir #sedekahrombongan kembali menyampaikan bantuan untuk Rafa dan keluarga yang saat ini sudah berada di Jakarta setelah sebelumnya dibantu pada Rombongan 809. Bantuan ini untuk membantu biaya kehidupan mereka selama di Jakarta.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 15 Maret 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @ririn_restu

Rafa menderita Alagille Sydrome

Rafa menderita Alagille Sydrome


RAFA AHMAD (3, Alagille Sydrome). Alamat : Desa Nangka RT. 9 Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung. Saat awal kelahirannya, kondisi Rafa terlihat normal, namun setelah dua minggu kemudian seluruh badannya menguning. Oleh orang tuanya ia diperiksakan ke RSUD dan didiagnosa mengidap penyakit yang sangat langka, Alagille Syndrome positif, yakni penyakit kelainan kromosom sifat sel. Dokter bahkan memvonis Rafa hanya bisa bertahan selama tiga bulan saja. Penyakit ini menyerang fungsi berbagai organ tubuh vital, mulai dari fungsi hati, jantung dan ginjal secara bersamaan. Penderita penyakit ini akan menderita kelainan di beberapa organ khususnya hati. Jumlah aliran empedu sangat minim sehingga mengakibatkan aliran terhambat ke kantong empedu kemudian berbalik ke belakang dan menimbulkan kerusakan sel hati. Keluarga kalut mendengar vonis dokter tersebut dan hanya bisa pasrah. Waktu berlalu, delapan bulan Rafa mengalami panas tinggi dan sering buang air besar. Dokter menyarankan Rafa dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk pengobatan intensif. Tepatnya bulan Maret 2015, Rafa baru bisa berobat ke RSCM Jakarta setelah ada bantuan dari salah satu tokoh di Bangka Selatan dan Baznas. Bantuan tersebut dipergunakan keluarga untuk membeli tiket pesawat, menyewa kos – kosan dan biaya hidup selama di Jakarta. Rafa harus menjalani pengobatan intensif selama 2 bulan. Akan tetapi, dikarenakan tidak ada biaya lagi, keluarga memutuskan untuk pulang ke Bangka meskipun seharusnya pada Bulan Mei 2015 kemarin Rafa wajib kontrol rutin. Menurut dokter, satu-satunya jalan medis yang harus dilakukan adalah cangkok hati yang diperkirakan membutuhkan biaya 1.2 Miliar. Pak Hazir, orang tua dari Rafa adalah seorang petani karet. Terkadang untuk menutupi kebutuhan keluarga, Pak Hazir juga membersihkan kebun orang lain. Rafa adalah anak pertama dan untuk pengobatnnya sudah banyak harta yang terjual. Proses pengobatan Rafa dinyatakan dokter selesai sementara. Rafa sudah menjalani operasi kelenjar namun belum untuk transplantasi hati karena belum ada pendonor dan orang tuanya pun tidak bisa menjadi pendonor. Rafa kondisinya mulai membaik, fungsi hatinya sudah mendekati normal dan yang kini perlu difokuskan adalah menyeimbangkan fungsi hatinya. Rafa sudah dizinkan pulang oleh dokter untuk melanjutkan pengobatan di rumah sakit di Bangka Belitung. Kurir #sedekahrombongan kembali menyampaikan bantuan untuk biaya kepulangan ke Bangka Belitung. Rafa sebelumnya telah dibantu pada Rombongan 809 dan pada tanggal 15 Maret 2016.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 6 April 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @ririn_restu

Rafa menderita Alagille Sydrome

Rafa menderita Alagille Sydrome


MARDIANTONO PANCUR (27, Disabilitas). Alamat : Jl. Pancur Dalam, Kelurahan Lontong Pancur, Kecamatan Pangkal Balam, Kota Pangkal Pinang, Propinsi Bangka Belitung. Bapak Tono panggilan sehari-harinya, 1 tahun yang lalu mengalami kecelakaan motor bersama temannya yang mengakibatkan kaki sebelah kirinya luka parah dan harus diamputasi saat itu juga. Pasca operasi, Bapak Tono sempat melakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali di RSUD Depati Hamzah Pangkal Pinang dan sampai saat ini kondisi kaki beliau masih terasa nyeri dan sakit. Sudah sekitar 1 tahun ini beliau tidak pernah melakukan kontrol lagi di rumah sakit karena keterbatasan biaya. Bapak Tono memiliki jaminan perlindungan kesehatan BPJS. Beliau adalah anak tertua dari 3 bersaudara. Sebelum kecelakaan beliau adalah tulang punggung yang membantu mencari nafkah keluarga. Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh harian serabutan yang penghasilan sehari-harinya tidak menentu, sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga. Kondisi Bapak Tono setelah diamputasi membuat beliau agak minder dan tidak bisa beraktivitas lagi. Biaya hidup beliau hanya mengandalkan mata pencaharian dari orang tua. Pendapatan yang minim membuat kondisi keluarga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Bapak Tono. Keseharian beliau juga hanya di rumah saja, dan malu untuk keluar rumah. Sempat bercerita ingin wirausaha ternak ayam di belakang rumahnya, akan tetapi, karena terbentur dengan modal akhirnya rencana tersebut ditunda dulu. Alhamdulillah Kurir #sedekahrombongan bersyukur bisa bertemu dengan Bapak Tono dan keluarganya untuk membantu mereka. Alhamdulillah Kurir #SedekahRombongan kembali menyerahkan bantuan untuk keberangkatan Pak Tono ke Palembang. Pada 19 Maret 2016, Pak Tono dengan didampingin oleh kurir #SR berangkat menuju ke Palembang. Tahap awal pembuatan kaki palsu ini adalah pengukuran kaki dan Alhamdulillah proses pengukuran berjalan lancar. Semoga dengan adanya kaki palsu nanti bisa memberikan semangat baru untuk Pak Tono. Sebelumnya Pak Tono telah dibantu pada Rombongan 811.

Jumlah Bantuan : Rp. 4.750.000,-
Tanggal : 19 Maret 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @Effendy_babel @ririn_restu

Bantuan Tahap awal pembuatan kaki palsu

Bantuan Tahap awal pembuatan kaki palsu


NAZARUDIN BIN MUNZIR NAWI (59, Operasi Usus). Alamat : Jl. HOS Cokroaminoto No. 81 RT. 2 Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka Induk, Propinsi Bangka Belitung. September 2015 merupakan awal mula sakitnya Pak Nazarudin. Beliau merasakan perutnya melilit yang sakitnya luar biasa. Oleh keluarga, beliau dibawa ke RS Medika Stania Sungailiat untuk berobat jalan. Hingga keesokan harinya, sakit perutnya tidak juga kunjung sembuh. Pak Nazarudin kembali dibawa ke RS Medika Stania. Setelah menjalani rontgen dan cek lab, dokter menyatakan ada tumor di perut Pak Nazarudin dan usus beliau juga berlipat. Akhirnya Pak Nazarudin langsung dioperasi dan direncanakan beliau akan menjalani dua kali operasi, yakni operasi ke-1 untuk pemotongan usus dan mengobati usus yang berlipat dan 3 bulan selanjutnya dilakukan operasi ke-2 untuk pengangkatan tumornya. Operasi pertama berhasil dilakukan. Sebagian usus Pak Nazarudin dipotong dan pasca operasi, usus beliau berada di luar perut. Menjalani hari – hari pasca operasi, beliau menghabiskan waktunya dengan berbaring. Tiga bulan berlalu, tepatnya akhir Desember 2015, Pak Nazararudin kembali menjalani operasi yang ke-2 untuk mengangkat tumor di perutnya dan mengembalikan usus yang selama ini berada di luar perut.  Sayangnya, operasi ke-2 dinyatakan gagal karena menurut informasi keluarga, dokter menyatakan usus Pak Nazar terlalu pendek setelah dipotong 3 bulan yang lalu dan tumor yang ada di perut Pak Nazar tidak bisa di angkat melalui operasi di Bangka. Dokter merujuk untuk dioperasi di Jakarta. Mendapat rekomendasi dari dokter untuk dirujuk ke RS Jakarta, Pak Nazar dan keluarga hanya bisa pasrah karena mereka tidak ada biaya dan simpanan tabungan. Selama ini Pak Nazar berobat dengan menggunakan BPJS. Pak Nazar memiliki 6 orang anak. Beliau hanya mengandalkan penghasilannya dari mengurus kuburan di desanya yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini Pak Nazar tinggal serumah dengan salah satu anaknya. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bersyukur bisa bertemu dengan Pak Nazar dan keluarga dan bisa membantu mereka. Bantuan awal disampaikan untuk membantu Pak Nazar berobat sekaligus untuk membantu kebutuhan hariannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 15 Maret 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok @ririn_restu

Bantuan untuk biaya Operasi Usus

Bantuan untuk biaya Operasi Usus


DEA BINTI ISMAIL JOHAN (2, Hydrocephalus). Alamat : Ds Air Gegas RT 12, Kec. Air Gegas, Kab. Bangka Selatan, Prop Bangka Belitung. Ananda Dea pada saat masih dalam kandungan sudah divonis dokter mengalami Hydrocephalus. Dea lahir prematur di usia 7 bulan dengan melewati proses operasi Di RS Bakti Timah. Dua minggu kemudian Dea mengalami infeksi di kepalanya sehingga harus dirujuk Ke RSCM Jakarta. Dea dioperasi kembali untuk pemasangan selang pembuangan cairan di kepalanya. Menurut dokter RSCM yang menangani, Dea harus dikontrol syarafnya selama kurang lebih 8 bulan. Sejauh ini sudah 2 kali kontrol Ke RSCM. Namun dikarenakan keterbatasan biaya akomodasi dan kebutuhan hidup, orang tua Dea, Pak Ismail, membawa pulang Dea ke daerahnya untuk mengumpulkan dana pengobatan kembali. Pak Ismail hanyalah seorang petani serabutan di kampungnya, dan Dea merupakan anak pertama dari pernikahannya dengan istrinya, Ibu Nia. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk biaya pengobatan secara intensif. Sekarang Pak Ismail mencari bantuan ke pemerintah daerah untuk mengumpulkan dana biaya pengobatan anaknya. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan bisa bertemu dengan Dea, Pak Ismail dan keluarga. Bantuan awal disampaikan untuk membantu akomodasi mereka kontrol lanjutan di RSCM Jakarta sekaligus untuk membantu kebutuhan hariannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.750.000,-
Tanggal : 21 Maret 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok, @Effendy_babel @ririn_restu

Dea menderita Hydrocephalus

Dea menderita Hydrocephalus


ALMARHUMAH SUMIYATI (58, Stroke dan Komplikasi). Alamat : Jln. KH Abdul Hamid No.265 RT. 3/1, Kel. Gedung Nasional, Kota Pangkalpinang, Propinsi Bangka Belitung. Awalnya almarhumah hanya mengalami stroke ringan, sakit ini sudah dialami almarhumah selama hampir 6 tahun. Selama itu tidak ada penyakit lain yang dirasakan almarhumah selain darah tinggi dan kolesterol. Namun sejak idul fitri tahun kemarin, almarhumah mengalami batuk-batuk dan didiagnosa dokter mengalami TBC. Semenjak itu kondisi almarhumah semakin hari semakin memburuk. Almarhumah mengalami penyakit komplikasi yakni Diabetes, Darah Tinggi, Stroke Ringan, TBC, Jantung, Ginjal, Hati. Sebelumnya almarhumah sudah pernah menjalani  perawatan di rumah sakit sebanyak 6 kali, namun kondisinya tidak mengalami perubahan yang berarti bahkan semakin memburuk setelah perawatan terakhir selama 23 hari. Tepat pada 13 Februari 2016, Ibu Sumiyati dipanggil menghadap ALLAH SWT. Selama perawatan di rumah sakit, biaya yang harus dibayar sekitar 46 juta rupiah. Jaminan kesehatan BPJS yang dimiliki almarhumah tidak bisa memenuhi seluruh total biaya. Keluarga mengalami kendala untuk melunasi total biaya yang sangat besar tersebut. Suaminya yang hanya seorang buruh dengan penghasilan yang tidak menentu tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Selain itu, keluarga almarhumah juga mendapatkan ujian pada saat banjir di Pangkalpinang kemarin. Rumah mereka terendam banjir sampai batas atap. Kurir #SedekahRombongan bertemu dengan keluarga almarhumah Sumiyati dan berniat membantu meringankan beban keluarga. Alhamdulillah, bantuan disampaikan untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga bantuan tersebut bisa bermanfaat. Aamin

Jumlah Bantuan : Rp. 2.000.000,-
Tanggal : 20 Maret 2016
Kurir : @arfanesia @yahyaisyoyok via Herda @ririn_restu

Almh ibu sumiati menderita Stroke dan Komplikasi

Almh ibu sumiati menderita Stroke dan Komplikasi

REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 Suhar 1,000,000
2 Salami 1,000,000
3 Sutur 1,000,000
4 Rudi 500,000
5 Sandu 500,000
6 MTSR Gunung Kidul 3,158,050
7 Joko 1,189,876
8 Wahyuni 519,240
9 Arti 599,130
10 Hartoyo 611,623
11 MTSR Yogya 10,393,800
12 M Fauzan 800,000
13 MUHAMMAD BACHRUDIN 2,000,000
14 Syachroni Nasution 1,000,000
15 Ika 3,500,000
16 Aenah 500,000
17 Indah 500,000
18 Lena 500,000
19 Rohim 500,000
20 Adin 500,000
21 Hatiah 500,000
22 Atep 1,000,000
23 Tepri 500,000
24 Joko 13,500,000
25 Budi 1,000,000
26 Tanti 6,250,000
27 Masjid Al barokah 1,000,000
28 Yogi 2,750,000
29 Rohbiah 1,500,000
30 Dadang 1,000,000
31 Eti 1,000,000
32 Imas 1,500,000
33 Naura 1,000,000
34 Aisyah 750,000
35 Fairus 1,000,000
36 KHOERUNNISA 1,000,000
37 Darsih 1,500,000
38 Nunung 1,000,000
39 MTSR Tasikmalaya 3,500,000
40 Ahmad 1,000,000
41 Yusia 1,500,000
42 MASJID AL MUKAROMAH 1,000,000
43 Siti 1,000,000
44 Dadang 1,000,000
45 Nia 3,000,000
46 Imas 1,500,000
47 Solehudin 500,000
48 Widia 1,500,000
49 Rini 1,000,000
50 Hana 1,000,000
51 Fairus 1,000,000
52 Eti 1,000,000
53 Aisyah 750,000
54 Atep 1,000,000
55 Empong 1,000,000
56 Onah 500,000
57 Titin 1,000,000
58 MTSR Tasikmalaya 3,500,000
59 Jihan 1,572,380
60 ALM. NGATINEM 1,000,000
61 RSSR Jogya 26,784,117
62 AHMAD Zainuri 1,000,000
63 Katini 800,000
64 Fadhil 1,000,000
65 Irfan 500,000
66 Hani 500,000
67 M Iqbal 500,000
68 Wati 500,000
69 Endang 500,000
70 Keysa 500,000
71 Redi 500,000
72 Neng 1,000,000
73 Doni 500,000
74 Wahyu 500,000
75 Een 500,000
76 Asri 500,000
77 Annisa 750,000
78 MTSR Bandung 2,000,000
79 Alzena 500,000
80 Sania 500,000
81 Eni 500,000
82 Rahma 1,000,000
83 Yayasan galuh 2,500,000
84 Ngadio 1,000,000
85 Umi 2,500,000
86 Supiati 500,000
87 Painah 600,000
88 Jamik 24,000,228
89 Melly 750,000
90 Ponijah 1,800,000
91 Cheysa 1,500,000
92 Rafa 1,000,000
93 Rafa 1,000,000
94 Mardianto 4,750,000
95 Nazarudin 1,500,000
96 Dea 1,750,000
97 ALMARHUMAH SUMIYATI 2,000,000
Total 186,328,444

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 186,328,444,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 829 ROMBONGAN

Rp. 36,116,751,941,-