AMBULANCE MTSR SOLO (Mobil Tanggap Sedekah Rombongan) Wilayah Solo Raya. Mobil bermotif batik dengan gradasi warna putih-merah yang biasa disebut MTSR oleh para kurir ini merupakan mobil operasional yang memiliki nomer hotline 081-58-911-911 dan digunakan oleh para kurir dan driver untuk mengantar jemput pasien, mengantar barang ke panti asuhan, memberikan kebutuhan pada para dhuafa yang membutuhkan, orang sakit yang tak mampu, warga miskin dan bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan. Setelah bulan lalu biaya operasional untuk MTSR masuk pada rombongan 705
Pengeluaran mtsr Solo Mei 2015
Bensin mtsr : Rp1.465.000,-
Hotline mtsr : Rp154.925,-
Cuci+parkir mtsr :Rp50.000,-
Servis mtsr : Rp644.000 ,-
Total Rp2.333.925,- sedekah dari para #sedekahholic semua sangat membantu kami dalam menunjang kebutuhan kami dalam menyalurkan santunan, doa kami menyertai #SedekahHolic semua agar selalu dilindungi dan diberikan keberkahan oleh Allah SWT.

Jumlah santunan : Rp 2.333.925
Tanggal :  09 Mei 2015
Kurir : @Lastiko, @Cicicinta

Operasional MTSR Solo

Operasional MTSR Solo


SANIA PUJI RIANI (7thn, Jantung Bocor). Alamat: Nayu Barat, RT.05/RW.13, Nusukan, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Sania, biasa ia dipanggil. Sejak lahir mengalami kelainan organ dalam, yaitu jantung bocor. Namun hal itu baru diketahui beberapa tahun terakhir ini. Awalnya, Bapak Bambang Sumedi (31) dan Ibu Dwi Wulandari (25) memeriksakan kondisi Sania ke puskesmas terdekat. Dari Puskesmas dirujuk ke RSDM Moewardi Surakarta. Setelah beberapa kali pemerikasaan. Akhirnya pihak RS merujuk Sania ke RSCM. Tim kurir #SR sendiri mendapat informasi terkait kondisi Sania melalui PMI Surakarta. Setelah melakukan koordinasi, kurir #SR langsung survei. Ketika itu, kami dapati bahwa keluarga Bapak Bambag tinggal dalam rumah seukuran 2x4m. Berdampingan dengan rumah neneknya. Selama ini Bapak bambang bekerja dengan penghasilan tidak menentu. Rata-rata 20.000 s.d 35.000 rupiah per hari. Adapun Ibu Dwi, ia bekerja sebagai juru masak di warung milik tetangga dengan penghasilan kurang lebih 25.000 rupiah per hari. Pada bulan agustus 2014  dan januari 2015,  tim kurir #SR telah memberikan santunan pertama sebesar Rp.500.000, dan Rp.1.000.000 masuk dalam rombongan 670. Santunan diberikan untuk biaya transportasi dan akomodasi selama pengobatan di Jakarta Namun, karena masih harus bolak-balik Solo-Jakarta dan mengingat kondisi keluarga Bapak Bambang. Maka, untuk kali ketiga #SedekahRombongan menyampaikan titipan #SedekahHolic  sebesar Rp.1.000.000,-. Santunan ini diberikan guna memenuhi kebutuhan dan akomodasi kontrol ke Jakarta.

Santunan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 1 juni 2015
Kurir: @lastiko  @Cicicinta

Sania menderita Jantung Bocor

Sania menderita Jantung Bocor


SUPARMAN HARNO SISWOYO (51 Tahun, Polip hidung & Kanker mata sebelah kiri) biasa dipanggil pak Parman bertempat tinggal di Dukuh gadingan RT 1 RW 2 Jombor Sukoharjo Jawa Tengah. Pak Parman yang kesehariannya bekerja sebagai pedagang ayam potong di Pasar Soekarno Sukoharjo terkena polip hidung sejak bulan Maret 2015 kemudian telah menjalani operasi polip hidungnya di RSUP dr Sardjito Yogyakarta tanggal 24 April 2015. Saat periksa pertama kali di RSUD Sukoharjo, pak Parman langsung di rujuk ke RSUP dr. Sardjito Yogyakarta untuk dilakukan operasi polip hidung. Biaya operasi sudah ditanggung pemerintah karena pak Parman sudah memiliki jaminan kesehatan BPJS kelas 3. Pasca operasi polip hidung, Pak Parman mengalami kanker mata sebelah kiri yang berkembang sangat cepat (terjadi 2 minggu). Tanggal 7 Mei, Pak Parman melakukan konsultasi dan pemeriksaan di RSUP dr Sardjito Yogyakarta. Sebenarnya Senin tanggal 11 Mei kemaren pak Parman dijadwalkan untuk mengambil hasil Lab, tetapi karena keterbatasan biaya transportasi hasil Laboratoriumnya belum diambil hingga sekarang.  Menurut dokter, kanker Mata tersebut harus segera di operasi. Keadaan mata pak Parman sebelah kiri yang terkena kanker mata sudah tidak berfungsi sama sekali. Sedangkan keadaan mata kanan masih bisa berfungsi tetapi untuk melihat agak buram. Semenjak pak Parman aakit, pak Parman tidak bisa bekerja lagi dan istrinya juga tidak bisa bekerja karena merawat pak Parman. Istri pak Parman, Bu Martini (47 Tahun)  bekerja sebagai pedagang sayur dengan penghasilan kurang lebih Rp. 25,000 per harinya. Pak Parman memiliki 3 anak, beruntung semua anaknya sudah bekerja. Anak pertama Ariyoga Cahyo Nugroho (27 tahun) yang bekerja di bank swasta di Solo sudah menikah memiliki penghasilan kira-kira Rp. 1.000.000, sedangkan anak ke 2 Reni Nurcahyanti (21 tahun) dan anak ke 3 Irfan Rahma Triwibowo (18 tahun) sudah bekerja sebagai pegawai toko dengan penghasilan sekitar Rp. 800.000 perbulan. Saat ini kondisi pak Parman hanya bisa tidur lemas dan tubuhnya semakin kurus. 17 Mei 2015 pak Parman mengambil hasil lab, dokter mendiagnosa kanker mata pak Parman sudah stage 4 dan sudah menjalar ke bagian otak, sehingga dokter tidak bisa mengoperasi. Saran dari dokter, Pak Parman hanya bisa menjalani kemoterapi. Karena jadwal kemoterapi tidak pasti dan menunggu antrian untuk bisa kemoterapi lama, maka keluarga melakukan pengobatan alternatif di daerah sleman. Biaya pertama kali penhobatan alternatif sekitar Rp. 400.000 blm termasuk transportasinya. Setelah menjalani pengobatan alternatif, kondisi pak Parman semakin bugar tetapi obat herbal tersebutbtidak bisa menyembuhkan kanker mata yang di deritanya. Alhamdulillah Pak Suparman dipertemukan oleh Allah SWT dengan kurir #SedekahRombongan. Jum’at tanggal 12 Juni 2015 santunan lepas #SedekahRombongan dari para #SedekahHolic sebesar Rp. 2.000.000 disampaikan kepada keluarga pak Parman. Sebelumnya pak Parman sudah masuk dalam rombongan 715. Rencananya santunan digunakan untuk biaya pengobatan alternatif di sleman. Keluarga pak Parman mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada #SedekahRombongan dan semoga Allah membalas dengan kemudahan-kemudahan serta sedekahnya dilipatgandakan oleh Allah serta memohon doa agar penyakit pak Parman di angkat oleh Allah SWT. Amin.

Jumlah santunan : Rp. 2.000.000
Tanggal : 12 Juni 2015
Kurir : @lastiko , @RizqiRizqie

Pak suparman menderita Polip hidung & Kanker mata sebelah kiri

Pak suparman menderita Polip hidung & Kanker mata sebelah kiri


HERU SUNARNO (58 tahun, Stroke) tinggal di Sidomulyo RT 53/RW 15 No.48, Sragen Wetan, Sragen, Jawa Tengah. Bapak Narno begitu beliau dipanggil, menderita stroke sejak 4 tahun yang lalu. Awal mulanya pada tahun 2011 Bapak Narno merasakan pusing dan pandangan menjadi kabur, beberapa saat kemudian tubuh bagian kiri tidak bisa digerakkan. Oleh Ibu Suparti, keesokkan harinya dibawa ke Rumah Sakit Mardi Lestari di Sragen. Setelah dirawat seminggu, akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Dengan telaten, sang istri merawat Bapak Narno dirumah. Melihat kondisi Bapak Narno yang sudah tidak bisa bangun dan tubuh bagian kiri tidak bisa digerakkan lagi, tetangga menyarankan untuk diperiksakan di RS Bethesda Yogyakarta. Menurut tetangganya, ada dokter spesialis saraf yang terkenal. Karena tak memiliki biaya, dengan persetujuan keluarga, Bapak Narno menjual tanah halaman depan rumah. 6 kali harus bolak balik Sragen-Yogyakarta pastinya memerlukan biaya yang banyak, dan saat itu Bapak Narno periksa tanpa menggunakan jaminan kesehatan. Keuangan keluarga semakin menipis, pengobatan tidak dilanjutkan sampai saat ini. Namun, setelah menjalani serangkaian pengobatan tersebut, Bapak Narno sudah dapat duduk meskipun harus dibantu bangun. Bapak Narno tinggal bersama istri dan 2 anak perempuannya. Anak nomor satu Risna Hermastuti (18tahun) sudah lulus SMK tahun ini dan Ninda Hermastuti (15tahun) menunggu pengumuman kelulusan SMP dan saat ini membutuhkan biaya untuk bisa melanjutkan di SMA. Ibu Suparti yang bekerja sebagai penjual jamu keliling dengan penghasilan Rp 20.000,00/hari tidak memilili biaya untuk pengobatan Bapak Narno dan biaya masuk SMA untuk anak keduanya. Untuk itu kurir #SR menyampaikan sedekah dari #Sedekahholic sebesar Rp 2.500.000,00. Semoga dapat membantu biaya berobat Bapak Narno, agar lekas sembuh dan dapat kembali menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tak lupa keluarga menyampaikan ucapak terimakasih kepada #Sedekahholic yang sudah membantu biaya berobat. Sedekah dari #Sedekahholic sangat bermanfaat ditengah ekonomi keluarga Bapak Narno yang sedang sulit. Semoga Bapak Narno lekas sembuh dan #Sedekahholic diberikan kesehatan oleh Allah. Aamiin.

Santunan: Rp 2.500.000,00
Tanggal: 12 Juni 2015
Kurir: @Lastiko, @Shofawa

Pak Heru menderita Stroke

Pak Heru menderita Stroke


FAJAR ARIBUAN (30 tahun, Patah tulang) Mas Fajar, biasa beliau dipanggil, merupakan anak keempat dari lima bersaudara pasangan Bapak Walidi (72 th) dan Ibu Rukini (60 th) yang bertempat tinggal di Norowangsan, RT 05 RW 13 Kelurahan Pajang Kecamatan Laweyan Surakarta, Jawa Tengah. Pak Walidi bekerja serabutan sebagai buruh bangunan dan tukang becak dengan penghasilan tidak menentu setiap harinya, namun kini Pak Walidi jarang bekerja sebab kondisi tubuhnya yang sudah menurun karena faktor usia. Sedangkan Ibu Rukini bekerja sebagai buruh masak di warung dekat rumahnya dengan penghasilan Rp30.000,- per hari. Rumah yang hanya terdiri atas satu ruangan ini ditempati oleh 6 orang, yaitu Pak Walidi, Ibu Rukini, Mas Fajar, kedua saudara dan satu keponakan Mas Fajar, Pak Agus (37 tahun), Ayu (20 tahun) dan Nindi (5 tahun) terletak di pinggir sungai Kleco yang berdiri diatas tanah milik tetangganya. Sehingga ketika sungai meluap, keluarga harus mengungsi ke rumah tetangga.  Mas Fajar memiliki satu anak bernama Oktavia (9 tahun) yang sekarang tinggal bersama ibu (mantan istri Mas Fajar) dan ayah tirinya. Mas Fajar yang kini tidak bisa  bekerja, sebelumnya merupakan supir jasa angkut samratulangi yang terletak di sekitar Manahan. Lima bulan lalu Mas Fajar mengalami patah tulang kaki kiri akibat kecelakaan di dekat rumahnya ketika berangkat ke tempat kerja. Setelah mengalami kecelakaan, Mas Fajar menjalani operasi patah tulang di RSI Yarsis Surakarta dengan biaya 38 juta dari bantuan jasa raharja, keringanan rumah sakit dan biaya pribadi. Namun, operasi yang dijalani gagal (mengalami infeksi berat). Karena tidak ada biaya lagi, keluarga membawa pulang Mas Fajar dari rumah sakit dan memutuskan merawat Mas Fajar dirumah dengan jasa perawat dari RSI Yarsis dengan biaya Rp100.000-, per tiga hari sekali. Tiga bulan yang lalu, Mas Fajar menjalani operasi pencabutan pen, pembersihan luka infeksi dan transplantasi kulit di RS Orthopedi Surakarta dengan jaminan kesehatan BPJS. Saat ini kaki Mas Fajar dipasang fiksasi platina yang rencananya lima bulan setelah pemasangan, akan dilepas dan dilakukan operasi besar pada kakinya. Apabila dalam kurun waktu tersebut luka dan pertumbuhan tulang tidak membaik, dokter menyarankan untuk amputasi. Mas Fajar berharap kakinya bisa sembuh seperti sediakala. Selama ini, keluarga seringkali berhutang kepada tetangga karena keadaan ekonomi yang tidak cukup untuk membiayai perawatan kaki Mas Fajar. Melalui berita dari salah satu surat kabar, alhamdulilah #sedekahrombongan dipertemukan dengan mas Fajar, sehingga dapat melakukan survey dan mendampingi proses pengobatan mas Fajar. Sebelumnya Mas Fajar sudah dibantu SR dan masuk rombongan 692. 12 Juni 2015  santunan ke delapan dari #sedekaholic sebesar Rp500.000,- sudah disampaikan untuk biaya perawatan luka dirumah dan biaya kontrol di RS Orthopedi. 5 hari sekali mas Fajar menjalani medikasi rutin dengan mendatangkan perawat kerumah. Luka bekas operasi sudah membaik, daging sudah menutup, namun tulang  belum menyatu masih ada jarak 7 cm dari sela patahan tulang, dokter menyarankan untuk dilakukan oprasi penyambungan tulang. Namun, saat ini belum dapat dilakukan karena luka pasca operasi masih basah. Setiap seminggu sekali pada hari Jumat mas Fajar menjalani pemeriksaan di RS Orthopedi. Mas Fajar dan  Keluarga merasa bahagia dan mengucapkan terima kasih atas santunan dan dampingan yang diberikan.

Santunan : Rp500.000,-
Tanggal : 12 Juni 2015
Kurir : @lastiko , @gabeeela

Fajar menderita  Patah tulang

Fajar menderita Patah tulang


SUJIYATI BIN GITO WIYONO (53 Tahun, Kanker Servik) Beralamat di Desa Godog, RT 03/04, Kelurahan Godog, Kecamatan Polokarto, Kabupetan Sukoharjo, Jawa Tengah. Wanita paruh baya ini menderita kankee serviks sejak 2012 silam. Sakit yang beliau alami berawal dari seringnya beliau mengalami keputihan. Berbagaibcarabtelah dilakhkan untuk dapat sembuh, namun, tetap tidaj ada hasil yang baik. Hingga beliau memeriksakan diri ke RSUD setempat tetapi hanya diberikan infus. Suami beliau Gimun (58) bekerja sebagai kuli dengan penghasilan Rp. 450.000,-/bulan dengan tanggungan 2 orang anak. Karena kondisi tersebut beliau pun mengurungkan niat untuk berobat. Kemudian Tim Sedekah Rombongan dipertemukan dengan beliau dan menjadi pasien dampingan Sedekah Rombongan Solo hingga dinyatakan sembuh pada 2013 lalu. Meski sudah sembuh kontrol rutin tetap harus dijalani agar penyakit yang asa tidak kambuh. Hingga Oktober 2014 saat menjalani kontrol, dokter menyatakan bahwa kanker yang diderita kambuh kembali dan beliau harus menjalani 6 kali kemoterapi. Kemo pertama hingga kemo ke-5 (lima) berjalan lancar, sayangnya kondisi beliau mengalami penurunan saat akan menjalani kemo ke-6 hingga diharuskan untuk rawat inap. Awal April lalu, kondisi beliau kembali menurun hingga diharuskan rawat inap dan menambah darah. Beliau kembali drop pada awal Juni lalu sehingga diharuskan untuk rawat inap kembali. Karenanya santunan ke-3 kembali disampaikan kepada beliau sebesar Rp. 500.000,- setelah santunan sebelumnya masuk dalam rombongan 697. Keluarga merasa bersyukur atas sedekah yang disampaikan. Bersama, marilah kita doakan agar beliau dan pasien dampingan Sedekah Rombongan lainnya dapat segera sembuh.

Jumlah Santunan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 15 Juni 2015
Kurir : @lastiko , @ciciiii , @anissetya60

Ibu Sujianti menderita Kanker Servik

Ibu Sujianti menderita Kanker Servik


MBAH X (Demensia/pikun, kelaparan dan dihidrasi) ditemukan tergeletak di hutan kawasan Mojosemi Plaosan Magetan Jawa Timur pada hari Rabu 27-5-2015 oleh penduduk sekitar yang pulang dari mencari kayu di hutan. Awalnya dikira sudah meninggal tetapi ketika diperiksa ternyata masih hidup. Mbah X segera dibawa ke RSUD Sayidiman untuk segera diberikan pertolongan. Sedekah Rombongan bertemu dengan Mbah X dirumah sakit pada hari Jumat 29-5-2015, dirawat di lorong Irna VI RSUD Sayidiman Magetan. Kondisi beliau stabil tetapi lusuh, kotor dan sedikit berbau. Ternyata Mbah X ini sudah 3 kali dirawat di RSUD Sayidiman Magetan. Pertama kali dirawat karena patah tulang kaki, diantar oleh si penabrak dan dibiayai sampe sembuh. Ketika kondisi membaik Mbah X melarikan diri dari rumah sakit. Kedua kalinya Mbah X masuk rumah sakit pada tanggal 16-5-2015 dengan luka dikepala dan juga diantar oleh si penabrak. Setelah dirawat 4 hari Mbah X melarikan diri lagi. Terakhir Rabu 27-5-2015 Mbah X masuk rumah sakit lagi karena ditemukan tergeletak di hutan Mojosemi dalam kondisi kelaparan dan dihidrasi. Melihat 3 kali kejadian tersebut mengarah ke daerah barat Magetan, diduga Mbah X ini berasal dari Jawa Tengah. Biaya perawatan Mbah X selama ini ditanggung oleh Dinsos Magetan berdasarkan klaim yang masuk dari pihak rumah sakit. Santunan dari Sedekah Rombongan sebesar Ro 500.000 digunakan untuk membayar orang guna merawat beliau selama di rumah sakit dan membeli pampers, makanan dan pakaian untuk beliau.

Santunan : Rp 500.000
Tanggal : Jumat, 12 Juni 2015
Kurir : @lastiko, @ervinsurvive @iwankeren @diasa_sasa

Mbah X menderita Demensia/pikun, kelaparan dan dihidrasi

Mbah X menderita Demensia/pikun, kelaparan dan dihidrasi


FATIN TRI MEILANI (2 tahun, Hydrocephalus) adalah putri ke tiga dari Bapak Kusno (45 Tahun) dan Ibu Tinah (38 tahun). Mereka adalah warga Dukuh Nunut RT 04 RW 01, Desa Duwet, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Dik Fatin lahir 27 Mei 2013 di RSUD Sudono Madiun. Sejak dalam kandungan Dik Fatin sudah terindikasi pembesaran di kepalanya yang melebihi ukuran janin normal. Setelah lahir ternyata hal itu benar. Dokter menemukan adanya cairan di kepalanya (Hydrocephalus). Ia pun kemudian dirawat di rumah sakit. Pada 5 Juni 2013 dilakukan pemasangan selang di kepalanya untuk mengeluarkan cairan melalui saluran kencing. Saat tim SR melakukan survey diketahui bahwa orang tua dik Fatin bekerja sebagai buruh tani. Di rumahnya tinggal 7 orang : ayah, ibu, 3 anak, kakek dan nenek. Pengobatan dan perawatan Dik Fatin selama ini menggunakan fasilitas BPJS mandiri. Namun begitu keluarga tetap merasa keberatan karena masih harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga  dan biaya sekolah kedua kakak dik Fatin yang duduk di bangku SD dan SMA. Keluarga dik Fatin membutuhkan pendampingan dan bantuan untuk meringankan bebannya. Sedekah Rombongan hadir untuk membantu proses pengobatan dik Fatin. Santunan keempat dari #SR sebesar Rp 500.000 digunakan untuk biaya rawat inap dik Fatin yang opname mulai hari Selasa, 16 Juni 2015 karena mengalami kejang-kejang. Sebelum nya Dik Fatin telah dibantu pada rombongan 674. Bapak Kusno sekeluarga mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga atas santunan para sedekaholic melalui Sedekah Rombongan.

Santunan : Rp 500.000
Tanggal : Kamis, 18 Juni 2015
Kurir : @lastiko, @ervinsurvive @iwankeren

Fatin menderita Hydrocephalus

Fatin menderita Hydrocephalus


SRI RAHAYU MURDIYATIN BINTI SUKADI (46 tahun, tumor leher) adalah seorang duafa yang tinggal di Jalan Manyar gang Surikati nomor 17B Mangunharjo Madiun. Bu Sri sudah menderita tumor leher selama 10 tahun lebih dan saat ini tumor beliau sudah pecah sehingga tiap 2 hari sekali harus diganti perban nya. Pergantian perban ditanggung oleh relawan dari Paguma Madiun. Bu Sri adalah seorang janda beranak 3, suaminya yaitu Alm. Kasdi telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Anak nya yang pertama sudah menikah, anak ke 2 adalah tulang punggung keluarga bekerja serabutan, sedangkan anak ke 3 masih sekolah. Bu Sri mempunyai Jamkesmas, dan pada tahun 2012 berobat ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya didampingi oleh beberapa tetangga. Namun karena proses pengobatan yang antri lama membuat Bu Sri tidak sabar dan minta pulang ke Madiun. Sampai terakhir kondisi memburuk Bu Sri tidak mau berobat lagi. Sampai relawan dari Paguma menemukan Bu Sri dan menginfokan tentang kondisi beliau pada Sedekah Rombongan, dengan harapan Sedekah Rombongan bersedia mendampingi pengobatan Bu Sri. Santunan awal sebesar Rp. 500.000 dari Sedekah Rombongan digunakan untuk biaya kost dan makan selama Bu Sri menjalani rangkaian pemeriksaan di RSU Moewardi Solo. Bu Sri sangat berbahagia dan mengucapkan terimakasih atas pendampingan dari Sedekah Rombongan.

Santunan : Rp 500.000
Tanggal : Minggu, 14-6-2015
Kurir : @lastiko, @ervinsurvive @arifbpn

Ibu Sri rahayu menderita tumor leher

Ibu Sri rahayu menderita tumor leher


SUMIYATUN BINTI HARJO SLAMET (51 tahun, patah tulang) Lek Tun panggilannya, adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai tiga orang anak yang bertempat tinggal di Jln. Dewi Kunti RT 4 RW 1 Desa Takeran Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan Jawa Timur. Dia bekerja hanya sebagai kuli serabutan. Pada tahun 2006, Suaminya yang bernama Wakijan menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit dan faktor usia yang sudah cukup tua yakni 62 tahun. Silaturahmi dengan tetangga sekitar cukup baik dan dia dikenal sebagai orang yang ringan tangan. Hingga pada saat tetangganya akan menghelat hajatan, tanpa diminta pun dia langsung berniat untuk datang untuk rewang. Dan saat berjalan ditengah perjalanan menuju ke rumah tetangganya tersebut, dia mengalami musibah jatuh di jalanan hingga tidak bisa untuk berdiri kembali. Karena faktor biaya yang tidak mendukung, akhirnya diputuskan untuk memanggil dukun pijat dari desa sebelah. Namun sampai dua kali dipijat kaki sebelah kanannya masih tetap tidak bisa digunakan untuk menopang tubuhnya berdiri. Anak pertamanya, yakni Samsul yang bekerja hanya sebagai kernet bus yang juga tinggal bersama Lek Tun di rumahnya. Anak kedua, Hilman yang bekerja menjadi operator warnet di Madiun dan menunggu tempat dia bekerja. Anak ketiga, mencoba mengadu nasib di Kalimantan dgn menjadi buruh di toko roti. Biaya untuk meneruskan pengobatan kakinya pun dilanjutkan dengan mencoba berobat ke Sangkal Puthung yang beralamatkan di Karas, Karangrejo. Namun untuk menuju ke sana memerlukan kendaraan yaitu mobil untuk membawanya karena tidak mampu berjalan. Akhirnya tetangganya yang mempunyai kendaraan berbaik hati unt bersedia membawa Lek Tun berobat ke sana. Pengobatan Sangkal Puthung tak lain dari pijat dengan dukun yang ditempuh saat pertama pengobatan. Dengan biaya 150ribu rupiah untuk sekali berobat ke Sangkal Puthung itu pun sudah termasuk biaya membeli bensin dari mobil yang digunakannya. 8 kali berobat ke sangkal puthung pun tidak mengubah kaki kanan Lek Tun untuk bisa berdiri bahkan berjalan. Tetapi usaha yang dilakukan sudah mengurangi rasa sakit dan linu selama dia jatuh. Hingga saat kurir SR mengunjungi kediamannya, belum pernah tersentuh oleh tangan media karena terkait biaya. Kesehariannya Lek Tun hanya bisa pasrah dan untuk berpindah tempat dia gunakan kedua tangannya untuk mengangkat badannya karena kaki kanannya tidak bisa digerakkan dan kaki kirinya lemas untuk bergerak. Untuk kehidupannya hanya mengandalkan dari gaji anak pertamanya yang berprofesi sebagai kernet bus. Kurir Sedekah Rombongan bertemu dengan Lek Tum berdasarkan informasi dari tetangga beliau. Santunan lepas dari para sedekaholic melalui Sedekah Rombongan sebesar Rp 1.000.000 digunakan untuk melanjutkan pengobatan beliau yang tertunda. Tak lupa Lek Tun mengucapkan terimakasih atas santunan yang telah diberikan.

Santunan : Rp 1.000.000
Tanggal : Minggu, 14 Juni 2015
Kurir : @lastiko, @ervinsurvive @sukarno_hartoyo

Sumiyatun menderita patah tulang

Sumiyatun menderita patah tulang


TUKIYAT BIN SURATMAN (55 tahun, kencing batu dan prostat) adalah seorang duafa yang tinggal di RT 5 RW 1 Desa Nitikan Timur Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur. Sudah 2 bulan terakhir pak Tukiyat merasakan sulit buang air kecil dan terasa panas apabila buang air kecil. Karena tidak tahan akhir nya periksa ke RSUD Sayidiman Magetan dan harus rawat inap selama seminggu. Pihak Magetan merujuk beliau ke RSUD Soedono Madiun, disana Pak Tukiyat disarankan untuk operasi. Tetapi karena tidak ada biaya maka beliau belum bisa memutuskan untuk operasi. Kebetulan Pak Tukiyat juga belum terdaftar BPJS. Selama ini Pak Tukiyat bekerja serabutan, ikut majikan nya sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan rata-rata Rp 500.000 perbulan. Sedangkan Istri nya yaitu ibu Maryati (48 tahun) hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan. Beliau mempunyai 2 anak, yang pertama sudah berkeluarga, yang kedua bekerja diluar kota dan yang terakhir kelas 7 SMP. Dengan kondisi demikian sangat lah sulit bagi Pak Tukiyat untuk melanjutkan pengobatan penyakit beliau. Alhamdulillah kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Pak Tukiyat berdasarkan informasi dari pasien Sedekah Rombongan yang terdahulu. Santunan awal sebesar Rp. 500.000 dari Sedekah Rombongan pada Pak Tukiyat digunakan untuk biaya akomodasi dan transportasi guna proses pemeriksaan di Poly Urologi RSUD Soedono Madiun. Pak Tukiyat merasa senang dan sangat terbantu dengan santunan dari para Sedekaholic melalui Sedekah Rombongan.

Santunan : Rp. 500.000
Tanggal : Jumat, 12 Juni 2015
Kurir : @lastiko, @ervinsurvive @iwankeren

Tukiyat menderita kencing batu dan prostat

Tukiyat menderita kencing batu dan prostat

REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 Ambulance MTSR Solo 2,333,925
2 Sania 1,000,000
3 Suparman 2,000,000
4 Heru 2,500,000
5 Fajar 500,000
6 Sujiyati 500,000
7 Sri Rahayu 500,000
8 Sumiyatun 1,000,000
9 Tukiyat 500,000
Total 10,833,925

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 10,833,925,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 719 ROMBONGAN

Rp. 26,425,035,968,-