ICEN bin SOHEH (37, susp. kanker hati), Kp. Desakolot RT 3/7 Desa Rancapaku, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Icen yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan, awalnya belum memiliki fasilitas jaminan kesehatan apapun. Mengingat penyakitnya yang menurut hasil pemeriksaan awal diperkirakan cukup berat, Kami kemudian membantu membuatkan Kartu BPJS untuk meringankan biaya pengobatannya. Sebelumnya ia berobat ke Puskesmas dan ke RSUD Kota Tasikmalaya dengan menggunakan fasilitas umum. Istri Pak Icen, Bu Nunung (36, IRT) selalu setia mengantar suaminya berobat walaupun hanya bisa dilakukan ketika mereka kebetulan memiliki biaya untuk ongkos hasil bantuan dari orang tua atau kerabatnya. Penyakit Pak Icen sudah dirasakan sejak setahun yang lalu, sehingga dalam kurun waktu itu ia nyaris tidak bisa bekerja lagi sehingga perekonomian keluarga yang baru memiliki tanggungan 1 orang anak ini semakin sulit dan hanya bisa menggantungkan dari bantuan orang tua mereka. #SedekahRombongan beberapa kali membantu mengantarkan Pak Icen melakukan pemeriksaan ke  RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, sampai akhirnya dokter mengharuskan agar ia menjalani rawat inap. Baru sekitar 3 hari dirawat, Pak Icen meninggal dunia di rumah sakit karena diperkirakan penyakit kanker hati yang dideritanya sudah menyebar ke organ lain. Ikhtiar telah dilakukan, namun Allah jualah yang menentukan jalan yang terbaik untuk almarhum Pak Icen dan keluarganya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan biaya pengobatan almarhum Pak Icen, yang dipergunakan untuk biaya pembuatan kartu BPJS, transportasi, obat-obatan, dan biaya sehari-hari selama almarhum menjalani pengobatan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 1.500.000,-
Tanggal : 9 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Ibu icen menderita susp. kanker hati

Ibu icen menderita susp. kanker hati


ANDI SUPRIADI (38, Dermatofirosarcoma Shoulder DX). Kp. Pasar Salasa RT 2/1 nomor 33 Desa Cikoneng, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pak Andi tinggal menumpang di rumah orang tuanya, Pak Elon, karena rumahnya sendiri sudah dijual untuk biaya mengobati penyakit yang sudah dideritanya sejak tahun 2009. Suami dari Bu Elis Susanti (29, IRT) ini dulunya bekerja di sebuah toko kimia tak jauh dari tempat tinggalnya, namun sejak 5 tahun yang lalu ia sudah tidak dapat bekerja lagi karena penyakitnya ini. Pak Andi yang memiliki tanggungan seorang istri dan seorang anak perempuan yang masih kecil ini, pada awalnya berobat dengan menggunakan fasilitas Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) Kabupaten Ciamis yang memiliki plafon 3 juta rupiah per tahun. Jumlah ini tentu saja masih jauh dari cukup untuk pengobatan penyakit kanker ganas yang diderita Pak Andi. Penyakit kanker ganas yang menyerang jaringan di bagian leher dan pundak sebelah kanan Pak Andi ini sudah 7 kali menjalani operasi. Namun setiap kali operasi selesai dilakukan, 3-4 bulan kemudian benjolan tersebut selalu tumbuh lagi. Terakhir Pak Andi menjalani operasi pengangkatan tumornya pada bulan Npember tahun 2013. Dulu benjolan di leher dan pundak Pak Andi tidak sebesar saat ini, namun pasca operasi ketujuh kali di RSHS Bandung ia tidak menjalani pengobatan pasca operasi dengan cara radioterafi sesuai dengan yang dijadwalkan oleh pihak RSHS, karena mereka sudah tidak memiliki biaya lagi untuk transportasi dan biaya radioterafi. Bulan Desember 2014 Pak Andi dengan bantuan biaya dari kerabat dan teman-temannya mecoba melanjutkan pengobatannya ke RSUD Kabupaten Ciamis yang kemudian merujuknya ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Karena kondisi penyakit Pak Andi sudah cukup parah dan keterbatasan peralatan dan tenaga medis, akhirnya ia pun dirujuk ke RSHS Bandung. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan di RSHS Bandung, Pak Andi kahirnya dirujuk balik ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya untuk perbaikan KU, karena kondisi tubuhnya yang lemah dengan HB hanya 6. Setelah dirawat selama 15 hari di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya dan kondisi KU-nya (kesehatan umum) membaik, Pak Andi kembali Kami bawa ke RSHS Bandung, dan selanjutnya tinggal sementara di RSSR Bandung untuk menjalani pengobatan lebih lanjut di RSHS.  #SedekahRombongan menyampaikan santunan guna membantu meringankan biaya pengobatan Pak Andi, yang dipergunakan untuk biaya pelunasan biaya perawatan sebelumnya, transportasi, pengobatan dan perawatan di RSUD dr. Soekardjo selama 15 hari, dan biaya sehari-hari selama beliau menjalani perawatan.

Jumlah Bantuan : Rp 7.800.000,-
Tanggal : 26 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem

Pak adi menderita  Dermatofirosarcoma Shoulder DX

Pak adi menderita Dermatofirosarcoma Shoulder DX


EMY WULANDARI (29/Tidak Bisa Menelan Makanan, Berhenti di Tenggorokan) beralamat di Kradenan,Jimbung, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah. Dua tahun lalu, suami mbak Emy yang bekerja sebagai tukang las di daerah Madura meninggal dunia karena kecelakaan lalu-lintas sewaktu mau mudik ke Jawa.
Sepeninggal suaminya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dua anaknya yang masih kecil, Mbak Emy yang tinggal di tempat budenya berjualan semacam “tempura” keliling di kawasan alun-alun kota Klaten dengan penghasilan tidak menentu. Sejak empat bulan lalu,tenggorokan Mb Emy terasa sakit jika menelan makanan ataupun minuman. Karena kurang biaya, beliau tidak bisa berobat secara maksimal. Akibatnya kondisi Mb Emy melemah dan badan semakin kurus karena tidak ada asupan makanan yang masuk. Karena kondisi tersebut,Mbak Emy tidak lagi bisa berjualan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Alhamdulillah atas ijin Alloh, Mbak Emy dipertemukan dengan #Sedekah Rombongan dan turut membantu pengobatannya. Bantuan ini dipergunakan untuk biaya kontrol rutin ke rumah sakit.

Jumlah bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 8 Maret 2015
Kurir : @widjiyono via Mas Eko

Ibu emy Tidak Bisa Menelan Makanan, Berhenti di Tenggorokan

Ibu emy Tidak Bisa Menelan Makanan, Berhenti di Tenggorokan


AMAD PENDEK (80/bantuan tunai) beralamat di Sawo, Jimbung,Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah.
Beliau biada dipanggil Mbah Amad “Pendek” karena tinggi tubuhnya yang memang tidak terlalu tinggi. Kesehariannya,simbah ini tinggal berdua di rumahnya yang sederhana bersama anak laki-lakinya, Mas Parman (55) mengalami (maaf) keterbelakangan mental dan tidak bisa membaca dan menulis.
Meski kondisinya terbatas, mas Parman tidak lupa sholat 5 waktu di mesjid dan sering menjadi muadzin.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain dari bantuan tetangga, mas Parman membuat sapu lidi yang dibuatnya untuk kemudian dijual di sekitar rumahnya, karena kalau pergi jauh dikuatirkan mas Parman tidak bisa kembali ke rumahnya.
Semoga dengan bantuan dari #Sedekah Rombongan bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Mbah Amad dan mas Parman.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 8 Maret 2015
Kurir : @widjiyono via Mas Eko

Bantuan tunai

Bantuan tunai


SIGIT CAHYONO (33/pengambilan pen) beralamat di Botokan, Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten. Mas Sigit mengalami patah tulang pada tangan sebelah kanan, akibat kecelakaan sehingga harus di lakukan operasi untuk pemasangan pen. Dan saat terjadi gempa 2006 tangannya yang belum sembuh, patah lagi akibat terpeleset saat lari karena gempa. Sudah hampir 9 tahun pennya belum diambil dan terasa  sakit pergelangan tangannya seperti ada benda yang menusuk dari dalam. Mas Sigit yang berprofesi sebagai sopir ini akhirnya memeriksakan dirinya ke RSKB Diponegoro Klaten untuk operasi pengambilan pen. Alhamdulillah operasi pengambilan pen berjalan lancar. Batuan ini dipergunakan untuk akomodasi pasien dan keluarga selama di rumah sakit dan menebus resep obat.

Total Bantuan : Rp. 1.000.000.
Tanggal Penyerahan : 07 Maret 2015
Kurir : @widjiyono

Biaya pengambilan pen

Biaya pengambilan pen


JANETA SIWI (5/bantuan tunai) putri dari ibu Suliana (26/ ibu rumah tangga) dan bapak Sigit (33/sopir) beralamat di Botokan, Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah. Dik Janeta mengalami sakit flek paru – paru sudah sejak 6 bulan yang lalu. Dokter menyarankan untuk berobat secara rutin berkala sebulan sekali selama satu tahun. Saat ini pengobatannya sudah berjalan selama 6 bulan dan menunjukkan perubahan yang berarti terhadap tumbuh kembang anak tersebut. Karena tidak memiliki jaminan kesehatan berupa bpjs ataupun asuransi yang lain maka anak tersebut harus berobat reguler. Bantuan dari #sedekahrombongan ini dipergunakan untuk biaya kontrol rutin.

Total Bantuan : Rp. 500.000
Tanggal : 08 Maret 2015
Kurir : @widjiyono

Bantuai tunai

Bantuai tunai


ANAS BIN UDIN (70/ hernia) tinggal di Clorong, Tlogosono, Gebang, Purworejo, Jawa Tengah. Beliau menderita sakit hernia sudah selama tiga tahun lebih. Terasa amat sakit kalau hernianya kambuh. Pak Anas yang bekerja serabutan  belum memiliki cukup biaya untuk operasi. Namun saat sakitnya kambuh dan tidak mampu menahan rasa sakit, para tetangganya melarikan beliau ke  PKU Purworejo. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk operasi dan pihak keluarga menyetujuinya. Setelah lima hari dirawat di rumah sakit beliau diperkenankan pulang untuk berobat jalan. Bantuan ini dipergunakan untuk biaya menebus resep dan tambahan biaya administrasi rumah sakit.

Total Bantuan : Rp. 3.500.000
Tanggal : 16 Maret 2015
Kurir : @widjiyono via Yadi

Pak Anas  menderita Hernia

Pak Anas menderita Hernia


WIJI SUKAMTI (75/Bantuan tunai) adalah seorang janda yang hidup sendirian. Mbah Wiji, beliau biasa  dipanggil, tinggal di rumah gubuk di dukuh Mlandangan, Sorogaten, Tulung, Klaten. Mbah Wiji yang bekerja sebagai tukang ngasak padi (mencari sisa-sisa hasil panen di sawah orang) ini mempunyai penghasilan yang tidak tetap. Selagi musim panen, ia pergi berkeliling sawah untuk mencari sisa hasil panen para petani di daerah setempat. Mbah Wiji yang tinggal seorang diri ini tidak memiliki putra. Bekerja saat masa-masa panen petani untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Semoga sedikit bantuan dari #sedekahrombongan ini bisa bermanfaat untuk mbah Wiji.

Total Bantuan : Rp. 500.000
Tanggal : 16 Maret 2015
Kurir : @widjiyono via @riana

Bantuan tunai

Bantuan tunai


SESEP SAEPUL ALIM (54, TB Paru-paru), Kp. Ciangsana RT 4/2 Desa Mekarlaksana, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Sesep, ayah dari 3 orang anak dan suami dari Bu Saripah (42 thn) ini sejak sekitar 4 bulan yang lalu sering merasakan sesak nafas dan sakit di bagian dadanya, namun ia kerap tidak memperdulikan penyakitnya itu. Selain karena ia harus bekerja di sawah sebagai buruh tani setiap harinya, ia pun lebih memilih untuk mengobati penyakitnya dengan obat-obatan warung seadanya. Hal ini dilakukan karena ia menganggap keperluan keluarga dan anak-anaknya lebih penting, ia memiliki anak istri yang harus dibiayai keperluan sehari-hari dan kebutuhan sekolahnya. Sejak 2 bulan yang lalu ia mulai berobat jalan ke Puskesmas terdekat, namun pada tanggal 12 Januari 2015 setelah terbaring di tempat tidur selama lima hari di rumahnya, kondisi kesehatan PAk Sesep memburuk, ia mengalami sesak nafas yang hebat. Karena kondisinya semakin memprihatinkan, Kepala Desa Mekarlaksana yang kebetulan masih saudara Pak Sesep segera membawanya ke Puskesmas terdekat. Namun setelah mendapatkan pemeriksaan di Puskesmas, Pak Sesep dirujuk ke RSUD dr. Soekarjo Kota Tasikmalaya. Pak Kepala Desa segera menghubungi Kurir #SR untuk meminta bantuan karena kebetulan Pak Sesep termasuk warga kurang mampu yang luput dari pendataan peserta Jamkesmas maupun Jamkesda Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu juga mereka membutuhkan sarana transportasi karena jarak dari rumah Pak Sesep ke RSUD yang cukup jauh, sementara kondisinya sendiri tak mungkin untuk naik kendaraan umum.  MTSR segera menjemput Pak Sesep dan mengantarkannya ke IGD RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Setelah mendapatkan pemeriksaan dan tindakan medis di IGD, Pak Sesep dirawat selama 7 hari di Ruang Dederuk dan mendapatkan transfusi darah golongan A sebanyak 3 labu. Kami segera mendaftarkan Pak Sesep dan keluarganya sebagai peserta BPJS, meskipun baru aktif dan bisa dimanfaatkan setelah 7 hari terhitung mulai dari saat didaftarkan. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk biaya pengobatan Pak Sesep, yang dipergunakan untuk transportasi, pelunasan biaya perawatan selama 7 hari di RSUD dr. Soekardjo dan biaya sehari-hari selama beliau menjalani perawatan.

Jumlah Bantuan : Rp 2.800.000,-
Tanggal : 14 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Pak sesep menderita TB Paru-paru

Pak sesep menderita TB Paru-paru


MTSR TASIKMALAYA, Mulai Bulan Mei tahun 2014, #SedekahRombongan area Tasikmalaya memiliki Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR). Area operasional MTSR Tasikmalaya mencakup Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Garut, Kabupaten Pangandaran, dan juga mengantar pasien yang dirujuk ke RSUP Hasan Sadikin Bandung. Bulan Juli 2014 MTSR Tasikmalaya melakukan servis besar di Layanan Servis Resmi Suzuki. Awal September kembali masuk bengkel untuk service kakai-kaki, ganti shockbreaker depan, per belakang, sekaligus ganti oli, filter oli, dan penggantian vanbelt. Selain untuk biaya pemeliharaan MTSR melalui servis rutin, biaya pemeliharaan juga dipergunakan untuk membeli sebuah ban karena ban cadangan sudah rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi. Pada tanggal 3 November 2014 MTSR Tasikmalaya mengalami kerusakan pada perseneling pada saat sedang dalam perjalanan menjemput pasien ke RSSR Bandung. Selain itu MTSR Tasikmalaya juga sedikit bermasalah pada bagian stir-nya. Mengingat frekuensi penggunaan MTSR Tasikmalaya yang tinggi karena harus bisa menghandle pasien-pasien baik di area Priangan Timur, dan agar kondisi mobil tetap prima, #SedekahRombongan kembali memberikan bantuan untuk biaya service MTSR Tasikmalaya. Bulan Januari 2015 MTSR Tasikmalaya kembali melakukan service kaki-kaki dan penggantian satu set ban yang sudah mulai menipis agar dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pasien dan pengemudi. Biaya operasional yang dilaporkan saat ini adalah biaya untuk service penggantian kaki-kaki dan pembelian 4 buah ban berikut ongkos pengerjaannya, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 637.

Jumlah Bantuan: Rp. 5.750.000,-
Tanggal : 26 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem Kiner

Bantuan operasional

Bantuan operasional


Bayi FIRMAN bin SUKMAWAN (45 hari, BBLR+kelainan saluran pernafasan), Kp. Cideres RT 18/9 Desa Sukamenak, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bayi Firman adalah putera ketiga dari pasangan Bapak Sukmawan (41) yang berprofesi sebagai buruh bangunan dan Ibu Tika (35) seorang i bu rumah tangga. Sejak lahir tanggal 8 Desember 2014 Bayi Firman harus dirawat di Ruang NICU RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya karena lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan memiiliki kelainan dalam saluran pernafasannya. Dengan fasilitas Jamkesda Kabupaten Tasikmalaya Kelompok 3 yang hanya mengcover 50% dari biaya perawatannya ia dirawat selama 45 hari dari tanggal 8 Desember 2014 sampai tanggal 21 Januari 2015. Selama bayi Firman dirawat ia ditunggui secara bergiliran oleh nenek dan adik Bu Tika secara bergiliran, karena Ibu Tika kondisinya masih lemah pasca melahirkan, sedangkan Bapak Sukmawan sendiri tinggal jauh di Banjarmasin untuk bekerja sebagai buruh bangunan. Karena ketidaktahuan keluarga, mereka tidak menyangka kalau biaya perawatan bayi Firman akan terus bertambah besar sampai mereka kaget dan bingung ketika mengetahui sampai tanggal 21 Januari biaya sudah mencapai Rp. 13.032.460,- Karena khawatir biaya akan terus bertambah, akhirnya mereka memutuskan untuk segera membawa pulang Bayi Firman dan akan merawatnya di rumah. Di tengah perasaan khawatir dan kebingungan, alhamdulillah mereka dipertemukan dengan Kurir #SedekahRombongan yang kemudian segera memberikan bantuan berupa santunan untuk membayar biaya administrasi perawatan Bayi Firman. Setelah melakukan negosisasi dengan pihak rumah sakit akhirnya disepakati mereka mendapatkan keringanan biaya, yang seharusnya Rp 6.516.230,- (50% dari total tagihan Rp. 13.032.460,- karena 50% lagi dijamin oleh Jamkesda Kabupaten Tasikmalaya) menjadi Rp 5.000.000,- #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk melunasi biaya perawatan Bayi Firman dan selanjutnya mengantarkannya pulang ke rumahnya dengan MTSR.

Jumlah Bantuan : Rp 5.000.000,-
Tanggal : 21 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Bayi firman mengalami BBLR+kelainan saluran pernafasan

Bayi firman mengalami BBLR+kelainan saluran pernafasan


DANIL bin SALIM (11, susp. Anemia ITP), Kp. Cikaso Desa Cibatuireng, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Danil adalah anak dari pasangan Pak Salim (39) seorang buruh tani dan Ibu Gitawati (34) yang tercatat sebagai keluarga penerima  fasilitas kesehatan Jamkesmas di Kabupaten Tasikmalaya. Sejak bulan Oktober 2014 Danil sering merasakan badannya lemas dan semakin hari kondisinya semakin sering sakit-sakitan sehingga ia kerap tidak bisa masuk sekolah. Awal Januari 2015 kondisi kesehatan anak kelas 5 SD ini menurun drastis. Kondisi badannya lemah, badannya pucat, dan suhu tubuhnya tinggi dan beberapa kali tak sadarkan diri. Melihat kondisi anak kesayangan mereka seperti itu, Pak Salim dan Bu Gita segera membawanya ke Puskesmas. Namun pihak Puskesmas segera merujuknya ke RSUD dr. Soekardjo karena diperkirakan Danil menderita kelainan darah. Di RSUD dr. Soekardjo Danil langsung masuk ruangan rawat inap, ia dirawat di RAB selama beberapa hari. Setelah dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, akhirnya Danil dirujuk ke RSHS Bandung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter di RSUD dr. Soekardjo memperkirakan Danil menderita Anemia, namun belum dapat dipastikan jenisnya. Keluarga Pak Salim kebingungan karena mereka tidak memiliki biaya, alhamdulillah atas ijin Allah melalui perantaraan Kepala Ruangan RAB keluarga ini dipertemukan dengan #SedekahRombongan yang memahami kesulitan mereka. Dengan MTSR Danil diantar ke RSHS untuk melanjutkan pengobatannya, dan setelah beberapa hari tinggal di RSSR sampai pemeriksaannya selesai, akhirnya ia mendapatkan ruangan untuk rawat inap dan Daniel pun dirawat di RSHS selama hampir tiga minggu untuk mengobservasi lebih lanjut penyakitnya dan mendapatkan tindakan medis berupa transfusi darah sebanyak 9 labu dan trombosit 21 kantong, karena HB dan trombosit-nya terus menurun. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk biaya pengobatan Danil, yang dipergunakan untuk transportasi dari RSUD dr. Soekardjo ke RSHS Bandung dan biaya akomodasi sehari-hari selama hampir tiga minggu menjalani perawatan di RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp 2.000.000,-
Tanggal : 8 Januari 2015, 25 Januari 2015
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik Faisal

Danil menderita susp. Anemia ITP

Danil menderita susp. Anemia ITP


NURHASANAH binti SUJANA (40, Pendarahan pasca melahirkan), Kp. Nangela RT 12/3 Desa Nangelasari, Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ibu Nurhasanah diantar ke IGD RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya menggunakan ambulance Puskesmas dari tempat tinggalnya di daerah Cipatujah yang berjarak sekitar 100 km dari RSUD. Bidan Desa kesulitan mengurus persalinan Bu Nurhasanah karena diperkirakan posisi bayinya sungsang. Sesampainya di IGD RSUD tim dokter dan perawat segera melakukan tindakan medis, namun bayi Bu Nurhasanah tidak tertolong karena sudah meninggal dunia dalam kandungan. Bu Nurhasanah sendiri mengalami pendarahan hebat sampai HB-nya turun menjadi 3,8 dan sempat mengalami masa kritis. Perawat di bagian PONEX IGD RSUD dr. Soekardjo menghubungi #SR karena Bu Nurhasanah yang hanya diantar oleh ibunya itu kesulitan biaya dan hanya memiliki uang Rp. 100.000, sementara kartu Jamkesmas yang dibawanya juga tidak dilengkapi dengan KTP, Kartu Keluarga, atau keterangan pendukung lainnya, sementara itu Bu Nurhasanah harus segera mendapatkan transfusi darah malam itu juga. Kami segera menemui Bu Nurhasanah dan berkoordinasi dengan Kepala Perawat PONEX dan segera mengusahakan darah golonga A untuk ditransfusikan kepada Bu Nurhasanah. Alhamdulillah saat itu juga kebutuhan transfusi darah dapat dipenuhi, dan jenazah bayinya pun diantarkan ke Cipatujah malam itu juga dengan MTSR, setelah ada beberapa orang kerabat Bu Nurhasanah yang datang menengok ke RSUD. Bu Nurhasanah sendiri harus dirawat untuk memulihkan kondisi kesehatannya karena mengalami pendarahan yang hebat. Setelah dirawat selama 6 hari dan mendapatkan transfusi darah 6 labu, Bu Nurhasanah diperbolehkan pulang. Namun ternyata mereka tidak dapat melengkapi persyaratan pendukung kartu Jamkesmas-nya, sehingga terpaksa harus membayar biaya perawatannya dengan fasilitas umum. Setelah melakukan negosiasi dengan pihak rumah sakit alhamdulillah akhirnya Bu Nurhasanah mendapatkan keringanan biaya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk Bu Nurhasanah, yang dipergunakan untuk transfusi darah, transportasi, dan biaya pelunasan administrasi perawatan selama 6 hari, dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD  dr. Soekardjo.

Jumlah Bantuan : Rp 4.200.000,-
Tanggal : 27 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem via Herman

Ibu nur mengalami Pendarahan pasca melahirkan

Ibu nur mengalami Pendarahan pasca melahirkan


RUHAEDI bin HAMID (64, susp. Kanker darah+ prostat), Kp. Monol RT 6/2 Desa Tobongjaya, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Ruhaedi, yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan, kadang sebagai buruh tani, kadang berjualan di pasar, sudah sejak sembilan bulan yang lalu sakit-sakitan. Ia diduga menderita penyakit kanker darah dan prostat sehingga sudah tidak bisa bekerja lagi. Dengan Jaminan kartu BPJS Kelas 3 yang dimilikinya, dengan ditemani istrinya Bu Mursih (56), ia berkali-kali dirawat rumah sakit. Pak Ruhaedi pernah dirawat di RS Jasa Kartini selama seminggu, di RS Permata Bunda 5 hari, dan RSUD Kabupaten Tasikmalaya 9 hari, sampai akhirnya berobat jalan ke dr. Tian kontrol seminggu sekali.  Pertengahan Januari 2015 kondisinya tambah memburuk, sehingga kembali Pak Ruhaedi harus dirawat di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Setelah beberapa hari dirawat, karena keterbatasan peralatan dan tenaga medis, akhirnya ia dirujuk ke RSHS Bandung untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Karena ketiadaan biaya Pak Ruhaedi berniat untuk mengurungkan rencananya untuk melanjutkan pengobatannya ke RSHS Bandung. Alhamdulillah mereka dipertemukan dengan Kurir #SedekahRombongan yang memahami kesulitannya. Kami segera mengantarkan Pak Ruhaedi ke RSHS Bandung, dan sementara tinggal di RSSR Bandung agar ia tidak perlu bolak-balik ke kampungnya selama menjalani pemeriksaan awal di RSHS. Selama 7 hari Pak Ruhaedi tinggal di RSSR Bandung, dan menjalani rawat jalan. Ia sempat dilarikan ke IGD RSHS karena kondisinya memburuk, alhamdulillah kemudian kondisinya mulai membaik. Pak Ruhaedi dijadwalkan untuk kontrol 2 minggu kemudian, namun ia tidak melanjutkan pengobatannya di RSHS dan memilih untuk melanjutkan dengan pengobatan alternatif. Ikhtiar telah dilakukan, namun Allah jua yang menentukan usia seseorang. Pak Ruhaedi akhirnya meninggal dunia di rumahnya di daerah Cipatujah. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga Pak Ruhaedi, yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp 1.500.000,-
Tanggal : 19 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik Herman

Pak ruhaedi menderita susp. Kanker darah+ prostat

Pak ruhaedi menderita susp. Kanker darah+ prostat


AGNIA PUTRI FALISYA (9, susp. kanker di Leher), Kp. Selaawi RT 3/5, Kelurahan Tuguraja, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Dik Agnia adalah puteri dari pasangan Bapak Agus (37) dan Ibu Erni Susilawati (33). Pak Agus yang sehari-hari bekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan ini harus menghidupi seorang istri dan ke-4 orang anaknya. Keadaan perekonomian keluarga yang sulit bertambah berat, karena Dik Agnia menderita penyakit tumor dideritanya sejak sekitar 6 bulan yang lalu. Dengan berbekal kartu BPJS dan segala keterbatasan mereka, keluarga yang tergolong pra sejahtera ini berusaha sekuat tenaga untuk mengobati anak tercintanya ini, mulai ke Puskesmas maupun membawa Dik Agnia ke RSUD dr. Soekardjo. Karena menurut hasil pemeriksaan di RSUD dr. Soekardjo diperkirakan tumor Dik Agnia cukup ganas, untuk penanganan lebih lanjut, pihak RSUD merujuknya ke RS Hasan Sadikin Bandung. Dik Agnia sempat beberapa hari dirawat inap di RSHS Bandung, dan kemudian selama 3 bulan menjalani rawat jalan dengan kontrol rutin dua minggu sekali. Pertengahan Januari 2015 kondisi Dik Agnia memburuk, pihak RS Hasan Sadikin memtuskan untuk merujuk balik Dik Agnia ke RSUD Tasikmalaya dikarenakan harus menjalani perbaikan KU sampai HB-nya stabil sebelum mendapatkan tindakan medis lebih lanjut di RSHS. Dik Agnia kemudian kembali menjalani rawat inap di RSUD dr. Soekardjo dan harus menjalani transfusi darah sebanyak 5 labu. Keluarga Pak Agus hampir saja memutuskan untuk membawa pulang paksa Dik Agnia dari rumah sakit, karena mereka sudah tidak memiliki biaya lagi untuk melanjutkan pengobatan Dik Agnia. Alhamdulillah setelah dipertemukan dengan kurir #SedekahRombongan Dik Agnia akhirnya bisa melanjutkan pengobatannya di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya. Walaupun ikhtiar secara maksimal telah dilakukan namun Allah berkehendak lain, Dik Agnia akhirnya  berpulang kepada Sang Pencipta di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Innalillahiwainnaillaihirojiun, gadis cilik itu kini telah tiada. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu pengobatan almarhumah Dik Agnia, yang dipergunakan untuk transfusi darah, obat-obatan, dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 1.500.000,-
Tanggal : 22 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Agnia menderita susp. kanker di Lehersusp. kanker di Leher

Agnia menderita susp. kanker di Lehersusp. kanker di Leher


UNAH MAEMUNAH (48, TB Paru dan Maag Akut), beralamat di Kp. Cibatu RT 4/3 Desa Jayaputra, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ibu Unah adalah Istri dari Bapak Ahmad Supardi (49) yang sehari-harinya berkerja sebagai seorang buruh serabutan guna menghidupi ke 5 orang anaknya. Keadaan perekonomian yang serba kekurangan membuat pengobatan Ibu Unah selama kurang lebih 5 bulan ini hanya bisa ia lakukan ke Puskesmas, tetapi penyakit TB Paru dan Maag Akut yang diderita Ibu Unah selama 3 tahun ini belum juga membaik. Akhirnya Ibu Unah beserta suaminya memutuskan untuk mencoba berobat ke Dokter Umum, selama kurang lebih 2 bulan ia menjalani pengobatan tersebut. Tetapi dikarenakan belum ada perubahan yang cukup signifikan juga dokter menyarankan agar Ibu Unah berobat ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Dengan berbekal kartu Jamkesmas yang dimilikinya, pada awal tahun 2013 ia memulai pengobatannya di rumah sakit ini. Dikarenakan faktor biaya yang kurang memadai terutama untuk biaya transportasi ke RSUD yang lumayan cukup jauh dari tempat tinggalnya, Ibu Unah tidak dapat menyelesaikan pengobatan TB Paru 6 bulan yang diprogramkan dokter di RSUD dr. Soekardjo, sehingga penyakitnya kembali kambuh dan memburuk di pertengahan Januari 2015 ini. Dalam keadaan tak sadarkan diri, pada tanggal 19 Januari 2015 Bu Unah dilarikan ke IGD RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya dan sempat dirawat selama 5 hari di sana,  akhirnya beliau meninggal dunia di rumah sakit. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu almarhumah Bu Unah, yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 22 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik Ajat Sudrajat

Ibu unah menderita TB Paru dan Maag Akut

Ibu unah menderita TB Paru dan Maag Akut


NUR ANISAH (12, TB Paru+Kelenjar Getah Bening), Kp. Rancakupa RT 3/17 Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Bapak Aripin (51) dan Ibu Mutakilah (31) adalah orangtua dari Nur Anisah. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya mereka bekerja sebagai buruh tani. Dik Anisah sudah menderita penyakit ini selama kurang lebih 6 bulan. Awalnya Dik Anisah hanya berobat ke dokter umum terdekat, tetapi karena penyakitnya terus menerus kambuh lagi lalu orang tua Dik Anisah membawanya ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya dan ia harus menjalani rawat inap. Setelah beberapa  hari dirawat pihak dokter di RSUD Kota Tasikmalaya menyarankan agar Dik Anisah segera dibawa ke RS Hasan Sadikin untuk penanganan lebih lanjut penyakitnya. Dikarenakan kedua orang tua Dik Anisah merasa kesulitan untuk biaya berobat ke RSHS Bandung, mereka kebingungan dan lebih memilih untuk sementara akan merawat Dik Anisah di rumahnya, sambil menunggu kesiapan untuk berangkat ke Bandung. Kami sempat menawarkan bantuan untuk mendampingi mereka dalam melakukan pengobatan lanjutan Dik Anisah ke RSHS Bandung, tetapi untuk sementara mereka tetap meminta waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya sambil terlebih dahulu mengobati penyakit TB Paru Dik Anisah dengan cara berobat jalan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga Dik Anisah, yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 19 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Ibu nur menderita TB Paru+Kelenjar Getah Bening

Ibu nur menderita TB Paru+Kelenjar Getah Bening


RIZAL ASEP PUTRA (11, susp. ALL/Leukimia), Kp. Datarkadaka RT 13/4 Desa Cikupa Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dik Rizal adalah anak yatim yang tinggal bersama ibunya, Ibu Yayah, sedangkan Ayahnya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Kini Bu Yayah harus memengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga agar dapat menghidupi keempat orang anaknya Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Bu Yayah bekerja sebagai buruh cuci dan pembantu di rumah tetangganya. Pada awal tahun 2013 Dik Rizal pernah dirawat selama 10 hari di RS Hasan Sadikin Bandung, tetapi karena kekurangan biaya pengobatan Dik Rizal di RSHS Bandung tidak dilanjutkan. Ibu Yayah hanya mampu mengobati Dik Rizal sekemampuannya saja,  DIk RIzal dirawat di rumahnya dan sesekali kontrol ke Puskesmas. Karena kondisi Dik Rizal tidak kunjung membaik, pihak Puskesmas menyarankan agar Dik Rizal segera dirujuk ke RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya. Setelah dipertemukan dengan #SedekahRombongan, alhamdulillah Dik Rizal dan ibunya bertekad untuk terus melanjutkan pengobatannya, saat ini ia sedang menjalani pengobatan rawat jalan dan harus kontrol setiap 2 bulan sekali di RSUD Kota Tasikmalaya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga Dik Rizal, yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 19 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Rizal menderita susp. ALL/Leukimia

Rizal menderita susp. ALL/Leukimia


TATA bin ENDIN (45, susp. Tumor Abdomen) Kp. Malompong RT 26/5 Desa Sodonghilir, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Tata telah lama hidup sendiri tanpa pendamping hidup karena istrinya pergi meninggalkannya. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh serabutan, kadang bekerja di sawah milik tetangganya, kadang bekerja sebagai tukang bangunan. Pak Tata diperkirakan telah 3 tahun terakhir ini menderita  penyakit tumor abdomen. Perutnya kian hari kian membesar, namun tadinya ia tidak begitu memperdulikan penyakitnya, ia hanya sesekali saja berobat ke Puskesmas jika merasakan sakit di bagian perutnya. Pihak Puskesmas sebenarnya sudah berkali-kali menyarankan agar Pak Tata segera berobat ke RSUD, namun ia belum dapat menjalankannya karena ketiadaan biaya, walaupun ia memiliki Kartu Jamkesmas. Pak Tata lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya demi menyambung hidup daripada memperhatikan penyakit yang dideritanya.  Namun karena kian hari perutnya semakin membesar dan dirasakan sudah mengganggu aktivitas sehari-harinya, akhirnya Pak Tata berusaha untuk berobat ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Para tetangga dan masyarakat setempat berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu meringankan biaya pengobatan Pak Tata. Alhamdulillah mereka berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 300.000,- dan dengan diantar oleh RT dan kader setempat, Pak Tata berangkat ke RSUD. Sesampainya di RSUD yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Pak Tata menjalani serangkaian pemeriksaan, cek laboratorium dan USG, namun hasilnya baru bisa diambil keesokan harinya. PAk Tata kebingungan karena ia harus pulang dulu dan kembali ke RSUD keesokan harinya, sementara uang hasil sumbangan yang diterimanya sudah tidak cukup lagi untuk ongkos ke RSUD keesokan harinya. Alhamdulilah di tengah kebingungan Pak Tata, Allah mempertemukannya dengan Kurir #SedekahRombongan yang kemudian menyampaikan santunan untuk membantu biaya transportasi dan biaya sehari-hari selama Pak Tata menjalani pemeriksaan di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 26 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Tata menderita susp. Tumor Abdomen

Tata menderita susp. Tumor Abdomen


IHSAN MAULUDIN (3 thn, Atresia Ani) Dusun Sorok RT 6/6 Desa Darmacaang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. Dik Ihsan adalah putra dari pasangan Bapak Ahmad (42) dan Ibu Neni (32). Bapak Ahmad sehari-harinya bekerja sebagai pedagang mainan anak-anak. Dengan penghasilannya yang tidak seberapa, ia harus menghidupi keempat anggota keluarga yang masih menjadi tanggungannya. Bukan hanya kesulitan ekonomi yang menimpa keluarga ini, Dik Ihsan, anak laki-laki satu-satunya yang diidam-idamkan Pak Ahmad dan Bu Neni, 3 tahun yang lalu lahir tanpa lubang anus dan menderita down syndrome. Setelah menjalani operasi kolostomi di RSUD Ciamis pada usia 7 hari,  Dik Ihsan kemudian dirujuk ke RSHS Bandung untuk menjalani pengobatan lanjutan. Sudah tiga tahun DIk Ihsan setiap bulan pulang pergi dari Ciamis ke RSHS Bandung menjalani kontrol rutin, perawatan dan telah menjalani operasi kedua untuk pembuatan lobang di anusnya. Berbagai terapi medis telah ia lakukan dan saat ini sedang menunggu jadwal utuk menjalani operasi ketiga. Proses yang panjang dan lama tentu saja cukup menguras tenaga dan biaya sehingga lama kelamaan Pak Ahmad pun merasakan bebannya semakin berat terutama  karena ia juga harus membiayai anak-anaknya yang sudah bersekolah. Tidak jarang Pak Ahmad harus mencari pinjaman kesana kemari agar ia bisa berangkat ke RSHS Bandung untuk menjalani jadwal kontrol Dik Ihsan. Akhirnya Pak Ahmad bertemu dengan Kurir #SedekahRombongan dan menceriterakan kesulitannya. Saat ini Dik Ihsan sudah menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan dan Pak Ahmad bisa sedikit lega karena tidak perlu khawatir lagi dengan biaya transportasi dan tempat singgah sementara karena ia bisa tinggal di RSSR Bandung. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga Dik Ihsan, yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 26 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Ihsan menderita Atresia Ani

Ihsan menderita Atresia Ani


SITI HAJAR (26, Pendarahan hebat pasca keguguran) Kp. Cijuhung RT 1/4 Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Suami Bu Siti, Pak Anton, sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan dan memiliki tanggungan 2 orang anak. Bu Siti sejak lima tahun yang lalu mengikuti program keluarga Berencana (KB) dengan cara dipasang spiral yang baru dilepasnya 7 bulan yang lalu. Kemudian ia hamil lagi tetapi mengalami keguguran pada usia kehamilan 3 bulan, Ibu Siti mengalami pendarahan yang hebat, lalu ia dibawa ke Puskesmas Sukaratu. Karena darah yang terus-menerus keluar, pihak Puskesmas segera merujuk Ibu Siti Hajar ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Setelah mendapatkan pertolongan pertama di IGD dan kondisi Bu Siti sudah mulai stabil, kemudian ia dipindahkan ke ruangan rawat inap untuk memulihkan kondisinya, HB Bu Siti hanya 4,4 sehingga ia harus mendapatkan transfusi darah sekitar 5-6 labu. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu biaya pengobatan Bu Siti Hajar, yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 19 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Ibu siti mengalami  Pendarahan hebat pasca keguguran

Ibu siti mengalami Pendarahan hebat pasca keguguran


TITI binti KAHRI (63, Stroke). Ibu Titi bertempat tinggal menumpang di rumah anaknya di daerah Nusawangi Kulon RT 3/6 Kelurahan Nusawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ibu Titi yang sehari-hari berkerja sebagai penjual kopi di pinggir jalan, tiba-tiba jatuh terpeleset ketika sedang mencuci pakaian di rumahnya. Kepalanya membentur dinding tembok kemudian  tak sadarkan diri. MTSR dengan bantuan para tetangga dan kerabat Bu Titi segera membawanya ke RSUD dr. Soekardjo. Selama dua hari Bu Titi mengalami koma dan tak pernah sadarkan diri lagi hingga akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. Dokter memperkirakan ia mengalami stroke yang mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan syaraf di bagian kepalanya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu biaya pengobatan Bu Titi, yang dipergunakan untuk transportasi, biaya perawatan, dan akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 21 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik Isah

Ibu Titi menderita Stroke

Ibu Titi menderita Stroke


ADIN YADIN (41, TB Paru-paru kronis), Kp. Cikatubang RT 5/2, Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Adin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan sudah 5 hari dirawat di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya karena kondisi kesehatannya memburuk sampai sempat mengalami tidak sadarkan diri.  Dengan berbekal kartu Jamkesmas yang dimilikinya, Ibu Ai Suminar (34), istri Pak Adin dengan dibantu para tetangganya segera membawa Pak Adin ke Puskesmas terdekat, tetapi tak lama kemudian ia disarankan dokter Puskesmas untuk dibawa ke RSUD  dr. Soekardjo. Di RSUD Pak Adin harus dirawat untuk mendapatkan pengobatan lebih intensif. Sebagai tulang punggung keluarga Pak Adin tidak bisa bekerja, otomatis perekonomian keluarga ini lumpuh, karena Bu Ai yang biasanya juga ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga ini, juga harus menunggui Pak Adin di rumah sakit. Keluarga ini hampir meminta  untuk pulang paksa sebelum pengobatan Pak Adin selesai karena sudah kehabisan bekal,  alhamduillah mereka dipertemukan dengan Kurir #SedekahROmbongan yang memahami kesulitan keluarga ini. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu biaya pengobatan Pak Adin, yang dipergunakan untuk akomodasi sehari-hari selama ia menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 23 Januari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Pak adin menderita TB Paru-paru kronis

Pak adin menderita TB Paru-paru kronis


AISYAH WIFQI BELLA (18 bln, Atresia Ani), Kp. Sayuran RT 15/3 Desa Arjasari, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Dik Aisyah adalah putri kelima dari pasangan Pak Wahyudin (38, buruh serabutan) dan Ibu Dedeh Paridah (32, MRT). Ia menderita kelainan saat lahir, yaitu tidak memiliki lubang anus sebagaimana bayi normal. Pak Wahyudin dan Bu Dedeh yang memiliki 5 orang anak ini, meskipun keadaan ekonomi keluarganya termasuk warga tidak mampu, namun mereka tidak lantas tinggal diam menerima kenyataan anaknya lahir dengan kelainan bawaan ini. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk mengobati puteri tercintanya ini. Pengobatan panjang sudah mereka tempuh sejak dari bidan, Puskesmas, RSUD, sampai harus bolak balik ke RSHS yang sudah berlangsung hampir satu tahun setengah, dan sudah menjalani 2x operasi. Terkadang hasil bekerja satu minggu habis hanya untuk biaya satu kali kontrol ke RSHS Bandung. Meskipun dirasakan berat, namun mereka terus berusaha untuk mengobati puterinya sampai selesai. Kesulitan keluarga ini diketahui oleh Kepala Desa setempat, yang akhirnya berusaha menolongnya dengan meminta bantuan kepada #SedekahRombongan. Kepala Desa Arjasari mendapat informasi tentang #SR dari rekannya sesama kepala desa, yaitu Kepala Desa Cintaraja, yang kebetulan salah seorang warganya pernah didampingi  #SR berobat ke RSHS Bandung. Setelah menerima informasi dari Pak Kepala Desa, Kami segera melakukan survei ke rumah Dik Aisyah, untuk selanjutnya berembug dan merencanakan keberangkatan ke RSHS. Akhirnya pada hari Selasa tanggal 11 November 2014 dengan MTSR, Kami mengantarkan Dik Aisyah dan ibunya ke RSSR Bandung untuk selanjutnya ia akan menjalani kontrol untuk persiapan operasi ketiganya. Tanggal 23 Februari 2015 orang tua Dik Aisyah menerima pemberitahuan dari RSHS Bandung bahwa Dik Aisyah sudah dijadwalkan untuk operasi ketiganya dan ia diminta untuk segera datang ke RSHS.  Merekapun berangkat tetapi karena pada saat itu kondisi kesehatan Dik Aisyah kurang baik (sakit flu) jadwalnya kemudian diundur lagi. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk transportasi dan biaya sehari-hari selama Dik Aisyah menjalani kontrol ke RSHS Bandung, setelah sebelumnya masuk di ROmbongan 639.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 23 Februari 2015.
Kurir : @luchakiem Kiner

Aishah menderita Atresia Ani

Aishah menderita Atresia Ani


AEP SAEPUDIN (55, Kanker di kaki), Kp. Desakolot RT 2/7 Desa Rancapaku, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. Tiga tahun yang lalu kaki Pak Aep mengalami luka karena menginjak kayu tajam. Karena kondisi ekonomi yang sulit, ia hanya mampu mengobatinya dengan obat tradisional atau memanggil mantri kesehatan yang ada di daerahnya. Tak lama lukanya sembuh dan ia pun tidak pernah merasakan hal yang aneh pada kakinya setelah itu. Tiga tahun kemudian, sekitar bulan September 2014 kakinya terasa sakit dan semakin hari semakin membengkak. Seperti biasanya, ia hanya mengobatinya dengan obat-obatan tradisional atau mengobatinya ke mantri kesehatan. Namun kali ini penyakitnya tak kunjung sembuh, sehingga Pak Mantri-pun menyarankan agar Pak Aep memeriksakan penyakitnya ke Puskesmas. Dari Puskesmas dokter merujuknya ke RSUD Kabupaten Tasikmalaya. Hanya beberapa kali menjalani pemeriksaan Pak Aep akhirnya dirujuk ke RSHS Bandung. Dokter di RSHS Bandung mendiagnosa Pak Aep menderita kanker ganas sehinga kakinya harus segera diamputasi untuk mencegah kankernya menjalar ke organ lainnya. Akhirnya dengan bantuan fasilitas Jamkesmas, Pak Aep pun menyetujui dan menjalani operasi untuk mengamputasi kakinya. Selepas menjalani operasi Pak Aep diharuskan menjalani beberapa kali kemoterapi, namun lagi-lagi karena ketiadaan biaya untuk ongkos dan bekal sehari-hari selama menjalani perawatan di Bandung, ia pun tidak dapat memenuhi jadwal kkemoterafinya. Sejak sebulan yang lalu, 3 bulan pasca operasi, Pak Aep kerap merasakan sakit lagi pada kakinya, terutama di daerah bekas amputasi. Lama kelamaan timbul juga pembengkakan pada kakinya, tadinya ia hanya pasrah saja karena ia sudah tidak punya biaya lagi, sampai akhirnya seorang tetangganya memberikan informasi tentang kesulitan Pak Aep kepada Kurir #SR. kami pun segera membawa Pak Aep untuk menjalani pemeriksaan di RSUD Kabupaten Tasikmalaya. Setelah 3 kali menjalani pemeriksaan, Pak Aep diharuskan menjalani rawat inap untuk mengobservasi penyakitnya agar dapat dilakukan tindakan medis selanjutnya. Pak Aep telah menjalani operasi amputasi kaki kirinya yang kedua kali di bulan Februari 2015, untuk selanjutnya akan menjalani kemoterafi. Tetapi sebelum itu ia harus memeriksakan kondisi jantungnya ke RS TMC Tasikmalaya. Untuk menunjang mobilitasnya, Pak Aep sangat memerlukan kursi roda. Alhamdulillah keinginannya itu dapat terwujud di bulan Maret, melalui bantuan para sedekaholic #SR. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan kepada Pak Aep yang dipergunakan untuk biaya pembelian satu unit kursi roda dan biaya transportasi Pak Aep menjalani kontrol ke rumah sakit, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 648.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.200.000,-
Tanggal : 13 Maret 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Aep menderita Kanker di kaki

Aep menderita Kanker di kaki


ALAN FADLAN bin SUHARDI (15, Osteosarcoma). Alamat: Jl. Ramajaksa Kelurahan Winduherang Kecamatan Cigugur Kab. Kunigan Jawa Barat. Anak pertama dari pasangan bapak Suhardi (36) dan Ibu Emah (32) ini adalah seorang pelajar kelas 9 SLTPN I Cigugur. Riwayat penyakit Alan berawal 1 tahun yang lalu. Alan, biasa anak lelaki tampan ini disapa oleh rekan-rekannya adalah anak yang aktif diberbagai kegiatan disekolah. Ia tergabung di beberapa kegiatan ekstra kurikuler seperti basket, futsal dan pencak silat. Karena aktifitasnya yang begitu padat membuat kedua orangtuanya kuatir Alan kelelahan. Ayah Fadlan, Bp. Suhardi yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan dan ibunya, Emah bertugas mengurus rumah tangga. Mereka kuatir karena Alan kecil sudah terbiasa keluar masuk rumah sakit karena penyakit tipus yang ia derita. Sampai suatu hari Alan mengeluh nyeri dipergelangan kaki kanannya saat ia pulang pertandingan Futsal disekolahnya. Ibunda Alan hanya memberikan minyak kayu putih agar nyeri yang dirasakan mereda, namun sebaliknya nyeri dirasakan makin hebat disertai timbul rasa panas dan kakinya mulai membengkak. Ia segera dibawa ke RSUD 45 Kuningan. Setelah dilakukan pemeriksaan foto rontgen kaki didapatkan adanya retak di tulang pergelangan kaki kanannya. Setelah diberikan obat pereda rasa nyeri dan bengkak Alan diperbolehkan pulang. Lalu atas inisiatif Ny.Emah, Alan dibawa ke tukang urut namun ternyata sesudah itu kaki Alan semakin mmbengkak seukuran buah kelapa. Kedua orangtua Alan lalu membawanya berobat ke dokter spesialis otrhopedi dr.Risa,Sp.O. Dari berbagai rangkaian pemeriksaan fisik dan penunjang, Alan diketahui menderita Osteosarcoma, yaitu suatu keganasan di jaringan tulang. Ia harus dirujuk dan mendapat penanganan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Sejak bulan Pebruari 2014 Alan mulai melakukan rawat jalan diruang Poli Orthopedi RSHS Bandung. Kurir #SedekahRombongan mendapatkan informasi tentang Alan pada tanggal 17 Januari 2015. Rencananya ia akan menjalani kemoterapi di RSHS, dan berangkat Minggu malam, tanggal 18 Januari 2015 menggunakan jasa tranportasi travel. Biaya transport yang cukup besar dan akomodasi selama menjalani rawat jalan ke RSHS cukup membebani ekonomi keluarganya. Ia berharap ada bantuan untuk mereka. Untuk pemeriksaan dan biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS kelas 3. Tanggal 23 Februari 2015 Alan dijadwalkan untuk menjalani kemoterafi di RSHS Bandung.  #SedekahRombongan kembali menyampaikan titipan dari langit guna meringankan beban keluarga Alan yang dipergunakan untuk trnasportasi dan akomodasi sehari-hari selama Alan menjalani kemoterafi di RSHS Bandung, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 665.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 22 Februari 2015
Kurir: @luchakiem @avinptr

Alan menderita Osteosarcoma

Alan menderita Osteosarcoma


PUADIN bin HASAN (31 thn, Rhabdomyosarcoma), Kp. Cileunsing RT.28/12 Desa Cukangjayaguna, Kecamata Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya. Di Kartu Keluarganya, Puadin hanya seorang diri, ia belum berkeluarga dan tinggal sendirian terpisah dengan orang tuanya. Buruh tani ini sudah setahun terakhir menderita benjolan di mata kanannya yang kian hari kian membesar. Perkembangan benjolan di matanya ini perkembangannya semakin cepat sejak lima bulan terakhir sehingga saat ini sudah menutupi sebagian besar wajahnya. Keadaan ekonomi yang sulit dan ia tidak memiliki fasilitas jaminan kesehatan membuat pengobatan Puadin tersendat-sendat, awalnya ia bahkan tidak mau memeriksakan penyakitnya ini ke dokter atau rumah sakit, karena selain ketiadaan biaya, ia juga merasa malu dengan keadaan penyakitnya ini, sehingga lebih cenderung lebih memilih untuk mengasingkan diri dan tidak mau bertemu dengan orang lain. Setelah ternyata semakin hari penyakitnya semakin parah dan tumornya semakin membesar, dan didorong oleh orang-orang di sekitarnya, barulah Puadin memberanikan diri untuk berobat ke Rumah Sakit. Awalnya ia memeriksakan penyakitnya ini di RSUD Kabupaten Tasikmalaya, namun RSUD ini langsung merujuknya ke RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Di RSUD ini Puadin menjalani pemeriksaan laboratorium dan setelah hasil PA-nya keluar, ia pun dirujuk ke RS Mata Cicendo Bandung. Dari RS Mata Cicendo, ia diberi rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut di RSHS Bandung. Tanggal 7 sampai 9 Oktober ia dijadwalkan menjalani pemeriksaan laboratorium, Echo dan rangkaian pemeriksaan lain di RSHS Bandung. Selesai pemeriksaan ia pulang dulu ke Tasikmalaya, namun pada hari Selasa 14 Oktober kondisinya memburuk sehingga dilarikan ke RSUD Dr. Soekarjo Kota Tasikmalaya. Di sini ia mendapatkan perawatan dan transfusi darah sebanyak 4 labu. Sempat terjadi kesulitan ketika kartu BPJS Puadin hilang sehingga Kami membantu menguruskan kartu penggantinya ke Kantor BPJS Kota Tasikmalaya. Setelah kondisinya sedikit membaik, Puadin kembali ke rumahnya untuk selanjutnya hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014 kembali berangkat ke Bandung untuk melanjutkan pengobatannya di RS Mata Cicendo dan RSHS Bandung. Dari RS Mata Cicendo Puadin dirujuk ke RSHS Bandung. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan di rumah sakit ini, ia diharuskan untuk menjalani pengobatan dengan cara kemoterafi. Sejak bulan Nopember 2014 ia mulai menjalani kemoterafi dan tanggal 30 Desember ini ia dijadwalkan untuk menjalani kemoterafi yang keempat. Kondisi benjolan di bagian mata dan wajah sebelah kanan Puadin terlihat sudah mulai mengecil, jauh sekali perbedaannya dengan kondisi sebelum menjalani kemoterafi, bahkan ia yang sebelumnya kesulitan untuk berbicara pun sekarang sudah terlihat lancar. Tanggal 1 Februari 2015 Puadin kembali menjalani keoterafi kelimanya. Ia berangkat ke Bandung dan sementara tinggal di RSSR Bandung sebelum mendapatkan jadwal kemoterafi dari RSHS Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk membantu pengobatan Puadin, yang dipergunakan untuk biaya transportasi, dan kebutuhan sehari-hari selama menjalani kemoterafi di RSHS Bandung, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 658.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 1 Februari 2015.
Kurir : @luchakiem

Pak puadin menderita Rhabdomyosarcoma

Pak puadin menderita Rhabdomyosarcoma


RAYHAN AHSAN NURHIDAYAT (2 th), Kampung Salamnunggal Kelurahan Parakan Nyasag Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya. Anak dari pasangan Bapak Dayat (44) dan Ibu Yati Mulyati (31) ini terlahir dengan kelainan tidak memiliki lubang anus (Atresia Ani). Pak Dayat sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan, atau kadang-kadang kalau sedang tidak ada pekerjaan ia berjualan tahu. Penghasilannya yang tidak menentu membuat keadaan ekonomi keluarganya sulit, apalagi Pak Dayat harus membiayai keempat orang anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. Keadaan ekonomi yang sudah sulit dirasakan tambah berat dengan kondisi Dik Rayhan yang memerlukan biaya perawatan yang cukup memperberat kesulitan keluarga mereka. Keluarga Pak Dayat tercatat sebagai penerima fasilitas Jamkeskinda dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, namun hal ini tidak serta merta menjamin pengobatan Dik Rayhan dapat dengan mudah dilakukan, karena pengobatannya harus dirujuk ke RSHS Bandung yang membutuhkan biaya transportasi yang lumayan besar dan cukup memberatkan untuk ukuran keluarga ini. Setelah empat kali melakukan pemeriksaan ke RSHS, mereka hampir menyerah dan nyaris menghentikan pengobatan Dik Rayhan. Setelah hampir 2 bulan didampingi oleh #SedekahRombongan, Bu Yati akhirnya bercerita kalau Dik Rayhan menderita Disorder of Sexual Development (DSD) with ambiguous genitalia atau kelainan perkembangan seksual (Sex Ambiguity). Setelah melakukan beberapa pemeriksaan termasuk test kromosom di RSHS Bandung, Dik Rayhan dinyatakan positif berjenis kelamin laki-laki. Untuk itu sebelum dilakukan tindakan operasi, ia diharuskan mendapatkan suntikan hormon sebanyak 5 kali yang dijadwalkan 1-2 minggu sekali. Setelah mendapatkan suntikan hormon yang pertama tanggal 25 Maret 2014, minggu ini Dik Rayhan berangkat lagi ke Bandung untuk kembali disuntik hormon yang kedua kalinya tanggal 10 April 2014. Hari Senin tanggal 5 Mei 2014 kembali Dik Rayhan akan menjalani jadwal suntik hormon untuk yang ketiga kalinya. Untuk yang keempat kalinya hari Rabu tanggal 28 Mei 2014 kembali Dik Rayhan akan menjalani suntik hormon. Akhir Nopember 2014 Dik Rayhan mendapat panggilan dari pihak RSHS untuk datang ke RSHS pada tanggal 1 Desember 2014. Dik Rayhan langsung masuk ruangan untuk persiapan operasi, dan saat ini masih menunggu jadwal operasinya di RSHS Bandung. Sudah dua minggu Dik Rayhan dirawat inap di RSHS menunggu jadwal operasi yang direncanakan pada hari Jumat tgl 19 Desember 2014. Bu Ai, ibunya Dik Rayhan tanggal 20 Februari 2015 mendapatkan panggilan agar hari Selasa 24 Februari anaknya menjalani pemeriksaan untuk persiapan jadwal operasi. Untuk itu mereka berangkat hari Senin tanggal 23 Februari dan beristirahat sehari di RSSR BAndung. Setelah menjalani pemeriksaan mereka belum mendapatkan ruangan yang kosong, sehingga setelah menunggu sampai tanggal 27 Februari 2015, mereka disarankan untuk pulang dulu dan menunggu panggilan berikutnya. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk transportasi dan biaya kebutuhan sehari-hari selama ia dirawat di RSHS Bandung, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 648.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 23 Februari 2015.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik Miftah

Rayhan menderita Atresia Ani

Rayhan menderita Atresia Ani


RENA SETIAWATI (5 tahun), Kp. Dadaha Gunung Jati RT. 4/3 Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Dik Rena tinggal di rumah bilik milik neneknya, karena ayahnya meninggalkannya sejak 3 tahun yang lalu, meninggalkan tanggung jawab untuk menafkahi ibu dan dirinya sampai saat ini, bahkan sudah menikah lagi. Meskipun harus bergelut dengan kerasnya kehidupan, ibunya, Tia Maesaroh (22) berusaha sekuat tenaga berikhtiar untuk merawat Dik Rena yang terlahir tidak memiliki anus (atresia ani). Dik Rena pernah menjalani sekali operasi sewaktu ia berusia satu tahun, dan seharusnya menjalani perawatan dan kontrol rutin ke RSHS Bandung tempat ia menjalani operasi pertama. Namun, jangankan untuk biaya transportasi bolak-balik ke Bandung, untuk makan sehari-hari saja keluarga miskin ini sudah sangat kesulitan, meskipun untuk biaya pengobatan dan rumah sakit mereka memiliki fasilitas Jamkesmas. #SedekahRombongan sangat prihatin dengan kondisi Dik Rena dan keluarganya, apalagi setelah melihat keadaan rumah tempat tinggalnya yang sempit dan kurang layak huni. Sekarang Dik Rena sudah berada di Rumah Singgah SR di Bandung untuk mulai rangkaian pemeriksaan pra operasi. Setelah bulan Februari 2014 Dik Rena selesai menjalani pemeriksaan awal di RSHS Bandung, tanggal 10 April ini ia kembali harus melakukan kontrol ke RSHS untuk mengetahui perkembangannya sebelum mendapatkan jadwal operasi. Tanggal 5 Mei 2014 Dik Rena kembali harus menjalani jadwal kontrol ke RSHS Bandung. Setelah memperpanjang surat rujukan dari RSUD Kota Tasikmalaya, tanggal 3 Juni 2014 Dik Rena kembali harus menjalani kontrol rutin ke RSHS Bandung. Dik Rena menjalani operasi kedua hari Kamis tanggal 26 Juni 2014 di RSHS Bandung. Alhamdulillah, operasi yang dimulai dari pukul 12.00 sampai pukul 17.30 itu berjalan lancar. Pasca operasi ia masih harus dirawat beberapa hari, dan juga harus membeli peralatan untuk busi, suprasob dan gel-nya. Tanggal 20 Juli Dik Rena kembali menjalani kontrol dan perawatan di RSHS Bandung. Tanggal 26 Juli 2014 Dik Rena mengalami pendarahan di bagian bekas operasinya, sehingga harus dilarkan ke IGD RSHS Bandung. Tanggal 15 Agustus Dik Rena akan diobservasi kembali di RSHS Bandung untuk persiapan menjalani operasi ulang karena ia sempat mengalami pendarahan, dan menurut dokter bekas operasinya robek sehingga antara anus dan vagina jaraknya terlalu dekat. Dik Rena tinggal di RSSR Bandung selama ia menjalani pemeriksaan dan perawatan di RSHS. Tanggal 16 Oktober 2014 Bu Tia Setiawati, Ibu Dik Rena mendapatkan telepon dari pihak RSHS agar bisa datang untuk menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung pada hari Senin tanggal 20 Oktober 2014. Tanggal 3 Desember 2014 Dik Rena kembali menjalani jadwal kontrol rutin ke RSHS Bandung, untuk mengobservasi perkembangan penyakitnya, serta untuk persiapan operasi ketiganya. Tanggal 21 Februari Dik Rena kembali kontrol ke RSHS Bandung untuk persiapan operasi ketiganya. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan kepada Dik Rena yang dipergunakan untuk biaya transportasi dan untuk bekal sehari-harinya, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 648. Alhamdulillah, dengan bantuan para sedekaholics, pengobatan Dik Rena yang sempat tertunda selama 3 tahun sekarang bisa dilanjutkan.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 21 Februari 2015.
Kurir : @luchakiem Tya Setiawati

Rena menderita Atresia Ani

Rena menderita Atresia Ani


AKMAL bin OHIK (1 tahun 4 bulan, kelainan paru-paru), Kampung Nangoh RT 1/ 9 Kelurahan Bungursari Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya. Ayah: Ohik (30), pekerjaan buruh bangunan, Ibu Elis (25) ibu rumah tangga, tanggungan 4 orang. Bayi Akmal lahir di Bidan Desa secara prematur pada usia kandungan memasuki usia delapan bulan, berat badannya hanya 1,5 kg. Selain itu ia juga kerap mengalami sesak nafas sehingga segera dirujuk ke RSUD Tasikmalaya, namun karena RSUD Tasikmalaya penuh, Bayi Akmal akhirnya dirawat di RS Al Islam Tasikmalaya. Dokter menduga ada kelainan pada paru-parunya sehingga ia harus dirawat secara intensif. Keluarga Bapak Ohik memiliki fasilitas Jampersal, namun RS Al Islam hanya bisa melayani rawat inap pasien Jampersal selama 3 hari, sisanya harus bayar sesuai dengan fasiitas umum. Untuk menghindari biaya membengkak, #SedekahRombongan segera memindahkan Bayi Akmal ke RSUD Tasikmalaya, namun lagi-lagi masih penuh, sehingga akhirnya dibawa ke RS Prasetya Bunda. Alhamdulillah setelah 2 hari dirawat di RS Prasetya Bunda, ada Kamar kosong di RSUD Tasikmalaya, Bayi Akmal pun segera dibawa ke sana dan saat ini sedang mendapatkan perawatan intensif Tim Dokter RSUD Tasikmalaya. Alhamdulillah setelah 10 hari dirawat di Ruang NICU dan PONEK RSUD Kta Tasikmalaya kondisi DIk Akmal mulai membaik dan sudah mulai bisa diberi ASI. Sepulangnya dari RSUD Tasikmalaya, Dik Akmal harus bolak balik lagi ke RSUD, selain untuk kontrol juga karena kadang kondisinya menurun, suhu badannya panas atau kesulitan bernafas. Tanggal 19 Februari 2014 Dik Akmal kembali sakit dan ia pun segera dibawa ke Puskesmas terdekat. Namun karena kondisinya tidak juga membaik, Puskesmas pun merujuknya untuk segera dibawa ke IGD RSUD Tasikmalaya. Menurut hasil pemeriksaaan RSUD Dik Akmal menderita bronchitis sehingga mengalami kesulitas pernafasan. Setelah 2 hari dirawat di IGD, Dik Akmal dpindahkan ke Ruang perawatan anak RAB. Akmal yang dari setahun yang lalu menjadi pasien dampingan perkembangann kesehatannya cukup menggembirakan, berat badannya berkembang normal, begitu juga dengan perkembangan psikologisnya, berembang normal sebagaimana balita seusianya. Tetapi pada tanggal 5 Maret 2015 ia kembali menderita sakit, pernafasannya sesak dan terlihat ada alergi pada kulitnya sehingga orang tuanya segera membawanya ke Puskesmas, lalu ke RSUD dr. Soekardjo sesuai saran dokter Puskesmas. Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah mulai membaik. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk biaya transportasi dan pembelian obat-obatan yang tidak dijamin oleh fasilitas Jamkeskinda yang dimiliki Dik Akmal, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 525.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal: 9 Maret 2015
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Akmal menderita kelainan paru-paru

Akmal menderita kelainan paru-paru


WAHYU ADAM (30, depresi+feeding problem), Kp. Sukahurip RT 14/5 Desa Sukapura, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Wahyu yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang tukang ojek motor ini didiagnosa mengalami depresi dan feeding problem sehingga kondisi kesehatannya terus menurun karena tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya. Dengan berbekal fasilitas jaminan Jamkesmas, istri Pak Wahyu, Ibu Nurjanah (25), dibantu oleh saudara dan para tetangganya membawa Pak Wahyu ke IGD RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Sudah sekitar dua bulan Pak Wahyu sebagai kepala keluarga tidak bisa mencari nafkah karena penyakitnya ini, sehingga kondisi ekonomi keluarga yang memiliki tanggungan 2 orang ini semakin terpuruk. Bahkan untuk ongkos dan biaya sehari-hari pun mereka kesulitan sehingga hampir saja mereka membawa pulang paksa Pak Wahyu dari rumah sakit sebelum pengobatannya selesai. Alhamdulillah, setelah bertemu dengan Kurir #SR yang memberikan bantuan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga ini, pengobatan Pak Wahyu dapat dilanjutkan. Pak Wahyu sudah 3 minggu dirawat di RSUD dr. Soekardjo, namun kondisinya masih belum membaik. Kondisi Pak Wahyu Adam yang masih dirawat di RSUD dr. Soekardjo terus memburuk, sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 29 Januari 2015. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan yang dipergunakan untuk transportasi mengantarkan almarhum Pak Wahyu Adam, biaya operasional sehari-hari sewaktu Pak Wahyu menjalani perawatan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 675.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 27 Januari 2014.
Kurir : @luchakiem @AdeSRTasik

Wahyu menderita depresi+feeding problem

Pak Wahyu menderita depresi+feeding problem

REKAPITULASI ROMBONGAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 Icen 1,500,000
2 Andi 7,800,000
3 Emy 1,000,000
4 Amad 500,000
5 Sigit 1,000,000
6 Janeta 500,000
7 Anas 3,500,000
8 Wiji 500,000
9 sasep 2,800,000
10 MTSR Tasik 5,750,000
11 Bayi firman 5,000,000
12 Danil 2,000,000
13 Nur hasanan 4,200,000
14 Ruhaedi 1,500,000
15 Agnia 1,500,000
16 Unah 500,000
17 Nur anisah 500,000
18 Rizal 500,000
19 Tata 1,000,000
20 Ihsan 1,000,000
21 Siti 500,000
22 Titi 1,000,000
23 Adin 500,000
24 Aisyah 500,000
25 Aep 1,200,000
26 Alan 500,000
27 Puadin 500,000
28 Rayhan 500,000
29 Rena 500,000
30 Akmal 500,000
31 Wahyu 500,000
Total 49,250,000

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 49,250,000,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 684 ROMBONGAN

Rp. 24,643,953,722,-