Anis Desiyanti 26thn alamat dusun kampung baru RT 11 RW 03 desa kalisat kec.sempol kab bondowoso. Suami mbak anis hanya seorang pencari kayu bakar di hutan sekitar pegunungan kawah ijen,bondowoso. Sejak usia 4 thn sudah timbul benjolan kecil,besarnya benjolan makin membesar seiring bertambahnya usia. Kondisi ini berubah dari benjolan kecil menjadi tumor hingga 3 thn terakhir ini menjadi kanker yang terus mengeluarkan darah segar dari benjolan tersebut. Kami membawa mbak anis dari rumahnya d pegunungan ijen ke malang pada hari minggu tanggal 13 januari 2014 dan langsung masuk RS mengingat kondisinya yang mengeluarkan darah terus. CT scan dan biopsi pin sudah dilakukan. Tindakan selanjutnya adalah dengan cara operasi pengambilan benjolan. Operasi pun sudah dlakukan untuk mengambil benjolan yang besar itu, hampir 1/4 massa benjolan bisa d ambil oleh tim dokter. Tindakan lanjutannya adalah penyinaran. Penyinaran seri pertama telah dilakukan,saat ini mbak anis minum obat kemo secara rutin sampai 2 bulan k depan,sblm pnyinaran dlanjutKan. Bantuan ini dipergunakan untk kontrol,obat dan uang saku selama di malang

Jumlah Bantuan : Rp.3.802.830,-
Kurir: @karmanmove @adist_ramadhan @decepe59
Tanggal : 27-2-2014

Ibu Anis menderita kanker yg terus mengeluarkan darah

Ibu Anis menderita kanker yg terus mengeluarkan darah



———————————————————–

Ibu Mahrus Manisa beralamat di desa mlandingan wetan kecamatan bungatan kabupaten situbondo . Beliau di diagnosa dokter mengalami Kanker payudara (ca mamae) stadium 4 dan sudah di deritanya kurang Lebih 1 tahun. Bu manisa sudah melakukan kemoterapi sampai enam kali. Ikhtiar selanjutnya adalah dengan cara penyinaran. Penyinaran seri ketiga sudah selesai dilakukan. Stelah dilakukan pemeriksaan ulang dokter menyarankan bu manisa untuk melakukan penyinaran tambahan setelah lebaran. Penyinaran tambahan pun sudah selesai dilakukan.Saat ini bu manisa berada di malang untuk melakukan kontrol rutin. Bantuan ini dipergunakan untuk biaya pemeriksaan,biaya kontrol,obat dn uang saku selama di malang

Jumlah Bantuan : Rp.1.506.880,-
Kurir: @karmanmove via @adist_ramadhan @decepe59
Tanggal : 27/2/2014

Ibu Mahrus menderita Kanker payudara (ca mamae) stadium 4

Ibu Mahrus menderita Kanker payudara (ca mamae) stadium 4

———————————————————–

Ibu Njoo Swie Foen 58thn sakit kanker payudara alamat jln Syamanhudi no 35 Jember,suaminya bpk Shie Hok bekerja sebagai penjual mantel / jas hujan di lapak yang sekaligus menjadi rumahnya. Beliau tinggal berdua dirumah tua peninggalan orang tuanya. Ibu njoo swie foen menderita sakit kanker payudara. Berawal dari benjolan di payudaranya,kemudian dbw k dktr untk dlakukan pemeriksaan. Dan setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh doktr mendiagnosa ibu njoo menderita kanker payudara stadium 3. biaya yang cukup mahal utk operasi istrinya,membuat bpk shie hok membongkar tabungan hasil laba jualannya yang disimpan di sebuah kaleng kue. Ternyata uang tabungannya tdk cukup utk biaya operasi,akhirnya beliau minta bantuan saudara2nya utk bisa melunasi biaya operasi sebesar 35jt. operasi brjalan lancar dan sukses tapi pengobatan tdk selesai sampai disini,setelah operasi dokter mewajibkan kemoterapi,bpk shie hok tdk berpikir sampai kesana utk mempersiapkan biayanya.semua tabungannya sdh habis. Saat ini ibu njoo dalam dampingan kami. Ikhtiar terbaik untk kesembuhan beliau. Saat ini kemoterapi keempat telah dilakukan. Bantuan ini dipergunakan untuk biaya kemoterapi keempat. 3 minggu lagi beliau akan melakukan kemoterapi kelima

Jumlah Bantuan : Rp.3.450.000,-
Kurir: @karmanmove via @adist_ramadhan @estata2 @indrapwicaksono
Tanggal : 27/2/2014

ibu njoo menderita kanker payudara stadium 3

ibu njoo menderita kanker payudara stadium 3

———————————————————–

Bu Tabarok (47), warga Desa Karangsari Kecamatan Boja Kabupaten Pekalongan, adalah seorang jandanyang hidup seorang diri di rumah tuanya. Sejak ditinggal suaminya (Alm. Samuri) lima tahun silam, sehari-harinya beliau menjajakan “chiki-chiki” (snack-red) di depan MI dan TK di dekat rumah beliau. Beliau mengaku rata-rata setiap harinya memperoleh untung lima ribu rupiah. Uang tersebut beliau gunakan untuk membeli makan setiap hari. Sebenarnya beliau memiliki seorang putra, Rizkiyanto (15), yang kini duduk di bangku SMA. Akan tetapi karena khawatir tidak mampu merawat dan membiayai pendidikan anaknya, Bu Tabarok dan suaminya yang seorang tukang becak memutuskan untuk menyerahkan putranya kepada keponakannya (Rondiyah) sejak putranya berumur 50 hari. Akhir tahun 2012 lalu, beliau sering terjatuh tiba-tiba dan mengalami nyeri di perut. Setelah mencoba berobat ke seorang tukang pijat, beliau dinyatakan terkena “usus kraket” (usus lengket-red). Karena dukun tersebut tidak mampu mengobati, akhirnya beliau memutuskan untuk memeriksakan penyakitnya ke RSUD Kota Pekalongan. Hasil diagnosa dokter menyatakan beliau terkena typus, sehingga dokter hanya memberinya obat. Setelah pengobatan typus selesai, beliau tidak merasa kondisi sakitnya tak juga membaik. Atas saran tetangganya, pada awal 2013 beliau pergi ke dokter praktek yang dinilai memiliki peralatan yang cukup lengkap. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa beliau menderita kista ovarium. Dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi. Akan tetapi, karena ketiadaan biaya, beliau membiarkan penyakit tersebut bersarang di tubuhnya. Hingga pada akhir 2013, perut beliau sudah menbuncit dan terlihat seperti wanita hamil yang kontras dengan tubuhnya yang sangat kurus. Pembesaran perut pada kista ovarium disebabkan karena adanya cairan yang terdapat pada jaringan ovarium, dan terus bertumbuh. Pada akhir tahun 2013 beliau bertemu dengan tim Sedekah Rombongan Sejak saat itu hingga sekarang, Bu Tabarok masih dalam dampingan Sedekah Rombongan. Beliau harus menjalani serangkaian pengobatan dan tindakan sebelum operasi dilakukan. Bantuan ini digunakan untuk akomodasi selama rawat inap di RS. Sardjito

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Kurir : @KarmanMove via @nugie_vqz
Tanggal : 28 Februari 2014

Ibu Tabarok menderita kista ovarium

Ibu Tabarok menderita kista ovarium

———————————————————–

Bu Dyah Wuryatiningsih, usia 43 tahun. Beliau tinggal di Penambongan Rt. 2 Rw.1 Purbalingga. Sejak 2 tahun lalu menderita ca mamae dan sudah pernah dioperasi di RS. Margono Purwokerto. Pengobatan Bu Dyah membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga, untuk biaya pengobatannya, Bu Dyah harus menggadaikan rumah miliknya untuk biaya pengobatan tersebut. Namun, pada perkembangannya di akhir tahun 2012 tumbuh lagi benjolan di sekitar bawah ketiak sehingga memaksa Bu Dyah untuk menjalani pengobatan yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Tim SR membantu Ibu Dyah ini untuk pengobatan pasca operasi dimana diharuskan untuk penyinaran dan kemoterapi lanjutan di RS. Sardjito yogyakarta. Bantuan ini merupakan biaya untuk USG, cek Laboratorium, Kontrol, obat dan suntik zometa).

Jumlah Bantuan : Rp.4.500.000,-
Kurir: @KarmanMove via @sinta_murtina
Tanggal : 28 Februari 2014

Ibu Dyah menderita ca mamae

Ibu Dyah menderita ca mamae

———————————————————–

Ibu Supriyanti adalah seorang janda berusia 52 tahun. Lahir di Temanggung, 24 Februari 1962 sehari-hari Bu Supriyanti berjualan di warung kelontong dan bensin eceran. Anak semata wayangnya, bernama Aldino Derry Wahyudi ( 22 tahun), seorang tukang parkir. Bu Supriyanti beralamat di Jl. T.Sumbing 10 No.37 RT 09 RW 01 Temanggung. Bu Supriyati mulai merasakan sakit pada payudara kirinya 3 tahun yang lalu. Berobat di RS Umum Joyonegoro, Temanggung, beliau didiagnosa kanker payudara dan menjalani operasi pengangkatan benjolan. Beberapa bulan kemudian menjalani pengangkatan payudara kiri. Seharusnya Bu Supriyanti dianjurkan menjalani kemoterapi, tetapi karena RS Temanggung tidak mempunyai fasilitas tersebut, beliau direkomendasikan pindah ke RS Sardjito. Namun akhirnya rekomendasi tersebut tidak dilakukan. 6 bulan lalu, Bu Supriyanti merasakan sakit kembali pada bekas operasi. Ternyata bekas operasinya membusuk dan tangan kirinya membengkak. Dokter mengharuskan bu Supriyanti untuk kemoterapi di RS Sardjito Yogyakarta. Tanggal 12 Februari 2014, Bu Supriyanti sampai di Yogyakarta dan mulai menjalani pengobatan ddidampingi Sedekah Rombongan. Bantuan ini digunakan untuk cek lab, kontrol dan pembelian obat.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Kurir: @KarmanMove via @RoyEkanala
Tanggal : 28 Februari 2014

Ibu Supriyadi didiagnosa kanker payudara

Ibu Supriyadi didiagnosa kanker payudara

———————————————————–

Dek Nur Istiqomah, seorang murid kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Garongan, adalah anak piatu yang juga ditinggalkan oleh ayahnya. Sedari kecil dia dirawat dan diasuh oleh nenek buyutnya yang udah tua renta. Sejak lahir anak ini terinfeksi virus HIV AIDS sehingga kesehatannya dipantau rutin oleh RSU Sardjito Yogyakarta dengan biaya yang tidak sedikit. Anak ini saat ini tinggal di Garongan Dusun 3, Garongan, Panjatan, Kulon Progo. Bantuan ini digunakan untuk meringankan derita dek Nur Istiqomah.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Kurir: @KarmanMove via @aji_kristanto
Tanggal : 28 Februari 2014

Adik Istiqomah terinfeksi virus HIV AIDS

Adik Istiqomah terinfeksi virus HIV AIDS

———————————————————–

ESTI SETIAWATI (17), Kp. Karang Resik RT.2/1, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Sungguh malang nasib gadis cantik dengan segudang prestasi anak ke-4 dari 5 bersaudara pasangan Pak Adih (51), seorang karyawan pom bensin, dan Bu Rusliah (46) ini. Siswi salah satu SMA Negeri di Tasikmalaya ini selain selalu masuk rangking di kelasnya juga adalah seorang atlet pencak silat yang sejak masih bersekolah di SMP sudah sering menjuarai berbagai macam kejuaraan di tingkat Kota Tasikmalaya. Bahkan pada tahun 2013 ia menjadi Juara I kejuaraan pencak silat tingkat Provinsi Jawa Barat dan kejuaraan antar sekolah O2SN Tingkat Provinsi Jawa Barat, serta berhak untuk mewakili Provinsi Jawa Barat di tingkat nasional. Namun malang, sekitar 3 bulan yang lalu ia mengalami kecelakaan lalu lintas sepulangnya dari latihan, sepeda motor yang ia kendarai bersama temannya terserempet truk dan sempat diberikan pertolongan pertama di RS swasta , yang terdekat dari tempat kejadian.
Diagnosa Dokter mengatakan bahwa Dik Esti mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangannya, ia pun dirujuk ke RSHS Bandung. Keluarga Dik Esti kebingungan, karena dari informasi yang diterima, biaya perawatannya mungkin bisa mencapai puluhan juta rupiah. Akhirnya, karena khawatir dengan biaya yang jauh di luar kemampuan keluarga, dan tadinya diperkirakan hanya bagian kaki dan tangannya saja yang patah, mereka membawanya ke pengobatan patah tulang tradisional. Namun ternyata kemudian diketahui bahwa tulang belakang Dik Esti juga mengalami patah, sehingga mengakibatkan sebagia badannya dari bagian dada ke bawah tidak dapat digerakkan dan tidak dapat merasakan apa-apa. Setelah selama hampir 2 bulan dirawat dengan pengobatan tradisional, namun tidak menunjukkan kemajuan berarti dan juga karena kehabisan biaya, akhirnya Dik Esti dibawa pulang.
Ketiadaan biaya memaksa Dik Esti hanya dirawat seadanya di rumah, hampir 1 bulan lebih (3 bulan sejak kecelakaan) berlalu tidak ada perbaikan berarti bahkan malah muncul luka melepuh yang dalam menganga di bagian belakang badannya (pantat) yang kian hari kian membesar. Sungguh sangat tragis nasib pendekar silat yang biasanya garang di arena ini, sekarang ia hanya terbaring di tempat tidur, lemah tak berdaya… Alhamdulillah, Allah jualah yang mempertemukan Dik Esti dengan #SedekahRombongan, saat ini ia dalam dampingan penuh #SR yang langsung mengurus pengobatan Dik Esti. Ia dibawa ke RSUD Tasikmalaya untuk perawatan luka di bagian belakang badannya sebelum menjalani pengobatan yang lebih intensif patah tulang yang dideritanya. Setelah sektar 2 minggu dirawat di RSUD Tasikmalaya dengan menghabiskan biaya Rp 17.544.529, lukanya mulai membaik, dan Dik Esti pun diperbolehkan pulang. Pada tanggal 4 Desember 2013, setelah kesepakatan keluarga dan kesiapan Jamkesmas serta kurir pendamping Tasikmalaya dan Solo – Esti berangkat ke RS Orthopedi Solo atas rujukan RSUD Tasikmalaya dan sudah beberapa bulan di Solo. Kini Esti sudah berada di rumahnya kembali untuk menunggu tindakan lanjutannya kembali ke Solo dan menunggu luka di bagian belakangnya sembuh dan kering, Esti juga sudah dapat duduk menggunakan kursi roda. Bantuan kembali disampaikan untuk biaya kontrol ke RSUD Tasikmalaya setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 518.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @luchakiem
Tanggal: 3 Maret 2014.

Dik Esti mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangannya

Dik Esti mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangannya

———————————————————–

MUH. RIZKI, 2 tahun, Alamat: Kp.Pabuaran RT.1/5, Kertajaya, Rumpin, Bogor. Sungguh menyedihkan nasib bayi Rizki, Sejak kecil sudah terkena penyakit yang sangat menyakitinya. Terdiagnosa Rabdomiosarcoma OS, Mata sebelah kirinya menonjol keluar dan saat ini sedang berobat jalan ke RSCM Jakarta. Sepertinya akan mengalami tindakan perobatan panjang, begitu kata ibunya: Siti Solihat, 39 tahun menyatakan kesulitan yang mereka hadapi dimana tanggungan anakpun semuanya 5 orang masih kecil-kecil. Ayahnya: Acang, 41 tahun adalah seorang Supir Truk pengangkut pasir, rencananya RIZKI akan lakukan kemoterapi yang ke 9 protokol ke 2 di RSCM, Kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk kebutuhan membeli obat serta operasional rawat jalan di RSCM Jakarta, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 513, Semoga RIZKI diberikan kesembuhan yang maksimal dan anak Dhuafa ini dapat tumbuh besar serta dapat menjadi harapan kedua orangtuanya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @endangnumik
Tanggal : 28 Februari 2014.

Adik Rizki Terdiagnosa Rabdomiosarcoma OS

Adik Rizki Terdiagnosa Rabdomiosarcoma OS

———————————————————–

ANGGUN NUGRAHA, 17 tahun, Alamat: Desa Serdang RT.10/5, Toboali, Bangka Selatan, Babel. Ayah: Sutopo, 44 tahun dan Ibu: Sulyani 40 tahun. Pada awal Tahun 2011, Anggun mengalami kecelakaan kendaraan saat akan berangkat ke Sekolah hingga serius dan harus dirawat di RSUD Toboali kemudian RSUD Pangkal Pinang hingga akhirnya saat ini berada di RSCM Jakarta. Kesulitan mereka berihtiar menyembuhkan anaknya sangat penuh pengorbanan waktu , tenaga dan biaya hingga karna tempat tinggal yang bergitu jauh, Sutopo hanyalah seorang Petani yang penghasilannya cukup untuk keluarganya makan saja. Kondisi ANGGUN NUGRAHA saat ini masih menunggu penjadwalan untuk operasi lepas pen #SedekahRombongan memberikan bantuan lanjutan untuk Anggun Nugraha selama berobat di Jakarta setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 513

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @endangnumik,
Tanggal: 27 Februari 2014.

Adik Anggun mengalami kecelakaan kendaraan saat akan berangkat ke Sekolah

Adik Anggun mengalami kecelakaan kendaraan saat akan berangkat ke Sekolah

———————————————————–

RASIDI, 48 tahun. Bapak 4 orang anak warga Dusun Ciboboko RT.6/3, Desa/Kel : Mekar Asih, Kec.Jatigede, Kab.Sumedang, Jawa Barat ini yang bekerja sehari-harinya menjajakan kue gorengan keliling di wilayah Pademangan Jakarta Utara, sudah 4 bulan ini tidak bisa aktif berdagang lagi karna sakit yang dideritanya, awal sakit sebetulnya sudah lama diderita oleh pak RASIDI, dari tahun 1983 sudah terserang sakit lambung kronis, namun karna tak ada biaya pak RASIDI tidak pernah berobat ke dokter. Rasa sakit pada lambungnya hanya diobati dengan mengkonsumsi obat warung seadanya, namun sejak 4 bulan terakhir rasa sakit di lambungnya semakin menjadi-jadi dan dada pak RASIDI dirasakan sesak. bu UCI SUKAESIH, 38 tahun, Istri pak RASIDI melihat kondisi suami tercintanya tersebut membawa ke dokter klinik terdekat. Dari diagnosa dokter pak RASIDI alami gangguan pada Jantungnya. Selama 4 bulan sakit pak RASIDi praktis tidak dapat menjalankan usahanya lagi, jangankan untuk berobat mengobati sakitnya, untuk menutupi biaya makan sehari-hari saja keluarga ini gali lubang tutup lubang jadinya. Alhamdulillah dalam keadaan yang terjepit pak RASIDI dipertemukan dengan #SedekahRombongan, harapan untuk berobatpun terbuka kembali. Bantuanpun disampaikan untuk biaya berobat dan mengurus surat-surat BPJS yang memang belum dimilikinya,

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @endangnumik
Tanggal : 27 Februari 2014.

Bapak Rasidi terserang sakit lambung kronis

Bapak Rasidi terserang sakit lambung kronis

———————————————————–

Bu LILIS, 51 tahun. Seorang janda 1 anak warga Desa Leuwi Nutug RT2/7, Kel.Leuwinutug, Kec.Citeureup, Kab.BOGOR ini sudah 1 tahun ini menderita sakit Jantung dan komplikasi paru-paru. Pekerjaan sehari-hari bu Lilis menerima jasa mencuci pakaian bagi warga sekitar tempat tinggalnya yang membutuhkan tenaganya, namun selama 1 tahun ini bu Lilis praktis tidak bisa melakukan pekerjaannya karna sakit, Awal sakit dirasakan oleh janda dhuafa ini sepulang ia bekerja, dirasakan dadanya sering sesak. Karna ingin sembuh bu Lilis berobat ke puskesmas terdekat, dari puskesmas bu Lilis dirujuk pengobatannya ke RSUD Cibinong Bogor. Karna keterbatasan biaya, pengobatannya pun sering tertunda, dari pemeriksaan dokter RSUD Cibinong, bu Lilis terdiagnosa sakit Jantung dan paru-paru. Sungguh sedih sekali hati bu Lilis setelah mengetahui sakit yang dideritanya, apalagi bu Lilis masih harus menafkahi 1 orang anaknya. Dengan tekad ingin sembuh dari sakitnya, Janda Dhuafa satu anak ini berobat ke RSCM Jakarta, selama berobat bu Lilis menggunakan fasilitas Jamkesmas yang dimilikinya, Walaupun biaya pengobatan sudah ditanggung oleh pemerintah namun biaya sehari-hari dan juga biaya membeli obat-obat yang tidak ditanggung oleh Jamkesmas sangat memberatkan bu Lilis. Alhamdulillah #SedekahRombongan membantu kesulitan yang dialami oleh janda dhuafa ini, bantuanpun disampaikan.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @endangnumik
Tanggal : 25 Februari 2014.

Ibu Lilis menderita sakit Jantung dan komplikasi paru-paru

Ibu Lilis menderita sakit Jantung dan komplikasi paru-paru

———————————————————–

RANGGA SAPUTRA, 14 bulan. Bersama orangtua dan saudara kandungnya, ia tinggal, numpang di rumah uwanya di Kampung Saninten RT.4/2, Desa Margamulya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Ayahnya, Dadan (30) sampai saat ini belum mampu membuatkan anak istrinya rumah. Ayahnya hanya buruh tani yang kerap menggarap lahan berpindah-pindah, Ibunya, Yati (23) sehari-hari disibukkan dengan mengurusi anak-anaknya. Tanggungan 2 anak sudah cukup berat mereka rasakan. Keluarga dhu’afa ini semakin terpuruk dalam kubangan kemiskinan ketika si bungsu, Rangga Saputra diduga kuat menderita hernia. Gejalanya muncul beberapa bulan yang lalu. Setiap beraktivitas dan kecapaian anak ini kerap memegang “alat vital”nya sambil meregang kesakitan, Bahkan jika ia menangis kerap terjadi pembengkakan. Dua kali ia diperiksakan di Puskesmas Pasirjambu, tetapi ia belum pernah diperiksakan ke rumah sakit. “Tak berani kami membawanya ke rumah sakit., Kami tidak akan mampu dan tidak punya jaminan apa-apa. KTP dan KK pun belum punya,” kata ibunya. Keluarga ini sangat miskin, bahkan tempat tinggal pun ikut di rumah uwaknya. Bapaknya sering nganggur karna tak ada yg mempekerjakan. Mereka juga tak punya Jaminan Kesehatan. #SedekahRombongan ikut merasakan derita mereka, Bantuanpun disampaikan untuk keperluan operasional berobat setelah sebelumnya masuk bantuan di Rombongan 527.

Jumlah Bantuan: Rp.500.000,-
Kurir: @pitungmasakini @ddsyaefudin @cucucuanda
Tanggal : 36 Februari 2014.

Adik Rangga Saputra diduga kuat menderita hernia

Adik Rangga Saputra diduga kuat menderita hernia

———————————————————–

YANTI. 41 tahun. Bersama suaminya, Tata (55) ia tinggal di rumahnya yang sangat sempit di Kampung Babakan Lampit RT.3/7, Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Suami Yanti hanyalah buruh tani di kampungnya yang perkerjaannya pun tak menentu. Dengan tanggungan 5 orang, tentu semakin memperparah kondisi ekonomi keluarga ini. Apalagi ketika Bu Yanti harus dirawat di rumah sakit karena diduga mendapat serangan jantung mendadak. “Ketika istri saya sakit, tak terbayang dari mana kami bisa memberinya pengobatan. Kantenan kedah ka rumah sakit mah! Untuk kebutuhan sehari-hari pun sudah susah,” cerita Pak Tata berbahasa campur sunda dengan mata hampa saat Kurir #SedekahRombongan bertemu dengannya tanpa diduga.
Berdasarkan penuturan suami dan kader PKK di desanya, dalam seminggu ini kerap mengalami nyeri di perut dan dadanya. Berbekal Jamkesmas, ia diperiksakan ke bidan desa. Sayang bidan desa itu kurang tanggap. Yanti tidak dirujuk ke Puskesmas atau rumah sakit segera. Ia malah dirawat di bidan itu padahal penyakitnya bukan masalah kehamilan. “Di bidan itu kami habis uang 600.000 Kami tak punya uang lagi”. Melihat kondisi kesehatan Bu Yanti yang semakin kritis dan ketidakmampuan ekonomi mereka, #SedekahRombongan menunjukkan empatinya bagi keluarga papa ini untuk kebutuhan transportasi ke RSUD Soreang (sewa mobil siaga desa tetangga) dan beli obat yang tidak ditanggung Jamkesmas.

Jumlah Bantuan: Rp.500.000,-
Kurir: @pitungmasakini @ddsyaefudin @cucucuanda
Tanggal : 28 Februari 2014.

Ibu Yanti diduga mendapat serangan jantung mendadak

Ibu Yanti diduga mendapat serangan jantung mendadak

———————————————————–

RINI, 13 tahun. Sikapnya yang ramah dan pendiam, seolah mununjukkan kemampuannya menyembunyikan rasa kerinduan akan kebebasan dan keceriaan dunia anaknya. “Nama saya RINI. Saya sudah tidak sekolah, Pak. Ngasuh adik-adik saja. Membantu ibu,” jawabnya sambil menunduk malu saat ditanya. Kegiatan sehari-hari Rini kini membantu ibunya di dapur dan mengasuh keempat saudara kandungnya. Bergiliran. Ia tidak sempat belajar dan bermain lagi dengan teman sebayanya. Cerita ceria di bangku sekolah hanya sempat ia nikmati sampai kelas 4 SD. Orangtua nya terpaksa menghentikan hak anak pertamanya itu karena persoalan ekonomi dan beban keluarga. “Walau ke sekolah tak begitu jauh, tapi keadaanlah yang memaksa kami menghentikan sekolah Rini,” jelas ibunya, Deulis, 34 tahun. Ayahnya, Dede (32) juga tak bisa berbuat banyak untuk mensejahterakan keluarganya. Pendidikan menjadi barang yang mahal buat keluarga ini. Profesi ayahnya hanya “Penggergaji” yang sering berhari-hari meninggalkan keluarganya di rumah mereka yang letaknya di daerah pinggiran kampung berdekat dengan hutan, di Kampung Saninten RT,4/2, Desa Margamulya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Pudar sudah masa-masa terindah Rini untuk mengukir masa depan dalam keceriaan bersama teman sebaya dan dekapan kehangatan keluarga ketika dalam sebulan ini ia kerap pingsan dan mengalami kejang. “Dari mulutnya pernah keluar seperti busa,” tambah ibunya. Puskesmas Pasirjambu menduga Rini menderita epilepsi. Karena adanya informasi dan kesigapan perangkat desa, akhirnya keluarga papa ini dipertemukan dengan Kurir #SedekahRombongan. “Mereka tak mampu melanjutkan pengobatan karena harus dirujuk ke RSUD Soreang. Mari kita bantu bersama #SR,” ajak perangkt desa yang dikenal telaten membantu warga miskin yang perlu berobat. Berkat izin Allah SWT, Alhamdulillah, Bantuan tersampaikan sesaat sebelum berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan jaminan Gakinda Kabupaten Bandung. Rini nampak begitu gembira saat bersama keluarganya naik Mobil Siaga Desa Margamulya untuk berobat ke kota Soreang, sesuatu yang belum pernah ia alami.

Jumlah Bantuan: Rp.500.000,-
Kurir: @pitungmasakini @ddsyaefudin @cucucuanda
Tanggal : 28 Februari 2014.

Adik Rini kerap pingsan dan mengalami kejang

Adik Rini kerap pingsan dan mengalami kejang

———————————————————–

SARTINAH, 37 tahun. Seorang ibu rumah tangga yang sudah 2 tahun diuji dengan penyakit Anemia Hemolitik, beralamat di Kp.Srengseng Jaya RT.3/2, Sukadarma, Sukatani, Bekasi. Sementara pekerjaan suaminya, Sutarji (42) yang hanya seorang penarik becak odong-odong dan juga memiliki tanggungan 2 orang anak yang masih kecil dan usia sekolah – Merasakan beban yang berat dalam membiayai istrinya berobat selama ini. Berulangkali ia antarkan istrinya bulak-balik ke RSUD Bekasi dan seminggu ini kondisi Sartinah drop dengan HB mencapai 2,6, kemudian ia dibawa ke RSUD Bekasi kembali untuk dirujuk ke Ruang ICU. Sayangnya ICU saat itu kondisinya penuh dan harus menunggu antria, iapun dipindahkan ke RS.Karya Medika. Sutarji tambah kebingungan dari mana ia harus membiayai ini semua, Alhamdulillah #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan untuk kebutuhan bu Sartinah berobat ke RSUD setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 518. Semoga bu Sartinah lekas sembuh dan saat ini sedang dirawat inap di RSUD Bekasi.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @suharnayana
Tanggal : 3 Maret 2014

Ibu Sartinah menderita penyakit Anemia Hemolitik

Ibu Sartinah menderita penyakit Anemia Hemolitik

———————————————————–

Ibu Kadar, 45 tahun, Seorang janda tanpa anak, tinggal di rumah kontrakan di perkampuangan yang cukup padat, tepatnya di Jl. Budi Mulia RT.10/4, Kel. Pademangan Barat, Kec. Pademangan, Jakarta Utara. Ibu Kadar sudah lama hidup sebatang kara sejak suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya biasanya ibu Kadar menerima jasa mencuci dan menggosok pakaian bagi warga sekitar yang membutuhkan jasanya. Namun sejak 1 bulan lalu bu Kadar tidak bisa bekerja lagi karna sakit, bu Kadar terjatuh dan mengalami keretakan pada tulang kakinya. karna tak mempunyai biaya bu Kadar selama ini tidak menjalani pengobatan. Alhamdulillah #SedekahRombongan dipertemukan dengan bu Kadar. bantuan awal disampaikan untuk ibu Kadar yang akan dipergunakan untuk pembuatan KTP dan Kartu Keluarga yang belum dimilikinya dan juga untuk biaya transportasi ke RSUD Koja Jakarta Utara.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @harji_anis
Tanggal : 27 Februari 2014.

bu Kadar terjatuh dan mengalami keretakan pada tulang kakinya

bu Kadar terjatuh dan mengalami keretakan pada tulang kakinya

———————————————————–

Bu SAEBAH (60) Kp Cibarengkok RT 1/11 Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Bu Saebah yang hidup sebatang kara, tinggal menumpang di sebuah keluarga yang juga tergolong keluarga miskin. Untung saja ada keluarga yang meskipun dalam segi ekonomi bukan termasuk keluarga mampu, namun mereka mau menampung dan mengurus Bu Saebah dengan sepenuh hati. Mereka menganggap Bu Saebah sebagai ibu angkat mereka. Bu Saebah sudah beberapa tahun terakhir tidak dapat melihat, dokter Rumah Sakit mendiagnosa Bu Saebah menderita penyakit katarak dan disarankan harus segera dioperasi. Ibu tua yang sudah tidak bisa bekerja karena kondisinya yang tidak dapat melihat lagi ini belum bisa memenuhi saran dokter, karena meskipun ia memiliki fasilitas Jamkesmas, namun ia tak kuasa membiayai transportasi dan biaya sehari-hari untuk menjalani operasinya nanti. Biaya transportasi selama ini untuk bolak-balik memeriksakan diri ke RSUD Tasikmalaya pun ia dapatkan dari hasil sumbangan tetangga dan warga setempat. Sementara keluarga yang selama ini menampung dan mengurusnya juga bukannya tidak mau untuk membantu Bu Saebah, namun keadaan ekonomi mereka pun sudah cukup sulit, mereka selama ini sudah berusaha untuk mencari bantuan ke warga dan pemerintahan desa setempat. #SedekahRombongan menyampaikan santunan biaya transportasi dan biaya operasional Bu Saebah untuk persiapn operasi kataraknya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @luchakiem @AdeBuser
Tanggal : 1 Maret 2014

Bu Saebah menderita penyakit katarak

Bu Saebah menderita penyakit katarak

———————————————————–

Dik RISKA APRILIANI (2 thn), Kp. Sindang Hurip RT 2/9 Desa Singajaya Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya. Ayah Dik Riska, Kang Suparman (28) sehar-hari bekerja sebagai buruh serabutan yang penghasilannya tidak tentu. Ibunya Kokom Komala (21) meninggalkan Dik Riska dan Kang Suparman beberapa bulan yang lalu sebelum Dik Riska sakit. Praktis sekarang ia hanya diurus oleh Kang Suparman dan neneknya, mereka berdualah yang mengurus dan menunggui Dik Riska selama dirawat di Rumah Sakit. Dik Riska didiagnosa menderita penyakit abses thorax dx dan sudah 2 kali dioperasi. Selain itu ternyata ia juga menderita penyakit TB kulit, sehingga diprogram pengobatannya untuk selama 6 bulan ke depan. Saat ini ia dirawat untuk menjalani operasi yang ketiga kalinya dengan bantuan fasilitas Jamkesmas, namun kesulitan untuk biaya transport dan bekal selama dirawat karena Kang Suparman selama ini harus menunggui anak tercintanya sehingga tidak bisa bekerja mencari nafkah. Setelah selesai menjalani rawat inap Dik Riska saat ini diharuskan menjalani rawat jalan, setiap 2 minggu sekali di RSUD Tasikmalya yang haraus ia tempuh dari rumahnya yang cukup jauh di daerah Cibalong, di wilayah selatan Kabupaten Tasikmalaya. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk transportasi dan biaya operasional Dik Riska dalam menjalani rawat jalan, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 508.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @luchakiem @AdeSRTasik
Tanggal : 28 Febuari 2014

Dik Riska didiagnosa menderita penyakit abses thorax dx

Dik Riska didiagnosa menderita penyakit abses thorax dx

———————————————————–

Dik NUR APIFAH (1.5 thn). Kp. Peuteuy Jaya RT 1/3 Desa Girimukti Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Ayah Dede Rusman (30), pendidikan SD, Pekerjaan buruh serabutan, jumlah tanggungan 2 orang , fasilitas kesehatan asalnya belum punya tetapi sekarang sudah dibantu untuk mendapatkan kartu BPJS. Ibu Dik Nur Apifah, Bu Didah (22) sehari-hari sebagai ibu rumah tangga biasa. Keluarga yang masih terbilang masih baru membina rumah tangga ini sudah mendapatkan cobaan yang mereka rasakan cukup berat, karena selain keadaan ekonomi yang sulit mereka juga mendapatkan kenyataan kalau anak mereka lahir dengan tanpa memiliki anus. Selain itu tempat tinggal mereka yang jauh di pelosok daerah selatan Kabupaten Tasikmalaya, jauh dari fasilitas kesehatan, menyulitkan upaya pengobatan anak tercintanya ini. Saat dilahirkan, Dik Apifah melalui operasi caesar, dan ternyata juga tak memiliki anus. Pada saat usianya baru beberapa minggu, Dik Apifah sudah pernah menjalani operasi colostomi di RSUD Tasikmalaya dengan biaya dibantu oleh kerabat dan masyarakat setempat. Sekarang ia harus menjalani operasi ulang untuk rekronstruksi saluran pembuangannya di RSHS Bandung sesuai rujukan dari RSUD Tasikmalaya, sementara keadaan ekonomi mereka masih terpuruk sehingga Pak Dede kebingungan memikirkan biayanya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu pengobatan Dik Apifah yang akan digunakan untuk biaya operasional dan pembuatan BPJS dan untuk biaya transport ke RSHS Bandung. Setelah Dik Apifah tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung dan rangkaian pemeriksaan untuk persiapan operasinya di RSHS selesai, ia pun kembali ke kampung halamannya di daerah Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Jadwal operasi Dik Nur Apifah Enam bulan lagi di RSHS Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk biaya transportasi Dik Nur Apifah, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 517.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini @ddsyaefudin @luchakiem @abahlutung
Tanggal : 1 Maret 2014

Saat dilahirkan, Dik Apifah melalui operasi caesar, dan ternyata juga tak memiliki anus

Saat dilahirkan, Dik Apifah melalui operasi caesar, dan ternyata juga tak memiliki anus

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 22,259,710,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM 523 ROMBONGAN

Rp. 16,576,241,336,-