KAMIRAH, 49 tahun. Alamat: Jl.Paus, RT.1/1, Desa Gelora, Bagan Sinembah, Rokan Hilir. Setahun lalu ibu paruh baya ini sering mengalami rasa nyeri pada bagian pinggul dan sering mengalami pendarahan ringan, Untuk itu Istri dari pak Samijo (52) ini memeriksakan ke Puskesmas di daerahnya terdekat secara rutin selama tiga bulan. Namun kondisi bu Kamirah malah makin memburuk, sehingga dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, Riau. Selama kurang lebih enam bulan bu Kamirah menjalani rawat jalan di poli kebidanan RSUD Arifin Achmad dan diketahui dari hasil biopsi bahwa bu Kamirah menderita Ca Cerviks stadium 2B. Setelah RSUD Arifin Achmad merujuk ke RSCM Jakarta maka pada 27 Desember 2013, Ibu Kamirah mulai menjalani pemeriksaan di poli kebidanan RSCM. Hingga akhirnya ibu Kamirah harus menjalani Radioteraphy selama 25 kali penyinaran (sinar luar) dan 3 kali sinar dalam, juga dilakukan 5 kali kemoteraphy yang memakan waktu kurang lebih selama dua bulan sepuluh hari. Setelah semua proses pengobatannya di RSCM dinyatakan selesai oleh pihak dokter, kini ibu Kamirah diperbolehkan pulang dan kontrolnya dikembalikan ke RSUD Arifin Achmad Riau. #SedekahRombongan menyampaikan bantuan untuk transport mereka bertiga dengan anaknya untuk kembali ke kampung halamannya, Semoga sembuh seterusnya.

Jumlah bantuan : Rp. 2.000.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @harji_anis
Tanggal : 10 Februari 2014

bu Kamirah menderita Ca Cerviks stadium 2B

bu Kamirah menderita Ca Cerviks stadium 2B



———————————————————–

Dik HAURA SYUHAROTUL DALFA (2,5), gadis kecil mungil yang beralamat di Kampung Cimacan RT 6/1, Desa Cintaraja, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya ini selalu mengenakan jilbab, lucu dan menggemaskan. Siapa nyana Haura, demikian dia biasa dipanggil, semenjak lahir menderita penyakit Hemangomia, Tumor pada pembuluh darah di bagian leher sebelah kanannya. Sejalan dengan pertambahan usia, tumor yang awalnya hanya seperti bercak kecil, yang dianggap orang tuanya hanya tanda lahir, lama kelamaan tambah membesar. Orang tua Haura, Undang Gunawan, 36 tahun, Guru honorer Madrasah dan ibunya Noneng Rustini, 24 tahun, sebenarnya ingin sekali mengobatinya. Namun ketiadaan biaya menghalangi niat mereka, untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka cukup sulit. Meskipun memiliki fasilitas Jamkesmas, tetap saja perlu biaya untuk ongkos-ongkos dan bekal selama Haura mendapatkan pengobatan dan saat ini harus kontrol 2 minggu sekali ke RSHS yang harus ia tempuh dari rumahnya di Kabupaten Tasikmalaya. Jadwal operasi dari RSHS Bandung sudah didapat yaitu sekitar 1,5 bulan mendatang. Pemeriksaan Dik Haura memang tergolong panjang karena Tim Dokter harus ekstra hati-hati mengingat posisi tumornya sangat dekat dengan kelenjar ludah, sehingga dikhawatirkan akan terganggu. Selain itu juga ternyata dari hasil pemeriksaan dokter kemudian diketahui bahwa Dik Haura juga menderita kelainan di paru-parunya sehingga sekarang tim dokter RSHS sedang berusaha untuk mengobati paru-parunya terlebih dahulu sebelum Hemangiomanya dioperasi. Saat ini Dik Haura sedang menjalani pengobatan rawat jalan dan check up rutin 2 minggu sekali ke RSHS. “Mudah-mudahan kontrol ke RSHS ini adalah untuk yang terakhir dalam penanganan masalah paru-paru Dik Haura, agar selanjutnya pengobatan fokus ke operasi Hemangioma-nya” ujar Bu Noneng, ibunya Dik Haura. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan kepada Dik Haura untuk biaya operasional dan transportasi ke RSHS, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 504.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem
Tanggal : 11 Februari 2014

Adik Haura menderita penyakit Hemangomia, Tumor pada pembuluh darah di bagian leher sebelah kanannya

Adik Haura menderita penyakit Hemangomia, Tumor pada pembuluh darah di bagian leher sebelah kanannya

———————————————————–

Dik MUHAMMAD DILLAH MAULANA (4), Kampung Sukasari Girang RT 2/6 Desa Mekarjaya Kecamatan Padakembang Kab Tasik, Ayah Kohar (45), pekerjaan berjualan sendal keliling, Ibu Yani (39) Ibu rumah tangga, tanggungan 3 orang anak. Dik Dillah sudah menderita penyakit Tumor di Kelopak matanya (susp. Rhabdomyosarcoma) sejak ia masih berusia 1 tahun, bermula dari benjolan kecil. Pada saat usianya 1,5 tahun ia pernah diperiksa di RSUD Tasikmalaya dan dirujuk ke RSHS, namun keluarga belum bisa membawanya ke RSHS krn ketiadaan biaya. Mereka berupaya untuk mengobati Dik Dillah dengan pengobatan alternatif, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. Karena mereka tidak mendapatkan fasiitas Jamkesmas, akhirnya mereka mengupayakan untuk mendapatkan fasilitas jaminan kesehatan dari pemerintah daerah Kabupaten Tasikmalaya. Alhamdulillah akhirnya Dik Dillah mendapatkan fasilitas Jamkesda. Saat ini benjolannya semakin membesar dan keluarga Dik Dillah berniat untuk mengobati penyakitnya sampai ia sembuh, namun mereka kesulitan untuk biaya sehari-hari dan transportasinya. Dik Dillah sempat dirawat di RSUD Tasikmalaya selama 2 hari, kemudian dirujuk ke RS Mata Cicendo Bandung. Di sana ia menjalani pemeriksaan selama sehari penuh, dan akhirnya kembali dirujuk ke RSHS Bandung. Saat ini Dik Dillah sedang menjalani serangkaian pemeriksaan di RSHS, terakhir akan dilakukan pemeriksaan di Bagian Kedokteran Nuklir, karena diduga ada kelainan di bagian tulang sekitar kelopak mata Dik Dillah. Untuk sementara tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga Dik Dillah yang dipergunakan untuk pembelian obat sebelum melakukan pemeriksaan di Bagian Kedokteran Nuklir RSHS, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 513.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem via @abahlutung
Tanggal : 11 Februari 2014.

Dik Dillah sudah menderita penyakit Tumor di Kelopak matanya (susp. Rhabdomyosarcoma)

Dik Dillah sudah menderita penyakit Tumor di Kelopak matanya (susp. Rhabdomyosarcoma)

———————————————————–

MAMAT RAHMAT (76), Kp. Cieunteung Sukarame RT 4/7 Kelurahan Argasari Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Tinggal di rumah sempit yang dihuni oleh 10 orang, Pak Mamat sejak setahun yang lalu menderita penyakit berupa benjolan di bagian punggungnya. Sudah beberapa kali ia memeriksakan penyakitnya mulai dari Puskesmas sampai ke RSUD, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh, malahan semakin hari benjolannya semakin membesar. Terakhir ia memeriksakan penyakitnya di RSUD Tasikmalaya adalah bulan Agustus tahun 2013, ia didiagnosa menderita Myoxid Liposarcoma (sejenis tumor ganas atau kanker pada jaringan lemak) dan dirujuk untuk melanjutkan pengobatannya ke RSHS Bandung, namun karena tidak ada biaya keluarga tidak sanggup melanjutkan pengobatannya, meskipun Pak Mamat memiliki fasilitas Jamkesmas. Praktis sejak saat itu pengobatannya terhenti. Kondisi ini membuat penyakit Pak Mamat semakin parah, benjolannya semakin membesar, sementara Pak Mamat hanya pasrah menerima rasa sakit setiap harinya, para tetangga sering mendengar erangan kesakitan dari rumah kecil dan sempit itu. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban Pak Mamat yang dipergunakan untuk biaya transportasi dan pengurusan surat-surat sebelum melanjutkan pengobatan ke RSHS Bandung.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem
Tanggal : 11 Februari 2014.

Pak Mamat sejak setahun yang lalu menderita penyakit berupa benjolan di bagian punggungnya

Pak Mamat sejak setahun yang lalu menderita penyakit berupa benjolan di bagian punggungnya

———————————————————–

NABILA SYAWAL, usia 8 tahun. Bersama kedua orangtua dan ketiga saudara kandungnya, ia tinggal di Gang Pahlawan RT.4/18, Desa Muka, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur. Ayahnya Nanang, 38 tahun, sehari-hari berjualan Cilok. Ibunya, Ai Nurohmah, 35 tahun, tak ada kerjaaan lain selain melayani urusan rumah rangga. Empat anak yang menjadi tanggunan sudah cukup merepotkannya, Terbayang betapa repotnya mereka menjalani hidup dalam ketakberdayaan ekonomi. Mereka kian terhempas dalam kubangan kemiskinan saat salah seorang anaknya diduga terserang kanker yang tak pernah mereka bayangkan: Retinoblastoma. Cerita pilu berawal sembilan bulan yang yang lalu. Mata anak pendiam ini sering memerah dan pada bagian retinanya ada titik putih, matanya juga terus membengkak. Orangtua Nabila mengira itu hanya penyakit mata biasa, Mereka tak berani memeriksakannya ke rumah sakit. Pertimbangan ekonomi menjadi alasan utama, selain ketidaktahuan mereka memanfaatkan Jaminan Kesehatan (JAMKESMAS) yang sudah mereka miliki. Pertolongan Allah datang melalui seorang tetangganya yang peduli. Dengan bantuannya, kedua orangtua Nabila akhirnya membawa anak manis ini ke RSUD setempat. Karena memang bukan penyakit mata biasa, pengobatannya langsung dirujuk ke RS Mata Cicendo Bandung. Saat menjalani proses penanganan di RSM Cicendo yang memakan waktu cukup lama, mata Nabila terus membesar dan akhirnya pecah. Berdasarkan hasil diagnosa RSM Cicendo, ia positif mengidap retinoblastoma yang perawatan dan pengobatannya akan dilakukan di kedua rumah sakit: RSHS dan RSM Cicendo. Untuk tahapan pengobatannya, ia harus dikemoterapi, sebelum akhirnya mendapat tindakan operasi. Keluarga dhu’afa ini cukup lama menderita, Mereka adalah saudara kita yang ditimpa kemiskinan dan penyakit yang amat berat. Bahkan untuk pengobatannya ada obat kemoterapi yang harus dibeli, yaitu VINCRISTINE & Mesna (Dalam regulasi BPJS, untuk pasien Kelas 3 tidak mendapatkan jaminan obat tersebut). Saat ini pasien dirawat di Kamar 5 Ruang Hemato Onko RSHS Bandung. Gayung bersambut! Alhamdulillah, dengan sigap, #SedekahRombongan menyampaikan bantuan awal untuk keperluan Nabila berobat terutama membeli obat kemoterapi.

Jumlah bantuan : Rp. 1.000.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @abahlutung
Tanggal : 8 Februari 2014.

Adik Nabila menderita Retinoblastoma

Adik Nabila menderita Retinoblastoma

———————————————————–

DEDI, 20 tahun, Alamat: Kp. Cibulus, RT.12/3, Karang Patri, Pabayuran, Bekasi. Ayah: Makar, 50 tahun dan Ibu: Rohayati, 40 tahun. Dedi, Pemuda yang saat ini tidak bekerja dirawat di RSCM atas rujukan dari RSUD Bekasi, Ia mengidap penyakit Anemia Plastik Melena/Pendarahan. Kesulitan kedua orangtuanya dapat dibayangkan karna pak Makar juga kondisinya sedang menganggur, kehidupan mereka cukup sulit saat ini. Alhamdulillah, berbekal Jamkesmas mereka dapat merawat Dedi di Rumah Sakit, walau biaya harian dan transportasi selama di Rumah Sakit menjadi beban tambahan saat ini. #SedekahRombongan kembali manyampaikan bantuan lanjutan untuk keperluan transport setelah sebelumnya masuk di Rombongan 502. Dedi perkembangan kesehatannya sudah dinyatakan baik dan hanya perlu mengikuti jadwal pengontrolan lagi minggu ini sebanyak 3 kali.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-.
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @harji_anis
Tanggal: 10 Februari 2014.

Sdr. Dedi mengidap penyakit Anemia Plastik Melena/Pendarahan

Sdr. Dedi mengidap penyakit Anemia Plastik Melena/Pendarahan

———————————————————–

REZI PUTRA PRATISTA, Usia 10 Tahun. Pelajar kelas IV ini tinggal bersama orangtuanya di Kampung Kaum Kidul Barat RT.1/13, Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Ayahnya Deden Supriatna (54), profesi sehari-harinya hanyalah seorang buruh tani yang kadang-kadang ikut juga bekerja di pengepul sayuran. Ibunya, Lia Nurliah (44) setia menjalani takdirnya sebagai ibu rumah tangga. Tanggungan keluarga dhu’afa ini 3 anak. Bagi Mang Uded, begitu panggilan bapaknya Rezi, cukup berat menghidupi keluarganya, apalagi anak terkecilnya diuji dengan penyakit di masa belajarnya: Hernia dan bengkok/patah tulang lengan. “Sejak enam bulan lalu, Rezi sering menahan sakit di selangkangannya. Terutama bila ia kecapaian habis bermain atau olahraga. Kata dokter Puskesmas Rezi mengidap Hernia. Ia Juga pernah jatuh dan tangannya tidak bisa menulis. Karena tak punya jaminan kesehatan kami belum membawanya ke rumah sakit tapi pernah ke tukang urut” cerita bapaknya. Kedua orangtua Rezi memang belum pernah membawanya untuk diperiksa dan diobati secara intensif di rumah sakit, Ia pernah dua kali ditangani Puskesmas Ciwidey dan akhirnya dirujuk ke RSUD Soreang. Seperti kata orang, “sudah jatuh tertimpa tangga”. Dua bulan lalu Rezi jatuh sepulang dari pengajian dan tangannya bengkok. Selama ini penanganan tangannya hanya dikonsultasikan dan diobati beberapa ahli terapi tulang. Alhamdulillah #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk tansportasi dan operasional setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 506.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 12 Februari 2014.

Adik Rezi menderita Hernia dan bengkok/patah tulang lengan

Adik Rezi menderita Hernia dan bengkok/patah tulang lengan

———————————————————–

MULYADI, 27 tahun. Profesinya hanya tukang ojeg, Siang malam ia berjuang untuk melawan kerasnya kehidupan jalanan – terpaan angin bahkan dinginnya malam yang menusuk persendian ia lalui untuk mangantar-jemput pelanggannya. Sejak menikah sampai kini dititipi satu anak perempuan, Istriya, Lastri Sulastri, (20) sehari-hari hanya menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Sampai saat ini juga ia hanya tinggal berdesakan di rumahnya yang amat sederhana di Kampung Sinumbra RT.1/4, Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Hari itu, 28 Desember 2013 adalah hari yang takkan pernah dilupakan keluarga miskin ini. Pada hari itu, MULYADI mengalami kecelakaan berat. Sepulang mengantarkan penumpang, ia terjerembab ke dasar jurang. Selain mengalami patah kaki, selama lima hari ia tak sadarkan diri. Berbekal Jamkesmas dibawa langsung ke IGD RSUD Soreang dan akhirnya dirujuk ke RSHS Bandung. Di rumah sakit yang disebut terakhir ini, ia juga sempat koma dua hari dan dinyatakan dalam keadaan kritis. Pada tanggal 5 Januari ia mulai sadar dan esoknya ia diperbolehkan pulang. Untuk jangka waktu yang tak sebentar dia harus menjalani pengobatan berkelanjutan. Alhamdulillah, kaki kanan pasien asal Kabupaten Bandung ini sudah pulih kembali, Minggu besok ia akan ke RSHS Bandunguntuk menjalani tahapan operasi lanjutan: Menutup seperempat batok kepalanya yang “mdekok ke dalam”. Ingatannya baru pulih 50 persen, Bantuan lanjutanpun disampaikan setelah sebelumnya masuk di Rombongan 504.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 13 Februari 2014.

Bapak MULYADI mengalami kecelakaan berat

Bapak MULYADI mengalami kecelakaan berat

———————————————————–

RANGGA SAPUTRA, 14 bulan. Bersama orangtua dan saudara kandungnya, ia tinggal, numpang di rumah uwanya di Kampung Saninten RT.4/2, Desa Margamulya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Ayahnya, Dadan (30) sampai saat ini belum mampu membuatkan anak istrinya rumah. Ayahnya hanya buruh tani yang kerap menggarap lahan berpindah-pindah, Ibunya, Yati (23) sehari-hari disibukkan dengan mengurusi anak-anaknya. Tanggungan 2 anak sudah cukup berat mereka rasakan. Keluarga dhu’afa ini semakin terpuruk dalam kubangan kemiskinan ketika si bungsu, Rangga Saputra diduga kuat menderita hernia. Gejalanya muncul beberapa bulan yang lalu. Setiap beraktivitas dan kecapaian anak ini kerap memegang “alat vital”nya sambil meregang kesakitan, Bahkan jika ia menangis kerap terjadi pembengkakan. Dua kali ia diperiksakan di Puskesmas Pasirjambu, tetapi ia belum pernah diperiksakan ke rumah sakit. “Tak berani kami membawanya ke rumah sakit., Kami tidak akan mampu dan tidak punya jaminan apa-apa. KTP dan KK pun belum punya,” kata ibunya. Keluarga ini sangat miskin, bahkan tempat tinggal pun ikut di rumah uwaknya. Bapaknya sering nganggur karna tak ada yg mempekerjakan. Mereka juga tak punya Jaminan Kesehatan. #SedekahRombongan ikut merasakan derita mereka, Bantuanpun disampaikan untuk keperluan memulai berobat.

Jumlah bantuan: Rp.500.000,-
Kurir: @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 13 Februari 2014.

Rangga Saputra diduga kuat menderita hernia

Rangga Saputra diduga kuat menderita hernia

———————————————————–

REHAN HABIBULLOH, usianya 6 bulan. Dia buah cinta yang kedua hasil pernikahan Alit Mail (32) dan Kayah (32). Sayang, bayi suci ini belum bisa menikmati indahnya masa buaian. Sejak lahir, ia membawa kelainan. Rumah sempit mereka menjadi saksi betapa keluarga dhu’afa ini menderita dalam kemiskinan dan kesakitan. Mereka tinggal di Kampung Cisaat RT.1/7, Desa Nengkelan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Ayahnya hanya buruh tani yang sekali-kali mengerjakan pesanan menjahit dari konveksi. Istrinya, ikut membantu mengerjakan pesanan sambil mengurusi rumah tangga dan dua anak lainnya tanggungan mereka. Penghasilan mereka tentu takkan mampu mengeluarkan mereka dari kemiskinan, apalagi salah satu anaknya ditimpa penyakit cukup berat: Hydrocepalus. Jaminan kesehatan yang mereka miliki, Gakinda Kabupaten Bandung, tentu takkan cukup membiayai pengobatan penyakit anaknya. Rehan terlahir tak sempurna: kepala besar dan terus membesar. Tak terhitung berapa kali ia diperiksakan ke Puskesmas, dokter praktek, RSUD Soreang dan RSHS Bandung. Meski diduga kuat ia mengidap hydrocepalus, ia belum pernah menjalani operasi pemasangan selang ataupun yang berkaitan dengan penanganan penyakitnya pada umumnya. Keluarganya hampir putus asa, Anaknya kini hanya terbaring di rumah. Mereka sangat layak dibantu, Selain termasuk miskin – penyakit anaknya sangat membahayakan dan jaminan kesehatan yang mereka miliki sangat kecil plafonnya. #SedekahRombongan ikut merasakan derita mereka, Santunan disampaikan untuk Rehan agar segera berobat ke Rumah Sakit.

Jumlah bantuan: Rp.1.000.000,-
Kurir: @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 11 Februari 2014.

Adik Rehan mengidap hydrocepalus

Adik Rehan mengidap hydrocepalus

———————————————————–

ILHAM NURYASIN, 8 tahun. Pelajar SD kelas 2 ini tinggal di Kampung Giri Mukti RT.1/2, Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Tempat tinggalnya bersama kedua orang tua dan satu adiknya cukup jauh dari pusat kota Bandung, berada di daerah perkebunan teh yang udaranya sejuk, dingin. Ayahnya: Sutia (43) adalah buruh harian perkebunan teh PTPN VIII dan Ibunya Imas (27) pernah juga bekerja di tempat yang sama dangan suaminya, namun 3 balan ini ia lebih fokus mengurus rumah tangga serta kedua anaknya yg masih kecil dan perlu perhatian khusus, apalagi untuk Ilham, anak pertamanya yang saat ini sedang meregang kesakitan akibat retinoblastoma kambuh. Padahal, dua tahun lalu ia dinyatakan sembuh dari penyakit berbahaya ini setelah berbulan-bulan dikemo dan dioperasi dengan biaya dari rereongan warga istilah gotong royong dalam bahasa sunda dan bantuan perusahaan orangtuanya. Keluarga miskin ini hampir tak bisa menerima takdir ini, Pak Sutia hampir saja mempertanyakan keadilan Tuhan; “Asa teungteuingeun Gusti ka Abdi?. Itu kata yang sempat terlontar saat Kurir #SedekahRombongan berkunjung ke rumahnya, yg lebih tepat disebut “saung” (warga menyebutnya “bedeng”, kompleks rumah sangat sederhana tuk para pekerja perkebunan). Kita bisa merasakan beban kemiskinannya yang semakin berat karna pihak perusahaan sudah menghentikan bantuannya, begitu juga donasi sekali-sekali dari warga tak mesti diharapkan. Saat disampaikan bantuan dari #SR, Ia tersyungkur bersujud sambil mendoakan para sedekaholik dan para kurir semua: “Teu sangka. Gusti masihan ieu rizki, Abdi tiasa lalandong deui.”. Bantuan lanjutanpun disampaikan untuk kesekian kalinya demi keperluan membeli obat kemoterapi setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 498., Ilham masih menjalani jadwal lanjutan untuk Kemoterapi.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 14 Februari 2014

Adik Ilham menderita retinoblastoma

Adik Ilham menderita retinoblastoma

———————————————————–

NOVAN MANDALA, 4 tahun, Alamat: Perum Permata Serang Baru, RT.9/9, Sukasari, Bekasi. Novan anak yang ceria, sudah diberi cobaan oleh Tuhan, dia terkena Retino Blastoma yang merusak 1 matanya. Sudah berbulan-bulan berobat ke RSHS Bandung menggunakan fasilitas SKTM. Ayah: Romadon, 28 tahun, Pekerjaan Buruh Pabrik dan Ibu: Evalina, 32 tahun, Kedua orangtuanya begitu sabar mendampingi anaknya berobat walau begitu beban yang dipikul mereka sudah terasa berat. Kehidupan mereka sudah pas-pasan dan kebutuhan operasional sangat mereka butuhkan untuk melanjutkan pengobatan Novan. Alhamdulillah, #SedekahRombongan turut merasakan penderitaan mereka dengan menyampaikan bantuan lanjutan untuk keperluan Novan membeli obat kemoterapi setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 436.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-,
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @abahlutung
Tanggal: 14 Februari 2014.

Adik Novan menderita retinoblastoma

Adik Novan menderita retinoblastoma

———————————————————–

MARSIAH, (16 tahun). Setelah lulus SLTP, Marsiah tidak meneruskan sekolah dan saat ini belum bekerja. Wanita muda yang beralamat di Kp. Kendayakan 02/02, Desa Sukakersa, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi ini sampai saat ini masih menderita Sakit Kanker pada telinga, yang di deritanya sejak balita, dengan bermodalkan Jamkesmas. Marsiah pernah berobat ke RSCM ketika usia kelas 4 Sekolah Dasar, rutin berobat tiap minggu selama 2 bulan tapi karena ketiadaan dana akhirnya berhenti berobat. Saat ini setiap satu bulan sekali telinganya membengkak berwarna merah kemudian pecah, bahkan bisa sampai pingsan karena banyaknya darah yang keluar. Upaya yang dilakukan keluarga hanya pengobatan lewat mantri utk mengurangi sakit kankernya. Sang Bapak, Nasen, 35 tahun, hanya Petani buruh yang jangankan membawa buah hatinya, Marsiah berobat ke Rumah sakit besar, sementara untuk membiayai tanggungan yang berjumlah 3 orang sudah kerepotan. Sedangkan Ibunda,sudah meninggal dunia. #Sedekahrombongan kembali menyampaikan bantuan setelah sebelumnya masuk di Rombongan 500, Bantuan ini dipergunakan untuk melanjutkan kontrol berobat ke RSUD Cibitung, Bekasi.

Jumlah bantuan : Rp.500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @romli_iyom
Tanggal : 13 Februari 2014.

Adik Marsiah menderita Sakit Kanker pada telinga

Adik Marsiah menderita Sakit Kanker pada telinga

———————————————————–

RUDY, 13 tahun, Kelas 1 SMP di Kp. Kalibaru RT.11/3, Cilangkahan, Malingping, Banten. Anak dari bapak Harun/32 tahun seorang Buruh Tani ini sudah menderita Tumor Maksila setahun lalu. Berawal dari luka kecil yang digaruk saat bermain dan tak kunjung sembuh malah melebar menutupi hampir sebagian mukannya. Pada pertengahan Agustus 2012 #SedekahRombongan bertemu Rudi saat sedang berobat di RSCM Jakarta dalam kondisi terlantar tidak ada tempat tinggal – Rudy sampai saat ini masih rutin berobat kemoterapi 9X lagi menggunakan fasilitas JAMKESDA dan tinggal di kontrakan sekitar RSCM. Rudy sudah lebih setengah tahun menghentikan perobatannya karna saat itu dirasa sudah baik dan bias melanjutkan sekolahnya, namun kini ia harus kembali berobat ke RSCM karna saat diperiksa terakhir ia harus melakukan pengecekan ke RSCM kembali, #SR memberi bantuan lanjutan untuk biaya menebus obat yang tidak tercover Jamkesda setelah sebelumnya masuk pada Rombongan 498.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @endangnumik
Tanggal : 14 Februari 2014

adik Rudy menderita Tumor Maksila

adik Rudy menderita Tumor Maksila

———————————————————–

RENDRA MITRA (7,5), Alamat: Jln. Budi Mulya RT.11/4, Pademangan, Jakarta Utara. Mengidap leukimia sejak tiga bulan lalu, Rendra sudah tidak tahan lagi dengan deritanya dan dengan bekal seadanya mencoba untuk berobat ke RSCM dengan memanfaatkan fasilitas KJS. Ayahnya Nana (29) sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek motor, dan ibunya Ita (26) ibu rumah tangga, terpaksa meninggalkan pekerjaanya sementara menunggui buah hatinya berobat di RSCM. Keluarga dengan jumlah tanggungan tiga orang anak ini merasa keberatan untuk biaya transportasi bolak-balik berobat ke RSCM, mengingat untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk Rendra untuk keperluan obat yang tak terbeli setelah santunan sebelumnya masuk di Rombongan 475, Saat ini Rendra kondisinya sedang lemah dan sekali yang mebuat panik kedua orangtuanya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @harji_anis
Tanggal : 15 Februari 201

Adik Rendra Mengidap leukimia

Adik Rendra Mengidap leukimia

———————————————————–

INTAN KURNIA, balita 10 bulan, penderita Tumor anti Ganas yang berada di atas bokong. Beralamat di Kp. Pulogelatik RT.04/01, Desa Sindangsari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi. Balita kurang beruntung ini lahir dari pasangan Kusaini bin Namin (25) dan Ita Rahayu (18). Lahir dengan posisi bokong terlebih dahulu yang awalnya diperkirakan cesar, tapi Alhamdulillah bisa lahir normal. Kebahagiaan keluarga muda yang bermata pencaharian suami seorang sopir Elf tembak jurusan Cikarang-Muaragembong dan ibunda seorang ibu rumah tangga, tidak berlangsung lama, karena seiring berjalannya waktu ada kelainan pada atas bokong sang bayi yang semakin membesar. Hasil diagnosa RSUD Cibitung Kabupaten Bekasi, ternyata sang balita menderita Tumor anti ganas. Ikhtiar keluarga saat usia Intan 4 bulan sampai ke RSHS Bandung. Hanya saja karena terhalang dana dan proses yang memakan waktu harus bulak balik ke Bandung, keluarga hanya bisa pasrah dan berhenti berobat. Hingga #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga ini, Santunan lanjutan kembali disampaikan untuk keperluan operasional berobat Intan yang sudah mendapat rujukan dan akan ditangani RSCM Jakarta setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 493.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @Romli_Iyom
Tanggal : 14 Februari 2014.

Adik Intan menderita Tumor anti Ganas

Adik Intan menderita Tumor anti Ganas

———————————————————–

Dik SUWARTINI (7 thn), tinggal di sebuah rumah yang lebih tepat disebut gubuk yang beralamat di Kp. Gunung Kasur RT 2/7 Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Anak dari Bp Iing (46) Pekerjaan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kuli tani ini menderita penyakit hydrocephalus. Ibunya, Bu Iam (39) hanya bisa menangis ketika dikunjungi Tim #SedekahRombongan. Ia hampir putus asa karena keinginannya untuk mengobati puteri kesayangannya tidak sejalan dengan kemampuan ekonomi keluarganya yang sulit. Walaupun ia memiliki fasilitas Jamkesmas namun tetap saja ia kesulitan untuk biaya operasional pengobatan seperti biaya transportasi dan bekal sehari-hari selama anaknya dirawat. Dik Suwartini pernah dirawat di RSHS Bandung, namun pengobatannya terhenti di tengah jalan karena kehabisan bekal dan biaya transportasi yang dirasakan sangat memberatkan. Sekarang semangat Bu Iam untuk melanjutkan pengobatan anaknya ke RSHS Bandung muncul kembali setelah bertemu dengan Tim #SR. #SedekahRombongan telah menyampaikan santunan untuk membantu keluarga Dik Suwartini yang akan digunakan untuk biaya operasional dan pengurusan surat-surat persiapan kelanjutan pengobatannya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem via @AdeSRTasik
Tanggal : 15 Februari 2014

Adik Suwartini menderita penyakit hydrocephalus

Adik Suwartini menderita penyakit hydrocephalus

———————————————————–

YUSUF ISKANDAR (36), Kp. Legok RT 3 /14, Desa Cikunir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Istri Bu Kartika Andriasih (29), ibu rumah tangga, tanggungan 4 orang anak. Musibah dapat datang kapan saja dan dimana saja. Demikian pula yang dialami oleh Pak Yusuf. Ia menderita kerusakan pada saraf retina akibat kecelakaan kerja sehingga sekarang ia tidak bisa melihat lagi, kurang lebih sudah 3 tahun. Tadinya perusahaan tempat ia bekerja membantu pengobatannya, namun hanya bantuan alakadarnya karena ia hanyalah karyawan rendahan di perusahaan kecil sebagai tukang bubut. Akhirnya perusahaan tempat ia bekerja tidak bisa lagi membantu pengobatannya sehingga praktis upaya pengobatan Pak Yusuf terhenti karena ia pun sekarang tidak bisa lagi bekerja dengan kondisi mata yang tidak dapat melihat lagi. Fasilitas kesehatan pun Pak Yusuf belum punya, sekarang sedang diupayakan untuk pembuatan kartu BPJS-JKN dibantu oleh #SedekahRombongan, agar Pak Yusuf bisa melanjutkan pengobatannya.#SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu pengobatan Pak Yusuf yang akan digunakan untuk biaya operasional dan pengurusan fasilitas jaminan kesehatan pemerintah untuk persiapan melanjutkan pengobatannya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem via @AdeSRTasik
Tanggal : 15 Februari 2014

Bapak Yusuf menderita kerusakan pada saraf retina

Bapak Yusuf menderita kerusakan pada saraf retina

———————————————————–

ISE SUHARNA (30), Kp.Cibeas RT 1/1 Desa Cintaraja Kec. Singaparna. Bu Ise sehari-hari bekerja sebagai karyawan di sebuah salon kecil, dengan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi selain memiliki 2 orang anak yang menjadi tanggungannya karena suaminya sudah meninggalkan Bu Ise dan anak-anaknya sejak 2 tahun yang lalu , ia juga harus menanggung biaya hidup kedua orang tua yang tinggal bersama Bu Ise di rumah kontrakannya. Menurut hasil pemeriksaan Dokter, Bu Ise menderita Abses Mandibula yang menyebabkan pembengkakan di bagian dagu dan lehernya. Selama ini ia baru berobat ke dokter umum yang kemudian merujuknya ke RSUD Tasikmalaya, namun Bu Ise belum melanjutkan pengobatannya karena ketiadaan biaya. #SedekahRombongan memahami kesulitan Bu Ise dan menyampaikan satunan untuk meringankan beban pengobatannya dengan membantu pembuatan kartu BPJS dan biaya transportasinya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem via @AdeSRTasik
Tanggal : 15 Februari 2014

Bu Ise menderita Abses Mandibula yang menyebabkan pembengkakan di bagian dagu dan lehernya

Bu Ise menderita Abses Mandibula yang menyebabkan pembengkakan di bagian dagu dan lehernya

———————————————————–

Dik NUR APIFAH (1.5 thn). Kp. Peuteuy Jaya RT 1/3 Desa Girimukti Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Ayah Dede Rusman (30), pendidikan SD, Pekerjaan buruh serabutan, jumlah tanggungan 2 orang , fasilitas kesehatan asalnya belum punya tetapi sekarang sudah dibantu untuk mendapatkan kartu BPJS. Ibu Dik Nur Apifah, Bu Didah (22) sehari-hari sebagai ibu rumah tangga biasa. Keluarga yang masih terbilang masih baru membina rumah tangga ini sudah mendapatkan cobaan yang mereka rasakan cukup berat, karena selain keadaan ekonomi yang sulit mereka juga mendapatkan kenyataan kalau anak mereka lahir dengan tanpa memiliki anus. Selain itu tempat tinggal mereka yang jauh di pelosok daerah selatan Kabupaten Tasikmalaya, jauh dari fasilitas kesehatan, menyulitkan upaya pengobatan anak tercintanya ini. Saat dilahirkan, Dik Apifah melalui operasi caesar, dan ternyata juga tak memiliki anus. Pada saat usianya baru beberapa minggu, Dik Apifah sudah pernah menjalani operasi colostomi di RSUD Tasikmalaya dengan biaya dibantu oleh kerabat dan masyarakat setempat. Sekarang ia harus menjalani operasi ulang untuk rekronstruksi saluran pembuangannya di RSHS Bandung sesuai rujukan dari RSUD Tasikmalaya, sementara keadaan ekonomi mereka masih terpuruk sehingga Pak Dede kebingungan memikirkan biayanya. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membantu pengobatan Dik Apifah yang akan digunakan untuk biaya operasional dan pembuatan BPJS dan untuk biaya transport ke RSHS Bandung. Saat ini Dik Apifah sudah berada di Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung dan menjalani serangkaian pemeriksaan untuk persiapan operasinya di RSHS.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem
Tanggal : 16 Februari 2014

Adik Nur lahir dengan tanpa memiliki anus

Adik Nur lahir dengan tanpa memiliki anus

———————————————————–

Dik ADE BAHTIAR (8), Kp. Sukasari Desa Rancapaku RT 3/8 Kecamatan Padakembang Kabupaten Tasikmalaya. Putra dari Pak Lili (44) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang jualan kupat tahu dan cimol (sejenis makanan kecil jajanan anak-anak) ini sekitar pukul 15.00 sore 5 hari yang lalu tiba-tiba tidak sadarkan diri dan suhu badannya panas sekali. Badannya kejang-kejang dan Dik Ade sperti yang kehilangan kesadarannya. Melihat kondisi yang mengkhawatirkan seperti itu Bu Yayah (42), ibunya, dengan bantuan para tetangganya segera membawa Dik Ade ke Dokter, karena Pak Lili saat itu sedang berkeliling menjajakan jualannya. Setelah diperiksa Dokter dan diberi obat, Dokter menyarankan agar Dik Ade segera dibawa ke RSUD apabila panas badannya tidak turun-turun. Besoknya suhu badan Dik Ade tidak juga kunjung turun, keluarga kebingungan karena tidak memiliki biaya untuk transportasi dan bekal jika harus dibawa ke RSUD Tasikmalaya, meskipun mereka memiliki JAMKESMAS. Menerima kabar tentang kesulitan keluarga Dik Ade Bahtiar, Kurir segera menemui keluarga miskin ini langsung ke rumahnya. Melihat keadaan rumah,dan informasi tentang keadaan keluarga ini yang didukung oleh Ketua RT setempat, serta kondisi Dik Ade Bahtiar yang terbaring lemah dengan panas badan tinggi dan tak sadarkan diri, atas ijin keluarga, Kurir SR segera membawanya ke IGD RSUD Tasikmalaya saat itu juga. Alhamdulillah setelah mendapatkan penanganan Tim Dokter dan menginap semalam di IGD, akhirnya kondisi Dik Ade Bahtiar yang didiagnosa menderita susp. Meningitis mulai membaik, dan akhirnya dirawat inap. Menurut Dokter, kalau saja Dik Ade Bahtiar terlambat ditangani mungkin akan berakibat fatal. Dik Ade Bahtiar ternyata juga didiagnosa menderita penyakit TB paru-paru, sehingga sekarang harus menjalani program pengobatan TB selama 6 bulan ke depan, sehingga ia harus bolak-balik ke RSUD Tasikmalaya setiap 2 minggu sekali. #SedekahRombongan mendampingi penuh proses perawatan Dik ADe Bahtiar dan kembali menyampaikan santunan untuk biaya transportasi serta pengobatannya setelah sebelumnya masuk di Rombongan 483.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @pitungmasakini via @ddsyaefudin via @luchakiem
Tanggal : 16 Februari 2014

Dik Ade Bahtiar didiagnosa menderita susp. Meningitis

Dik Ade Bahtiar didiagnosa menderita susp. Meningitis

———————————————————–

Masjid dan TPA Darussalam yang ada di dusun Kedungpoh Lor, Nglipar Gunung Kidul Yogyakarta, sejak dulu kondisinya memprihatinkan. Ada di daerah pegunungan yang susah air. Tandus gersang, belum ada donatur yang membantu langsung kesana, masyarakat yang mengumpulkan dana secara swadaya belum menghasilkan perabahan maksimal. Salah seorang takmir namanya pak Parmin seorang diffabel, tapi pantang mengemis, kerja keras luar biasa, bersama warga mengurusi masjid di sana. Semoga bantuan dari #SedekahRombongan bisa makin menguatkan niat mereka

Jumlah bantuan: 5.000.000,-
Tanggal penyerahan: 15 Februari 14
Kurir Penyampai: @Saptuari via @mailsukribo

Masjid dan TPA Darussalam yang ada di dusun Kedungpoh Lor, Nglipar Gunung Kidul Yogyakarta

Masjid dan TPA Darussalam yang ada di dusun Kedungpoh Lor, Nglipar Gunung Kidul Yogyakarta

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 18,000,000,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM 517 ROMBONGAN

Rp. 16,426,478,833,-