Ibu Sutarmi (42th) yg beralamat di Karangnongko, Ketandan, Klaten utara, Klaten, Jateng. Ibu yg kesehariannya sbg ibu rumah tangga ini mengidap tumor payudara sebelah kiri( sebesar kepalan tangan orang dewasa) Suaminya bekerja sbg buruh tani dan menghidupi 2org anak. Setelah priksa dokter, tumor di payudara Ibu sutarmi hrs segera diangkat. Ibu ini kebingungan dg apa hrs bayar bea rumah sakit nantinya. Jangankan utk bea RS utk bayar kontrakan n makan sehari hari aja kadang ada kadang tdk. Sementara ini aja dia menempati rumah tetangga yg lumayan cukup utk berteduh. Ibu sutarmi ini tdk punya jamkesmas/jamkesda utk bea berobat ke RS. Kebetulan team kurir #SR 2bln sebelum menemukan Sutarmi ini pernah mengadakan sunatan bareng bersama #SR.dari sinilah Ibu Sutarmi tau #SR dan meminta bantuan utk bisa berobat ke rumah sakit utk OPERASI pengangkatan tumor, Ibu Sutarmi sudah kita bawa ke RSKB diponegoro klaten utk jalani OPerasi.

Jumlah bantuan Rp. 1.000.000,-
Kurir: @dhe_mang Via Gandung
Tanggal: 30-10-2013

Ibu Sutarmi mengidap tumor payudara sebelah kiri( sebesar kepalan tangan orang dewasa)

Ibu Sutarmi mengidap tumor payudara sebelah kiri( sebesar kepalan tangan orang dewasa)



———————————————————–

Adik Ananda Ferdiana Putri (14 tahun) putri bpk Feri Ferdian (40 thn) dan ibu Kadinah (39 thn) mengalami sakit usus buntu. Kedua orang tuanya bercerai, ibunya bekerja di Semarang sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan ayahnya tidak pernah memberi nafkah, tidak ketahuan domisilinya. Adik Nanda diasuh oleh neneknya, mbah Watini (85 thn) yang dalam kondisi buta. Mereka hidup berdua dengan mengandalkan kiriman ibu Nanda yg tidak seberapa. Bantuan dari #Sedekaholic digunakan untuk biaya pengobatan Dik Nanda. Keluarga ini tinggal di Desa Durenan dukuh Waduk RT 1 RW 1 Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan

Jumlah bantuan Rp. 1.000.000,-
Kurir: @dhe_mang Via @ervinsurvive
Tanggal: 29-10-2013

Adik Ananda mengalami sakit usus buntu

Adik Ananda mengalami sakit usus buntu

———————————————————–

DHEA RAHAYU (1), Alamat: Jln. Galunggung RT 1/4, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawangsari, Kota Tasikmalaya. Dhea dan ibunya tinggal di rumah neneknya yang sudah terkena penyakit stroke sehingga tidak bisa berjalan. Sungguh malang nasib gadis kecil putri dari pasangan Bobby (27) seorang karyawan swasta dan Fitri (24) ini. Sejak lahir didiagnosa anamnesa BAB kostra di depan, fistula rectovaginalis, tidak punya anus. Berat badannya pun jauh dari bayi normal seusianya karena ia hanya bisa mengkonsumsi susu formula tanpa asupan tambahan. Dhea selalu kesakitan setiap BAB, karena kotoran keluar melalui lubang vaginanya. Bukan hanya itu saja, ia juga terlahir dengan bibir sumbing, beruntung dengan bantuan dari sebuah yayasan pada usia 5 bulan ia mendapakan fasilitas operasi bibir sumbing gratis. Namun penderitaan Dhea tidak selesai sampai di situ, ayahnya sejak 5 bulan yang lalu pergi meninggalkan rumah entah ke mana dan tidak pernah ada komunikasi lagi. Kurir #SR membantu melobby Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya untuk memberikan fasilitas Jamkeskinda yang tadinya hanya mendapatkan 75% menjadi full 100%. Dhea sudah mulai serangkaian pemeriksaan dan pengobatan di RSHS Bandung, alhamdulillah saat ini sudah mendapatkan jadwal operasi. Alhamdulillah, #SR telah memberangkatkan Dik Dhea ke Bandung untuk menjalani operasi pertama tanggal 10 September 2013. Tahap selanjutnya Dik Dhea akan menjalani operasi kedua yang dijadwalkan sekitar 2 bulan lagi, mudah-mudahan prosesnya dimudahlancarkan Allah SWT, amiiin. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan untuk membantu biaya pembelian obat dan biaya sehari-hari, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 442.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @luchakiem via @AdeSRTasik
Tanggal : 26 Oktober 2013.

Adik Dhea Sejak lahir didiagnosa anamnesa BAB kostra di depan, fistula rectovaginalis, tidak punya anus.

Adik Dhea Sejak lahir didiagnosa anamnesa BAB kostra di depan, fistula rectovaginalis, tidak punya anus.

———————————————————–

ESTI SETIAWATI (17), Kp. Karang Resik RT.2/1, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Sungguh malang nasib gadis cantik dengan segudang prestasi anak ke-4 dari 5 bersaudara pasangan Pak Adih (51), seorang karyawan pom bensin, dan Bu Rusliah (46) ini. Siswi salah satu SMA Negeri di Tasikmalaya ini selain selalu masuk rangking di kelasnya juga adalah seorang atlet pencak silat yang sejak masih bersekolah di SMP sudah sering menjuarai berbagai macam kejuaraan di tingkat Kota Tasikmalaya. Bahkan pada tahun 2013 ia menjadi Juara I kejuaraan pencak silat tingkat Provinsi Jawa Barat dan kejuaraan antar sekolah O2SN Tingkat Provinsi Jawa Barat, serta berhak untuk mewakili Provinsi Jawa Barat di tingkat nasional. Namun malang, sekitar 3 bulan yang lalu ia mengalami kecelakaan lalu lintas sepulangnya dari latihan, sepeda motor yang ia kendarai bersama temannya terserempet truk dan sempat diberikan pertolongan pertama di RS swasta , yang terdekat dari tempat kejadian.

Diagnosa Dokter mengatakan bahwa Dik Esti mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangannya, ia pun dirujuk ke RSHS Bandung. Keluarga Dik Esti kebingungan, karena dari informasi yang diterima, biaya perawatannya mungkin bisa mencapai puluhan juta rupiah. Akhirnya, karena khawatir dengan biaya yang jauh di luar kemampuan keluarga, dan tadinya diperkirakan hanya bagian kaki dan tangannya saja yang patah, mereka membawanya ke pengobatan patah tulang tradisional. Namun ternyata kemudian diketahui bahwa tulang belakang Dik Esti juga mengalami patah, sehingga mengakibatkan sebagia badannya dari bagian dada ke bawah tidak dapat digerakkan dan tidak dapat merasakan apa-apa. Setelah selama hampir 2 bulan dirawat dengan pengobatan tradisional, namun tidak menunjukkan kemajuan berarti dan juga karena kehabisan biaya, akhirnya Dik Esti dibawa pulang.

Ketiadaan biaya memaksa Dik Esti hanya dirawat seadanya di rumah, hampir 1 bulan lebih (3 bulan sejak kecelakaan) berlalu tidak ada perbaikan berarti bahkan malah muncul luka melepuh yang dalam menganga di bagian belakang badannya (pantat) yang kian hari kian membesar. Sungguh sangat tragis nasib pendekar silat yang biasanya garang di arena ini, sekarang ia hanya terbaring di tempat tidur, lemah tak berdaya… Alhamdulillah, Allah jualah yang mempertemukan Dik Esti dengan #SedekahRombongan, saat ini ia dalam dampingan penuh #SR yang langsung mengurus pengobatan Dik Esti. Ia dibawa ke RSUD Tasikmalaya untuk perawatan luka di bagian belakang badannya sebelum menjalani pengobatan yang lebih intensif patah tulang yang dideritanya. Setelah sektar 2 minggu dirawat di RSUD Tasikmalaya dengan menghabiskan biaya Rp 17.544.529, lukanya mulai membaik, dan Dik Esti pun diperbolehkan pulang. Selanjutnya untuk sementara ia dirawat di rumah untuk persiapan perawatan selanjutnya. Kembali #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk membeli obat-obatan dan perawatan lukanya, setelah sebelumnya masuk di Rombongan 455.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @luchakiem
Tanggal: 27 Oktober 2013

Dik Esti mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangannya

Dik Esti mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangannya

———————————————————–

SELA (2 thn), Kp. Rancabungur RT 2/1, Desa Sukalaksana, Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya. Dik Sela di usianya yang masih balita harus mengalami cobaan yang sungguh berat. Selain penyakit Atresia ani yang dideritanya sejak lahir, ia juga harus kehilangan ayahnya beberapa bulan yang lalu. Ibunya Meti Sukmawati (32) tergolong seorang ibu yang sabar dan tangguh. Sepeninggal suaminya, ia berusaha sekuat tenaga bekerja apa saja yang dapat ia lakukan demi memenuhi kebutuhan buah hatinya. Menjualkan barang atau pakaian punya orang lain, bantu-bantu tetangganya, apa saja yang bisa menghasilkan uang dengan jalan halal. Pengobatan anak tercintanya pun sudah ia lakukan sebatas kemampuan ekonominya, berbekal fasilitas jaminan Jamkeskinda Kota Tasikmalaya yang ia miliki. Ia sudah memeriksakan dan mencoba mengobatinya ke Puskesmas bahkan ke RSUD, namun seringkali pengobatan berhenti di jalan karena selain kendala biaya, juga karena Bu Meti harus disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk keluarga miskin ini dengan harapan pengobatan Dik Sela bisa dilakukan dengan lebih intensif lagi, dengan tindakan medis yang lebih serius demi kesembuhannya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @luchakiem via @AdeSRTasik
Tanggal : 27 Oktober 2013.

Adik Sela menderita penyakit Atresia ani

Adik Sela menderita penyakit Atresia ani

———————————————————–

M. FAREL AKMALULBILAL (4,5), Kp. Lembur Gunung RT 12/1 Desa Cpakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Putra dari Bapak Ahmad Sofyan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini didiagnosa menderita penyakit hernia. Di tengah-tengah ketidakberdayaan ekonomi keluarganya, Ibu Siti Nuraeni, ibunya Dik Farel hanya bisa mengurut dada melihat penderitaan anaknya, karena selain menderita hernia Dik Farel juga di usianya yang ke-4,5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan fisik. Tidak seperti layaknya anak seusia dia, Dik Farel sampai saat ini belum mampu berjalan dan berbicara. Bukannya mereka tidak mempunyai keinginan untuk mengobati putra tercinta satu-satunya ini, namun selalu terkendala dengan biaya. Selama ini mereka hanya mampu membawanya ke Puskesmas, itupun kalau mereka memiliki uang lebih dari penghasilan Pak Admad Sofyan yang tidak seberapa. #SedekahRombongan menyampaikan santunan untuk meringankan beban Keluarga Dik Farel agar dapat mengobatinya dengan lebih intensif ke rumah sakit. Ucapan terima kasih yang tak terhingga disampaikan oleh Pak Ahmad dan Bu Siti kepada para #Sedekaholic dan Kurir #SR disertai do’a yang mengalir deras.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir :@ddsyaefudin via @luchakiem via @KangAjatAcok
Tanggal : 28 Oktober 2013.

Adik Farel didiagnosa menderita penyakit hernia

Adik Farel didiagnosa menderita penyakit hernia

———————————————————–

ENDI KURNIADI (32), Kp. Cintarasa RT 4/1, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Endi belum berkeluarga, sudah tidak bisa bekerja karena penyakit yang dideritanya. Ia masih tinggal bersama ayahnya, Bapak Eeng (65) yang di usianya yang sudah menjelang senja masih saja kuat bekerja sebagai buruh tani demi menghidupi keluarganya. Endi menderita penyakit diabetes, kaki sebelah kanannya luka membusuk dari paha sampai ke pergelangan kaki. Badannya sudah kurus kering karena asupan makanan pun sudah susah masuk. Awalnya lukanya kecil, namun lama kelamaan bertambah besar dan melebar. Tadinya Endi hanya diobati seadanya di rumah, namun lama kelamaan setelah kondisinya semakin memburuk, dengan berbekal Kartu Jamkeskinda dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, keluarga Endi pun membawanya ke RSUD. Hampir 1,5 bulan Endi dirawat di RSUD ditunggui dengan sabar oleh ibunya, Rukiah (59), sementara Pak Eeng harus bolak balik ke rumah sakit, karena selain harus menunggui anaknya ia juga harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bekal selama di rumah sakit. #SedekahRombongan memahami kesulitan keluarga miskin ini dan segera menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban biaya transportasi dan bekal selama Endi dirawat.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir :@ddsyaefudin via @luchakiem via @AdeSRTasik
Tanggal : 26 Oktober 2013.

Bapak Endi menderita penyakit diabetes

Bapak Endi menderita penyakit diabetes

———————————————————–

SRI INDRIYANTI (49). Alamat Kp. Selang Cau RT. 21/7, Kelurahan Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Ibu Sri didiagnosa menderita Tumor Ovarium yang mulai ia rasakan sejak 1 tahun yang lalu. Berbekal fasilitas SKTM yang ia miliki, 3 bulan yang lalu suaminya Ahmad Alatas, telah mengupayakan pengobatan Bu Sri dengan membawanya ke RSUD Cibitung. Namun pengobatannya tidak dapat dilanjutkan karena ketidaan biaya. Pak Ahmad yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini memiliki tanggungan 6 orang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-haripun ia merasa kesulitan, apalagi harus ditambah dengan beban biaya bolak balik ke RS. Sementara Pak Ahmad kebingungan menghadapi situasi sulit ini, penyakit Ibu Sri kian hari semakin parah. Alhamdulillah, keluarga ini dipertemukan dengan #SedekahRombongan yang sangat memahami kesulitan keluarga miskin ini. #SedekahRombongan segera menyampaikan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga ini.

Jumlah bantuan Rp. 500.000,-
Kurir @ddsyaefudin via @SuharnaYana via Emma.
Tanggal: 27 Oktober 2013

Ibu Sri didiagnosa menderita Tumor Ovarium

Ibu Sri didiagnosa menderita Tumor Ovarium

———————————————————–

Mbah dini umur 59 tahun, tinggal di gubuk kecil di dusun sindon rt 4/5 sidoharjo wonogiri, sebatang kara,di tinggal mati oleh suaminya karena sakit. Beliau membutuhkan biaya hidup,untuk kebutuhan makan sehari -hari. Kondisi usia yang semakin tua, dan tanpa sanak saudara membuat beliau harus pasrah dengan kondisi yang ada. Semoga dengan bantuan para sedekaholics melalui sedekah rombongan,bermanfaat bagi hidupnya. Untuk meringankan beban hidup serta mencukupi kebutuhan makan sehari – hari nya.

Jumlah bantuan : Rp. 1.000.000,-
Bantuan di berikan pada : sabtu, 26 oktober 2013.
Kurir : @teguhbacet @mawanhananto @saptuari

Mbah Dini Kondisi usia yang semakin tua, dan tanpa sanak saudara membuat beliau harus pasrah dengan kondisi yang ada

Mbah Dini Kondisi usia yang semakin tua, dan tanpa sanak saudara membuat beliau harus pasrah dengan kondisi yang ada

———————————————————–

Mbah warni , beberapa hari yang lalu cuaca di wonogiri luar biasa, dengan hujan angin dahsyat menyebabkan rumah gedek mbah warni ambruk tertiup angin. Rumahnya di dusun kambu, ds.jatisari,kec.jatisrono ini sangat rapuh. Sehingga saat hujan deras dan angin melanda maka rumah itu ambruk. Warga sekitar bergotong royong untuk membantu mendirikannya lagi. Butuh dana kurang lebih 8 jutaan. Bantuan para sedekaholics melalui sedekah rombongan, semoga bisa meringankan dan menambah kebutuhan untuk membuat rumahnya lagi. Bantuan stimulan ini agar supaya masyarakat sekitar juga perduli dengan kondisinya.

Jumlah bantuan : Rp.1.000.000,-
di berikan hari sabtu, 26 oktober 2013.
Kurir : @teguhbacet @mawanhananto @saptuari

hujan angin dahsyat menyebabkan rumah gedek mbah warni ambruk tertiup angin

hujan angin dahsyat menyebabkan rumah gedek mbah warni ambruk tertiup angin

———————————————————–

MAMAT, 58 tahun, Pekerjaan Buruh Tani. Di usianya yang mulai senja, anak pertama dari dua bersaudara ini masih juga menempati rumah ibunya, Ma Emin yang berusia 99 tahun. Tinggal di rumah yang hampir ambruk di Kampung Mumunggang RT.1/14, Desa Ciwidey, Kec.Ciwidey, Kab. Bandung. Ibunya kini diurus keluarganya di Cianjur. Dua kali ia berumahtangga, dua kali juga ia gagal. Anaknya hanya satu dan sudah lama dibawa pindah istrinya ke Cianjur jadi dia benar-benar terasing dalam kemiskinan dan penderitaan. Bagaimana tidak menderita? Delapan bulan ia teronggok sendIrian di kamarnya yang pengap, kecil dan kotor karena sakit stroke. “Ya Rabbi, beri kami kemampuan mendampinginya menuju kesembuhan! Bukakan pintu rezekiMu”. Jaminan kesehatan yang ia miliki hanya berupa SKTM Kab. Bandung yang plafonnya cuma Rp. 3 juta, Sekalipun ia belum pernah mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. Diperiksakan ke Puskesmas pun menurut pengakuannya belum pernah. “Saya memilih yang murah saja. Diurut dan pakai obat warung,” katanya. Selama ia sakit, kebutuhan sehari-hari bergiliran dibantu beberapa warga termasuk memandikannya. Tragis! Salah satu warga, Bu Neneng S, yang menghubungi kurir #SedekahRombongan untuk bersama-sama mendampinginya berobat ke rumah sakit. “Betul-betul sengsara Pak Mamat ini, Dia tidak punya penghasilan apa-apa dan sakitnya sudah lama,” Penjelasan Bu Neneng pada kurir #SR. Bantuan lanjutan kembali disampaikan untuk pak Mamat selama masa perawatan setelah sebelumnya masuk di Rombongan 451.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 29 Oktober 2013.

Mbah Mamat Tinggal di rumah yang hampir ambruk

Mbah Mamat Tinggal di rumah yang hampir ambruk

———————————————————–

ANNISA, 1 tahun, Alamat: Kampung Bojong Malaka, RT.2/13, Kopo, Kutawaringin, Bandung. Ayah: Wawan, 29 tahun, Pekerjaan Kusir Delman. Pada usia 1 bulan sudah terdiagnosa Hydrochepalus dan sudah dilakukan pemasangan selang namun saat ini harus dirawat lagi karna kambuh dan tersuspect Viningitis. Treatment terhadap kesehatan Annisa sepertinya cukup memakan waktu lama dan perlu moril dan materil, Kedua orangtuanya sangat tidak mampu untuk mengobatinya lagi karna alasan biaya yang sangat mahal. Dan saat ini upaya mendapatkan Gakinda telah mereka miliki serta Annisapun sudah berobat jalan ke RSHS, kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk keluarga ini untuk keperluan transport ke Rumah Sakit dan membeli susu setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 454. Terakhir bertemu mereka sudah menumpang dikontrakan saudaranya dan sedang diupayakan untuk dapat dirujuk ke RSUD Soreang agar terapi untuk Annisa bisa berlanjut, Semoga Annisa lekas sembuh agar dapat tumbuh normal seperti anak-anak yang sehat lainnya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal 27 Oktober 2013.

Adik Annisa terdiagnosa Hydrochepalus

Adik Annisa terdiagnosa Hydrochepalus

———————————————————–

ILHAM NURYASIN, 8 tahun. Pelajar SD kelas 2 ini tinggal di Kampung Giri Mukti RT.1/2, Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Tempat tinggalnya bersama kedua orang tua dan satu adiknya cukup jauh dari pusat kota Bandung, berada di daerah perkebunan teh yang udaranya sejuk, dingin. Ayahnya: Sutia (43) adalah buruh harian perkebunan teh PTPN VIII dan Ibunya Imas (27) pernah juga bekerja di tempat yang sama dangan suaminya, namun 3 balan ini ia lebih fokus mengurus rumah tangga serta kedua anaknya yg masih kecil dan perlu perhatian khusus, apalagi untuk Ilham, anak pertamanya yang saat ini sedang meregang kesakitan akibat retinoblastoma kambuh. Padahal, dua tahun lalu ia dinyatakan sembuh dari penyakit berbahaya ini setelah berbulan-bulan dikemo dan dioperasi dengan biaya dari rereongan warga istilah gotong royong dalam bahasa sunda dan bantuan perusahaan orangtuanya. Keluarga miskin ini hampir tak bisa menerima takdir ini, Pak Sutia hampir saja mempertanyakan keadilan Tuhan; “Asa teungteuingeun Gusti ka Abdi?. Itu kata yang sempat terlontar saat Kurir #SedekahRombongan berkunjung ke rumahnya, yg lebih tepat disebut “saung” (warga menyebutnya “bedeng”, kompleks rumah sangat sederhana tuk para pekerja perkebunan). Kita bisa merasakan beban kemiskinannya yang semakin berat karna pihak perusahaan sudah menghentikan bantuannya, begitu juga donasi sekali-sekali dari warga tak mesti diharapkan. Saat disampaikan bantuan dari #SR, Ia tersyungkur bersujud sambil mendoakan para sedekaholik dan para kurir semua: “Teu sangka .. Gusti masihan ieu rizki, Abdi tiasa lalandong deui..”. Bantuan lanjutanpun disampaikan untuk keperluan mereka sehari-hari setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 442.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @cucucuanda via @abahlutung
Tanggal : 28 Oktober 2013

Adik Ilham sedang meregang kesakitan akibat retinoblastoma kambuh

Adik Ilham sedang meregang kesakitan akibat retinoblastoma kambuh

———————————————————–

YULNIDA, 45 tahun, Alamat: Karees Kulon RT.5/6, Malabar, Lengkong, Bandung. Bu Yulnida adalah seorang janda yang mempunyai anak 2, Tinggal di kontrakan dengan anak-anaknya. Sudah 18 bulan ia menderita penyakit pada ginjalnya yang mengharuskannya Hemodialisa/Cuci Darah pada setiap minggunya. Kasihan sekali ibu yang miskin ini, satu sisi harus menghidupi anak-anaknya dan juga bergelut dengan penyakitnya. Berobat menggunakan SKTM dan kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya sehari-hari bu Yulnida setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 4448.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal 28 Oktober 2013.

Ibu Yulnida menderita penyakit pada ginjalnya yang mengharuskannya Hemodialisa/Cuci Darah

Ibu Yulnida menderita penyakit pada ginjalnya yang mengharuskannya Hemodialisa/Cuci Darah

———————————————————–

SITI SENANGSIH, 30 tahun, Kampung Lebakwangi RT.1/1, Sekarwangi, Soreang, Bandung. Suami: Sukandi, 30 tahun, Buruh Pabrik Sepatu. 3 bulan lalu bu Senangsih didiagnosa terkena Tumor di pahanya dan sangat mengganggu karna sakit yang dirasa, Keluarga miskin ini berihtiar menggunakan Jamkesmas untuk berobat karna kebutuhan harian yang tidak cukup untuk berangkat dan operasional ke RS maka perobatanpun belum dimulai lagi. Mereka hidup di tumah orangtuanya dan juga anaknya yang masih bayi terkena penyakit Paru-paru menjadi beban tambahan buat mereka. #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya mereka berobat ke Rumah Sakit setelah sebelumnya masuk bantuan di Rombongan 454. Terapi untuk bu Senangsih kini sudah dirubah dan akan menggunanakan sinar, Kondisinya ada perbaikan walau belum signifikan.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @cucucuanda
Tanggal : 28 Oktober 2013.

bu Senangsih didiagnosa terkena Tumor di pahanya

bu Senangsih didiagnosa terkena Tumor di pahanya

———————————————————–

LAELAH, 28 tahun, anak ke 2 dari 3 bersaudara yang beralamat Kp. Jagawana RT.02/05, Ds. Sukarukun, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Orang tua: Bpk. Pandi, 60 tahun, tidak kerja (kerja serabutan). Ibu meninggal tahun 1996. Laelah menderita penyakita yang cukup mengenaskan jika dilihat walupun kategori Sakit tumor mata jinak, seperti bisul kadang kempes sendiri (pecah keluar darah) nanti besar lagi. Laelah menderita penyakit ini sudah 5 tahun dan baru serius diperiksa 2 tahun akhir-akhir ini ke RSHS Bandung, terakhir saran dokter harus disinar setiap hari. Sudah ke RSHS selama 23 x dari bulan Juli, saran dokter di sinar sebanyak 20x kemudian dipantau selama 10 hari baru bisa ditentukan operasi. Anak miskin berobat menggunakan SKTM dan #SedekahRombongan membantu biaya harian dan transportasi selama berobat ke Rumah Sakit.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @suharnayana via @romli_iyom
Tanggal 27 Oktober 2013.

Ibu Laelah Sakit tumor mata jinak

Ibu Laelah Sakit tumor mata jinak

———————————————————–

BUDI PRAYITNO (37 th), beralamat di Telaga Harapan RT 1/18, Desa Telagamurni, Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi. Pak Budi didiagnosa menderita penyakit hernia yang sudah cukup parah, sehingga karena penyakitnya ini aktivitas sehari-harinya jadi sangat terbatas. Untuk bekerja pun kini ia sudah tidak bisa lagi, sehingga terpaksa tulang punggung keluarga sekarang dipikul oleh istrinya, Devi Susanti (33 th). Semenjak Pak Budi sakit, Bu Devi membuka warung kecil-kecilan di rumahnya yang hasilnya tidak seberapa, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari keluarga yang memiliki tanggungan 3 orang anak ini. Walaupun mereka memiliki fasilitas jaminan jamkesda dari Pemkab Bekasi, Pak Budi belum pernah berobat ke Rumah Sakit karena khawatir harus mengeluarkan biaya di luar jaminan yang tidak mungkin bisa mereka penuhi untuk saat ini. #SedekahRombongan memahami kekhawatiran Pak Budi. Setelah menyampaikan santunan dari sedekaholic kepada keluarga Pak Budi, Kurir #SR mendampinginya berobat ke RSUD Bekasi dan sekarang tinggal menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menentukan tindakan medis selanjutnya.

Jumlah bantuan Rp. 500.000,-
Kurir @ddsyaefudin via @SuharnaYana via @ahmadfathoni78.
Tanggal: 27 Oktober 2013.

Pak Budi didiagnosa menderita penyakit hernia yang sudah cukup parah

Pak Budi didiagnosa menderita penyakit hernia yang sudah cukup parah

———————————————————–

ROMLI HASAN, 22 tahun, Warga asal Dusun II RT.4. Kel/Desa. Kandis II, Kec. Kandis. Kab. Ogan Ilir, Sumatera Selatan. 8 bulan yang lalu saat ia masih bekerja di ladang, tiba-tiba dadanya terasa sesak dan sulit bernafas, Romli Hasan mengira apa yang ia rasakan adalah sakit sesak napas biasa, namun setelah pulang kerumahnya sesak napasnya semakin berat. Oleh orangtuanya Romli pun dilarikan ke Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi dan langsung dirawat di IGD Rumah Sakit tersebut, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui Romli terkena serangan Jantung. Pengobatan dilakukan beberapa kali rawat jalan dan oleh team dokter Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi Romli dirujuk pengobatan lanjutannya ke RSCM Jakarta. Bpk Aridi, 61 tahun, orangtua Romli Hasan yang sehari-harinya juga menjadi petani ini sangat sedih melihat kondisi anaknya, apalagi pengobatan selanjutnya Romli Hasan harus jalani operasi Jantung di RSCM Jakarta. Keterbatasan ekonomi menjadi kendala keluarga ini, namun pengobatan harus dilanjutkan demi kesembuhan anaknya, dengan bekal seadanya akhirnya pak Aridi membawa Romli Hasan ke RSCM Jakarta. Sudah hampir 3 bulan pak Aridi dan Romli Hasan berada di Jakarta, proses pengobatan tidak seperti apa yang mereka bayangkan, datang dan bisa langsung dilakukan operasi. Di RSCM Jakarta Romli Hasan harus lakukan serangkaian pemeriksaan, dari mulai konsul di poli Cardiologi, Tes Lab, CTscan, Rongent Thorax, dll yang memakan jangka waktu panjang sebelum penjadwalan operasinya dan itu tentunya berkaitan dengan bekal yang mereka bawa untuk sementara tinggal di Jakarta selama berobat rawat jalan, mereka harus sewa tempat/kos dan biaya sehari-hari yang memang cukup tinggi. Bantuan disampaikan untuk keperluan mereka sehari-hari dan #SedekahRombongan membawanya ke RSSR Jakarta.

Jumlah bantuan Rp. 500.000,-
Kurir @ddsyaefudin via @endangnumik
Tanggal: 27 Oktober 2013.

Romli terkena serangan Jantung

Romli terkena serangan Jantung

———————————————————–

ALWAN INAYATULLAH, 9 tahun. Alamat di Kp. Ceger 7/3, Desa Sukadarma, Kec. Sukatani, Kabupaten Bekasi. Memiliki kelainan/tumbuhan di batok kepala bagian depan, belakang telinga dan pangkal paha. Saat usia 3 tahun, ada kelainan di beberapa bagian tubuhnya, tumbuh beberapa tonjolan seperti daging yang setelah diperiksa beberapa waktu kemudian oleh Dokter di RS.Sumber Waras, disimpulkan bahwa kelainannya adalah penyakit Neurofibroma, harus di operasi, tapi belum cukup umurnya, harus menunggu usia sekitar 9 tahun, baru operasi pengangkatan bisa di lakukan. Saat ini setelah usia Alwan 9 tahun, keluarga mulai berusaha kembali dalam upayanya mengobati sang buah hati. Hanya saja, kembali keluarga mengalami kendala saat RSUD Cibitung kabupaten Bekasi merujuk anak dari Hasan Basri, 48 tahun mengharuskannya ke RSHS Bandung. Sementara pekerjaan sang ayah hanya tukang Tambal Ban dan kerjaan Ibundanya, Neneng Suryani, 44 tahun adalah Ibu Rumah Tangga, tidak terbayang dana dari mana untuk biaya akomodasi jika harus sering PP Bekasi-Bandung, sementara tanggungan jiwa masih ada 2 orang di rumahnya. Selama ini Alwan sangat menderita jika setiap malam, kumat sampai kejang, bahkan bisa 3 kali dalam semalam, Karena sakit yang di deritanya, pertumbuhan rohaninya agak terganggu bahkan dia tidak bisa bersekolah. #SedekahRombongan kembali menyampaikan Titipan Langit untuk keperluan Alwan selama berobat, setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 454. Kini Alwan terlihat sehat saat setelah operasi di bagian kepalanya, Terlihat bekas jahitan operasi membuang daging yang tumbuh sebelumnya.

Jumlah bantuan : Rp. 500.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @suharnayana via @romli_iyom
Tanggal 29 Oktober 2013.

Adik Alwan Memiliki kelainan/tumbuhan di batok kepala bagian depan, belakang telinga dan pangkal paha

Adik Alwan Memiliki kelainan/tumbuhan di batok kepala bagian depan, belakang telinga dan pangkal paha

———————————————————–

DELLA MERARY NABEN, 4 tahun, Alamat: Jl. Pos Nuri RT.3/2, Baumata, Taebeno, Kupang, NTT. Adik Della Menderita Collostomi. Ayah: Daud Naben, 33 tahun, Pekerjaan Buruh Bangunan dan Ibu: Cristina, 25 tahun. Sudah lama Della ingin berobat menurut kedua orangtuanya namun ketiadaan biaya yang menjadi hambatan mereka, saat anak seusianya normal bermain ceria tapi tidak bagi Della. Rumah Sakit di Kupang merujuk Della untuk berobat di Jakarta dan Alhamdulillah keluarga Della dijanjikan bantuan oleh Yayasan Indonesia Tersenyum untuk diberangkatkan ke Jakarta melalui bantuan para Kurir #SR di Kupang. Seperti filosofi Semut yang membawa Roti berombongan, inilah yang terjadi karna karunia Tuhan #SedekahRombongan pun turut membantu operasional transportasi, makan dan tempat tinggal selama mereka di Jakarta. Semoga upaya ini dimudahkan Tuhan sehingga Della dapat sembuh, Amiin. Della telah berhasil dioperasi pertama dan kedua, kini ia kembali ke Jakarta untuk kontrol medis paska operasi. Bantuan lanjutan disampaikan untuk keperluan mengontrak selama di Jakarta dan untuk kebutuhan sehari-hari Della sekeluarga setelah sebelumnya masuk di Rombongan 421.

Jumlah bantuan : Rp. 700.000,-
Kurir : @ddsyaefudin via @harji_anis
Tanggal: 30 Oktober 2013

Adik Della Menderita Collostomi

Adik Della Menderita Collostomi

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 12,200,000,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM 462 ROMBONGAN

Rp. 14,510,027,107,-