Bekasi, tahun 2007

Untuk pertama kali aku tahu dan mengalami sendiri bahwa uang dapat merubah segalanya. Ia dapat menghilangkan peri kemanusiaan, rasa kebersamaan, tenggang rasa, kepercayaan bahkan iman. Ku “jual” semua itu hanya demi lembaran-lembaran kertas merah yang selalu menjadi rebutan, tanpa pernah berfikir dampak untuk kehidupanku ke depan. Aku hanya berfikir saat ini ku punya uang dan pasti aku bisa melakukan segalanya. Aku tak lagi perduli benar atau salah. Aku tak lagi berfikir “Dia” yang telah memberikan semua itu untukku, dan “Dia” berhak mengambilnya kembali dariku.

Untuk sesaat,, hidup memang terlihat sempurna. Aku bisa membeli segala yang ku inginkan, mendapatkan kehormatan dan pujian. Tapi dalam hati kecil, aku merasakan kehampaan. Aku merasa kebahagiaan saat itu semu, kegalauan terus menyelimuti hidup, merasa sepi ditengah keramaian, dan merasakan derita disaat ku tertawa. Dadaku terasa sesak, tidurku tak lagi nyenyak. Kulihat ada sebuah kepalsuan disekitarku. Banyak teman mendekat hanya karena ingin mengambil manfaat, banyak orang memuji  karena ingin selalu ku beri. 

Jakarta, Juni 2009 

Puncak dari kehampaan hidupku.. aku merasakan seperti “mati”, seperti sampah yang tak lagi punya arti. Apa yang ku dapatkan dengan “ketidak benaran” perlahan mulai pergi. Masalah demi masalah datang silih berganti,  namun ku tak tahu lagi harus berbuat apa. Teman yang ku anggap dekat perlahan mulai menjauh, orang-orang yang sering memuji kini mulai mencaci. Disaat seperti itu yang setia menemani hanyalah “Tuhan”.. ya.. Tuhan yang selama ini ku lupakan.. Tuhan yang selama ini kucampakan.. Dia yang begitu mencintai hamba-Nya, yang tak pernah lelah menjaga, tak pernah kurang dalam memberi dan tak pernah lupa untuk mengingatkan.

Aku malu…. aku malu Tuhaaannn.. Telah lama ku menjauh dari-Mu, telah lama ku tak lagi “bercengkrama” dengan Mu. Kini ketika keterpurukan menimpa, aku baru mau “menyapa-Mu”..

Tuhan.. maafkan hamba-Mu yang terlalu congkak. maafkan hamba-Mu yang tak tahu malu ini.. Hamba tak tahu harus kemana lagi memohon selain kepada-Mu..

“Hanya kepada-Mu kami memohon. Dan hanya kepada-Mu kami menyembah”. (QS. Al Fatihah : 5)

Setelah semua yang terjadi kubulatkan tekad untuk kembali ke jalan-Nya. Menjadi hamba-Nya dengan berusaha melakukan sesuatu sesuai perintah-Nya. Ku tak mau lagi mendapatkan rejeki dari hal yang salah di mata-Nya. Dan tidak selang beberapa lama, Tuhan mendengar doaku. Dia memberikan kehidupan baru. Dimulai dengan “mengambil” apa yang bukan hakku. 2 Motorku hilang, kemudian HP dan orang-orang yang berhutang tak lagi terlihat di depanku. Bisnis pun kacau karena partner menipu. Tapi ya sudahlah.. mungkin semua itu memang bukan hakku. Tapi aku merasa masih ada hal yang harus dilakukan. Dengan sisa saldo yang ada di rekening, ku kembalikan semua uang yang dulu pernah ku ambil tanpa ijin. Dan kini aku harus memulai semuanya dari nol.

September 2009 

Hari-hari yang kulalui kini terasa lebih indah, tak ada lagi beban tak ada lagi kegalauan. Walaupun secara finansial hidupku kini tak sebaik dulu, namun ada secercah harapan yang setiap hari bisa kurasakan. Kini aku hidup pada sebuah harapan “Tuhan pasti akan menunjukkanku jalan”. Sebenarnya masih ada satu permasalahan, pekerjaan yang dulu terlantarkan tak bisa lagi diselamatkan. Orang-orang disekitar sudah terlanjur membeciku. Atasan tak lagi respek dan berniat “membuangku”.

Perasaan tidak nyaman berada dilingkungan kerja cukup mengganggu hidup, namun ku tetap yakin pada Tuhan. Ketika kita melakukan yang terbaik, pastikanmendapatkan yang terbaik. Bekerja dengan ikhlas, memperbanyak sedekah dan ibadah mulai menjadi rutinitas. Dalam do’a terselip harapan “Tuhan Aku ingin mendapatkan pekerjaan baru, Aku ingin melanjutkan pendidikan.” Dan sungguh ajaib, tak selang berapa lama ketika departemen lama tempat bekerja tak tali membutuhkan ternyata ada departemen lain yang melihat cara kerjaku dan mereka tertarik untuk merekrutku. Akhirnya aku dipindahkan ke Departemen Keuangan dengan gaji yang lebih besar dari posisi semula, dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Allaahu Akbar…… Tuhan benar-benar menunjukkan jalan.

Namun kejutan belum berakhir, setelah 9 bulan menempati posisi staff Keuangan ternyata ada teman kerja yang menawari pekerjaan baru. Dia membuka Perusahaan baru dan menawarkan posisi Fin & Acc. Sebenarnya posisi itu sudah ditempati oleh temanku yang lain, namun dia memilih mundur dan menjalankan usaha. Melihat peluang yang cukup bagus akupun menyanggupinya. Alhamdulillah Gaji yang ditawarkan 2x Gaji pada kantor lama. Dan ditempat baru ini akupun punya kebebasan untuk mengeksplorasi kemampuan tanpa adanya tekanan. Bos telah menyerahkan dan mempercayakan semuanya. Disini aku bisa banyak belajar dan punya banyak waktu untuk lebih dekat dengan-Nya.

Jakarta, 2011 

Setelah satu tahun lebih bekerja di perusahaan ini hidupku lebih teratur.. Banyak hal dan pelajaran yang ddapatkan. Sedekah pun kini semakin rutin dilakukan. Namun anehnya semakin banyak yang di sedekahkan, semakin bertambah saldo yang ada di rekening.Adasaja pemasukan tak terduga yang kudapatkan. Aku bisa membeli motor baru, membiayai kuliah, kursus dan berbagai seminar yang harganya cukup mahal. Membayar 2 asuransi jiwa dan Tabungan Rencana yang menjadi cadangan jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Menjadi salah satu Komanditer di sebuah Perusahaan menjadi anugrah lain yang Tuhan berikan saat ini.

Kejadian terakhir yang cukup insidensial adalah “Kurban”. Kala itu aku berada dikampung dan saldo tabungan di rekening tinggal 2jtan. Tapi aku punya keinginan tahun ini harus kurban sebagai wujud syukur. Setelah mencari informasi, ternyata harga kambing yang cukup untuk korban adalah 1,5jtan. Untuk membeli tiket pulang kejakarta 100rb, untuk memberikan uang saku kepada adek2 dan ponakan serta oleh2 200rb, berarti sisa sekitar 200rb. Uang segitu harus cukup untuk makan sampai gajian. Dan tanpa pikir panjang ku berikan 1,5jt kepada ibu agar nanti bisa dibelikan kambing untuk korban.

Ambil duit buat beli kambing

Ambil duit buat beli kambing

Sekali lagi otak kanan bertindak cepat dengan harapan “Tuhan pasti menunjukkan jalan”. Dan seperti yang pernah Ustadz Yusuf Mansyur katakan“Matematika Pinter 10-1=9, tapi matematika sedekah 10-1=19”. And it works!!! tidak selang beberapa lama ada rekan yang memberikan uang 900rb untuk administrasi, kemudian di akhir bulan ditambah lagi gaji dan tanggal 9 Nov 2011 temenku transfer Rp. 7.566.000.. Alhamdulillaaaaaaaaaaaaaah…

Langsung dibales sama Allah

Langsung dibales sama Allah

Kejadian- demi kejadian yang kualami membuat semakin yakin bahwa dengan memberi takkan pernah mengurangi, namun justru mengayakan diri. Kaya secara mental, spiritual dan material. Dan alhamdulillah dengan adanya #SedekahRombongan ini saya semakin tergerak untuk terus bersedekah dan mendorong orang lain untuk ikut sedekah.

Ingatlah kawan, rejeki takkan lari. Ketika Dia berkehendak memberi, maka tak ada yang bisa melarang. Dan apabila Dia ingin mengambil kembali, maka tak ada yang bisa menolak. Yakinlah akan janji-Nya “Dia akan memberi lebih banyak dari apa yang bisa kau berikan.”

Azwar Anas – Jakarta