Kisah heroik tim #SedekahRombongan Makassar membebaskan bu Sanabiah dari sakitnya… ibu dan anaknya meninggal karena penyakit yang sama..

Orang tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di Gubuknya si Miskin... -Soekarno-

Dusun Lalebata, Desa Patanyamang. Kecamatan Camba, Maros, Sulawesi Selatan

Ibu Sanabiah, dialah wanita kuat itu yang menderita tumor kandungan selama 5 tahun lamanya. Pada usia 55 tahun, beliau meraskan ada benjolan dalam perutnya. Kesibukan mengurus keluarga dia pun mengabaikannya, hingga selama waktu berjalan beliau menyadari benjolan itu semakin besar membuat perutnya seperti hamil 7 bulan. Sejak saat itu sering juga keluar darah hitam dan rasa sakit tiba-tiba.  Informasi mengenai Ibu Sanabiah datang dari Manado, bahwa di balik pegunungan daerah Camba ada seorang ibu yang menderita tumor di perutnya. Pada tanggal 7 maret 2012, tim Sedekah Rombongan mengunjungi kediaman Ibu sanabiah sekaligus menjemput beliau untuk kemudian dibawa ke Rumah Sakit sesuai dengan rencana yang telah disepakati… Petualangan dimulai…

karena kondisi medan yang berat, tim #SR membawa mobil kelas berat juga.. mobil sisa perang jaman Belanda hehe

Menembus pedalaman maros dengan Hartop

Untuk sampai di kediaman Ibu Sanabiah tidaklah mudah, tim harus melewati perjalanan panjang kurang-lebih 30 km. Tim pun harus menyewa Hardtop/Jip mengingat perjalanan yang ditempuh adalah medan yang berat. Menyusuri pegunungan, jalanan yang berkelok-kelok serta menyeberangi sungai.

Setelah memakan waktu 2 jam, sampailah tim di Dusun Lalebata yang disambut oleh keluarga Ibu Sanabiah.

2 jam perjalanan akhirnya di rumah kayu sederhana bu Sanabiah ditemukan

Ibu Sanabiah sendiri harus mengalah pada penyakitnya, beliau tergeletak di ranjang dengan perut yang membuncit. Usut punya usut, penyakit yang diderita ibu Sanabiah ternyata juga pernah diderita oleh ibunya yang kemudian meninggal dunia. Duka itu belum hilang, setelah ibunya, Ibu Sanabiah harus tabah atas kepergian anak bungsunya yang baru 2 SMP dikarenakan penyakit yang sama pada bulan April 2011. Kini, atas nama “keterbatasan biaya” dan jauhnya Rumah Sakit dari desanya membuat Ibu Sanabiah pasrah, yang memilukan beredar istilah di sana bahwa “Ibu Sanabiah tinggal menunggu kematiannya saja.” Allah memiliki rencana lain, hari itu juga Ibu Sanabiah di bawa ke Rumah Sakit untuk mengobati penyakitnya.

Kondisinya yang lemah membuat Ibu Sanabiah perlu digendong oleh tetangganya untuk naik ke Hardtop.

Setelah melewati perjalanan penuh resiko, Ibu Sanabiah di bawa ke RSUD Salewangan Maros. Pihak RS melakukan serangkaian tes, hasil yang keluar menyatakan bahwa Ibu Sanabiah menderita Tumor Kandungan.

Penantian Selama 1 Bulan 

Untuk mendapatkan kesembuhan, Ibu Sanabiah benar-benar diuji dalam kesabaran. Sejak masuk ke RS hingga satu bulan lamanya, belum ada kepastian kapan operasi yang dijanjikan pihak RS dilakukan. Beliau mengaku sangat merindukan keluarganya.Setelah didesak, dokter mengatakan tidak bisa melaksanakan operasi dikarenakan bertepatan jadwal kepergiannya ke Singapura. Namun, beliau membantu kami untuk mendapatkan rujukan ke RS. Wahidin di Makassar.

sabar.. sabar.. sabar.. begitulah kondisi rumah sakit di kota kecil

Di RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar, Ibu Sanabiah diharuskan melakukan diagnosa ulang. Hasilnya pun sama, LEIOMYOMA UTERI, tumor jinak yang berasal dari pertumbuhan sel otot polos dan jaringan penghubung di uterus. Ternyata, faktor genetic juga mempengaruhi. Tepat pada tanggal 20 April, operasi pengangkatan tumor pun dilaksanakan. Dengan tabah Ibu Sanabiah menjalani rangkaian proses penyembuhannya, kerinduan akan kampung halaman menjadi tambahan semangatnya.

Selain tumor dan kista, rahim ibu Sanabiah pun diangkat demi keselamatannya.

Perut Ibu Sanabiah yang dulu membuncit, telah kempes seiring keluarnya tumor yang selama 5 tahun bersarang di perutnya. Air mata Ibu Sanabiah menetes, perjuangannya selama ini benar-benar berbuah nikmat. Pada tanggal 25 April, Ibu Sanabiah keluar dari Rumah Sakit.

Bu Sanabiah sudah sehat, mitos kematian yang menghantui itu tidak terbukti.. 3 bulan proses penyembuhan yang panjang

Wanita Kuat Itu Kembali , Allah memiliki banyak cara untuk menolong hambaNya, bahkan hal yang mustahil sekalipun. Melalui Sedekah Rombongan, patahlah anggapan yang beredar mengenai ibu Sanabiah “tinggal menunggu kematiannya saja.

Pada tanggal 11 mei, ibu Sanabiah kembali ke kampung halaman yang hampir 3 bulan ditinggalkannya. Beliau datang dengan penuh kebahagiaan, juga kondisi tubuhnya yang nampak sehat dan bugar.

Kedatangan ibu Sanabiah sudah lama dinanti-nanti, ketika beliau sampai di rumahnya, penyambutan besar menunggunya. Bahkan Kepala Desa pun ikut turun menyambut kehadiran serta memberikan selamat atas kesembuhan beliau.

Kebahagian tiada tara Bu Sanabiah dan tetangga.. Tuhan benar-benar BERSEMAYAM di gubuknya si miskin..

Jika Tuhan menyajikan ‘Air Panas’ yang merupakaan cobaan demi cobaan untuk membuktikan kuat/tidaknya seseorang dalam menjalani kehidupan. Seperti halnya, Ibu Sanabiah yang harus tetap bekerja di kondisi terburuknya serta menutup telinga atas anggapan ‘kematiannya yang tidak lama lagi’. Maka ada baiknya kita menjadi ‘gula’ yang memaniskan dinamika kehidupan ini. Mengerahkan kemampuan terbaik kita dalam larutan sosial, bahu-membahu, tolong-menolong, hingga yang tercipta adalah ‘minuman manis’ yang mampu mengisi kedahagaan persaudaraan dan menciptakan kebersamaan yang indah.

 

Jumlah Bantuan ke 2 untuk Bu Sanabiah : Rp. 7.792,000-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM 153 ROMBONGAN

plus Rombongan khusus

Rp. 3,195,445,988