Rombongan 904

Bersedekah tidak mengurangi jumlah harta anda, tapi melipat gandakan jumlah harta anda.
Posted by on October 20, 2016

MTSR MAGELANG (OPERSIONAL, BBM, SERVICE ) Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR) memiliki jangkauan operasional pelayanan di Kabupaten Magelang, Kota Magelang dan Kabupaten Temanggung. Adapun daerah tujuan ke bebarapa Kota sekitar, seperti Jogjakarta, Solo, Semarang. Pada Periode ini MTSR melayani pasien dampingan #sedekahrombongan yang kontrol rutin di beberapa Rumah Sakit. Selain itu juga MTSR melayani warga yang meminta tolong untuk kontrol rutin ke beberapa Rumah Sakit, diantaranya adalah ke Rumah Sakit Ken Saras Ungaran setiap hari dari Senin sampai Jumat. Selain itu juga mengantar warga kontrol rutin ke RSUD Kota Magelang. Pasien dampingan juga rutin kontrol ke rumah sakit tipe A. Pemakaian periode ini adalah antar jemput pasien dik Ilham dari Katekan Ngadirejo Temanggung ke Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Solo. Mengantar pasien Jihan fatin dari Grabag Kab. Magelang ke RSSR Jogja. Menjemput pasien Eska dari Tretep Candiroto Temanggung. Mengantar Pasien Khoirul ilham Nepak Kabupaten Magelang ke RSSR Semarang dan beberapa pasien dampingan lainnya. Pemaiakain juga untuk menghadiri undangan Pelantikan Kader Kesehatan di Kecamatan Gemawang Kab. Temanggung. Anggaran Operasional juga digunakan untuk biaya Parkir, servie rutin, serta mengganti beberapa komponen kendaraan seperti Kampas Kopling, Kampas Rem, Laker dan komponen lainnya. Anggaran juga terpakai untuk biaya pembuatan akta notaris cabang Magelang.

Jumlah : Rp. 4.500.000,-
Tanggal :12 Oktober 2016
Kurir : @MarjunulNP @fathurrozaq82 ardo, sigit, koko, noven

Bantuan operasional untuk biaya Parkir, servie rutin

Bantuan operasional untuk biaya Parkir, service rutin


RIRIN INDRAWATI (51, Kanker Mulut) Alamat: Dusun Duku RT 1/27, Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pada awal tahun 2013 muncul benjolan di langit langit mulut Bu Ririn. Kemudian Bu Ririn  melakukan pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Jember dan dilakukan tindakan biopsi. Dari hasil pemeriksaan, Bu Ririn didiagnosa menderita kanker mulut. Selanjutnya dilakukan operasi pada kelenjar air liur Bu Ririn. Pasca operasi benjolan kembali tumbuh. Pada tahun 2014 Bu Ririn di rujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Bu Ririn baru melakukan pengobatan ke RSU Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Agustus 2015 untuk menjalani radioterapi. Keterlambatan untuk datang ke RSUD Dr. Soetomo karena kendala biaya transportasi ke Surabaya.  Pada Februari 2016 muncul benjolan di atas hidung. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Bu Ririn kembali didiagnosa menderita kanker dan kanker baru tersebut sudah tidak bias dioperasi karena sudah menyebar ke otak. Bu Ririn memiliki fasilitas jaminan kesehatan (JKN), namun beliau merasa kesulitan biaya transportasi dan tempat tinggal selama berikhtiar mencari kesembuhan di Surabaya. Alhamdulillah kami #SedekahRombongan mendapat info tentang kesulitan yang dialami bu Ririn, dan kami diberi kesempatan untuk meringankan beban beliau. Bantunan sudah diberikan dan digunakan untuk biaya transportasi ke Surabaya. Bantuan sebelumnya tercatat pada Rombongan 901. Bu Ririn dan keluarga merasa sangat terbantu dan mengucapkan banyak terima kasih kepada para sedekahholics atas bantuan yang telah diberikan melalui #SedekahRombongan.

Jumlah Bantuan: Rp  500.000,-
Tanggal: 30 Agustus 2016
Kurir: @Wahyu_CSD @Martinomongi @EArynta

Ibu ririn menderita Kanker Mulut

Ibu ririn menderita Kanker Mulut


ERISKA DWI NOFITRI (11, Kanker Ginjal). Alamat : Dusun Sugian RT 3/2, Desa Sukorejo, Kec. Parengan, Kab. Tuban, Jawa Timur. Riska biasa ia dipanggil oleh orang tuanya, pada bulan Oktober2013 mengalami demam tinggi dan perutnya mulai mengeras. Orang tua Riska membawa ke dokter praktek yang kemudian di rujuk ke salah satu rumah sakit yang ada di Bojonegoro. Setelah menjalani berbagai macam rangkaian pemeriksaan, Riskadidiagnosa menderita penyakit tumor ginjal bagian kiri. Setelah 7 hari di Rumah Sakit, Riska menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri dengan biaya mandiri. Pada bulan Februari 2014 kondisi kesehatan Riska kembali menurun. Berbekal kartuJamkesmas, keluarga membawa Riska ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk pengobatan lebih lanjut. Dokter mendiagnosaterdapat bekas tumor yang berkembang menjadi kanker pada saluran ginjal kanan. Dokter tidak berani melakukan operasi karena ginjal kiri Riska sudah diangkat dan hanya sisa ginjal sebelah kanan. Oleh karena itu tindakan yang dapat dilakukan adalah kemoterapi dan radioterapi. Ibunya, Warjan (38) adalah seorang ibu rumah tangga. Pada saat itu pihak keluarga merasa berat dengan banyaknya pengeluaran untuk biaya pengobatan,biaya transportasi dan tempat tinggal sementara selama berikhtiar mencari kesembuhan di Surabaya. Alhamdulillah, kami #SedekahRombongan dipertemukan dengan Riska. Setelah melalui survey, Riska resmi menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan. Saat ini Riska melakukan kontrol rutin sebulan sekali. Santunan sudah diberikan dan sebelumnya tercatat pada rombongan 899. Keluarga sangat terbantu dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari para sedekaholics melalui #SedekahRombongan, karena dengan bantuan tersebut sampai saat ini Riska masih bisa terus berikhtiar mencari kesembuhan. Semoga dengan ikhtiar ini penyakit Riska bisa segera diobati dan Riska bisa melanjutkan sekolah untuk menggapai cita-citanya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal: 30 Agustus  2016
Kurir : @wahyu_CSD  @MasKhus1027 @EArynta

Ibu eriska menderita Kanker Ginjal

Ibu eriska menderita Kanker Ginjal


MTSR BEKASI (B 1349 SZM, Biaya Operasional). Sejak bulan November tahun 2014, #SedekahRombongan Bekasi dipercaya untuk meningkatkan pengkhidmatan kepada saudara kita yang sakit dan tidak mampu ke Rumah Sakit melalui pelayanan Mobil Tanggap CategoriesSedekah Rombongan (MTSR). Menghadapi medan Kabupaten dan Kotamadya Bekasi, tentu saja MTSR Bekasi harus tampil prima. Sampai saat ini keberadaan MTSR sangat dirasakan manfaatnya, baik oleh pasien dampingan #SR maupun warga dhuafa lainnya yang membutuhkan. Begitu tingginya intensitas penggunaan MTSR Bekasi. Alhamdulillah #SedekahRombongan telah menyampaikan biaya operasional bulan September 2016. Biaya operasional digunakan untuk membeli bensin dan bayar tol saat mengantar pasien ke RSHS Bandung dan juga ke RSCM Jakarta. Selain pasien wilayah Bekasi, MTSR Bekasi pun akhir-akhir ini sering evakuasi pasien yang berada di wilayah Kabupaten Karawang, mengingat Kabupaten Karawang sampai dengan saat ini belum memiliki MTSR. Inshaa Allah, MTSR Bekasi akan semakin dirasakan manfaatnya, khususnya oleh warga dhuafa di wilayah Bekasi dan pasien miskin dari wilayah lain di Jawa Barat. Pembiayaan sebelumnya masuk di Rombongan 898.

Jumlah Bantuan : Rp. 4.000.000,-
Tanggal : 15 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @mardisay Via Samsudin

Biaya operasional untuk membeli bensin dan bayar tol

Biaya operasional untuk membeli bensin dan bayar tol


RSSR JAKARTA, atau Rumah Singgah Sedekah Rombongan Jakarta terletak di sekitar RSCM Jakarta, tepatnya di Jl. Kenari II Inspeksi Kali Ciliwung RT 4/4 No. 15 Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. RSSR berfungsi sebagai tempat istirahat sementara atau tempat singgah bagi para pasien dhuafa yang sedang rawat jalan atau dirujuk ke RSCM yang berasal dari daerah luar DKI Jakarta. Seperti Ibukota atau Kota lainnya yang menjadi pusat rujukan, #SedekahRombongan telah memiliki beberapa RSSR di Kota Jogja, Solo, Semarang, Bandung, Malang dan kota lainnya. Di Jakarta khususnya dekat wilayah RSCM kita mengontrak tiga rumah untuk pasien rawat jalan, yang menjadi perhatian kita sehari-hari. Berkaitan dengan operasional makan dan kebutuhan sehari-hari RRSR menyediakan beras, sembako dan kebutuhan alat mandi serta air dan listrik untuk 3 rumah singgah dan beberapa kamar kos yang kita sewa. Saat ini pasien yang ada di 3 RSSR berjumlah 24 orang pasien ditambah keluarga yang mendampingi. Bantuan ini disampaikan untuk keperluan Logistik, Operasional bulan Oktober 2016 di RSSR Jakarta, setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 884. Semoga pasien-pasien yang sedang berjuang kesembuhan diberi kelancaran dalam proses pengobatannya. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 14.500.000,-
Tanggal: 5 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @endangnumik @harji_anies @untaririri

Bantuan tunai untuk keperluan Logistik dan Operasional

Bantuan tunai untuk keperluan Logistik dan Operasional


RAMI BINTI RAWA (85, asam urat tinggi). Alamat Kp. Pulo Tanjung RT 1/1, Desa Sindangsari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sudah semenjak 3 tahun nenek ini sering sakit-sakitan, namun karena ia tidak punya uang untuk berobat akhirnya ia hanya mengandalkan obat-obatan warung. Maklum saja nenek ini hidup di rumah yang sangat kecil. Sedangkan sanak saudara hanya kadang-kadang saja memberinya uang, karena kondisi ekonomi mereka pun tergolong tidak mampu. Kadang nenek Rami mendapat pemberian uang dari tetangga yang simpati. Selama ini ia tidak pernah ke puskesmas karena kondisi yang tidak memungkinkan. Penyakitnya hanya bisa dirasakan tanpa bisa berbuat banyak. Pertengahan bulan September 2016, Nenek Rami sempat dirawat di Puskesmas karena sesak nafas, tapi saat ini sudah pulang karena kondisinya sudah mulai membaik namun harus menjalani kontrol rutin. Suami nenek Rami sudah sekitar 21 tahun yang lalu meninggal dunia. Alhamdulillah, #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya akomodasi berobat ke puskesmas dan kebutuhan sehari-hari. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 893.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @mardisay

Ibu rami menderita asam urat tinggi

Ibu rami menderita asam urat tinggi


ADNIN NUGROHO (5, Neuroblastoma). Alamat : Perum Puri Nirwana Residences Blok OL/23 RT 6/8, Desa Sukaraya, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sejak 3 bulan lalu, pada pelipis bagian kanan Adnin timbul benjolan. Semakin lama semakin membesar dan terasa sakit. Keluarga sudah pernah membawanya berobat ke RS Mitra Keluarga untuk CT Scan dan Torak. Diagnosa menyatakan kalau Adnin sakit Neuroblastoma, hal ini menunjukan adanya virus dari tumor. Disarankan konsultasi ke dokter di RS Hermina Jatinegara dan minum anti biotik. Dokter mengatakan, jika benjolan ini bukan tumor, maka bengkaknya akan kempes. Tapi setelah seminggu, bengkaknya semakin membesar. Akhirnya Adnin kembali berobat ke Mitra Keluarga Jababeka untuk mendapat rujukan ke Mitra Keluarga Kota Bekasi untuk menjalani Biopsi dengan persyaratan BPJS Perusahan. Anak dari pasangan M. Dahlan (34) Dewi Shinta (35) ini masih harus terus menjalani pengobatan dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Orang tuanya yang bekerja sebagai buruh pabrik merasa kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan ongkos berobat. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan bertemu dengan keluarga Adnin sehingga dapat menyampaikan bantuan awal untuk biaya akomodasi selama berobat ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana @aaiyom @mardisay

Pak adnin menderita Neuroblastoma

Pak adnin menderita Neuroblastoma


KRISTIANA VITA SARI (34, Diabetes Melithus). Alamat : Desa Telaga Murni RT 3/14, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Bermula dari bisul yang terdapat di bokong dan kemudian menyebabkan demam. Saat kondisi demam, Bu Vita dibawa ke klinik dengan biaya umum. Beberapa kali menjalani pengobatan di klinik, ternyata belom ada harapan membaik, namun sebaliknya bisul pecah hingga menimbulkan luka yang melebar. Dokter klinik menyarankan agar Bu Vita melanjutkan pengobatan ke RS. Ridhoka Salma. Setelah dilakukan pemeriksaan teryata harus dilakukan operasi Debridement terhadap luka bisul tersebut dan dari pemeriksaan laboratorium juga menunjukan kalau Bu Vita ada penyakit gulanya (DM). Kemudian dilakukan operasi pada hari itu juga,pada saat operasi teryata bisul/absesnya sudah melebar sehingga nanti setelah operasi perlu dilakukan perawatan luka terbuka . Setelah selesai operasi dan beberapa hari menjalani rawat inap luka yg tadinya terbuka sudah bisa ditutup dengan cara dijahit. Biaya operasi yang sangat besar membuat suami Bu Vita kebingungan. Pak Yudi (38), hanya bekerja sebagai buruh di tempat pembuatan lemari kayu. Karena KTP dan Kartu Keluarga Bu Vita masih wilayah Solo, keluarganya kesulitan dalam memproses Kartu BPJS dalam waktu cepat. Alhamdulillah, mereka dipertemukan dengan Kurir #SedekahRombongan dan berupaya membuat surat perjanjian hutang yang akan dicicil oleh #SedekahRombongan. Santunan lanjutanpun disampaikan untuk membayar cicilan di rumah sakit. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 895.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.500.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana

Ibu kristiana menderita Diabetes Melithus

Ibu kristiana menderita Diabetes Melithus


RAHMA RAHIDATUL (3, Epilepsy dan Cerebral Palsy Spastis). Alamat: Jembatan Besi RT 6/1, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Ayah Rahma bernama Eri Sepriadi (34) seorang pedagang es susu kedelai di Pasar Inpres Jembatan Besi dan Ibunya, Muslimah (35) seorang ibu rumah tangga. Rahma sejak usianya masih hitungan bulan, oleh dokter sudah dinyatakan menderita Epilepsy dan Cerebral Palsy Spastis, dengan berbekal BPJS orang tua Rahma membawa berobat ke RSCM. Di RSCM Rahma harus rutin kontrol di 2 Poli, yaitu Poli Neurologi dan Unit Rahabilitasi Medik. Beberapa kali menjalani kontrol rutin ke RSCM, terpaksa orang tua Rahma harus menghentikan pengobatan Rahma karena tidak mempunyai biaya untuk ke RS. Sampai akhirnya keluarga kecil ini dipertemukan dengan kurir #SedekahRombongan. Alhamdulillah, #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya membayar kontrakan dan biaya transport setelah bantuan sebelumnya masuk pada Rombongan 884. Kini Rahma kecil masih harus menjalani kontrol rutin di Poli Neurologi dan Unit Rehabilitasi Medik RSCM setiap minggunya. Keluarga Rahma juga menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @harji_anis @untaririri

Rahma menderita Epilepsy dan Cerebral Palsy Spastis

Rahma menderita Epilepsy dan Cerebral Palsy Spastis


SATRIA BIN ERMAN (1, Morbili). Alamat : Dusun Kedung Gede RT 5/1, Desa Setia Mekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pada awal Oktober 2016, suhu badan Satria mendadak panas dan tumbuh bintik-bintik merah di sekujur badannya. Awalnya hanya dianggap panas biasa, oleh karena itu orang tua Satria hanya membawa ke Klinik setempat. Mereka bingung ketika harus dirujuk ke RSUD Kabupaten Bekasi, karena tidak ada jaminan apa-apa. Jangan kan jaminan, di Kartu Keluarga saja belum tercantum atas nama Satria. Dan hal ini menjadi kendala ketika urus persyaratan ke Kantor BPJS karena menunggu persyaratan Kartu Keluarga. Tanpa pikir panjang dan mengulur waktu, kedua orang tua Satria membawanya meskipun tanpa jaminan. Setelah mendapatkan penanganan di IGD, akhirnya Satria disarankan untuk menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Bekasi. Ayah Satria, Pak Erman (40) berpenghasilan sebagai tukang ojek. Sedangkan ibunya, Bu Anna (37) hanya ibu rumah tangga. Kehidupan mereka jauh dari kecukupan sehingga layak dibantu. Alhamdulillah, Kurir #SedekahRombongan menyampaikan bantuan awal biaya perawatan IGD dan rawat inap untuk meringankan beban mereka.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.000.000,-
Tanggal : 13 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @SuharnaYana Mamat Maksudi @mardisay

Satria menderita Morbili

Satria menderita Morbili


MUHAMMAD ALDI (5, Cerebral Palsy). Alamat: Jl. Kenari 1 RT 7/4 Kelurahan Kenari, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Muhammad Aldi atau lebih akrab disapa Aldi, oleh dokter dinyatakan menderita Cerebral Palsy sejak usia menginjak 3 bulan. Saat itu Aldi kecil mengalami demam tinggi disertai kejang, oleh orangtua Aldi, Bapak Gunawan (42) dan Ibu Nuraeni (38)  Aldi dibawa ke Puskesmas terdekat. Tapi pihak Puskesmas langsung merujuk Aldi ke RSCM. Sempat menjalani rawat inap selama seminggu Aldi bisa pulang. Dan sejak saat itu Aldi harus bolak balik RS untuk kontrol rutin. Saat Aldi menginjak usia 2 tahun, Aldi mulai menjalani fisioterapi setiap seminggu 2x di RSCM. Sementara Bapak Gunawan sehari-hari hanya bekerja sebagai ojek dengan penghasilan yang tidak menentu. Ini menjadi beban tersendiri buat Bapak Gunawan. Alhamdulillah, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga ini dan menyampaikan santunan dari #Sedekaholics untuk biaya akomodasi ke RSCM setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 884. Orang tua Aldi mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Kini Aldi masih terus menjalani kontrol rutin, mohon doa dari rekan-rekan untuk kesembuhan Aldi.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 12 Oktober  2016
Kurir: @ddsyaefudin @harji_anis @untaririri

Aldi menderita Cerebral Palsy

Aldi menderita Cerebral Palsy


SILVA NADILA (3, Hydrocepalus). Alamat: Jl. Pulo Nangka 1 RT 8/2 Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Kotamadya Jakarta Barat, DKI Jakarta. Silva biasa bocah ini disapa, saat usianya menginjak sepuluh bulan terdapat tanda pembesaran kepala dan pernah mengalami demam tinggi. Karena khawatir, orang tua Silva membawa Silva ke RS Royal Taruma, di rumah sakit dilakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologi, dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui jika Silva menderita infeksi pada saluran pernafasan dan Hydrocepalus. Pihak dokter menyarankan jika sebaiknya Silva segera dilakukan operasi untuk pemasangan VP Shunt. Alhamdulillah dengan berbekal BPJS, semua tindakan bisa dilakukan. Setelah dilakukan tindakan operasi lingkar kepala Silva tidak bertambah besar. Tetapi Silva kecil masih terlihat lemas dan lunglai, belum bisa mengangkat kepalanya saat usianya sudah menginjak 2 tahun, sehingga Silva masih harus menjalani kontrol rutin ke RS. Orang tua Silva, bapak Sanajaya (43) dan ibu Sarni (33) tidak patah semangat untuk berjuang mencari kesembuhan putri pertamanya ini. Bapak Sana sehari-hari bekerja sebagai kuli angkut di sebuah pergudangan dengan penghasilan yang pas-pasan, sementara ibu Sarni sebagai ibu rumah tangga. Kadang bapak Sana bingung jika tiba jadwal kontrol tapi tidak ada biaya, dengan sangat terpaksa mereka seperti harus merelakan satu kesempatan hilang melihat anaknya sembuh. Alhamdulillah, ditengah kondisi itu #kurirSR dipertemukan dengan mereka dan menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya akomodasi dan keperluan sehari-hari buat Silva, setelah bantuan sebelumnya masuk Rombongan 884. Saat ini Silva masih harus menjalani fisioterapi setiap seminggu sekali di RS Royal Taruma dan rencananya Silva akan dibuatkan sepatu avo untuk membantu terapi berjalannya. Semoga apa yang telah diusahakan oleh orang tua Silva nantinya akan berbuah manis, ya bisa melihat sembuh. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 11 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @harji_anis @untaririri  Ryan Mita

Silva menderita Hydrocepalus

Silva menderita Hydrocepalus


SYAKILA CHOIRUNNISA (3, Hydrocepalus). Alamat: Jl. Hutan Jati RT 4/11 Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Syakila adalah putri kedua dari pasangan bapak Sultoni (33) dan ibu Sumiyati (34). Syakila terlahir beda dengan bayi pada umumnya, yaitu ada pembesaran di kepala. Saat ibu Sumiyati mengandung, sebenarnya sudah terdeteksi adanya virus tokso pada janin Syakila. Dokter sempat memberikan obat supaya virus itu mati, tapi yang terjadi virus malah berkembang. Sampai saat usia kandungan 9 bulan, Syakila harus terlahir dengan kondisi kepala yang besar (Hydrocepalus). Saat itu, dokter menganjurkan untuk operasi pemasangan VP Shunt jika usia Syakila sudah menginjak 3 bulan. Tapi, karena masalah internal operasi itu tidak kunjung dilakukan. Sampai saat usia Syakila menginjak 6 bulan, pihak rumah sakit menyarankan supaya Syakila dirujuk ke RSCM. Alhamdulillah, di RSCM Syakila langsung bisa dilakukan pemasangan VP Shunt, kondisinya juga baik. Beberapa bulan paska menjalani operasi, kadang Syakila mengalami kejang dan keluar busa dari mulutnya. Syakila kecil harusnya berobat rutin ke rumah sakit setiap seminggu sekali, tapi karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung akhirnya pengobatan dialihkan ke RSUD terdekat itupun tidak dilakukan secara rutin.  Bapak Sultoni sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta tapi gaji yang diterimanya tidak cukup jika harus dipakai untuk bayar kontrakan, kebutuhan sehari-hari dan masih untuk membeli susu dan pampers untuk anak kembarnya yang masih berusia 8 bulan (kakak Syakila). Sementara ibu Sumiyati dirumah mengurus ketiga putri kecilnya. Kadang jika waktunya kontrol tapi tidak mempunyai ongkos, orang tua Syakila harus meminjam uang ke tetangganya atau rela tidak berangkat ke rumah sakit. Alhamdulillah, ditengah perjuangan orang tua Asykila berikhtiar mencari kesembuhan untuk putrinya, Allah menuntun langkah #kurirSR untuk bertemu dengan mereka. Bantuan lanjutan untuk biaya akomodasi dan keperluan Syakila telah disampaikan setelah bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 884. Semoga ini akan sedikit banyak membantu mengurangi beban orang tua Syakila. Kini Syakila masih harus menjalani kontrol rutin di RSCM setiap  2 minggu sekali.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 10 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @harji_anis @untaririri  Ryan Mita

Syakila menderita Hydrocepalus

Syakila menderita Hydrocepalus


RIZKY NURANANDA (9, Granuloma pada Hidung dan Mulut). Alamat : Dusun Nelayan RT 8/3, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Rizky, begitulah gadis kecil ini dipanggil. Setahun terakhir ini Rizky lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Berawal pada Oktober 2015 lalu, terdapat benjolan kecil dan keras disamping hidung Rizky. Awalnya hanyak didiamkan karena berfikir itu akan menghilang dengan sendirinya, tapi lama kelamaan makin membesar dan melebar ke daerah mulutnya. Karena khawatir, oleh orang tuanya Rizky dibawa ke Klinik terdekat. Namun,tidak ada tindakan apapun, Rizky hanya diberi obat anti nyeri. Sampai bulan Maret 2016, Rizky dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah di Pontianak karena benjolan di hidung dan mulut Rizky telah menjadi luka yang lebar. Dari pihak dokter sebenarnya telah menyarankan supaya Rizky dirujuk ke Jakarta, tapi karena alasan biaya orang tua Rizky belum bisa mengindahkan saran dokter. Juli 2016, berbekal jaminan kesehatan BPJS orang tua Rizky membawa Rizky ke RSCM Jakarta. Alhamdulillah, di RSCM Rizky langsung dilakukan tindakan biopsi. Pasca menjalani biopsi tindakan yang harus dijalani Rizky adalah kemoterapi. Dua minggu menjalani kemoterapi, kini luka di hidung dan mulut Rizky semakin mengecil. Orang tua Rizky, bapak Abdur Rauf (44) adalah seorang nelayan dulunya, tapi semenjak menemani putrinya berobat beliau tidak bisa bekerja lagi. Sementara ibunya, ibu Leni Marlina (41) adalah seorang ibu rumah tangga. Empat bulan tinggal di Jakarta denganbekal yang seadanya tentu menjadi kendala tersendiri untuk bapak Abdur, belum lagi biaya kontrakan yang bisa dibilang mahal. Alhamdulillah ditengah kesulitan yang dihadapi, Allah menuntun langkah kurir #SedekahRombongan ke tempat Rizky dirawat dan menyampaikan bantuan awal untuk biaya hidup sehari-hari selama menjalani pengobatan di Jakarta. Semoga bantuan ini dapat meringankan sedikit banyak beban yang dihadapi keluarga Rizky dan proses pengobatan yang dijalani Rziky diberi kelancaran. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @harji_anis @untaririri

Rizky menderita Granuloma pada Hidung dan Mulut

Rizky menderita Granuloma pada Hidung dan Mulut


RIZA SAPUTRI (16, Sinoviosarkoma). Alamat : Ds. Teluk Kandai RT. 1/1, Kelurahan Teluk Kandai, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Gadis manis yang akrab disapa Riza ini adalah siswi kelas 2 SMP yang telah cuti selama 6 bulan karena harus menjalani proses pengobatan yang panjang. Bermula pada bulan Juli 2015 silam, di paha sebelah kanan Riza terdapat benjolan sebesar telur ayam, beberapa bulan sebelumnya sudah ada tapi Riza tidak berani mengatakan kepada orang tuanya. Sejak saat itu, orang tua Riza membawa Riza berobat ke RS. San Sani, tapi pihak dokter tidak mengetahui diagnosa pasti dari sakit yang diderita Riza. Tidak puas berobat di rumah sakit tersebut, orang tua Riza kemudian membawa Riza berobat ke RS. Eka Hospital, disana dokter mengatakan jika Riza menderita Tumor Jinak, tapi karena keterbatasan alat akhirnya pihak rumah sakit merujuk Riza ke RS. Arifin Ahmad Pekan Baru. Di RS. Arifin Ahmad, Riza langsung dirujuk pengobatan lanjutannya ke RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. Pada bulan November 2015, Riza bersama dengan kedua orangtuanya berangkat ke Jakarta untuk berikhtiar mencari kesembuhan. Di RSCM Riza langsung mendapat penanganan medis, setelah menjalani beberapa pemeriksaan, bulan Desember 2015, Riza dilakukan tindakan biopsi dan dari hasil biopsi tersebut dokter mengatakan jika Riza menderita Sinoviosarkoma. Setelah dilakukan tindakan biopsi, benjolan di paha Riza sempat membesar. Selama ini pengobatan yang dijalani adalah pemberian kemoterapi. Nanti untuk tindak lanjutnya akan dilakukan tindakan pengangkatan tumor jika respon pemberian terapi posistif. Hampir Selama 10 bulan Riza dan kedua orang tuanya berada di Jakarta untuk menjalani pengobatan tentu bukan menjadi hal yang mudah. Sebelum ke Jakarta ayah Riza, bapak Syafrizal (43) adalah seorang petani kebun dan ibunya, ibu Santi (38) sehari- hari menjadi ibu rumah tangga biasa. selama di Jakarta bapak Syafrizal tidak bisa berkebun lagi, untuk kebutuhan sehari-hari selama di Jakarta harus berhemat. Alhamdulillah Kurir #SR dipertemukan dengan keluarga ini dan kembali menyampaikan bantuan untuk kebutuhan selama di rumah sakit, setelah bantuan sebelumnya masuk Rombongan 884. Saat ini Riza masih menjalani rawat jalan dua kali seminggu di Poli Bedah Anak di RSCM Kiara untuk dilakukan tindakan kemoterapi. Riza dan keluarganya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan. Riza juga meminta doa dari #SahabatSR semoga jalan dia untuk mencari kesembuhan diberi kemudahan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000, –
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @harji_anis @untaririri

Riza menderita Sinoviosarkoma

Riza menderita Sinoviosarkoma


NANI MARYANI (50, Susp. Tumor Ovarium). Alamat : Kampung Babakan Baru RT  2/4, Desa Nagreg, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bersama anak satu-satunya, Bu Nani tinggal di rumah keluarganya. Dengan segala keterbatasan, mereka bahu-membahu saling membantu menjalani kehidupan.  Ketika Bu Nani sakit, keluarganya sekemampuan menjaga dan mendampinginya. Pada awal Januari 2016 Bu Nani merasa sakit di bagian peranakan. Setelah diurut atau dipijat oleh paraji, gejala aneh yang ia rasakan itu bukannya membaik, malah semakin mengakibatkan rasa sakit. Karena kondisi kesehatannya tak kunjung pulih, pada Februari 2016  ia dibawa periksa ke Puskesmas setempat. Karena Puskesmas menyatakan tidak sanggup menangani penyakitnya, akhirnya penanganan penyakit Ibu Nani dirujuk ke RSUD Cikopo Cicalengka Kabupaten Bandung. Di RSUD ini ia dicek darah dan di-USG. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Ibu Nani Maryani diduga kuat terkena penyakit Tumor Ovarium. Untuk lebih memastikan penyakitnya, Ibu Nani kembali diperiksakan ke RSHS Bandung. Setelah kembali di-USG , menjalani rontgent, dan berdasarkan pemeriksaan di laboratorium, Ibu Nani dinyatakan mengidap penyakit Tumor Ovarium Ganas dan dianjurkan untuk segera menjalani operasi. Setelah mendaftar serta berdasarkan antrian Ibu Nani akan mendapat jadwal operasi pada Februari 2017. Ibu Nani memohon bantuan doa dari kurir #SedekahRombongan yang mengunjunginya agar tindakan operasinya dapat segera dilaksanakan dan berhasil. Berdasarkan pengamatan kurir yang mengunjunginya, Bu Nani amat layak dibantu. Ibu Nani sangat menderita akibat rasa sakit. “Obat penahan sakit” yang harus diminumnya tidak terbeli. Di samping menanggung penderitaan dari penyakitnya, ia juga mengalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebagai seorang janda dan memiliki tanggungan seorang anak, sekarang ia tidak bisa lagi bekerja mencari nafkah. Biaya sehari-hari saat ini dibantu anaknya yang juga sudah berkeluarga. Harapan Bu Nani untuk terus berjuang melawan kanker, akhirnya sampai juga kepada kurir #SR. Pada 22 April 2016, MTSR Bandung sempat mengevakuasi Bu Nani ke IGD RSUD Cicalengka dan IGD RSHS Bandung karena kondisinya menurun drastis. Ia sempat tinggal tiga hari di RSSR.Bandung. Selain mendapatkan dampingan dari #SR, alhamdulillah ia juga mendapatkan bantuan dari sedekaholics yang digunakan untuk akomodasi selama berobat, membeli obat, dan biaya sehari-hari. Pada pertengahan Mei 2016, Bu Nani akhirnya dapat menjalani tindakan operasi di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung. “Karena menunggu antrian untuk masuk ruang rawat inap di RS Cibadak lama, terpaksa kami pindahkan operasinya ke rumah sakit lain. Biayanya dengan menjual rumah kami,” kata anaknya saat dijenguk kurir #SR. Kondisinya kini membaik walau ia harus kontrol satu bulan sekali. Bu Nani masih membutuhkan bantuan para dermawan untuk terus berobat dan mengurangi beban kehidupannya. Berempati atas apa yang dialami Bu Nani, pada bulan Oktober 2016,  SedekahRombongan kembali memberinya bantuan lanjutan yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi kontrol dan menjalani kemoterapi kembali. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 883.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @asepbima @lilisdariyah @muhtarefendi

Ibu nani menderita Susp. Tumor Ovarium

Ibu nani menderita Susp. Tumor Ovarium


SUMIATI BINTI KASAN (42, Gangguan jiwa). Alamat :  Jl. Binong Kidul No. 90A/127C RT 4/3, Kelurahan Kebon Kangkung, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ibu yang memiliki satu anak ini adalah istri Bapak Sutisna. Suaminya bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung. Karena profesi suaminya yang hanya buruh kecil tersebut, keluarga mereka hidup dalam kesederhanaan, bahkan sering mengalami kesulitan ekonomi. Kesedihan dan kesusahan keluarga mereka bertambah ketika pada tahun 2014 Ibu Sumiati mengalami tekanan batin dan stress berat. Ibu Sumiati mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa Nur Ilahi Bandung selama 10 hari. Walaupun Ibu Sumiati sudah tenang dan kembali ke rumah, suaminya tidak bisa meninggalkan rumah dan bekerja dalam waktu yang lama. Ia khawatir istrinya itu kembali mengalami gangguan jiwa dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Akibat penghasilannya dari kuli panggul semakin sedikit, suami Ibu Sumiati tidak mampu membeli obat penenang atau memeriksakan Ibu Suamiati secara rutin ke Rumah Sakit Jiwa. Puncak penderitaan dan kesusahan keluarga Bpk. Sutisna terjadi lagi pada bulan Juli 2016. Ibu Sumiati kembali mengalami gangguan jiwa yang semakin berat. Ia sering berteriak-teriak sendiri, mengganggu ketenteraman masyarakat, dan beberapa kali melakukan tindak kekerasan kepada anaknya yang baru berusia 11 tahun. Karena kondisi istrinya yang semakin meresahkan, Ketua RT beserta beberapa warga yang peduli berusaha mencari solusi agar dapat membatu Suami dan anak Ibu Sumiati tersebut. Sampailah kabar duka keluarga dhuafa tersebut kepada Kurir #SedekahRombongan, melalui Ibu Nani Rohaeni (Ketua RT) dan beberapa pemuda Karang Taruna di daerah setempat. Alhamdulillah, kurir #SR dapat berkunjung dan bersama-sama membicarakan cara untuk menolong Ibu Sumiati beserta keluarganya. Pada kunjungan pertama tersebut, kurir #SR juga alhamdulillah dapat menyampaikan titipan sedekaholics, berupa uang. Bantuan awal yang diterima suaminya ini digunakan untuk biaya transportasi mengurus pembuatan SKM, meminta surat rujukan dari Puskesmas, dan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa. Pada tanggal 5 Agustus kurir #SR bersama pengurus dan warga setempat berusaha membujuk Ibu Sumiati untuk dibawa ke rumah sakit. Pada saat itu Ibu Sumiati sedang mengamuk dan berusaha kabur. Alhamdulillah, dengan menggunakan MTSR kurir #SR bersama suami Ibu Sumiati dan para pengurus berhasil membawanya ke Rumah Sakit Jiwa Propinsi Jawa Barat di Cisarua Lembang Kabupaten  Bandung Barat. Ia akhirnya dirawat di RSJ binan Pemprov Jabar ini dengan menggunakan Jaminan kartu BPJS. Alhamdulillah #SedekahRombongan juga dapat menyampaikan bantuan awal pada bulan Agustus 2016 yang digunakan untuk biaya akomodasi selama ia dirawat dan biaya sehari-hari keluarganya. Pada Oktober 2016 kurir #SR kembali mengunjungi keluarga Ibu Sumiati. Dengan empati sedekaholics #SR, alhmdulillah kurir #SedekahRombongan di Bandung kembali memberinya bantuan untuk melanjutkan pengobatan dan perawatan Bu Sumiati di RSJ Cisarua Lembang Kab. Bandung Barat dan untuk memperbaiki gubuknya yang bocor & hampir runtuh. Bantuan Ke-3 ini diterima suaminya di rumah mereka yang belum layak huni, karena masih menunggu perbaikan. Bantuan sebelum ini tecatat di Rombongan 894.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal: 6 Oktober  2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @lilisdariyah @trietan

Ibu sumiati menderita Gangguan jiwa

Ibu sumiati menderita Gangguan jiwa


SUDRAJAT BIN DAHLAN (30, Lumpuh). Alamat: Kampung Gunung Leutik RT 2/16 Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Sebelum mengalami kelumpuhan, Pak Sudrajat dikenal warga sebagai pembuat gorengan dan jajanan di kampung, dibantu istrinya, Eulis (40) dan ibunya. Pak Ajat – demikian panggilan kesehariannya– menjajakan makanan dan jajanan produksinya berkeliling kampung dibantu oleh ibu dan istrinya. Hanya dari membuat dan menjual jajanan itulah keluarga mereka mencari nafkah. Akan tetapi, sejak tahun 2005, ayah dari satu anak ini tidak bisa lagi menjalankan usahanya karena ia sakit-sakitan. Bahkan kini ia hanya terbujur tak berdaya. Usaha kecilnya, membuat makanan dan berdagang, dilanjutkan oleh ibu dan istrinya. Berdasarkan penuturan keluarganya, awalnya Pak Sudrajat mengalami sakit panas yang sangat lama. Berbagai ikhtiar pengobatan dilakukan. Segala obat pernah ia coba, mulai “obat warung” sampai obat dari Puskesmas, tetapi sakit panasnya tidak kunjung turun apalagi hilang. Karena sakitnya itu, ia hanya mampu berbaring; seiring perjalanan waktu, kakinya terasa tidak berdaya dan mengalami kelumpuhan. Sayang, pengobatannya belum maksimal. Padahal, Pak Ajat sangat menimpikan untuk bisa sembuh seperti semula agar bisa bekerja menafkahi keluarganya. Kabar mengenai penderitaan Pak Ajat dan keluarganya yang dhuafa itu akhirnya sampai kepada kurir #SedekahRombongan di Bandung Alhamdulillah, kurir #SR dapat mengunjungi dan bertemu dengan Pak Ajat dan keluarganya. Kepada kurir #SR, Pak Ajat menceritakan kesulitan hidup mereka: “Karena kesulitan ekonomi yang kami alami, sering kami tidak mempunyai ongkos dan biaya untuk berobat ke dokter atau rumah sakit. Ia hanya berobat sekali-kali ke Puskesmas dengan menggunakan fasilitas BPJS,” tambah istrinya sambil menunduk. Mereka sangat berharap mendapatkan bantuan untuk biaya berobat ke rumah sakit. Alhamdulillah sedekaholics #SR memahami apa yang menjadi impian Pak Ajat serta berempati atas apa yang menimpa mereka dengan memberinya Bantuan Awal pada Maret 2016 dan mendaftarkannya sebagai pasien dampingan #SR. Pada Oktober 2016 kurir #SR di Bandung kembali menjenguk Pak Ajat di rumahnya. Alhamdulillah, kondisinnya semakin membaik, meskipun dia masih harus kontrol rutin ke rumah sakit. Karena ia masih membutuhkan uluran tangan sedekahokics, juga motivasi, kembali #SR menyampaikan santunan untuk Pak Ajat. Bantuan ke-4 ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 887.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda  @AzepBima @LilisDariyah @muhtarefendi

Pak sudrajat menderita Lumpuh

Pak sudrajat menderita Lumpuh


SAMSUDIN BIN OTO (58, Diabetes Melitus dan Gagal Ginjal). Alamat: Kampung Mumunggang RT.3./10 Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Bersama istri dan satu anaknya yang masih lajang, Pak Samsudin tinggal di rumah panggung sederhana, hasil kerja kerasnya, berdagang, sebelum ia terserang penyakit. Sejak awal 2011 Pak Samsudin tidak bisa bekerja lagi seperti biasa karena ia sakit-sakitan. Dengan menggunakan biaya pribadi, ia memeriksakan penyakitnya ke dokter praktek dan rumah sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Pak Samsudin pertama kali didiagnosa menderita kencing mannis (Diabetes Melitus). Ketika masih mengobati penyakitnya itu, ia juga dikatakan menderita gagal ginjal berdasarkan hasil pemeriksaan di RSHS Bandung. Di rumah sakit rujukan nasional ini ia pernah dua minggu dirawat, menggunakan biaya sendiri. Bertahun-tahun ia berobat, menguras segala yang ia miliki: kesabaran, harta dan air mata. Karena tidak punya lagi biaya, dia sempat berhenti berobat. Apalagi, istrinya pun, Imas Rosmiati (55) sudah setahun terserang Stroke. Atas saran saudaranya, ia kemudian membuat Kartu BPJS Kelas 3. Sampai saat ini dia bisa berobat lagi dan menjalani hemodialisa (cuci darah) seminggu dua kali di RS AMC Cileunyi Bandung, menggunakan fasilitas BPJS. Musibah yang menimpa Pak Samsudin dan keluarganya sampai kepada #SedekahRombongan atas informasi kader PKK di lingkungannya. Alhamdulillah #SR bisa bersilaturahmi dengan Pak Samsudin dan keluarganya, menyampaikan bantuan dari sedekaholics serta mendaftarkannya sebagai pasien dampingan #SR. Alhamdulillh masa kritisnya telah terlewati. Tetapi ia harus rutin kontrol dan berobat ke rumah sakit. Pada minggu kedua di bulan Maret 2016 kurir #SR di Bandung kembali menemu Pak Samsudin di rumahnya. Walaupun nampak membaik, ia masih harus melanjutkan berobatnya. Begitu juga, saat dikunjungi kurir #SR ke rumahnnya pada akhir April 2016, kondisinya belum membaik. Ia masih membutuhkan uluran tangan saudaranya yang peduli. Karena itu, kembali kurir #SR menyampaikan Titipan Langit dari sedekaholics #SR kepadanya. Bantuan yang ia terima di rumahya ini digunakan untuk membayar Iuran BPJS, ongkos ke rumah sakit, dan biaya sehari-hari. Dikarenakan sejak Mei proses cuci darah Pak Samsudin harus ia jalani 2x seminggu, maka pada bulan Juni sampai September 2016 kurir #SR secara berturut-turut kembali menyampaikan Titipan Langit dari sedekaholics #SR, yang akan digunakan untuk biaya transportasi dan akomodasi berobat. Pada bulan Oktober 2016 kurir #SR kembali menjenguk Pak Samsudin di rumahnya. Pada pertemuan itu diperoleh kabar bahwa kedua ginjal Pak Samsudin harus “dinuklir”. Namun, karena jadwal tindakan itu harus mengantri dan menunggu sampai Februari 2017, sementara kondisi Pak Samsudin semakin mengkhawatirkan, maka dokter menyarankan untuk melakukannya melalui jalur umum. Tetapi, Biaya “menuklir” melalui jalur umum tersebut tentu tidak ditanggung BPJS, dan biayanya berkisar antara Rp 1.500.000,-. Memahami betapa beratnya derita hidup Pak Samsudin dan keluarganya, kembali #SedekahRobongan memberinya santunan lanjutan  untuk biaya transportasi-akomodasi cuci darah dan biaya “menuklir” satu ginjalnya dulu. Semoga dari bantuan para sedekaholik nanti, secara bertahap kedua ginjal Pak Samsudin dapat “dinuklir” dan penyakit ginjal Pak Samsudin dapat disembuhkan. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 894.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @hengkisenandika @lilisdariyah

Pak samsudin menderita Diabetes Melitus dan Gagal Ginjal

Pak samsudin menderita Diabetes Melitus dan Gagal Ginjal


AI BABAN RAHMAWATI (43, Paru-paru MDR). Alamat: Jl. Moh. Toha Gg. Mesjid VI No 1 RT 04/ 10, Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ibu Ai Baban hanya seorang janda dan tidak memiliki pekerjaan. Sejak berpisah dengan suaminya, ia bersama satu anaknya, terpaksa harus tinggal bersama ayahnya yang sudah tua dan tidak memiliki pekerjaan. Kebutuhan sehari-harinya dibantu oleh adik perempuannya yang bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan bantuan lain, kadang-kadang, diperolehnya dari saudara laki-lakinya yang bekerja di luar kota, yang juga bekerja hanya sebagai buruh lepas. Dengan mengandalkan seorang adik perempuannya itu mereka hidup dalam keprihatinan. Sejak tahun 2012 Ibu Ai Baban mengidap penyakit paru-paru dan hanya berobat ke Puskesmas terdekat atau sekali-kali ke dokter umum. Akan tetapi penyakitnya itu tidak kunjung sembuh, hingga pada taun 2014 ia dinyatakan mengidap penyakit Paru-paru MDR dan harus berobat selama dua tahun tanpa berhenti. Mempertimbangkan penyakit yang beratnya itu, adiknya mendaftarkan Ibu Ai Baban dan anaknya sebagai peserta BPJS, agar mendapat pelayanan kesehatan gratis. Iuran setiap bulannya pun dibayar oleh adik perempuannya itu. Akan tetapi, karena beban biaya hidup yang semakin berat dan kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit keluarga mereka, sejak Agustus sampai September 2016 mereka tidak mampu lagi membayar iuran BPJS. Pada Oktober 2016, Ibu Ai ditolak berobat di RS karena harus melunasi tunggakan BPJS atas nama dirinya dan juga anaknya. Karena mereka benar-benar tidak memiliki uang untuk membayar tunggakan BPJS itulah, Ibu Ai dan keluarganya sangat sedih dan panik. Proses pengobatan paru-paru MDR-nya tidak boleh berhenti satu kali pun. Kisah menyedikan dan kesulitan hidup Ibu Ai itu akhirnya diceritakan oleh ayahnya kepada Ketua RW setempat, yaitu Bapak Dedi Junaedi. Kepada Ketua RW itu pula, ayah Ibu Ai meminta bantuan agar anaknya dapat berobat ke rumah sakit. Dari Pak Dedi itu pula kurir #SedekahRombongan di Bandung mendapat kabar menyedihkah tentang keluarga dhuafa tersebut. Bersyukur kurir #SR diberi Allah SWT kesempatan untuk mengunjungi Ibu Ai Baban beserta keluarga di rumahnya. Berempati atas penderitaan keluarga Ibu Ai Baban, pada kunjungan tersebut alhamdulillah kurir #SR dapat menyampaikan titipan para sedekaholics #SR berupa bantuan uang. Bantuan Pertama ini digunakan untuk melunasi tunggakan BPJS keluarga Ibu Ai serta untuk biaya transportasi dan akomodasi dalam ikhtiarnya berobat. Semoga bantuan para sedekaholics dapat membuka jalan bagi kesembuhan Ibu Ai Baban Rahmawati, serta semoga menjadi berkah bagi keluarganya juga bagi sedekaholics yang telah membantunya.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima

Bu ai menderita Paru-paru MDR

Bu ai menderita Paru-paru MDR


NENG RAHMAWATI (12, Leukemia). Alamat: Kp. Cibetik Cipageran, RT 5/14, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Anak dari Bapak Dede Syaefudin (47) dan ibu Ratmini (45) ini sejak setahun yang lalu berjuang melawan ganasnya Kanker Darah Akut. Penyakit yang Neng alami mengharuskan anak periang ini berobat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung hingga saat ini. Sang ayah, Dede Syaefudin, seorang kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh tani ini upah kerjanya hanya Rp.35.000,- per hari. Tak heran mereka sangat kesulitan untuk membeli obat yang tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan, yaitu Mercaptopurin. Obat ini harus diminum setiap hari. Kini Neng sedang menjalani kemoterapi sesuai tata laksana yang direncanakan. Alhamdulillah, setelah menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan, pemeriksaan dan kontrol Neng semakin teratur. Kondisinya kini mulai membaik, walaupun dia masih harus kontrol rutin. Pada akhir Desember 2014 kurir #SedekahRombongan bertemu dengan Neng Rahmawati dan keluarganya saat mereka berobat ke RSHS Bandung. Dengan izin Allah SWT pula saat itu #SedekahRombongan dapat mengantarkan titipan dari #Sedekaholics yang digunakan untuk membeli obat yang tidak dijamin BPJS Kesehatan. Pada pertengahan bulan Februari 2016, kurir #SedekahRombongan mendapat informasi bahwa Neng dirawat inap di RSHS Bandung untuk menjalani kemoterapi dan kontrol rutin. Saat ditemui, Neng dan keluarganya tampak kebingungan karena tidak punya biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung Jamkesmas dan biaya sehari-hari selama dirawat. Alhamdulillah, #SedekahRombongan kembali meringankan beban mereka dengan memberinya santunan yang disampaikan di Rumah Sakit Rujukan Pusat itu. Pada bulan Maret 2016 kurir #SedekahRombongan kembali bertemu dengan Neng dan ibunya saat mereka menjalani kontrol rutin ke RSHS Bandung. Pada saat itu kurir #SedekahRombongan alhamdulillah dapat menyampaikan titipan langit kepada mereka yang mereka terima di rumah singgah. Pada akhir Juni 2016 Neng dan ibunya bertemu lagi dengan kurir #SedekahRombongan saat ia berobat ke RSHS Bandung. Kondisinya membaik, tetapi ia masih harus menjalani terapi di rumah sakit rujukan pusat itu. Alhamdulillah kembali #SedekahRombongan dapat menyampaikan bantuan untuk Neng dan keluarganya. Hingga Oktober 2016, kondisi Neng terus membaik dan masih rutin menjalani pengobatan di RSHS. Bantuan lanjutan pun diberikan kepada Neng dan keluarganya untuk biaya pengobatan. Semoga bantuan sedekah ini membawa keberkahan bagi semua dan membuka pintu kesembuhan bagi Neng Rahmawati. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 870.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @abahlutung @hapsarigendhis @kharismagilda

Neng rahma menderita Leukemia

Neng rahma menderita Leukemia


MUHAMMAD RIFKI (12, Leukemia). Alamat: Blok Pakupatan RT 8/3 Kelurahan Wotgali, Kecamatan Plered, Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Rifki seorang anak yatim piatu yang saat ini diasuh oleh paman dan bibinya. Ia menderita kanker darah sejak 6 bulan yang lalu. Paman yang mengasuhnya, Warnijan (47) dan Bibinya, Salamah (45) sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Mereka termasuk keluarga dhuafa yang layak dibantu untuk meringankan beban hidupnya. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan Rifki serta bibinya dan dapat mengambil pelajaran hidup dari kisah mereka: ketabahan dan kesabaran. Mereka pernah tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Bandung dan sampai sekarang menjadi pasien dampingan kurir #SedekahRombongan di Bandung. Pendampingan untuk Rifki dilakukan sampai kini karena ia masih harus kontrol rutin ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Dengan izin Allah SWT, pada akhir Desember 2015, kurir #SedekahRombongan bertemu kembali dengan Rifki dan keluarganya, juga dapat menyampaikan bantuan untuk membeli obat yang tidak ditanggung Jamkesmas. Pada awal Februari 2016 kurir #SedekahRombongan bertemu kembali dengan Rifki saat ia berobat dan kontrol ke RSHS Bandung. Kondisi Rifki berangsur membaik, meskipun dia masih harus terus berobat karena belum dinyatakan sembuh secara medis. Rifki dan keluarganya masih membutuhkan bantuan untuk melanjutkan terapinya. Dengan bantuan #Sedekaholics, pada bulan itu alhamdulillah ia bisa berobat menjalani jadwal terapinya. Pada bulan April 2016 ia diperiksakan lagi ke RSHS Bandung sambil menjalani terapi rutin. Pada bulan keempat ini ia juga mendapatkan bantuan dari #SedekahRombongan. Pada Mei 2016 kurir #SedekahRombongan bertemu kembali dengan Rifki dan keluarganya di rumah singgah. Perkembangannnya cukup menggembirakan meskipun ia masih harus menjalani terapi di RSHS Bandung. Karena Rifki dan keluarganya masih membutuhkan dukungan untuk terus berobat, kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan #Sedekaholics untuk Rifki. Hingga Oktober 2016, bantuan dari #Sedekaholics tak henti-hentinya mengalir untuk Rifki. Alhamdulillah, #SedekahRombongan kembali bertemu dengan Rifki dan kondisinya saat ini terus membaik. Namun, ia masih harus menjalani terapi rutin di RSHS Bandung, #SR kembali memberinya santunan lanjutan untuk biaya berobat. Bantuan lanjutan ini diberikan #SedekahRombongan kepada Rifki yang digunakan untuk pembelian obat. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 870.

Jumlah Bantuan: Rp. 750.000,-
Tanggal: 5 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @abahlutung @hapsarigendhis @kharismagilda

Rifki menderita Leukemia

Rifki menderita Leukemia


ANDIKA SURYA (6, ALL). Alamat:  Kampung Gunung Guruh RT 35/17, Desa Cikajang,   Kecamatan Gunung Guruh,  Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Cukup lama Andika Surya mengidap penyakit kanker darah, Akut Leukimia Limfoblastik (ALL). Penyakit tersebut diderita Andika sejak akhir tahun 2014. Menurut penuturan orangtuanya, awalnya Andika kerap terlihat lemas, loyo dan sering sakit; bahkan berat badannya terus menyusut. Berbagai upaya dilakukan keluarganya untuk menyembuhkan Andika. Puskesmas, klinik, dokter praktek, dan RSUD menjadi tempat yang kerap mereka datangi untuk memeriksakannya. Akhirnya penanganan medis Andika dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah mendapatkan rujukan medis dari RSUD Bunut Sukabumi. Di Rumah Sakit Umum Pusat inilah keluarga dhuafa ini bertemu dengan kurir #SedekahRombongan dan menyampaikan keinginannya untuk bisa berobat di Kota Kembang di tengah kemiskinan yang mereka alami. Alhamdulillah sampai saat ini, Andika telah menjadi pasien dampingan #SedekahRombongan Bandung. Andika terlahir dari  keluarga yang kurang mampu.  Ayah Andika, Bapak  Sumanto (31),  sehari- hari hanya seorang  guru honorer di salah satu sekolah di Sukabumi. Ibunya,  Rini Andrian (31), hanya sebagai ibu rumah tangga biasa yang disibukkan dengan kegiatan kerumahtanggaan. Penghasilan keluarga ini sangat minim; hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai saat ini Andika masih menjalani terapi pengobatan di RSHS Bandung dengan menggunakan fasilitas jaminan BPJS Kesehatan. Alhamdulillah kondisi terakhir Andika semakin membaik. Bahkan, hasil BMP evaluasi tim dokter di Poli Hemato RSHS Bandung, menunjukkan bahwa kondisi Andika menuju ke arah sehat. Meskipun demikian, ia masih harus menjalani kontrol rutin. Untuk menjalani pengobatan, Andika harus berangkat dari Sukabumi menuju RSHS Bandung. Andika dan keluarganya membutuhkan uang transportasi dan bekal selama di Bandung, juga biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung oleh BPJS. Pada bulan September 2016, Andika menjalani kontrol ke RSHS Bandung dan bertemu dengan kurir #SedekahRombongan. Pada kesempatan bersilaturahmi itu, alhamdulillah kembali #SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk Andika. Alhamdulillah kondisinya menggembirakan, meskipun dia masih hars konol rutin bulan berikutnya. Begitu juga pada bulan Oktober 2016, #SedekahRombongan kembali memberi bantuan yang digunakan untuk pembelian obat Mercapto dan biaya transportasi-akomodasi berobat di RSHS Bandung. Saat ditemui #SedekahRombongan pada bulan Oktober 2016, kondisi Andika pun terus menunjukkan perkembangan yang positif. Semoga Allah memberi kesembuhan untuk Andika dan keberkahan untuk para dermawan. Aamiin. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 894.

Jumlah Bantuan: Rp.750.000,-
Tanggal: 5 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @abahlutung @hapsarigendhis @kharismagilda

Andika menderita Akut Leukimia Limfoblastik

Andika menderita Akut Leukimia Limfoblastik


DINDIN SETIAWAN (47. Suspek : Kanker di Dagu). Alamat : Kampung Nagrak Kulon RT.2/8 Desa Mangkurayat, Kecamatan Cilawu, Kabuaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Bersama istri dan lima anaknya yang masih membutuhkan uluran kasih sayang, Pak Dindin tinggal di rumah sempit dan kumuh. Dengan jumlah tanggungan keluarga enam orang, tidaklah mudah bagi Pak Dindin yang tidak memiliki pekeraan dan penghasilan yang memadai. Pak Dindin dan keluarganya termasuk dhuafa yang layak mendapatkan bantuan dan motivasi untuk menjalani kehidupan. Seperti pengakuannya kepada kurir #SR di Garut, kondisi ekonomi mereka semakin berat setelah Pak Didin sering sakit dan diduga terserang kanker di dagunya sekitar tahun 2013. Berbekal BPJS Mandiri Kelas 3, Pak Dindin memeriksakan dirinya ke Puskesmas dan RSUD Selamet Kabupatn Garut. Akan tetapi, ikhtiarnya tidak dilakukan secara rutin dan berkelanjutan karena ketidakadaan biaya. Bahkan iuran bulanan Kartu BPJS pun sudah lama tidak dibayarkan. Selama ia tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga, perannya digantikan oleh istrinya yang bekerja sebagai buruh cuci di warga sekitar kampungnya. Kesulitan hidup Pak Dindi dan keluarga serta keinginannya untuk terus berobat sampai beritanya kepada #SedekahRobongan melalui kurir di Garut yang sempat menemui mereka pada akhir bulan Agustus 2016. Dengan upaya kurir dan warga peduli lainnya, alhamdulillah, tunggakan iuran BPJS Mandiri atas nama Pak Dindin kini sudah dibayar lunas oleh Bapak Camat Cilawu yang juga berempati atas ujian hidup yang dialami Pak Dindin dan keluarganya. Pak Dindin akhirnya dapat meneruskan kembali tahapan pemeriksaannya ke RSUD Garut yang kemudian merujuk penanganan lanjutannya ke RSHS Bandung. Pada minggu pertama bulan September 2016, kurir #SR mendampinginya menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung dan memberinya bantuan awal untuk kelanjutan usahanya untuk sembuh. Pada 14 September 2016 penanganan medis Pqk Dindin dirujuk ulang ke RSUD Garut karena ia harus menjalani transfusi yang bisa dilakukan di rumah sakit daerah. Menggunakan MTSR Bandung, Pak Dindin dan istrinya diantar sampai terminal untuk menindaklanjuti rujukan RSHS tersebut. Akhirnya ia  dirawat di  RSUD Selamet Garut selama tiga hari. Pak Didin dan keluarganya masih membutuhkan bantuan. Pada 24 September 2016 semestinya ia berangkat lagi ke Bandung untuk menjalani tahapan pemeriksaan lanjutan di RSHS, namun rencana itu tidak terlaksana karena kondisinya menurun. Kurir #SR di Garut mendampinginya melakukan pemulihan di RSUD. Setelah masa kritisnya terlewati, pada minggu kedua Oktober 2016, Pak Dindin dijemput oleh kurir #SR untuk meneruskan tahapan pemeriksaan di RSHS. Alhamdulillah,  dengan bantun sedekaholics, #SedekahRombongan juga kembali memberinya bantuan Ke-3 berupa uang yang digunakan untuk biaya sehari-hari selama pengobatan. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 895.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 9 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @MahfudSalama @devayulianti

Pak dindin menderita Suspek : Kanker di Dagu

Pak dindin menderita Suspek : Kanker di Dagu


MIMIN AMINAH (53, TBC Tulang). Alamat: Kampung Babakan Pandan RT 6/2, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Hampir 10 tahun, Ibu Mimin mengidap penyakit TBC Tulang. Tepatnya sejak 2006. Akibat penyakit yang dideritanya, ia mengalami susah tidur yang menghambat dirinya untuk melakukan aktivitas. Bila sesekali harus bepergian, itu pun karena ia sangat membutuhkan obat. Selama sakit, Bu Mimin pernah menjalani operasi dan dipasang pen pada bagian punggungnya, namun sekarang sudah dilepas. Hingga saat ini, Bu Mimin masih harus menjalani pengobatan ke Puskesmas di daerah Cinunuk. Karena penyakitnya tak kunjung pulih, ia pun dirujuk oleh dokter Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Majalaya. Akan tetapi, karena tidak mempunyai biaya, sampai saat ini ia belum menjalani pemeriksaan dan pengobatan ke rumah sakit rujukan tersebut. Ketidakmampuannya secara ekonomi, membuat ia hanya pasrah. Tempat tinggal pun tak punya. Selama ini ia tinggal menumpang di keluarga adiknya karena tidak memiliki suami, tempat tinggalnya pun kini semakin memprihatinkan, lantaran pada atap bagian belakang rumahnya yang sudah mulai rapuh dan ditakutkan roboh. Jangankan untuk biaya berobat, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun, Bu Mimin hanya bisa menggantungkan hidup kepada keluarga adiknya yang juga penuh keterbatasan. Alhamdulillah kurir #SedekahRombongan berkesempatan lagi untuk mengunjungi dan melihat keadaan Bu Mimin, dan pada kesempatan tersebut Bu Mimin bercerita kepada kurir #SedekahRombongan beberapa waktu lalu, ia sempat jatuh di kamar mandi yang mengakibatkan dari pinggang bagian belakang sampai kepada telapan kaki kananya mengalami sakit yang luar biasa, namun Alhamdulillah Bu Mimin secepatnya langsung ditindak, diurut dan dibawa berobat ke puskesmas. Setelah diurut alhamdulillah sakit pada bagian kakinya sudah mulai reda, walalupun telapak kaki kanannya masih tetap kaku dan membuatnya semakin sulit berjalan. Berdasarkan pengamatan kurir #SR, ibu dhuafa ini sangat membutuhkan bantuan biaya dan pertolongan untuk dapat berobat ke rumah sakit rujukan. Bersyukur, kurir #SR pun bisa kembali menyampaikan santunan kepada Ibu Mimin yang dipergunakan untuk biaya pengobatan dan keperluan sehari-hari. Semoga santunan ini dapat membantu meringankan beban dan  kesulitan Bu Mimin, juga dapat mengurangi beban biaya keluarga adiknya yang selama ini menampung dan membiayai Bu Mimin. Santunan sebelum ini pernah diberikan dan tercatat di Rombongan 860.

Jumlah  Bantuan: Rp.500.000,-
Tanggal: 6 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @ cucucuanda @asepbima @zainab @Lilis Dariyah

Bu mimin menderita TBC Tulang

Bu mimin menderita TBC Tulang


REDI GUSTIANDI (23, Gangguan Kejiwaan). Alamat: Kampung Ciwidey Tengah RT 2/10 Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Anak kedua dari Bapak Aman (56) dan ibu Leni (56) ini tingggal di rumah kontrakan di Ciwidey bersama ketiga saudara kandungnya. Lima tanggungan keluarga ini amat memberatkan mereka. Apalagi, sejak empat tahun yang lalu, Redi mengalami gangguan kejiwaan. Berbagai upaya penyembuhan telah dijalankan keluarganya, baik melalui alternatif maupun medis (rawat jalan). Ia belum pernah dirawat inap secara intensif di rumah sakit, sampai mereka menjadi pasien dampingan #SR. Sebelum mendapatkan bantuan rutin dari sedekaholics #SR, Redi tidak memiliki jaminan kesehatan, baik Jamkesmas maupun BPJS. Fasilitas yang mereka miliki hanya SKTM dan Gakinda Kabupaten Bandung yang nominal jaminannya sangat terbatas. Domisili keluarga ini tidak menetap. Mereka kerap berpindah kontrakan. Perekonomian keluarga Rendi amat terpuruk. Ayahnya hampir dua tahun tidak bekerja karena sakit, dan kini sudah meninggal dunia (wafat: Oktober 2015). Karena Redi dan keluarganya perlu dibantu, kader PKK Desa Ciwidey menghubungi #SedekahRombongan untuk bersama-sama mencarikan solusi. Alhamdulillah kini Redi sudah memiliki Kartu BPJS Mandiri dan sudah termanfaatkan sejak 6 April 2015. Gangguan yang dialami Redi kerap meresahkan warga, sehingga kemudian ia dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Selama 19 hari akhirnya Redi dirawat inap di RSHS Bandung dengan dampingan #SedekahRombongan. Pada 5 Mei 2015 Redi diizinkan pulang dan harus kontrol seminggu kemudian. Kini pengobatan Redi bisa dilakukan di RSUD Soreang. Ia kontrol rutin sebulan sekali. Pada bulan Desember 2015, MTSR 1629 sempat mengantarnya ke RSUD Soreang bersama pasien yang lain. Pada 6 Februari 2016, ibunya memberitahu kurir #SR bahwa kondisi kejiwaan Redi memburuk. Ia lalu diantar kembali kontrol ke RSUD Soreang. Sehari kemudian ibunya mengabarkan bahwa anaknya mulai tenang. Pada awal April 2016 ibunya kembali menghubungi kurir #SR dan menuturkan bahwa Redi masih harus berobat. Begitu juga pada bulan Juli dan Agustus 2016 Redi sempat diantar kontrol ke RSUD Soreang. Pada bulan September 2016 ibunya mengabarkan bahwa pada minggu pertama September 2016 Redi harus menjalani kontrol rutin RSUD Soreang. Redi dan keluarganya yang tergolong dhuafa ini masih membutuhkan bantuan dan motivasi untuk meneruskan pengobatan. Alhamdulillah pada bulan September, #SR dapat membantunya. pada bulan Oktober 2016 dia juga masih harus kontrol ke RSUD Soreang dan masih memerlukan bantuan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics , kurir #SedekahRombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk Redi yang digunakan untuk biaya membayar iuran BPJS, dan keperluan sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat administrasinya di Rombongan 829.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 10 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @hapsarigendhis

Redi menderita Gangguan Kejiwaan

Redi menderita Gangguan Kejiwaan


TINI BINTI RASINAH (42, Kanker Servik). Alamat: Kp. Pasir Sareh RT 4/5, Kelurahan Sinarjaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Awalnya, Tini sering merasakan sakit pada bagian perutnya, namun ia tak pernah  menghiraukan rasa sakit yang dideritanya dan hanya menganggap sakit perut biasa. Setelah dua minggu, sakit perut yang dirasakan Tini tak kunjung membaik dan kondisinya malah semakin parah. Undang (45), suami Tini, tak tega melihat sakit yang diderita istrinya itu. Lantas, ia membawa Tini berobat ke Puskesmas terdekat. Setelah dua minggu berobat di Puskesmas, dokter belum bisa mendiagnosa penyakit yang dialami Tini. Akhirnya, Tini dirujuk untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut ke RS Hasan Sadikin Bandung. Setelah menjalani pemeriksaan, Tini didiagnosa mengidap penyakit Kanker Servix (Kanker Rahim). Selama kurang lebih satu tahun, Tini berikhtiar menjalani pengobatan di RSHS Bandung seorang diri. Undang yang kesehariannya bekerja sebagai buruh harian lepas tidak bisa pergi meninggalkan pekerjaan serta kedua anak mereka di kampung halaman. Itulah yang menyebabkan Tini harus menjalani pengobatan sendirian tanpa ada yang menemaninya. Untuk menjalani pengobatan, Tini mengaku merasa kesulitan dalam hal biaya. Penghasilannya sebagai pembantu rumah tangga dan upah sang suami yang tidak menentu, diakuinya hanya cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak mereka. Setiap berobat ke RSHS Bandung, ia juga kerap kebingungan karena ia tidak punya sanak saudara di Bandung. Kondisi ini membuatnya kesulitan: ia harus bolak-balik menjalani pengobatan tanpa ada yang mendampingi. Alhamdulillah, kurir #SedekahRombongan dipertemukan oleh salah satu pasien dampingan #SedekahRombongan yang berada pada satu ruangan bersama Tini. Kepada kurir #SR, ia lalu menceritakan kegetiran hidup yang dialaminya: tentang mahalnya obat yang harus dibeli, tengang tidak adanya bekal memadai selain sekadar ongkos untuk berobat, juga tentang tidak adanya keluarga yang mendampingi setiap kali ia menjalani kemoterapi. Tangisan dan doanya alhamdulillah didengar Allah Swt. Dengan empati sedekaholics, alhamdulillah, kurir #SR juga dapat menyampaikan titipan bantuan untuk Ibu Tini.  Bantuan lanjutan yang dia terima di Rumah Singgah SR ini digunakan untuk membantu biaya pembelian obat-obatan dan biaya sehari-hari selama di Bandung serta ongkos kembali pulang ke kampung halaman. Saat menerima titipan langit tersebut, Bu Tini mengucapkan banyak terima kasih kepada #SedekahRombongan atas bantuan lanjutan yang diberikan kepadanya. Ia pun mendoakan agar para donatur dan kurir #SR senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 870.

Jumlah Bantuan: Rp. 750.000,-
Tanggal:  10 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @avinptr

Ibu tini menderita Kanker Servik

Ibu tini menderita Kanker Servik


TUTIH BINTI APUD ( 55, tumor mata). Alamat: Kampung Cibeureum, Jl. Goalpara RT.3/5 Desa Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi Jawa Barat. Riwayat penyakit Bu Tutih berawal sejak  bulan Februari yang lalu. Bu Tutih menceritakan, awalnya ia  merasakan gangguan penglihatan disertai gatal di mata sebelah kanan. Semakin hari rasa gatalnya semakin bertambah dan kelopak matanya membengkak.  Kemudian Bu  Tutih dibawa periksa ke  RSUD Syamsudin Sukabumi. Setelah diperiksa,  ia diduga menderita tumor mata, sehingga harus dirujuk RS Mata Cicendo Bandung. Setelah menjalani berbagai tahapan pemeriksaan awal di rumah sakit rukukan nasional ini, akhirnya Bu Tutih menjalani operasi pada tanggal 11 Februari 2015 dengan menggunakan fasilitas jaminan kesehatan Jamkesmas.  Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Bu Tutih kemudian  diharuskan kontrol  kembali tanggal 1 Maret 2015. Selain  di RS Mata Cicendo Kota Bandung, ia juga ditangani pengobatannya di RSHS Bandung. Ibu penyabar ini harus menjalani 6 kali siklus kemo terapi untuk jangka waktu tiga bulan – dua minggu sekali dia mendapatkan tindakan kemoterapi sambil dirawat di RSHS Bandung. Sungguh berat cobaan hidup yang dialamuIbu Tutih dan keluarganya.  Mereka termasuk dhuafa yang layak mendapatkan bantuan dan dukungan  untuk terus mengikhiarkan kesembuhan. Bu Tutih hanyalah ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan selain dari suaminya. Suaminyasendiri, Pak Idim (60) hanyalah buruh bangunan yang penghasilannya tak seberapa dan tak menentu. Dengan tanggungan 3 anak dan satu istri yang kini diuii dengan penyakit serius, ia merasakan betapa bertatnya melalui kehidupan. Semenjak istrinya sakit, penghasilan Pak Idim digunakan sebagai bekal saat berobat ke Bandung. Saudara-saudara dekatnya memang tak tinggaal diam; mereka kerap membantunya, meskipun tidak bisa diandalkan selamanya karena mereka juga tidak termasuk orang berada. Dengan empati sedekaholics #SR, sampai saat ini alhamdulillah Bu Tutih masih bisa kontrol rutin ke RSHS Bandung. Pada bulan Oktober 2016, Bu Tutih dan anaknya datang kembali ke Rumah Singgah #SR Bandung untuk menjalani pemeriksaan setelah ia menuntaskan jadwal kemoterapinya. Walaupun kondisinya tampak membaik, ia masih harus kontrol ke rumah sakit dan belum dinyatakan sembuh total. Keluarga dhuafa ini masih membutuhkan bantuan untuk biaya berobat di RS Cicendo Bandung dan RSHS Bandung. Alhamdulillah #Sedekah Rombongan kembali menyampaikan Titipan Langit  untuk Ibu Tutih yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasidan biaya sehari-hari selama ia berobat di Kota Kembang. Semoga Allah Swt memberi kesembuhan kepada Ibu Tutih. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 877.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal :10 Oktober  2016
Kurir : @ddsyaefudin @cucucuanda @avinptr

Ibu tutih menderita tumor mata

Ibu tutih menderita tumor mata


DIDI MUHTAR (77, Stroke). Alamat: Kampung Babakan Pandan RT 6/2, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Di sebuah rumah bilik kecil, Pak Didi Muhtar tinggal bersama dengan istrinya yang juga sudah berusia renta. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, istrinyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Meski kondisinya sudah tua renta dan sering merasakan sakit di punggung, istri Pak Didi rela membanting tulang untuk menghidupi keluarga dan membiayai pengobatan suaminya. Hampir satu tahun, Pak Didi menderita stroke. Kondisi Pak Didi terlihat sangat memperihatinkan. Badannya semakin lemah. Karena kelumpuhan kaki kanannya, Pak Didi terpaksa harus menghabiskan hari-harinya dengan berbaring di tempat tidur. Untuk keperluan ke kamar mandi, dia harus merangkak bahkan menyeret badannya ke kamar mandi. Bahkan, dengan kondisi seperti itum, sebelum tim kurir #SedekahRombongan datang menjenguk, Pak Didi baru dua kali diperiksakan ke dokter. Sang istri bukan tak mau membawa suaminya itu berobat, namun himpitan ekonomi memaksa mereka harus pasrah dengan keadaan. Kondisi fisik sang istri yang saat itu juga tidak memungkinkan untuk mengurus segala keperluan Pak Didi.  Namun, Alhamdulilah, pada kunjungan kedua kurir #SedekahRombongan, sang istri yakni Bu Isah (66) beserta suaminya sudah terdaftar menjadi peserta BPJS kelas III, sehingga mempermudah Pak Didi untuk berobat ke klinik. Kondisi Pak Didi sekarang sudah lebih baik jika dibandingkan dengan saat ia ditemui untuk pertama kali. Meskipun dalam sehari-harinya kegiatan Pak Didi masih terbatas, secar umum tubuhnya tampak membaik padahal sebelumnya anggota badannya sulit bahkan ada yang tak bisa digerakkan. Tubuh bagian sebelah kirinya tidak lagi bermasalah; hanya saja yang bagian sebelah kanan masih sulit untuk digerakkan.Seperti kata Pak Didi sendiri, keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun demikian, ia masih membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, dengan empati para sedekaholics #SR, kurir #SR juga dapat menyampaikan kembali santunan kepada Pak Didi beserta istrinya untuk membantu biaya pengobatan: membayar angsuran BPJS dan biaya transportasi untuk berobat. Semoga Pak Didi senantiasa diberi kesembuhan oleh Allah SWT dan istrinya dianugerahi ketabahan dan kesehatan. Santunan sebelum ini tercatat di Rombongan 860.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000
Tanggal: 6 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @Lilis Dariyah @ZainabISusan

Pak didi menderita Stroke

Pak didi menderita Stroke


MUHAMMAD TAMIR (6, Atresia Ani). Alamat: Desa Jumpleng RT 3/3, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Tamir, sapaan akrabnya. Bocah laki-laki yang dikenal ceria ini menderita atresia ani, salah satu jenis kelainan bawaan sejak lahir. Kelainan yang diderita Tamir membuatnya sulit untuk buang air besar (BAB) karena rektrum (bagian akhir usus besar hingga lubang anus serta organ pencernaan terbentuk tidak sempurna. Selama sakit, Tamir menjalani pemeriksaan dan pengobatan di RSUD Indramayu, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di RSHS Bandung, ia disarankan untuk menjalani tindakan colostomy atau kolostomi. Operasi kolostomi ini adalah pembuatan lubang buatan pada saluran pencernaan untuk membuang kotoran. Alhamdulillah, operasi yang dilaksanakan pada bulan Juni 2016 di RSHS Bandung ini berjalan dengan lancar. Kini Tamir menjalani kontrol rutin pascaoperasi yang dijadwalkan sebanyak 6 kali. Tamir adalah putra pertama dari Bapak Rahmat (35) dan Ibu Rosidah (30). Kesehariannya, Bapak Rahmat bekerja sebagai buruh harian lepas dan Ibu Rosidah bekerja sebagai buruh cuci pakaian. Pekerjaan itu dilakoni keduanya kalau ada orang yang membutuhkan bantuan mereka. Alhasil, penghasilannya tidak menentu dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Himpitan ekonomi yang dihadapi keluarga Tamir, membuat mereka bingung bukan kepalang untuk membiayai pengobatan putra pertamanya itu. Selama berobat pun, Tamir hanya mengandalkan BPJS Kesehatan Kelas 3 yang dimilikinya. Bersyukur Allah SWT mempertemukan kurir #SedekahRombongan dengan keluarga kecil ini. Pada kesempatan silaturahim itu, alhamdulillah, kurir #SR juga dapat menyampaikan titipan langit dari sedekaholics kepada keluarga Tamir yang digunakan untuk biaya membeli obat pascaoperasi dan kebutuhan sehari-hari. Semoga bantuan dari sedekaholics ini dapat membuka jalan kesembuhan bagi Tamir.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 9 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @kharismagilda @avinptr

Tamir menderita Atresia Ani

Tamir menderita Atresia Ani


IMAS SUKAENAH (51, Pembengkakan jantung & Stroke). Alamat: Lingkungan Bebedahan RT 5/9 Kelurahan Kota Kulon, Kecamaan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Proinsi Jawa Barat. Sejak setahun yang lalu, berdasarkan pemeriksaan dokter di rumah sakit, Ibu Imas mengalami pembengkakan Jantung. Ia dirujuk untuk melakukan pengobatan ke rumah sakit Harapan Kita di Jakarta. Namun, karena keterbatasan biaya, proses pengobatan tersebut tidak mampu dilaksanakan. Ia hanyalah seorang janda yang hidup dalam keprihatinan dan sebelumnya harus mengurus tiga orang anak. Sekarang, untuk biaya hidup sehari-hari ia mengandalkan penghasilan anaknya, Hendra (24 tahun), yang bekerja sebagai pengantar galon air mineral. Dengan gaji Rp. 700.000,-/bulan, Hendra harus mencukupi kebutuhan hidup ibu dan kedua adiknya. Akibat tubuhnya yang lemah dan tidak mampu lagi beraktivitas seperti orang sehat, pada September 2016 Ibu Imas mengalami kecelakaan, terjatuh di kamar mandi yang kemudian menyebabkan ia terkena stroke. Karena itu pulalah penderitaan Ibu Imas dan keluarganya semakin bertambah, terutama bagi Hendra yang menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan satu orang anaknya, Aldi (13 tahun), terpaksa harus berhenti sekolah. Walaupun saat ini Ibu Imas memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), tetap saja ia tidak bisa berobat. Mereka tidak memiliki uang untuk biaya transportasi dan bekal untuk pulang-pergi ke rumah sakit. Belum lagi kondisi Ibu Imas kini sangat lemah dan sulit bepergian; bahkan, untuk ke toilet pun ia harus digendong. Kisah penderitaan Ibu Imas dan keluarganya yang memprihatinkan itu akhirnyasampai kepada kurir #SedekahRombongan melalui Pak Aat. Ia adalah Ketua RT di lingkungan tempat tinggal Ibu Imas. Syukur Alhamdulillah, kurir #SR dapat berkunjung dan bersilaturahmi ke rumah Ibu Imas. Selain kisah sedih yang diceritakannya, Ibu Imas dan keluarganya juga menyampaikan harapannya agar memperoleh bantuan supaya Ibu Imas dapat berobat dan kembali sehat. Pada kunjungan pertama itu, kurir #SR alhamdulillah dapat menyampaikan titipan langit, berupa uang, dari para sedekaholik yang berempati atas apa yang mereka hadapi. Bantuan uang tersebut digunakan untuk biaya transportasi dan akomodasi Ibu Imas berobat ke rumah sakit. Mudah-mudahan ikhtiar Ibu Imas dan keluarganya dimudahkan Allah SWT dan bantuan para sedekaholik #SedekahRombongan membuka jalan bagi kesembuhan Ibu Imas. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 Oktober 2016
Kurir: @ddsyaefudin @cucucuanda @azepbima @denisugama

Ibu imas menderita Pembengkakan jantung & Stroke

Ibu imas menderita Pembengkakan jantung & Stroke


MARJUKI BIN AMIL (65, Ca Pulmo). Alamat : Jalan Karya Bakti, Blok Kedung Krisik Utara, RT 2/5, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pak Juki, -demikian dia biasa disapa- menderita sakit pada bagian dada sejak beberapa tahun lalu. Karena dianggap sakit biasa, maka dia tidak terlalu mempermasalahkannya, hingga akhirnya merasakan sakit yang sangat hebat dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungjati pada bulan Juli 2016. Dokter menyatakan paru-paru Pak Juki terendam cairan akibat kanker paru-paru sekitar dua liter, dan dilakukan penanganan medis sampai diperbolehkan pulang seminggu kemudian. Sepulang dari rumah sakit, kondisi Pak Juki semakin buruk hingga mengalami koma dan dibawa kembali ke RSUD Gunungjati. Setelah lima hari di RSUD Gunungjati, Pak Juki mendapat rujukan untuk berobat di Rumah Sakit Paru dr. H. A. Rotinsulu Bandung. Namun keluarga Pak Juki memilih untuk berobat di Klinik Dokter Said Cirebon karena keterbatasan biaya. Pak Juki adalah suami dari Ibu Sukmiyah (60) dan ayah dari lima orang anak yang saat ini masih belum bisa membantu orang tuanya. Sebelum sakit, Pak Juki bekerja sebagai sopir di salah satu perusahaan meubel dengan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Selain harus memenuhi kebutuhan hidup, dia juga harus memikirkan pengobatan istrinya yang juga menderita sakit. Saat ini, karena kondisi kesehatan yang tidak baik, Pak Juki berhenti bekerja. Sesekali Pak Juki mendapat bantuan dari warga sekitar rumahnya, yang dimanfaatkan untuk biaya hidup dan transportasi jika berobat. Biaya pengobatan Pak Juki sendiri sudah ditanggung oleh BPJS PBI. Kurir #SedekahRombongan menyampaikan kepedulian dan empati mendalam atas keadaan Pak Juki dan keluarganya. Bantuanpun diberikan untuk proses pengobatan ke Bandung sesuai rujukan dari RSUD Gunungjati berupa sarana transportasi dan biaya hidup selama menjalani pengobatan di Bandung. Semoga dengan pengobatan lebih lanjut di Rumah Sakit Paru dr. H.A. Rotinsulu Bandung, Pak Juki segera diberikan kesehatan terbaik.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 9 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @myusela  @ahmaedshaleh @suniah

Pak marjuki menderita Ca Pulmo

Pak marjuki menderita Ca Pulmo


YAYAH BINTI RAKLANI (39, Ca Mamae Dextra). Alamat : Blok Duku, RT 2/1, Desa Semplo, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Ibu Yayah mulai merasakan ada kelainan berupa benjolan di bagian leher sejak setahun lalu. Semakin lama, benjolan tersebut mulai membesar dan menjalar ke bagian payudara sebelah kanan, hingga pada Maret 2016 Ibu Yayah berobat ke Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun Kabupaten Cirebon. Dokter RSUD menyatakan bahwa Ibu Yayah menderita kanker di payudara kanannya (Ca Mamae Dextra) dan pada pemeriksaan berikutnya disarankan operasi guna mengambil sampel penyakit untuk menentukan tindakan selanjutnya. Setelah sampel diambil, Ibu Yayah mendapat rujukan pemeriksaan laboratorium di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Setelah beberapa kali ke Bandung untuk pemeriksaan laboratorium, saat ini Ibu Yayah sudah menjalani tiga kali kemoterapi dari lima kali yang direncanakan sebelum operasi pengangkatan kanker di payudaranya. Ibu Yayah adalah istri dari Bapak Maman Supratman (45) yang sehari-hari bekerja sebagai penggarap sawah dan tinggal dalam sebuah rumah sederhana. Penghasilan Bapak Maman yang tidak terlalu besar, menyebabkan kesulitan biaya ketika Ibu Yayah harus ke Bandung untuk menjalani proses pengobatan walaupun biaya berobat sudah ditanggung oleh BPJS PBI Kelas III. Kurir #SedekahRombongan memahami keadaan keluarga ini dan berusaha membantu keinginan untuk sembuh dari Ibu Yayah dengan memberikan bantuan transportasi dan biaya hidup di Bandung selama berobat. Kondisi terkini Ibu Yayah semakin membaik dan harapan kesembuhan tidak pernah surut dari wajah Ibu Yayah ketika kurir #SedekahRombongan menyampaikan bantuan kedua beberapa hari lalu. Bantuan sebelumnya sudah diberikan untuk Ibu Yayah dan termasuk pada rombongan 898. Semoga sakit yang diderita Ibu Yayah segera berakhir dan mendapatkan kesehatan lebih baik.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 10 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @myusela @ahmaedshaleh dwi

Bu yayah menderita Ca Mamae Dextra

Bu yayah menderita Ca Mamae Dextra


NENI BINTI SAKUMIN (55, Glaukoma Mata Kiri). Alamat : Jalan Sunan Gunungjati, Gang Teladan, RT 2/3, Desa Jadimulya, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Pada awalnya Ibu Neni merasakan sakit dan perih pada mata. Karena merasa tidak terlalu sakit, dia memeriksakan matanya ke puskesmas setempat dan mendapatkan pelayanan medis, namun selanjutnya Ibu Neni mengkonsumsi obat-obatan non resep yang dia beli di warung untuk mengurangi rasa sakit. Kian hari justru matanya kian sakit dan mulai tidak bisa melihat dengan jelas sampai akhirnya dia memeriksakan kesehatan matanya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungjati Kota Cirebon. Dokter mendiagnosa Ibu Neni menderita glukoma mata kiri dan harus segera dioperasi, karenanya dirujuk ke Rumah Sakit Mata (RSM) Cicendo Bandung. Ibu Neni menolak operasi dan masih mengobati sakit matanya dengan obat yang tersedia seadanya hingga mata kirinya mengalami kebutaan dan mata kanan hanya bisa melihat samar-samar. Karena kondisi terakhir yang membuatnya tidak nyaman, akhirnya Ibu Neni memeriksakan kembali matanya di RSUD Gunungjati Kota Cirebon dan dokter merujuk dia kembali ke RSM Cicendo Bandung. Ibu Neni adalah istri dari Pak Jaeni bin Abdullah (60), seorang pedagang ayam keliling. Penghasilan sehari-hari hanya cukup bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu Neni dan Pak Jaeni memiliki seorang anak yang sudah berkeluarga, bekerja sebagai kuli bangunan namun kondisinya juga sangat sederhana dan belum bisa untuk membantu pengobatan orang tuanya. Bersyukur biaya pengobatan sudah ditanggung BPJS PBI Kelas III. Sementara Ibu Neni tidak dapat membantu suaminya karena keadaan kesehatan yang kian memburuk. Ketika pertama kali bersilaturahmi ke kediaman Ibu Neni, kurir #SedekahRombongan merasa prihatin dan ingin membantu pengobatan kesehatan matanya. Bantuanpun akhirnya diberikan untuk transportasi dan biaya hidup selama Ibu Neni berobat ke Bandung. Harapan dan do’a selalu disampaikan kepada setiap dhuafa yang dibantu oleh #SedekahRombongan, demikian pula Ibu Neni, semoga segera diberikan kesehatan yang baik.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 10 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @myusela @yosefpriyatno @ahmaedshaleh

Bu neni menderita  Glaukoma Mata Kiri

Bu neni menderita Glaukoma Mata Kiri


MUMUN MUNARISA (46, Myoma Uteri). Alamat : Blok Kembang Wetan, RT 2/6, Nomor 22, Desa Panongan, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Kami akrab menyapanya dengan panggilan Ibu Emun. Dia mengetahui sakit di bagian perutnya sejak delapan tahun lalu, dan setelah diperiksakan ke dokter, diketahui bahwa dia menderita sakit myoma uteri atau tumor jinak pada rahim. Karena tidak merasa sakit dan belum terasa benjolan yang berarti, maka penyakitnya tersebut diabaikan saja tanpa menganggap perlu untuk diobati. Beberapa tahun kemudian, perutnya kian membesar dan mulai terasa tidak nyaman. Setelah konsultasi, dokter menyarankan agar myoma Ibu Emun dioperasi, namun beberapa kali tertunda karena kondisi kesehatan dia yang melemah menjelang operasi dilakukan. Akhirnya, pada Oktober 2016 lalu, ketika memeriksakan diri ke Rumah Sakit Mitra Plumbon Cirebon, dokter menyarankan untuk segera dioperasi. Ibu Emun menyetujui dan pada saat operasi pengangkatan myoma, dokterpun sekalian mengangkat rahimnya dengan pertimbangan kesehatan Ibu Emun selanjutnya. Ibu Emun adalah seorang pembantu rumah tangga asal Cirebon yang bekerja di Jakarta. Rumahnya di Cirebon ditempati keponakan, sementara dia mengais rejeki di ibu kota. Hasil dari bekerja hanya cukup untuk hidup sehari-hari dan sedikit demi sedikit merapikan rumahnya yang sangat sederhana. Dia tidak mempunyai suami dan anak, karena itu dia memberikan hasil kerja kepada keponakannya. Biaya pengobatan Ibu Emun ditanggung oleh BPJS PBI Kelas III yang diurus oleh bidan setempat. Kurir #SedekahRombongan turut bersimpati atas sakit yang dideritanya. Sedekah Rombongan memberikan bantuan untuk operasional biaya pengobatan selanjutnya setelah operasi serta sedikit meringankan beban hidup sehari-hari. Atas bantuan yang diberikan, Ibu Emun menyampaikan terima kasih mendalam kepada para sedekaholics, seraya berdoa untuk kesembuhannya. Semoga Ibu Emun lekas sehat kembali dan beraktivitas seperti biasa.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @myusela @ahmaedshaleh dwi

bu mumun menderita Myoma Uteri

bu mumun menderita Myoma Uteri


WINDA YULIANA (12, TB Kelenjar). Alamat : Dusun Sukamulya, RT 3/5, Desa Cimara, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Winda Yuliana adalah seorang pasien dampingan #SedekahRombongan Kuningan. Ia merupakan siswi yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Di usia 12 tahun, kesehatan Winda sedikit terganggu. Hal itu berkenaan dengan adanya benjolan di bagian sebelah kanan leher Winda. Benjolan di lehernya semakin hari semakin membesar hingga mengeluarkan nanah. Menurut pemeriksaan tim medis, ia didiagnosa menderita TB kelenjar. Beberapa waktu lalu, benjolan pada leher Winda semakin membengkak dan meninggalkan lubang bekas nanah. Dengan dampingan #SedekahRombongan Kuningan, awal September lalu Winda menjalani operasi pengambilan sampel tumor pada lehernya. Saat ini keadaan Winda semakin membaik, karna selain rutin minum obat, juga makanannya harus dijaga. Dan untuk pengobatan saat ini ia juga harus menjalani pemeriksaan ke dokter spesialis anak untuk menjalani kontrol kesehatan. Alhamdulillah selama menjalani pengobatan Winda menggunakan bantuan jaminan kesehatan BPJS jenis Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibayar oleh pemerintah. Sebetulnya jaminan KIS sangat membantu proses pengobatan Winda, hanya saja Winda membutuhkan biaya transportasi dan biaya administrasi kontrol kesehatan ke dokter spesialis anak yang tidak ditanggung oleh jaminan KIS. Maklum saja, ayah Winda, Bapak Carya (56) adalah seorang buruh tani yang berpenghasilan tak tentu. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah #SedekahRombongan bisa menyampaikan santunan keempat untuk biaya transportasi dan kontrol kesehatan ke dokter spesialis anak. Semoga Allah memudahkan ikhtiar Winda demi kesembuhan penyakitnya. Aamiin. Sebelumnya Winda masuk ke dalam pasien rombongan 894.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Diah Boik

Winda menderita TB Kelenjar

Winda menderita TB Kelenjar


MI AL – ISTIQOMAH CIBINGBIN (Pembelian Peralatan Sekolah Untuk Anak Yatim). Alamat : Jl. Madrasah, No. 10, Desa Cibingbin, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Madrasah Ibtidaiyah Al Istiqomah Cibingbin adalah salah satu lembaga sekolah yang terdiri dari 12 ruangan kelas, setiap kelas dikelompokkan menjadi kelas A dan kelas B. Setiap kelas berisi kurang lebih 30 anak. Pada tanggal 11 oktober 2016 kemarin, MI Al Istiqomah mengadakan acara peringatan 10 Muharram yang diikuti oleh seluruh guru dan siswa sekolah MI Al Istiqomah. Acara dimulai dengan sholat dhuha bersama, kemudian dilanjutkan sambutan dari kepala sekolah dan penyampaian kultum. Setelah itu, masuk ke acara inti berupa pemberian santunan kepada anak yatim. Acara ini diakhiri dengan pembacaan doa bersama atau istigosah. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak tentang peristiwa pada bulan Muharram yang mana pada bulan Muharram dianjurkan bagi umat muslim untuk menyantuni anak yatim. Berkenaan dengan anak yatim, ada 11 orang siswa yang menjadi anak yatim di MI Al Istiqomah. Mereka terdiri dari 5 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan. Karena acara ini bersifat positif, maka kurir #SedekahRombongan Kuningan kemudian bergerak untuk ikut berpartisipasi dan menyampaikan santunan dari #SedekahRombongan kepada 11 anak yatim yang bersekolah di MI Al Istiqomah Cibingbin. Bantuan diberikan untuk meringankan beban orang tua yang tidak mampu sekaligus untuk membeli peralatan sekolah berupa buku. Semoga Allah meridhoi niat baik kita dan menjadikan mereka sebagai anak sholeh dan solehah serta menjadi anak yang membanggakan orang tua kelak dikemudian hari. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Uswatun

Bantuan Pembelian Peralatan Sekolah Untuk Anak Yatim

Bantuan Pembelian Peralatan Sekolah Untuk Anak Yatim


MEGAWATI BINTI M. YUSUF HUSEN (28, Jantung Bocor ). Alamat : Jln. Blang Bintang – Cot Mancang, Desa Cot Mancang, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Prov. Nanggroe Aceh Darussalam. Nama panggilannya Mega, seorang kakak yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Pada tahun 2015, kak Mega mengeluh sakit di bagian dada dan batuk mengeluarkan darah, kak Mega mengira ia hanya terkena infeksi paru-paru. Bulan April tahun 2015 kak Mega berobat di dokter spesialis paru, namun kak Mega masih batuk mengeluarkan darah. Di tahun yang sama tepatnya bulan Agustus kak Mega melakukan rontgen, dan hasilnya kak Mega didiagnosa jantung bocor. Selama tahun 2015 kak Mega hanya menjalani rawat jalan, dokter menganjurkan operasi ke jakarta karena katup jantung kak Mega harus di ganti. Kak Mega urung melakukan operasi dengan alasan tidak ada yang mendampingi. Sampai saat ini kak Mega masih menjalani rawat jalan dan berobat secara rutin untuk bertahan sebelum operasi. Kondisi kak Mega sekarang cepat lelah, nafsu makan kurang, kuku mulai kuning. Selama menjalani pengobatan kak Mega menggunakan BPJS PBI yang keseluruhan biaya di tanggung, kak Mega tinggal bersama suami dan 1 orang anak. Di tengah perjuangan kak Mega untuk sembuh, Alhamdulillah, ia dipertemukan dengan kurir #SedekahRombongan yang kemudian menjenguk di rumahnya. Bantuan pun disalurkan melalui kurir #SedekahRombongan yang digunakan untuk biaya transportasi dan sehari-hari. Kak Mega menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan. Semoga kesehatan kak Mega terus membaik, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @pratiwi

Ibu mega menderita  Jantung Bocor

Ibu mega menderita Jantung Bocor


NENGSIH BINTI KARTA MAKUN (57, Toxic Adenomatous Goiter). Alamat : Dusun Wage, RT 18/4, Desa Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Ibu Nengsih adalah salah seorang pasien dampingan #SRKuningan. Beliau saat ini menderita penyakit Toxic Adenomatous Goiter atau biasa disebut dengan peradangan kelenjar tiroid. Alhamdulillah, dengan dampingan kurir #SedekahRombongan Kuningan beliau bisa menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid di Rumah Sakit Sekar Kamulyaan Kuningan pada tanggal 13 September 2016 lalu. Selain itu, pada tanggal 26 September 2016 lalu Ibu Nengsih telah menjalani tindakan medis berupa pemasangan alevin di lehernya. Kondisi kesehatan beliau pasca operasi sudah semakin membaik. Namun, beliau harus menjalani kontrol kesehatan pasca operasi ke Rumah Sakit Sekar Kamulyan Cigugur Kuningan. Ibu Nengsih memanfaatkan kartu jaminan kesehatan BPJS jenis Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibayar oleh pemerintah untuk menjalani pengobatan. Namun, beliau membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit agar beliau bisa menjalani kontrol kesehatan. Maklum saja, suami Ibu Nengsih, Bapak Wardi (60) hanya bekerja sebagai buruh tani yang memiliki penghasilan sangat minim. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terkadang masih kesulitan. Ibu Nengsih dan suami merasa kesulitan berkenaan dengan biaya transportasi. Alhamdulillah berkat pertolongan Allah #SedekahRombongan dapat menyampaikan santunan ketiga kepada Ibu Nengsih untuk biaya transportasi kontrol kesehatan ke rumah sakit. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada Ibu Nengsih. Aamiin. Sebelumnya Ibu Nengsih masuk ke dalam pasien rombongan 896.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Diah Boik

Ibu nengsih menderita Toxic Adenomatous Goiter

Ibu nengsih menderita Toxic Adenomatous Goiter


MUHAMMAD NAZAR (1, Tumor Mata ). Alamat : Jln. Tapak Tuan – Medan Lhok Calang Rayeuk, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Biasa dia dipanggil Nazar, bocah tampan asal Aceh yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Umur 4 bulan Nazar sudah menderita sakit, mata bagian kanan Nazar terlihat bintik kuning tepatnya di kornea. Keesokan harinya Nazar dibawa ke pukesmas terdekat untuk menjalani pemeriksaan, dan setelah itu dokter hanya memberinya obat tetes. Kondisi mata Nazar sempat membaik namun beberapa minggu kemudian bintik itu membesar. Akhirnya keluarga memilih berobat non medis, selama 5 bulan Nazar berobat non medis awalnya memang kelihatan membaik. Tetapi semakin lama mata Nazar merah dan bengkak. Nazar langsung dirujuk ke rumah sakit setempat, dari hasil lab Nazar didiagnosa Tumor ganas di matanya. Tanggal 25 September 2016 Nazar dirujuk ke rumah sakit umum Zainol Abidin daerah Banda Aceh, untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Pada tanggal 4 Oktober 2016 Nazar menjalani kemo untuk pertama kali dan Nazar harus melewati 7 kali kemo lagi. Kondisi sekarang rambut mulai rontok, mencret dan lemas. Selama menjalani pengobatan Nazar menggunakan BPJS PBI, saat ini Nazar tinggal bersama orang tuannya. Alhamdulillah, di tengah semangatnya untuk sembuh ia dipertemukan dengan kurir #SedekahRombongan yang kemudian menjenguknya dirumah sakit. Bantuan pun disalurkan melalui kurir #SedekahRombongan yang digunakan untuk keperluan Nazar. Keluarga Nazar mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan. Semoga Nazar cepat sembuh. Amin

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 30 September 2016
Kurir : @ddsyaefudin @pratiwi

Nazar menderita  Tumor Mata

Nazar menderita Tumor Mata


TINI BINTI RAMLAN (39, Gangguan Penglihatan) Alamat: Jatikarya, RT 15/4, Desa Karanglinggar, Kec Teluk Jambe Barat, Kabupaten Karawang, Provinsi jawa barat. Ibu Tini adalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa (IRT). Gejala sakitnya berawal pada tahun 2010, saat itu matanya terkena serbuk kayu ketika tetangganya sedang memperbaiki rumahnya. Ibu Tini tidak menyangka jika kejadian itu akan berdampak pada kebutaan. Hal yang dilakukan olehnya saat itu hanya meneteskan obat mata yang beredar di pasaran namun sakitnya tidak kunjung reda. Ibu Tini sempat memeriksakan dirinya ke Puskesmas terdekat, karena semakin lama penglihatannya menjadi kabur dan kemudian menjadi tidak bisa melihat sama sekali. Namun saat itu Dokter di Puskesmas  menyatakan bahwa  kemungkinan Ibu Tini terkena penyakit katarak dan harus dilakukannya operasi untuk Ibu Tini diminta untuk memeriksakan lebih lanjut kondisinya ke Dokter Spesialis mata di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten Karawang. Ibu Tini tidak memiliki biaya transportasi untuk memeriksakan diri ke RSUD, karena suami Ibu tini, Tinggal (60) berprofesi sebagai tukang pijat keliling yang penghasilannya tidak menentu. Belum lagi mereka memiliki tanggungan dua orang anak. Kurir #SedekahRombongan bertemu Ibu Tini di rumahnya atas dasar informasi seorang tetangga yang peduli. Menggunakan fasilitas jaminan kesehatan berupa Kartu Indonesia Sehat (KIS), kurir #SedekahRombongan membantu memfasilitasi agar Ibu Tini bisa memeriksakan dirinya ke Dokter Spesialis mata di Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM). Setelah dilakukan pemeriksaan di BKMM, Dokter menyatakan bahwa kebutaan yang dialami oleh Ibu Tini bersifat permanen dan bukan disebabkan oleh penyakit katarak namun lebih kepada akibat peristiwa tahun 2010 yang lalu. Satu-satu nya jalan yang bisa ditempuh oleh Ibu Tini untuk bisa melihat kembali adalah dengan melakukan operasi penggantian bola mata. Kurir #SedekahRombongan memberikan santunan awal untuk membantu biaya kebutuhan sehari-hari Ibu Tini dan suaminya. Semoga Ibu Tini diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan ujian yang dialaminya. Aamiin..

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @zerinabanu @andraalfarabi

Ibu tini menderita  Gangguan Penglihatan

Ibu tini menderita Gangguan Penglihatan


AMIN BIN ASAN (57, Diabetes Mellitus). Alamat : Dusun Wanajaya RT 28/6, Kel. Kalangsari,   Kec. Rengasdengklok, Kab. Karawang, Prov. Jawa barat, Prov. Jawa Barat. Penyakit Bapak Amin bermula dari kecelakaan yang dialaminya pada tahun 1981. kecelakaan yang dialaminya waktu itu menyebabkan Bapak Amin mengalami patah tulang pada kakinya. Saat itu Pak Amin tidak pernah memeriksakan dirinya ke Dokter, pengobatan yang dilakukannya hanyalah berupa dipijit ke tukang pijit dekat rumahnya. Saat ini muncul luka menganga di bekas lukanya tersebut. Tepatnya 4 bulan lalu mulailah timbul luka baru di kaki Pak Amin, melihat luka dikakinya semakin membesar  inilah Pak Amin akhirnya berobat ke klinik terdekat. Sepulangnya dari klinik, dan mendapatkan suntikan pada saat itu, yang dirasa bukannya membaik namun luka di kaki Pak Amin semakin menganga. Karena sakitnya Pak Amin pun tidak dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga 9 anaknya. Istrinya, Ibu Engkay (48) seorang ibu rumah tangga mengungkapkan selama ini Pak Amin tidak berusaha mengobati sakitnya ke Rumah Sakit.  Kurir #SedekahRombongan membantu memfasilitasi pengobatan untuk Pak Amin, meski Pak Amin memiliki Kartu Indonesia Sehat. Bantuan diberikan untuk  biaya transportasi ke RSUD karawang. Semoga Pak Amin mempunyai semangat untuk kesembuhan penyakitnya, berusaha yang terbaik agar bisa kembali sehat seperti sedia kala.. Aamiin..

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 10 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @zerinabanu Kiki @etydewi

Pak amin menderita  Diabetes Mellitus

Pak amin menderita Diabetes Mellitus


RAMADHAN BIN BONIN (20 Bulan, Gizi Buruk, ISPA). Alamat: Desa Solokan, RT 1/1, Dusun Kerajaan, Kec. Pakisjaya, Kab. Karawang, Prov. Jawa Barat. Ramadan terlahir dengan kondisi memprihatinkan dengan berat badan hanya mencapai 1,7 kg.  Dibandingkan dengan balita seusia Ramadan pada umumnya, pertumbuhannya bisa dibilang sangat lamban. Menginjak usianya ke 20 bulan berat badan Ramadan hanya 4,2 kg. Belakangan Ramadan sulit untuk menerima asupan makanan, namun orang tua Ramadan merawatnya sendiri, dan tidak berusaha memeriksakan kondisi Ramadan ke Rumah Sakit. Bahkan saat bertemu dengan kurir #Sedeka Rombongan yang berusaha membujuk Orang tua Ramadan terus menolak untuk memeriksakan anaknya, sampai akhirnya kurir #SedekahRombongan berhasil membujuknya untuk diperiksakan di Puskesmas terdekat. Dokter di Puskesmas tersebut menyatakan Ramadan menderita Gizi Buruk dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Agar ditangani lebih serius Puskesmas memberikan rujukan  ke Rumah Sakit Umun Daerah Kab. Karawang.  Senin lalu 10 Oktober 2016, Ramadan akhirnya dibawa ke RSUD Kab. Karawang. Selama 4 hari Ramadan di Rumah Sakit Ramadan masih saja kesulitan menerima asupan makanan karena  infeksi pada gaster (lambung)dan ususnya. Ayah Ramadan Bonim (37 ) dan ibunya Marni (25) mengungkap kekhawatirannya saat dijenguk Kurir #SedekahRombongan, pekerjaannya sebagai buruh lepas, dan istrinya yang hanya ibu rumah tangga biasa, membuat mereka terbebani oleh biaya selama perawatan. Saat ini Ramadan menggunakan fasilitas jaminan kesehatan dari Kartu Indonesia Sehat. Bantuan awal diberikan kurir #SedekahRombongan saat di Rumah Sakit. Bapak Bonin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan, Harapan kami semoga Ramadhan senantiasa sehat, dapat tumbuh menjadi anak yang kuat , normal seperti anak seusianya pada umumnya.. Aamiin..

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2016
Kurir : @ddsyaefudin @zerinabanu robby @etydewi

Pak ramadhan menderita Gizi Buruk, ISPA

Pak ramadhan menderita Gizi Buruk, ISPA


NURHOSNA BIN MUSAKKI (46, Tumor Mata ). Alamat : Desa Dawuhan RT 1/2, Kec. Batu, Kab. Bondowoso, Jawa Timur. Sejak awal September 2014 lalu, muncul benjolan pada mata Bu Nurhosna, kemudian Bu Nurhosna memeriksakan dirinya di RSUD Bondowoso dan didiagnosa mengalami penyumbatan pada saluran air mata sebelah kanannya. Semakin hari benjolanpada mata kanan Bu Nurhosna semaikin bertambah besar. Sehingga pada akhirnya beliau dirujuk untuk berorat ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Namun karena keterbatasan biayatransportasi ke Surabaya beliau hampir putus asa untuk tidak melanjutkan pengobatannya. Bu Nurhosna seorang ibu rumah tangga dengan tanggungan 2 orang anak. Beruntung kami tim #SedekahRombongan bertemu dengan beliau.#SedekahRombongan membantu biaya pengobatan, transpotasi serta membantu membuatkan BPJS untuk Bu Nurhosna.Bantuan kembali disampaikan oleh #SedekahRombongan sejumlah Rp. 500.000,- untuk biaya berobat & transportasi. Sebelumnya bantuan untuk Bu Nurhosna masuk dalam rombongan 899. Saat ini Bu Nurhosna masih rutin setiap satu bulan sekali datang ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk kontrol dan mengikuti jadwal kemoterapi. Pihak keluarga merasa sangat senang dan bersyukur atas bantuan yang disampaikan. Semoga pengobatan Bu Nurhosna bisa segera selesai dan dokter menyatakan sembuh. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 12 Agustus 2016
Kurir:  @wahyu_CSD @Martinomongi @EArynta

Ibu nurhonsa menderita Tumor Mata

Ibu nurhonsa menderita Tumor Mata


NJOO SWIE FOEN (61, Kanker Payudara). Alamat:  Jl. Syamanhudi No 35, Jember, Jawa Timur. Bu Gio biasa dipanggil, beliau adalah seorang janda yang suaminya juga merupakan salah satu pasien #SedekahRombongan yang telah meninggal dunia. Sakit yang diderita Bu Gio berawal dari munculnya benjolan di payudaranya, setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dokter mendiagnosa Bu Gio menderita kanker payudara stadium 3. Dan diharuskan untuk operasi. Total biaya operasi sebesar Rp. 35.000.000,- dan Bu Gio  membayarnya dengan menggunakan uang tabungan serta uang hasil berhutang kepada saudara-saudaranya. Setelah operasi dokter mewajibkan Bu Gio untuk menjalani kemoterapi dan sinar radiotherapy secara rutin, namun beliau sudah tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pengobatannya tersebut. Bu Gio sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga dan tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya. #SedekahRombongan merasakan kesulitan Bu Gio, kemudian diberikan bantuan sebesar Rp. 500.000,- yang digunaka untuk biaya transportasi ke Surabaya. #SedekahRombongan juga membantu Bu Gio dalam pembuatan BPJS dan pembayaran iuran BPJS. Mulai awal menjalani kemoterapi dan radiotherapy Bu Gio telah didampingi oleh #SedekahRombongan. Bantuan sebelumnya sudah diberikan dan masuk di rombongan 898.  Saat ini semua proses kemoterapi dan radioterapi sudah selesai, namun muncul benjolan lagi yang semakin membesar di punggung beliau dan saat ini masih dalam tahap diagnosis. Saat ini Bu Gio masih rutin kontrol ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya setiap sebulan sekali.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 10 Agustus 2016
Kurir:   @wahyu_CSD @rathyajelita @EArynta

Ibu njoo menderita  Kanker Payudara

Ibu njoo menderita Kanker Payudara


PONIMAN bin amat tahun, usia 53 th menderita sakit Tumor kantong kemih bertempat tinggal di Desa Buyut RT 303 RW 003 Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon Jawa Barat,suami dari ibu Rohina 44 th. Sebelum sakit pak poniman pernah bekerja serabutan, tetapi setelah sakit sudah lama tidak bisa bekerja, sedangkan istrinya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Beberapa tahun berobat di Cirebon dan Bandung keluarga ini akhirnya kehabisan biaya untuk hidup dan pengalaman. Karena sudah kebingungan akhirnya memutuskan untuk pulang kampung ketempat saudaranya di tempat bapak Jemirin yang beralamat di Dusun Klendrekan, Banjarsari, Samigaluh, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keluarga yang ditumpanginya juga dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Ternyata di Kulonprogo keadaannya semakin ngedrop, dibawa kerumah sakit charitas bhakti ningsih di Klepu minggir Sleman. Karena keadaannya yang sudah begitu lemah, pihak rumah sakit menyarankan untuk dibawa ke RSA UGM, tidak perlu pakai rujukan langsung ke ugd saja biar bisa lebih cepat proses adiministrasinya. Tiga hari dirawat di RSA UGM kemudian dirujuk ke RS DR. Sardjito Yogyakarta. Manusia hanya berikhtiar namun Allah berkehendak lain, setelah sempat dirawat di SR. Dr. Sardjito selama 3 hari,pada tanggal 11 September sekitar pukul 22.00 WIB tepat dimalam takbiran idul adha, bapak Poniman meninggal dunia.
Alhamdulilah #Sedekah Rombongan dipertemukan dengan keluarga almarhum bapak Poniman untuk menyampaikan santunan titipan dari #Sedekah Holics, untuk meringankan beban biaya selama pengobatan dan pemakaman alm bapak Poniman. Segenap #Kurir sedekah rombongan turut betduka cita, mendoakan semoga diampuni segala dosa-dosanya, diterima segala amal baeknya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kemudahan dalam melanjutkan kehidupan.

Santunan Rp.  2.000.000,-
Tanggal Penyampaian : 9 September 2016
Via kurir :@Saptuari Sugiharto @Faisal Gudeg @JemiRikab

Pak poniman menderita sakit Tumor kantong kemih

Pak poniman menderita sakit Tumor kantong kemih


Makmun bin Muzakir 58 th Sakit komplikasi Jantung Asma Asam lambung Pekerjaan Buruh Serabutan.Suami dari ibu Sutiyah 43 th
Pekerjaan ibu rumah tangga.Bertempat tinggal di Pedukuhan Ngentak RT 02 RW 03 Desa Pondokrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
Mempunyai 3 orang anak, anak pertama bekerja sebagai buruh di toko bangunan, anak ke 2 masih kelas 2 SMK anak ke 3 masih kelas 4 SD
Bapak Makmun menderita sakit jantung sejak 21 tahun yang lalu dan selalu harus berobat. Tetapi karena ketiadaan biaya hanya sering dibelikan obat di apotek itupun kalau kebetulan lagi ada uang. Karena untuk biaya makan sehari-hari saja keluarga ini susah. Sebenarnya pak Makmun harus banyak istirahat tetapi demi bisa meringankan beban ekonomi keluarga, walaupun sakit ditahan-tahan dipaksakan untuk tetap bekerja. Sakit yang diderita terpaksa kadang harus ditahan demi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun berusaha tetap bekerja, keluarga ini terpaksa masih berhutang dibeberapa pihak : Hutang di kampung Rp.  400.000,- Tunggakan pembayaran Lipstik Rp 150.000,- Warung sembako Rp 120.000,-
Tahun 2006 pernah dirawat dirumah sakit, dengan biaya rumah sakit yang dibantu dari patungan suka rela warga disekitarnya. Karena keterbatasan ekonomi keluarga sejak saat itu tidak pernah diperiksakan kerumah sakit lagi dan hanya dibelikan obat kalau pas ada uang. Sejak sebulan yang lalu kesehatan pak Makmun makin menurun, bahkan sejak 5 hari yang lalu susah makan, setiap kali makan muntah. Tetapi pihak keluarga tidak berani membawa kerumah sakit karena takut tidak sanggup membayar biaya rumah sakit. Atas bujukan warga sekitar, pada tanggal 23 agustus 2016 akhirnya dibawa kerumah sakit RSUD Sleman. Di rumah sakit tersebut dokter menyarankan untuk opname. Kendala yang dihadapinya adalah, biaya hidup dan biaya yang tidak tercover BPJS. Sedangkan kondisi pak Makmun masih sangat lemah. Keluarga ini membutuhkan uluran tangan #Sedekah holics karena untuk hidup sehari-hari saja susah ditambah lagi harus dirawat dirumah sakit dengan masih mempunyai hutang dibeberapa pihak.
Alhamdulilah #Sedekah Rombongan dipertemukan dengan pihak keluarga pak Makmun, untuk menyampaikan santunan Rp 1.500.000,- titipan dari #Sedekah holics, untuk turut serta meringankan beban keluar pak Makmun. Keluarga pak Makmun menyampaikan terimakasih dan semoga #Sedekah Holics dilancarkan segala urusannya

Santunan Rp 1.500.000., –
tgl penyampaian :24 Agustus 2016
kurir @Saptuari Sugiharto @Faisal_gudeg @Kedunk Ussil @JemiRikab

Pak makmin menderita Sakit komplikasi Jantung Asma Asam lambung

Pak makmin menderita Sakit komplikasi Jantung Asma Asam lambung


MAJALAH TEMBUS LANGIT #SEDEKAHROMBONGAN VOLUME 11 EDISI KHUSUS MILAD 5 #SR (Biaya Cetak). Gerakan #SedekahRombongan kini telah memasuki usia yang ke-5. Selama itu pula, #SedekahRombongan telah menyalurkan dana bantuan dari #Sedekaholic kepada ribuan dhuafa dan orang-orang yang membutuhkan. Semakin hari, kami semakin bertransformasi, salah satu bentuk inovasi kami adalah menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Majalah Tembus Langit (MTL). MTL adalah Media Inspirasi Gerakan #SedekahRombongan. #SedekahRombongan baru saja menggelar perayaan milad ke-5 tepatnya pada 27-28 Agustus 2016 di D’Season Premiere Hotel, Jepara, Jawa Tengah. Majalah Tembus Langit pada edisi kali ini merupakan edisi khusus yang menampilkan kaleodoskop Milad #SedekahRombongan mulai yang pertama sampai yang keempat, dan tentu saja yang kelima ini. MTL Edisi Khusus Milad 5 #SR terbit pada Oktober 2016. MTL dicetak sebanyak 1000 eksemplar dan didistribusikan ke lebih dari 20 wilayah kerja #SR se-Indonesia, untuk disampaikan kepada #Sedekaholic. MTL juga didistribusikan ke berbagai kalangan mulai dari karyawan, pengusaha, entertainer, hingga pejabat teras, dan dibagikan secara cuma-cuma. Proses produksi MTL Edisi 11 membutuhkan biaya sebanyak Rp. 8.500.000,- untuk biaya cetak. Hadirnya MTL diharapkan dapat membuka jendela baru untuk mengembangkan jaringan ke seluruh negeri. MTL merupakan wujud ucapan terima kasih kami kepada #Sedekaholic dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyaluran sedekah kepada dhuafa dan orang-orang yang membutuhkan yang tergabung lebih dari 900 rombongan. MTL juga merupakan salah satu bentuk pelaporan kepada masyarakat pada umumnya dan kepada #Sedekaholic pada khususnya, tentang pelaporan dana sedekah yang mereka titipkan melalui #SedekahRombongan. Semoga MTL dapat terbit setiap bulan secara rutin dan semoga kisah-kisah nyata yang dihadirkan dapat menginspirasi dan menebar manfaat. Amin…

Jumlah : Rp. 8.500.000,-
Tanggal : 17 Oktober 2016
Kurir : @Saptuari

Biaya Cetak

Biaya Cetak


DIA MARDIANA (15, Peradangan pada Rahim + Lumpuh ). Alamat : Jln. Prof. M. Yamin, Gg. Eka Daya, No. 33, RT 2/5, Kel. Kota Baru, Kec. Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Prov. Kalimantan Barat. Remaja berusia 15 tahun ini adalah seorang siswi SMP di daerah Kota Pontianak. Sayangnya Dia harus putus sekolah karena menderita penyakit yang cukup serius, terdapat penyakit pada rahimnya dan ia mengalami kelumpuhan. Penyakit tersebut membuat Dia tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Awalnya kondisi kesehatan Dia baik, namun setelah kejadian 3 bulan silam ia mengalami pelecehan seksual dan kini ia menjadi sering sakit – sakitan. Meskipun pelaku telah dijerat hukum, rasa trauma dan sakit yang diderita masih Dia rasakan. Kondisi tersebut menjadi ujian yang sangat berat bagi keluarga, terlebih lagi dengan kondisi orang tua Dia yang hidup dalam kemiskinan. Jangankan untuk biaya berobat, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari saja terkadang tidak terpenuhi. Alhamdulillah keluarga Dia dipertemukan dengan kurir #SedekahRombongan, bantuan awal pun diberikan untuk biaya berobat. Semoga Dia segera pulih dan bisa menjalani aktivitasnya seperti biasanya, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2016
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 @ririn_restu

Dia menderita  Peradangan pada Rahim + Lumpuh

Dia menderita Peradangan pada Rahim + Lumpuh


RINA ASTUTI (16, Kelainan Tulang Belakang). Alamat : Jalan Adi Sucipto Gang Masjid, RT 3/4, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Berawal dari 3 bulan yang lalu, Rina merasakan ada yang aneh dengan kondisi tubuhnya dimana jika ia duduk terlalu lama langsung kesemutan dan punggungnya sakit luar biasa. Kondisi tersebut berlangsung lama hingga akhirnya keluarga membawanya ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan ada kelainan di tulang ekor yang membuat Rina tidak bisa duduk dan dokter menyarankan untuk dirujuk ke Jakarta. Biaya berobat dan kebutuhan hidup selama di Jakarta yang tidak sedikit, membuat keluarga mulanya mengurungkan niat untuk melanjutkan pengobatan Rina. Dengan dampingan #SedekahRombongan, alhamdulillah Rina dapat menjalani pengobatan di RSCM Jakarta. Setelah beberapa bulan berobat, Rina diperbolehkan pulang oleh dokter. Rina harus mengonsumsi obat selama dua bulan dan kontrol rutin di RSUD Provinsi Kalimantan Barat, jika dalam dua bulan terakhir tidak ada perubahan dokter menyarankannya kembali lagi ke RSCM Jakarta untuk menjalani suntik di bagian tulang belakang. Kurir #SedekahRombongan kembali memberikan bantuan lanjutan untuk biaya transportasi pulang ke Pontianak. Sebelumnya Rina telah dibantu pada Rombongan 899.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 9 Oktober 2016
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 @ririn_restu

Ibu rina menderita Kelainan Tulang Belakang

Ibu rina menderita Kelainan Tulang Belakang

REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 MTSR MAGELANG 4,500,000
2 RIRIN INDRAWATI 500,000
3 ERISKA DWI NOFITRI 500,000
4 MTSR BEKASI 4,000,000
5 RSSR JAKARTA 14,500,000
6 RAMI BINTI RAWA 500,000
7 ADNIN NUGROHO 500,000
8 KRISTIANA VITA SARI 2,500,000
9 RAHMA RAHIDATUL 1,000,000
10 SATRIA BIN ERMAN 2,000,000
11 MUHAMMAD ALDI 1,000,000
12 SILVA NADILA 500,000
13 SYAKILA CHOIRUNNISA 500,000
14 RIZKY NURANANDA 1,000,000
15 RIZA SAPUTRI 500,000
16 NANI MARYANI 500,000
17 SUMIATI BINTI KASAN 1,000,000
18 SUDRAJAT BIN DAHLAN 500,000
19 SAMSUDIN BIN OTO 1,000,000
20 AI BABAN RAHMAWATI 500,000
21 NENG RAHMAWATI 750,000
22 MUHAMMAD RIFKI 750,000
23 ANDIKA SURYA 750,000
24 DINDIN SETIAWAN 500,000
25 MIMIN AMINAH 500,000
26 REDI GUSTIANDI 750,000
27 TINI BINTI RASINAH 750,000
28 TUTIH BINTI APUD 750,000
29 DIDI MUHTAR 500,000
30 MUHAMMAD TAMIR 500,000
31 IMAS SUKAENAH 500,000
32 MARJUKI BIN AMIL 1,000,000
33 YAYAH BINTI RAKLANI 1,000,000
34 NENI BINTI SAKUMIN 500,000
35 MUMUN MUNARISA 500,000
36 WINDA YULIANA 500,000
37 MI AL – ISTIQOMAH CIBINGBIN 500,000
38 MEGAWATI BINTI M. YUSUF HUSEN 500,000
39 NENGSIH BINTI KARTA MAKUN 500,000
40 MUHAMMAD NAZAR 500,000
41 TINI BINTI RAMLAN 500,000
42 AMIN BIN ASAN 500,000
43 RAMADHAN BIN BONIN 500,000
44 NURHOSNA BIN MUSAKKI 500,000
45 NJOO SWIE FOEN 500,000
46 PONIMAN bin amat tahun 2,000,000
47 Makmun bin Muzakir 1,500,000
48 MAJALAH TEMBUS LANGIT #SEDEKAHROMBONGAN VOLUME 11 8,500,000
49 DIA MARDIANA 500,000
50 RINA ASTUTI 1,000,000
Total 66,000,000

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 0,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM ROMBONGAN

Rp. 42,892,945,287,-

Mau bantu Mereka?
Silahkan transfer ke rekening SedekahRombongan

Bank BCA a/c 84655-23456
Bank Mandiri a/c 137-00111-0011-8
Bank Syariah Mandiri a/c 4111-4111-45
Bank Muamalat a/c 532-000-6666
a/n Sedekah Rombongan

Takkan berkurang harta yang disedekahkan. Ia justru akan bertambah..bertambah dan bertambah...


Comments are closed.