Rombongan 1100

Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api
Posted by on January 17, 2018

CASTIM BIN SARMUDI (51, Radang Tenggorokan + Stroke Ringan). Alamat : Dusun I, RT 4/2, Desa Cipondok, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Pak Castim merupakan seorang kepala rumah tangga yang hidup sederhana. Di usia ke 51 tahun, beliau harus menderita stroke ringan dan radang tenggorokan. Pertengahan Nopember lalu beliau mengeluh sakit pada bagian leher sebelah kiri dan sakit gigi, sehingga dibawa ke dokter terdekat. Berdasarkan pemeriksaan dokter, beliau juga mengalami radang tenggorokan. Kemudian, dokter memberi resep obat untuk Pak Castim. Namun, keesokkan harinya sakit di tenggorokan tidak kunjung membaik sehingga dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kondisi beliau semakin turun dan harus dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD). Kemudian beliau dirawat beberapa hari sampai akhirnya kondisnya pulih. Akan tetapi, Bapak Castim memiliki jaminan kesehatan BPJS Mandiri kelas 3 yang sudah menunggak selama 1 tahun. Beliau tidak memiliki biaya untuk membayar setiap bulannya. Penghasilan beliau sebagai buruh harian lepas hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Istri beliau, Ibu Carki (45) hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja di luar tugasnya mengurus rumah tangga. Selain itu, beliau juga tidak memiliki biaya transportasi ke rumah sakit. Alhamdulillah, Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan dengan Bapak Castim sehingga santunan awal dapat disampaikan kepada beliau untuk biaya transportasi ke rumah sakit dan pembayaran BPJS. Semoga Allah memudahkan ikhtiar beliau untuk mendapat kesembuhan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000
Tanggal : 8 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Diah Maya

Pak Castim menderita stroke ringan dan radang tenggorokan


YOSI SANUSI (37, Reumatoid Artitis). Alamat : Kp. Babakan Ciseek, RT 3/8, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Bu Yosi sudah sejak 8 tahun yang lalu Menderita Reumatoid Artitis atau biasa disebut Rematik Sendi. Penyakit yang dirasakannya itu sering membuat Bu Yosi kesulitan melakukan aktifitas seperti biasanya untuk menjadi kepala keluarga sejak suaminya meninggal beberapa tahun silam. Ia harus bekerja sebagai Buruh Cuci untuk menghidupi kedua anaknya yang masih bersekolah dan membutuhkan biaya. Berawal dari kebiasaan Bu Yosi yang sering mengeluhkan sakit pada bagian sendi – sendi di seluruh badannya. Ia lantas memeriksakan kondisinya ke RSUD Ciawi dengan diantar alm. Suaminya. Sampai di RS Ciawi serta menjalani berbagai rangkaian pengobatan ia rujuk kembali ke dokter spesialis di RSCM untuk melakukan pengobatan lanjutan. Pengobatannya memang sudah dicover oleh BPJS yang dimilikinya namun yang menjadi kendala adalah biaya transportasi dan akomodasi ke RSCM. Mengingat Bu Yosi hanya bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari – hari ditambah jarak yang lumayan jauh dari rumahnya di Megamendung ke RSCM Jakarta. Bantuan lanjutanpun disampaikan untuk Bu Yosi yang digunakan untuk akomodasi control ke RSCM serta untuk bantuan biaya hidup sehari – hari. Semoga Allah Subhanahu wa Taa’la menguatkan Bu Yosi untuk menjalani segala macam ujian yang sedang dihadapi. Aamiin. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 1047

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 1 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @omguguh @kasriyanto @rexy_eas

Pak Yosi menderita reumatoid artitis


SITI HALIMATUN SADIAH (21, Tuberculosis). Alamat : Kampung Manggis, RT 3/4, Kelurahan Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Siti sudah mengalami penurunan kesehatan sejak pertengahan tahun 2016 dan ketika diperiksakan ke puskesmas diketahui bahwa ada Flek di Paru – Paru Siti. Namun karena Siti tidak disiplin meminum obat yang diberikan oleh puskesmas akhirnya pada awal tahun 2017 sakit yang dideritanya kembali kambuh dan ketika di periksa di RS. Cisarua diketahui bahwa Siti sudah mengidap TB yang dikarenakan kurang disiplin meminum obat yang diberikan pada saat di puskesmas. Kini Siti hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan selalu ditemani tabung oksigen di sebelah kasurnya sambil menunggu jadwal control di RS. Cisarua. Memang untuk pengobatan Siti sudah tercover oleh KIS yang ia miliki, namun lagi – lagi kendala akomodasi yang dihadapkan pada Siti karena jarak dari rumahnya ke RS. Cisarua yang lumayan jauh dan banyak mengabiskan uang untuk ongkos. Pak Tata dan Bu Rukimini tidak bisa berbuat banyak karena mereka juga sudah tidak bekerja karena umur yang sudah tua dan anak – anaknya yang lain juga tingkat ekonominya sama dengan mereka dan hanya bisa membantu untuk makan sehari – hari. Bantuan lanjutan dari para sedekaholic disampaikan untuk Siti yang digunakan untuk Akomodasi Siti ke RS. Cisarua. Semoga Siti cepat sembuh agar dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Aamin. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 1002.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 27 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @omguguh @kartimans1@rexy_eas

Siti mengidap TB


ADE BINTI AUS (73, Katarak). Alamat : RT 6/3, Desa Sadarkarya, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Mak Ade, akrab kami memanggilnya. Ia memiliki keinginan untuk sembuh dari penyakit kataraknya, semata-mata agar bisa kembali mengaji al-Quran dengan baik dan benar. Selama satu tahun ini ia menderita katarak, selama itu pula ia hanya bisa mengobati matanya menggunakan salep yang ia beli di apotik terdekat. Ingin sekali ia menjalani pengobatan di Rumah Sakit mata, namun terbentur dengan biaya. Maklum saja selama ini ia hanya bisa mengandalkan pemberian anak-anaknya yang tidak terlalu besar dan baru cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Alhamdulillah dengan ijin Allah kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Mak Ade, kami menyampaikan titipan bantuan dari para sedekaholics untuk biaya pengobatan kataraknya. Semoga dengan bantuan ini Mak Ade bisa kembali membaca al-Quran dengan lebih jelas lagi.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 27 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal

Bu Ade menderita penyakit katarak


RASYA BIN RANA (10, Leukimia Limfoblastik Akut). Alamat : Dusun Buer, RT 6/1, Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Rasya adalah siswa sekolah dasar. Awalnya sepulang sekolah Rasya mengeluh seluruh badannya ngilu dan panas, hal itu terjadi setahun yang lalu. Orangtua Rasya pada waktu itu membawanya ke Dokter terdekat dan Dokter menyarankan agar Rasya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karawang. Diagnosa dokter di RSUD Kabupaten Karawang menyatakan bahwa Rasya terkena penyakit Leukimia Limfoblastik Akut yang dalam bahasa umum kita kenal dengan kanker sel darah putih. Kemudian Rasya dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Rasya sebelumnya sudah menjadi pasien dampingan kurir Sedekah Rombongan Bandung dan sudah mulai menjalani kemoterapi siklus ke 60. Selain kemoterapi, Rasya juga diharuskan mengonsumsi obat Mercaptopurin. Alhamdulillah setelah serangkain kemoterapi yang sudah dijalankan kondisi Rasya sekarang sudah semakin membaik. Orang tua Rasya, Bapak Rana (33), berprofesi sebagai pedagang asongan dan Ibu Siti Hasanah (32) adalah seorang IRT. Jaminan kesehatan yang dimiliki Rasya adalah JKN-KIS PBI namun ia kesulitan untuk membeli obat yang harus ia konsumsi secara rutin. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan dana santunan lanjutan yang diberikan secara rutin setiap bulan nya untuk membantu membeli obat tersebut. Bantuan sebelumnya masuk ke dalam Rombongan 1014. Semoga Rasya diberikan kekuatan serta semangat dalam menjalani serangkaian pengobatan dan kemoterapi sampai sehat kembali seperti sedia kala. Aamiin..

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 20 Juli 2017
Kurir : @ddsyaefudin @zerinabanu @abahlutung @giantosu

Rasya terkena penyakit Leukimia Limfoblastik Akut


AZAMIL HASAN (5, Acute Limpoblastic Leukemia ). Alamat : Dusun Tengkolak Timur RT 4/2, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Azamil putra ketiga pasangan Bapak Nuriban (55) dan Ibu Kartini (48). Berawal dari sakit demam tinggi yang terus menerus dan memar disekujur tubuhnya yang ia rasakan 3 tahun lalu. Orang tua Azamil membawanya ke Puskesmas terdekat sampai akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan di RSHS Bandung diketahui ia menderita kanker sel darah putih atau dalam bahasa medis disebut dengan Acute Limphoblastic Leukemia (ALL). Alhamdulillah Azamil yang rutin menjalani kontrol di RSHS Bandung kini telah bersih dari sel kanker dan telah menyelesaikan kemoterapi yang selama ini dijadwalkan. Azamil dianjurkan dokter untuk melakukan kontrol 3 bulan sekali. Sampai saat ini Azamil yang didampingi orangtuanya masih tinggal di Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bangung, yang merupakan rekanan dari Sedekah Rombongan. Ayahnya , Bapak Nuriban yang seorang buruh harian dan istrinya yang seorang ibu rumah tangga menuturkan, untuk pengobatannya selama ini Azamil menggunakan jaminan kesehatanJKN-BPJS Mandiri kelas III. Namun mereka kesulitan untuk membeli obat yang tidak ditanggung oleh Jaminan Kesehatan karena obat tersebut wajib dikonsumsi Azamil hingga 3 tahun kedepan. Santunan lanjutan kembali disampaikan kepada Azamil untuk membantu biaya membeli obat yang harus ia konsumsi. Setelah bantuan sebelumnya masuk dalam Rombongan 1014. Semoga bantuan dari para sedekaholics dapat memberikan semangat bagi Azamil dan keluarga dalam mencapai kesembuhan Azamil. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 20 Juli 2017
Kurir : @ddsyaefudin @zerinbanu @ambuabah @giantosu

Azamil menderita kanker sel darah putih


SITI NURJANAH (11,ALL). Alamat : Dusun Pulo Luntas RT 5/2, Desa Sukamulya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Nur, demikian nama panggilan sehari-hari dari Siti Nurjanah. Nur merasakan gejala sakit semenjak awal bulan April 2017. Kepala terasa pusing, mual hingga muntah, terasa sesak di dada berlangsung selama satu minggu. Hingga akhirnya Nur diperiksakan di Klinik Medika Wadas di daerah Kabupaten Karawang. Dari hasil pemeriksaan Laboratorium diketahui kadar Hemoglobin Nur turun hingga 2 mg/dl yang seharusnya berada di kisaran 11-13 mg/dl. Keadaan ini mengharuskan Nur dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karawang. Setelah menjalani perawatan dan pemeriksaan di RSUD Karawang, Nur dinyatakan menderita Anemia Aplastic atau kekurangan darah. Namun dokter di RSUD Karawang menganjurkan Nur untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di RSHS Nur menjalani serangkaian pemeriksaan, diantaranya adalah pemeriksaan BMP atau pemeriksaan sumsum tulang belakang. Dari hasil pemeriksaan tersebut Nur dinyatakan terkena Akut Lympoblastic Lekemia (ALL) atau kanker darah, sehingga Nur harus menjalankan protokoler kemoterapi di RSHS Bandung. Meskipun menggunakan Jaminan Kesehatan KIS-PBI dalam pengobatannya namun Orang tua Nur, yakni Pak Juri (55) dan Ibu Wasem (49) yang kesehariannya bekerja sebagai buruh lepas dan Ibu Rumah Tangga merasakan kesulitan untuk menyediakan biaya hidup dan transportasi selama di Bandung. Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan kembali bisa menyampaikan bantuan dari para Sedekaholics untuk membantu biaya ransportasi dan biaya hidup selama di Bandung. Bantuan sebelumnya tercatat dalam nomor Rombongan 1074. Semoga ikhtiar keluarga Nur dalam berobat selalu mendapatkan RahmatNya, Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 20 Juli 2017
Kurir : @ddsyaefudin @zerinabanu @badrudinmustafa @giantosu

Nur dinyatakan menderita Anemia Aplastic atau kekurangan darah


NAZRIL AL RASYID (1, Retinoblastoma). Alamat : Kampung Tonjong RT 1/30, Desa Ciwidey Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Bersama kakak dan kedua orangtuanya, Azril tinggal di rumah panggung sangat sederhana di daerah pertanian. Ibunya, Lili Herlina (32) sehari-hari berdagang warungan; sedangakan bapaknya, Asep Sutisna (26) dikenal warga sebagai penjahit. Dengan tanggungan keluarga tiga orang, Pak Asep merasakan cukup berat menjalankan roda keluarganya. Apalagi setelah anak keduanya, Nazril, sering keluar-masuk rumah sakit. Awalnya, pada usia satu tahun, mata kanan Nazril terlihat tidak normal, tampak seperti mata kucing. Pada April 2017 Nazril kemudian dibawa periksa ke klinik Salma Ciwidey. Karena diduga penyakit di mata kanannya itu serius, penanganan medisnya lalu dirujuk ke RSUD Soreang yang akhirnya merujuk lagi ke RS Mata Cicendo Bandung. Nazril didiagnosa terserang kanker di retina mata kanannya (retinoblastoma). Setelah menjalani semua tahapan pemeriksaan, akhirnya mata kanan Nazril diangkat melalui operasi di RS Cicendo pada bulan Juli 2017, menggunakan janinan BPJS Mandiri. Ujian tak berhenti di situ. Nazril disarankan menjalanai kemo terapi sehingga ia dirujuk lagi ke RSHS Bandung. Karena antrian di RSUP itu cukup banyak, keluarganya meminta dirujuk ke RSU Santosa Kopo Bandung. Bersyukur Nazril bisa ditangani di RS swasta itu dan disimpulkan dia harus menjalani tujuh kali terapi kemo dengan siklus tiga minggu sekali. Informasi tentang musibah sakitnya Nazril dan perjuangan orangtuanya diperoleh dari warga peduli yang memnyampaikanya ke Sedekah Rombongan. Saat dikunjungi kurir #SR, Nazril baru pulang menjalani kemo terapi yang pertama di RSU Santosa. Nazril dan kedua orangtuanya layak dibantu untuk menuntaskan ikhtiar sehatnya. Alhamdulillah, dengan empati para dermawan, Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan awal pada Oktober 2017. Pada akhir Desember 2017 kurir #SR bersilaturahmi lagi dengan Nazril dan orangtuanya. Kondisinya membaik tetapi ia harus melanjutkan terapi kemo. Mereka masih membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, kembali kurir SedekahRombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk Nazril yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat ke RS Santosa Kopo Bandung dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1067.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 30 Desember 2017
Kurir : @dedesyaefudin @azepbima @cucucuanda

Nazril didiagnosa terserang kanker di retina mata kanannya


PUTRI MULYANI (10, Kaki Kanan Patah Karena Kecelakaan). Alamat : Kampung Lapang RT 4/8, Desa Pasirjambu, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bersama ayah, ibu, dan satu adik kandungnya, Putri tinggal di rumah sederhana yang tanahnya milik Jawatan Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Bapaknya, Pak Yuyu Muhammad (41), sehari-hari berdagang cingcaw dan goyobod dari satu sekolah ke sekolah lain dan di perkampungan di sekitar Pasirjambu. Ibunya, Bu Ai Nanti (35) hanya disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus kedua anaknya. Saat wawancara dengan kurir #SR, keluarga dhuafa ini menyatakan betapa beratnya mereka menjalankan roda ekonomi rumah tangga dengan empat anggotanya, apalagi setelah anak pertamanya, Putri, sakit akibat kecelakaan. Pada awal Juni 2016 saat bermain petak umpet bersama teman-temannya, Putri terjatuh dan kaki kanannya patah. Setelah kejadian itu, Putri langsung dibawa periksa ke ahli tulang di Ciwidey dan Pasirjambu. Meskipun tidak memiliki jaminan kesehatan apa pun, ia juga sempat diperiksakan ke Puskesmas Pasirjambu dengan bantuan pengurus RW dan tetangganya. Sayang, dia belum sempat ditangani secara maksimal di rumah sakit. Putri menggunakan kursi roda pemberian warga yang berempati atas musibah yang menimpa anak pendiam dan rajin sekolah ini. Pertama kali bertemu dengan Putri, kurir #SR menjemputnya sepulang sekolah. Kepada kurir #SR, ia menyatakan keinginannya untuk terus berobat tanpa meninggalkan sekolah. Orang tuanya juga mendukung tekadnya untuk terus berikhtiar sampai siswi SD ini bisa berjalan normal seperti sedia kala. Orang tuanya memohon bantuan agar mereka memiliki jaminan BPJS. Alhamdulillah harapan mereka mendapatkan jawaban dari sedekholik dengan memberi Putri santunan dan menggabungkannya sebagai pasien dampingan #SR. Bantuan awal dari Sedekah Rombongan disampaikan kurir #SR di rumahnya pada 11 Agustus 2016. Dengan bantuan relawan setempat dan kurir Asep Cunarya, alhamdulillah, kini Putri dan keluarganya sudah memiliki Kartu BPJS Kelas 3 dan bisa berobat ke rumah sakit. Pada 12 Agustus 2016 Putri diperiksakan ke Puskesmas Pasirjambu dan RSUD Soreang. Setelah menjalani berbagai tahapan pemeriksaan di RSUD Soreang, Putri akhirnya mendapatan tindakan medis berupa operasi yang dilaksanakan di rumah sakit yang sama. Operasi yang dilaksanakan di akhir Oktober 2016, alhamdulillah, berjalan lancar. Putri sempat dirawat selama satu minggu. Pada akhir November 2016 dan pertengahan Desember 2016 bersyukur kurir Sedekah Rombongan bisa bersilaturahmi lagi dengan Putri dan keluarganya, mendampinginya kontrol ke RSUD Soreang, dan menyampaikan bantun lanjutan. Pada akhir Juni 2017 kurir #SR menjenguk Putri untuk kesekian kalinya. Alhamdulillah kondisinya membaik. Kini kontrolnya cukup dua bulan sekali. Putri bahkan mulai bersekolah lagi. Pada akhir Desember 2017 ibunya mengabarkan bahwa Putri harus ke RSUD Soreang untuk membuka pen di kaki kanannya. Putri dan keluarganya masih membutuhkan dukungan dan bantuan sampai ia dinyatakan sembuh. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, kembali kurir #SR menyampaikan bantuan lanjutan untuk Putri Mulyani dan kluarganya. Bantuan yang disampaikan di rumah panggung mereka ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1020.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 30 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azbim @cucucuanda

Putri menderita kaki kanan patah karena kecelakaan


SITI SALMA (15, Asma). Alamat : Jl. Kihapit Barat RT 12/9, Kelurahan Leuwi Gajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Anak pertama yang lahir dari pernikahan Pak Nurdin (50) dan Ibu Imas (42) ini didiagnosa mengidap penyakit asma sejak kecil. Berbagai upaya medis dan alternatif sudah dilakukan orangtuanya agar Salma terbebas dari asma. Akan tetapi, sampai saat ini Salam masih harus rutin kontroL sebulan sekali untuk berobat ke RSUD Cibabat Cimahi. Karena tidak memiliki jaminan kesehatan, siswi Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah ini sebagai pasien umum. “Kalau waktunya ke rumah sakit, kami kerap kebingungan. Apalagi setiap bulan harus bayar kontrakan,” cerita bapaknya Salma saat dijumpai kurir SR di rumah kontrakannya. Karena seringkali kebingunan dan sedih dengan keadaan anaknya, maka bapaknya Salma pun terus berusaha mencari cara untuk mendapat pertolongan. Sampai akhirnya ia memperoleh kabar tentang adanya Sedekah Rombongan yang didirikan oleh Mas Saptuari. Dibantu oleh tetangga dan temannya ia pun dapat menghubungi Sedekah Rombongan di website dan mengirimkan permohonan untuk memperoleh bantuan. Atas petunjuk Admin Sedekah Rombongan, syukur alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan Bandung dapat berkunjung ke rumah kontrakan Pak Nurdin dan bersilaturahmi dengan keluarganya. Keluarga Pak Nurdin termasuk duafa yang layak dibantu para aghniya untuk mengurangi beban hidupnya. Selain kedua anaknya sedang sakit, Pak Nurdin pun sedang menanggung utang kontrakan rumah yang belum dibayar selama 7 bulan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan awal untuk membantu pengobatan Siti Salma. Bantuan tersebut akan digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi ke rumah sakit yang membutuhkan Rp.150.000,- setiap sekali berangkat. Mudah-mudahan santunan tersebut juga dapat membantunya untuk biaya sehari-hari.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 25 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Salma menderita asma


AULIA RIZKI (11, TB Paru + Gangguan Ginjal + Kelenjar di Perut). Alamat : Jalan Kihapit Barat RT 12/9 Kelurahan Leuwi Gajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Aulia Rizki adalah anak ketiga dari pasangan suami-istri, Bapak Nurdin (50) dan Ibu Imas. Enam bulan yang lalu (sekitar pertengahan tahun 2017), Aulia kerap mengalami susah Buang Air Besar (BAB) dan sakit saat kencing. Kedua orangtuanya kemudian memeriksakan anak periang itu ke Puskesmas Leuwi Gajah Kota Cimahi, menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Setelah berkali-kali diperiksa di Puskeskas, penanganan medisnya kemudian dirujuk ke RSUD Cibabat. Di salah satu rumah sakit rujukan di Kota Cimahi ini, Aulia sempat dirawat satu minggu pada bulan Agustus 2017. Aulia diduga kuat mengalami gangguan pada ginjal dan kelenjar pada perut. Ia juga didiagnosa terserang TB. Paru dan harus berobat rutin seminggu sekali ke RSUD Cibabat. Aulia dan keluarganya termasuk duafa yang amat layak mendapatkan dukungan untuk meneruskan ikhtiar mereka meraih kesembuhan. Bapaknya hanya buruh tani yang penghasilannya tak seberapa dan tak menentu, sedangkan ibunya hanya disibukkan dengan mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. “Tanggungan keluarga saya empat orang. Cukup berat saya menjalaninya. Bayar kontrakan pun sering nunggak. Kini ditambah harus rutin memeriksakan anak ke rumah sakit. Kami ingin anak kami segera sembuh agar kami bisa tenang bekerja,” papar bapaknya Aulia kepada kurir #SR. Harapan Aulia dan orang tuanya itu, alhamdulillah, mendapatkan jawaban dari Allah Swt melalui Sedekah Rombongan. Dengan empati sedekaholik, kurir Sedekah Rombongan kemudian menyampaikan bantuan untuk Dek Aulia Rizki dan keluarganya yang digunakan biaya transportasi-akomodasi berobat (Rp.150.000 sekali berangkat) dan biaya sehari-hari.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 25 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Aulia didiagnosa terserang TB. Paru


ENUNG SUHAETI (Ca Mammae Dextra). Alamat: Jalan Kebon Kangkung I No. 20 RT 2/6, Kelurahan Kebon Kangkung, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Ibu Enung adalah tinggal bersama dua orang anaknya, Heru (28 tahun) dan Ade Hesti (18 tahun). Suaminya (Oman Setiawan) sudah meninggal tiga tahun yang lalu akibat stroke. Anak pertama yang menjadi tulang punggungnya sudah meninggal dunia. Biaya hidup sehari-hari dibiayai anaknya yang laki-laki, Heru Hermawan (28 tahun) yang mencari nafkah dengan mengamen atau membantu pasang sound system. Sedangkan Ade Hesti adalah mahasiswa semester 1 yang kuliahnya melalui program beasiswa bagi warga yang tidak mampu. Dua tahun yang lalu, Ibu Enung merasakan sakit karena ada benjolan di payudara sebelah kanannya. Setelah diperiksa di RSP Pindad, ternyata ia menderita kanker payudara dan harus menjalani operasi. Setelah menjalani operasi dan beberapa kali control ia dinyatakan sembuh. Akan tetapi, pada awal Juli 2017 Ibu Enung merasakan sakit dan bengkak di tangan sebelah kanan. Setelah diperiksa di RSP Pindad, ternyata ia mengalami pembengkakan pada tubuh karena kelenjar getah bening mengalami gangguan. Dokter RSP Pindad pun merujuknya ke RSKB Halmahera untuk dilakukan kemoterapi. Sekarang Ibu Nunung harus menjalani kemoterapi setiap 3 minggu, dan harus membayar biaya sewa kamar untuk perawatan, yang tidak ditanggung BPJS PBI, sebesar Rp 250.000,- setiap kali kemoterapi. Tentu saja bagi keluarga miskin seperti keluarganya hal itu sangat memberatkan. Belum lagi ia sering tidak memiliki biaya transportasi dan kesulitan ekonomi untuk biaya sehari-hari. Kisah penderitaan Ibu Enung tersebut sampai kepada Kurir Sedekah Rombongan melalui tetangga Ibu Enung, yaitu Ibu Tina. Syukur Alhamdulillah, Kurir #SR dapat berkunjung dan bertemu dengan keluarga Ibu Nunung di rumahnya yang kecil dan sangat sederhana. Pada kunjungan tersebut, Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan uang dari para dermawan yang berempati kepada penderitaan Ibu Enung. Bantuan uang melalui Sedekah Rombongan tersebut untuk digunakan sebagai biaya transportasi berobat dan membayar biaya sewa kamar perawatan. Pada Desember 2017, Ibu Enung kembali menghubungi Kurir Sedekah Rombongan karena membutuhkan bantuan biaya untuk kemoterapi yang harus rutin dijalaninya. Alhamdulillah, pada awal Januari 2018 Sedekah Rombongan kembali dapat menyampaikan santunan untuk membantu Ibu Enung. Bantuan uang tersebut digunakan untuk membayar 2X biaya kemoterapi. Semoga bantuan dari Sedekaholik #SR tersebut dapat membantu meringankan beban hidupnya dan dapat menjadi pembuka jalan bagi kesembuhan Ibu Enung Suhaeti.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Taggal : 1 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @dzim_dzim

Bu Enung menderita kanker payudara


OOM BINTI NANANG (58, Tumor Mata). Alamat: Kampung Parung Bitung RT 2/3, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur – Provinsi Jawa Barat. Pada awal tahun 2015 gejala tumor mata Ibu Oom hanya dianggap penyakit mata biasa. Bu Oom tidak merasa khawatir ketika di sekitar mata kirinya ada benjolan kecil dan terasa gatal. Bu Oom membiarkan rasa gatal dan benjolan kecil itu hilang dengan sendirinya karena untuk pergi ke dokter atau berobat ia dan suaminya tidak memiliki uang. Akan tetapi, beberapa minggu kemudian benjolan dan rasa gatal di sekitar matanya itu kambuh lagi. Bahkan menurutnya, karena sangat gatal ia merasa tidak kuat karena tersiksa. Selain itu benjolan yang awalnya kecil itu pun semakin membesar. Karena khawatir dengan kondisi itu suaminya Ibu Oom, yaitu Pak Maman Darwis (66), meminjam uang kepada saudaranya untuk memeriksa dan mengobati Ibu Oom ke Puskesmas terdekat. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan di Puskesmas, dokter merujuknya ke RSUD Cianjur. Hasil pemeriksaan dokter di RSUD Cianjur Ibu Oom dinyatakan menderita tumor mata, dan Ibu Oom dirujuk ke RSHS Bandung untuk melanjutkan pengobatannya. Sungguh sedih dan bingung dirasakan oleh Ibu Oom dan suaminya, sebab untuk berangkat ke RSHS Bandung mereka tidak memiliki biaya untuk ongkos dan keperluan lainnya. Dalam keadaan bingung Ibu Oom dan suaminya menunggu bantuan dengan sabar, dan Ibu Oom harus terus bertahan dalam keadaan matanya sering terasa sakit dan mengeluarkan cairan. Pak Maman hanyalah seorang buruh tani yang pendapatannya sangat kecil dan sudah jarang bekerja. Kedua anaknya sudah menikah dan sudah sudah tinggal terpisah serta kehidupannya pun sangat sederhana sehingga tak bisa banyak membantu. Kisah duka dan kesusahan kedua orang tua dhuafa sampai kepada Sedekah Rombongan melalui Ibu Imas, ia adalah seorang pekerja sosial di Kecamatn Ciaranjang Kabupaten Cianjur. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung dan bersilaturahmi dengan Ibu Oom dan suaminya. Syukur Alhamdulillah, atas bantuan relawan di daerah dan Sedekah Rombongan Ibu Oom bisa berangkat untuk berobat ke RSHS Bandung. Selama menjalani berobat jalan di RSHS Bandung Ibu Oom dan suaminya menginap dan akan tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Bandung. Di RSSR Bandung Sedekah Rombongan pun memberikan bantuan uang dari para sedekaholik yang berempati atas penderitaan Ibu Imas. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk bekal dan membeli obat resep dokter yang harus dibeli di apotek. Pada awal Januari 2017 Ibu Oom harus kembali menjalani pengobatan lanjutan ke RSHS Bandung. Oleh karena itu, Sedekah Rombongan kembali memberikan santunan, titipan dari para sedekaholik. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi dari Cipeuyeum-Cianjur ke RSHS Bandung. Mudah-mudahan bantuan para dermawan ini telah meringankan beban hidup Ibu Oom dan suaminya, serta menjadi pembuka jalan bagi kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.00,-
Tanggal : 2 Januari 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @agungtrikurnia7 @alwiejozz Ikeu Susilawati

Ibu Oom dinyatakan menderita tumor mata


AGUS BIN MOMO (49, Lumpuh + Decobitus). Alamat: Kampung Balong RT 1/10, Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Buruh tani ini tinggal di rumah bilik di daerah pegunungan bersama istri dan keempat anaknya yang masih kecil. Selain menjadi buruh tani, dia sekali-kali berdagang buah-buahan, seperti konyal, kesemek dan alpukat yang ia ambil dari pohon-pohon di hutan dekat kampungnya. Betapapun kerasnya usaha Pak Agus menghidupi keluarganya, sampai kini ia merasakan beratnya beban ekonomi yang menggelayuti bahtera rumah tangganya. Istrinya, Raswati (33), yang kedua kakinya cacat sejak lahir, hanya mampu menjalankan tugas sehari-hari sebagai istri dengan segala keterbatasannya. Keluarga ini layak dibantu, apalagi setelah Pak Agus –sebagai tulang punggung keluarga— mengalami kelumpuhan akibat jatuh dari pohon saat mengambil buah konyal pada awal 2015. Berbekal Jamkesmas, kerabat dan tetangganya memeriksakan Pak Agus ke Puskesmas, RSUD Soreang, dan RSHS Bandung. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tulang pinggul dan kakinya harus dioperasi. Cukup lama ia menunggu panggilan untuk masuk ruang rawat inap. Kenyataan pahit yang dialami Pak Agus dan keluarganya diketahui Sedekah Rombongan (#SR) berkat informasi dari Kepala Desa Cisondari. Alhamdulillah kurir Sedekah Rombongan (#SR) dapat bersilaturahmi dengan keluarga tabah ini padal 1 Mei 2015. Pada tanggal yang sama disampaikan pula wujud empati sedekaholik #SR kepada keluarga dhuafa ini, berupa bantuan untuk biaya sehari-hari dan transportasi-akomodasi selama dia berobat. Pada pertengahan Agustus 2015 kondisi pekerja serabutan itu memburuk; pantatnya mengalami decubitus. Pada malam harinya, dia dievakuasi MTSR Bandung ke IGD RS Santosa Kota Bandung, dan dirawat inap di sana menggunakan Jamkesmas/ BPJS PBI. Pada 5 September 2015 dia diperbolehkan pulang karena masa kritisnya telah terlewati. Pada 12 September 2015 Pak Agus kontrol ke rumah sakit yang sama. Kurir SR kembali menjemputnya sekaligus menyampaikan bantuan Sedekah. Pada 6 Oktober 2015 Pak Agus didampingi lagi kontrol ke RSHS Bandung untuk penanganan tulangnya. Ia sempat menginap sampai 8 Oktober 2015. Pada minggu kedua November 2015 ia kembali diantar ke RSSR untuk melanjutkan pemeriksaan. Berdasarkan hasil pemeriksaan RMI, tim medis RSHS memutuskan untuk mengambil tindakan operasi tulang yang dilaksanakan pada Januari 2016. Senin, 18 Januari 2016, keluarganya memberi tahu kurir #SR bahwa Pak Agus harus ke RSHS untuk diagnosa RMI pada Kamis, 21 Januari 2016. Dia kemudian dievakuasi dari rumahnya ke RSSR, Rabu 20 Januari 2016. Alhamdulillah decobitus di tulang belakangnya mulai mengering. Karena masih ada tahapan medis yang harus dijalani, yaitu operasi tulang belakangnya, pada Maret 2016, ia melakukan pemeriksaan pra-operasi di RSHS Bandung. Pada bulan itu, bersyukur, Sedekah Rombongan juga dapat memberinya bantuan lanjutan. Luka besar di punggungnya mulai berangsur sembuh. Tak ada lagi nanah dan bau menyengat. Akan tetapi, karena Pak Agus bersedia menjalani operasi tulang ekornya, pada Juni dan Juli 2016 kurir #SR membawanya periksa ke RSHS Bandung sambil menunggu panggilan masuk ruang rawat inap. Sejak 8 Juli 2016 ia tinggal di RSSR Bandung didampingi anaknya. Ikhtiar untuk kesembuhan Pak Agus cukup lama. Pak Agus dan keluarganya masih membutuhkan bantuan, selain motivasi dan dukungan. Pada akhir Juli 2016 Pak Agus dipanggil masuk ruangan rawat inap sebelum dilakukan tindakan operasi bedah plastik dan operasi tulang belakang. Tindakan operasi yang dilaksanakan di RSHS Bandung itu alhamdulillah berjalan lancar. Pascaoperasi dia rutin menjalani kontrol dua minggu sekali ke Poli Ortopedi RSHS Bandung. Kondisinya amat menggembirakan. Ia mulai bisa duduk. Mekipun demikian, ia masih membutuhkan bantuan para dermawan untuk melanjutkan ikhtiar sehatnya sampai tuntas. Pada akhir Agustus 2016 kembali kurir #SR menyampaikan santunan. Pada awal November 2016 Pak Agus kembali didampingi kurir menjalani kontrol dan pengobatan. Ia tinggal di RSSR Bandung sambil mengikuti program terapi dan rawat jalan di RSHS Bandung. Pada bulan ke-11 ini pun ia mendapatkan bantuan lanjutan untuk biaya berobat. Pada Desember 2016 Pak Agus datang lagi ke RSHS Bandung dan tinggal di RSSR. Ia menjalani terapi rutin dua kali sehari. Hasilnya ia bisa duduk dan melipatkan kedua kakiknya. Pada pertengahan Januari 2017 dia ke RSHS lagi untuk kontrol dan melanjutkan terapi medis. Kembali ia tinggal seminggu di RSSR Bandung. Pada awal Maret 2017, anaknya mengabarkan bahwa luka decobitus di punggung bawah Pak Agus menganga dan basah lagi. Dia kemudian dibawa periksa ke Poli Bedah Plastik RSHS Bandung. Selama lima hari ia tinggal di RSSR Bandung dan bolak-balik menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung. Ia masih harus berobat sehingga memerlukan bantuan dan dukungan. Dari pertengahan April 2017 sampai akhir Mei 2017 dia tinggal lagi di RSSR Bandung untuk menjalani terapi dan pengobatan luka di punggungnya yang –menurut dokter– memerlukan tindakan operasi kedua. Pada 22 Juni 2017 ia diantar pulang ke kampunnya untuk merayakan Idul Fitri. Pada 27 Juli 2017 ia dijemput lagi untuk melanjutkan pengobatan luka decobitus dan terapi tulangnya. Hampir dua bulan ia tinggal di RSSR Bandung. Berdasarkan hasil pemeriksaa terakhir, tim dokter menyimpulkan bahwa keberhasilan pengobatannya hanya sampai ia bisa duduk. Meskipun demikian, ia masih harus mengobati luka decobitus di punggung bagian bawah. Karena Pak Agus bin Momo dan keluarganya masih membutuhkan bantuan, pada September s.d. November 2017 kurir Sedekah Rombongan menyampaikan lagi santun dari sedekaholik. Ujian sakit yang dialami Pak Agus seolah tak ada henti. Melalui serangkaian pemeriksaan, ia juga diduga mengalami gangguan pada ginjalnya. Pada Desember 2017 Pak Agus menjalani operasi utk membuang cairan pada ginjalnya. Karena ada obat, pamper dan alat perawatan lain yang harus dibeli, maka pada 26 Desember Sedekah Rombongan kembali memberikan bantuan lanjutan di di RSSR Bandung. Pak Agus masih layak untuk terus dibantu karena ia menderita sakit berkepanjangan harus rutin kontrol dan berobat ke RSHS Bandung. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda @lisdamojang

Pak Agus mengalami lumpuh + decobitus


SOPA NUR PAOJA (6, Lupus). Alamat: Kampung Pasir Pogor RT 9/2, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sopa, putri Pak Amin (44) dan Ibu Ikoh (32) ini sudah lebih dua tahun lamanya menderita Lupus. Ayah Sopa seorang buruh harian lepas yang memiliki tanggungan sebanyak 7 orang. Saat ini Sopa kontrol teratur di RS Hasan Sadikin Bandung. Alasan terkendala biaya seperti pengobatan sebelumnya sudah teratasi. Alhamdulillah bantuan dari sedekaholics Sedekah Rombongan (#SR) sudah diberikan kepada Sopa dan orangtuanya. Ia menjadi pasien dampingan #SR dan alhamdulillah, pada pertemuan selanjutnya, 14 Januari 2016, tampak kondisi Sopa terus membaik. Akan tetapi, karena Sopa masih harus berobat ke RSHS Bandung, sedekaholics #SR kembali memberinya bantuan untuk biaya transportasi dan membeli obat. Pada April 2016 kurir Sedekah Rombongan bertemu lagi dengan Sopa dan bapaknya di RSHS Bandung. Untuk membantu memudahkan ikhtiar berobatnya, Sopa menginap di Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung. Walaupun Sopa nampak semakin mambaik, tim medis masih menganjurkannya kontrol dan berobat sampai tuntas. Sopa dan keluarganya masih membutuhkan bantuan untuk menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan pusat itu. Alhamdulillah, selama pengobatannya dan singgah di RCAK, Sedekah Rombongan dapat terus menyampaikan bantuan, yaitu titipan dari sedekaholics yang berempati kepadanya. Setiap bulan Sopa dan keluarganya harus rutin berobat dan kontrol ke RSHS Bandung. Selama itu pula ia dan keluarganya harus pulang-pergi dari rumahnya di Garut ke RSHS dan singah untuk menginap di RCAK Bandung. Selama proses kontrol dan berobat itu pula mereka membutuhkan biaya transportasi-akomodasi dan biaya untuk membeli obat. Alhamdulillah juga setiap kali Sopa berobat dan membutuhkan biaya, Kurir Sedekah Rombongaan dapat menemuinya dan memberi bantuan lanjutan dari para Sedekaholics. Berdasarkan informasi dari kurir #SR yang mendampingi pengobatannya di Bandung, pada Oktober sampai Desember 2016, kondisinya semakin membaik. Akan tetapi, dikarenakan proses pengobatannya masih harus berlanjut dan masih memerlukan biaya, maka pada bulan Agustus s.d. November 2017 Sedekah Rombongan secara berkelanjutan menyampaikan bantuan berupa uang dari Sedekaholics untuk biaya berobat. Pada Desember 2017 Kurir #SR kembali menyampaikan bantuan lanjutan dari sedekaholik, yang disampaikan di RCAK Bandung. Bantuan ini digunakan untuk membantu menambahi biaya membeli obat (Oscal) yang amat dibutuhkan, dan transportasi-akomodasi dari Garut ke Bandung. Sementara untuk kebutuhan lainnya Sopa dan keluarganya dibantu RCAK Bandung. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1084.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda @ghildakharisma

Sopa menderita lupus


NENG RAHMAWATI (12, Leukemia). Alamat: Kampung Cibetik Cipageran RT 5/14, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. Anak dari Bapak Dede Syaefudin (47) dan ibu Ratmini (45) ini sejak setahun yang lalu berjuang melawan ganasnya Kanker Darah Akut. Penyakit yang Neng alami mengharuskan anak periang ini berobat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung hingga saat ini. Sang ayah, Dede Syaefudin, seorang kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh tani ini upah kerjanya hanya Rp.35.000,- per hari. Tak heran mereka sangat kesulitan untuk membeli obat yang tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan, yaitu Mercaptopurin. Obat ini harus diminum setiap hari. Kini Neng sedang menjalani kemoterapi sesuai tata laksana yang direncanakan. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan dapat bertemu dengan Neng Rahmawati dan keluarganya. Sejak itu ia menjadi pasien dampingan Sedekah Rombongan, dan dapat melakukan pemeriksaan serta kontrol secara teratur. Kondisinya terus membaik, namun dia masih harus kontrol rutin. Pada akhir Desember 2014 kurir Sedekah Rombongan kembali menemui Neng Rahmawati dan keluarganya saat mereka berobat ke RSHS Bandung. Dengan izin Allah SWT pula saat itu Sedekah Rombongan dapat mengantarkan titipan dari Sedekaholics yang digunakan untuk membeli obat yang tidak dijamin BPJS Kesehatan. Pada pertengahan bulan Februari 2016, kurir Sedekah Rombongan mendapat informasi bahwa Neng dirawat inap di RSHS Bandung untuk menjalani kemoterapi dan kontrol rutin. Saat ditemui, Neng dan keluarganya tampak kebingungan karena tidak punya biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung Jamkesmas dan biaya sehari-hari selama dirawat. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan kembali meringankan beban mereka dengan memberinya santunan yang disampaikan di Rumah Sakit Rujukan Pusat itu. Pada bulan-bulan selanjutnya Sedekah Rombongan kembali kembali melakukan pendampingan kepada Neng Rahmawati dan memberi bantuan setiap ia menjalani kontrol rutin ke RSHS Bandung. Untuk membantu dan memudahkan proses pengobatannya yang harus berlanjut, Neng Rahmawati tinggal dan dirawat di Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK), yang beralamat di daerah Sukajadi Bandung, dan sudah bersinergi dengan Sedekah Rombongan. Alhamdulillah Sedekah Rombongan dapat terus menyampaikan titipan langit kepada mereka yang mereka terima di RCAK Bandung. Hingga Oktober 2016, kondisi Neng terus membaik dan masih rutin menjalani pengobatan di RSHS. Pada akhir Oktober 2016 sampai Desember 2016 masih rutin ke RSHS Bandung untuk menjalani kemoterapi lanjutan. Ia masih membutuhkan bantuan para dermawan untuk membeli obat-obatan demi menuntaskan ikhtiarnya untuk memperoleh kesembuhan. Alhamdulillah dengan empati sedekaholik, sampai pada bulan Desember 2017 Sedekah Rombongan kembali dapat menyampaikan bantuan para dermawan untuk Neng Rahmawati. Bantuan yang diterima di Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung ini digunakan untuk transportasi-akomodasi dan tambahan biaya membeli obat. Sementara biaya obat dan lain-lain juga dibantu oleh RCAK Bandung. Semoga sedekah ini membawa keberkahan bagi semua dan membuka pintu kesembuhan bagi Neng Rahmawati. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1084.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @kharismagilda @abahbutung

Neng menderita leukimia


AHMAD MUZAKI (6, Leukemia). Alamat: Blok Palinggihan RT 2/1, Desa Wanayasa, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Zaki adalah buah hati pasangan Bapak Emed Sumaedi (34), seorang buruh lepas, dan ibu Siti Julaeha (30), seorang ibu rumah tangga. Sejak satu tahun yang lalu, Zaki didiagnosa menderita leukemia atau yang sering disebut kanker darah. Zaki harus menjalani kemoterapi di rumah sakit rujukan, yaitu RS Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat. Ia termasuk pasien dampingan Sedekah Rombongan (#SR) dan tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Bandung. Selamat tinggal di RSSR Bandung ia dan keluarganya dibantu untuk mengupayakan kesembuhannya. Perkembangan Zaki saat ini terus membaik. Meskipun demikian, ia masih harus melanjutkan terapinya. Pada awal Maret 2016 kurir Sedekah Rombongan bertemu lagi dengan Dek Zaki di rumah singgah, saat ia menjalani pemeriksaan dan pengobatan rutin di RSHS Bandung. Waktu itu sedekaholics #SR memberi mereka bantuan untuk biaya berobat. Alhamdulillah perkembangannya semakin menggembirakan. Meskipun demikian, ia masih harus terapi rutin ke RSHS Bandung. Pada awal April 2016 Zaki dan kedua orangtuanya datang kembali ke Bandung untuk menjalani terapi rutin. Saat itu alhamdulillah Sedekah Rombongan dapat membantunya untuk biaya berobat. Perkembangannya alhamdulillah cukup menggembirakan, tetapi dia masih harus terus berobat. Keluarganya masih memerlukan bantuan untuk tambahan membeli obat yang tidak dijamin Kartu BPJS. Karena itu, pada bulan September dan Oktober 2016 Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan dari sedekaholics #SR yang dipergunakan untuk pembelian obat Mercaptopurin yang tidak ditanggung oleh jaminan kesehatan yang dimilikinya. Pada Oktober 2016 Ahmad Muzaki sempat mendapatkan tindakan di RS Al Islam Kota Bandung dan sampai saat ini ia kontrol dan berobat rutin ke Bandung serta tinggal di Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung. Batuan yang diterima bapaknya di Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung ini digunakan untuk membeli obat. “Jazakumullah #SR! Semoga sedekah para dermawan membawa kesehatan, keberkahan dan kebaikan bagi semua pasien dan kurir SR, baik di dunia maupun di akhirat!” doa bapaknya Ahmad Muzaki penuh ketulusan. Sampai sekarang Ahmad Muzaki masih harus berobat rutin ke RSHS Bandung dan selama pemeriksaan dan pengobatan tinggal di RCAK Bandung. Pada Desember 2017 sekarang pun Sedekah Rombongan secara berkelanjutan menyampaikan bantuan untuk Zaki. Bantuan tersebut disampaikan di RCAK Bandung, akan digunakan untuk biaya transportasi kontrol ke RSHS Bandung dan untuk tambahan biaya membeli obat leukemia. Bantuansebelum ini tercatat di Rombongan 1084.

Jumlah Bantuan: Rp. 750.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda @abahlutung

Zaki didiagnosa menderita leukemia


DAVI PRIAN (7, Leukimia). Alamat: Kampung Bojongsoang, RT 2/1, Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat. Pada akhir tahun 2015 Davi sering mengalami sakit, tetapi karena orang-tuanya tidak memiliki biaya, Davi tidak dibawa ke dokter untuk diperiksa atau berobat. Oleh karena itu, orang-tua Davi tidak mengetahui penyakit yang diderita Davi. Ayah Davi, yaitu Pak Nandang Rahmat (56) hanya seorang uruh bangunan, dan istrinya yaitu Ibu Ai Lasmanah (52) tidak bekerja. Dari pekerjaan Pak Nandang yang tidak tetap, keluarga mereka hidup dalam kemiskinan. Pada April 2016 orang tua Davi baru bisa membawa Davi ke Rumah Sakit Al-Islam. Berdasarka pemeriksaan, Davi dinyatakan mengidap penyakit leukemia. Sejak itu Davi berobat jalan dengan menggunakan fasilitas SKTM. Setelah masa berlaku SKTM-nya habis, orang tua Davi mendaftar menjadi anggoa BPJS agar dapat rutin mengobati Davi. Pada bulan Februari 2017 Davi mengalami pendarahan, tetapi ketika akan berobat fasilitas BPJS-nya tidak bisa digunakan karena ada tunggakan iuran. Tentu saja keadaan itu membuat mereka susah dan sedih. Atas bantuan tetangganya orang-tua Davi diminta menghubungi Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung untuk minta bantuan. Alhamdulillah, berkat bantuan pengurus RCAK, yaitu Bapak Supendi, iuran BPJS-nya dapat dilunasi dan Davi bisa melanjutkan berobat jalannya. Pada November 2017 penguru RCAK mendapat kabar bahwa Davi sudah tiga bulan tidak bisa berobat karena tidak memiliki uang untuk transportasi dan bekal berobatnya. Selain itu, ibu dan salah satu kakaknya juga sedang sakit dan mereka membutuhkan bantuan agar Davi bisa kembali berobat. Kabar kesusahan keluarga dhuafa itu disampaikan oleh Bapak Supendi (RCAK) kepada kurir Sedekah Rombongan (#SR). Walaupun sedang musim hujan dan banjir, kurir Sedekah Rombongan pun berangkat menuju rumah keluarga Davi di daerah Kabupaten Bandung, yang kebetulan terletak di daerah rawan bajir. Sungguh sangat menyedihkan karena ketika dikunjungi daerah sekitar rumah keluarga itu sedang tergenang banjir. Bahkan dengan susah payah dan perasaan cemas kurir-kurir Sedekah Rombongan akhirnya dapat sampai ke rumah mereka dan bersilaturahmi. Pada kunjungan itu kurir Sedekah Rombongan menawarkan bantuan agar Davi tinggal atau singgah di RCAK untuk melanjutkan pengobatannya. Syukur Alhamdulillah, akhirnya Davi dapat berangkat ke Kota Bandung dan tinggal di RCAK untuk melanjutkan rawat jalan ke RSHS. Di RCAK itu pun kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan para sedekaholik #SR yang berempati kepada David dan keluarganya. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk transportasi dan membantu meringankan biaya membeli obat serta untuk bekalnya sehari-hari. Pada Desember 2017, Sedekah Rombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan kepada Davi Prian di RCAK Bandung. Santunan uang dari Sedekaholik tersebut sangat diperlukan membantu meringankan biaya membeli obat leukemia dan transportasi. Keluarga Davi sangat berterima kasih kepada para dermawan yang telah membantunya dan mendoakan segala kebaikan untuk semuanya. Bantuan sedekaholik #SR ini membantu meringankan beban keluarga dhuafa itu dan mudah-mudahan membuka pintu kesembuhan untuk bagi Davi Prian. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan : Rp 750.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @hengkisenandika @lisdamojang @trietan

Davi dinyatakan mengidap penyakit leukemia


DIAN HAERANI (46, Kanker Rahim + Gangguan Ginjal). Alamat : Kampung Parung Bitung, RT 2/3, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Teh Dian –begitu panggilan kesehariannya– mulai merasakan ada kelainan pada perutnya pada awal tahun 2016: dari hari ke hari ia merasakan adanya pembengkakan di perut. Berbagai ikhtiar penyembuhan dia lakukan ditemani ibunya, Bu Pipih Sopiah (64), yang dengan tekun terus memotivasinya. Suaminya telah lama menghadap Allah Swt, meninggalkan tiga anak yang masih belum dewasa. Walaupun beban hidupnya kerap berat ia rasakan, janda pendiam itu sangat bermangat tuk berobat. Beberapa dokter praktek pun sempat mereka coba datangi untuk konsultasi, pemeriksaan, dan pengobatan, tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya, berbekal Jaminan Kartu Indonesia Sehat (KIS – PBI), ibunya memeriksakan Teh Dian ke Puskesmas Cipeuyeum dan RSUD Sayang Kabupaten Cianjur. Hasil diagnosa Tim medis di RSUD Sayang menyimpulkan bahwa Ibu Dian Haerani mengalami gagal ginjal dan mengharuskannya menjalani cuci darah tiga kali dalam seminggu. Setelah berbulan-bulan menjalani cuci darah di rumah sakit daerah, kondisinya tidak juga membaik sehingga penanganan medisnya dirujuk ke RSHS Bandung. Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, tim medis di RSHS Bandung menduga kuat bahwa Teh Dian juga terserang kanker mulut rahim (Ca Servic). Di RSHS ia sempat tiga kali dirawat. Di rumah sakit rujukan pusat inilah Teh Dian dan ibunya bertemu dengan kurir #SR di Bandung, saat mereka kebingunan untuk mencari temat tinggal karena mereka haus kontrol rutin dan perawatannya masih lama dan harus mereka jalani. Sejak pertengahan Januari 2017 Teh Dian dan ibunya tingal di RSSR Bandung. “Kami sudah kehabisan segalannya, padahal anak saya harus mengikuti pengobatan lain, yaitu 22 kali terapi sinar. Setiap hari kami harus ke RSHS. Terima kasih kami diterima di rumah singgah ini. Semoga para dermawan terus berkah hartanya agar orang seperti kami terus terbantu,” doa ibunya Teh Dian, saat menutup oborolannya dengan kurir #SR. Alhamdulillah, harapan ibunya terkabulkan juga. Setelah didampingi Sedekah Rombongan kini ikhtiar pengobatannya berjalan lancar. Terapi sinarnya sudah ia jalani 30 kali dari 33 terapi yang dijadwalkan. Kondisinya membaik, meskipun ia masih harus terus berobat. Pada akhir Mei 2017 menjemput dan mengantarkan Ibu Dian menjalani kontrol di RSHS Bandung. Ibu Dian dan keluarganya masih membutuhkan bantuan. Pada 23 Mei 2017 anaknya mengabarkan bahwa Ibu Dian diperiksakan ke IGD RSUD Cianjur dan sempat dirawat satu hari. Kondisinya menurun lagi. Ia kemudian dirujuk lagi ke RSHS Bandung dan harus menjalani pemeriksaan dengan CT-Scan. Pada pertengahan Juni 2017 Ibu Dian kembali menjalani pemeriksaan sampai minggu kedua bulan Juli 2017. Ia sempat diantar-jemput karena kondisinya melemah. Pada Juli 2017 ia sempat tinggal lima hari di RSSR Bandung, untuk melanjutkan ikhtiarnya. Pada awal Oktober 2017, Bu Dian dibawa kontrol lag ke RSHS. Ia bahkan dirawat 7 hari di RSHS setelah ia menjalani operasi selang ginjal. Bahkan pada awal Januari 2018 Bu Dian harus ke RSHS lagi untuk menjalani kemoterapi keempat daru enam kali terapi yang dijadwalkan. Bu Dian masih membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholisc, kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan titipan bantuan lenjutan untuk Ibu Dian Haerani yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi, beli alat jesehatan dan biaya sehari-hari selama berobat di RSHS Bandung. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1067.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 1 Januari 2018
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda @mulawarman

Ibu Dian Haerani mengalami gagal ginjal


SITI MULYANAH (29, Tumor Rahang). Alamat: Kampung Jolok Pasir RT 5/3, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur – Provinsi Jawa Barat. Tiga tahun yang lalu, Siti Mulyanah sering mengalami sakit gigi dan gusi tetapi setelah berobat ke klinik sakitnya tidak kunjung sembuh. Yang lebih mengkhawatirka lagi setiap hari bengkak pada pipi Siti semakin membesar. Bersama suaminya, yaitu Pak Mamang Suhendar (39), Siti memeriksakan dirinya ke RSUD Cimacan. Setelah diperiksa oleh dokter rumah sakit, Siti Mulyanah dinyatakan mengidap tumor rahang. Akan tetapi dikarenakan peralatan di RSUD Cimacan kurang lengkap, maka dokter merujuknya ke RSUD Cianjur. Berdasarkan hasil diagnosa di RSUD Cianjur, dokter memutuskan bahwa Siti Mulyanah harus menjalani tindakan operasi tumor di rahangnya. Perasaan panik dan cemas tentu saja dirasakan oleh Siti Mulyanah dan suaminya. Selain takut dan sedih karena penyakit yang dideritanya, mereka juga tidak memiliki uang untuk membayar biaya operasi. Suami Siti Mulyanah hanyalah seorang buruh harian sebagai sopir pengangkut sayur. Pekerjaan sebagai sopir itu pun dilakukan apabila ada pengepul sayur yang memerlukan jasanya. Oleh karena pendapatannya yang belum tetap itu mereka hidup dalam kekurangan. Selain itu mereka memiliki satu orang anak yang masih perlu dirawat dan dibiayai di rumahnya. Kabar penderitaan Siti Mulyanah dan kesusahan keluarganya itu sampai kepada kurir Sedekah Rombongan melalui warga masyarakat yang aktif dalam kegiatan sosial di Cipanas-Cianjur. Syukur Alhamdulillah, kurir #SR dapat dipertemukan dengan keluarga dhuafa itu dan berkunjung ke rumahnya. Dalam kunjungan itu kurir #SR menawarkan bantuan agar Siti Mulyanah melanjutkan berobat ke RSHS Bandung. Setelah bermusyawarah dan diizinkan keluarganya, maka kurir #SR pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk memudahkan proses pengobatan Siti Mulyanah. Alhamdulillah, pada Oktober 2017 Siti Mulyamah dapat berangkat ke Bandung untuk menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung. Karena harus menjalani rawat jalan ia dan keluarganya tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung. Karena ia memerlukan bekal, biaya transportasi membeli obat maka Sedekah Rombongan memberikan bantuan uang dari sedekaholik #SR yang berempati terhadap penderitaannya. Pada Desember 2017, Sedekah Rombongan kembali memberi santunan lanjutan kepada Siti Mulyanah. Santunan tersebut sangat dibutuhkan untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS, biaya transportasi dan akomodasi selama berobat jalan di RSHS Bandung. Mudah-mudahan bantuan para dermawan #SR dapat memberinya semangat dan harapan agar ia terus berobat dan menjalani operasi sampai tumor rahangnya dapat sembuh. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1074.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @agungtrikurnia7 @alwiejozz Ikeu Susilawati

Mulyanah dinyatakan mengidap tumor rahang


SAMSUDIN BIN OTO (61, Diabetes Melitus + Gagal Ginjal). Alamat: Kampung Mumunggang RT 3/10 Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Bersama istri dan satu anaknya yang masih lajang, Pak Samsudin tinggal di rumah panggung sederhana, hasil kerja kerasnya, berdagang, sebelum ia terserang penyakit. Sejak awal 2011 Pak Samsudin tidak bisa bekerja lagi seperti biasa karena ia sakit-sakitan. Dengan menggunakan biaya pribadi, ia memeriksakan penyakitnya ke dokter praktek dan rumah sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Pak Samsudin pertama kali didiagnosa menderita kencing mannis (Diabetes Melitus). Ketika masih mengobati penyakitnya itu, ia juga dikatakan menderita gagal ginjal berdasarkan hasil pemeriksaan di RSHS Bandung. Di rumah sakit rujukan nasional ini ia pernah dua minggu dirawat, menggunakan biaya sendiri. Bertahun-tahun ia berobat, menguras segala yang ia miliki: kesabaran, harta dan air mata. Karena tidak punya lagi biaya, dia sempat berhenti berobat. Apalagi, istrinya pun, Imas Rosmiati (55) sudah setahun terserang Stroke. Atas saran saudaranya, ia kemudian membuat Kartu BPJS Kelas 3. Sampai saat ini dia bisa berobat lagi dan menjalani hemodialisa (cuci darah) seminggu dua kali di RS AMC Cileunyi Bandung, menggunakan fasilitas BPJS. Akan tetapi, akibat kemiskinan yang dialaminya, ia sering kesulitan memiliki biaya transportasi karena tidak ada lagi harta benda yang bisa dijual. Musibah yang menimpa Pak Samsudin dan keluarganya sampai kepada Sedekah Rombongan atas informasi kader PKK di lingkungannya. Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan bisa bersilaturahmi dengan Pak Samsudin dan keluarganya sambil menyampaikan bantuan dari sedekaholics dan mendaftarkannya sebagai pasien dampingan Sedekah Rombongan. Sejak November 2015 Pak Samsudin setiap bulan dikunjungi dan dibantu ikhtiar berobatnya, bahkan beberapa kali diantar-jemput untuk cuci-darah, dan Alhamdulillah masa kritisnya telah terlewati. Walaupun kemudian kondisinya nampak membaik, ia masih membutuhkan uluran tangan demi membantunya agar dapat terus berobat dan cuci darah. Pada kunjungan bulan Oktober 2016, diperoleh kabar bahwa kedua ginjal Pak Samsudin harus “dinuklir”. Namun, jadwal tindakan itu harus mengantri dan menunggu sampai Februari 2017. Tetapi sampai saat ini pengobatan yang dilakukan Pak Samsudin hanya harus terus cuci darah, sebanyak 2x dalam seminggu atau 8x sebulan. Kondisinya semakin memprihatinkan dan tentu saja ia harus tabah dalam menjalani ikhtiarnya berobat. Selain itu, sejak januari 2017, Pak Samsudin harus bolak-balik memeriksakan matanya ke RS Mata Cicendo dikarenakan sekarang ia mengalami ngangguan penglihatan. Memahami betapa beratnya derita hidup Pak Samsudin dan keluarganya, setiap bulan Sedekah Rombongan rutin memberinya bantuan untuk ikhtiar pengobatannya. Pada bulan Maret, Juli, September, Oktober 2017, dan Januari 2018 Sedekah Robongan kembali memberinya bantuan lanjutan dari para sedekaholics. Bantuan tersebut akan digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi cuci darah, berobat ke RS Mata Cicendo Bandung, dan membayar iuran BPJS. Pada kunjungan terakhir itu Pak Samsudin masih dalam kondisi lemah dan hanya bisa duduk bersandar. Semoga bantuan para sedekaholic selalu memberinya semangat untuk terus berobat dan mudah-mudahan secara bertahap kedua ginjal Pak Samsudin dan gangguan penglihatan pada matanya dapat disembuhkan. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1074.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 7 Januari 2018
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @hengkisenandika @lisdamojang

Pak Samsudin diagnosa menderita kencing manis


INDRA HARIMUKTI (38, Patah Tulang Kaki Kanan). Alamat: Jalan Cihampelas Gang Marga Setia No. 38/25 RT 4/15, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Akibat kecelakaan yang dialami dan cacat pada kaki dan tangannya, Indra Harimukti sekarang tidak bisa beraktivitas dengan normal. Ia hanya bisa berjalan dengan dibantu menggunakan tongkat. Selain kakinya patah akibat kecelakaan, tangannya juga bengkok akibat terjatuh dari pohon. Sekarang Indra Harimukti masih membujang dan dirawat oleh kakak-kakaknya. Mereka tinggal di rumah orang tuanya yang keduanya sudah meninggal dunia. Penderitaan Indra Harimukti dimulai sejak dua belas tahun yang lalu. Indra Harimukti beserta temannya mengalami kecelakaan, yaitu sepeda motornya bertabrakan dengan dengan taxi. Indra dan temannya mengalami cedera berat sehingga mereka berdua dievakuasi ke Rumah Sakit Advent. Sungguh menyedihkan sekali, sebab teman Indra akhirnya meninggal dunia. Sedangkan berdasarkan pemeriksaan dan rontgent Indra Harimukti dinyatakan mengalami patah tulang di kaki kanannya. Indra pun dirujuk ke RS Santosa untuk dioperasi. Indra Harimukti menjalani operasi dan pemasangan pen pada kakinya yang patah, dan setelah selesai dan bisa pulang, Indra hanya bisa berbaring di tempat tidur selama 1 tahun. Untuk pengobatan selanjutnya, keluarga Indra hanya membawanya berobat ke tempat terapi dan sesekali kontrol ke rumah sakit. Alhamdulillah, akhirnya Indra bisa berjalan walaupun dibantu menggunakan tongkat dan dengan pen masih terpasang. Beberapa tahun kemudian Indra pun bisa berjalan tanpa bantuan tongkat, dan ia pun bisa mencari nafkah dengan berjualan di sekitar pasar Cihampelas. Nasib tragis kembali terjadi, ketika tahun 2017 Indra kembali mengalami kecelakaan. Ia terjatuh dari pohon ketika sedang membantu tetangganya memetik buah alpukat. Akibat jatuh tulang kakinya kembali bergeser dan tangannya pun patah. Akibat kecelakaan itu ia hanya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan sementara, karena untuk menjalani operasi kembali keluarganya tidak memiliki biaya. Bahkan untuk menjalani pengobatan tradisional atau terapi pun hanya bisa dijalani apabila ada bantuan dari kakaknya ketika memiliki rezeki lebih. Kabar penderitaan dan kesulitan keluarga Indra disampaikan salah seorang kakaknya kepada kurir Sedekah Rombongan, yang secara kebetulan sering bertemu dan berbincang di masjid. Beruntung kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumahnya dan bertemu dengan Indra beserta kakak perempuan yang mengurusnya. Indra membutuhkan bantuan biaya agar dapat menjalani operasi untuk membuka pen yang terpasang pada kakinya yang patah, yang sekarang posisinya kembali bergeser akibat jatuh. Mereka sangat berharap agar Indra dapat kembali berjalan dan beraktivitas sehingga bisa bekerja mencari nafkah, sebab kakak perempuan yang mengurusnya pun hanya seorang single parent. Syukur Alhamdulillah, pada 23 November 2017 Sedekah Rombongan dapat memberi bantuan uang, titipan dari para sedekaholik yang berempati atas penderitaan Indra. Bantuan uang tersebut digunakan untuk membeli obat penahan sakit yang sangat diperlukan, biaya transportasi pemeriksaan ke RS Santosa, dan membeli obat resep dokter. Pada Januari 2018, Sedekah Rombongan memberikan bantuan lanjutan dari sedekaholik #SR kepada Indra yang diperlukan untuk biaya mengurus pembuatan Kartu Keluarga, untuk pembuatan BPJS, biaya pemeriksaan dan berobat kembali ke rumah sakit sebelum mendapat kepastian untuk mengoperasi kakinya yang terus terasa sakit karena masih dipasangi pen. Mudah-mudahan bantuan para dermawan Sedekah Rombongan ini dapat mengurangi penderitaan dan meringankan beban hidup Indra dan keluarganya, serta dapat mengantarkannya untuk memperoleh kesembuhannya. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 7 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima Yadi

Pak Indra menderita patah tulang kaki kanan


KANIA AULIA KHOERUNNISA (5, Susp. Anemia Fantastis atau Leukemia). Alamat: Jl. Parunghalang RT 6/2, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Kania, anak tunggal dari Bapak Teten dan Ibu Imas ini, tidak seberuntung anak lain seusianya. Saat anak lain selalu bermain dengan riang gembira, Kania kehilangan keceriaannya karena harus terbaring di atas ranjang besi rumah sakit. Kania diduga mengidap kelainan darah; diagnosa sementara ia mengidap penyakit Anemia Fantastis atau Leukemia. Gejala awal memang tampak seperti gejala penyakit DBD pada umumnya. Namun, sudah sekitar dua minggu lebih, tubuh Kania mudah sekali memar bila mengalami kelelahan atau kecelakaan kecil, seperti terbentur. Lama-kelamaan muncul bintik-bintik merah di beberapa bagian tubuhnya, disertai batuk dan demam tinggi yang sulit sembuh. Segala upaya pengobatan telah dilakukan, baik medis maupun nonmedis. Kania pernah diperiksakan ke Puskesmas, dokter umum, dan rumah sakit. Cek darah juga telah dilakukan. Gadis cantik ini bahkan sempat dirawat di RS Bina Sehat, Dayeuh Kolot, Kab. Bandung. Namun, setelah dirawat selama tiga malam di RS Bina Sehat, kondisi kesehatan Kania malah semakin memburuk, kadar trombositnya kian menurun. Karena diduga mengalami kelainan darah, penanganan medisnya kemudian dirujuk ke RSHS Bandung. Sejak Jumat 13 Mei 2016 Kania akhirnya dirawat di RSUP yang terletak di Kota Kembang itu. Selama di RSHS, Kania sempat mengalami pendarahan hebat di hidungnya dan muntah darah. Para dokter menyarankan untuk menjalani cek darah dan biopsi sumsum tulang belakang. Sampai saat dilakukan survey oleh kurir #SR, Kania sudah menerima tranfusi trombosit sebanyak 21 labu, belum lagi tranfusi darah dan PRC. Hampir 11 hari di RSHS, kondisi Kania belum memperlihatkan perkembangan yang signifikan. Ia juga tampak mengalami stres seusai menjalani biopsi sumsum tulang belakang yang dilakukan pada Senin 23 April 2016. Selama menjalani pengobatan medis, untuk biayanya, Bapak Teten (ayah Kania) hanya mengandalkan jaminan SKTM karena jaminan BPJS masih dalam pengajuan. Untuk penunjang biayanya mereka hanya mengandalkan hasil jualan gorengan yang hasilnya tidak menentu. Penghasilan Bapak Teten sebagai pedagang gorengan yang tidak seberapa itu, tentu tidak sebanding dengan tuntutan hidup dan cobaan yang mereka alami. Karena itu, di balik sosok tegar seorang ayah, ia mengaku kepada kurir #SR, kerap meneteskan air mata karena tidak tega melihat kondisi anak semata wayangnya. “Tetapi, saya harus terus tegar, kuat dan tak akan lelah berusaha demi kesembuhan putri saya ini,” tekad ayahnya. Cerita dhuafa ini akhirnya sampai kepada kurir Sedekah Rombongan melalui informasi dari salah satu rekan kurir #SR. Bersyukur, kurir #SR dapat bersilaturahmi dengan keluarga kecil yang tergolong dhuafa ini. Atas izin Allah SWT, alhamdulillah, kurir #SR juga dapat menyampaikan amanah, Titipan Langit dari para donatur dan Sedekaholics #SR, untuk Kania. Bantuan awal yang berupa uang ini digunakan untuk biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari selama berobat di RSHS Bandung. Pada Februari 2017 kurir #SR kembali mengunjungi keluarga Kania, dikarenakan mendapat kabar bahwa kondisi Kania kembali menurun. Kania sering mengalami pendarahan di hidung dan beberapa kali dibawa ke dokter. Pada kunjungan tersebut Kurir #SR kembali menyambaikan bantuan untuk biaya berobat Kania. Sampai saat ini Kania masih memerlukan biaya untuk membeli obat, nutrisi dan pemeriksaan ke dokter, Selain itu ia harus terus mengkonsumsi jeli gamat spirulina, yang harganya Rp 250.000,- per botol, untuk mendukung proses pengobatannya. Oleh karena itu pada September 2017 dan Januari 2018 Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan uang dari para Sedekaholik untuk membantu kesembuhan Kania. Setiap kali menerima bantuan dari Sedekah Rombongan, tampak suasana haru, senang, dan entah perasaan apa lagi terpancar dari wajah keluarga kecil ini, dan mereka tak lupa berkata, “Terima kasih. Jazakumullah!” Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1051.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal: 7 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @seynie05

Kania mengidap penyakit anemia fantastis atau leukemia


WIDIATI BINTI ADE SULAEMAN (16, Patah Tulang Kaki). Alamat: Jalan Laswi Kampung Pasir Malang RT 3/8, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat. Pada 11 Februari 2017, Widiati mengalami musibah, yaitu tertabrak sepeda motor, yang mengakibatkan patah tulang dari pergelangan kaki, lutut, paha, sampai tulang panggul. Berdasarkan pemeriksaan dan rontgen rumah sakit Widiati harus menjalani operasi, dengan biaya berkisar antara Rp 29.000.000,-. Tentu saja musibah yang menimpa Widiati ini membuat sedih dan panik ibunya. Ibunya, yaitu Ibu Siti, adalah seorang janda dengan tiga orang anak. Sedangkan Widiati adalah anak pertamanya. Sedangkan ayahnya, Bpk. Ade Sulaeman, sudah tidak pernah mengurusnya sejak Widiati masih sekolah di kelas 2 SD. Untuk membiayai ketiga anaknya itu, Ibu Siti bekerja banting tulang dengan bekerja apa saja, dari mulai bantu-bantu tetangga sampai berjualan apa saja, “yang penting saya dapat rezeki halal…..” begitu kata Ibu Siti. Karena keluarga Ibu Siti belum mempunyai jaminan kesehatan dan karena pihak yang menabrak juga termasuk warga miskin, maka pihak penabrak tidak bisa membantu biaya operasi yang cukup besar itu. Karena tidak ada biaya Widiati akhirnya dibawa pulang. Ibunya terus berikhtiar mendapatkan uang agar dapat mengobati patah tulang Widiati. Setiap empat hari Widiati dibawa berobat ke tempat pengobatan alternative dengan cara diurut. Setiap berobat, Ibu Siti membutuhkan biaya Rp 300.000,-. Oleh karena itu, penderitaan dan kesusahan orang tua Widiati semakin berat karena ia jadi tidak bisa bekerja. Ibu Siti harus merawat Widiati yang sudah empat bulan terbaring di rumah serta harus bolak-balik ke tempat pengobatan alternative. Demi membiayai segala kebutuhannya, Ibu Siti sudah menjual apa pun barang miliknya dan juga meminjam kepada tetangga dan saudaranya. Kisah duka dan memprihatinkan dari keluarga dhuafa ini disampaikan oleh teman ibunya kepada kurir Sedekah Rombongan. Syukur Alhamdulillah, pada pertengahan Agustus 2017 kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung menjenguk Widiati dan bersilaturahmi dengan ibu dan adik-adiknya. Pada kunjungan tersebut kurir Sedekah Rombongan menyampaikan titipan langit dari para sedekaholik, yaitu bantuan uang untuk meringankan beban hidup mereka. Uang tersebut akan digunakan untuk biaya pembuatan BPJS dan pengobatan Widiati. Syukur Alhamdulillah, pada September 2017 Widiati dapat menjalani operasi dengan menggunakan fasilitas BPJS. Pada Oktober 2017 ibunya Widiati kembali mengabarkan Kurir #SR bahwa pasca operasi Widiati memerlukan bantuan untuk biaya transportasi dan kontrol ke rumah sakit. Selain itu, obat-obatan untuk perawatan di rumah yang harus dibeli di apotek, yang tidak bisa menggunakan BPJS, juga cukup banyak. Oleh karena itu pada kunjungan bulan Oktober dan November 2017 itu, Kurir #SR memberikan bantuan lanjutan dari para sedekaholik #SR, yang diterima oleh ibunya Widiati. Pada Januari 2018 Sedekah Rombongan kembali memberi bantuan untuk Widiati, karena bantuan tersebut sangat diperlukan untuk biaya transportasi-akomodasi dan obat-obatan pasca operasi Widiati. Mudah-mudahan bantuan para dermawan tersebut dapat meringankan beban hidup keluarga Widiati dan memudahkan ikhtiar bagi kesembuhan Widiati. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 1078.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 7 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @seynie05

Widianti mengalami patah tulang dari pergelangan kaki, lutut, paha, sampai tulang panggul


MUHAMMAD SHIDDIQ MY (3, Meningokel). Alamat: Bojong Gadog RT 2/2, Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Anak yatim ini tinggal bersama ibu dan neneknya di rumah bilik peninggalan kekeknya. Ayahnya meninggal dunia karena sakit saat Siddiq masih berusia empat bulan dalam kandungan ibunya. Sungguh berat cobaan yang mereka alami, terutama ibunya, Khodijah (19). Belum lama ia ditinggal suaminya, kini ia harus menghadapi kenyataan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: anak pertamanya lahir dengan kelainan bawaan: ada benjolan di antara sudut mata kanan dan pangkal hidung. Bayi yang diberi nama Shiddiq –seperti pesan almarhum ayahnya– ini pada usia delapan hari setelah dilahirkan kemudian diperiksakan ke dokter praktik di Pasirjambu. Dokter menyarankan Shiddiq segera dibawa ke rumah sakit. Ibu Shiddiq baru membawanya 30 hari kemudian karena kuatir akan biaya rumah sakit. Selain tak memiliki uang, mereka juga tidak punya jaminan kesehatan apa pun. Kesulitan yang mereka hadapi dipahami para sedekaholik #SR. Alhamdullah kurir #SR bisa bersilaturahmi dengan anak yatim ini dan mendampinginya berobat ke rumah sakit sampai saat ini. Biaya tranportasi-akomodasi ke RSUD Soreang dan RSHS Bandung juga biaya sehari-hari mereka dibantu sedekaholik. Rupanya Shiddiq memerlukan penanganan medis cukup lama. Pada kontrol kedua, Sabtu, 23 Mei 2015, ia diperilsakan ke RSUD Soreang. Dokter di Bagian Bedah menduga bahwa benjolan yang perlahan membesar itu adalah Meningokel. Dokter menyarankan tindakan operasi di RSHS Bandung. Selasa 26 Mei 2015 kembali kurir SR mendampinginya menjalani pemeriksaan pertama di Poli Bedah dan Poli Anak RSHS Bandung. Karena masih ada tahapan diagnosa yang harus dijalani, pada Jumat 28 Mei 2015 Shiddiq didampingi lagi ke RSHS untuk pemeriksaan darah, jantung, dan paru. Selama bulan Juni 2015 lima kali Shiddiq menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung sebelum tindakan operasi. Pada 1 dan 2 Juli 2015 ia juga dirujuk ke RS Mata Cicendo Kota Bandung yang hasil pemeriksaannya keluar 7 Juli 2015. Pada awal Agustis 2015 anak yatim ini harus menjalani kembali serangkaian pemerksaan medis di RSHS Bandung; ia dirawat inap hampir sebulan di sana dan dilanjutkan dengan tindakan operasi. Alhamdulillah operasi pertamanya berhasil. Pada 28 Agustus 2015 ia diperbolehkan pulang dan dijemput MTSR Bandung. Siddiq menjalani kontrol pertamanya pada 3 September 2015, juga diantar-jemput MTSR. Perkembangannya sangat menggembirakan. Benjolannya sudah mengecil. Minggu kedua Oktober 2015 Shidddiq kontrol lagi ke RSHS Bandung. Pada kontrol ketiga, November 2015, dokter menyatakan bahwa penanganan di RSHS telah tuntas. Tetapi karena pada mata kirinya sering keluar cairan dan memerah, ia dirujuk ke RS Mata Cicendo, dan harus berobat jalan dua minggu sekali. Pada akhir Desember 2015, Shiddiq diantar-jemput lagi ke RS Mata Cicendo untuk pemeriksaan matanya yang kerap berair. Pada 9 Februari 2016, kurir #SR kembali mendampinginya kontrol ke Poli Anak RSHS Bandung. Kondisinya alhamdulillah membaik, meskipun ia masih harus kontrol kembali. Pada awal April 2016 ibunya mengabari kurir #SR bahwa Shiddiq harus kontrol selaligus menjalani terapi di RSHS Bandung. “Kami harus bawa lagi Shiddiq ke RSHS tapi kami tak punya biaya,” kata ibunya. Kurir #SR kemudian mengantar-jemput Shiddiq dan keluarganya menjalani pemeriksaan medis dan terapis di RSHS Bandung dan kembali memberinya bantuan untuk biaya akomodasi selama berobat dan biaya sehari-hari. Sejak bulan Mei 2016 Shiddiq rutin menjalani terapi seminggu sekali ke RSHS Bandung. Alhamdulillah kurir #SR terus mendampingi dan mengantar-jemputnya menggunakan MTSR Bandung. Meskipun kondisinya amat menggembirakan, sampai September 2016, anak yatim ini masih harus kontrol dan terapi rutin di RSHS Bandung. Begitu juga di bulan Oktober 2016 dan November 2016, Shiddiq menjalani terapi rutin seminggu sekali di RSHS Bandung. Pada awal Januari 2017 ibunya menghubungi kurir #SR mengabarkan adanya benjolan di bagian belakang pundak anak semata wayangnya itu. Esok harinya, ia diperiksakan ke Puskesmas Rawabogo dan RSUD Soreang. Karena benjolannya diduga serius, penanganannya kemudian dirujuk lagi ke RSHS Bandung. Baru saja penyakit miningokele teratasi, Shiddiq harus kembali menjalani pemeriksaan untuk memastikan benjolan yang tumbuh di awal tahun 2017 itu. Pada Feburari 2016, selain diperiksakan ke Poli Ongko dan Poli Anak, ia juga sempat diterapi di Poli Tumbuh Kembang. Sampai awal Mei 2017 Shiddiq kontrol ke RSHS. Pada bulan Juni 2017 ia tak sempat diperiksakan ke RSHS. Shiddiq baru bisa dibawa periksa.lagi pada akhir Juli 2017. Hasilnya, menggembirakan. Shiddiq hanya dianjurkan kontrol dua bulan atau sebulan sekali. Pada akhir Desember 2017 kurir #SR menemui Shiddiq dan orangtuanya di rumah panggung mereka. Menurut ibunya, selain ke RSHS, Shiddiq juga harus diperiksakan ke RS Mata Cicendo Kota Bandung. Dari sudut kedua matanya sering keluar air. Mereka masih membutuhkan dukungan dan bantuan para dermawan. Berempati atas apa yang dialami Shiddiq dan keluarganya, kembali Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan untuk Muhammad Shiddiq MY yang dan keluarganya yang digunakan unt biaya tranportasi-akomodasi berobat ke RSHS dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1034

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 8 Januari 2018
Kurir: @ddsyaefudin @azbim @cucucuanda

Shiddig menderita meningokel


TITIN PRIATIN (35, Gangguan Ginjal + Ca. Serviks). Alamat: Jalan Cihampelas Gg. Marga Setia No. 38/25, RT 4/15, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pada bulan Juni 2017 Ibu Titin mengalami sakit di perut, terus merasa mual dan muntah-muntah. Setelah diperiksa di dokter umum dokter menyatakan bahwa ia sakit maag dan memberinya obat. Akan tetapi, setelah minum obat, Ibu Titin tambah sering muntah-muntah dan kesakitan di perut serta dadanya. Karena kondisinya semakin parah ia pun dievakuasi ke RS Salamun di Ciumbuleuit Bandung. Setelah diperiksa di laboratorium, ia dinyatakan sakit ginjal dan dirujuk ke RS Advent atau RS Khusus Ginjal R.A. Habibie. Sungguh sedih dan panik dirasakan bagi suami Ibu Titin, yaitu Bpk. Rendi Permana (37 thn). Sudah tiga tahun yang lalu suami Ibu Titin ini diberhentikan sebagai karyawan hotel dan sampai saat ini belum memiliki pekerjaan tetap, kecuali bekerja sebagai tukang ojeg on line. Sekarang pun Ibu Titin beserta suami dan satu orang anaknya tinggal bersama orang tuanya. Sewaktu bekerja dulu perusahaannya mendaftarkan keluarga Ibu Titin sebagai anggota BPJS kelas 1, namun sudah tiga tahun tidak terbayar. Demi memperoleh kesembuhan Ibu Titin, maka keluarganya pun berusaha membuat SKTM, agar Ibu Titin dapat berobat secara gratis. Namun, SKTM itu ditolak karena harus melunasi iuran BPJS. Setelah bernegosiasi dengan pihak BPJS, akhirnya mendapat keringanan dengan hanya diwajibkan membayar tunggakan sebesar Rp 3.120.000,- Namun tetap saja keluarga mereka tidak mampu membayarnya karena tidak memiliki uang. Demi menyelamatkan Ibu Titin, maka keluarganya pun terpaksa membawa Ibu Titin ke RS Khusus Ginjal R.A. Habibie melalui jalur umum. Di rumah sakit itu Ibu Titin dirawat-inap dan dicuci darah 1x dengan membayar biaya Rp 3.311.500,- yang diperoleh dari bantuan keluarga dan saudara-saudaranya. Setelah menjalani rawat inap, dokter pun menyarankan agar datang kembali seminggu kemudian untuk menjalani cuci darah, akan tetapi setelah hamper dua minggu sejak pulang, Ibu Titin belum bisa menjalani cuci darah disebabkan tidak memiliki biaya dan tunggakan BPJS-nya belum terbayar. Kondisi Ibu Titin semakin mengkhawatirkan dan menyedihkan. Ia terus terbaring karena merasa pusing, mual dan muntah-muntah serta di badannya mulai muncul bintik-bintik merah. Kisah duka dan penderitaan Ibu Titin itu disampaikan kakaknya kepada Kurir Sedekah Rombongan (#SR) Bandung. Karena berempati, maka Kurir #SR pun mengunjunginya diantar oleh oleh Kakaknya itu. Pada kunjungan itu Kurir #SR menyampaikan titipan langit, yaitu bantuan dari para sedekaholics yang berempati terhadap kesusahan dan penderitaan Ibu Titin. Bantuan uang tersebut mudah-mudahan dapat meringankan beban hidup keluarga mereka dan dapat digunakan untuk biaya transportasi dan akomodasi ke rumah sakit serta membeli obat yang disarankan dokter. Pada kesempatan itu pula, Kurir Sedekah Rombongan menyampaikan keprihatinannya dan akan berusaha mencari bantuan agar memperoleh biaya untuk melunasi tunggakan iuran BPJS-nya. Syukur Alhamdulillah, pada akhir Agustus 2017 Kurir #SR kembali dapat mengunjunginya dan menyampaikan bantuan uang dari sedekaholics #SR. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk melunasi tunggakan BPJS agar Ibu Titin dapat menjalani cuci darah rutin sesuai petunjuk dokter. Pada akhir September 2017, Kurir Sedekah Rombongan mendapat kabar bahwa keadaan Ibu Titin Priatin semakin memburuk. Dari pemeriksaan dokter, Ibu Titin juga terdiagnosa cancer serviks. Selain harus menjalani cuci darah 2x setiap minggu, ia pun harus dirawat karena kondisinya semakin menurun. Maka pada 28 September Kurir Sedekah Rombongan kembali megunjungi Ibu Titin, yang pada saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Pada kunjungan itu disampaikan kembali bantuan uang dari para Sedekaholik #SR. Bantuan tersebut diperlukan untuk biaya transportasi-akomodasi dan biaya sehari-hari selama menjalani rawat-inap di rumah sakit. Pada November dan Desember 2017 Ibu Titin tidak lagi menjalani cuci darah, akan tetapi ia menjalani operasi untuk membuat saluran kencing dan dipasangi selang di kedua belah pinggulnya. Selang tersebut berfungi sebagai saluran untuk pembuangan air seninya. Ibu Titin masih memerlukan bantuan dan biaya untuk pengobatan serta perawatannya, dan ketika ditemui kembali ia sedang terbaring lemah. Pada November 2017, Desember 2017, dan Januari 2018 Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan dari pada sedekaholik untuk membantu biaya transportasi, kontrol,, perawatan mengganti selang saluran kencing, dan berobat cancer serviks-nya. Mudah-mudahan bantuan tersebut dapat mengantarkan Ibu Titin untuk memperoleh kesembuhannya. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 8 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima Yedi

Bu Titin menderita gangguan ginjal + ca. serviks


M. RIA ABDUL JAMAL (41, Anemia Gravis + Lambung). Alamat: Jalan Cijerokaso No. 7 RT 05/10, Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Bapak Ria Abdul Jamal (Pak Jamal) adalah seorang sopir taksi yang masih tinggal menumpang di rumah mertuanya bersama istri dan satu orang anaknya. Delapan bulan yang lalu, Pak Jamal mengalami bengkak di kedua kakinya. Beberapa hari ia beristirahat dari pekerjaannya sebagai sopir taksi. Tetapi karena bengkak dikakinya tidak juga sembuh, maka ia pun pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Tegal, bermaksud meminta bantuan biaya untuk berobat kepada keluarganya. Di sana ia memeriksakan kakinya ke RSI PKU Mhammadiyah Kabupaten Tegal. Dari pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Pak Jamal mengidap penyakit asam urat tinggi, dan dari hasil resume medis Bapak Jamal didiagnosa Anemia Gravis. Dokter menyarankan agar ia memeriksakan diri berobat rutin ke rumah sakit, namun setelah pemeriksaan itu Bapak Jamal kembali pulang ke Bandung untuk mengabarkan perihal sakitnya itu kepada keluarganya. Akan tetapi karena beberapa bulan ia tidak bekerja dan tidak memiliki uang, ia tidak mampu pergi ke dokter atau rumah sakit untuk memeriksakan penyakitnya. Karena kondisi sakitnya yang berlarut itu istrinya pun terpaksa bekerja di tempat laundry pakaian untuk mencari nafkah. Beberapa bulan kemudian kedua kakinya semakin mengecil dan tubuhnya semakin kurus dan lemah. Setiap hari ia hanya terbaring beralas kasur di satu ruangan kecil, tempat tinggalnya bersama keluarga. Pak Jamal dan istrinya semakin hidup dalam keprihatinan dan kesedihan. Kondisi ekonomi keluarga dan orang tuanya yang sulit membuatnya tak berdaya untuk membiayai penyakit Pak Jamal. Walaupun mereka sudah menjadi peserta BPJS, namun karena iurannya menunggak maka mereka pun tidak bisa menggunakan fasilitas kesehatan itu untuk berobat. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan (#SR) dapat berkunjung dan dipertemukan dengan keluarga dhuafa itu melalui kabar dari saudaranya yang merasa kasihan. Dari hasil kunjungan pertama itu kurir #SR mendengar cerita duka dan kesusahan mereka yang disertai dengan tangisan dan derai air mata. Namun demikian mereka terus berikhtiar mencari bantuan dan istrinya bekerja setiap hari sampai malam demi mencari uang sambil berharap mendapat rezeki untuk membiayai pengobatan pak Jamal. Merasa prihatin dengan penderitaan mereka, maka pada kunjungan berikutnya kurir #SR memberikan bantuan pertama berupa uang dari para Sedekaholik #SR yang berempati terhadap kesusahan mereka. Bantuan uang tersebut diterima oleh suami-istri dhuafa itu dengan diiringi tangisan haru dan kegembiraan. Sambil meneteskan air mata, istri Pak Jamal berulang kali mengucapkan terima kasih atas perhatian para dermawan #SR. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk melunasi tunggakan BPJS, biaya transportasi dan akomodasi berobat ke rumah sakit. Pada November 2017 Sedekah Rombongan mendapat kabar bahwa Pak Jamal sudah bisa rutin kontrol dan berobat dengan fasilitas BPJS. Berdasarkan anjuran dokter, Pak Jamal harus berobat rutin ke rumah sakit sebanyak dua kali seminggu. Berdasarkan pemeriksaan, Pak Jamal menderita lambung bocor sehingga setiap makan atau minum obat selalu kembali muntah. Oleh karena itu pengobatan sekarang difokuskan pada lambungnya agar selanjutnya dokter dapat memberi obat untuk penyakit asam urat dan kolesterol Pak Jamal, yang sampai saat ini belum bisa berjalan. Karena proses pengobatan Pak Jamal harus berlanjut sebanyak dua kali dalam seminggu, dan tentu saja ia memerlukan bantuan biaya transportasi dan akomodasi, maka pada bulan November 2017 dan Januari 2018 Sedekah Rombongan kembali memberikan bantuan lanjutan dari para sedekaholik #SR. Syukur Alhamdulillah, pada kunjungan di pertengahan Januari 2018 kondisi Pak Jamal sudah membaik. Ia sudah bisa berdiri dan mulai berjalan-jalan untuk menguatkan kembali kakinya. Semoga bantuan para dermawan ini terus memberinya harapan dan semangat agar Pak Jamal dapat berobat dan memperoleh kesembuhannya demi kebahagiaan anak dan istrinya. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1084.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 8 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @hengkisenandika Yedi

Pak Jamal mengidap penyakit asam urat tinggi, dan anemia gravis


DEDEH BINTI ADANG (62, Mata Berkabut + Neuropati). Alamat: Kampung Cigunting RT 2/12, Desa/Kelurahan Mandalasari, Kecamatan Cikandung, Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat. Sudah belasan tahun Ibu Dedeh mengalami ngangguan mata. Jarak pandangnya pendek dan terasa seperti ada kabut yang menghalangi. Walaupun jauh, beberapa kali ia berusaha mengobati penyakitnya ke RS Mata Cicendo di Bandung. Sejak suaminya meninggal belasan tahun yang lalu ia tidak lagi berobat karena tidak memiliki biaya. Ia harus membesarkan kedua anaknya yang masih sekolah di SMA dan anaknya yang bungsu masih di SD. Sementara anak-anaknya yang lain sudah menikah dan sebagian tinggal di kota. Untuk biaya hidupnya ia mencari nafkah dengan membuka warung kecil di rumahnya. Beberapa tahun ini pandangan matanya semakin buram. Jarak pandangnya hanya 10-15 Cm. Dokter mata di Cicendo mengusulkan agar mata Ibu Dedeh dioperasi, akan tetapi belum dapat terlaksana karena tidak memiliki biaya. Sementara itu dokter mengusulkan agar kedua mata ibu Dedeh dilaser terlebih dahulu. Biaya satu kali dilaser adalah Rp 750.000,- dan untuk ini pun baru dapat dilaksanakan 1 kali. Sekarang menggunakan kaca mata pun sudah tidak berpengaruh terhadap pandangan Ibu Dedeh, sementara ia harus mencari nafkah dengan belanja ke pasar agar bisa berjualan di warung. Selain itu, beberapa tahun ini ia sering menderita sakit badan, terasa ngilu sekujur tubuh, dan punggung terasa panas sehingga sulit tidur. Untuk penderitaan ini ia pun masih berusaha berobat ke Klinik dan RS Cikopo Cicalengka, Kabupaten Bandung. Dari hasil pemeriksaan dan setelah dirontgen, dokter menyatakan Ibu Dedeh menderita penyakit neuropati. Semangat Ibu Dedeh untuk berobat masih tinggi, akan tetapi karena tidak memiliki biaya ia tidak bisa melanjutkan pengobatannya. Sekarang ia tinggal bersama anak bungsunya yang sudah besar, tetapi belum bekerja. Biaya sehari-hari dibantu anak-anaknya yang bekerja dan tinggal di kota. Kabar penderitaan Ibu Dedeh yang sekarang tidak bisa lagi berjualan disampaikan putranya kepada Kurir Sedekah Rombongan (#SR). Ibu Dedeh memerlukan biaya berobat rutin ke RS Mata Cicendo Bandung dan ke RS Cikopi Cicalengka. Beberapa bulan terakhir pun anak-anaknya sudah mengeluarkan biaya sebanyak 2.700.000,- untuk biaya berobat ke dua rumah sakit itu, tetapi sekarang Ibu Dedeh dan anak-anaknya sudah merasa kesulitan untuk memiliki biaya berobat lagi. Syukur Alhamdulillah, Kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumah Ibu Dedeh dan mendengar cerita dukanya. Pada kunjungan pertama itu Kurir #SR menyampaikan bantuan dari para Sedekaholik #SR yang berempati terhadap kesusahan Ibu Dedeh dan putranya. Bantuan awal tersebut akan digunakan untuk biaya transportasi berobat ke Rumah Sakit Cikopo dan melakukan pemeriksaan mata lagi ke RSM Cicendo Bandung. Ibu Dedeh masih memerlukan bantuan agar dapat terus kontrol dan mengobati kedua penyakit yang dideritanya, maka pada Januari 2018 Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan lanjutan dari para sedekaholik. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk transportasi membuat BPJS dan berobat ke RS Cicendo Bandung. Mudah-mudahan bantuan para dermawan ini akan selalu memberi semangat kepada Ibu Dedeh untuk terus berobat agar badannya kembali sehat dan dapat kembali melihat dengan baik agar dapat kembali mencari nafkah. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 1056.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 1 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @esumiati01

Ibu Dedeh mengalami gangguan mata


EVA HANIFAH (20, Tumor Sinonussal). Alamat: Jalan Pojok Selatan RT 2/7, Kelurahan/Desa Setiamanah, Cimahi Tengah – Provinsi Jawa Barat. Pada November 2016, Eva Hanifah merasa penglihatannya silau dan merasakan nyeri-nyeri pada matanya. Setelah diperiksa di Puskesmas, ia pun dirujuk ke RS Cibabat Cimahi. Setelah berobat ke rumah sakit pun rasa sakit di matanya seringkali kambuh sehingga membuat Eva tidak tahan dan sampai pingsan. Karena itu ia sering bolak-balik ke IGD Cibabat sampai akhirnya dirujuk ke RSHS Bandung untuk diperiksa di Poli Gigi/Bedah Mulut karena terindikasi mengalami kelainan pada gigi. Tetapi setelah di-CT Scan di Poli Bedah Mulut dan Poli THD, ternyata Eva Hanifah terkena tumor sinonussal. Eva pun menjalani 30 kali sinar therafi serta 3 kali kemotherafi (kemo ruangan). Walaupun tumornya sempat mengecil, tetapi tidak lama kondisi Eva menurun kembali dan segera dievakuasi ke RSHS Bandung. Eva harus menjalani rawat jalan sebelum ia menjalani tindakan operasi, dan karena itu ia sangat memerlukan bantuan dan pertolongan agar terus dapat bersabar dan berjuang untuk memperoleh kesembuhannya. Tentu saja karena sakit yang dialaminya itu ia sangat menderita dan nasibnya sangat memprihatinkan. Sudah 7 bulan ia dan anaknya ditelantarkan oleh suaminya tanpa diberi nafkah. Sehingga selama perjuangannya dalam berobat ia diurus oleh orang ibu dan kakaknya. Kakaknya itu pulalah yang giat mencari bantuan hingga ia bertemu dengan Kurir Sedekah Rombongan di RSHS Bandung. Kakaknya Eva pun menceritakan penderitaan Eva, dan Alhamdulillah, Kurir sedekah Rombongan dapat berkunjung dan bersilaturahmi dengan Eva dan keluarganya. Eva dan keluarganya sangat membutuhkan bantuan, bukan saja untuk biaya transportasi dan akomodasi setiap kali berobat, tetapi ia pun memerlukan biaya untuk vitamin dan obat yang harus dibeli. Oleh karena itu untuk memudahkan Eva menjalani rawat jalan, Eva pun dibawa dan tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung. Pada Desember 2017 Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan dari para sedekaholik #SR yang berempati atas penderitaannya. Bantuan uang yang diberikan di Rumah Singgah Sedekah Rombongan itu digunakan untuk membeli obat dan berbagai keperluan untuk perawatan, serta untuk membeli susu atau vitamin yang dibutuhkan. Semoga bantuan para dermawan ini dapat memberinya harapan dan semangat agar Eva Hanifah dapat terus berjuang dan berobat untuk memperoleh kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 26 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @lisdamojang @Mulawarman

Bu Eva menderita tumor sinonussal


ELIS MUNAWAROH (38, Tenatus/Diabetes). Alamat: Jalan Perwira RT 2/5, Desa Sawah Gede, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur – Provinsi Jawa Barat. Penderitaan Ibu Elis diawali ketika hendak pergi ke pasar kakinya menginjak paku payung yang sudah berkarat. Sakit karena tertusuk paku itu pada awalnya diabaikan saja, ia pun terus ke pasar karena harus belanja untuk bahan-bahan membuat gorengan dan jajanan anak-anak yang akan ia jajakan berkeliling. Namun pada hari kedua kaki Bu elis membengkak dan kemerah-merahan, hingga ia dan suaminya segera pergi ke dokter untuk berobat. Hasil pemeriksaan dokter Ibu Elis dinyatakan tetanus dan diabetes sehingga diperkirakan lukanya sulit untuk sembuh. Dokter pun menyarankan agar Ibu Elis dibawa ke RSUD Cianjur. Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan dan membuat panik suami Bu Elis, yaitu Abdul ohar (54 thn), karena ia tidak memiliki uang untuk berangkat dan untuk berobat ke rumah sakit. Suami Bu Elis bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah dan memiliki 3 orang anak. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun susah, sehingga Bu Elis membantunya dengan berdagang gorengan dan jajanan anak-anak. Akan tetapi, demi mengobati Bu Elis, suaminya terpaksa meminjam uang kepada para guru di sekolah tempatnya bekerja. Sungguh sangat mengagetkan dan menyedihkan, setelah menjalani pemeriksaan di RSUD Cianjur, dokter menyatakan bahwa infeksi di kaki Ibu Elis sudah menjalar dan kakinya harus diamputasi. Kisah duka keluarga dhuafa itu disampaikan oleh relawan di daerahnya kepada kurir Sedekah Rombongan di Kabupaten Cianjur. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung dan bersilaturahmi ke rumahnya yang kecil, berukuran 3X3 meter dan lebih menyerupai gudang kecil. Syukur Alhamdulillah pada kunjungan tersebut Sedekah Rombongan dapat menyampaikan santunan, bantuan uang dari para sedekaholik. Bantuan tersebut akan digunakan untuk melunasi tunggakan iuran BPJS dan biaya sehari-hari agar Ibu Elis dapat melanjutkan ikhtiar berobatnya ke RS sampai menjalani amputasi. Mudah-mudahan bantuan para dermawan ini dapat meringankan beban hidup Ibu Elis beserta keluarganya yang berduka. Semoga ikhtiar keluarga Bu Elis memperoleh kemudahan dan semoga semuanya senantiasa diberi ketabahan dan kesabaran.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 1 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @alwiejozz Ikeu

Ibu Elis dinyatakan tetanus dan diabetes


ANIH BINTI NASORI (60, Lipoma + Gangguan Lambung). Alamat: Kampung Cigunting, Desa/Kelurahan Mandalasari, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat. Sudah enam bulan Ibu Anih merasakan badannya pegal-pegal, terutama di bagian pundak dan lengkan kirinya. Selain itu ia juga merasa tersiksa dan sulit tidur karena badannya selalu terserang gatal-gatal. Suami Ibu Anih, yaitu Bapak Rohman telah meninggal dunia, sehingga ia merasakan penderitaannya sendirian, tanpa bisa pergi berobat karena tidak memiliki biaya. Waktu itu ibu Anih masih tinggal di Garut bersama anaknya (19 tahun) yang sudah tidak sekolah dan belum bekerja. Demi memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja di kebun para tetangga dengan upah kerja yang sangat kecil. Perasaan cemas mulai muncul ketika di bagian pangkal lengan kirinya muncul benjolan yang membuat tangan dan badannya semakin terasa pegal. Selain itu, Ibu Anih pun sering menderita mual dan mulas sehingga tidak enak makan-minum, dan sering ingin muntah. Oleh karena itu Ibu Anih dan anaknya pergi meminta bantuan kepada anak perempuannya yang paling besar di Kampung Cigunting, Kabupaten Bandung. Bersama anaknya itulah ia pergi ke Klinik Sehat di Cicalengka untuk memeriksakan badannya. Di sana ia didiagnosa mengalami gangguan pada lambungnya. Sementara untuk benjolan di lengannya ia pergi ke Rumah Sakit Gardujati di Kota Bandung. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyarankan agar Ibu Anih menjalani operasi kecil untuk menghilangkan benjolan di pangkal lengannya. Akan tetapi, karena tidak memiliki biaya, sejak pemeriksaan itu Ibu Anih dan anaknya tidak pernah lagi bisa berobat. Anak perempuannya bekerja sebagai tukang jahit dan suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap selain usaha jual-beli burung. Karena merasa kasihan kepada Ibu Anih, anak perempuannya pun sering menceritakan penderitaan ibunya itu kepada ibu-ibu pengajian di masjid. Dan cerita duka dhuafa itu akhirnya sampai kepada kurir Sedekah Rombongan melalui salah seorang Jemaah pengajian yang pernah dibantu oleh Sedekah Rombongan. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumah keluarga Ibu Anih dan bersilaturahmi dengan mereka. Dari kisah yang dituturkan Ibu Anih dan anaknya, mereka sangat ingin mendapat pertolongan dan bantuan untuk berobat, karena benjolan di tangan Ibu Anih serta sakit pegal-pegal di badannya membuatnya menderita. Syukur Alhamdulillah, pada awal Januari 2018 kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan titipan langit, yaitu bantuan uang dari para sedekaholik untuk Ibu Anih. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk biaya transportasi membuat BPJS dan biaya pemeriksaan kembali ke dokter di Bandung. Mudah-mudahan bantuan para dermawan ini memberinya harapan dan semangat berikhtiar agar Ibu Anih memperoleh kembali kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 10 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @eumiati01

Bu Anih menderita lipoma + gangguan lambung


MTSR BANDUNG RAYA 1 (B 1629 SZF, Biaya Operasional Bulan November 2017). Sejak bulan Mei 2014, Sedekah Rombongan Bandung Raya dipercaya untuk meningkatkan pengkhidmatan membantu para dhuafa yang sakit dan tidak mampu melalui pelayanan Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR). Kendaraan serbaguna ini difungsikan sebagai ambulans dan mobil jenazah. Sampai saat ini, keberadaan MTSR Bandung Raya sangat dirasakan manfaatnya, baik oleh pasien dampingan Sedekah Rombongan Bandung Raya maupun warga dhuafa lainnya yang membutuhkan. Bahkan sejak Februari 2015, intensitas penggunaan MTSR Bandung Raya semakin tinggi. Menghadapi medan Kabupaten dan Kota Bandung, MTSR Bandung Raya ini tentu harus tampil prima. Selain penggantian pelumas dan servis rutin, ketersediaan bahan bakar menjadi keharusan agar MTSR Bandung Raya senantiasa laik dan layak jalan. Atas izin Allah SWT, bersyukur, sedekaholics senantiasa menyokong misi MTSR Bandung Raya dalam hal biaya pemeliharaan dan biaya operasional agar dapat beroperasi secara maksimal.Alhamdulillah para sedekaholics Sedekah Rombongan kembali memberi bantuan untuk operasional bulan November 2017 yang digunakan untuk: (1) pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM); (2) ganti oli; (3) parkir; dan (5) keperluan lainnya. InsyaAllah, MTSR Bandung Raya akan semakin dirasakan manfaatnya, khususnya oleh para dhuafa di wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat. Semoga kedermawanan (tsaqawah) para sedekaholics Sedekah Rombongan dibalas oleh Allah SWT dengan berkah dan janah di dunia dan akhirat. Aamiin. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1084.

Jumlah Bantuan: Rp. Rp. 2.969.000 ,-
Tanggal: 4 Januari 2018
Kurir: @ddsyaefudin @Lisdamojang

Biaya operasional


RSSR BANDUNG (Sembako dan Obat-obatan). Alamat: Jl. H. Yasin No. 56 RT 2/2, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung atau biasa disebut RSSR Bandung merupakan rumah singgah yang dikelola oleh Sedekah Rombongan Bandung sejak tahun 2013. Sejak tahun itu, RSSR Bandung telah menjadi rumah singgah bagi saudara kita, yaitu para dhuafa sakit dari berbagai daerah yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di bulan Desember 2017, RSSR Bandung menjadi tempat singgah sementara bagi kurang lebih 20 pasien beserta pendampingnya. Selain itu, pasien juga difasilitasi tempat tidur untuk beristirahat, dapur lengkap beserta persediaan makanan, dua toilet, musala dan satu sepeda motor untuk alat transportasi bersama. Selain tempat singgah sementara bagi para pasien dhuafa, RSSR juga berfungsi sebagai sarana koordinasi bagi para kurir/ relawan, sarana promosi dan ladang amal bagi sedekaholics yang tergerak hatinya untuk bersedekah secara langsung. Alhamdulillah berkat peranan sedekaholics, sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang, RSSR Bandung dapat menyediakan sembako untuk makan sehari-hari para pasien dan pendamping pasien, juga memenuhi kebutuhan RSSR lainnya, seperti obat-obatan. Semoga semua bantuan dari sedekaholics yang dipergunakan untuk kebutuhan pasien dampingan di RSSR Bandung ini menjadi ladang pahala dan membawa berkah kesembuhan bagi saudara kita para dhuafa sakit. Bantuan RSSR Bandung sebelumnya sudah masuk dalam Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan: Rp. 5.775.250,-
Tanggal: 4 Januari 2018
Kurir: @ddsyaefudin @lisdamojang

Biaya operasional


RSSR BANDUNG (Biaya Operasional). Alamat : Jl. H. Yasin No. 56 RT 2/2, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung atau biasa disebut RSSR Bandung merupakan rumah singgah yang dikelola oleh Sedekah Rombongan Bandung sejak tahun 2013. Sejak tahun itu, RSSR Bandung telah menjadi rumah singgah bagi saudara kita, yaitu para dhuafa sakit dari berbagai daerah yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di bulan Desember 2017, RSSR Bandung menjadi tempat singgah sementara bagi kurang lebih 20 pasien beserta pendampingnya. Selain itu, pasien juga difasilitasi tempat tidur untuk beristirahat, dapur lengkap beserta persediaan makanan, dua toilet, musala dan satu sepeda motor untuk alat transportasi bersama. Selain tempat singgah sementara bagi para pasien dhuafa, RSSR juga berfungsi sebagai sarana koordinasi bagi para kurir/ relawan, sarana promosi dan ladang amal bagi sedekaholics yang tergerak hatinya untuk bersedekah secara langsung. Alhamdulillah berkat peranan sedekaholics, sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang, kebutuhan operasional RSSR di antaranya: Bahan Bakar Minyak (BBM) motor, tambal ban, retribusi (parkir, sampah & iuran RT), internet, listrik, Alat Tulis Kantor (ATK), jasa pengiriman STNK MTSR BR 2 dan perbaikan rumah singgah bisa terpenuhi. Semoga semua bantuan dari para sedekaholics yang dipergunakan untuk operasional RSSR Bandung ini menjadi ladang pahala dan membawa berkah kesembuhan bagi saudara kita para dhuafa sakit yang merupakan pasien dampingan Sedekah Rombongan. Bantuan RSSR Bandung sebelumnya sudah masuk dalam Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.462.571,-
Tanggal: 4 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @lisdamojang

Biaya operasional


RSSR BANDUNG (Inventaris). Alamat : Jl. H. Yasin No. 56 RT 2/2, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung atau biasa disebut RSSR Bandung merupakan rumah singgah yang dikelola oleh Sedekah Rombongan Bandung sejak tahun 2013. Sejak tahun itu, RSSR Bandung telah menjadi rumah singgah bagi saudara kita, yaitu para dhuafa sakit dari berbagai daerah yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di bulan Desember 2017, RSSR Bandung menjadi tempat singgah sementara bagi kurang lebih 20 pasien beserta pendampingnya. Selain itu, pasien juga difasilitasi tempat tidur untuk beristirahat, dapur lengkap beserta persediaan makanan, dua toilet, musala dan satu sepeda motor untuk alat transportasi bersama. Selain tempat singgah sementara bagi para pasien dhuafa, RSSR juga berfungsi sebagai sarana koordinasi bagi para kurir/ relawan, sarana promosi dan ladang amal bagi sedekaholics yang tergerak hatinya untuk bersedekah secara langsung. Alhamdulillah berkat peranan sedekaholics, sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang, kebutuhan inventaris RSSR di antaranya: pot bunga, peralatan dapur, peralatan listrik dan peralatan elektronik bisa terpenuhi. Semoga semua bantuan dari para sedekaholics yang dipergunakan untuk operasional RSSR Bandung ini menjadi ladang pahala dan membawa berkah kesembuhan bagi saudara kita para dhuafa sakit yang merupakan pasien dampingan Sedekah Rombongan. Bantuan RSSR Bandung sebelumnya sudah masuk dalam Rombongan 1092.

Jumlah Bantuan : Rp. 344.500,-
Tanggal: 4 Januari 2018
Kurir : @ddsyaefudin @lisdamojang

Biaya inventaris


RUMAH SINGGAH SEDEKAH ROMBONGAN ( Operasional, Desember 2017 ). Lokasi Dsn Klampisan RT 01/03, Ds. Kaliancar, Kec.Selogiri, Kab. Wonogiri, Prov. Jawa Tengah. Alhamdulillah, semakin banyak dan berkembangnya pergerakan sedekah rombongan di Wonogiri dan semakin banyak pula warga tak mampu yang terhandle, terwujudlah Rumah Singgah Sedekah Rombongan Wonogiri (RSSR) sebagai tempat untuk merawat serta menangani pasien dampingan sedekah rombongan di Wonogiri dan sekitarnya. Rumah Singgah ini merupakan salah satu prasarana dalam melengkapi kebutuhan pergerakan sedekah rombongan. Selain sebagai tempat para pasien untuk transit ( singgah ) juga memberikan efisiensi dan efektifitas bagi pasien dalam menjalani pengobatan selama menjadi dampingan kami. Segala kebutuhan RSSR dan pengelola, menjadi tanggung jawab kami demi kelangsungan serta kelancaran penyembuhan para pasien dampingan. Semoga dengan prasarana tersebut semakin memudahkan penanganan pasien dampingan sedekah rombongan, dan semakin banyak pula warga tak mampu yang terbantu dengan pergerakan sedekah rombongan ini.

Operasional : Rp 1.245.400,-
Tanggal : 31 Desember 2017
Kurir :@mawan, all tim

Biaya operasional


MTSR WONOGIRI (AD9218KH, Operasional Oktober 2017). Mobil Tanggap Sedekah Rombongan yang biasa disebut MTSR, merupakan MTSR 2 dimana menjadi kendaraan kedua yang sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk kebutuhan pendampingan pasien maupun survey lokasi sasaran. Saat ini, keberadaan MTSR di Wonogiri belum bisa menampung semua kebutuhan warga yang cukup banyak, apalagi pasca berkurangnya kendaraan satu mobil yang saat ini tidak lagi kita fungsikan sebagaimana biasanya karena berpindahnya armada tersebut untuk fungsi lain. Bagaimanapun, sedekah rombongan tetap berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi siapa saja yang membutuhkan, utamanya dhuafa atau warga kurang mampu. Fungsi peran armada untuk tujuan survey lokasi atau sasaran dampingan pasien, kebencanaan, koordinasi wilayah dalam rangka kelancaran pergerakan sedekah rombongan di soloraya, akhirnya sebagian tugas oper handle dengan armada ini. Dalam sebulan, membutuhkan biaya operasional yang kita anggarkan dari anggaran yang tersedia secara keseluruhan. Walau, terkadang momen khusus atau kondisi – kondisi tertentu menyebabkan adanya kurang lebih penganggaran yang semuanya adalah untuk kelancaran pergerakan sedekah rombongan. Pun juga dalam hal insentif driver yang telah kita bebankan agar tugas berjalan dengan baik dan menyeluruh. Bulan ini biaya operasional antara lain, operasional bahan bakar , biaya pemeliharaan dan perbaikan serta insentif driver. Laporan operasional sebagaimana kami terangkan di informasi ini sekaligus sebagai salah satu bentuk tanggung jawab pelaporan pergerakan sedekah rombongan.

Operasional : Rp 3.737.000,-
Tanggal : 31 Desember 2017
Kurir : @mawan, all tim

Biaya operasional


CIMANG BINTI ABD RAHMAN (38 patah tulang kahi, paha, dan tangan), Alamat Kelurahan Kelurahan Gunung Bale, RT 04 RW 01, Jalan Kamata, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Pada tanggal 21 Bulan Februari tahun 2017 Cimang mengalami kecelakaan bersenggolan dengan pengguna roda dua di Jalan Poros Palu-Pantoloan Kecamatan Palu Utara yang mengakibatkan kaki sebelah kiri hingga paha dan tangan kirinya mengalami patah tulang. Sempat mengalami koma selama dua hari. Ibu Cimang merupakan istri dari Bapak Mahdi Wijaya (40) yang sehari-hari bekerja sebagai buruh, dan Ibu Cimang sendiri adalah ibu rumah tangga yang bekerja sebagai Claning Services. Dengan kondisi ini maka ibu Cimang selama ini hanya bisa berada di rumah tanpa bisa bekerja lagi. Adapun jaminan kesehatan yang dimiliki oleh ibu Cimang adalah BPJS.
Sedekah rombongan segera bergerak menuju kediaman Wizrah setelah memperoleh informasi tersebut. Dan Alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera manyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan beban hidup bagi.

Jumlah bantuan : Rp. 2.000.000,-
Tanggal : 22 Desember 2017
Kurir : Rasyid@Jalu

Pak Cimang menderita patah tulang kahi, paha, dan tangan


AMIRUDDIN BIN LAMADO (62, Lumpuh), alamat Jl. Basuki Rahmat 1 No. 23 B Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Awalnya Bapak Amirudin tiba-tiba mengalami sakit pada bagian kaki sehingga sulit melangkah, yang kemudian beberapa hari selanjutnya menderita penyakit ambeyen hingga sampai mengeluarkan darah. Saat ini bapak Amirudin tidak bisa lagi berjalan (lumpuh) dan kondisi badan semakin menurun serta sulit berbicara. Bapak Amirudin hanya tinggal seorang diri di rumah dan belum pernah melakukan pemeriksaan ke dokter. Adapun jaminan kesehatan yang dimiliki oleh Bapak Amirudin adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Sedekah rombongan segera bergerak menuju kediaman bapak Amirudin setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic untuk membantu meringankan biaya hidup bagi bapak Amiruddin.

Jumlah bantuan : Rp. 2.500.000, –
Tanggal : 08 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Taty

Amirudin tidak bisa lagi berjalan (lumpuh)


HUDIYAH BINTI YACI (45, Kanker Payudara). Alamat Jl. Banawa Lrg. Bambapangasi Kelurahan Maleni Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah. Sudah 2 tahun lamanya Ibu Hudiyah menderita kanker payudara dan Pernah dirawat di 2 rumah sakit di Kota Palu yaitu Rumah Sakit umum Anutapura Palu dan RS UNDATA, yang kemudian oleh dokter disarankan untuk rujuk ke rumah sakit Wahidin di Makassar. Namun dikarenakan kendala biaya transpor dan akomodasi pihak keluarga memutuskan untuk dirawat di rumah dengan mengandalkan pengobatan Herbal. Ibu Hudiyah merupakan istri dari Bapak Arsyad (46) yang sehari-hari bekerja sebagai sopir. Mereka memiliki tanggungan 4 orang anak. Saat ini jaminan kesehatan yang dimiliki selama berobat di rumah sakit adalah Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).
Sedekah rombongan selama ini terus melakukan pendampingan kepada Ibu Hudiyah pasca pengobatan di Makassar, namun pada tanggal 29 Desember 2017 kurir sedekah rombongan mendapatkan kabar bahwa Ibu Hudiyah telah meninggal dunia. Kurir sedekah rombongan segera bergerak menuju kediaman Ibu Hudiyah guna menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya duka. Bantuan Sebelumnya masuk pada rombongan 1057.

Jumlah bantuan : Rp. 1.000.000, –
Tanggal : 30 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Suparman

Ibu Hudiyah menderita kanker payudara


SUDIRMAN WETO (58, Ginjal), alamat Desa Ngatabaru Kecamatan Sigibiromaru Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Awalnya bapak Sudirman mengalami sakit pinggang sekitar bulan Maret 2013 yang kemudian dianggapnya hanya kelelahan biasa. Sehingga kurun waktu beberapa tahun hanya membiarkan dan sesekali menggunakan pengobata tradisional saja. Namun lama kelamaan sakit pinggang tersebut semakin menjadi sehingga bapak Sudirman segera dibawa ke rumah sakit UNDATA Palu guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan pihak rumah sakit mendiagnosa bahwa Bapak Sudirman mengalami kerusakan pada Ginjal dan harus menjalani cuci darah rutin. Bapak Sudirman sehari-hari hanya bekerja sebagai petani dan memiliki Istri bernama Dasaria (46) yang juga sehari-hari hanya sebagai Ibu Rumah Tangga. Adapun jaminan kesehatan yang dimiliki oleh bapak Sudirman adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Sedekah rombongan segera bergerak menemui Bapak Sudirman dan keluarga setelah memperoleh informasi tersebut. Dan Alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera manyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bagi Bapak Sudirman.

Jumlah bantuan : Rp. 2.000.000, –
Tanggal : 08 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Taty

Bapak Sudirman mengalami kerusakan pada ginjal


QOLBI NURILAH BINTI JISMAN (14, Leukimia), alamat Jl. Nurul Huda Kelurahan Kabonena Kota Palu Propinsi Sulawesi Tengah. Awalnya adil qolbi sering mengalami sakit kepala dan demam. Namun oleh keluarganya hanya dianggap sebagai penyakit sakit kepala dan demam biasa, sehingga adik qolbi hanya diberi obat penghilang rasa sakit yang biasa. Hingga beberapa bulan kemudian sakit kepala dan demam tak juga berangsung membaik bahkan kondisi badan mulai terus mengalami penurunan. Akhirnya kedua orang tua qolbi segera membawanya ke rumah sakit umum Anutapura Palu guna mendapatkan perawatan dan pengobatan. Dari hasil diagnosa dokter bahwa adik qolbi menderita penyakit Leukimia dan harus di rujuk ke rumah sakit di Makassar. Adik Qolbi merupakan anak dari Bapak Jisman (54) yang sehari-hari bekerja sebagai karnet mobil dan buruh bangunan, sedangkan ibu bernama Nazaria (54) yang sehari-hari menjajakan kue keliling di pasar. Adapun jaminan kesehatan yang dimiliki saat ini adalah BPJS kelas 3.
Sedekah rombongan segera bergerak menemui adik Qolbi dan kedua orang tuanya setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bagi adik Qolbi.

Jumlah bantuan : Rp. 7.080.000, –
Tanggal : 08 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Taty

Qolbi menderita penyakit Leukimia


PARTIANA BINTI SALIM (60, Janda/Duafa), alamat Kelurahan Loji Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong Propinsi Sulawesi Tengah. Ibu Partina tinggal di rumah semi permanen berdinding batako tanpa plaster dan lantai yang sebagian semen kasar sebagai alas tidur dan sebagian lagi masih beralaskan tanah. Ibu partina saat ini menanggung hidup 5 orang anak dan 1 orang cucu. Dimana ke- 3 anak Ibu Partina yang bernama Tri (37), Joko (34) dan Dewi (29) mengalami gangguan mental sejak 12 tahun yang lalu. Sehari-hari Ibu Partina berjualan nasi kuning di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun sejak 5 bulan yang lalu Ibu Partina tidak lagi dapat berjualan karena kondisi ketiga anaknya yang mengalami gangguan mental sering meninggalkan rumah/hilang jika ditinggalkan berjualan di pasar.
Sedekah rombongan segera bergerak ke rumah Ibu Partina setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan beban hidup bagi Ibu Partina.

Jumlah bantuan : Rp. 2.500.000, –
Tanggal : 08 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Yusriani

Bantuan tunai


WAHYU BIN HUSNI (4, Miningitis Kronis dan TBC), alamat Desa Sienjo Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong Propinsi Sulawesi Tengah. Adik Wahyu menderita penyakit miningitis kronis, yang saat ini tingkat kesadaranya terus mengalami penurunan. Makanan yang masuk hanya melalui selang lewat hidung. Beberapa hari ini adik Wahyu tidak bisa berbicara, tidurpun hanya dalam posisi terlentang. Selain miningitis menurut diagnosa dokter di RS. Anuntaloko Parigi bahwa adik Wahyu juga terjangkiti penyakit TBC. Pihak dokter rumah sakit menyarankan agar adik Wahyu segera di rujuk di rumah sakit di Kota Palu. Adik Wahyu merupakan anak dari bapak Husni (60) yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan Ibu bernama Andi Ria (52) yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Saat ini jaminan kesehatan yang dimiliki oleh adik Wahyu adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Sedekah rombongan segera bergerak menemui adik Wahyu dan keluarga setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bagi adik Wahyu.

Jumlah bantuan : Rp. 1.500.000, –
Tanggal : 29 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Yusriani

Wahyu terjangkiti penyakit TBC


HUZRIA BINTI ABDUL HAMID (51, Janda/Miom Uteri), alamat Desa Kalukubula Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Ibu Huzria awalnya merasakan sakit pada bagian perut dan sirkulasi bulanan bagi wanita terasa tidak normal yang selalu disertai rasa nyeri yang hebat. Namun kondisi tersebut hanya dianggap biasa saja oleh Ibu Huzria. Lama kelamaan sakit tersebut tak kunjung hilang sehingga ibu Huzria memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat. Dari keterangan pihak Puskesmas ibu Huzria disarankan untuk memeriksakan lanjutan ke dokter spesialis kandungan di rumah sakit karena dari gejala tersebut di diagnosa bahwa Ibu Huzria menderita penyakit Miom Uteri. Saat ini jaminan kesehatan yang dmiliki oleh Ibu Huzria adalah BPJS.
Sedekah rombongan segera bergerak menemui Ibu Huzria setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bagi Ibu Huzria.

Jumlah bantuan : Rp. 1.000.000, –
Tanggal : 29 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Ivan Setiadi

Bantuan tunai


KORBAN BANJIR ROB (46 kepala keluarga menjadi korban) di Kelurahan Boneoge Kec. Banawa dan Desa Lembasada Kecmatan Banawa Selatan Kabupaten Donggala . Musibah bencana alam Banjir Rob di Kelurahan Boneoge, Kecamatan Banawa, dan di Desa Lembasada Kecamatan Banawa Selatan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Selasa, tanggal 5 Desember 2017 sore yang menyebabkan Sebanyak 46 rumah nelayan di pesisir pantai ambruk dihantam ombak. Puluhan rumah semi permanen itu berlokasi di sepanjang bibir pantai. Sebagian permukiman nelayan di pesisir Kelurahan Boneoge dan Desa Lembasada porak poranda dihantam dahsyatnya ombak. Gelombang ombak disertai angin kencang menerjang permukiman di kedua tempat tersebut. Meski demikian, tercatat tidak ada korban jiwa dalam musibah naas ini. Untuk sementara, warga terdampak harus mengungsi ke tempat saudara yang lebih aman. Salah seorang warga bernama Idris (47), warga RT 6, Kelurahan Boneoge menceritakan bahwa ombak terlihat mulai membesar sekitar pukul 16.30 wita. Saat menjelang magrib, gelombang ombak perlahan mulai menerjang permukiman.
Sedekah rombongan segera bergerak menuju kedua tempat tersebut dan menemui 46 kepala keluarga korban banjir ROB setelah memperoleh informasi tersebut. Dan Alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera manyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan beban hidup berupa paket sembako kepada 46 korban banjir ROB tersebut.

Jumlah bantuan : Rp. 7.000.000,-
Tanggal : 9 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Jalu dan Kempes

Paket sembako kepada 46 korban banjir ROB


FIFI FUJI ASTUTI (45, Janda/Kista), alamat Jl. Abdurrahman Saleh 3 Lrg 5 No.6 B Kelurahan Birobuli Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Propinsi Sulawesi Tengah. Ibu Fifi sudah sejak lama menderita penyakit Kista dan awalnya hanya bertahan untuk diobati di rumah dengan mengandalkan pengobatan tradisional. Namun lama kelamaan kondisi Ibu Fifi terus mengalami penurunan sehingga pihak keluarga membawa ibu Fifi ke rumah sakit Wirabuana Palu guna mendapatkan pengobatan dan perawatan. Dari hasil pemeriksaan oleh dokter rumah sakit bahwa ibu Fifi harus menjalani operasi. Ibu Fifi sehari-hari bekerja sebagai pengasuh anak dan membantu rumah tangga guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. saat ini jaminan kesehatan yang dimiliki adalah BPJS
Sedekah rombongan segera bergerak menemui Ibu Fifi setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bagi Ibu Fifi.

Jumlah bantuan : Rp. 3.000.000, –
Tanggal : 22 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Agung

Ibu Fifi menderita penyakit Kista


ROSMINI BINTI LAHDUDI (43, Kanker Payudara), Alamat Dusun 3 Desa Towale Kecamatan Banawa Tengah Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah. Ibu Rosmini sudah sekitar 9 bulan lamanya mengidap penyakit kanker payudara dan sudah menjalani perawatan serta operasi di rumah sakit umum Anutapura Palu. Namun pasca operasi kondisi Ibu Rosmini terus mengalami penurunan dan pihak keluarga hanya berupaya melakukan perawatan di rumah yang mengandalkan pengobatan tradisional serta herbal. Saat ini kondisi ibu Rosmini sudah 8 hari lamanya sulit mengkonsumsi makanan dan belum memeriksakan diri lagi ke rumah sakit. Ibu Rosmini merupakan istri dari Bapak Amir (45) yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Adapun jaminan kesehatan yang dimiliki oleh Ibi Rosmini adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Sedekah rombongan segera bergerak menuju kediaman Ibu Rosmini setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bagi Ibu Rosmini.

Jumlah bantuan : Rp. 2.000.000, –
Tanggal : 22 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Suparman

Ibu Rosmini mengidap penyakit kanker payudara


WAJIB ZUBAERA BIN ASRI (57, Hyipertensi/Stroke), alamat Layana Indah Blok G Nomor 14 Kecamatan Mantikulore Kota Palu Propinsi Sulawesi Tengah. Bapak Wajib sudah 2 tahun lamanya menderita penyakit stroke dan sudah tidak bisa berjalan serta berdiri lagi. Sehari-hari hanya bisa berbaring dan duduk serta segala aktifitas hanya di dalam kamar yang dibantu oleh istrinya. Pernah dirawat sakit Bhayangkara Palu dan Rumah Sakit Undata Palu. Bapak Wajib memiliki seorang istri bernama Suaeba (48) yang sehari-hari beraktifitas sebagai ibu rumah tangga. Adapun jaminan kesehatan yang dimiliki oleh Bapak Wajib adalah BPJS.
Sedekah rombongan segera bergerak menuju kediaman Bapak Wajib setelah memperoleh informasi tersebut. Dan alhamdulillah kurir sedekah rombongan segera menyampaikan titipan dari para sedekaholic guna membantu meringankan biaya berobat bapak Wajib.

Jumlah bantuan : Rp. 1.000.000, –
Tanggal : 22 Desember 2017
Kurir : Rasyid @Agung

Bapak Wajib menderita penyakit stroke


SUPARLAN BIN NARTO (53, Tumor Tiroid). Alamat : Dawe, Dukuh Bandung. RT 05/ 02. Margorejo, Kudus, Jawa Tengah. Bapak Suparlan sebelumnya telah mendapatkan pendampingan dari team Sedekah Rombongan Kudus selama proses penanganan tumor dengan radioterapi di RS Ken Saras Semarang. Setelah sakit, Beliau tidak bekerja setelah sebelumnya bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan Sang istri masih bekerja sebagai buruh pabrik. Pasangan ini memilki satu orang anak. Selang beberapa waktu kemudian, setelah selesai menjalani pengobatan di RS Ken Saras, beliau dirujuk ke RSUP Kariadi Semarang untuk dilakukan operasi pengangkatan tumor pada leher. Namun setelah beberapa lama pada masa penyembuhan pasca operasi, kondisi pada bagian leher justru memburuk. Jahitan bekas operasi tidak dapat menempel. Bagian leher dari Suami Ibu Maryati ini mengalami pembengkakan. Luka jahitnya belum juga sembuh dan lehernya justru terasa kaku. Setiap harinya beliau harus ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan penggantian perban. Beliau dijadwalkan untuk segera melakukan pengobatan kembali di RSUP Kariadi Semarang. Bapak Suparlan telah memiliki PBJS Jamsostek, namun karena keterbatasan biaya, keluarga membutuhkan biaya untuk transportasi. Dengan ini bantuan kembali disampaikan kepada beliau dari Team Sedekah Rombongan Kudus untuk biaya pengobatan dan akomodasi ke RSUP Kariadi Semarang. Semoga pembengkakan leher pasca operasi dari Bapak Suparlan dapat segera ditangani sehingga bekas jahitannya dapat membaik.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 24 Desember 2017
Kurir: @robbyadiarta Andrey @akuokawai

Pak Suparlan menderita tumor tiroid


ZULAIKHAH JEPARA (57, Stroke). Alamat: Sinanggul, RT 14/03 Kec. Mlonggo Kb. Jepara, Jawa TengahAkhir tahun 2016, Ibu Zulaikhah terjatuh secara tidak sengaja, lalu tidak bisa berjalan. Mengira keseleo biasa, beliaupun tidak memeriksakan secara medis. Secara rutin beliau melakukan pijat biasa berharap segera membaik. Namun, setelah beberapa hari dilakukan pijat, tetap juga tidak ada perubahan bahkan terasa makin sakit. Awal Juli lalu, Bu Zulaikhah tiba-tiba tidak bisa berjalan sendiri dan tidak bisa bicara. Rupanya beliau terserang stroke hingga harus dirawat di RSI Sultan Hadirin Jepara untuk dilakukan perawatan karena juga mengalami syok. Awal bulan agustus, kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga beliau. Bu Zulaikhah kini sehari-hari di rumah dan sesekali melakukan terapi stroke agar bisa berjalan lebih lancar. Bantuan disampaikan kepada keluarga untuk membantu biaya akomodasi berobat atau kebutuhan sehari-hari.

Jumlah Bantuan: 1.000.000
Tanggal: 5 November 2017
Kurir: @robbyadiarta Rifqi @restirianii @akuokawai

Bu Zulaika terserang stroke


KARMENI JEPARA (70, Kanker Kulit). Alamat: Sinanggul RT 15/03 Kec. Mlonggo, Kab. Jepara, Prov. Jawa Tengah. Pak Karmeni mulai mulai merasakan sakit pada kakinya pada 2016 lalu. Sebelum lebaran idul fitri, Pak Karmeni sudah memeriksakan sakit di kakinya ke RSUD Kartini Jepara dan diagnosanya adalah kanker kulit ganas. Beliaupun sudah segera melakukan pengangkatan kanker di kakinya namun tumbuh lagi. Operasi kedua dilakukan di RSI Sultan Agung Semarang. Massa kanker bertambah banyak an menyebar ke sekeliling kaki Pak Karmeni. Beliau pun dijadwalkan operasi dan melakukan kemoterapi. Namun, jarak yang jauh, tidak ada transportasi, dan pengobatan yang tidak kunjung membaik membuat Pak Karmeni mengeluh dan tidak ingin berobat lagi karena hanya merasakan sakit.Bulan Juli kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga Pak Karmeni. Bantuan diberikan untuk santunan duka karena Allah telah memanggil Pak Karmeni sebelum berobat kembali.

Jumlah Bantuan: 1.000.000
Tanggal: 5 November 2017
Kurir: @robbyadiarta Rifqi @restirianii @akuokawai

Pak Karmeni menderita kanker kulit ganas

KAMILAH BINTI UCA (44, Parkinson). Alamat: Kp. Desakolot RT 2/7, Desa Rancapaku, Kec. Padakembang, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat. Dua tahun yang lalu Bu Kamilah secara tiba tiba tak sadarkan diri dan terjatuh. Beliau sempat dilarikan oleh MTSR ke IGD RSUD SMC dan dirawat beberapa hari sampai akhirnya beliau siuman. Namun setelah sadar beliau tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya apalagi bangun. Karena peralatan yang kurang memadai maka beliau pun dirujuk ke RSUD dr. Soekarjdo Kota Tasikmalaya, dan kurang lebih 15 hari dirawat inap di sana dengan jaminan KIS. Pasca beliau dirawat dan kondisinya agak membaik ia diperbolehkan pulang dan harus menjalani kontrol rutin untuk memantau perkembangan kesehatannya. Terkadang juga beliau harus memeriksakan diri ke RSHS Bandung. #SedekahRombongan menyampaikan santunan kembali untuk membantu kesulitan janda tua yang saat ini sudah tidak memiliki sumber penghasilan lagi ini dan untuk membeli obat yang menghabiskan ratusan ribu rupiah per minggunya. Suami Bu Kamilah, alm. Pak Endin, adalah pasien penderita kanker dampingan SR yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Almarhum suami Bu Kamilah meningggalkan 2 orang anak yang masih menjadi tanggungannya. Keadaan Bu Kamilah sekarang sudah bisa berjalan meskipun hanya sampai halaman rumahnya. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kesembuhan kepada Bu Kamilah dan keluarganya. Aamiin. Sebelumnya masuk di Rombongan 1047.

Jumlah Bantuan: Rp. 800.000,-
Tanggal: 21 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinsr

Bu Kamilah menderita parkinson


IYA YAHYA (74, Radang Usus Buntu + Penyumbatan Saluran Pembuangan). Alamat: Jl. Benda, RT 1/4, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Sudah dua tahun ini, Pak Iya mengalami radang di ususnya. Awalnya hanya sakit biasa, namun pada hari kedua rasa sakitnya semakin kuat dan menjadi akhirnya ia memeriksakan diri ke puskesmas dan dinyatakan terserang usus buntu. Pak Iya kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya karena ia harus dirawat inap dan harus dioperasi mengingat saluran pencernaannya mengalami penyumbatan. Namun, ada masalah muncul, Pak Iya menolak karena merasa keberatan dengan biaya yang lumayan besar karena jaminan kesehatan yang Pak Iya punya hanya bisa menutup setengah biaya operasi. Akhirnya, operasinya ditunda dan menunggu dana terkumpul hingga 5 juta sambil berobat jalan. Untuk berobat jalan, Pak Iya melakukan ECHO yang menghabiskan biaya 750 ribu seminggu. Pak Iya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan 20-30 ribu per hari, dan sekarang peran tulang punggung harus digantikan istrinya yang bekerja sebagai buruh cuci. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan bisa dipertemukan dengan Pak Iya dsn menyampaikan bantuan untuk biaya pengobatan ECHO di RS Jasa Kartini. Semoga Allah segera memberi kesembuhan pada Pak Iya. Aamiin. Sebelumnya masuk di Rombongan 995.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 20 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Pak Iya mengalami radang di ususnya


IMAS KARTINI (29, Anemia Hemolitik). Alamat: Kp. Cigadog RT 4/1, Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bu Imas sudah menjalani proses pengobatan yang cukup panjang, sejak dari Puskesmas, RSUD Kabupaten Tasikmalaya, RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, dan terakhir dirujuk ke RSHS Bandung. Awalnya tanggal 1 Oktober 2014 Bu Imas mengalami sakit keras yang mengakibatkan tubuhnya lemas dan beberapa kali mengalami pingsan kemudian keluarganya membawa Bu Imas ke puskesmas terdekat. Semula dokter mendiagnosa Bu Imas hanya menderita penyakit maag dan memberinya obat maag sirup. Tanggal 9 Oktober2014 Bu Imas kembali berobat ke dokter, kali ini menurut dokter ia menderita kolik, hepatitis, dan penyakit lambung, dan ia pun diberi beberapa jenis obat yang harus diminum setiap hari dan diharuskan menjalani rawat jalan untuk memantau perkembangan penyakitnya. Karena perkembangan penyakitnya belum kunjung membaik, Bu Imas dirujuk ke RSUD Kabupaten Tasikmalaya, karena HB-nya menurun drastis, sampai 4,3. Ia kemudian dirawat inap selama 7 hari dan di sana ia diberi terapi pengobatan dengan beberapa jenis obat, infus, kemudian menjalani pemeriksaan rontgen dan tes darah. Karena kehabisan bekal, keluarganya membawa Bu Imas pulang paksa untuk menjalani perawatan di rumah, meskipun Bu Imas dirujuk ke RSHS Bandung dengan diagnosa Suspect AIHA. Menurut pihak RSUD Dr. Soekardjo, Bu Imas harus mendapatkan transfusi darah jenis WRC (Washed Red Cell) yang pemrosesannya belum bisa dilakukan di PMI Tasikmalaya, sehingga tranfusi darah tidak bisa dilakukan di Tasikmalaya. Kemudian Bu Imas dirujuk ke RSHS Bandung dengan diagnosa Anemia Hemolitik. Tanggal 25 Oktober 2016 Bu Imas kontrol dan menjalani transfusi darah di RSHS Bandung. Suaminya, Diki (48) sehari-harinya berjualan cilok keliling sempat putus asa dengan kelanjutan pengobatan Bu Imas apalagi ia masih punya tanggungan dua anak usia sekolah. Namun atas saran suster di RSHS, Pak Diki kemudian menghubungi kurir#SedekahRombongan untuk meminta bantuan.#SedekahRombongan pun kembali menyampaikan santunan lanjutan yang dipergunakan untuk biaya transportasi, dan biaya sehari-hari selama Bu Imas menjalani transfusi di RSHS Bandung. Sebelumnya beliau tercatat di Rombongan 1009. Semoga Bu Imas dapat terus melanjutkan pengobatannya dan segera diberi kesembuhan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 21 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Bu Imas menderita kolik, hepatitis, dan penyakit lambung


DIDIN NURYANA (35, Syaraf Terjepit). Alamat: Kp. Nangoh RT 2/9, Kelurahan Bungursari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kejadiannya bermula sebulan lalu, saat ia berjalan di dekat rumahnya kemudian ia terjatuh karena terpeleset yang membuat kakinya terkilir hingga membuat Pak Didin tidak bisa berjalan selama beberapa minggu. Akhirnya, ia memutuskan berobat ke puskesmas setelah tindakan pijat alternatif tak memberikan kesembuhan, ternyata ia harus diperiksa ke RSUD dengan jaminan KIS dan dokter menyatakan bahwa syarafnya terjepit. Kondisinya kini masih memprihatinkan, hanya berdiam diri di rumah karena kakinya masih kaku dan masih harus dilakukan pengobatan rutin ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Pak Didin bekerja sebagai penjahit rumahan yang biasa menerima orderan dari tetangga atau orang yang mengenalnya. Penghasilannya tak lebih dari 29-30 ribu per hari karena bila bukan musim lebaran, usahanya akan sepi. Istrinya, Yohana (27) bekerja sebagai PRT untuk membantu perekonomian keluarga karena mereka juga punya anak yang masih membutuhkan biaya sekolah. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan bisa bertemu dengan Pak Didin di RSUD ketika ia akan berobat. Santunan pun diberikan untuk membantu biaya pengobatan Pak Didin karena ia masih harus berbuat hingga beberapa bulan ke depan. Semoga Allah segera memberi kesembuhan pada beliau supaya ia bisa kembali bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Aamiin. Sebelumnya masuk di Rombongan 1060.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal: 21 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Pak Didin menderita syaraf terjepit


ENTIN BINTI KASTOLANI (41, Tumor Abdomen). Alamat: Kampung Sipapanting RT 5/1, Desa Mekarjaya Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bu Entin diduga menderita kista ovarium sejak awal tahun 2016. Gejala awalnya ia kerap mengalami sakit di bagian perut. Ia kerap merasakan sakit perut tetapi rasa sakitnya timbul dari organ-organ lain, seperti usus kecil, usus besar, hati, kandung empedu, dan pankreas. Seiring perjalanan waktu, perutnya terus membesar. Ia juga sulit makan dan tidur. Berbekal Jamkesmas, berbagai upaya medis dilakukan keluarga Bu Eti untuk menyembuhkan penyakitnya, tetapi perutnya terus membesar seiring perkembangan waktu. “Kami sudah berupaya sampai rumah sakit di daerah. Anak saya harus diperiksakan ke RSHS Bandung tetapi kami tak sanggup membiayainya,” kata ibunya yang setia mendampingi janda satu anak itu. Seperti yang juga dituturkan adiknya, keluarga Bu Eti telah memeriksakannya ke Puskesmas, RSUD Singaparna dan RSUD Kota Tasikmalaya. Di RSUD Singaparna ia pernah mendapatkan tindakan pengeluaran cairan di perutnya (melalui selang), dan sempat dirawat dua minggu. Cerita duka Bu Entin dan keluarga dhuafa ini sampai kepada #SR melalui informasi keluarga pasien yang pernah didampingi berobat oleh kurir #SR. Ibu Entin amat layak dibaantu. Ia termsuk janda yang lemah secara ekonomi, juga fisik. Penyakit yang dideritanya sangat serius dan perlu penanganan berkelanjutan. Almarhum suaminya, Pak Syahrudin, tak banyak meninggalkan warisan harta untuk melanjutkan kehidupan; ia hanya buruh harian dengan penghasilan tak menentu. Bersyukur kurir #SedekahRombongan dapat bersilaturahmi dengan Bu Entin di rumah orangtuanya. Karena rujukan dari RSUD Tasikmalaya untuk berobat ke RSHS Bandung sudah disiapkan, malam itu juga ia diantar MTSR Bandung berobaat ke Kota Kembang dan beristirahat di RSSR Bandung. Di rumah singgah ia sempat menurun drastis kondisinya, sehingga segera diperiksakan ke IGD RSHS Bandung. Alhamdulillah malam itu juga ia mendapatkan ruangan untuk rawat inap. Pada 3 November 2016, Bu Entin menjalani operasi dan dirawat inap sampai 9 Desember 2016. Setelah melewati masa pemulihan, ia kemudian diperolehkan pulang sementara, sebelum menjalani kemoterapi yang akan dilaksanakan mulai pertengahan bulan Desember 2016. Ibu Entin tidak langsung pulang ke kampung halamannya; ia memilih tinggal di RSSR Bandung. Pada pertengahan Desember 2016 HB-nya menurun drasatis. Ia kemudian diperiksakan kembali ke RSSR Bandung. Karena janda dhuafa ini masih memerlukan bantuan untuk terus berikhtiar secara medis sampai ia sembuh, pada 15 Desember 2016 sedekaholics #SR memberinya bantuan lanjutan. Begitu juga pada 16 Januari 2107 #SR memberinya bantuan di RSSR Bandung setelah ia selesai menjalani kemo terapi yang pertema. Alhamdulillah kondisinya semakin mambaaik; harapan tuk sembuh semakin terbuka. Pada awal Februari 2017 Bu Entin dan ibunya datang lagi ke RSHS Bandung, menggunakan angkutan umum (travel), untuk menjalani kemo terapi ke-2 dari 6 kali terapi yang dijadwalkan. Ia sempat dirawat inap di Ruang Almanda RSHS ditemani ibunya. Perkembangannya amat mengembirakan, tetapi ia masih harus menlanjutkan terapinya. Karena itu, pada awal Maret 2017 ia daang lagi ke RSHS Bandung sekaligus kontrol. Sebelum menjalani kemo terapi ke-3 dari 6 kali kemo yang direncanakan, ia sempat 5 hari dirawat. Ibu Entin dan ibunya masih membutuhkan bantuan untuk terus berikhtiar. Sampai saat ini ia telah menjalani kemoterapi yang ke-4. Karena jadwal kemoterapi lanjutannya masih lama (pertenghan Mei 2017), Ibu Entin pulang dulu ke kampung halamannya di kaki gunung Galunggung. Keluarga dhuafa ini masih membutuhkan bantuan untuk terus berobat. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholics, kembali Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan untuk warga dhuafa ini. Bantuan yang disampikan di RSHS Bandung ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi Tasikmalaya – Bandung dan biaya sehari-hari selama dirawat di RSHS Bandung. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 989.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Bu Entin menderita tumor abdomen


ENI BANDINI (50, Ca Mammae). Alamat: Jl. Asrama Nyantong , RT 9/7, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Awal mula penyakitnya ditemukannya benjolan di payudara kiri dari sejak empat bulan yang lalu. Satu bulan kemudian benjolannya semakin membesar dan mulai mengeluarkan cairan nanah dan darah dan Bu Eni mulai panik karena sebelumnya tak pernah ia mengalami hal seperti ini. Karena kekhawatirannya tersebut ia berkali-kali berobat ke puskesmas dan tak ada kesembuhan yang didapat hingga akhirnya ia diberi surat rujukan untuk melanjutkan pengobatannya ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, dikarnakan ia tidak punya biaya, maka pengobatannya tidak dilanjutkan meskipun Bu Eni mempunyai Jamkesmas sehingga pada tanggal 11 Oktober 2017 ia dilarikan ke rumah sakit karena penyakit yang menyerangnya semakin menjadi bahkan payudaranya membusuk dan mengeluarkan aroma tak sedap. Enam belas hari ia dirawat inap di RSUD kota Tasikmalaya dan menghabiskan biaya yang relatif besar bagi keluarga Bu Eni apalagi kemungkinan ia harus melakukan operasi dan segera mengangkakt payudara yang terkena kanker. Eni termasuk salah satu keluarga yang kurang mampu sehingga untuk biaya pengobatannya pun ditanggung oleh pemerintah daerah, setelah diajukan dan melalui berbagai proses. Eni tinggal dengan ibunya yang sudah tua renta dan biasa bekerja sebagai buruh cuci rumahan yang upahnya untuk biaya sehari-hari pun masih tidak mencukupi apalagi ia tak mempunyai suami dan anak yang membantunya sehari-hari. Kondisi saat ini Bu Eni sudah bisa pulang namun ia harus menjalankan pengobatannya dengan cara kemoterapi yang sudah dijadwalkan. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan bisa bertemu dengan Bu Eni di RS saat ia sedang dirawat dan melihat keadaannya yang sudah memprihatinkan. Terkadang ada raut wajah putus asa di wajahnya dan kurir mencoba menghiburnya supaya ia optimis dalam menjalani pengobatan hingga sembuh. Bantuan pun disampaikan untuk membantu meringankan biaya pembelian obat dan akomodasi. Semoga Allah berkenan memberi kesembuhan bagi beliau. Aamiin

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 2 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Bu Eni menderita ca mamae


NAURA SALSABILA (8, Acute Lymphoblastic Leukaemia). Alamat: Kp. Pasar Rebo, RT 4/6, Kel. Indihiang, Kec. Indihiang, Kota Tasikmalaya. Naura adalah putri dari pasangan suami istri Bapak Main Hermain (48) dan Ibu Yanti Nurmayanti (46). Naura menderita penyakit Acute Lymphoblastic Leukeumia (ALL) atau Lekeumia Limfositik Akut (LLA) sejak berumur 1 tahun. Leukeumia Limfositik Akut (LLA) merupakan penyakit yang sering menyerang anak-anak. Secara umum, LLA adalah suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit dan berubah menjadi ganas. Kemudian, dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. Naura yang kini berusia 8 tahun ini sudah 7 tahun menderita penyakit LLA dengan gejala tubuh sering lemas, wajah terlihat pucat dan sering demam. Kedua orang tua Naura sudah melakukan pengobatan terbaik sesuai kemampuan keduanya. Naura sudah melakukan pengobatan dari mulai berobat ke klinik terdekat, Puskesmas, hingga berkali-kali harus menjalani rawat inap di RSUD Dr. Soekarjdo Kota Tasikmalaya. Berdasarkan anjuran dari pihak RSUD, Naura harus melanjutkan pengobatannya ke Bandung. Namun, tidak adanya biaya yang dimiliki oleh kedua orang tua Naura membuat Naura tidak segera melanjutkan pengobatan ke Bandung. Ayah Naura hanya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan pas-pasan untuk membiayai 5 orang anggota keluarga. Pengobatan ke Bandung memerlukan biaya yang lumayan besar untuk biaya transportasi, akomodasi, dan keperluan lain-lain selama di Bandung. Bulan Mei 2015 Naura menjalani jadwal kemoterapi lanjutannya di RSHS Bandung. Bulan September Naura menjalani kemoterapi 2 minggu sekali di Bandung. Tanggal 2 Mei 2016 Naura menjalani jadwal kemoterapi ke 2 siklus ke 83 di RS Al-Islam Bandung. Tanggal 16 Mei 2016 Naura menjalani jadwal kemoterapi ke 2 siklus ke 84 di RS Al-Islam Bandung.Tanggal 30 Mei 2016 Naura menjalani jadwal kemoterapi ke 2 siklus ke 85 di RS Al-Islam Bandung. Bulan Juni 2016, Naura menjalani kemo yang ke 89 dan 90, sehinggga ia kembali harus 2 kali bolak-balik ke Bandung. Bulan Juli 2016, Naura menjalani kemo yang ke 91 dan 92, sehinggga ia kembali harus 2 kali bolak-balik ke Bandung. Pada Bulan September ini, ia harus kembali ke RSHS untuk melakukan kontrol rutin supaya penyakitnya bisa dipantau perkembangannya. #SedekahRombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan kepada Naura agar ia bisa melanjutkan pengobatan kemoterapinya. Semoga kesabaran selalu Allah berikan kepada Naura sekeluarga dan semoga Allah lekas memberikan kesembuhan untuk Naura. Aamiin. Sebelumnya masuk di Rombongan 1006.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal: 2 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinsr

Naura menderita penyakit Acute Lymphoblastic Leukeumia (ALL)


HERDI BIN ROHMAN (39, Stroke + Hipertensi). Alamat: kp. Nangoh, RT 2/9, Desa Bungursari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Saat Pak Herdi baru pulang dari bekerja, ia merasakan sakit kepala yang amat sangat, ia pun memilih istirahat dan meminum obat warung. Berharap sakitnya akan sembuh, ternyata malah semakin menjadi dan akhirnya Pak Herdi pingsan. Keluarganya panik dan membawanya ke IGD RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Sayangnya, saat Pak Herdi sadar dari pingsannya, seluruh tubuh bagian kiri sudah tidak bisa digerakkan dan ia didiagnosa menderita penyakit stroke dan hipertensi dan harus dirawat selama lima hari dengan jaminan KIS. Pak Herdi tinggal bersama ibunya yang sakit-sakitan karena ia sudah tidak punya istri dan anak. Sehari-harinya, Pak Herdi bekerja sebagai buruh cuci piring di salah satu rumah makan, pendapatannya pun tak seberapa. Kini ia dirawat oleh beberapa kerabatnya di rumah sakit. Alhamdulillah, kurir bisa bertemu kembali dengan Pak Herdi di bangsal rumah sakit dan menyampaikan santunan untuk bekal selama berobat dan akomodasi. Semoga Allah segera memberi kesembuhan untuk Pak Herdi. Aamiin. Sebelumnya masuk di Rombongan 953.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 2 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Pak Herdi menderita penyakit stroke dan hipertensi


ONENG KURNIASIH (64, Patah Tulang Kaki). Alamat: Kp. Perum Rancapaku, RT 3/4, Desa Rancapaku, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Awalnya ketika diantar anaknya dengan motor untuk hadir di pengajian namun saat akan turun dari motor rok yang dipakainya tersangkut ke salah satu badan motor. Ketika motor melaju lagi, Bu Oneng terjatuh dan terseret jauh yang menyebabkan kakinya kirinya patah. Harusnya ia segera dilarikan ke RS namun karena khawatir dengan biaya yang dikeluarkan akhirnya ia memilih pengobatan tradisional di rumah selama 10 hari. Sayangnya, tak ada kesembuhan berarti pada kakinya malah semakin parah karena ia harus melakukan tindakan operasi dan pemasangan pen yang menghabiskan biaya 8 juta belum termasuk obat-obatan yang tidak dibiayai KIS. Hingga kini ia sudah bolak-balik ke RS dan dirawat inap selama beberapa hari. Ia tinggal bersama anaknya yang tidak punya suami dan cucunya, dan karena usianya sudah renta, Bu Oneng sudah lama tidak bekerja. Untuk biaya sehari-hari ia hanya mengandalkan anaknya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan upah sekitar 25-40 ribu per hari dan terkadang tidak mencukupi karena cucunya pun masih duduk di bangku sekolah. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan akhirnya bisa bertemu dengan Bu Oneng dan menyampaikan santunan dari Sedekaholics untuk membantu biaya operasi pemasangan pen yang dilakukan pada tanggal 30 Oktober dan nanti rencananya akan dilakukan operasi pengangkatan beberapa bulan kemudian. Semoga Allah memberi kesembuhan untuk beliau dan dilancarkan segala proses pengobatannya. Aamiin.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 21 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita @miftahudinSR

Pak Oneng menderita patah tulang kaki

REKAPITULASI BANTUAN

 

No Nama Jumlah Bantuan
1 CASTIM BIN SARMUDI 500,000
2 YOSI SANUSI 750,000
3 SITI HALIMATUN SADIAH 500,000
4 ADE BINTI AUS 500,000
5 RASYA BIN RANA 1,000,000
6 AZAMIL HASAN 750,000
7 SITI NURJANAH 500,000
8 NAZRIL AL RASYID 500,000
9 PUTRI MULYANI 500,000
10 SITI SALMA 500,000
11 AULIA RIZKI 500,000
12 ENUNG SUHAETI 500,000
13 OOM BINTI NANANG 500,000
14 AGUS BIN MOMO 500,000
15 SOPA NUR PAOJA 750,000
16 NENG RAHMAWATI 750,000
17 AHMAD MUZAKI 750,000
18 DAVI PRIAN 750,000
19 DIAN HAERANI 500,000
20 SITI MULYANAH 500,000
21 SAMSUDIN BIN OTO 500,000
22 INDRA HARIMUKTI 500,000
23 KANIA AULIA KHOERUNNISA 500,000
24 WIDIATI BINTI ADE SULAEMAN 500,000
25 MUHAMMAD SHIDDIQ MY 500,000
26 TITIN PRIATIN 500,000
27 M. RIA ABDUL JAMAL 500,000
28 DEDEH BINTI ADANG 500,000
29 EVA HANIFAH 500,000
30 ELIS MUNAWAROH 500,000
31 ANIH BINTI NASORI 500,000
32 MTSR BANDUNG RAYA 1 2,969,000
33 RSSR BANDUNG 5,775,250
34 RSSR BANDUNG 1,462,571
35 RSSR BANDUNG 344,500
36 RUMAH SINGGAH SEDEKAH ROMBONGAN 1,245,400
37 MTSR WONOGIRI 3,737,000
38 CIMANG BINTI ABD RAHMAN 2,000,000
39 AMIRUDDIN BIN LAMADO 2,500,000
40 HUDIYAH BINTI YACI 1,000,000
41 SUDIRMAN WETO 2,000,000
42 QOLBI NURILAH BINTI JISMAN 7,080,000
43 PARTIANA BINTI SALIM 2,500,000
44 WAHYU BIN HUSNI 1,500,000
45 HUZRIA BINTI ABDUL HAMID 1,000,000
46 KORBAN BANJIR ROB 7,000,000
47 FIFI FUJI ASTUTI 3,000,000
48 ROSMINI BINTI LAHDUDI 2,000,000
49 WAJIB ZUBAERA BIN ASRI 1,000,000
50 SUPARLAN BIN NARTO 500,000
51 ZULAIKHAH JEPARA 1,000,000
52 KARMENI JEPARA 1,000,000
53 KAMILAH BINTI UCA 800,000
54 IYA YAHYA 500,000
55 IMAS KARTINI 500,000
56 DIDIN NURYANA 500,000
57 ENTIN BINTI KASTOLANI 500,000
58 ENI BANDINI 500,000
59 NAURA SALSABILA 500,000
60 HERDI BIN ROHMAN 500,000
61 ONENG KURNIASIH 500,000
Total 72,913,721

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 72,913,721,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 1100 ROMBONGAN

Rp. 58,652,928,494,-

Mau bantu Mereka?
Silahkan transfer ke rekening SedekahRombongan

Bank BCA a/c 84655-23456
Bank Mandiri a/c 137-00111-0011-8
Bank Syariah Mandiri a/c 4111-4111-45
Bank Muamalat a/c 532-000-6666
a/n Sedekah Rombongan

Takkan berkurang harta yang disedekahkan. Ia justru akan bertambah..bertambah dan bertambah...


Comments are closed.