RAINA UPIK (82, Lipoma di Bahu). Alamat : Desa Dama Sikuciang, Jorong Siguhung, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Nenek Raina tinggal hanya berdua dengan anak perempuannya yang mengalami depresi. Sudah 5 tahun lebih di bahu kiri Nenek Raina tumbuh benjolan yang semakin membesar dan sering menimbulkan nyeri. Nenek Raina tidak punya jaminan kesehatan. Rumahnya jauh terpencil di atas bukit dan keadaan ekonomi yang tidak mencukupi dengan penghasilan sekitar 40 ribuan per minggu dari mengumpulkan buah pinang. Hal itu membuat Nenek Raina tidak pernah ke rumah sakit untuk memeriksakan benjolannya. Ketika rasa nyeri bahunya muncul, Nenek Raina hanya oleskan minyak untuk mengurangi sakitnya. Alhamdlillah kurir Sedekah Rombongan bisa mendampingi pengobatan Nenek Raina sejak 2 November 2017. Ibu Raina masih rutin berobat dan menjalani serangkaian pemeriksaan seperti CT-Scan untuk mengetahui lebih jelas gambaran benjolannya. Selanjutanya Nenek Raina akan menjalani operasi pengangkatan benjolan jika sudah menjalani rangkaian pemeriksaan secara menyeluruh. Setelah memberikan bantuan awal untuk pembuatan JKN – KIS, kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk biaya transportasi dan akomodasi berobat. Sebelumnya Nenek Raina telah dibantu dalam Rombongan 1076.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 29 November 2017
Kurir : @arfanesia @eldaritarosman @ririn_restu

Bu Raina menderita lipoma di bahu

 

ROSNELLY BINTI HAMZAH (38, Kanker Payudara). Alamat : Jln. Sungai Sapiah, No. 49, Simpang Bawah Asam, RT 4/2, Kelurahan Sungai Sapiah, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Awal mula sakit yang dialami Ibu Rosnelly adalah saat ia menyusi anaknya yang ke-3. Ibu Rosnelly merasakan payudara sebelah kanannya bengkak dan nyeri. Pada November 2016, Ibu Rosnelly memeriksakan diri ke Puskesmas Belimbing dan dari hasil pemeriksaan dokter ia didagnosis mengalami kanker payudara. Dokter pun merujuknya ke dokter spesialis di rumah sakit namun tidak segera ia lakukan karena tidak memiliki biaya. Ibu Rosnelly mencoba mengurus JKN – KIS PBI agar ia dapat berobat, namun belum berhasil. Ibu Rosnelly akhirnya tidak dapat berobat secara medis karena tidak memiliki uang dan jaminan kesehatan. Suami Ibu Rosnelly, Bapak Novidal (42), tidak memiliki penghasilan tetap karena usaha tambal ban yang dijalaninya terhenti sejak istrinya sakit. Akhirnya Ibu Rosnelly hanya dapat berobat dengan pengobatan tradisional. Pada Februari 2017, benjolan di payudara Ibu Rosnelly pecah mengeluarkan cairan darah dan nanah. Kondisinya pun semakin menurun, ia mengalami bengkak dari bahu kanan hingga ke jari – jari tangannya. Saat mengerakkan tangan kanan, Ibu Rosnelly merasakan nyeri yang sangat hebat di payudaranya. Alhamdulillah dengan izin Allah, kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Ibu Rosnelly dan suaminya. Setelah dibantu Sedekah Rombongan, Ibu Rosnelly dapat berobat dengan KIS Mandiri kelas III yang kini telah dimilikinya. Ibu Rosnelly akhirnya menjalani operasi pada Juli 2017 dan menjalani kemoterapi di RS Ibnu Sina Padang. Kondisi Ibu Rosnelley sering menurun sehingga beberapa kali sempat tidak bisa menjalani kemoterapi, hal ini sering disebabkan karena kadar HB-nya rendah dan harus menjalani transfusi. Kondisi Ibu Rosnelly sempat memburuk hingga dibawa ke rumah sakit dan hampir diopname, namun malam harinya ia diperkenankan pulang. Payudara Ibu Rosnelly mengeluarkan cairan seperti nanah dan berbau busuk. Ibu Rosnelly sudah menjalani 6 kali kemoterapi dari 9 kali kemoterapi yang disarankan dokter. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi berobat, membeli perban, dan pemenuhan asupan gizi karena pasca kemoterapi kondisinya sering melemah. Sebelumnya Ibu Rosnelly telah dibantu pada Rombongan 1076.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 25 November 2017
Kurir : @arfanesia @eldaritarosman @ririn_restu

Bu Rosnelly mengalami kanker payudara


YUS WARDI (38, Disorder of Refraction). Alamat : Jorong Pasar, Nagari Batu Kambing, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Pak Wardi mengalami masalah pada matanya sejak tahun 1996, saat duduk di kelas 2 STM Muhammdiyah Bukit Tinggi. Saat itu mulanya matanya mengalami gatal, bola matanya berwarna merah pekat, dan ia merasakan sakit kepala sebelah selama 2 minggu. Dokter spesialis mata menyatakan ada radang di bola putih mata Pak Wardi, namun ia biarkan saja. Pada tahun 1998, penglihatan Pak Wardi semakin berkurang. Pada tahun 2012 Pak Wardi mencoba berobat ke RSUD Lubuk Basung dengan kondisi hanya bisa melihat dengan jarak 1 meter saja, itu pun tidak jelas. Kondisi mata Pak Wardi semakin menurun hingga didiagnosis buta permanen. Pak Wardi merasa masih ada harapan untuk penglihatannya, akhirnya pada November 2016 ia kembali ikhtiar berobat ke RSUD Lubuk Basung. Saat itu mata Pak Wardi tidak bisa melihat, namun ia masih bisa merasakan sinar atau lampu tapi tidak bisa mengetahui dari mana asalnya. Pak Wardi dirujuk ke Padang Eye Center, dan diopname selama 6 hari untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Pasca opname Pak Wardi menjalani rawat jalan hingga bulan Januari 2017. Setelah itu Pak Wardi menyerah karena ketiadaan biaya berobat dan transportasi ke Kota Padang. Setelah kembali dapat berobat, Pak Wardi dirujuk ke RSUP M. Jamil Padang yang kemudian merujuknya ke RSCM Jakarta. Alhamdulillah sejak 2 November 2017, Kurir Sedekah Rombongan telah mendampingi pengobatan Pak Wardi mulai di Padang hingga di Jakarta. Pak Wardi masih menjalani serangkaian pemeriksaan hingga nantinya ditentukan tindakan apa yang akan dilakukan untuk matanya. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk pengurusan kebutuhan sehari – hari dan pengobatan selama di Jakarta. Sebelumnya Pak Wardi telah dibantu dalam Rombongan 1076 dan pada 25 November 2017.

Jumlah Bantuan : Rp1.000.000,-
Tanggal : 6 Desember 2017
Kurir : @arfanesia @eldaritarosman @ririn_restu

Pak Yus menderita disorder of refraction


YUS WARDI (38, Disorder of Refraction). Alamat : Jorong Pasar, Nagari Batu Kambing, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Pak Wardi mengalami masalah pada matanya sejak tahun 1996, saat duduk di kelas 2 STM Muhammdiyah Bukit Tinggi. Saat itu mulanya matanya mengalami gatal, bola matanya berwarna merah pekat, dan ia merasakan sakit kepala sebelah selama 2 minggu. Dokter spesialis mata menyatakan ada radang di bola putih mata Pak Wardi, namun ia biarkan saja. Pada tahun 1998, penglihatan Pak Wardi semakin berkurang. Pada tahun 2012 Pak Wardi mencoba berobat ke RSUD Lubuk Basung dengan kondisi hanya bisa melihat dengan jarak 1 meter saja, itu pun tidak jelas. Kondisi mata Pak Wardi semakin menurun hingga didiagnosis buta permanen. Pak Wardi merasa masih ada harapan untuk penglihatannya, akhirnya pada November 2016 ia kembali ikhtiar berobat ke RSUD Lubuk Basung. Saat itu mata Pak Wardi tidak bisa melihat, namun ia masih bisa merasakan sinar atau lampu tapi tidak bisa mengetahui dari mana asalnya. Pak Wardi dirujuk ke Padang Eye Center, dan diopname selama 6 hari untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Pasca opname Pak Wardi menjalani rawat jalan hingga bulan Januari 2017. Setelah itu Pak Wardi menyerah karena ketiadaan biaya berobat dan transportasi ke Kota Padang. Alhamdlillah kurir Sedekah Rombongan atas izin Allah dipertemukan dengan Pak Wardi. Sejak 2 November 2017, alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan awal sehingga Pak Wardi bisa berobat di RSUP M. Jamil Padang. Setelah menjalani pengobatan di sana, Pak Wardi dirujuk ke poli mata RSCM Jakarta. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk pengurusan administrasi rujukan dan biaya transportasi dan akomodasi ke Jakarta. Sebelumnya Pak Wardi telah dibantu dalam Rombongan 1076.

Jumlah Bantuan : Rp.750.000,-
Tanggal : 25 November 2017
Kurir : @arfanesia @eldaritarosman @ririn_restu

Pak Yus menderita disorder of refraction


ARIS TIYAWAN (16, Gangguan Penglihatan). Alamat : Dusun Sungai Tapang, RT 2/2, Desa Sungai Alai, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Aris merupakan putra dari Iskandar (58). Bersama sang ayah, ia juga tinggal bersama Neng Yulinda (41), ibu tirinya. Orang tua Aris bekerja sebagai petani. Kondisi yang serba kekurangan menjadi kendala bagi Aris untuk mendapatkan perawatan medis atas penyakit yang dideritanya. Aris mengalami gangguan pada matanya sejak lahir, terdapat bulatan putih yang menutupi bola mata kirinya yang membuat penglihatannya kabur dan sering mengalami pusing. Aris belum pernah menjalani pemeriksaan medis karena tidak adanya biaya dan jaminan kesehatan. Kepada kurir Sedekah Rombongan yang mengunjunginya, Aris mengungkapkan harapannya yang besar agar penglihatannya bisa normal. Kondisi Aris lebih baik dan banyak mengalami peningkatan, namun ia masih harus rutin berobat sebulan sekali. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan kepada Aris dan keluarga untuk transportasi dan akomodasi berobat, serta untuk kebutuhan sehari – hari selama pengobatan di Pontianak. Sebelumnya Aris telah dibantu dalam Rombongan 1043.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 1 Desember 2017
Kurir : @arfansia @ahmadtaqiyudin5 Setya @rayska197 @ririn_restu

Aris mengalami gangguan pada matanya sejak lahir


NOLIS BIN SAHIDIN (35, Gangguan Jiwa). Alamat: Kampung Cipamoyanan RT 1/5, Desa Campakawarna, Kecamatan Campaka Mulya, Kabupaten Cianjur – Provinsi Jawa Barat. Sebagai TKW di Arab Saudi, nasib Ibu Nolis sungguh tidak beruntung dan sangat menyedihkan. Harapannya untuk bisa memperbaiki nasib dan mensejahterakan keluarga berbuah penderitaan. Setahun yang lalu Ibu Nolis pulang dalam keadaan trauma karena tidak tahan dengan perlakuan kasar majikannya. Menurut cerita suaminya, yaitu Pak Unang Suherman (40), Ibu Nolis mengalami trauma karena pernah mendapat penyiksaan fisik. Sejak kepulangannya dari Arab Saudi Ibu Nolis mengalami gangguan jiwa sehingga sangat meresahkan dan menyedihkan bagi keluarganya. Hal ini karena Ibu Nolis memiliki anak yang masih kecil yang seharusnya mendapat perawatan dan asuhan seorang Ibu. Suami Ibu Nolis hanyalah seorang buruh tani dan mereka hidup dalam kemiskinan. Sejak terlihat gejala gangguan jiwa Ibu Nolis hanya diperiksa ke Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan di Puskesmas Ibu Nolis dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan harus berobat rutin ke rumah sakit. Tentu saja kenyataan ini membuat sedih dan panik Pak Unang. Pak Unang tidak tahu harus bagaimana supaya bisa mengobati istrinya itu. Pak Unang tidak mempunyai biaya berobat, bahkan untuk ongkos ke Rumah Sakit pun ia tidak punya. Kisah duka keluarga dhuafa itu disampaikan tetangganya, yaitu Ibu Iis, kepada Sedekah Rombongan. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumah Ibu Nolis dan bersilaturahmi dengan keluarga dhuafa yang memprihatinkan itu. Kepada Sedekah Rombongan suami Ibu Nolis menceritakan kesusahan serta keinginannya untuk dapat mengobati Ibu Nolis. Syukur Alhamdulillah, pada kunjungan itu kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan titipan langit, yaitu bantuan uang dari para sedekaholik yang berempati atas kesusahan keluarga Ibu Nolis dan keluarganya. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi ke rumah sakit agar Ibu Nolis mendapat pemeriksaan dan pengobatan. Mudah-mudahan bantuan para dermawan melalui Sedekah Rombongan ini dapat meringankan beban hidup keluarga Ibu Nolis serta menjadi pembuka jalan bagi kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 18 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @agungtrikurnia7 @alwiejozz @aatatikah

Bu Nolis mengalami gangguan jiwa


INDRA HARIMUKTI (38, Patah Tulang Kaki Kanan). Alamat: Jalan Cihampelas Gang Marga Setia No. 38/25 RT 4/15, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Akibat kecelakaan yang dialami dan cacat pada kaki dan tangannya, Indra Harimukti sekarang tidak bisa beraktivitas dengan normal. Ia hanya bisa berjalan dengan dibantu menggunakan tongkat. Selain kakinya patah akibat kecelakaan, tangannya juga bengkok akibat terjatuh dari pohon. Sekarang Indra Harimukti masih membujang dan dirawat oleh kakak-kakaknya. Mereka tinggal di rumah orang tuanya yang keduanya sudah meninggal dunia. Penderitaan Indra Harimukti dimulai sejak dua belas tahun yang lalu. Indra Harimukti beserta temannya mengalami kecelakaan, yaitu sepeda motornya bertabrakan dengan dengan taxi. Indra dan temannya mengalami cedera berat sehingga mereka berdua dievakuasi ke Rumah Sakit Advent. Sungguh menyedihkan sekali, sebab teman Indra akhirnya meninggal dunia. Sedangkan berdasarkan pemeriksaan dan rontgent Indra Harimukti dinyatakan mengalami patah tulang di kaki kanannya. Indra pun dirujuk ke RS Santosa untuk dioperasi. Indra Harimukti menjalani operasi dan pemasangan pen pada kakinya yang patah, dan setelah selesai dan bisa pulang, Indra hanya bisa berbaring di tempat tidur selama 1 tahun. Untuk pengobatan selanjutnya, keluarga Indra hanya membawanya berobat ke tempat terapi dan sesekali kontrol ke rumah sakit. Alhamdulillah, akhirnya Indra bisa berjalan walaupun dibantu menggunakan tongkat dan dengan pen masih terpasang. Beberapa tahun kemudian Indra pun bisa berjalan tanpa bantuan tongkat, dan ia pun bisa mencari nafkah dengan berjualan di sekitar pasar Cihampelas. Nasib tragis kembali terjadi, ketika tahun 2017 Indra kembali mengalami kecelakaan. Ia terjatuh dari pohon ketika sedang membantu tetangganya memetik buah alpukat. Akibat jatuh tulang kakinya kembali bergeser dan tangannya pun patah. Akibat kecelakaan itu ia hanya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan sementara, karena untuk menjalani operasi kembali keluarganya tidak memiliki biaya. Bahkan untuk menjalani pengobatan tradisional atau terapi pun hanya bisa dijalani apabila ada bantuan dari kakaknya ketika memiliki rezeki lebih. Kabar penderitaan dan kesulitan keluarga Indra disampaikan salah seorang kakaknya kepada kurir Sedekah Rombongan, yang secara kebetulan sering bertemu dan berbincang di masjid. Beruntung kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumahnya dan bertemu dengan Indra beserta kakak perempuan yang mengurusnya. Indra membutuhkan bantuan biaya agar dapat menjalani operasi untuk membuka pen yang terpasang pada kakinya yang patah, yang sekarang posisinya kembali bergeser akibat jatuh. Mereka sangat berharap agar Indra dapat kembali berjalan dan beraktivitas sehingga bisa bekerja mencari nafkah, sebab kakak perempuan yang mengurusnya pun hanya seorang single parent. Syukur Alhamdulillah, pada 23 November 2017 Sedekah Rombongan dapat memberi bantuan uang, titipan dari para sedekaholik yang berempati atas penderitaan Indra. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk membuat dan membayar iuran BPJS, ongkos ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan kontrol sebelum mendapat tindakan operasi. Mudah-mudahan bantuan para dermawan Sedekah Rombongan ini dapat meringankan beban hidup Indra dan keluarganya, serta dapat mengantarkannya untuk memperoleh kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 23 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima Yadi

Pak Indra menderita patah tulang kaki


AGUS BIN MOMO (49, Lumpuh + Decobitus). Alamat: Kampung Balong RT 1/10, Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Buruh tani ini tinggal di rumah bilik di daerah pegunungan bersama istri dan keempat anaknya yang masih kecil. Selain menjadi buruh tani, dia sekali-kali berdagang buah-buahan, seperti konyal, kesemek dan alpukat yang ia ambil dari pohon-pohon di hutan dekat kampungnya. Betapapun kerasnya usaha Pak Agus menghidupi keluarganya, sampai kini ia merasakan beratnya beban ekonomi yang menggelayuti bahtera rumah tangganya. Istrinya, Raswati (33), yang kedua kakinya cacat sejak lahir, hanya mampu menjalankan tugas sehari-hari sebagai istri dengan segala keterbatasannya. Keluarga ini layak dibantu, apalagi setelah Pak Agus –sebagai tulang punggung keluarga— mengalami kelumpuhan akibat jatuh dari pohon saat mengambil buah konyal pada awal 2015. Berbekal Jamkesmas, kerabat dan tetangganya memeriksakan Pak Agus ke Puskesmas, RSUD Soreang, dan RSHS Bandung. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tulang pinggul dan kakinya harus dioperasi. Cukup lama ia menunggu panggilan untuk masuk ruang rawat inap. Kenyataan pahit yang dialami Pak Agus dan keluarganya diketahui Sedekah Rombongan (#SR) berkat informasi dari Kepala Desa Cisondari. Alhamdulillah kurir Sedekah Rombongan (#SR) dapat bersilaturahmi dengan keluarga tabah ini padal 1 Mei 2015. Pada tanggal yang sama disampaikan pula wujud empati sedekaholik #SR kepada keluarga dhuafa ini, berupa bantuan untuk biaya sehari-hari dan transportasi-akomodasi selama dia berobat. Pada pertengahan Agustus 2015 kondisi pekerja serabutan itu memburuk; pantatnya mengalami decubitus. Pada malam harinya, dia dievakuasi MTSR Bandung ke IGD RS Santosa Kota Bandung, dan dirawat inap di sana menggunakan Jamkesmas/ BPJS PBI. Pada 5 September 2015 dia diperbolehkan pulang karena masa kritisnya telah terlewati. Pada 12 September 2015 Pak Agus kontrol ke rumah sakit yang sama. Kurir SR kembali menjemputnya sekaligus menyampaikan bantuan Sedekah. Pada 6 Oktober 2015 Pak Agus didampingi lagi kontrol ke RSHS Bandung untuk penanganan tulangnya. Ia sempat menginap sampai 8 Oktober 2015. Pada minggu kedua November 2015 ia kembali diantar ke RSSR untuk melanjutkan pemeriksaan. Berdasarkan hasil pemeriksaan RMI, tim medis RSHS memutuskan untuk mengambil tindakan operasi tulang yang dilaksanakan pada Januari 2016. Senin, 18 Januari 2016, keluarganya memberi tahu kurir #SR bahwa Pak Agus harus ke RSHS untuk diagnosa RMI pada Kamis, 21 Januari 2016. Dia kemudian dievakuasi dari rumahnya ke RSSR, Rabu 20 Januari 2016. Alhamdulillah decobitus di tulang belakangnya mulai mengering. Karena masih ada tahapan medis yang harus dijalani, yaitu operasi tulang belakangnya, pada Maret 2016, ia melakukan pemeriksaan pra-operasi di RSHS Bandung. Pada bulan itu, bersyukur, Sedekah Rombongan juga dapat memberinya bantuan lanjutan. Luka besar di punggungnya mulai berangsur sembuh. Tak ada lagi nanah dan bau menyengat. Akan tetapi, karena Pak Agus bersedia menjalani operasi tulang ekornya, pada Juni dan Juli 2016 kurir #SR membawanya periksa ke RSHS Bandung sambil menunggu panggilan masuk ruang rawat inap. Sejak 8 Juli 2016 ia tinggal di RSSR Bandung didampingi anaknya. Ikhtiar untuk kesembuhan Pak Agus cukup lama. Pak Agus dan keluarganya masih membutuhkan bantuan, selain motivasi dan dukungan. Pada akhir Juli 2016 Pak Agus dipanggil masuk ruangan rawat inap sebelum dilakukan tindakan operasi bedah plastik dan operasi tulang belakang. Tindakan operasi yang dilaksanakan di RSHS Bandung itu alhamdulillah berjalan lancar. Pascaoperasi dia rutin menjalani kontrol dua minggu sekali ke Poli Ortopedi RSHS Bandung. Kondisinya amat menggembirakan. Ia mulai bisa duduk. Mekipun demikian, ia masih membutuhkan bantuan para dermawan untuk melanjutkan ikhtiar sehatnya sampai tuntas. Pada akhir Agustus 2016 kembali kurir #SR menyampaikan santunan. Pada awal November 2016 Pak Agus kembali didampingi kurir menjalani kontrol dan pengobatan. Ia tinggal di RSSR Bandung sambil mengikuti program terapi dan rawat jalan di RSHS Bandung. Pada bulan ke-11 ini pun ia mendapatkan bantuan lanjutan untuk biaya berobat. Pada Desember 2016 Pak Agus datang lagi ke RSHS Bandung dan tinggal di RSSR. Ia menjalani terapi rutin dua kali sehari. Hasilnya ia bisa duduk dan melipatkan kedua kakiknya. Pada pertengahan Januari 2017 dia ke RSHS lagi untuk kontrol dan melanjutkan terapi medis. Kembali ia tinggal seminggu di RSSR Bandung. Pada awal Maret 2017, anaknya mengabarkan bahwa luka decobitus di punggung bawah Pak Agus menganga dan basah lagi. Dia kemudian dibawa periksa ke Poli Bedah Plastik RSHS Bandung. Selama lima hari ia tinggal di RSSR Bandung dan bolak-balik menjalani pemeriksaan di RSHS Bandung. Ia masih harus berobat sehingga memerlukan bantuan dan dukungan. Dari pertengahan April 2017 sampai akhir Mei 2017 dia tinggal lagi di RSSR Bandung untuk menjalani terapi dan pengobatan luka di punggungnya yang –menurut dokter– memerlukan tindakan operasi kedua. Pada 22 Juni 2017 ia diantar pulang ke kampunnya untuk merayakan Idul Fitri. Pada 27 Juli 2017 ia dijemput lagi untuk melanjutkan pengobatan luka decobitus dan terapi tulangnya. Hampir dua bulan ia tinggal di RSSR Bandung. Berdasarkan hasil pemeriksaa terakhir, tim dokter menyimpulkan bahwa keberhasilan pengobatannya hanya sampai ia bisa duduk. Meskipun demikian, ia masih harus mengobati luka decobitus di punggung bagian bawah. Karena Pak Agus bin Momo dan keluarganya masih membutuhkan bantuan, pada September 2017 kurir Sedekah Rombongan menyampaikan lagi santun dari sedekaholik. Ujian sakit yang dialami Pak Agus seolah tak ada henti. Melalui serangkaian pemeriksaan, ia juga diduga mengalami gangguan pada ginjalnya. Sampai November 2017 Pak Agus tinggal di RSSR untuk berobat di RSHS Bandung. Pak Agus masih layak untuk terus dibantu karena ia menderita sakit berkepanjangan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, kembali kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan untuk Pak Agus bin Momo yang digunakan untuk biaya membeli obat dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1058.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 17 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @

Pak agus menderita lumpuh


UZI LESTARI (16, Kanker Tulang Belakang). Alamat : Kampung Gamnung RT 4/8, Desa Mejarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Uzi adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Bersama ibu dan saudaranya, ia tinggal di rumah bedeng milik perusahaan (bedeng adaah perumahan sederhana untuk pekerja kelas rendahan di perusahaah perkebunan teh). Ayahnya telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan. Ibunya, Bu Komariah (40), hanyalah ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya disibukkan dengan mengurus rumah dan anak-anak; ia tidak punya pekerjaan tetap untuk melanjutkan kehidupan: membesarkan kedua anaknya yang kini menjadi anak yatim. Sepeninggal ayahnya, Uzi dan keluarganya semakin terpuruk. Mereka termasuk dhuafa yang sangat layak mendapatkan bantuan untuk menjalani kehidupan. Apalagi setelah siswi SLTP ini mengalamai sakit yang tak biasa sejak bulan Juli 2016. Ia diduga terserang tumor di betis dan kanker tulang belakang. Berbekal Jaminan Kartu Indonesia Sehat (KIS), keluarga Uzi membawanya berkali-kali diperiksa ke Puskesmas Pasirjambu dan RSUD Soreang. Akhinya, RSUD Soreang merujuk penanganan medis Uzi ke RSHS Bandung. Akan tetapi, karena ketidakadaan biaya, ikhtiarnya tertunda beberapa lama, padahal Uzi bersemangat untuk berobat karena ingin kembali bersekolah. Harapan Uzi dan keluarganya untuk terus berobat akhirnya sampai beritanya kepada kurir Sedekah Rombongan (#SR) atas informasi dari kader Posyandu di desa yang berada di dataran tinggi ini. Dengan Izin Allah Swt, bersyukur kurir #SR di Kab. Bandung dapat mengantar-jemput dan mendampingi Uzi diperiksakan di RSHS Bandung. Setelah dua kali didampingi menjalani tahapan diagnosa di RSHS, alhamdulillah, tindakan biopsi sudah dilakukan. Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya keluar hasil pemeriksaan terakhir berupa penegakan Patology Anatomy (PA). Ia didiagnosa mengidap Tumor Tulang Belakang. Pada awal November 2016, Uzi menjalani operasi tulang belakang. Alhamdulillah operasinya berhasil. Ia sudah mulai bisa duduk walaupun tidak lama. Akan tetapi, secara medis, perjalanan dia meraih kesembuhan masih amat panjang. Dia harus kontrol rutin seminggu sekali, dan harus menjalani 30 kali terapi sinar. Padahal, segala kemampuan mereka telah terkuras habis. Anak yatim dan ibunya ini masih membutuhkan bantuan. Memahami musibah yang dialami Uzi dan keluarganya, dengan empati sedekaholics #SR, Sedekah Rombongan terus memberi mereka bantuan. Pada pertengahan April 2017 ibunya mengabarkan bahwa selain melalui pengobatan medis, ikhtiar penyemhuhannya dilakykan juga melalui pengobatan alternatif.” Pada Mei 2017 sampai awal Juni 2017 ia didampingi kurir #SR kontrol rutin ke rumah sakit dan ahli tulang. Alhamdulillah keberhasilannya mulai nampak. Kini Uzi sudah mulai bisa berjalan selangkah dua langkah, juga duduk. Alat penyangga dari para sedekaholik sangat membantu terapinya, berkat bantuan mereka sampai Juli 2017. Pada akhir September 2017 ibunya Uzi menghubungi kurir #SR, mengabarkan bahwa Uzi masih harus kontrol ke Klinik dan RSHS Bandung Uzi. Anak yatim ini masih membutuhkan bantuan dan dukungan para dermawan. Bersyukur kurir #SR dapat mendampinginya kontrol seminggu sekali dengan bantuan sedekaholik. Kondisinya terus membaik. Ikhtiar medis dan nonmedis ini menunjukkan keberhasilan. Uzi semakin tampak bugar dan mulai bisa melangkah. Meskipun demikian ia masih membutuhkan dukungan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, pada November 2017 kembali Sedekah Rombongan menyampaikan santunan lanjutan untuk Uzi Lestari. Bantuan yang diterima ibunya di rumah milik ini digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1058.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 18 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Uzi terserang tumor di betis dan kanker tulang belakang


ADI CARDIA (54, Batu Ginjal). Alamat: Kampung Pagersari RT 1/3, Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pak Adi yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan menderita batu ginjal sejak 8 bulan yang lalu. Gejala awalnya, ia tidak dapat buang air kecil dan buang air besar dengan lancar selama 8 hari. Warga sekita, didampingi Sedekah Rombongan (#SR), membawa Pak Adi ke rumah sakit di Bandung. Di RSUD Al Ihsan Bale Endah, Adi mendapatkan penanganan dengan cepat antara lain dengan pemasangan kateter sehingga pengeluaran air kencingnya lancar kembali. Empat bulan yang lalu, ia juga dirawat di RSUD Al-Ihsan selama 1 minggu dan dilanjutkan dengan rawat jalan dua minggu sekali. Sedekah Rombongan telah mendampingi dan memberinya bantuan untuk biaya pembuatan BPJS dan transportasi ke rumah sakit. Setelah berkali-kali didampingi kurir #SR ke RS Al Ihsan Bale Endah Kab. Bandung, Pak Adi berangsur membaik dan masa kritisnya terlewati. Akan tetapi, dokter yang menangani Pak Adi menyarankannya untuk melanjutkan pengobatan di RSHS Bandung untuk memfungsikan kembali saluran kencingnya. Sedekaholiks #SR terus mendampinginya ke RSHS. Tanggal 7 dan 8 Januari 2015 Pak Adi mulai menjalani pemeriksaan awal di RSHS. Ia menginap dua hari di Rumah Singgah SR (RSSR). Tanggal 13 Januari 2015 ia juga menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit yang sama. Pada 27 dan 28 Januari 2015 ia juga harus ke RSHS karena kateternya bocor. Pada 9 Februari 2015 Pak Adi menjalani pemeriksaan sebelum operasi. Karena kondisinya memburuk, jadwal operasinya belum bisa ditentukan. Selasa 14 April 2015 dia didampingi kembali ke RSHS untuk pemeriksaan darah yang hasilnya baru bisa didiagnosa pada Selasa 21 April 2015 sambil menjalani pemeriksaan lainnya yang terus ia jalani sampai awal Juni 2015. Alhamdulillah, berkah sedekah, kini Pak Adi sudah menjalani seluruh tahapan pemeriksaan sebelum mendapatkan tindakan operasi. Pak Adi tinggal menunggu panggilan untuk dirawat inap dan dioperasi di RSHS Bandung. Pada 3 dan 10 Agustus 2015 Pak Adi ke RSHS lagi untuk menjalani kontrol. Pada Kamis 24 September 2015, kurir #SR menemui Pak Adi di rumahnya, memotivasinya untuk melanjutkan pengobatan. Pada Selasa (29/9/15) MTSR Bandug membawanya kontrol lagi ke RSHS. Sampai akhir Desember 2015, dia belum mendapatkan panggilan dari Bagian Rawat Inap RSHS karena belum ada kamar yang kosong. Sambil menunggu panggilan dari RSHS, dia masih harus kontrol dua minggu sekali ke RSUD Soreang untuk mengganti kateter. Karena terlalu lama menunggu panggilan (hampir empat bulan), Pak Adi mengurungkan kesiapannya untuk dioperasi. Terapi yang ia jalani saat ini hanya mengganti kateter secara rutin. Pada akhir Mei 2016 kurir #SR Bandung Raya menemui Pak Adi di rumah keluarganya. Setelah dimotivasi, ia akhirnya bersedia melanjutkan kontrol rutinnya ke rumah sakit. Pada Agustus 2016 ia menghentikan kontrol rutinnya ke RSHS Bandung karena saudaranya yang biasa mendampingi Pak Adi mendapat pekerjaan di luar daerah. Pak Adi hanya mengganti rutin kateter ke klinik terdekat sambil menunggu panggilan operasi di RSHS Bandung. Pada Desember 2016, Pak Adi menyampaikan keinginannya kepada kurir Mulawarman untuk meneruskan pengobatannya yang tertunda di RSHS Bandung. Kondisinya masih belum membaik, dan ia harus mengulang kembali pemeriksaannya dari awal. Pada awal Mei 2017 kurir #SR di Bandung menjenguknya di rumah saudaranya dan memberinya santunan dermawan #SR karena dhuafa ini masih membutuhkan dukungan dan bantuan. Pada November 2017 kurir #SR kembali menemui Pak Adi setelah ia memutuskan untuk melanjutkan pengobatan. Dia sempat berhenti berobat karena tidak ada keluarga yang mendampinginya. Kondisinya kini semakin menurun. Memahami betapa beratnya musibah sakit yang dialami Pak Adi, kembali kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk Pak Adi Cardia yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi berobat, membeli obat dan kateter serta biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 997.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 22 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Pak Adi menderita batu ginjal


BENI BIN YUYU (54, Tumor di Leher). Alamat : Kampung Cimala RT 1/8 Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pak Beni –begitu panggilan sehari harinya– mulai sakit sejak bulan Agustus 2016. Awalnya ia merasakan adanya benjolan di bagian rahang bawah sebelah kiri. Berbekal jaminan kesehatan dari JKSN KIS PBI, keluarga Pak Beni kemudian memeriksakannya ke Puskesmas Pasirjambu. Setelah beberapa kali berobat ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) Tingkat I itu, penanganan medisnya kemudian dirujuk ke RS Al-Ihsan Baleendah. Beberaa minggu ia mendapat pengobatan dan pemeriksaan di salah satu rumah sakit rujukan di Kab. Bandung itu. Karena penyakitnya belum juga teratasi, tim medis merujuk pemeriksaannya ke RSHS Bandung. Seteleh bermingu-minggu menjalani pemeriksaan tahap awal di RSHS Bandung, Pak Beben didiagnosa menderita tumor di lehernya. Berdasarkan hasil analisa medis, ia harus mengikuti 6 kali terapi kemo di RSHS Bandung. Walaupun biaya berobat ditanggung Asuransi Kesehatan, ia merasakan kesulitan untuk terus berobat karena tidak memiliki biaya untuk ongkos ke rumah sakit, akomodasi, dan biaya hidup sehari-hari. Jangankan untuk biaya berobat, untuk kebutuhan hidup harian pun kerap mengandalkan pinjaman dan bantuan saudara dan tetangga. Sejak sakit, ia kehilangan pekerjaannya sebagai buruh harian. Rumah yang ia tempati sekarang adalah rumah kontrakan yang setiap bulannya menjadi beban tambahan. Di rumah panggung berdinding bilik itu, ia tinggal bersama Ibu Dedeh (48) dan kedua anaknya yang masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD). Istrinya tak bisa membantu banyak menggantikan suaminya mencari penghasilan. Ia hanya ibu rumah tangga biasa. Ujian hidup yang dialami Pak Beben dan keluarga akhirnya sampai kepada kurir Sedekah Rombongan (#SR) di Kab. Bandung berdasarkan informasi dari Ustad Azis. Bersyukur kurir #SR bisa bersilaturahmi dengan Pak Beben dan keluarganya yang tabah dan tawakal itu. Pada saat dijenguk, bisa disimpulkan bahwa penyakitnya amat serius: ada luka yang menganga dengan ukuran kurang lebih 20 cm vertikal, 15 horizontal, dengan luka yang mengeluarkan darah dan nanah serta bau tak sedap. Sampai Januari 2017, saat pertama bertemu kurir #SR, ia sudah menjalani dua kali kemo terapi. “Kemo Ketiga pada Senin 6 Februari 2017,” katanya. Pak Beben dan keluarganya termasuk dhuafa sakit yang amat layak mendapatkan dukungan dan bantuan dari semua pihak. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, Sedekah Rombongan dapat memberinya Bantuan Awal pada Januari 2017. Bantuan yang dia terima di rumah kontrakannya ini digunakan untuk biaya membeli obat pembersih dan biaya sehari-hari. Selama menjalani tahapan pemeriksaan, selain didampingi kurir #SR, Pak Beben juga dibantu warga sampai ia selesai menuntaskan jadwal kemo terapinya. Ikhtiar kesembuhannya alhamdulillah membuahkan hasil. Benjolan di leher Pak Beben kini mengecil. Meskipun demikian, ia masih harus kontrol ke RSUD Soreang dan RSHS Bandung. Pak Beben masih membutuhkan bantuan untuk terus berobat. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, kembal Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan yang digunakan untuk biaya transportasi-akomodasi dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 949.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 22 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Pak Beben didiagnosa menderita tumor di lehernya.


DAVI PRIAN (7, Leukimia). Alamat: Kampung Bojongsoang, RT 2/1, Desa Bojongsoang, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung – Provinsi Jawa Barat. Pada akhir tahun 2015 Davi sering mengalami sakit, tetapi karena orang-tuanya tidak memiliki biaya, Davi tidak dibawa ke dokter untuk diperiksa atau berobat. Oleh karena itu, orang-tua Davi tidak mengetahui penyakit yang diderita Davi. Ayah Davi, yaitu Pak Nandang Rahmat (56) hanya seorang uruh bangunan, dan istrinya yaitu Ibu Ai Lasmanah (52) tidak bekerja. Dari pekerjaan Pak Nandang yang tidak tetap, keluarga mereka hidup dalam kemiskinan. Pada April 2016 orang tua Davi baru bisa membawa Davi ke Rumah Sakit Al-Islam. Berdasarka pemeriksaan, Davi dinyatakan mengidap penyakit leukemia. Sejak itu Davi berobat jalan dengan menggunakan fasilitas SKTM. Setelah masa berlaku SKTM-nya habis, orang tua Davi mendaftar menjadi anggoa BPJS agar dapat rutin mengobati Davi. Pada bulan Februari 2017 Davi mengalami pendarahan, tetapi ketika akan berobat fasilitas BPJS-nya tidak bisa digunakan karena ada tunggakan iuran. Tentu saja keadaan itu membuat mereka susah dan sedih. Atas bantuan tetangganya orang-tua Davi diminta menghubungi Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung untuk minta bantuan. Alhamdulillah, berkat bantuan pengurus RCAK, yaitu Bapak Supendi, iuran BPJS-nya dapat dilunasi dan Davi bisa melanjutkan berobat jalannya. Pada November 2017 penguru RCAK mendapat kabar bahwa Davi sudah tiga bulan tidak bisa berobat karena tidak memiliki uang untuk transportasi dan bekal berobatnya. Selain itu, ibu dan salah satu kakaknya juga sedang sakit dan mereka membutuhkan bantuan agar Davi bisa kembali berobat. Kabar kesusahan keluarga dhuafa itu disampaikan oleh Bapak Supendi (RCAK) kepada kurir Sedekah Rombongan (#SR). Walaupun sedang musim hujan dan banjir, kurir Sedekah Rombongan pun berangkat menuju rumah keluarga Davi di daerah Kabupaten Bandung, yang kebetulan terletak di daerah rawan bajir. Sungguh sangat menyedihkan karena ketika dikunjungi daerah sekitar rumah keluarga itu sedang tergenang banjir. Bahkan dengan susah payah dan perasaan cemas kurir-kurir Sedekah Rombongan akhirnya dapat sampai ke rumah mereka dan bersilaturahmi. Pada kunjungan itu kurir Sedekah Rombongan menawarkan bantuan agar Davi tinggal atau singgah di RCAK untuk melanjutkan pengobatannya. Syukur Alhamdulillah, akhirnya Davi dapat berangkat ke Kota Bandung dan tinggal di RCAK untuk melanjutkan rawat jalan ke RSHS. Di RCAK itu pun kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan para sedekaholik #SR yang berempati kepada David an keluarganya. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk transportasi dan membantu meringankan biaya membeli obat serta untuk bekalnya sehari-hari. Keluarga Dhavi sangat berterima kasih kepada para dermawan yang telah membantunya dan mendoakan segala kebaikan untuk semuanya. Bantuan sedekaholik #SR ini membantu meringankan beban keluarga dhuafa itu dan mudah-mudahan dapat membantu Davi untuk memperoleh kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 26 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @hengkisenandika @lisdamojang @trietan

Davi dinyatakan mengidap penyakit leukemia


LELA NURLELA (44, TB Tulang). Alamat: Kampung Babakan Cedok RT 1/10, Desa Pangauban, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Penderitaan Ibu Lela dimulai pada suatu pagi di tahun 2012. Waktu itu, ketika bangun tidur, dari pinggang sampai kedua kakinya tidak bisa digerakkan atau mengalami kelumpuhan. Sejak saat itu Ibu Lela dibawa berobat ke beberapa rumah sakit, sampai yang terakhir diperiksa di RS Immanuel bandung. Berdasarkan pemeriksaan di RS Immanuel, ia didiagnosa TB tulang. Demi membiayai pengobatan, Ibu Lela dan suaminya, yaitu Bpk. Agus Nurdin (51) sampai menjual seluruh barang berharga dan rumahnya. Dan mereka pun tinggal di rumah orang-tuanya. Akan tetapi, setelah melakukan pemeriksaan di klinik spesialis TB tulang, ternyata tidak ditemukan penyakit TB tulang. Karena sudah tidak memiliki lagi biaya untuk berobat ke rumah sakit, selanjutnya Ibu Lela hanya melakukan pengobatan secara tradisional, sebab seluruh harta hasil suaminya bekerja sebagai tukang jahit sudah habis. Dan penderitaan Ibu Lela itu bertambah memprihatinkan, karena ketika ia sedang perlu pertolongan dan pendamping, ia malah seperti ditelantarkan oleh suaminya yang semakin sering pergi dan jarang pulang. Bahkan untuk mengurus pembuatan BPJS pun, Ibu Lela tidak ada orang yang membantunya. Sekarang Ibu Lela hanya terbaring di rumah orang tuanya ditemani radio kecil yang menjadi teman di samping pembaringannya. Kisah duka Ibu Lela ini disampaikannya sendiri melalui SMS dan telepon kepada Kurir Sedekah Rombongan, yang kebetulan bekerja sebagai penyiar di sebuah stasiun radio swasta di Bandung. Syukur Alhamdulillah, kurir Sedekah Rombongan dapat mengunjungi Ibu Lela di rumahnya. Kepada Kurir Sedekah Rombongan Ibu Lela menceritakan keinginannya untuk dapat dibantu berobat. Pada kunjungan pertama itu, kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan para Sedekaholics yang berempati terhadap penderitaannya. Bantuan itu berupa uang yang mudah-mudahan dapat membantu membiayai transportasi-akomodasi pembuatan jaminan kesehatan, dan mudah-mudahan dapat membantu meringankan beban hidupnya. Pada Februari 2017, Kurir Sedekah Rombongan kembali mengujungi Ibu Lela. Alhamdulillah, proses pembuatan BPJS-nya sudah selesai dan ia bisa menggunakannya. Karena ia tinggal di Kabupaten dan harus berobat ke RSHS Bandung, maka pada kunjungan kedua itu Sedekah Rombongan kembali menyampaikan titipan langit, bantuan dari Sedekaholics untuk biaya transportasi-akomodasi berobat dan membantunan untuk biaya sehari-hari. Pada November 2017 kurir Sedekah Rombongan mendapat kabar bahwa Ibu Lela baru kembali dari Garut setelah berikhtiar dengan berobat alternative dibantu keluarganya di kampong. Ibu lela ingin melanjutkan pengobatannya ke rumah sakit dan ia membutuhkan bantuan biaya transportasi-akomodasi untuk terapi serta untuk membayar tunggakan iuran BPJS. Syukur Alhamdulillah Sedekah Rombongan dapat kembali mengunjunginya dan menyampaikan bantuan dari para sedekaholik untuk membantu ikhtiarnya berobat. Mudah-mudahan bantuan para dermawan terus memberinya harapan dan semangat berobat untuk membuka jalan bagi kesembuhannya. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 964.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 25 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @lisdamojang @hengkisenandika @trietan

Bu Lela didiagnosa TB tulang


DEDEH SUTARNI (21, Lipoma). Alamat: Jalan Cidadap Girang RT 1/5, Desa Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Sudah sekitar enam tahun Dedeh merasakan benjolan di pundak sebelah kirinya. Semakin lama benjolan itu membesar dan terasa pegal sampai ke lengan, sehingga menghambat aktivitasnya. Namun baru pada bulan Agustus 2017 ia mulai memeriksakan dirinya ke Puskesmas Cipaku, Ledeng. Setelah melakukan pemeriksaan, maka pada 8 September 2017 dokter Puskesmas merujuknya ke Rumah Sakit Salamun. Dari hasil pemeriksaan rutin di rumah sakit diketahui bahwa benjolan di pundak Dedeh itu adalah gumpalan lemak yang terus aktif dan akan membesar. Tetapi tindakan operasi itu tidak segera dilakukan karena Dedeh dan suaminya tidak memiliki biaya dan bekal selama operasi dan perawatan. Suaminya, Kusnadi (24), hanyalah seorang buruh bangunan yang kadang bekerja dan kadang menganggur. Sementara itu mereka pun memiliki anak yang masih berusia dua tahun dan masih tinggal bersama orang tuanya. Akan tetapi pada bulan Oktober 2017 Dedeh merasakan benjolannya semakin membesar dan rasa pegal di pundaknya semakin menyiksa, sehingga ia sulit tidur ataupun tidak tahan menggendong anaknya. Karena keluarganya merasa cemas maka Dedeh pun segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani operasi dengan menggunakan fasilitas Jamkesmas. Alhamdulillah proses operasinya berhasil dilaksanakan dan Dedeh pun dirawat selamat tiga hari. Tetapi, alangkah kagetnya suami dan orang tua Dedeh ketika mereka akan pulang, rumah sakit menyatakan bahwa mereka harus membayar biaya operasi sebesar Rp 3.250.000,-. Hal itu terjadi karena menurut pihak rumah sakit, SKTM-nya ditolak karena Dedeh dan keluarganya terdaftar sebagai peserta BPJS mandiri, dan iuran BPJS nya belum dibayar (menunggak) selama 4 bulan. Sungguh kejadian itu membuat seluruh keluarganya kaget dan bingung. Mereka pun kemudian mencari solusi dengan meminta bantuan kepada kerabat dan tetangganya. Akan tetapi untuk kebutuhan yang sangat mendadak itu, sungguh sangat sulit mendapatkan uang pinjaman. Berdasarkan informasi saudaranya, maka mereka pun menghubungi Kurir Sedekah Rombongan dan meminta bantuan agar mereka bisa membayar biaya ke rumah sakit dan Dedeh dapat segera pulang. Setelah berusaha mencari bantuan sampai hampir tengah malam, syukur Alhamdulillah, akhirnya kurir #SR bersama saudaranya memperoleh uang pinjaman untuk membayar sebagian biaya rumah sakit. Pada saat itu juga kurir #SR memberikan bantuan uang dari para sedekaholik #SR yang berempati terhadap kesusahan Dedeh dan keluarganya. Bantuan dari dermawan #SR itu pun digunakan untuk melunasi biaya operasi dan perawatan ke Rumah Sakit, dan Dedeh pun bisa pulang ke rumah. Pada 26 November kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan uang untuk membayar (cicilan ke-2) utang biaya operasi Dedeh. Bantuan diterima di rumah mertuanya yang sempt dan gelap. Tidak lupa mertuan dan seluruh keluarganya mengucapkan terima kasih dan mendoakan segala kebaikan untuk para dermawan yang telah membantunya. Mudah-mudahan untuk selanjutnya para sedekaholik #SR akan kembali memberi bantuan kepada Dedeh untuk membayar utangnya kepada orang yang telah memberikan pinjaman. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 1067.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 26 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @hengkisenandika

Dedeh menderita lipoma


ANNA SRI REJEKI (2, TB + Gizi Buruk/KEP). Alamat: Jalan Kebon Kangkung V No. 26, RT 5/6, Kelurahan Kebon Kangkung, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Anna adalah anak yatim dari pasangan Ibu Nina Suryina (47). Ayahnya telah meninggal dunia pada bulan April 2017. Ibunya Anna bekerja mencari nafkah dengan mencari upah sebagai tukang cuci pada tetangga dan saudaranya yang berjualan nasi kuning. Sekarang Anna dan ibunya tinggal di rumah keluarga bersama saudara-saudara ibunya. Pada awalnya Anna Sri Rezeki lahir normal, namun perkembangan berat badannya tidak baik, dan terakhir ditimbang beratnya hanya 7 kg. Pada bulan November, selama dua minggu kondis Anna sakit dan sangat lemah. Anna tidak mampu berdiri tegak dan tidak bisa berjalan, akhirnya hanya bisa terbaring. Setelah diperiksa di Puskesmas, Anna didiagnosa menderita gizi buruk, atau kurang energy protein (KEP). Anna pun dirujuk ke RSUD Ujung Berung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dengan menggunakan SKTM, Anna dibawa ke RSUD dan setelah diperiksa dokter Anna pun diharuskan dirawat inap. Tentu saja keadaan ini sangat membuat sedih dan bingung ibu serta kakek Anna. Mereka hidup dalam kekurangan dan tidak memiliki uang untuk orngkos dan bekal sehari-hari selama Anna dirawat. Saudara ibu Anna yang serumah pun hanya bekerja sebagai tukang parkir yang pendapatannya kecil. Kabar duka dan kesusahan keluarga dhuafa itu dikabarkan oleh tetangganya kepada kurir Sedekah Rombongan Bandung. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumah keluarga Anna untuk menjenguk dan melihat kondisi Anna. Atas bantuan warga dan kurir Sedekah Rombongan, Alhamdulillah Anna dibawa ke RSUD untuk menjalani perawatan. Untuk membantu Anna dan keluarganya, syukur Alhamdulillah Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan uang, yaitu titipan dari para sedekaholik. Bantuan tersebut akan digunakan untuk ongkos dan bekal sehari-hari selama Anna dirawat di RSUD, dan untuk bekal apabila ada obat yang harus dibeli di apotek. Semoga bantuan para dermawan Sedekah Rombongan ini dapat meringankan beban hidup keluarga dhuafa itu dan dapat memudahkan ikhtiar Anna untuk memperoleh kesembuhannya hingga ia dapat tumbuh sehat kembali.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 26 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @dzim_dzim

Anna didiagnosa menderita gizi buruk


DEDE NENGSIH (47, Kanker Serviks). Alamat: Jalan Pelindung Hewan Gang Wahuri No. 90/96, RT 5/9, Kel. Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung – Jawa Barat. Pada Desember 2016 Ibu Dedeh mengalami keputihan berlebih. Karena merasa khawatir maka ia pun memeriksakan diri ke dokter di Laboratorium Prodia Bandung. Hasilnya sangat mengejutkan karena Ibu Dedeh diduga menderita serviks. Dari laboratorium itu Ibu Dedeh dirujuk ke klinik kandungan di Rumah Sakit Immanuel, dan hasilnya disana ia harus dibiopsi. Setelah dibiopsi dokter menyarankan agar ia melakukan pengobatan rutin dengan disuntik imunisasi untuk pencegahan dan pengobatan serviks-nya. Setelah beberapa kali menjalani pengobatan ke RS Immanuel beban hidup Ibu Dedeh dan suaminya, yaitu Bpk. Heriyana Setiawan (47) semakin mengalami kesulitan. Suaminya hanya bekerja sebagai penjaga villa dengan penghasilan yang tidak besar. Sementara itu biaya ke rumah sakit setiap kali diimunisasi dan membeli obat mencapai Rp 1.500.000,-. Selain itu, sampai sekarang Ibu Dedeh beserta suami dan dua orang anaknya masih tinggal di rumah orang tuanya. Bahkan ayahnya Ibu Dedeh pun sudah sepuh dan sering sakit. Kesedihan Ibu Dedeh semakin bertambah ketika pada September 2017, dari hasil pemeriksaan terakhir, penyakit cancer serviks Ibu Dedeh sudah dinyatakan stadium 2. Oleh karena itu ia memerlukan biaya agar rutin ke rumah sakit untuk memeriksakan dan mengobati penyakitnya. Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit tentu saja keadaan itu semakin membuat Ibu Dedeh semakin sedih dan seluruh keluarganya merasa susah. Syukur Alhamdulillah kurir Sedekah Rombongan dapat dipertemukan dengan Ibu Dedeh melalui bantuan temannya. Dalam kunjungannya ke rumah Ibu Dedeh dan keluarganya Kurir Sedekah Rombongan semakin mengetahui dan merasakan kecemasan serta kesusahan keluarganya. Alhamdulillah, pada kunjungan itu kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan uang dari para dermawan yang berempati terhadap penderitaan Ibu Dedeh. Titipan dari sedekaholik #SR itu akan digunakan untuk membantu meringankan sebagian beban hidupnya, yang akan digunakan untuk biaya transportasi berobat ke rumah sakit. Pada November 2017 Ibu Dedeh mengabarkan bahwa bantuan sudah digunakan untuk kontrol dan berobat/disuntik vaksin. Sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada para dermawan, ia juga menyampaikan permohonannya bahwa ia masih memerlukan bantuan untuk dapat berobat rutin dan mendapat suntikan vaksin. Pada kunjungan kedua kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan titipan langit, bantuan uang untuk membantu ikhtiar berobatnya. Mudah-mudahan bantuan ini dapat memberinya harapan dan semangat kepada Ibu Dedeh agar dapat terus berjuang untuk kesembuhannya. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1067

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 27 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @esumiati1

Bu Dedeh menderita kanker servic


IYUK RUKMANA (45, Diabetes Mellitus). Alamat: Kampung Ciloa RT 3/11, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Bersama istri dan kedua anaknya, kini, lelaki yang akrab dipanggil Eruk di kampungnya ini tinggal menumpang di rumah orang tuanya. Rumah yang pernah ia bangun dari hasil keringatnya telah terjual dan uangnya habis digunakan untuk biaya berobat. Pak Eruk tak bisa lagi berdagang keliling sejak ia sakit. Istrinya, Ratmini (39), yang menggantikan posisinya mencari rezeki dengan membuka warung. Pada akhir tahun 2014 bapak dua anak ini mendapatkan musibah: ia menderita kencing manis. Tanpa jaminan kesehatan apa pun, keluarga kemudian memeriksakan Pak Eruk ke dokter praktek dan rumah sakit. Berbulan-bulan lamanya ia keluar-masuk rumah sakit; bahkan sempat beberapa hari ia dirawat untuk mengupayakan kesembuhannya. Akhirnya, tim medis RSUD Soreang memutuskan untuk mengamputasi telapak kaki kirinya. Hampir setahun ia berjalan merangkak. Selama itu pula ia berharap bisa memiliki tongkat. Tetapi, jangankan untuk membeli tongkat, untuk biaya hidup sehari-hari dan kontrol pun ia harus meminjam uang. Kisah duka Pak Rukmana akhirnya sampai kepada Sedekah Rombongan (#SR) atas informasi dari pengurus Karang Taruna Desa Panyocokan. Alhamdulillah kurir #SR dapat bersilaturahmi dengan Pak Eruk dan keluarganya, menyampaikan Tanda Cinta Dhu’afa dari sedekaholics #SR kepadanya, dan menjadikannya pasien dampingan. Walau penanganan luka di kakinya memerlukan waktu lama, secara psikis, ia nampak tegar. Karena Pak Eruk masih harus terus berobat, untuk yang kedua kalinya sedekaholics #SR memberinya santunan yang ia terima di tempat tinggalnya. Pada awal April 2016, keluarganya mengabarkan bahwa Pak Eruk kehabisan obat dan harus kontrol ke Puskesmas. Saat dikunjungi, tercium luka di kaki kirinya mengeluarkan bau, juga tampak bernanah. Dia masih memerlukan bantuan para dermawan untuk mengobati luka bekas amputasi. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, pada April 2016 kembali kurir #SR di Bandung dapat menyampaikan bantuan yang dia terima di rumahnya. Pada pertengahan Oktober 2016 dia memberitahukan bahwa persediaan obat telah habis dan dia masih harus berobat. Kurir #SR kemudian menemui Pak Iyuk di rumahnya sambil menyampaikan bantuan lanjutan. Pada pertengahan Februari 2017 Pak Eruk menghubungi kurir Sedekah Rombongan, mengabarkan bahwa dia masih harus berobat. Bersyukur ia mendapatkan bantuan lagi dari para dermawan. Pada Mei 2017, kurir #SR kembali menjenguk Pak Eruk di rumah biliknya dan menyampaikan bantuan. Pada November 2017 istrinya mengabarkan bahwa Pak Eruk mengalami kecelakaan saat dibonceng. Kakinya mengalami pendarahan hebat. Ia masih harus terus berobat dan membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholik, kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan lanjutan untuk Pak Iyuk Rukmana. Ia begitu gembira menerima bantuan ini, apalagi kini ia sudah memiliki Jamkesmas untuk melanjutkan ikhtiar berobatnya. Bantuan ini digunakan untuk biaya membeli obat, transportasi-akomodasi kontrol, dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 997.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 21 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Pak Iyuk menderita kencing manis


NINING SITI NURJANAH (49, Ca Mammae). Alamat : Kampung Sukamaju RT 7/1, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Ibu Nining –begitu panggilannya—diduga mengidap kanker payudara sejak tiga bulan yang lalu. Awalnya, ia melihat ada semacam bercak memerah dan benjolan kecil di sekitar payudaranya. Seiring waktu ia juga kera merasakan gejala-gejala lain, seperti nyeri tulang dan persendian, mual, dan kehilangan nafsu makan. Dari hari ke hari berat badannya mengalami penurunan. Ia juga keramerasakan sakit kepala hebat yang tidak lekas sembuh. Berbagai upaya dilakukan anak-anaknya untuk menyembuhakan penyakit yang dialami janda mendiang Pak Aang Sumarna, baik secara tradisional alternatif maupun medis. Tak terhitung berapa kali ia diperiksakan ke dokter prtaktek dengan biaya sendiri dan bantuan dari anak-anaknya. Ia juga bolak-balik keluar-masuk Puskesmas dan rumah sakit di daerah tanpa menggunakan jaminan kesehatan apa pun. Karena terkendala biaya, pengobatannya kerap tertunda adahal ia sangat bersemangat untuk terus berobat ke RSHS Bandung seperti yang dirujuk RSUD Cipanas. Harapannya akhirnya terjawab ketika ada perangkat desa yang memberi bantuan untuk membuatkan Kartu JKSN KIS Mandiri Kelas 3. Pak Agung, perangkat desa itu, pula yang mengabarkan derita hidup yang dialami Bu Nining kepada kurir Sedekah Rombongan di Bandung, “Ibu Nining layak dibantu, Kang. Setelah suaminya meninggal dunia, kehidupannya semakin menurun apalagi setelah ia sakit. Kini ia tinggal di rumah anaknya. Diantar salah satu anaknya dan Pak Agung, akhirnya Bu Nining berangkat ke RSHS Bandung setelah jaminan dari BPJS selesai diproses. Ia tinggal di RSSR Bandung sejak awal Januari 2017. Setelah mendapatkan pemeriksaan rutin di RSHS, para medis memutuskan bahwa Ibu Nining harus menjalani 6 kali kemoterapi. Sampai awal Mei 2017 ia sudah mendapatkan empat kali teraipi kemo. Ia akhirnya bisa menyelesaikan keenam kali terapi kemonya dengan lancar sampai pertengahan Juni 2017. Selesai beristirahat di rumah, pada minggu kedua Juli 2017, Bu Nining datang lagi ke RSRR Bandung untuk kontrol, menjalani pemeriksaan setelah ia menuntaskan kemotrapinya. Alhamdulillah perkembangan janda dhuafa ini menggembirakan, baik secara psikis maupun medis. Beberapa bulan ia hanya kontrol di RSUD. Karena kondisinya menurun, pada akhir Oktober 2017 ia datang lagi ke RSHS didampingi anaknya. Ibu Nining masih harus berikhtiar dan membutuhkan bantuan. Dengan empati sedekaholic, alhamdulillah, Sedekah Rombongan kembali memberi Ibu Nining Siti Nurjanah bantuan lanjutan. Bantun ke-5 yang dia terima di RSSR Bandung ini digunakan untuk membayar Iuran BPJS Mandiri Kelas 3 dan biaya transport-akomodasi berobat. Semoga keluarga dhuafa ini diberi ketabahan dalam ikhtiarnya dan dianugerahi kesembuhan. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1033.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 31 Oktober 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Bu Nining mengidap kanker payudara


MAMAT RACHMAT (66, TB Limfadenitis /TBC Kelenjar Getah Bening). Alamat: Jalan Sari Endah Dalam V, RT 7/12, Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung – Provinsi Jawa Barat. Delapan bulan yang lalu, Pak Mamat menderita sakit dan setelah berobat ke klinik terdekat ia dirujuk RSUD Kota Bandung. Dari RSUD ia kembali ke RSHS Bandung. Dari pemeriksaan di RSHS Pak Mamat dinyatakan mengidap penyakit TB Limfadenitis. Sejak itu Pak Mamat diharuskan menjalani rawat jalan setiap bulan ke RSHS. Akan tetapi, benjolan di lehernya setiap hari semakin membesar sehingga Pak Mamat sulit beraktivitas, bahkan untuk menelan makanan pun ia kesakitan. Karena kondisinya semakin memburuk, pada 22 November Pak Mamat dibawa ke RSHS dan masuk ke IGD. Beberapa hari Pak Mamat tidak mau makan, dan ketika dipasang NGT pun, makanan tidak bisa masuk karena terhalang benjolan di tenggorokannya. Setelah mendapat penanganan medis dari RSHS itu pun Pak Mamat kembali dirujuk ke RSP Rotinsulu. Penderitaan dan kesusahan Pak Mamat beserta keluarganya ini sampai kepada kurir Sedekah Rombongan (#SR) melalui Pak Asep dan relawan di Kecamatan Kiaracondong. Beruntung kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung ke rumah keluarga dhuafa itu dan melihat kondisinya. Pak Mamat dan keluarganya tinggal di rumah bersama ketiga anak-menantu dan cucunya. Rumahnya dibangun di atas tanah Dinas PU, di atas jalur sungai. Ketika sehat dulu Pak Mamat bekerja sebagai penjahit,tetapi karena usahanya semakin sepi, ia pun bekerja mencari nafkah sebagai tukang becak. Ketika Pak Mamat mulai menderita sakit ia pun tidak bisa lagi bekerja, bahkan anak-menantu yang membantunya sudah kehabisan modal dagang kerupuk karena dipakai biaya berobat Pak Mamat. Pak Mamat adalah dhuafa sakit yag sangat membutuhkan bantuan para dermawan dan layak menjadi pasien dampingan Sedekah Rombongan. Selain membutuhkan biaya untuk perawatan dan obat sehari-hari (Pampers, NaCL, perban, plester, dll). Pak Mamat dan keluarganya sangat membutuhkan bantuan biaya untuk transportasi dan bekal agar Pak Mamat dapat berobat dan dirawat di Rumah Sakit. Syukur Alhamdulillah, pada 2 Desember 2017 kuri Sedekah Rombongan dapat kembali mengunjungi Pak Mamat, yang saat itu sudah dirawat di RSP Rotinsulu berkat bantuan masyarakat dan relawan di daerah setempat. Pada kunjungan itu kurir Sedekah Rombongan meyampaikan bantuan awal, titipan dari para sedekaholik #SR yang beremati terhadap penderitaan Pak Mamat dan keluarganya. Bantuan uang tersebut akan digunakan sebagai biaya transportasi dan bekal sehari-hari untuk keperluan Pak Mamat selama menjalani perawatan di Rumah Sakit. Ucapan terima kasih disampaikan keluarga dan relawan yang telah membantunya kepada para sedekaholik #SR yang telah membantunya. Semoga bantuan para dermawan ini telah meringankan beban hidup keluarga Pak Mamat dan dapat menjadi jalan bagi kesembuhan Pak Mamat.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @dzim_dzim

Pak Mamat dinyatakan mengidap penyakit TB Limfadenitis


OOM BINTI NANANG (58, Tumor Mata). Alamat: Kampung Parung Bitung RT 2/3, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur – Provinsi Jawa Barat. Pada awal tahun 2015 gejala tumor mata Ibu Oom hanya dianggap penyakit mata biasa. Bu Oom tidak merasa khawatir ketika di sekitar mata kirinya ada benjolan kecil dan terasa gatal. Bu Oom membiarkan rasa gatal dan benjolan kecil itu hilang dengan sendirinya karena untuk pergi ke dokter atau berobat ia dan suaminya tidak memiliki uang. Akan tetapi, beberapa minggu kemudian benjolan dan rasa gatal di sekitar matanya itu kambuh lagi. Bahkan menurutnya, karena sangat gatal ia merasa tidak kuat karena tersiksa. Selain itu benjolan yang awalnya kecil itu pun semakin membesar. Karena khawatir dengan kondisi itu suaminya Ibu Oom, yaitu Pak Maman Darwis (66), meminjam uang kepada saudaranya untuk memeriksa dan mengobati Ibu Oom ke Puskesmas terdekat. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan di Puskesmas, dokter merujuknya ke RSUD Cianjur. Hasil pemeriksaan dokter di RSUD Cianjur Ibu Oom dinyatakan menderita tumor mata, dan Ibu Oom dirujuk ke RSHS Bandung untuk melanjutkan pengobatannya. Sungguh sedih dan bingung dirasakan oleh Ibu Oom dan suaminya, sebab untuk berangkat ke RSHS Bandung mereka tidak memiliki biaya untuk ongkos dan keperluan lainnya. Dalam keadaan bingung Ibu Oom dan suaminya menunggu bantuan dengan sabar, dan Ibu Oom harus terus bertahan dalam keadaan matanya sering terasa sakit dan mengeluarkan cairan. Pak Maman hanyalah seorang buruh tani yang pendapatannya sangat kecil dan sudah jarang bekerja. Kedua anaknya sudah menikah dan sudah sudah tinggal terpisah serta kehidupannya pun sangat sederhana sehingga tak bisa banyak membantu. Kisah duka dan kesusahan kedua orang tua dhuafa sampai kepada Sedekah Rombongan melalui Ibu Imas, ia adalah seorang pekerja sosial di Kecamatn Ciaranjang Kabupaten Cianjur. Beruntung sekali kurir Sedekah Rombongan dapat berkunjung dan bersilaturahmi dengan Ibu Oom dan suaminya. Syukur Alhamdulillah, atas bantuan relawan di daerah dan Sedekah Rombongan Ibu Oom bisa berangkat untuk berobat ke RSHS Bandung. Selama menjalani berobat jalan di RSHS Bandung Ibu Oom dan suaminya menginap dan akan tinggal di Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Bandung. Di RSSR Bandung Sedekah Rombongan pun memberikan bantuan uang dari para sedekaholik yang berempati atas penderitaan Ibu Imas. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk bekal dan membeli obat resep dokter yang harus dibeli di apotek. Mudah-mudahan bantuan para dermawan ini telah meringankan beban hidup Ibu Oom dan suaminya, serta menjadi pembuka jalan bagi kesembuhannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.00,-
Tanggal : 30 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @agungtrikurnia7 @alwiejozz Ikeu Susilawati

Bu Oom dinyatakan menderita tumor mata


MTSR BOGOR (B 1681 SIF, Pembelian Keranda Jenazah). Pada akhir pekan awal Februari 2016, Sedekah Rombongan dihubungi oleh salah seorang pengusaha di Jakarta, Pengusaha yang selama ini rutin memantau pergerakan #SR. Pengusaha ini menghubungi #SR mengabarkan niatnya memberikan mobil yang diperuntukan untuk ambulance. Beliau selama ini memonitor pergerakan #SR serta menjadi salah satu #Sedekaholics yang rutin menyalurkan bantuannya lewat SR. Sebuah Nissan Evalia ber Plat Nomer B 1481 SIF baru langsung kami jemput di rumah beliau di kawasan selatan Jakarta, diberikan langsung pada kami oleh puterinya. Mobil ini selanjutnya akan kami pergunakan untuk MTSR wilayah Bogor yang berfungsi untuk mengantar jemput para dhuafa berobat dalam dampingan #SedekahRombongan. tentunya dengan mobilitas MTSR di wilayah Kabupaten dan Kota Bogor terutama dalam mengantarkan jenazah pasien – pasien dampingan #SR Bogor, Kebutuhan untuk memiliki keranda Jenazah sangat dibutuhkan supaya mobilitas MTSR untuk mengantar jenazah pasien SedekahRombongan di wilayah kabupaten dan kota Bogor bisa optimal. Pembelian Inventaris kali ini digunakan membeli Keranda Jenazah serta peralatan pendukungnya. Semoga dengan hadir nya MTSR di Wilayah Bogor akan mempermudah pasien untuk berobat kerumah sakit. Operasional MTSR ini sebelumnya masuk di Rombongan 1067.

Jumlah Bantuan : Rp. 4.000.000,-
Tanggal : 3 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @omguguh @abbah_acit @rexy_eas

Pembelian keranda jenazah


MTSR BOGOR (B 1681 SIF, Biaya Operasional Mei, Juni, Juli, Agustus, September 2017). Pada akhir pekan awal Februari 2016, #SedekahRombongan dihubungi oleh salah seorang pengusaha di Jakarta, Pengusaha yang selama ini rutin memantau pergerakan #SR. Pengusaha ini menghubungi #SR mengabarkan niatnya memberikan mobil yang diperuntukan untuk ambulance. Beliau selama ini memonitor pergerakan #SR serta menjadi salah satu #Sedekaholics yang rutin menyalurkan bantuannya lewat SR. Sebuah Nissan Evalia ber Plat Nomer B 1481 SIF baru langsung kami jemput di rumah beliau di kawasan selatan Jakarta, diberikan langsung pada kami oleh puterinya. Mobil ini selanjutnya akan kami pergunakan untuk MTSR wilayah Bogor yang berfungsi untuk mengantar jemput para dhuafa berobat dalam dampingan #SedekahRombongan. tentunya dengan mobilitas MTSR di wilayah kabupaten dan kota bogor, Kebutuhan untuk bensin, Tol dan biaya operasional lainnya pun dibutuhkan supaya mobilitas MTSR untuk mengantar jemput pasien – pasien #SedekahRombongan di wilayah kabupaten dan kota Bogor bisa optimal. Biaya Operasional kali ini digunakan membeli BBM, Tol, Parkir dan Operasional MTSR Lainnya. Semoga dengan hadir nya MTSR di Wilayah Bogor akan mempermudah pasien untuk berobat kerumah sakit. Operasional MTSR ini sebelumnya masuk di Rombongan 1067.

Jumlah Bantuan : Rp. 2.750.000,-
Tanggal : 3 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @omguguh @abbah_acit @rexy_eas

Biaya Operasional Mei, Juni, Juli, Agustus, September 2017


MUHAMMAD ROHMAT (22, Tumor Leher). Alamat : Sindang Barang Selakopi, RT 1/3, Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat. Mamat biasa ia dipanggil sejak setahun belakangan baru mengetahui kalau ada benjolan sebesar kelereng di lehernya. Awalnya karena benjolan tersebut tidak menggangu aktivitasnya, Mamat menghirukan benjolan tersebut hingga pada akhirnya benjolan tersebut terus membesar hingga sebesar kepalan tangan orang dewasa dan menyebabkan leher Mamat sering tegang dan merasakan sakit di benjolan tersebut. Karena khawatir akan kondisinya, Mamat memberanikan diri memeriksakan kondisi kesehatannya ke Puskesmas yang selanjutnya dirujuk ke RSUD Kota Bogor. RSUD Kota Bogor menyebut kalau Mamat harus segera di Operasi untuk mengangkat tumor yang ada dilehernya agar tidak menyebar ke bagian lainnya. Tapi kendala yang dihadapi oleh Mamat adalah BPJS mandiri kelas 3 yang ia miliki sudah beberapa bulan menunggak dan ia sesuai peraturan BPJS yang baru menyebut harus membayar denda yang berjumlah sebagian dari total biaya operasi dan perawatan selama di Rumah Sakit. Mamat yang seorang yatim piatu tersebut merasa kebingungan karena tidak memiliki biaya untuk membayar denda yang dikenakan karena pekerjaan sehari – harinya hanya sebagai buruh serabutan. Kadang untuk makan pun ia harus menumpang dirumah sanak saudaranya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Mendengar cerita tentang kondisi Mamat, Kurir Sedekah Rombongan langsung menuju RSUD Kota Bogor untuk melihat kondisi Rahmat, Ia bercerita ingin sekali sembuh agar bisa kembali bekerja untuk menghidupi dirinya. Bantuan Awalpun disampaikan untuk Rahmat yang akan digunakan untuk membayar tagihan Denda Rumah sakit dan untuk membayar tunggakan BPJS kesehatan yang dimiliki agar ia dapat terus melanjutkan pengobatannya sampai sembuh, Semoga Allah Subhanahu Waa Ta’ala segera mengangkat penyakit yang dirasakan Rahmat. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 4 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @Omguguh @tutikaendo @rexy_eas

Mamat menderita tumor leher


RIDWAN BIN SABUR (30, Gangguan Jiwa). Alamat : Dusun Puhun, RT 15/5, Desa Cipasung, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Bapak Ridwan adalah seorang pasien gangguan jiwa yang kondisinya sering tidak stabil. Ketika kambuh, beliau sering merusak perabotan rumah tangga hingga memecahkan kaca jendela tetangga. Beliau mengalami gangguan jiwa sejak berumur 17 tahun. Dengan keadaan yang sangat memprihatinkan seperti itu, kedua orang tua beliau berikhtiar dengan membawanya berobat ke berbagai rumah sakit. Awalnya, beliau diperiksa di Puskesmas Darma dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 45 Kuningan. Kemudian dirujuk lagi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua. Beliau menjalani perawatan di RSJ Cisarua sebanyak dua kali, selama tiga minggu dan empat minggu. Sedangkan, di RSHS menjalani perawatan selama satu minggu. Hingga saat ini beliau terus menjalani kontrol ke RSJ Cisarua. Setiap bulan beliau harus rutin menjalani kontrol, mengingat tidak stabilnya kondisi kejiwaan beliau yang sulit dikendalikan. Ayah beliau, Bapak Sabur, telah meninggal dunia. Saat ini beliau tinggal bersama Ibunya, Ibu Sap’ah yang kesehariannya berdagang dengan penghasilan minimum. Ibu Sap’ah sudah kehabisan biaya untuk berobat anaknya. Terlebih beliau harus rutin membawa anaknya ke Cisarua untuk kontrol. Alhamdulillah, untuk biaya berobat sedikit terbantu dengan adanya jaminan kesehatan jenis JKN-KIS PBI. Namun, biaya transportasi ke Cisarua membuat Ibu Sap’ah kebingungan. Alhamdulillah, Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan dengan Ridwan sehingga santunan awal dapat disampaikan kepada Ridwan untuk biaya transportasi. Semoga Allah memudahkan ikhtiar beliau untuk terus menjalani pengobatan. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 23 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Didi

Ridwan mengalami gangguan jiwa sejak berumur 17 tahun


ARIEF HUSEIN (38, TB Paru). Alamat : Kp. Ceger Gg. Najil Dalam No. 20 RT 4/3, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kotamadya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Tanggal 4 Juni 2017, awalnya Pak Arief positif terjangkit DBD dan dirawat selama 4 hari di RS Hermina Galaxy Bekasi. Setelah keluar dari RS Hermina Galaxy trombositnya normal tetapi HB nya rendah. Dengan kondisi seperti ini Pak Arief tetap bekerja, namun karena kondisi tidak kunjung membaik akhirnya setelah hari raya Idul Fitri 1438 H Pak Arief dirujuk ke RS Ananda Bekasi dengan keadaan HB rendah dan feses berwarna hitam (didiagnosa ada luka di usus). Setelah pengobatan rawat jalan selama seminggu di RS Ananda, Pak Arief dirujuk ke RSCM Jakarta, kemudian masuk IGD selama 2 hari. Setelah itu Pak Arief dirawat selama 2 minggu di ruang isolasi dengan diagnosa TB Luar, peradangan di lambung dan masalah imunitas. Hingga saat ini Pak Arief masih rutin menjalani kontrol ke rumah sakit. Pak Arief memiliki kartu BPJS Kesehatan Mandiri dan masih bisa digunakan. Saat ini mereka sangat kesulitan ekonomi karena Pak Arief sebagai kepala keluarga sudah tidak dapat bekerja lagi. Sedangkan istrinya Bu Marni (21) sedang hamil 7 bulan. Selama menjalani pemeriksaan kontrol rutin ke rumah sakit, Pak Arif harus membeli obat yang tidak tercover BPJS. Alhamdulillah, Kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk pembelian obat. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 1079.

Jumlah Bantuan : Rp. 5.000.000,-
Tanggal : 17 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin Sasa

Pak Arif diagnosa TB Luar


ARIEF HUSEIN (38, TB Paru). Alamat : Kp. Ceger Gg. Najil Dalam No. 20 RT 4/3, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kotamadya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Tanggal 4 Juni 2017, awalnya Pak Arief positif terjangkit DBD dan dirawat selama 4 hari di RS Hermina Galaxy Bekasi. Setelah keluar dari RS Hermina Galaxy trombositnya normal tetapi HB nya rendah. Dengan kondisi seperti ini Pak Arief tetap bekerja, namun karena kondisi tidak kunjung membaik akhirnya setelah hari raya Idul Fitri 1438 H Pak Arief dirujuk ke RS Ananda Bekasi dengan keadaan HB rendah dan feses berwarna hitam (didiagnosa ada luka di usus). Setelah pengobatan rawat jalan selama seminggu di RS Ananda, Pak Arief dirujuk ke RSCM Jakarta, kemudian masuk IGD selama 2 hari. Setelah itu Pak Arief dirawat selama 2 minggu di ruang isolasi dengan diagnosa TB Luar, peradangan di lambung dan masalah imunitas. Hingga saat ini Pak Arief masih rutin menjalani kontrol ke rumah sakit. Pak Arief memiliki kartu BPJS Kesehatan Mandiri dan masih bisa digunakan. Saat ini mereka sangat kesulitan ekonomi karena Pak Arief sebagai kepala keluarga sudah tidak dapat bekerja lagi. Sedangkan istrinya Bu Marni (21) sedang hamil 7 bulan. Selama menjalani pemeriksaan kontrol rutin ke rumah sakit, Pak Arif harus membeli obat yang tidak tercover BPJS. Alhamdulillah, Kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk pembelian obat. Bantuan sebelumnya masuk di Rombongan 1079.

Jumlah Bantuan : Rp. 5.000.000,-
Tanggal : 1 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin Sasa

Pak Arif diagnosa TB Luar


MARFUAH BINTI MADINA (38, Kanker Kulit). Alamat : Blok Kauman Lor, RT 5/2, Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Berawal dari rasa perih di kulit bagian tangan, lalu menyebar ke bagian tubuh lain hingga sekujur tubuhnya, Marfuah -yang akrab dipanggil Puah- akhirnya memeriksakan diri ke Puskesmas Karangsari yang merupakan puskesmas rujukan di wilayah Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon. Seluruh kulit tubuhnya mengeras dan hitam, lalu mengelupas sedikit demi sedikit. Perih pada permukaan kulitnya kian terasa ketika terpapar sinar matahari langsung. Setelah beberapa kali berobat ke puskesmas, Puah mencoba berobat ke Poliklinik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungjati Kota Cirebon. Dari hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosa Puah terkena kanker kulit. Setelah beberapa kali pemeriksaan dokter mendiagnosa Puah terkena scleroderma yaitu penyakit autoimun dengan gejala utama berupa pengerasan dan penebalan kulit. Area yang sering terkena adalah wajah, tangan, dan kaki. Organ-organ di dalam tubuh, seperti sistem pernapasan dan pencernaan, juga dapat terkena. Karena keterbatasan fasilitas, Puah dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah mencoba berkonsultasi dengan dokter lain di Rumah Sakit Mitra Plumbon. Puah adalah istri dari Abdul Hamid (39) yang bekerja sebagai buruh bangunan. Bersama ketiga anaknya dia hidup dalam rumah sederhana. Penghasilan suami yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, membuatnya kesulitan untuk berobat karena walaupun biaya pengobatan sudah ditanggung BPJS PBI Kelas III namun tetap dibutuhkan biaya transportasi selama berobat. Kurir Sedekah Rombongan yang bersilaturahmi ke kediamannya merasa prihatin dan mencoba memahami kebutuhan untuk biaya berobat tersebut. Sedekah Rombongan mendampingi Puah selama berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Saat ini sudah dua kali pemeriksaan dan masih menungggu jadwal selanjutnya. Bantuan dari para sedekaholicspun kembali diberikan kepada Puah untuk memudahkan berobat selama beberapa waktu ke depan. Bantuan sebelum ini termasuk dalam Rombongan 1084. Semoga kesembuhan yang terbaik segera Allah berikan kepada Puah, agar bisa kembali normal seperti biasa.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 5 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @myusela @ochep_priyatno @nurmuhamadiskandar @asiihlestari

Bu Puah terkena kanker kulit


SULAMI BINTI MAEDI (49, Myoma Intra Abdomen). Alamat : Blok Plaksan, RT 2/6, Desa Kalibaru, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Perutnya membesar, kakinya bengkak dan hanya bisa duduk di pinggir tempat tidur. Bahkan untuk tidurpun hanya bisa sambil duduk. Begitulah keadaan Ibu Sulami dengan myoma intra abdomen yang dideritanya. Sakitnya berawal sekira dua tahun lalu, dengan merasa ada benjolan kecil dan mengeras di bagian perut, bekas operasi sesar ketika melahirkan putra pertamanya delapan tahun lalu. Kian lama, perut Ibu Sulami terasa keras dan membesar. Namun hal ini tidak dirasa, bahkan Ibu Sulami tetap bekerja sebagai buruh batik. Setahun berlalu, perut ibu Sulami kian membesar dan mulai terasa tidak nyaman. Akhirnya diperiksakanlah sakitnya tersebut ke puskesmas, dan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun Kabupaten Cirebon yang kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Plumbon Cirebon. Dari hasil pemeriksaan, Ibu Sulami didiagnosa terkena myoma intra abdomen. Pengobatanpun dilanjutkan dengan pemeriksaan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Selama hampir enam bulan melakukan pemeriksaan, tubuh Ibu Sulami semakin kurus dan perutnya yang terus membesar. Keputusasaan sempat hinggap di benaknya, dan tidak lagi melanjutkan berobat ke Bandung karena tidak sanggup perjalanan jauh dan sering sesak nafas. Ikhtiar berobatpun dilanjutkan terus dengan pengobatan herbal. Namun, karena perkembangan yang tidak signifikan, pada hari Senin (11/7) kurir Sedekah Rombongan mencoba mencari informasi tentang kemungkinan Ibu Sulami bisa diberi tindakan medis pada beberapa rumah sakit. Akhirnya ada salah satu rumah sakit yang bersedia menangani Ibu Sulami. Pilihan ini akhirnya diambil mengingat keadaan Ibu Sulami semakin mengkhawatirkan. Tindakan medis langsung dilakukan dengan mengeluarkan cairan yang ada dalam perut Ibu Sulami. Sekitar tiga puluh liter cairan berhasil dikeluarkan dan perut Ibu Sulami akhirnya mengendur. Sehari kemudian dilakukan operasi untuk mengeluarkan massa yang ada di dalam perutnya. Saat ini Ibu Sulami sudah menjalani proses pengeluaran cairan sebanyak dua kali dan terus mengkonsumsi suplemen makanan untuk mempertahankan kondisi kesehatannya. Ibu Sulami adalah istri dari Bapak Anta (55), yang tinggal dalam rumah pra sejahtera dengan keadaan sederhana bersama anak tunggalnya, Khaerudin. Bapak Anta hanyalah seorang buruh batik dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Selama pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah dan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung serta pengobatan herbal, Ibu Sulami didampingi oleh Sedekah Rombongan. Bantuan sebelumnya telah disampaikan kepada Ibu Sulami dan termasuk dalam Rombongan 1084. Semoga Allah segera mengangkat sakit Ibu Sulami dan memberikan kesehatan yang sempurna serta menguatkan niat kita dan sedekaholics dalam pengkhidmatan kepada dhuafa. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 5.000.000,-
Tanggal : 25 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @myusela @ochep_priyatno @nurmuhammadiskandar @aulia

Ibu Sulami menderita myoma intra abdomen


RSSR BANDUNG (Sembako dan Obat-obatan). Alamat: Jl. H. Yasin No. 56 RT 2/2, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung atau biasa disebut RSSR Bandung merupakan rumah singgah yang dikelola oleh Sedekah Rombongan Bandung sejak tahun 2013. Sejak tahun itu, RSSR Bandung telah menjadi rumah singgah bagi saudara kita, yaitu para dhuafa sakit dari berbagai daerah yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di bulan November 2017, RSSR Bandung menjadi tempat singgah sementara bagi kurang lebih 24 pasien beserta pendampingnya. Selain itu, pasien juga difasilitasi tempat tidur untuk beristirahat, dapur lengkap beserta persediaan makanan, dua toilet, musala dan satu sepeda motor untuk alat transportasi bersama. Selain tempat singgah sementara bagi para pasien dhuafa, RSSR juga berfungsi sebagai sarana koordinasi bagi para kurir/ relawan, sarana promosi dan ladang amal bagi sedekaholics yang tergerak hatinya untuk bersedekah secara langsung. Alhamdulillah berkat peranan sedekaholics, sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang, RSSR Bandung dapat menyediakan sembako untuk makan sehari-hari para pasien dan pendamping pasien, juga memenuhi kebutuhan RSSR lainnya, seperti obat-obatan. Semoga semua bantuan dari sedekaholics yang dipergunakan untuk kebutuhan pasien dampingan di RSSR Bandung ini menjadi ladang pahala dan membawa berkah kesembuhan bagi saudara kita para dhuafa sakit. Bantuan RSSR Bandung sebelumnya sudah masuk dalam Rombongan 1079.

Jumlah Bantuan: Rp. 8.374.450 ,-
Tanggal: 8 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @lisdamojang

Bantuan sembako dan obat-obatan


RSSR BANDUNG (Biaya Operasional). Alamat : Jl. H. Yasin No. 56 RT 2/2, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung atau biasa disebut RSSR Bandung merupakan rumah singgah yang dikelola oleh Sedekah Rombongan Bandung sejak tahun 2013. Sejak tahun itu, RSSR Bandung telah menjadi rumah singgah bagi saudara kita, yaitu para dhuafa sakit dari berbagai daerah yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di bulan November 2017, RSSR Bandung menjadi tempat singgah sementara bagi kurang lebih 24 pasien beserta pendampingnya. Selain itu, pasien juga difasilitasi tempat tidur untuk beristirahat, dapur lengkap beserta persediaan makanan, dua toilet, musala dan satu sepeda motor untuk alat transportasi bersama. Selain tempat singgah sementara bagi para pasien dhuafa, RSSR juga berfungsi sebagai sarana koordinasi bagi para kurir/ relawan, sarana promosi dan ladang amal bagi sedekaholics yang tergerak hatinya untuk bersedekah secara langsung. Alhamdulillah berkat peranan sedekaholics, sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang, kebutuhan operasional RSSR di antaranya: Bahan Bakar Minyak (BBM) motor, retribusi (parkir, sampah & iuran RT), fotocopy berkas, jasa pengiriman STNK MTSR BR 2 dan perbaikan rumah singgah. bisa terpenuhi. Semoga semua bantuan dari para sedekaholics yang dipergunakan untuk operasional RSSR Bandung ini menjadi ladang pahala dan membawa berkah kesembuhan bagi saudara kita para dhuafa sakit yang merupakan pasien dampingan Sedekah Rombongan. Bantuan RSSR Bandung sebelumnya sudah masuk dalam Rombongan 1079.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.726.641,-
Tanggal: 8 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @lisdamojang

Biaya operasional


RSSR BANDUNG (Inventaris). Alamat : Jl. H. Yasin No. 56 RT 2/2, Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Rumah Singgah Sedekah Rombongan Bandung atau biasa disebut RSSR Bandung merupakan rumah singgah yang dikelola oleh Sedekah Rombongan Bandung sejak tahun 2013. Sejak tahun itu, RSSR Bandung telah menjadi rumah singgah bagi saudara kita, yaitu para dhuafa sakit dari berbagai daerah yang sedang melakukan pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di bulan November 2017, RSSR Bandung menjadi tempat singgah sementara bagi kurang lebih 24 pasien beserta pendampingnya. Selain itu, pasien juga difasilitasi tempat tidur untuk beristirahat, dapur lengkap beserta persediaan makanan, dua toilet, musala dan satu sepeda motor untuk alat transportasi bersama. Selain tempat singgah sementara bagi para pasien dhuafa, RSSR juga berfungsi sebagai sarana koordinasi bagi para kurir/ relawan, sarana promosi dan ladang amal bagi sedekaholics yang tergerak hatinya untuk bersedekah secara langsung. Alhamdulillah berkat peranan sedekaholics, sejak tahun 2013 sampai dengan sekarang, kebutuhan inventaris RSSR di antaranya: lampu, peralatan dapur dan gorden bisa terpenuhi. Semoga semua bantuan dari para sedekaholics yang dipergunakan untuk operasional RSSR Bandung ini menjadi ladang pahala dan membawa berkah kesembuhan bagi saudara kita para dhuafa sakit yang merupakan pasien dampingan Sedekah Rombongan.

Jumlah Bantuan : Rp. 322.000,-
Tanggal : 8 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @lisdamojang

Biaya kebutuhan inventaris RSSR


UCI SANUSI (44, Susp. Tumor di Pundak). Alamat : Kp. Babakan, RT 28/8, Desa Darangdan, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Mang Uci, akrab kami memanggil penjual aromanis keliling ini. Ya, ia mencari nafkah dengan berjualan aromanis dari desa ke desa dan dari sekolah ke sekolah, pekerjaannya tersebut sudah ia geluti sejak beberapa puluh tahun lalu. Pada awal 2017 kemarin, Mang Uci merasakan pegal di bagian pundaknya, hal tersebut tentunya diianggap hal biasa karena memang setiap harinya ia harus membawa mesin pembuat aromanis di pundaknya. Namun semakin lama, timbul benjolan di area pundak tersebut, dengan disertai pegal yang sangat. Ia pun kemudian memeriksakan diri ke Puskesmas dan didiagnosa mengalami tumor, ia dirujuk ke RSUD untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Dengan keadaannya tersebut, membuat Mang Uci tidak bisa maksimal dalam mencari nafkah untuk istri dan anaknya, selain itu ia pun membutuhkan biaya untuk akomodasi ke RSUD. Alhamdulillah dengan ijin Allah, kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Mang Uci dan keluarga, kami menyampaikan titipan bantuan dari Sedekaholics untuk biaya akomodasi pengobatan Mang Uci. Insyaallah jika tidak ada halangan, Mang Uci akan melaksanakan proses pengangkatan tumor pada hari selasa tanggal 12 Desember 2017.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal

Pak Uci didiagnosa mengalami tumor pundak


MUHAMMAD RAFLI (10, Leukimia). Alamat : Gg. Bronjong, RT 24/8, Desa Maracang, Kecamatan Maracang, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Dek Rafli merupakan pasien dampingan gerakan Sedekah Rombongan. Sejak menginjak umur 6 tahun, ia mengalami demam disertai dengan muntah, mencret dan nyeri diseluruh persendiannya, kemudian ia dibawa ke Puskesmas setempat oleh kedua orangtuanya. Tim medis di Puskesmas tersebut menyarankan Dek Rafli untuk menjalani tes darah di RSUD Bayu Asih Purwakarta, ia pun kemudian dibawa ke RSUD tersebut. Hasil laboratorium menyatakan bahwa Dek Rafli didiagnosa mengidap penyakit Leukimia, semenjak itu setiap bulannya Dek Rafli harus menjalani pemeriksaan secara rutin ke RSHS Bandung. Selama 2 tahun ini kedua orangtuanya tidak pernah berhenti berjuang untuk ikhtiar pengobatan anaknya agar bisa sembuh kembali, hingga keduanya rela meminjam uang kepada tetangganya. Ayahnya yakni Rogis (36) adalah seorang pengumpul rongsokan yang memiliki penghasilan yang sangat minim, selain membiayai kehidupan keluarganya sehari-hari dan membiayai pengobatan Rafli, ayahnya pun harus membayar kontrakan tempat mereka tinggal setiap bulannya. Kedua orangtuanya amat sangat membutuhkan uluran bantuan dari para donator untuk membantu membiayai pengobatan Rafli. Bersyukur kurir #SedekahRombongan dipertemukan dengan keluarga Dek Rafli, kami diberi titipan oleh sedekaholics untuk menyampaikan bantuan kepada Dek Rafli. Bantuan tersebut digunakan Dek Rafli untuk biaya akomodasi ke RSHS Bandung juga biaya pembelian obat yang tidak tercover BPJS. Pada tanggal 8 Desember 2016, saat kami menyambangi rumahnya, kami lihat Dek Rafli semakin kurus dan sangat pucat. Mari doakan bersama agar proses pengobatan Dek Rafli berjalan dengan lancar. Adapun laporan bantuan sebelumnya, tercatat pada Rombongan 1051.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 4 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal Abah Lutung

Dek Rafli didiagnosa mengidap penyakit Leukimia


MA’SUM BIN UHAN (80, Penyakit Komplikasi). Alamat : Kp. Coblong, RT 1/1, Desa Palinggihan, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Bah Ma’sum sudah berusia 80 tahun, tubuhnya sudah ringkih dan sering sekali sakit-sakitan. Mulai dari maag akut, gangguan pernafasan, kelainan ginjal, gangguan liver dan lainnya. Namun meski usianya sudah 80 tahun, ia masih memiliki keinginan untuk sembuh. Saat ini ia harus menjalani kontrol pengobatan setiap bulannya karena didignosa mengidap penyakit TB Paru, pasien dengan diagnosa tersebut harus rutin meminum obat dan menjalani kontrol. Bah Ma’sum memiliki keterbatasan biaya untuk akomodasi pulang pergi ke klinik tempat ia berobat. Alhamdulillah dengan ijin Allah kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Bah Ma’sum, kami menyampaikan titipan bantuan dari para Sedekaholics untuk biaya akomodasi Bah Ma’sum menuju klinik.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 4 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_Awwal Kiki Zakiyah

Pak Ma’sum menderita maag akut, gangguan pernafasan, kelainan ginjal, gangguan liver


OOM BINTI MUHDI (57, Maag Akut). Alamat : Kp. Cibeurih, RT 7/4, Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Penyakit maag seringkali dianggap sebagai hal yang biasa, namun ternyata penyakit ini sudah sering memakan korban jiwa. Bu Oom kami memanggilnya, sejak 2015 ia menderita penyakit maag, sudah sering ia menjalani pengobatan dari rumah sakit ke rumah sakit, namun maag tersebut seringkali kambuh. Ia pun pernah menjalani rawat inap di puskesmas Sukatani, dokter yang menanganinya mengharuskan ia menjalani kontrol pengobatan setiap bulannya. Bu Oom memiliki keterbatasan biaya untuk menjalani pengobatan maagnya, Alhamdulillah dengan ijin Allah kami kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Bu Oom. Kami menyampaikan titipan bantuan dari para Sedekaholics untuk biaya pengobatan penyakitnya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 4 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @awwal_ula Kiki Zakiyah

Bu Oom menderita penyakit maag


AMIN HUSEN (55, Gangguan Jiwa dan Stroke). Alamat : Dusun Bunisari, RT 8/4, Desa Bojong Barat, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Pak Amin, akrab kami memanggilnya. Sejak dua tahun lalu ia bercerai dengan istrinya, hal ini yang kemudian menyebabkan kejiwaannya terganggu. Ia pernah menjalani pengobatan alternative, namun hasilnya nihil. Kondisinya diperparah dengan stroke yang menyerang sebagian tubuhnya, ia tidak bisa bergerak dan hanya mampu tertidur saja. Karena terlalu lama tertidur, kini bagian punggung dan bokong pun mengalami lecet yang parah, oleh anaknya hanya diolesi salep seadanya saja. Pak Amin dan anaknya kini tinggal di rumah kontrakan, anaknya tersebut bekerja sebagai guru honorer yang penghasilannya dibawah 200.000 perbulan. Tentunya anaknya tersebut sangat keberatan untuk membiayai pengobatan ayahnya, Alhamdulillah dengan ijin Allah kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Pak Amin dan anaknya, kami pun menyampaikan titipan bantuan dari para sedekaholics untuk biaya pengobatannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 1 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal Sutraeni

Pak Amin menderita gangguan jiwa dan stroke


OGIN MAULANA (11, Typus). Alamat : Kp. Cidahu, RT 3/2, Desa Gunungkarung, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Ogin, kami memanggilnya. Ia duduk di kelas 6 sekolah dasar, memiliki kemampuan motoric yang baik, namun tidak dengan asupan dan keteraturan makanannya. Hal tersebut yang menyebabkan ia dirawat di Rumah Sakit Bayu Asih karena penyakit typus yang menyerangnya. Saat itu Ogin belum memiliki fasilitas kesehatan apapun, sehingga keluarganya dengan segera membuat faskes tersebut. Orangtuanya merupakan pekerja serabutan, kadang memiliki penghasilan kadang tidak. Sedangkan biaya transportasi menuju ke RSUD Bayu Asih membutuhkan biaya yang tak sedikit. Alhamdulillah dengan ijin Allah kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Ogin dan keluarga, kami menyampaikan titipan bantuan dari para Sedekaholics untuk akomodasi dan pembuatan BPJS. Mari doakan bersama agar Ogin disembuhkan.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 7 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal @asepza

Ogin menderita penyakit typus


MUHAMMAD RIZAL (9, Gangguan Neurologis). Alamat : Kp. Cijati, RT 12/1, Desa Cijati, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Dek Rizal, akrab kami memanggilnya. Ketika usianya masih 1 tahun, ia sering sekali mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang, ia pun sering pulang pergi berobat ke Puskesmas. Menginjak pada usia 2 tahun, terlihat Dek Rizal belum juga bisa berjalan dan berbicara, orangtuanya mulai khawatir, Dek Rizal pun dibawa ke Puskesmas setempat dan mendapat rujukan untuk berobat ke RSUD, namun karena kendala biaya, ibunya hanya bisa pasrah saja. Alhamdulillah menginjak umur 5 tahun, ia bisa berdiri tegak dan berjalan, namun tetap belum bisa bicara. Ingin sekali kedua orangtuanya membawa Dek Rizal ke dokter specialist anak atau therapist. Namun lagi-lagi karena kendala biaya, orangtua Rizal pun tidak bisa melakukan apa-apa. Beruntung Allah pertemukan kurir Sedekah Rombongan dengan Dek Rizal dan keluarga. Kami menyampaikan titipan bantuan dari para sedekaholics untuk biaya akomodasi pengobatan Dek Rizal.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 7 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal @asepza_

Rizal mengalami gangguan neurologis


ENDIN BIN SUEB (36, Gangguan Jiwa). Alamat : Kp. Maniis, RT 11/3, Desa Gunungkarung, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Telah lama Mang Endin –kami memanggilnya—mengalami gangguan kejiwaan, hal ini kemungkinan disebabkan karena ada masalah di tengah kehidupan orangtuanya. Semakin lama kondisi Mang Endin semakin tak terkendali, Ayahnya yakni Bapak Su’eb hanya mampu mengobati Mang Endin melalui pengobatan alternative saja. Tak jarang Mang Endin harus dipasung karena sering berbuat ulah kepada tetangga dan anak-anak sekitarnya, namun ketika mulai membaik pasungannya dilepaskan. Saat ini kondisinya kadang sadar sepenuhnya, namun kadang juga meresahkan warga dengan ulahnya. Setelah satu tahun berlalu didampingi oleh Sedekah Rombongan, kini Mang Endin menjalani pengobatan di Rumah Sakit, ia rutin meminum obat sesuai resep dari dokter. Ayahnya yang merupakan buruh tani merasa sangat terbantu dengan adanya santunan dari para sedekaholics untuk anaknya tersebut. Bantuan sebelumnya telah tersalurkan dan tercatat pada Rombongan 962.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 8 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal @asepza_

Pak Endin mengalami gangguan kejiwaan


DIKI PERMANA (14, Ca Nasofaring). Alamat : Kampung Cisabuk RT 3/5 Desa Santosa, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Diki adalah anak yatim piatu yang kini diasuh oleh bibinya dari pihak ibu. Ibu kandungnya sendiri meninggal dunia saat Diki baru berusia 17 hari. Ayahnya meninggal dunia saat dia masih dalam kandungan ibunya. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini sekarang tercatat sebagai siswa Kelas 2 SLTP di wilayah Bandung Selatan. Orangtua asuhnya, yaitu Ibu Ai Cacah (51) dan Pak Rahmat (54) dengan telaten membesarkan dan menyekolahkan anak yatim piatu ini seperti anak mereka sendiri. Walaupun hanya berprofesi sebagai buruh tani/pemetik teh, mereka berusaha keras mendidiknya sampai kini. Diki juga termasuk rajin bersekolah. Akan tetapi, sejak bulan September 2016, Diki sering meninggalkan tugas belajarnya di selolah karena ia kerap sakit sejak awal November 2016. Berbagai upaya medis dilakukan untuk mengatasi penyakitnya agar Diki bisa kembali rutin bersekolah. Berbekal Jamkesmas, bolak-balik Diki diperiksakan ke Puskesmas Pangalengan dan RSUD Soreang. Pada pemeriksaan ketiga di RSUD Soreang, tim medis merujuk pemeriksaannya ke RSHS Bandung. Ia diduga mengidap Ca Nasofaring. Akan tetapi, karena tidak ada biaya, keluarga Diki kerap menunda pemeriksaannya di Kota Bandung. Jarak dari rumah mereka ke RSHS Bandung sangat jauh dan ongkosnya sangat memberatkan mereka. “Padahal, Diki bersemangat sekali untuk berobat,” kata Bu Wiwin, kader PKK yang mengabarkan kesulitan mereka kepada kurir #SR. Bersyukur kurir #SR kemudian dapat bersilaturahmi dengan Diki dan ibunya saar mereka berobat di RSHS Bandung. Diki dan ibunya kemudian tinggal di RSSR Bandung. Tahapan peneriksaan yang sudah dilakukan adalah memeriksakannya ke Poli Umum Anak, Poli Infeksi, Poli Onkologi, dan Poli Kulit. Setelah menjalani berkali-kali pemeriksaan awal di RSUP itu dan berdasarkan hasil biopsi, Diki harus menjalani tindakan medis berupa terapi sinar yang akan ditentukan jadwalnya pada pertengahan Januari 2017. Diki dan keluarganya amat layak mendapatkan bantuan untuk terus berikhtiar sampai sembuh. Harapan mereka alhamdulillah mendapatkan jawaban dari sedekaholik dengan memberinya bantuan awal sebagai Tanda Cinta Dhuafa yang dititipkan melalui Sedekah Rombongan. Bantuan Pertama disampaikan pada akhir Desember 2016 di RSSR Bandung. Pada pertengahan Januari 2017 Diki dan ibunya datang lagi ke RSHS Bandung untuk mengawali terapi sinarnya. Akan tetapi, tim medis berkesimpulan bahwa terapi sinarnya bisa ditunda, digantikan dengan terapi lain. Setelah tiga hari di RSSR Bandung, Diki dan ibunya pulang dulu ke kampungnya agar Diki bisa bersekolah lagi. Pada pertengahan Februari, Maret, dan September 2017 Diki dan ibunya rutin datang lagi ke RSSR Bandung dan tinggal selama menjalani tindakan lanjutan di RSHS Bandung. Kondisiniya tampak membaik, tetapi ia masih harus rutin kontrol dan membutuhkan bantuan para dermawan. Pada November 2017 pun alhamdulillah, dengan empati sedekaholics, kembali Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan untuk Diki Permana dan ibunya. Bantuan lanjutan ini digunakan untuk biaya transportasi dari Pangalengan ke Kota Bandung, membeli obat, dan bekal selama berobat jalan. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1056.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 12 November 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda @lisdamojang

Diki mengidap Ca nasofaring


UDIN BIN ANTA ARKAWI (76, Penyakit Kulit Hervest). Alamat : Dusun Pahing, RT 7/2, Kecamatan Ciherang, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. AbaH Judin biasa beliau dipanggil saat ini menderita penyakit kulit hervest diusia senjanya. Sudah satu tahun beliau menderita penyakit kulit ini. Gejala awal yang beliau alami berupa kulit terasa gatal dan memerah. Karena tak kunjung membaik, akhirnya beliau melakukan pengobatan ke klinik setempat. Alhamdulillah ada perubahan. Namun saat beliau beraktifitas di sawah dan terkena terik matahari, kulitnya sering gatal-gatal, merah, bahkan menyebar hingga seluruh tubuh, termasuk kulit wajah, mata dan kepala. Kemudian diperiksakan lagi ke klinik hingga akhirnya beliau benar-benar terkena hervest. Saat ini beliau tinggal bersama istrinya Ema Esih (72) karena semua anaknya telah berumah tangga. Dengan kondisi tersebut Abah Judin tidak bisa bekerja seperti biasa. Beliau dan istri hanya mengandalkan pemberian dari anak-anaknya. Biaya untuk transportasi ke rumah sakit guna memeriksakan kondisinya lebih lanjut pun tidak ada. Beliau hanya memiliki jaminan kesehatan JKN-KIS PBI untuk berobat. Alhamdulillah Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan dengan beliau sehingga santunan awal dapat disampaikan kepada Abah Judin untuk biaya transportasi ke rumah sakit. Semoga Allah lekas menyembuhkan Abah Judin. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 2 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Peni

Pak Udin menderita penyakit Kulit Herpes


SABINA BINTI AWALUDIN (13, Pembengkakan Jantung). Alamat : Dusun Manis, RT 5/2, Desa Cileleuy, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Sabina adalah seorang remaja yang saat ini mengalami gangguan kesehatan berupa pembengkakan jantung. Sabina mengalami pembengkakan jantung sejak ia masih balita. Awalnya ia mendadak sesak nafas hingga badannya berwarna biru, bahkan kondisi tersebut berlangsung hingga saat ini. Sabina dibawa berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 45 Kuningan. Pengobatan berlangsung hingga Sabina beranjak remaja. Alhamdulillah hasilnya baik, sampai akhirnya ia bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Akan tetapi, akhir-akhir ini ia sering sakit-sakitan. Sabina baru saja menjalani rawat inap di RSUD 45 Kuningan selama 10 hari. Pihak dokter mengatakan bahwa yang membuat jantungnya membengkak adalah adanya benda asing di dalam jantungnya. Selain itu, kondisi tersebut membuat tekanan darahnya tinggi. Sabina saat ini tinggal bersama Ibunya, Ibu Kurnilah (49) yang kesehariannya hanyalah Ibu rumah tangga biasa. Ayah Sabina telah meninggal dunia. Dengan kondisi seperti ini, Ibu Kurnilah mengandalkan bantuan jaminan kesehatan BPJS Mandiri kelas 3. Sayangnya, saat ini beliau tidak memiliki biaya untuk akomodasi dan transportasi ke rumah sakit. Alhamdulillah, Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan dengan Sabina hingga santunan awal dapat disampaikan kepada Sabina untuk biaya akomodasi dan transportasi ke rumah sakit. Semoga Allah memberi kemudahan bagi Sabina untuk lekas sembuh. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.200.000
Tanggal : 1 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Peni

Sabina mengalami pembengkakan jantung


DANI BIN NONO DARYONO (32, Lumpuh). Alamat : Dusun Kopeng, RT 35/5, Desa Darma, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Bapak Dani adalah seorang kepala rumah tangga yang sudah tidak bisa bekerja demi menafkahi keluarganya. Hal tersebut berkenaan dengan kondisi kesehatan beliau yang lumpuh. Berawal dari tahun 2013, kaki kanan beliau sering mendadak lemas, kesemutan, berat dan kaku untuk digerakan. Awalnya kaki kanan beliau yang sering mengalami gejala seperti itu. Dengan kondisi tersebut beliau melakukan pengobatan di beberapa rumah sakit seperti Rumah Sakit Sekar Kamulyan (RSSK) Cigugur dan Rumah Sakit Umum Juanda Kuningan. Akan tetapi, kondisinya belum juga mengalami perubahan. Tak lama, kedua kaki beliau total tidak bisa digerakan, hanya tangan yang bisa beliau gerakkan. Beliau masih bisa berjabat tangan, akan tetapi tidak bisa diangkat. Keseharian beliau hanya bisa terbarig di tempat tidur dan sesekali di kursi roda ketika berjemur. Anggota keluarga lain harus memangku beliau ke kursi rodanya. Beliau masih rutin melakukan kontrol kesehatan ke Rumah Sakit dengan bantuan BPJS Mandiri kelas 3. Namun, karena beliau tidak bekerja, pembayaran BPJS sudah menunggak beberapa bulan. Sehingga kontrol kesehatan pun terpaksa terhenti. Beliau juga sudah kehabisan biaya untuk transportasi ke rumah sakit. Terlebih beliau juga memiliki beban hutang kepada sanak saudara. Saat ini demi kebutuhan sehari-hari beliau mengandalkan pemberian dari keluarganya. Istrinya, Ibu Suparni (33) pun tidak bekerja. Alhamdulillah Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan dengan Bapak Dani, sehingga santunan awal dapat disampaikan kepada beliau untuk biaya pelunasan BPJS dan transportasi ke rumah sakit. Semoga ikhtiar beliau selalu diberi kemudahan oleh Allah. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 5 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Didi

Pak Dani menderita lumpuh


MARYAMAH BINTI OTENG (53, Tumor di Leher). Alamat : Dusun Manis, RT 6/2, Desa Sindangjawa, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Ibu Maryamah adalah seorang ibu yang usianya sudah setengah abad. Beliau menderita tumor pada bagian leher selama 23 tahun tepatnya sejak tahun 1995. Tumor yang ada pada leher beliau baru mendapat perawatan intensif pada awal tahun 2017 lalu. Beliau menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Seharusnya beliau menjalani tindakan operasi pada tanggal 28 Juli 2017, akan tetapi tindakan jadwal operasi gagal sehingga harus membuat jadwal baru untuk operasi. Sebelumya, beliau harus menjalani serangkaian observasi ulang berkaitan dengan tumor pada lehernya. Hal tersebut guna untuk mengambil tindakan medis yang tepat. Pada pertengahan nopember lalu, Ibu Maryamah sudah menjalani pengangkatan tumornya dan Alhamdulillah saat ini tengah masa pemulihan. Satu bulan setelah operasi, beliau harus melakukan kontrol kembali ke RSHS. Selama ini, Ibu Maryamah menggunakan jaminan kesehatan jenis JKN-KIS PBI untuk berobat. Alhamdulillah sedikit terbantu untuk biaya perawatan di rumah sakit, hanya saja saat ini beliau kehabisan biaya untuk transportasi dan akomodasi. Ibu Maryamah bukanlah ibu rumah tangga biasa, beliau bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Suami beliau, Bapak Rudiyanto (64) merupakan seorang buruh tani dengan penghasilan minimum. Alhamdulillah, Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan Kuningan dengan Ibu Maryamah sehingga santunan keduadapat disampaikan kepada beliau untuk biaya transportasi dan akomodasi ke rumah sakit. Semoga Allah mempermudah jalan beliau untuk memperoleh kesembuhan. Aamiin. Sebelumnya Ibu Maryamah masuk ke dalam Rombongan 1073.

Jumlah Bantuan : Rp. 600.000,-
Tanggal : 10 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Wawan

Bu Maryamah menderita tumor pada bagian leher selama 23 tahun


ROHANIAH BINTI KURDI (43, Tumor Gusi). Alamat : Dusun Pahing, RT 6/2, Kelurahan Ciherang, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Ibu Rohaniah merupakan seorang ibu yang kesehariannya mengurus rumah tangga. Beliau menderita penyakit serius sejak dua tahun yang lalu. Tak di sangka beliau menderita tumor gusi. Awalnya beliau merasakan gejala berupa gatal sekaligus sakit dalam gusi. Kemudian, tak lama gusinya membengkak. Karena hal tersebut akhirnya beliau memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 45. Akan tetapi, pihak rumah sakit memberikan surat rujukan agar beliau melanjutkan pengobatan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk operasi. Alhamdulillah operasi berjalan dengan baik hingga tumor dinyatakan bersih. Namun sayangnya, satu tahun setelah tindakan operasi tumor tersebut kembali tumbuh bahkan hingga mengeluarkan nanah dan darah dari mulutnya. Beliau pun merasa kesulitan ketika berbicara karena rasa sakit sudah dirasakan hingga ke tenggorokan. Kondisi tersebut masih terasa hingga saat ini. Ibu Rohaniah sudah mendapatkan jawal operasi, hanya saja tim medis rumah sakit mengatakan bahwa jadwal tidak bisa dimajukan dan harus menunggu sampai bulan februari 2018. Beliau memiliki jaminan kesehatan BPJS Mandiri Kelas 3 untuk meringankan biaya pengobatan. Suami beliau, Bapak Edi Suhendar (69) hanya bekerja sebagai pedagang kecil keliling yang penghasilannya hanya cukup untuk biaya pokok sehari-hari. Alhamdulillah Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan Kuningan dengan Ibu Rohaniah, sehingga santunan ketiga dapat disampaikan oleh Sedekah Rombongan kepada beliau untuk biaya transportasi dan akomodasi selama di bandung. Semoga Allah memberi kemudahan bagi beliau untuk segera sembuh. Aamiin. Sebelumnya Ibu Rohaniah masuk kedalam Rombongan 1073.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 1 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Peni

Bu Rohaniah menderita tumor gusi


SUCI BINTI SAMSUDI (1, Bibir Sumbing/Tersier Cleft). Alamat : Dusun Manis, RT 16/5, Desa Pamulihan, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Suci adalah seorang bayi yang usianya baru menginjak 2 bulan. Alhamdulillah ia lahir dengan selamat, hanya saja ia terlahir dalam keadaan kurang sehat secara fisik. Bayi mungil ini menderita bibir sumbing dan tidak memiliki rahang atas. Ia telah menjalani beberapa serangkaian pemeriksaan sekaligus perawatan di beberapa rumah sakit seperti, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kuningan 45 selama 6 hari, hingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon. Selain itu, terakhir ia harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut (RSGM) Unpad Bandung. Bayi Suci sudah beberapa kali kontrol ke RSGM Bandung, dan sudah dilakukan pemasangan alat di bibirnya agar tidak terjadi pelebaran diantara bibr dan rahang atasnya. Bayi Suci harus melakukan kontrol 2 kali dalam sebulan, dan minggu ini adalah kontrol pertamanya di bulan desember. Keadaan fisiknya sehat, hanya saja alat yang dipasang di sekitar bibirnya terkadang lepas dan harus hati hati ketika memasangnya lagi. Kedua orang tua Suci, Bapak Samsudi (49) dan Ibu Sahanah (34) selalu berupaya agar putrinya lekas tumbuh normal seperti anak pada umumnya. Sehingga mereka tidak pernah lelah berusaha yang terbaik untuk putrinya. Keduanya mengandalkan jaminan kesehatan jenis JKN-KIS PBI untuk perawatan Suci, hanya saja keduanya kesulitan berkenaan dengan biaya akomodasi dan juga transportasi selama Suci menjalani perawatan di Bandung. Maklum saja, Bapak Samsudi kesehariannya hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan pas-pasan. Alhamdulillah, karena kebaikan Allah, Allah mempertemukan kurir Sedekah Rombongan Kuningan dengan Suci dan keluarga sehingga santunan ketiga dapat disampaikan kepada Bayi Suci untuk biaya transportasi dan akomodasi selama di Bandung. Semoga Suci lekas diberi kesembuhan dan dapat tumbuh dengan normal. Aamiin. Sebelumnya Bayi Suci masuk ke dalam Rombongan 1073.

Jumlah Bantuan : Rp. 600.000,-
Tanggal : 1 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Wawan

Suci menderita bibir sumbing dan tidak memiliki rahang atas


SUNARSIH BINTI SOMADI (52, Tumor Paru – Paru). Alamat : Dusun 1 Cipondok, RT 6/2, Desa Cipondok, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Ibu rumah tangga yang biasa dipanggil Ibu Sunarsih ini menderita penyakit paru-paru basah dan merupakan pasien dampingan Sedekah Rombongan Kuningan. Penyakit tersebut beliau derita sejak beberapa bulan terakhir. Beliau sering mengeluhkan sakit pada bagian dadanya yang disertai dengan batuk-batuk bahkan sesak nafas. Selama ini beliau berobat jalan ke dokter umum yang ada di daerah tempat tinggalnya. Alhamdulillah berkat pertolongan Allah, kurir Sedekah Rombongan Kuningan bisa membawa beliau ke Rumah Sakit Sekar Kamulyan Cigugur Kuningan. Berdasarkan pemeriksaan tim medis, beliau harus melakukan operasi pemasangan selang dari paru – parunya untuk menyedot cairan, karena kondisi paru-parunya sudah penuh dengan air bahkan jantungnya sudah bengkak. Oleh karena itu, beberapa waktu lalu beliau telah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Sekar Kamulyan Cigugur Kuningan. Pasca menjalani rawat inap, tim medis menyarankan beliau agar segera menjalani pemeriksan ke Rumah Sakit Persahabatan Jakarta untuk pengobatan lanjutan. Dari hasil pemeriksaan tim medis rumah sakit, bahwa ada tumor di paru – paru beliau. Beliau telah melakukan beberapa serangkaian pemeriksaan lagi sebelum dilakukan tindakan operasi. Setelah dilakukan beberpa serangkaian observasi di Rumah Sakit Pesahabatan Jakarta, Ibu Sunarsih sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya, dan Allah pun berkehendak lain, Beliau meninggal di kediamannya. Untuk pengobatan, beliau terbantu dengan adanya kartu jaminan kesehatan BPJS mandiri kelas 3. Biarpun demikian, beliau membutuhkan biaya akomodasi selama di jakarta. Maklum saja, suami beliau Bapak Sutar (60) hanya bekerja sebagai seorang petani yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan saat ini tengah menemani istrinya berobat. Alhamdulillah atas ijin Allah Sedekah Rombongan dapat menyampaikan santunan kesepuluh kepada Ibu Sunarsih untuk biaya mengurus jenazah Ibu Sunarsih. Semoga Allah melapangkan kubur untuk beliau. Aamiin. Sebelumnya Ibu Sunarsih masuk ke dalam Rombongan 1011.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 9 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji @mayasaroh87

Bu Sunarsih menderita penyakit paru-paru basah


ICOH BINTI MISJA (48, Kelenjar Getah Bening). Alamat : Dusun Dano, RT 8/16, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Ibu Icoh biasa beliau dipanggil ini menderita penyakit kelenjar getah bening. Penyakit yang beliau derita sejak satu tahun lalu ini berawal dari adanya benjolan kecil di leher yang semakin lama semakin membesar. Saat ini, beliau berobat jalan di Puskesmas Cigugur, Kuningan. Kemudian, pihak Puskesmas memutuskan agar Ibu Icoh segera dirujuk ke Rumah Sakit Sekar Kamulyan Cigugur Kuningan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tak lama, Ibu Icoh akhirnya menjalani rawat inap di Rumah Sakit Sekar Kamulyan Cigugur dan menjalani operasi pengambilan sampel/biopsi dari leher. Saat ini, benjolan di leher Ibu Icoh semakin membesar dan harus segera menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Ibu Icoh akan menjalani kemoterapi ke enamnya dan harus segera berangkat ke bandung. Kondisi beliau saat ini Alhamdulillah sehat dan tekanan darahnya stabil. Akan tetapi tim medis mengatakan, Ibu Icoh harus melakukan kemo lagi sebanyak 12 kali dari prediksi awal hanya 6 kali. Ibu Icoh memanfaatkan kartu jaminan kesehatan berupa JKN-KIS PBI. Akan tetapi, biarpun terbantu dengan adanya kartu jaminan kesehatan, beliau merasa kesulitan berkenaan dengan biaya transportasi dan akomodasi selama di Bandung. Alhamdulillah berkat pertolongan Allah santunan kesebelas dapat disampaikan kurir Sedekah Rombongan Kuningan kepada Ibu Icoh untuk biaya transportasi dan akomodasi di Bandung. Semoga Allah memberi kesembuhan kepada Ibu Icoh. Aamiin. Sebelumnya Ibu Icoh masuk kedalam Rombongan 1079.

Jumlah Bantuan : Rp. 800.000,-
Tanggal : 7 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @evainhere @nitaapuji Peniasih

Ibu Icoh menderita penyakit kelenjar getah bening


YAQUB SETIAWAN (20, Gangguan Ginjal). Alamat : Kp. Karang Kencana, RT 6/3, Desa Sadarkarya, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Yakub merupakan putra kedua dari pasangan Bapak Ade (48) dan Ibu Siti (42). Awal mula penyakit yang diderita yakub adalah sepulang ia pergi ke sebuah tempat bersama teman-temannya, kejadiannya begitu cepat, perut yakub membesar begitu saja tanpa ada tanda-tanda apapun sebelumnya. Ia sering merintih kesakitan di bagian perutnya tersebut. Selain itu bagian matanya bengkak, kulit bagian dalam harus menonjol keluar, kabarnya ia merasakan gatal yang sangat pada bagian mata tersebut. Ia pernah dibawa ke RS Siloam, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan pada ginjal, ia pun dirujuk untuk melakukan pengobatan di RSHS Bandung, namun hingga kini karena kendala biaya yakub pun masih terbaring lemah di rumah. Sesekali ibu dan ayahnya mengobati Yakub menggunakan obat-obatan tradisional, ikhtiar tersebut masih dilakukan sampai saat ini. Ayahnya yakni Pak Ade merupakan buruh serabutan, kadang punya penghasilan kadang tidak. Alhamdulillah dengan ijin Allah kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Yakub dan kedua orangtuanya, kami menyampaikan titipan bantuan dari para sedekaholics untuk pengobatan Yakub. Dengan bantuan ini semoga Yakub segera dibawa ke RSHS Bandung.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 2 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @ula_awwal

Pak Yaqub menderita gangguan pada ginjal


TITIN PRIATIN (35, Gangguan Ginjal). Alamat: Jalan Cihampelas Gg. Marga Setia No. 38/25, RT 4/15, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pada bulan Juni 2017 Ibu Titin mengalami sakit di perut, terus merasa mual dan muntah-muntah. Setelah diperiksa di dokter umum dokter menyatakan bahwa ia sakit maag dan memberinya obat. Akan tetapi, setelah minum obat, Ibu Titin tambah sering muntah-muntah dan kesakitan di perut serta dadanya. Karena kondisinya semakin parah ia pun dievakuasi ke RS Salamun di Ciumbuleuit Bandung. Setelah diperiksa di laboratorium, ia dinyatakan sakit ginjal dan dirujuk ke RS Advent atau RS Khusus Ginjal R.A. Habibie. Sungguh sedih dan panik dirasakan bagi suami Ibu Titin, yaitu Bpk. Rendi Permana (37 thn). Sudah tiga tahun yang lalu suami Ibu Titin ini diberhentikan sebagai karyawan hotel dan sampai saat ini belum memiliki pekerjaan tetap, kecuali bekerja sebagai tukang ojeg on line. Sekarang pun Ibu Titin beserta suami dan satu orang anaknya tinggal bersama orang tuanya. Sewaktu bekerja dulu perusahaannya mendaftarkan keluarga Ibu Titin sebagai anggota BPJS kelas 1, namun sudah tiga tahun tidak terbayar. Demi memperoleh kesembuhan Ibu Titin, maka keluarganya pun berusaha membuat SKTM, agar Ibu Titin dapat berobat secara gratis. Namun, SKTM itu ditolak karena harus melunasi iuran BPJS. Setelah bernegosiasi dengan pihak BPJS, akhirnya mendapat keringanan dengan hanya diwajibkan membayar tunggakan sebesar Rp 3.120.000,- Namun tetap saja keluarga mereka tidak mampu membayarnya karena tidak memiliki uang. Demi menyelamatkan Ibu Titin, maka keluarganya pun terpaksa membawa Ibu Titin ke RS Khusus Ginjal R.A. Habibie melalui jalur umum. Di rumah sakit itu Ibu Titin dirawat-inap dan dicuci darah 1x dengan membayar biaya Rp 3.311.500,- yang diperoleh dari bantuan keluarga dan saudara-saudaranya. Setelah menjalani rawat inap, dokter pun menyarankan agar datang kembali seminggu kemudian untuk menjalani cuci darah, akan tetapi setelah hamper dua minggu sejak pulang, Ibu Titin belum bisa menjalani cuci darah disebabkan tidak memiliki biaya dan tunggakan BPJS-nya belum terbayar. Kondisi Ibu Titin semakin mengkhawatirkan dan menyedihkan. Ia terus terbaring karena merasa pusing, mual dan muntah-muntah serta di badannya mulai muncul bintik-bintik merah. Kisah duka dan penderitaan Ibu Titin itu disampaikan kakaknya kepada Kurir Sedekah Rombongan (#SR) Bandung. Karena berempati, maka Kurir #SR pun mengunjunginya diantar oleh oleh Kakaknya itu. Pada kunjungan itu Kurir #SR menyampaikan titipan langit, yaitu bantuan dari para sedekaholics yang berempati terhadap kesusahan dan penderitaan Ibu Titin. Bantuan uang tersebut mudah-mudahan dapat meringankan beban hidup keluarga mereka dan dapat digunakan untuk biaya transportasi dan akomodasi ke rumah sakit serta membeli obat yang disarankan dokter. Pada kesempatan itu pula, Kurir Sedekah Rombongan menyampaikan keprihatinannya dan akan berusaha mencari bantuan agar memperoleh biaya untuk melunasi tunggakan iuran BPJS-nya. Syukur Alhamdulillah, pada akhir Agustus 2017 Kurir #SR kembali dapat mengunjunginya dan menyampaikan bantuan uang dari sedekaholics #SR. Bantuan uang tersebut akan digunakan untuk melunasi tunggakan BPJS agar Ibu Titin dapat menjalani cuci darah rutin sesuai petunjuk dokter. Pada akhir September 2017, Kurir Sedekah Rombongan mendapat kabar bahwa keadaan Ibu Titin Priatin semakin memburuk. Selain harus menjalani cuci darah 2x setiap minggu, ia pun harus dirawat karena kondisinya semakin menurun. Maka pada 28 September Kurir Sedekah Rombongan kembali megunjungi Ibu Titin, yang pada saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Pada kunjungan itu disampaikan kembali bantuan uang dari para Sedekaholik #SR. Bantuan tersebut diperlukan untuk biaya transportasi-akomodasi dan biaya sehari-hari selama menjalani rawat-inap di rumah sakit. Pada November 2017 Ibu Titin tidak lagi menjalani cuci darah, akan tetapi ia menjalani operasi untuk membuat saluran kencing dan dipasangi selang di kedua belah pinggulnya. Selang tersebut berfungi sebagai saluran untuk pembuangan air seninya. Ibu Titin masih memerlukan bantuan dan biaya untuk pengobatan serta perawatannya, dan ketika ditemui kembali ia sedang terbaring lemah. Pada awal November dan Desember Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan dari pada sedekaholik untuk membantu biaya transportasi, kontrol, dan perawatan mengganti selang saluran kencing. Mudah-mudahan bantuan tersebut dapat mengantarkan Ibu Titin untuk memperoleh kesembuhannya. Bantuan sebelumnya tercatat di Rombongan 1079.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 14 Desember 2017
Kurir : @ddsyaefudin @azepbima Yedi

Bu Titin menderita gangguan pada ginjal


NURJAMIL IDRIS (55, Gangguan Jantung). Alamat : Kp. Siluman, RT 3/2, Desa Setiaratu, Kec. Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Pak Jamil, biasa beliau disapa warga sekitar adalah seorang tukang jahit baju. Ia membuka usahanya tersebut selama bertahun-tahun dan bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan cukup. Hebatnya beliau bisa menyekolahkan anak semata wayangnya hingga perguruan tinggi. Namun, pada akhir tahun 2015, Pak Jamil mulai mengeluh merasa sakit di dada, kadang terasa sesak dan susah untuk bernapas. Akibatnya, ia tidak bisa melakukan kegiatan sehari-harinya menjahit baju, apalagi istrinya, KARNINGSIH (55) hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak mempunyai penghasilan. Setelah merasa keluhannya semakin menjadi, Pak Jamil memeriksakan diri ke dokter terdekat, ternyata ia terdeteksi mempunyai penyakit lemah jantung. Pak Jamil merasa terkejut karena ia khawatir tak bisa melanjutkan mata pencahariannya sebagai penjahit karena fisiknya sudah melemah. Semakin hari, penyakitnya semakin parah karena hanya minum obat dengan dosis rendah hingga akhirnya ia dirawat di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya selama 11 hari dengan jaminan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tapi, karena hanya beliau yang bekerja, keluarganya kesulitan untuk biaya hidup sehari-hari dan kadang dibantu anaknya yang berkuliah sambil bekerja di Bandung. Alhamdulillah, #SedekahRombongan dipertemukan dengan beliau dan santunan pun diberikan untuk membeli obat yang harus dibeli karena tidak dijamin oleh KIS sebesar 200 ribu untuk satu minggu. Keadaan Pak Jamil sekarang semakin memprihatinkan dengan badan yang semakin kurus ditambah dengan kondisi istrinya yang sekarang sedang sakit. Semoga Pak Jamil dan istri segera diberi kesembuhan dan bisa melanjutkan peran sebagai tulang punggung keluarga. Aamiin. Sebelumnya masuk di Rombongan 856.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 25 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita Ahmad

Pak Nurjamil menderita gangguan jantung


EEM BINTI ENJON (58, Kista Ovarium). Alamat: Kp. Nyalindung, RT 23/4, Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Selama hampir satu dekade, Bu Eem selalu sakit-sakitan karena sistem imunnya yang lemah. Namun, setahun ini penyakitnya semakin parah dan perutnya semakin membesar karena kista ovarium. Perut Bu Eem terlihat seperti sedang hamil besar dan ia sering kesusahan berjalan. Karena keterbatasan biaya, awalnya ia memilih pengobatan tradisional namun karena tidak ada kemajuan yang berarti ia memeriksakan diri ke RS SMC Singaparna dan ternyata harus dirujuk lagi ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Di RS, ia dirawat inap selama beberapa hari dan kembali harus dirujuk ke RSHS Bandung karena keterbatasan alat medis. Dalam waktu dekat, Bu Een harus segera melakukan tindakan operasi untuk mengangkat kista di rahimnya. Suaminya, Omon (56) bekerja sebagai tukang cilok keliling dengan pendapatan tidak seberapa. Keluarganya kebingungan karena jaminan kesehatan yang mereka punya hanya bisa menutup setengah biaya pengobatan. Alhamdulillah, Sedekah Rombongan bisa dipertemukan dengan Bu Eem dan mengunjungi kediaman beliau yang letaknya di bawah kaki gunung dan dekat dengan perkebunan. Bantuan dana untuk berobat dari para Sedekaholics agar meringankan biaya akomodasi dan obat demi kesembuhan Bu Eem. Alhamdulillah, seminggu lalu, Bu Eem sudah melakukan proses operasi dan ternyata ada 35 liter cairan dan 8 kilogram daging yang sudah diangkat. Kini, perutnya sudah tidak membuncit lagi dan terukir senyum di wajahnya karena beban yang menghimpit sudah hilang sebagian meskipun ia masih harus berobat secara rutin ke RSHS. Semoga Allah memberi kemudahan untuk proses pengobatan Bu Eem selanjutnya. Aamiin. Terimakasih untuk sedekahnya, Sedekaholics. Sebelumnya masuk di Rombongan 1020.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 18 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin @mustikanoverita Ahmad

Bu Eem menderita kista ovarium


ANIH SUMARNI (59, Stroke). Alamat: Kampung Nyalindung RT 3/2 Desa Margamulya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Janda mendiang Pak Mamat ini tinggal di daerah pegunungan. Di rumah bilik yang sempit dan gelap, ia tinggal bersama kedua anaknya yang sudah berkeluarga. Sejak ditinggal mati suaminya, Mak Anih semakin merasakan beratnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Walaupun ia terbiasa bekerja di ladang, sawah, atau kebun orang, kini semakin berkurang tawaran untuk bekerja menjadi buruh tani. Padahal, upah Rp.25.000,- per hari kerja pun amat dibutuhkannya. Selain karena faktor usia, rupanya kondisi fisik dan kesehatan Mak Anih kini tak memungkinkannya lagi bisa bekerja seperti biasa. Hasil pemeriksaan Puskesmas Sugihmukti menduga ia mengalami stroke ringan. Kaki kirinya tak bisa digerakkan dengan sempurna. Seminggu sekali dia dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan dan terapi. Untung saja dia sudah lama terdaftar sebagai peserta Jamkesmas dan dapat memanfaatkannya untuk berobat ke rumah sakit. Yang menjadi kendala untuk berobat adalah biaya transportasi, akomodasi, dan pembelian obat yang tidak dijamin Jamkesmas. Keinginan Mak Anih untuk terus berobat sampai kepada kurir #SedekahRombongan atas informasi pengurus Rukun Warga. Alhamdulillah, dengan cepat, empati kurir #SR membukakan harapannya untuk terus berikhtiar mengobati penyakit yang hampir melumpuhkan semangat hidupnya. Bantuan Awal dari #SedekahRombongan kemudian disampaikan kepada Mak Anih pada 24 September 2015. Pada kunjungan kurir #SR tanggal 30 November 2015, Ma Anih menceritakan perkembangan kesehatannya yang semakin membaik tetapi dia masih harus berobat rutin. Pada awal Februari 2016, nenek yang tabah ini menuturkan rencananya untuk kontrol ke RSUD Soreang. Alhamdulillah saat itu kurir #SR dapat menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya berobat. Pada akhir Mei 2016 kurir #SR mengunjungi Ma Anih di gubuk tuanya. Ia masih memerlukan uluran tangan sedekaholics untuk terus mengikhtiarkan kesembuhannya, seperti keinginannya. Alhamdulillah harapannya terkabulkan. Pada akhir Mei 2016 itu #SedekahRombongan memberinya bantuan lanjutan. Pada awal September 2016 keluarganya mengabarkan kepada kurir #SR di Bandung bahwa Ma Anih membutuhkan bantuan untuk biaya membeli obat. Kurir #SR kemudian mengunjungi Ma Anih di gubuk reyotnya. Kondisinya belum membaik. Ia belum bisa berjalan. Karena janda dhuafa ini masih memerlukan bantuan untuk terus berikhtiar, pada bulan itu alhamdulillah ia kembali mendapatkan bantuan lanjutan untuk biaya brobat. Pada akhir Desember 2016, anaknya menghubungi kurir #SR dan mengabarkan bahwa janda dhuafa ini masih menjalani terapi rutin di Puskesmas Pasirjambu. Kurir Sedekah Rombongan kemudian menjenguknya sambil menyampaikan bantuan lanjutan titipan para sedekaholik #SR. Pada pertengahan April 2017 kurir SR kembali menjenguknya di rumah peninggalan suaminya dan memberinya santun dari sedekaholik. Pada pertengahan Desember 2017 kurir #SR kembali menemuinya. Ie menceritakan bahwa ia harus kontrol ke RSUD Soreang. Janda dhuafa ini masih sangat layak dibantu. Alhamdulillah, dengan empati sedekahollik, kembali Sedekah Rombongan memberinya bantun lyang digunakan untuk biaya transportasi berobat dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 993.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 18 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Bu Anih menderita stroke


DIDIN SYAEFUDIN (39, Keropos Tulang Pinggul). Alamat: Kampung Nyalindung RT 3/2, Desa Margamulya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Hampir dua tahun Kang Didin tak berdaya. Jangankan untuk menghidupi keluarganya; untuk berjalan pun ia tak mampu, karena tulang/otot punggangnya tak berfungsi. Mungkin karena kuli bangunan ini terlalu sering memaksakan memikul beban di luar kemampuannya. Sampai saat ini ia belum mendapatkan pemeriksaan dan perawatan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Keluarganya tak mampu mengupayakan kesembuhannya karena ketiadaan biaya. Bapaknya, juga terkena stroke cukup lama. Saat bertemu dengan kurir #SedekahRombongan, mereka menuturkan kisah hidupnya sambil sesekali menyeka air mata: Terlihat juga kepiluan, rasa malu, dan harapan saat pertama kali Pak Didin merasakan duduk di kursi roda. Tak henti-hentinya ia juga mengucapkan terima kasih dan doa bagi semua. Berbulan-bulan Didin tak ada di kampungnya. Ia diajak berobat alternatif oleh saudaranya. Akan tetapi, upaya ini juga tak dilanjutkan. Pada pertemuan dengan kurir #SR tanggal 22 Februari 2015 Didin menuturkan keinginannya untuk melanjutkan pengobatan ke rumah sakit. Secara psikologis, kondisi Pak Didin kini membaik, meskipun aktivitasnya masih menggunakan kursi roda. Pada kunjungan terakhir, 11 September 2015, ia menuturkan bahwa ia sebulan sekali diperika di Puskesmas dan diterapi urut. Pada 30 November 2015, kurir #SR bersilaturahmi kembali ke rumah orangtuanya. Kondisinya masih belum menggembirakan. Begitu juga, pada 12 Februari 2016, saat dikunjungi #kurir #SR, Pak Didin mengutarakan rencananya untuk berobat lagi pada 16 Februari 2016. Alhamdulillah pada bulan itu ia mendapatkan bantuan. Pada akhir Mei 2016 keluarganya menghubungi kurir #SR, mengabarkan bahwa Didin harus kontrol dan terapi. Walaupun tidak sempat mengantarnya berobat, pada bulan ini kurit #SR memberinya bantuan lanjutan untuk biaya berobatnya. Pada minggu kedua bulan September 2016, kurir #SR kembali menjenguk Pak Didin di rumah panggung milik orangtuanya, dan memberinya bantuan lanjutan untuk biaya berobat dan biaya sehari-hari Pak Didin. Kondisinya membaik secara psikis, tetapi ia masih harus menjalani terai. Pada pertengahan Desember 2016, Pak Didin menghubungi kurir #SR di Bandung, mengabarkan bahwa ia harus kontrol dan periksa rutin ke Puskesmas. Bersyukur kurir Sedekah Rombongan kemudian dapat menjenguknya lagi di rumah sempit milik orangtuanya dan dapat menyampaikan bantuan lanjutan kepada bapak satu anak ini. Pada pertengahan April 2017 Pak Didin menghubungi kurir #SR di Bandung, yang kemudian menjenguknya sambil menyampaikan bantuan. Pada minggu terakhir Juni 2017 saudara Pak Didin mangabarkan bahwa Pak Didin masih harus kontrol. Bersyukur kurir #SR dapat menemui Pak Didin Syaefudin di rumah orangtuanya dan menyampaikan bantuan untuk melanjutkan ikhtiarnya. Pada pertengahan Desember 2017 kurir #SR menemuinya untuk kesekian kali. Ia masih harus terapi dan memerlukan bantuan. Alhamdulillah, dengan empati sedekaholiks, kembali kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan lanjutan untuk Pak Didin Syaefudin yang digunakan untuk ongkos berobat dan biaya sehari-hari. Bantuan sebelum ini tercatat di Rombongan 1020.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal: 18 Desember 2017
Kurir: @ddsyaefudin @azepbima @cucucuanda

Pak Didin menderita keropos tulang pinggul


RINI ASTUTI (46, Darah Tinggi + Vertigo + Stroke). Alamat : Jalan Sawo Jalur 3A, RT 2/12, Kelurahan Sungai Jawi Dalam, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Ibu dari lima anak ini kesehariannya menjual gorengan di kantin salah satu sekolah swasta di Pontianak. Sudah tiga bulan selama direnovasinya sekolah tersebut, ibu yang hidup sederhana inI sudah tidak bisa berjualan lagi. Satu bulan terakhir, sakit darah tinggi dan vertigo yang sudah lama diderita Ibu Rini sering kambuh. Saat dilakukan pemeriksaan medis di Puskesmas, dokter mengatakan akibat darah tingginya, Ibu Rini mengalami gejala stroke ringan. Selama ini Ibu Rini dan keluarga belum memiliki JKN – KIS karena keterbatasan ekonomi. Beban keluarga semakin berat sejak Ibu Rini tidak berjualan. Kebutuhan sehari-hari keluarga hanya berharap pada penghasilan suaminya, Eramli (49), yang bekerja sebagai tukang bangunan. Pak Eramli hanya bekerja jika ada proyek pembangunan yang menggunakan tenaganya. Jika proyek pembangunan selesai, ia menunggu adanya proyek yang lain sehingga tidak memiliki penghaslian tetap. Ibu Rini masih harus menjalani rawat jalan, ia pun harus minum obat secara rutin untuk menjaga tekanan darahnya. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk membayar iuran JKN – KIS, operasional berobat, dan kebutuhan sehari-hari. Ibu Rini sebelumnya mendapat bantuan dalam rombongan 1036.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 28 November 2017
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 Yuhanizh @rayska197 @ririn_restu

Bu Rini menderita darah tinggi + vertigo + stroke


UJANG KUSNADI (39, Dhuafa + Disabilitas). Alamat: Dusun Ciluncat, RT 2/1, Kelurahan Madiasari, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Pak Ujang terlahir sebagai penyandang disabilitas, kedua tangan dan kakinya hanya mempunyai dua jari masing-masing dan terlihat (maaf) seperti kepiting. Keadaan tersebut membuatnya sulit melakukan aktivitas seperti layaknya orang normal biasa sehingga hanya pekerjaan tertentu yang bisa ia lakukan. Tentu ini menghambat finansial Pak Ujang dan keluarga. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengrajin benda tajam seperti celurit yang biasa orang Sunda sebut bedog. Yang harusnya dalam sehari memproduksi beberapa bedog, namun Pak Ujang hanya mampu membuat satu saja atau malah tidak sa sekali. Rintangannya bukan hanya di situ, ia pun kerap ditipu orang lain dan mengharuskannya meminjam uang kepada tetangga atau malah tak jarang ke lintah darat. Keadaan makin terpuruk saat ia tak bisa bisa membayarnya. Penderitannya bukan hanya sampai di sana, istrinya, Ena (37) menderita tumor di hidung yang semakin hari semakin membesar namun tak pernah dibawa berobat karena khawatir dengan biaya yang harus dikeluarkan. Sepasang suami istri ini juga mempunyai 3 anak yang semuanya duduk di bangku sekolah, malah anak nomor dua mempunya kelainan seperti Pak Ujang. Ketika kurir menyambangi rumahnya, ada banyak bocor di mana-mana, dapur yang sudah rusak parah dan hanya ada tungku perapian tanpa kompor, kamar tidur dengan kasur yang sudah tidak layak, MCK tanpa tembok bahkan air pun harus mencari ke bawah kaki gunung. Pak Ujang terkadang mengeluh, sering ia menggadaikan isi rumah yang tak seberapa hanya untuk makan. Alhamdulillah, atas inisiatif dari founder Sedekah Rombongan, Saptuari, rumah Pak Ujang segera direnovasi supaya ia bisa tinggal nyaman dan diberi modal usaha agar ia bisa memperbaiki hidup dengan berjualan bedog lagi tanpa meminjam uang dengan bunganl tinggi. Bantuan bedah rumah tersebut berasal dari para Sedekaholics yang ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu mereka yang sedang berjuang lepas dari kesulitan hidup. Bedah rumah terealisasi selama 2 minggu dengan dibantu tenaga tetangga dan sanak saudara. Semoga Allah selalu melapangkan rezeki Pak Ujang dan keluarga. Aamiin.

Jumlah Bantuan : Rp. 15.000.000,-
Tanggal: 25 November 2017
Kurir: @ddsyaefudin, @mustikanoverita, Ahmad

Bantuan tunai


TUGINAH BINTI ABDURRAHMAN (68, Vertigo + Diabetes). Alamat : Jalan Sawo, Gang Jalur 3A, RT 2/12, Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Ibu Tuginah adalah seorang janda dengan satu anak, usianya sudah sepuh dan suaminya meninggal sejak 5 tahun yang lalu. Sejak suaminya meninggal, Ibu Tuginah berjuang hidup bersama anak laki-lakinya yang bekerja sebagai supir mobil las. Ibu Tuginah sering sakit – sakitan karena komplikasi penyakit yang dideritanya dan sering dirawat di rumah sakit. Ia bahkan pernah tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke rumah sakit. Kondisi itu sering ia alami dalam dua tahun terakhir. Kadar gula Ibu Tuginah sering tidak stabil, terkadang sangat rendah tetapi juga bisa sangat tinggi hingga kondisinya menurun. Ibu Tuginah pernah dirawat di rumah sakit karena gula darahnya rendah dan mengalami vertigo. Selama ini Ibu Tuginah berobat menggunakan JKN – KIS kelas III yang dimilikinya. Keterbatasan ekonomi membuat iuran KIS Ibu Tuginah menunggak berbulan – bulan. Tunggakan iuran yang besar dan tidak sedikit biaya hidup selama di rumah sakit membuat anak Ibu Tuginah mengajukan pinjaman di tempat kerjanya yang setiap bulan harus diangsur dengan potong gaji. Ibu Tuginah masih harus menjalani kontrol rutin dan menjaga gula darahnya. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk pembayaran iuran KIS dan kebutuhan lainnya selama pengobatan. Ibu Tuginah sebelumnya dibantu dalam rombongan 1008.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 28 November 2017.
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyuddin5 @yuhanizh @rayska197 @ririn_restu

Bu Tuginah menderita gula darahnya rendah dan mengalami vertigo


KHAIZURAN AUFAR (1, Meningitis). Alamat : Jalan Petani, No.14, RT 1/38, Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Kota, Provinsi Kalimantan Barat. Bayi yang baru berusia 8 bulan ini biasa dipanggil Aan. Pada awal April 2017, Aan menderita demam disertai menggigil dan badan membiru selama 2 minggu. Awalnya Aan menjalani rawat jalan di RS Bhayangkara, namun kondisinya belum mengalami perubahan dan semakin memburuk. Akhirnya Aan kembali dibawa ke RS Bhayangkara dan dilakukan tes darah serta cairan di kepala, hasilnya ia didiagnosis sementara mengalami meningitis. Untuk memperkuat diagnosis, Aan dirujuk ke RS Antonius yang mempunyai fasilitas CT – Scan, dari hasil CT – Scan dan rontgen ia positif terkena meninghitis. Ayah Aan adalah seorang buruh bangunan dan ibunya adalah ibu rumah tangga, penghasilan ayahnya tidak tetap dan hanya cukup untuk makan sehari – hari. Biaya yang dikeluarkan selama berobat demi kesembuhan anaknya adalah dengan menjual harta benda yang ada serta berutang hingga jutaan rupiah. Alhamdulan Kurir Sedekah Rombongan telah menyampaikan bantuan awal untuk pembuatan JKN – KIS dan baiay hidup. Kondisi Aan sempat membaik, namun pada pertengahan Juni 2017 ia kembali mengalami demam yang disertai kejang – kejang. Aan akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara, di sana ia menjalani pemeriksaan darah dan cairan dan dari hasil pemeriksaannya ia didiagnosis tumor otak. Aan kemudian dirujuk ke RS Antonius untuk menjalani CT – Scan dan rontgen. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk operasional berobat, dan membeli obat di luar tangguang BPJS. Sebelumnya Aan telah dibantu dalam Rombongan 1055.

Jumlah Bantuan : Rp.2.700.000,-
Tanggal : 21 November 2017
Kurir : @arfanesia @ahmadtaqiyudin Meta @rayska197

Aan mengalami meningitis


RIZWAN HADI (3, Luka Bakar). Alamat : Desa Nangakara, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB. Rizwan mengalami luka bakar akibat tersiram air panas. Saat itu Rizwan sedang bermain, tanpa sengaja ia menabrak wadah yang berisi air panas yang akan digunakan untuk merebus salome, yaitu makanan seperti bakso. Rizwan diharuskan menjalani operasi debridement, yakni pembuangan atau pengangkatan jaringan kulit yang rusak dan mati yang menghalangi penyembuhan luka. Rizwan hanya memiliki jaminan kesehatan kartu Jakad, yakni jaminan kesehatan daerah setempat yang hanya menanggung biaya rawat inap dan obat – obatan, sedangkan untuk tindakan operasi tidak ditanggung. Ayah Rizwan, Sunardin (31), yang bekerja sebagai petani tidak mampu membayar biaya operasi debridement tersebut, begitu juga dengan ibu Rizwan, Nurmin (30), yang sehari – harinya sebagai ibu rumah tangga sambil berjualan salome di rumah. Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan dapat menyampaikan bantuan untuk membiayai operasi tindakan debridement tersebut. Ucapan terima kasih disampaikan orang tua Rizwan atas bantuan dari sedekaholics Sedekah Rombongan, semoga semua kebaikan Sedekaholics dibalas Allah SWT, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.500.000,-
Tanggal : 27 November 2017
Kurir : @arfanesia Panca Dewi Wardah Erna Omiyati

Ridwan mengalami luka bakar


ADE IRMANSYAH (32, TB Kelenjar). Alamat : Desa Lanta, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Provinsi NTB. Ade mengalami TB Kelenjar sejak 1 tahun terakhir. Sakit tersebut membuat ia tidak lagi bisa mencari nafkah sebagai guru sukarela di SMP 6 Kecamatan Lambu. Saat ini Ade berobat di RSU Provinsi NTB, karena jarak dari rumah sangat jauh, Ade memilih untuk menyewa kos yang dekat dengan rumah sakit. Ade harus menjalani biopsi ulang, karena setelah menjalani pengobatan untuk TB kelenjarnya, belum juga ada perubahan. Tubuh Ade sangat lemas dan semakin kurus, ia merasakan sakit pada leher dan wajahnya. Ia pun lebih sering terbaring dan tidak bisa beraktivitas dengan maksimal. Dokter menduga Ade mengalami kanker, namun diagnosis itu dapat dipastikan setelah ada hasil biopsi ulang. Jika sudah pasti, kemungkinan Ade akan menjalani kemoterapi dan operasi pengangkatan. Ade telah memiliki JKN – KIS, namun karena tak memiliki penghasilan ia tidak mampu memenuhi kebutuhan selama pengobatan seperti sewa kos dan biaya hidup sehari – hari. Kondisi tersebut membuat Ade meminta bantuan pada keluarga dekat, namun pengobatan yang dijalani cukup panjang sehingga ia tidak bisa selalu bergantung pada keluarga. Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan dapat membantu kesulitan Ade dengan menyampaikan bantuan untuk sewa kos, kebutuhan sehari – hari, dan kebutuhan lainnya selama pengobatan. Ucapan terima kasih disampaikan Sedekah Rombongan atas bantuan yang disampaikan, semoga semua kebaikan Sedekaholics dibalas Allah SWT, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 4.200.000,-
Tanggal : 29 November 2017
Kurir : @arfanesia Panca Omiyati Edy Fadlun @ririn_restu

Ade menderita TB kelenjar


SAPUTRI BINTI ASWAR (50, Kista Ovarium). Alamat Dusun Karang Anyar, RT 3/2, Desa Sungai Ambangah, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Ibu Saputri sehari – harinya adalah juru masak di panti asuhan yang berada di sebelah rumahnya. Setahun terakhir ibu dari 4 orang anak ini mengalami kista pada ovariumnya. Ibu Saputri sudah pernah menjalani pengobatan di rumah sakit terdekat, namun karena terkendala biaya untuk membeli obat terpaksa ia menghentikan pengobatannya. Beberapa bulan terakhir karena sudah tidak pernah berobat lagi, Ibu Saputri kembali merasakan sakit pada perutnya, namun karena tidak ada jaminan kesehatan dan biaya berobat ia hanya sesekali menjalani pengobatan alternatif di kampungnya. Suami Ibu Saputri, Bapak Salimin (61), yang sehari – harinya bekerja sebagai buruh bangunan tidak mampu membawa istrinya berobat. Alhamdulillah setelah mendapat bantuan dari Sedekah Rombongan, Ibu Saputri telah memiliki JKN – KIS kelas III yang dapat digunakannya untuk berobat. Saat ini ia masih harus menjalani rawat jalan. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk membayar iuran JKN – KIS, dan kebutuhan berobat. Sebelumnya Ibu Saputri tergabung dalam rombongan 1087.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 28 November 2017
Kurir : @ahmadtaqiyudin5 Yuhanizh @rayska197 @ririn_restu

Bu Saputri mengalami kista pada ovarium


KASIH NUR VAJIRA (6, Syndrom Nefrotik + TBC). Alamat : Desa Prapakan Besi, Dusun Besi Kuning, RT 1/1, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Kasih adalah anak dari pasangan Bapak Henri (36) dan Ibu Satriani (34), keduanya bekerja sebagai petani untuk menghidupi ketiga anaknya. Awalnya Kasih merasakan sakit di bagian perutnya pada Juli 2016, setelah itu sejak bulan puasa hingga hari raya ia mengalami diare terus – menerus. Puncaknya pada Agustus 2016 Kasih kembali merasakan sakit di perutnya, kondisi tersebut membuat ia yang begitu ceria menjadi sering menangis karena tak kuat menahan sakit dan kemudian wajahnya membengkak. Setelah beberapa hari hanya dirawat di rumah, bengkak di wajah Kasih pun tak kunjung mereda hingga membuat keluarga khawatir dan membawanya berobat ke Puskesmas Kecamatan Sekura, Kabupaten Sambas. Selama dirawat di Puskesmas Sekura, bengkak di wajah Kasih menjalar ke kaki hingga membuatnya tak bisa berjalan, empat hari kemudian perutnya pun mulai nampak membengkak. Kondisi Kasih tidak mengalami peningkatan dan akhirnya ia dirujuk ke RSUD Sambas. Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan Kasih positif mengalami gagal ginjal (Sindrom Nefrotik). Kasih kemudian dirujuk ke RSUD Pemangkat dan dirawat selama sebelas hari. Pada Oktober 2016 Kasih menjalani kemoterapi yang pertama di RS Singkawang, dalam kondisi tertentu ia memerlukan obat Albumin sebelum dilakukan kemoterapi. Berdasarkan keterangan keluarga Albumin ini tidak ditanggung BPJS sehingga keluarga harus membayar senilai 2 juta rupiah. Pada 20 Januari 2017, Kasih mengalami demam tinggi yang disertai kejang dan ia tidak sadarkan diri sehingga harus dirawat di RS Pemangkat. Dua hari kemudian Kasih dirujuk dan dirawat di RS Serukam dan setelah enam hari dirawat ia masih tak sadarkan diri. Pada saat itu Kasih mendapat jadwal kemoterapi pada tanggal 2 Februari 2017, namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan akhirnya jadwal kemoterapi diundur. Setelah Kasih sadarkan diri dari koma, untuk pemenuhan nutrisi dan buang air harus melalui selang. Napas yang cepat disertai batuk menimbukan kecurigaan dokter bahwa Kasih mungkin juga mengalami infeksi paru setelah dilakukan penanganan dengan Nebulizer. Pada 7 Februari 2017, Kasih mengalami melena (feses berwarna hitam) dan muntah darah yang mengharuskannya menjalani cek darah. Berdasarkan keterangan keluarga dari hasil cek darah yang telah dilakukan, kondisi umum ginjal Kasih tidak mengalami perubahan yang lebih baik dan kondisi paru-parunya telah terinfeksi TBC hingga 82%. Ia pun sempat dirawat di RS Serukam Singkawang dengan kondisi badan membiru dan ikterik (menguning pada kulit dan mata), susah berbicara dan bergerak. Kasih telah menjalani kemoterapinya yang ke-5 pada 23 Februari 2017 dan kondisinya pada saat itu belum juga mengalami peningkatan. Pada 21 Maret 2017 ia mendapat jadwal untuk kemoterapi yang ke-6 namun pada 14 Maret 2017 kondisinya menurun dan lansung dibawa ke RSU Bethesda Kabupaten Bengkayang. Kasih mendapat penanganan pemberian obat Lasix melalui suntikan pada infusan untuk mengeluarkan cairan dari dalam tubuhnya melalui saluran kemih. Sejak awal Mei 2017 Kasih sudah tidak lagi menggunakan obat Lasix dan obat Albumin, untuk kemoterapi yang digunakan sekarang adalah dengan mengonsumsi obat Neoral Ciclosporin. Kasih mengalami infeksi darah yang menyebabkan pendarahan serta pembekakkan di bagian kedua lututnya. Kasih akhirnya mendapatkan penanganan dengan menggunakan obat Metilprednisolon melalui suntikan pada infusan yang akan digunakan hingga 11 Minggu ke depan. Dalam 1 minggu sebelumnya Kasih mendapatkan 3 dosis obat Metilprednisolon, dan setelah masuk minggu ke-8 dikurangi 1 dosis dalam 1 minggu. Setelah 11 minggu mendapat obat Metilprednisolon seharusnya Kasih mendapat pengganti obat yang lebih keras, namun karena usia dan berat badannya yang belum mencukupi akhirnya dokter memutuskan untuk melanjutkan penggunaan Metilprednisolon. Metilprednisolon yang tidak ditanggung BPJS membuat keluarga harus mengeluarkan uang sebesar Rp250.000,- per sekali dosis. Pada 6 Agustus 2017, Kasih mendapatkan perawatan lanjutan di RSU Bethesda Kab. Bengkayang untuk mendapatkan obat Metilprednisolon melalui suntikan pada infus. Menurut keterangan orang tua Kasih, setelah menjalani pengobatan dengan metilprednisolon alhamdulillah ginjal Kasih sudah ada perubahan. Kondisi Kasih pun banyak mengalami peningkatan, namun ia masih harus menjalani terapi dengan obat metilprednisolon. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk membantu transportasi dan akomodasi berobat, pembelian obat Metilprednisolon yang tidak ditanggung BPJS, dan biaya hidup sehari – hari. Sebelumnya Kasih telah dibantu dalam Rombongan 1087.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.455.000,-
Tanggal : 26 November 2017
Kurir: @arfanesia @ahmadtaqiyudin5 @ferian_syah12@rayska197 @ririn_restu

Kasih positif mengalami gagal ginjal (Sindrom Nefrotik)


MARAWIAH BINTI KADIR (72, Tekanan Darah Tinggi + Lumpuh). Alamat : Jln. W.Monginsidi No. 14, RT 11, Desa Tanjung Aru, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Pada awal tahun 2007 Ibu Marawiah diserang tekanan darah tinggi yang disertai kejang, setelah itu kakinya kaku dan tidak bisa digerakkan. Awalnya Ibu Marawiah menjalani rawat jalan di Puskesmas Sungai Nyamuk, namun kondisinya belum mengalami perubahan sehingga selain berobat medis ia juga berobat secara tradisional. Kondisi Ibu Marawiah tetap saja tidak ada perubahan, justru keadaannya semakin memburuk. Ibu Marawiah pernah dibawa ke RSUD Nunukan untuk periksa lebih lanjut, hasilnya ia diagnosis sementara mengalami lumpuh saraf. Saat ini Ibu Marawiah tidak bisa berjalan, untuk beraktivitas ia hanya menggunakan tangannya. Ibu Marawiah adalah seorang janda dengan 5 orang anak, empat anaknya sudah menikah namun hidup mereka juga sangat sulit. Ibu Marawiah kini tinggal bersama anaknya yang belum menikah dan sehari – harinya banyak dihabiskan untuk mengurus rumah. Terkadang anak Ibu Marawiah itu membuat tusuk sate. Dari hasil penjualan tusuk sate itulah Ibu Marawiah dan anaknya memenuhi kebutuhan makan sehari – hari, juga untuk biaya berobat. Keterbatasan biaya dan tidak adanya jaminan kesehatan membuat Ibu Marawiah tidak pernah berobat ke Puskesmas lagi. Kurir Sedekah Rombongan merasakan kesulitan yang dialami Ibu Marawiah, bantuan awal pun disampaikan untuk trasnportasi dan akomodasi berobat. Semoga Ibu Marawiah tetap semangat menjemput kesembuhan, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 28 Oktober 2017
Kurir : @arfanesia Misnawati @rintawulandari @ririn_restu

Bu Marawiah diserang tekanan darah tinggi yang disertai kejang


PASEMA BINTI PATTA (76, Tekanan Darah Tinggi + Lumpuh). Alamat : Jalan Padaelo, RT 9, Dusun 1, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Ibu Pasema mengalami kelumpuhan yang disebabkan serangan stroke pada tahun 2002. Serangan stroke ini akibat tekanan darah Ibu Pasema yang tidak teratur, ia sering mengalami darah tinggi. Selama 15 tahun ini, Ibu Pasema tidak bisa beraktivitas dengan maksimal, ia hanya menggunakan tangannya untuk bergerak. Itu pun kini ia sudah tidak sanggup lagi karena usia yang sudah semakin tua dan kondisi badan yang semakin lemah. Aktivitas Ibu Pasema bergantung pada bantuan anaknya. Ibu Pasema sebelumnya menjalani pengobatan tradisional, namun tidak ada perubahan dan kondisinya semakin menurun. Ibu Pasema kini semakin sering mengeluh sakit. Tekanan darah tingginya juga harus selalu dikontrol ke Posyandu Lansia ataupun ke Puskesmas. Ibu Pasema memiliki JKN – KIS PBI, namun untuk berobat ke rumah sakit keluarganya tidak mampu membawanya karena keterbatasan ekonomi. Ibu Pasema hanya memiliki 1 orang anak, namun kondisinya sangat sulit. Anak Ibu Pasema bekerja sebagai etani dengan tanggungan 8 orang anak. Kurir Sedekah Rombongan merasakan kesulitan yang dihadapi Ibu Pasema, santunan pun diberikan untuk akomodasi dan trasnportasi berobat. Semoga Ibu Pasema senantiasa berikhtiar untuk menjemput kesembuhannya, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 2 November 2017
Kurir : @arfanesia Duwi Subakti @rintawulandari @ririn_restu

Bu Pasema mengalami darah tinggi


MAJALAH TEMBUS LANGIT SEDEKAH ROMBONGAN VOLUME 22 (Biaya Cetak). Gerakan Sosial Sedekah Rombongan kini telah memasuki usia yang ke-6. Selama itu pula, Sedekah Rombongan telah menyalurkan dana bantuan dari Sedekaholic kepada ribuan dhuafa dan orang-orang yang membutuhkan. Semakin hari, kami semakin bertransformasi, salah satu bentuk inovasi kami adalah menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama Majalah Tembus Langit (MTL). MTL adalah Media Inspirasi Gerakan Sedekah Rombongan, saat ini sudah berjalan tahun ke-3 dan sudah memasuki volume yang ke-22. MTL Volume 22 terbit di bulan September 2017. MTL Volume 22 mengangkat Liputan Khusus: ‘Megenal Ambulans Lebih Dekat’. Rubrik lainnya pun tak kalah menarik dan menginspirasi, ada rubrik Aku Ingin Sembuh, Pantang Menyerah, Terus Bergerak, dan sebagainya, silakan menyimak. Volume 22 dicetak sebanyak 1000 eksemplar dan didistribusikan ke lebih dari 20 wilayah kerja Sedekah Rombongan se-Indonesia, untuk kemudian disampaikan kepada Sedekaholic. MTL dibagikan secara cuma-cuma dan didistribusikan ke berbagai instansi seperti klinik, rumah sakit, kantor pemerintah, komunitas sosial, dan lain sebagainya. Juga berbagai kalangan profesi mulai dari karyawan, pengusaha, entertainer, hingga pejabat teras. Proses produksi masing-masing volume majalah ini membutuhkan biaya sebanyak Rp. 8.000.000,- untuk biaya cetak. Hadirnya MTL diharapkan dapat membuka jendela baru untuk mengembangkan jaringan ke seluruh negeri. MTL merupakan wujud ucapan terima kasih kami kepada Sedekaholic dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyaluran sedekah kepada dhuafa dan orang-orang yang membutuhkan yang tergabung lebih dari 1080 Rombongan. MTL juga merupakan salah satu bentuk pelaporan kepada masyarakat pada umumnya dan kepada Sedekaholic pada khususnya, tentang pelaporan dana sedekah yang mereka titipkan melalui Sedekah Rombongan. Semoga MTL dapat terbit setiap bulan secara rutin dan semoga kisah-kisah nyata yang dihadirkan dapat menginspirasi dan menebar manfaat. Amin…

Jumlah Bantuan : Rp. 8.000.000,-
Tanggal : 8 November 2017
Kurir : @Saptuari

Biaya cetak


PAIDAH BINTI SALEH (30, Hamil Besar). Alamat : Jalan Dermaga, RT 3, Desa Tanjung Aru, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Kandungan Ibu Paidah berada dalam usia kehamilan 10 bulan lebih 9 hari, tentu saja ini sudah melewati usia kandungan maksimal pada umumnya. Dalam usia kehamilan yang sudah tua ini, Ibu Paidah sering merasakan nyeri perut yang hilang timbul, berlangsung selama 1 – 2 jam. Awal September lalu, Ibu Paidah memeriksakan kandungannya di bidan Puskesmas Pembantu (Pustu). Ibu Bidan Pustu menyatakan bahwa jika akhir bulan nanti tidak juga melahirkan, maka Ibu Paidah harus segera di rujuk ke RSUD Nunukan karena kehamilannya sangat beresiko tinggi. Ibu Paidah telah dibantu untuk dibuatkan JKN – KIS darurat berdasarkan surat pengantar dinas sosial, namun iurannya tetap saja harus dibayar setiap bulannya. Suami Ibu Paidah, Bonex (44), hanya seorang buruh kerja lepas yang penghasilannya tak tentu, sedangkan Ibu Paidah sendiri bekerja di warung depan sekolah dengan gaji 5 ribu rupiah per hari. Penghasilan keduanya tentu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari apalagi untuk biaya transportasi ke rumah sakit serta kebutuhan persalinan. Kurir Sedekah Rombongan merasakan kesulitan yang dialami Ibu Paidah, santunan pun diberikan untuk membantu biaya melahirkan, serta transportasi ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 28 Oktober 2017
Kurir : @Arfanesia Misnawati @rintawulanda @ririn_restu

Bantuan biaya persalinan


HASLINDA BINTI SOFYAN (16, Dermatitis Kronis). Alamat : Jalan Hasanuddin (Kampung Gunung Belah), Desa Seberang, Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Saat berusia 2 tahun, Haslinda mengalami demam tinggi disertai gatal-gatal seperti kudis di bagian ubun – ubun kepala. Setelah beberapa hari, gatal tersebut semakin terasa dan menyebar ke seluruh tubuhnya terutama di kaki dan tangan. Hingga kini di usia 16 tahun, sakit gatal-gatal disertai nyeri itu masih dirasakan Haslinda. Bila rasa gatal disertai nyeri itu kambuh, tubuh Haslinda mulai tak nyaman dan banyak mengeluarkan keringat. Tidak hanya itu, kulit Haslinda menjadi melepuh seperti luka bakar. Haslinda terkadang berobat di Puskesmas jika orang tuanya mempunyai uang. Ia pun akhirnya menjalani pengobatan herbal karena ketiadaan biaya untuk rutin berobat. Ayah Haslinda, Sofyan, merupakan buruh pelabuhan yang hanya mendapatkan uang 2 kali saja dalam 1 bulan, yaitu saat kapal tol laut datang. Selebihnya Pak Sofyan mencari udang kecil dibantu Haslinda. Haslinda tidak memiliki jaminan kesehatan apapun. Kurir Sedekah Rombongan merasakan kesulitan yang dialami Haslinda, santunan pun diberikan untuk kebutuhan berobat dan membeli makanan bergizi untuk membantu pemulihan kesehatannya.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 31 Oktober 2017
Kurir : @arfanesia Duwi Subakti @rintawulandari @ririn_restu

Haslinda menderita dermatitis kronis


DALLE BIN DAENG PARANI (54, Sebatang Kara + Buta Mata Kanan Sejak Lahir + Benjolan di Lutut + Susp. Rematik). Alamat : Desa Bukit Harapan, RT 1, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Bapak Dalle hidup sebatang kara di gubuk kayu miliknya. Bapak Dalle mengalami kesulitan penglihatan pada mata kanannya sejak lahir. Ia pun sulit berjalan karena ada benjolan di lutut dan kakinya, jika ingin duduk dan berdiri harus perlahan – lahan dan berpegangan. Tak hanya di lutut dan kaki, di tangan kiri dan pergelangannya juga terdapat benjolan. Benjolan tersebut akan hilang jika diobati atau disuntikkan obat anti radang, namun tetap saja benjolan lainnya akan muncul di tempat yang berbeda. Beberapa kali Pak Dalle berobat ke Puskesmas, dokter selalu menyarankan untuk dirujuk ke RSUD Nunukan untuk mendapatkan penganan yang lebih baik. Saran tersebut urung dilakukan karena tidak ada keluarga yang mendampinginya di rumah sakit dan tidak ada biaya. Pak Dalle telah memiliki JKN – KIS mandiri kelas III, ia tidak tahu siapa yang mendaftarkannya. Iuran KIS Pak dalle tidak pernah dibayarkan per bulannya, karena untuk makan sehari – hari saja sangat sulit. Sehari – hari Pak Dalle hanya makan nasi dan garam, atau dengan daun singkong yang tumbuh di belakang rumahnya. Kondisi rumahnya pun sangat tidak terurus. Meski dalam kondisi sakit, Pak Dalle tetap berusaha mencari uang dengan bekerja di kebun warga untuk mendapatkan uang atau sayuran. Kondisi Pak Dalle tidak banyak mengalami perubahan, ia masih hidup dalam kesusahan. Santunan lanjutan pun disampaikan Kurir Sedekah Rombongan dan dibelikan sembako untuk kebutuhan sehari – hari dan keperluan berobat. Sebelumnya Pak Dalle telah dibantu dalam rombongan 1037.

Jumlah Bantuan : Rp. 750.000,-
Tanggal : 28 Oktober 2017
Kurir : @arfanesia @rintawulandari @ririn_restu

Bantuan tunai


REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 RAINA UPIK 500,000
2 ROSNELLY BINTI HAMZAH 1,000,000
3 YUS WARDI 1,000,000
4 YUS WARDI 750,000
5 ARIS TIYAWAN 1,000,000
6 NOLIS BIN SAHIDIN 500,000
7 INDRA HARIMUKTI 500,000
8 AGUS BIN MOMO 500,000
9 UZI LESTARI 750,000
10 ADI CARDIA 500,000
11 BENI BIN YUYU 500,000
12 DAVI PRIAN 750,000
13 LELA NURLELA 750,000
14 DEDEH SUTARNI 750,000
15 ANNA SRI REJEKI 500,000
16 DEDE NENGSIH 500,000
17 IYUK RUKMANA 750,000
18 NINING SITI NURJANAH 500,000
19 MAMAT RACHMAT 500,000
20 OOM BINTI NANANG 500,000
21 MTSR BOGOR 4,000,000
22 MTSR BOGOR 2,750,000
23 MUHAMMAD ROHMAT 1,000,000
24 RIDWAN BIN SABUR 500,000
25 ARIEF HUSEIN 5,000,000
26 ARIEF HUSEIN 5,000,000
27 MARFUAH BINTI MADINA 1,000,000
28 SULAMI BINTI MAEDI 5,000,000
29 RSSR BANDUNG 8,374,450
30 RSSR BANDUNG 1,726,641
31 RSSR BANDUNG 322,000
32 UCI SANUSI 500,000
33 MUHAMMAD RAFLI 500,000
34 MA’SUM BIN UHAN 500,000
35 OOM BINTI MUHDI 500,000
36 AMIN HUSEN 500,000
37 OGIN MAULANA 750,000
38 MUHAMMAD RIZAL 750,000
39 ENDIN BIN SUEB 750,000
40 DIKI PERMANA 500,000
41 UDIN BIN ANTA ARKAWI 500,000
42 SABINA BINTI AWALUDIN 1,200,000
43 DANI BIN NONO DARYONO 500,000
44 MARYAMAH BINTI OTENG 600,000
45 ROHANIAH BINTI KURDI 1,000,000
46 SUCI BINTI SAMSUDI 600,000
47 SUNARSIH BINTI SOMADI 500,000
48 ICOH BINTI MISJA 800,000
49 YAQUB SETIAWAN 1,000,000
50 TITIN PRIATIN 500,000
51 NURJAMIL IDRIS 500,000
52 EEM BINTI ENJON 500,000
53 ANIH SUMARNI 500,000
54 DIDIN SYAEFUDIN 500,000
55 RINI ASTUTI 1,000,000
56 UJANG KUSNADI 15,000,000
57 TUGINAH BINTI ABDURRAHMAN 1,000,000
58 KHAIZURAN AUFAR 2,700,000
59 RIZWAN HADI 1,500,000
60 ADE IRMANSYAH 4,200,000
61 SAPUTRI BINTI ASWAR 1,000,000
62 KASIH NUR VAJIRA 1,455,000
63 MARAWIAH BINTI KADIR 1,000,000
64 PASEMA BINTI PATTA 1,000,000
65 MAJALAH TEMBUS LANGIT SEDEKAH ROMBONGAN VOLUME 22 8,000,000
66 PAIDAH BINTI SALEH 1,000,000
67 HASLINDA BINTI SOFYAN 1,000,000
68 DALLE BIN DAENG PARANI 750,000
Total 102,728,091

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 102,728,091,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 1092 ROMBONGAN

Rp. 58,159,724,892,-