Rombongan 1075

Sedekah membawa keberkahan atas harta yang dimiliki
Posted by on November 12, 2017

ABDULAH FAISAL (30, Keracunan Obat). Alamat : Jalan Jelupang Utama, RT 3/5, Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Faisal kini sedang berada dalam penanganan dokter di sebuah rumah sakit swasta di Kota Tangerang Selatan. Faisal awalnya mengeluh seluruh tubuhnya terasa nyeri, ia pun mengonsumsi obat yang dibelinya di warung. Setelah minum obat, bukannya bertambah baik namun Faisal merasa dadanya sesak, tubuhnya terasa panas, hingga pingsan. Saat tetangga Faisal, Usman (35), ke kontrakannya, ia terkejut melihat Faisal yang tergeletak tak sadarkan diri. Sesegera mungkin Usman membawa Faisal ke rumah sakit terdekat mengingat Faisal yang sudah tak sadar dan mulut penuh busa. Faisal pun ditangani oleh dokter secara itensif dan dirawat selama beberapa hari. Dokter mengatakan Faisal mengalami keracunan obat, dan setelah ditelusuri obat yang diminumnya sudah kadaluarsa. Rumah sakit swasta tersebut tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Faisal pun belum memilliki JKN – KIS karena terkendala administrasi dan ia hidup sebatang kara. Akhirnya biaya pengobatan harus dipenuhi agar Faisal dapat kembali pulang. Faisal sehari-hari bekerja sebagai tukang antar minum isi ulang, penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari – hari dan membayar kontrakan. Kurir Sedekah Rombongan pun akhirnya menyampaikan bantuan untuk membayar biaya rumah sakit dan kebutuhan sehari – hari Faisal selama pemulihan.

Jumlah Bantuan : Rp. 5.000.000,-
Tanggal : 4 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Faisal mengalami keracunan obat


MUHAMMAD NUR CHOLIK (18, TB Tulang). Alamat : Kelurahan Sunter JAya, Kecamatan Tanjung Priok, RT 6/5, Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta. Putra dari Bapak Suratno (40), dan Ibu Nurkhayati Sulistiowati (37) ini menderita TB tulang sejak 7 bulan yang lalu. Mulanya ia batuk terus – menerus selama dua bulan namun setelah diperiksakan kondisi paru – parunya baik. Selain batuk, Cholik juga mengalami kesulitan berjalan dan setelah menjalani berbagai pemeriksaan medis akhirnya ia didiagnosis menderita TB Tulang. Lama – kelamaan kondisi Cholik semakin memburuk diawali dengan kebalnya kaki hingga akhirnya ia mengalami kelumpuhan. Orang tua Cholik berupaya untuk pengobatan anaknya dan membawanya ke Jakarta agar mendapat penanganan yang lebih maksimal. Didampingi ibunya dan menumpang tinggal di rumah keluarga di Jakarta, Cholik berikhtiar untuk pengobatannya. Kondisi Cholik semakin menurun hingga sempat dibawa ke UGD RS Fatmawati Jakarta. Saat itu ia belum memiliki jaminan kesehatan apapun sehingga biaya pengobatan harus ditanggung orang tuanya. Lebih dari dua minggu Cholik dirawat dan belasan juta rupiah harus dibayarkan orang tuanya. Penghasilan Bapak Suratno sebagai pembuat batako dan Ibu Nurkhayati yang sudah meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh jahit tak mampu melunasi biaya pengobatan Cholik. Simpanan untuk berobat telah semua dikeluarkan namun masih saja menyisakan tagihan lebih dari 9 juta rupiah yang akhirnya harus dicicil setiap bulannya. Akhirnya orang tua Cholik berusaha membuat JKN – KIS, namun karena keterbatasan informasi bahwa meski Cholik beridentitas luar daerah ia dapat membuat KIS di Jakarta, ia dan ibunya kembali ke Banjarnegara untuk membuat KIS di sana. Selama tiga bulan Cholik hanya dirawat di rumah dan tidak pernah lagi berobat karena belum memiliki jaminan kesehatan. Akhirnya KIS mandiri kelas III dimiliki Cholik dan ia kembali melanjutkan pengobatannya di Jakarta. Saat kurir Sedekah Rombongan menjenguknya, Cholik sudah dirawat di RS Fatmawati selama dua bulan. Ia sudah menjalani biopsi untuk mengetahui apa yang menyebabkan kelumpuhannya. Hasil biopsi menunjukkan Cholik negatif mengidap kanker, dokter masih terus mengobservasi kondisi Cholik hingga ada perkembangan diagnosis pastinya. Setelah menjalani rawat inap cukup lama, Cholik diperbolehkan pulang dan diharuskan menjalani rawat jalan. Cholik telah menjalani operasi pemasangan pen dan masih harus rutin berobat ke poli ortopedi untuk mengecek perkembangan tulangnya pasca operasi dan ke poli paru untuk cek rutin sakit TB Parunya. Kondisi Cholik belum banyak perubahan, ia masih terbaring lemah dan masih berobat rutin ke Poli Orthopodi dan Poli Paru – Paru. Cholik juga masih rutin minum obat TB Parunya dan tidak boleh putus. Dokter menyatakan masih ada harapan untuk Cholik dapat berjalan, namun membutuhkan pengobatan yang cukup lama. Dokter Ortopedi akan mengajukan tindakan operasi pada kakinya agar tidak terlalu kaku. Cholik yang selama ini hanya dapat terbaring, membuat pantatnya terdapat luka (decubitus) dan harus selalu dibersihkan. Cholik masih melakukan kontrol rutin ke RS Fatmawati. Menurut dokter di Poli Ortopedi, kaki Cholik ada pergerakkan. Kemungkinan Cholik bisa kembali pulih yang tentunya didukung dengan keseriusan berobat dan semangat yang tinggi. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk operasional berobat dan membeli keperluan untuk perawatan lukanya. Sebelumnya Cholik telah dibantu dalam rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Nur menderita TB Tulang


TERAPI WICARA RS FATMAWATI JAKARTA (Terapi Wisata ke Gelanggan Samudra Ancol). Alamat : Poliklinik Tumbuh Kembang RS Fatmawati Jakarta, Jln. RS Fatmawati, Kel. Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Prov. DKI Jakarta. Terapi Wisata merupakan kegiatan rutin tahunan Poliklinik Tumbuh Kembang RS Fatmawati Jakarta. Terapi Wisata biasanya dilakukan 1 – 2 kali dalam satu tahun. Peserta dalam terapi wisata ini adalah anak-anak yang menjalani terapi di poliklinik tumbuh kembang anak RS Fatmawati Jakarta. Mereka adalah para penderita dislogia yakni gangguan bicara akibat kelainan perkembangan mental seperti yang dialami anak dengan Autis, Celebral Palsy, Downsyndrom juga para penderita disaudia atau gangguan pada pendengaran. Selain Terapi Wisata, ada juga kegiatan rutin bulanan yang dilakukan di rumah sakit. Dalam kegiatan tersebut para peserta diterapi secara bersama-sama sambil melakukan berbagai permainan. Agar anak – anak tidak bosan hanya berkegiatan di rumah sakit, maka diadakan terapi wisata yang bertujuan agar mereka mengenal dunia luar dan mampu bersosialisasi serta dapat belajar sambil berekreasi. Sebagian besar anak-anak berasal dari keluarga tidak mampu. Pada pertengahan bulan November 2017, Poliklinik Tumbuh Kembang Anak mengadakan kembali kegiatan terapi wisata ke Taman Matahari, Cisarua, Bogor. Kegiatan ini akan diikuti oleh sebanyak 38 anak. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk transportasi dan akomodasi kegiatan ini. Sebelumnya terapi wisata Poliklinik Tumbuh Kembang RS Fatmawati telah dibantu pada Rombongan 905.

Jumlah Bantuan: Rp. 3.000.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Bantuan untuk transportasi dan akomodasi terapi wicara


SURONO BIN ATMOREJO (45, HNP + Paraplegia Spastik). Alamat : Cipete Utara, RT 2/3, Kelurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Awal mula pertemuan Kurir Sedekah Rombongan dengan Pak Surono adalah saat ia dirawat inap di RS Fatmawati yang telah dijalaninya selama 5 bulan. Pak Surono mengidap penyakit HNP atau Saraf Kejepit di bagian saraf utamanya. Awalnya Pak Surono terjatuh dari gedung lantai 2 saat bekerja sebagai buruh bangunan. Pak Surono dibawa ke UGD RS Fatmawati oleh rekan-rekannya pada 26 Maret 2016. Keesokannya, Pak Surono dipindahkan ke ruang Highcare selama 2 minggu, kondisinya membaik sehingga dipindahkan ke ruang perawatan di Gedung Soelarto. Pada 28 Mei 2016, Pak Surono mendapatkan tindakan operasi di bagian leher karena pada bagian toraknya ada yang patah, selain itu untuk mengatasi saraf kejepit di bagian saraf utamanya yakni saraf penggerak. Pasca operasi Pak Surono menjalani terapi di Poli Rehabmedik untuk melatih kemandiriannya dalam beraktivitas nantinya. Istri Pak Surono, Sucianingsih (42), dengan setia selalu mendampinginya. Saat Pak Surono dirawat hingga lebih dari 5 bulan, istrinya ikut tinggal di rumah sakit sehingga pada saat itu mereka tidak memiliki tempat tinggal karena tak mampu membayar sewa kontrakan. Kondisi tersebut bahkan membuat anaknya yang berusia 6 bulan dititipkan ke pedagang minuman mengingat di usia tersebut sangat rentan terserang virus jika berada di rumah sakit. Pak Surono selama ini berobat menggunakan KIS yang dibiayai Pemda Jakarta. Kurir Sedekah Rombongan kembali bertemu dengan Pak Surono setelah dihubungi Bu Sucianingsih. Kurir pun mengunjungi Pak Surono yang kini hanya dapat terbaring di kasur usang miliknya. Berdasarkan cerita dari Bu Sucianingsih, Pak Surono sudah tidak lagi dapat berobat. Untuk melanjutkan pengobatan, Pak Surono harus memperbaharui rujukannya mulai dari Puskesmas. Kondisinya yang tidak dapat berjalan membuat ia tidak dapat berobat ke Puskesmas, sang istri pun kesulitan karena tak memiliki uang untuk transportasi berobat dan jika pun ada kondisi Pak Surono sulit dipindahkan karena merasa kesakitan. Karena terus berbaring dalam waktu yang cukup lama, membuat bokong Pak Surono terluka. Luka tersebut harus rutin dibersihkan, namun Bu Sucianingsing tak selalu memiliki uang untuk membeli cairan pembersih yang dibutuhkan. Semenjak Pak Surono sakit, Bu Sucianingsih yang menggantikannya mencari nafkah. Bu Sucianingsih berjualan makanan ringan di depan kontrakannya, hasil yang didapat berusaha ia cukupkan untuk kebutuhan sehari – hari. Pak Surono dan Bu Sucianingsih beserta ketiga anaknya terpaksa tinggal seadanya di kontrakan 1 kamar berukuran 3 x 3 meter. Kondisi tempat tinggal yang sangat sempit dan pengap tentunya tak baik bagi kesehatan Pak Surono, terlebih lagi ia memiliki anak yang masih berusia balita. Pak Surono saat ini menempati kontrakan yang baru dengan biaya yang lebih murah, namun kondisinya tak jauh berbeda dengan kontarakan sebelumnya. Bu Sucianingsih merasa berat untuk membayar kontrakan sebelumnya, sehingga ia mencari kontrakan yang lebih murah. Belum lagi ia harus memenuhi kebutuhan Pak Surono. Alhamdulillah kini Pak Surono dapat kembali berobat sebulan sekali dengan didampingi sang istri yang selalu setia. Kondisi Pak Surono masih belum banyak peningkatan, ia hanya dapat terbaring di tempat tidurnya dengan tubuh yang semakin mengurus. Pak Surono juga mengalami paraplegia spastik dimana otot – otot tubuh pada bagian yang lumpuh dalam kondisi kaku, mengalami kejang – kejang, dan pergerakannya tidak bisa dikontrol. Kaki Pak Surono sering bergerak tanpa ia sadari. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk membeli obat perawatan luka serta untuk operasional berobat ke RS Fatmawati. Sebelumnya Pak Surono dibantu pada rombongan1040.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Pak Surono mengidap penyakit HNP


SANDRA WATI (43, Penurunan Kekebalan Tubuh). Alamat : Gang Asem, RT 2/5, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Sandra merupakan pasien dampingan Sedekah Rombongan. Ibu dua orang anak ini tidak mengira bahwa dirinya terjangkit virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh. Kondisi tersebut ia alami setelah sang suami, Fajar (37), lebih dulu terjangkit penyakit yang sama pada tahun 2010. Ia tidak putus asa dengan apa yang dialaminya dan tetap bersemangat untuk berobat. Anak pertama Sandra, Aulya (11) positif mengalami sakit yang sama sepertinya, sedangkan anak keduanya, Lutfi (9), dinyatakan negatif setelah melakukan tes sebanyak tiga kali. Fajar belum mempunyai pekerjaan, oleh karena itu kebutuhan sehari-hari dipenuhi oleh Sandra yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Berbekal JKN – KIS kelas III yang kini telah dimiliki, Sandra beserta suami dan anaknya masih menjalani pengobatan rutin. Alhamdulillah berdasarkan pemeriksaan terakhir Lutfi masih berstatus negatif. Aulia dan Sandra kondisinya sering menurun, hal ini dimungkinkan karena Sandra kelelahan bekerja dan kegiatan Aulia di sekolah cukup banyak. Alhamdulillah mulut Aulia yang sebelumnya berjamur kini sudah kembali membaik. Sandra ingin sekali berhenti bekerja karena kondisinya sering menurun, namun hal itu tak dapat ia lakukan karena hanya ia lah yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan membayar kontrakan. Sandra, Indra, dan Aulya masih rutin menjalankan kontrol dan minum obat. Rencananya, mereka akan kembali melakukan pemeriksaan CD4 untuk mengetahui kondisi terakhir virus yang menjangkitinya. Sebelumnya keluarga Sandra telah dibantu pada Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Bu Sandra menderita penurunan daya kekebalan tubuh


JAHROTUL UYUN (40, Pneumonia + Pembengkakan Jantung + Maag Kronis). Alamat : Kp. Tirtayasa, RT 3/1, Kel. Tirtayasa, Kec. Tirtayasa, Kab. Serang, Prov. Banten. Ibu Uyun kerap anak – anak didiknya memangilnya. Ibu dari empat orang anak ini setiap harinya berprofesi sebagai guru mengaji di desanya. Sejak dua tahun lalu, Ibu Uyun sering mengalami sesak napas diserai batuk. Semakin lama kondisinya semakin memburuk, hingga Ibu Uyun berobat ke klinik terdekat. Sakit yang tak kunjung sembuh membuat Ibu Uyun memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengecekan, Ibu Uyun dinyatakan mengidap paru – paru basah (pneumonia). Ibu Uyun harus kontrol setiap sebulan sekali hingga dinyatakan sembuh. Setelah berjalan enam bulan, penyakit yang diderita Ibu Uyun tidak hanya paru-paru basah, ternyata jantungnya mengalami pembengkakan. Selama ini Ibu Uyun berobat tanpa jaminan kesehatan. Ibu Uyun harus bekerja keras menyisihkan rezekinya untuk berobat, terkadang Ibu Uyun terpaksa meminjam uang pada saudaranya. Penghasilan suaminya yang juga berprofesi sebagai guru mengaji tidaklah seberapa, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya. Kondisi Bu Uyun sempat menurun dan mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh dan disertai sesak napas hingga suaranya hilang. Bu Uyun disarankan menjalani rekam jantung dan masih harus menjalani kontrol rutin setiap satu bulan sekali. Jadwal rekam jantung Bu Uyun sudah mendekati harinya, namun ia kebingungan karena belum membayar iuran JKN – KIS dan tak memiliki uang untuk transportasi berobat. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi berobat dan rekam jantung, serta membayar iuran JKN – KIS. Sebelumnya Bu Uyun telah dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @misnaminan @fatmaalwiny @ririn_restu

Ibu Uyun dinyatakan mengidap paru – paru basah


MAMDUDAH BINTI TARI (16, Kanker Paru – Paru). Alamat : Ds. Rancalabuh, RT 9/2, Kec. Kemiri, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Gadis belia ini biasa dipanggil Emam, ia adalah anak dari seorang buruh tani. Emam sakit sejak dua tahun yang lalu, berawal ketika ia selalu merasakan sesak napas disertai batuk yang tak kunjung sembuh. Berbagai macam obat dari beberapa klinik telah ia minum namun tak ada hasil, kondisinya semakin memburuk. Setahun terakhir berat badan Emam semakin menurun, tubuhnya sangat kurus dengan perut yang buncit. Setiap malam Emam tak bisa tidur karena napasnya selalu terengah – engah disertai batuk yang bertambah parah dan ia juga mengalami diare. Sampai akhirnya Emam harus dilarikan ke RSUD karena kondisinya semakin memburuk. Kedua orang tuanya harus meminjam uang ke sanak saudaranya untuk sewa kendaraan agar bisa membawa Emam ke rumah sakit. Meski biaya pengobatan ditanggung JKN – KIS kelas III, orang tua Emam sangat binggung untuk biaya transportasi dan kebutuhan selama di rumah sakit. Setelah 1 bulan menjalani rawat jalan, Emam sempat kembali dirawat inap untuk yang kedua kalinya. Kondisinya belum juga membaik, bahkan semakin memburuk. Tubuh Emam semakin kurus dan lemah, ia mengalami kerontokkan pada rambutnya hingga mengalami kebotakan. Emam diharuskan menjalani rawat jalan 3 kali dalam 1 bulan, orang tuanya berupaya berbagai cara untuk kesembuhan anaknya dengan membawa Emam ke pengobatan alternatif. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi dan akomodasi berobat. Sebelumnya Emam telah dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @fatmahalwiny @misnamina @ririn_restu

Emam menderita kanker paru-paru


AHMAD SYAFEI (17, Benjolan di Leher). Alamat : Kp. Rancalabuh, RT 6/1, Ds. Rancalabuh, Kec. Kemiri, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Fe’i biasa ia disapa adalah seorang remaja yang tinggal jauh dari orang tuanya karena harus menuntut ilmu dan tinggal di pesantren. Sejak satu tahun yang lalu, Fe’i mengeluh sakit pada lehernya yang lama – kelamaan muncul benjolan kecil. Badan Fe’i kerap demam dan rasa sakit di bagian lehernya juga tak kunjung hilang. Melihat kondisi Fe’i yang sering sakit, pihak pesantren mengizinkannya pulang untuk berobat. Kedua orangtua Fe’i langsung membawanya ke klinik terdekat., namun dokter yang menanganinya langsung merujuk ke RSU Balaraja karena keterbatasan alat medis. Setelah dirujuk di RSU Balaraja, Fe’i menjalani beberapa pemeriksaan dan dokter menganjurkannya untuk dioperasi. Sembari menunggu jadwal operasi, Fe’i dianjurkan untuk kontrol setiap satu bulan sekali, namun pengobatanya terhenti karena ketiadaan biaya. Orangtua Fe’i yang berprofesi sebagai guru ngaji, penghasilanya haya cukup untuk makan sehari – hari. Setelah pengobatannya terhenti, kondisi Fe’i semakin memburuk dengan benjolan di leher yang semakin membesar. Syukur Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan Fe’i. Kurir Sedekah Rombonngan memberikan bantuan awal untuk biaya transportasi dan akomodasi di rumah sakit. Selama ini Fe’i berobat menggunakan JKN – KIS kelas III. Semoga Fe’i cepat sembuh dan dapat segera kembali ke pesantren untuk melanjutkan menuntut ilmu.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangdwimplus @pratama_chatur @misnamina @fatmahalwiny @ririn_restu

Fei menderita benjolan di leher


MUHAMMAD FATIH MUZAKI (3, Epilepsi + Gangguan Saraf + Otak Mengecil). Alamat : Ds. Rancalabuh, RT 1/1, Kec. Kemiri, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Fatih sapaan ade kecil yang berbadan gempal ini, ia mengalami sakit sejak berusia lima bulan. Ketika bayi – bayi seusianya sudah bisa menangkap dan merespon orang yang mengajak bicara, mata; pendengaran; serta anggota tubuh Fatih lainnya tidak memberikan respon apa – apa. Bidan desa yang memeriksa Fatih langsung merujuknya ke RS Sari Asih Tangerang. Betapa terkejutnya orang tua Fatih, Bapak Fadli (31) dan Ibu Farihah (26), ketika mendengar diagnosis dokter bahwa Fatih mengalami gangguan saraf dan pengecilan otak. Bapak Fadli yang kesehariannya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan kurang dari Rp 2 juta harus menguras tenaga dan pikirannya untuk pengobatan putra satu – satunya ini. Untuk memastikan diagnosis dokter sebelumnya, orang tua Fatih membawanya berobat ke RS Siloam Tangerang dan RS Usada Insani dan dokter di kedua rumah sakit tersebut mendiagnosis penyakit yang sama. Fatih harus menjalani pemeriksaan secara intensif dan harus melakukan fisioterapi 2 hari sekali. Tiga tahun sudah Fatih melakukan pengobatan ke berbagai rumah sakit dan pengobatan alternatif, namun kondisinya belum banyak perubahan. Keluarga pun hampir putus asa dan menyerah, walaupun biaya pengobatan ditanggung BPJS, namun mereka kesulitan untuk biaya transportasi setiap kali kontrol karena rumah sakit yang dituju jaraknya cukup jauh dari rumah dan Fatih tidak memungkinkan dibawa menggunakan motor. Setiap kali berobat orang tua Fatih harus sewa mobil yang biayanya cukup mahal. Pengobatan Fatih pun akhirnya sempat dihentikan karena tidak ada biaya. Alhamdulillah kurir sedekah rombongan dipertemukan dengan Fatih dan kini ia bisa berobat kembali. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi berobat menyewa mobil. Sebelumnya Fatih dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @misnamina @fatmahalwiny @ririn_restu

Fatih mengalami gangguan saraf dan pengecilan otak


LATIFAH BINTI SALWAN (45, Gagal Ginjal). Alamat : Kp. Banyawakan Jaya, RT 6/7, Desa Klebet, Kec. Kemiri, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Ibu Latifah adalah seorang janda dengan dua anak yang berusia 16 tahun dan 9 tahun. Sejak 3 tahun yang lalu, Ibu Latifah menderita sakit gagal ginjal dengan gejala awal seluruh tubuh menguning disertai demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Saat itu suaminya membawanya berobat sampai akhirnya dokter mendiagnosis Ibu Latifah mengalami gagal ginjal. Cobaan Ibu Latifah semakin bertambah, karena suaminya pergi dan menikah lagi dengan orang lain. Ibu Latifah pun kini menjalani hidup dengan kedua anaknya, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari ia berjualan jajanan anak – anak di depan rumahnya. Lambat laun penyakit Ibu Latifah semakin memburuk. Ibu Latifah dirujuk ke RSU Siloam Tangerang yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggalnya. Setahun sudah Ibu Latifah bolak – balik ke rumah sakit untuk cuci darah, dan meski menggunakan Jamkesmas ia telah menghabiskan banyak dana untuk operasional berobat. Rumah tempat ia bernaung bersama anak – anak, dan menjadi harta satu – satunya yang dimiliki terpaksa ia jual untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya berobat. Kini Ibu Latifah dan anak-anaknya tinggal bersama orang tuanya yang sudah sepuh. Jika kondisinya menurun, wajah Ibu Latifah membiru dan membengkak karena kekurangan sel darah putih. Ibu Latifah diharuskan menjalani cuci darah rutin 3 kali seminggu. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya transportasi berobat dan cuci darah rutin ke RSU Siloam. Sebelumya Ibu Latifah di bantu di Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan: Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @pratama_chatur @endangmplus @misnamina9 @fatmahalwiny @ririn_restu

Ibu Latifah mengalami gagal ginjal


RINI PERMATASARI (3, Limfangioma). Alamat : Desa Pontang, RT 10/3, Kec. Pontang, Kab. Serang, Prov. Banten. Rini menderita Limfangioma sejak dilahirkan, dimana terjadi pembengkakan di wajah mungilnya yang semakin besar bahkan hingga menutupi sebagian wajahnya. Rini sudah menjalani pengobatan di berbagai rumah sakit, namun orang tuanya akhirnya menghentikan pengobatannya karena tak lagi ada biaya. Alhamdullillah Rini kembali dapat berobat dan sudah menjalani operasi pertama di RSUD Serang, ia masih harus menjalani dua kali lagi tahap operasi. Walaupun Rini sudah memiliki JKN – KIS, keluarga masih mengalami kendala biaya transportasi, karena jarak dari rumah ke RSUD lumayan jauh dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Orang tua Rini, Andri dan Sueha, bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk biaya hidup sehari – hari. Rini akhirnya menjalani operasi yang keduanya pada tanggal 1 Mei 2017. Rini dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto, dan telah menjalani operasi ketiga kalinya di sana. Alhamdullilah kondisi Rini semakin membaik, benjolan yang sebelumnya menutupi hampir seluruh wajahnya kini semakin berkurang. Kondisi wajahnya sudah banyak perubahan namun masih harus menjalani kontrol rutin dan kemungkinana akan kembali menjalani beberapa kali tahapan operasi. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi dan akomodasi berobat ke Jakarta dari rumahnya di Serang. Sebelumnya Rini telah dibantu pada rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp 1.000.000,-
Tanggal : 5 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @fatmahalwiny @ririn_restu

Rini menderita Limfangioma sejak dilahirkan


NANO BIN RISA (35, Pneumonia). Alamat : Kp. Risah, RT 8/2, Ds. Kedung Dalam, Kec. Mauk, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Anak ke-5 dari enam bersaudara ini biasa dipanggil Bang Nano. Sudah hampir 1 tahun Bang Nano mengalami batuk yang disertai sesak napas. Selama ini Bang Nano tak mempedulikan sakit yang dialami, namun karena tak kunjung sembuh akhirnya ia memeriksakan diri ke dokter yang menyarankannya untuk berobat ke rumah sakit. Ketiadaan biaya berobat membuat Bang Nano hanya mengonsumsi obat yang dibelinya di apotek. Akhirnya Bang Nano berupaya membuat JKN – KIS agar dapat digunakan untuk berobat di RSUD. Dokter mengatakan bahwa Bang Nano terkena pneumonia atau paru-paru basah dan harus kontrol setiap satu bulan sekali. Sakit yang diderita membuat Bang Nano sempat tak bisa lagi mencari nafkah karena jika terlalu lelah ia langsung mengalami sesak napas. Ia pun akhirnya bergantung pada orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani. Setelah memiliki JKN – KIS kelas III, alhamdulilah biaya pengobatan Bang Nano terpenuhi dan ia dapat kembali berobat. Kondisi Bang Nano kini mulai membaik dan sudah dapat bekerja, itupun jika ada yang membutuhkan tenaganya dan ia belum bisa bekerja berat. Kondisi itu membuat Bang Nano belum bisa memenuhi kebutuhan pengobatannya seperti untuk membayar iuran JKN – KIS dan biaya transportasi ke rumah sakit. Sebelumnya Bang Nano tidak bisa bicara dengan normal akibat terganggu pita suaranya, alhamduillah kini suaranya membaik dan kembali pulih. Berat badan Bang Nano pun bertambah dan terlihat lebih segar. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi berobat dan membayar iura JKN – KIS. Semoga Bang Nano segera pulih sehingga dapat bekerja kembali. Sebelumnya Bang Nano telah dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir:@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @misnaminang @Fatmah @ririnrestu.

Bang Nano terkena pneumonia atau paru-paru basah


ADE YULIAWATI (26, TB Paru + Pembengkakan Jantung). Alamat : Kp. Risah, RT 8/2, Ds. Kedung Dalem, Kec. Mauk, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Ade didiagnosis mengalami TB Paru dan pembengkakan jantung sejak 3 tahun lalu. Awal mulanya Ade selalu merasakan sesak napas dan batuk yang tak kunjung sembuh. Setiap hari Ade merasakan sesak napas dan badan mengigil kedinginan ketika ia mau tidur. Kondisi Ade semakin memburuk, berat badanya semakin menurun. Anak ketiga dari lima bersaudara ini kini tinggal bersama ibu dan kedua adiknya yang masih bersekolah. Setelah ayahnya meninggal, Ade menjadi pengganti ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. Sejak sakit, Ade berhenti bekerja karena kondisinya yang semakin tidak memungkinkan, namun ia tak mau menyerah begitu saja, ia berjualan jajanan anak- anak di rumah kecilnya. Ia tetap semangat mencari rezki untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, walau terkadang kerap merasa sesak napas ketika terlalu capai. Selama ini Ade rutin berobat di Puskesmas terdekat setiap setengah bulan sekali. Dokter yang menangani Ade di Puskesmas menyarankannya untuk kontrol ke RSUD. Ketiadan biaya membuat Ade mengurungkan niatnya untuk berobat. JKN – KIS yang pernah ia miliki sewaktu bekerja kini tidak bisa dipergunakan, karena ada tunggakan selama satu setengah tahun. Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan sebelumnya telah menyampaikan bantuan untuk pembayaran iuran JKN – KIS. Kini Ade bisa berobat rutin setiap dua minggu sekali dan ia tidak boleh putus minum obat. Perkembangan kesehatan Ade belum banyak mengalami peningkatan, beberapa hari yang lalu kondisinya sempat menurun, ia mengalami sesak napas hebat hingga langsung dibawa ke klinik terdekat. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya transportasi dan akomodasi berobat. Sebelumnya Ade dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @misnamina @fatmahalwiny @ririn_restu

Ade didiagnosis mengalami TB Paru dan pembengkakan jantung


MUTIAH BINTI ABDUL MAJID (65, Diabetes + Jantung Koroner). Alamat : Kp. Cimentul, RT 10/2, Kec. Kronjo, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Bu Mutiah kini hanya tinggal berdua bersama suaminya. Kedua anak perempuannya sudah berkeluarga dan ikut bersama suaminya. Suami Bu mutiah bekerja sebagai buruh tani di desanya, namun tidak setiap hari ada orang yang menyuruhnya bekerja. Ketika musim tanam selesai suami Bu Mutiah kerap menganggur. Waktu luang banyak dimanfatkan oleh suami Bu Mutiah menjadi marbot masjid. Sudah setengah tahun terakhir ini Bu mutiah harus rutin berobat ke RS Balaraja karena menderita komplikasi diabetes dan jantung koroner. Walaupun biaya pengobatan Bu Mutiah ditanggung KIS yang dimilikinya, ia masih harus mengeluarkan banyak biaya untuk transportasi berobat. Jarak rumah Bu Mutiah ke rumah sakit cukup jauh, dan sangat jarang ada kendaraan umum melewati daerah rumahnya. Terkadang Bu Mutiah terpaksa meminjam uang pada tetangga untuk biaya transportasi berobat. Penghasilan suaminya yang tak menentu hanya cukup untuk makan sehari – hari. Kondisi Bu Mutiah belum banyak mengalami perkembangan yang signifikan, namun tangannya yang semula tidak bisa digerakkan kini sudah pulih kembali. Bu Mutiah masih harus rutin ke rumah sakit sebulan dua kali. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk biaya transpotasi berobat dan membeli obat yang tidak ditanggung BPJS. Sebelumya Bu Mutiah telah dibantu dalam rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir : @Nurmanmlana @Endangmplus @pratama_chatur @Misnamina @Fatmahalwiny @ririn _restu

Bu Mutiah menderita diabetes + jantung koroner


ULMI YANTI (30, Susp. Tumor Pipi + Mata Berair). Alamat : Ds. Pangarengan, RT 2/1, Kec. Rajeg, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Mba Ulmi biasa disapa adalah seorang ibu rumah tangga yang keseharianya merawat anak dan keluarganya. Sejak satu tahun lalu, berawal dari sakit gigi yang tak kunjung sembuh, lama – kelamaan ada benjolan di pipi Mba Ulmi. Mba Ulmi langsung berobat ke Puskesmas terdekat. Setelah berobat sakit giginya sembuh, namun benjolan di pipinya tak kunjung sembuh, bahkan semakin membesar. Selain itu Mba Ulmi kerap mengeluarkan air dari matanya. Melihat kondisi Mba Ulmi, suaminya membawanya ke Puskesmas kembali. Setelah dilakukan pemeriksaan, Mba Ulmi langsung diberi rujukan ke RSUD Tangerang. Mba Ulmi pun menjalani berbagai proses pemeriksaan, mulai dari rontgen sampai CT – Scan dan dokter pun menyarankan untuk dioperasi. Mba Ulmi berobat menggunakan JKN – KIS kelas III, kini ia sedang menunggu jadwal operasi. Selama menunggu jadwal tersebut ia harus kontrol setiap satu bulan sekali. Mba Ulmi kerap kebinggungan setiap jadwal kontrol, karena ia tidak mempunyai uang untuk biaya transportasi dan akomodasi ke rumah sakit. Suaminya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Beruntung Allah mempertemukan Kurir Sedekah Rombongan dengan Mba Ulmi, kurir pun memberikan bantuan guna biaya transportasi berobat. Semoga Mba Ulmi segera diberi kesembuhan

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana@endangdwimplus @pratama_chatur @misna_mina@fatmahalwiny@ririn_restu

Bu Ulmi menderita susp. tumor pipi + mata berair


ROMDONI BIN ENDI (12, Kanker Tulang). Alamat : Kp. Pabuaran, RT 2/2, Ds. Buniayu, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Putra sulung pasangan Bapak Endi dan Ibu Aminah ini kondisinya sangat memprihatinkan, tulang kaki dan tangan Romdoni mengecil; ia juga tidak bisa bicara karena pendengarannya terganggu. Kesehariannya Doni lalui hanya di tempat tidur, agar tidak bosan orang tuanya terkadang menggendongnya keluar dan membaringkannya di balai bambu di depan rumahnya. Kondisi ini telah berlangsung sejak 12 tahun lalu, awalnya Doni terserang demam dan panas tinggi yang disertai kejang-kejang. Orang tua Doni kemudian membawanya berobat ke klinik terdekat tetapi penyakit tak juga sembuh, justru ia semakin sering mengalami kejang. Penglihatan mata Doni pun mengalami gangguan, ia mengalami mata juling. Akhirnya Doni dibawa ke rumah sakit, dan setelah diperiksa dokter menyatakan ia mengalami kanker tulang. Keadaan ekonomi keluarga Doni yang kekurangan, serta jauhnya jarak ke rumah sakit membuat orang tua Doni tidak sanggup untuk melanjutkan pengobatan Doni. Akhirnya mereka pun hanya membawa Doni berobat ke pengobatan alternatif, dan kini mereka hanya bisa pasrah dan sangat sedih dengan keadaan Doni. Setelah mendapatkan bantuan awal dari Sedekah Rombongan, Doni akhirnya dibawa ke klinik terdekat. Doni disarankan untuk kontrol setiap dua minggu sekali. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk operasional berobat. Sebelumnya Doni telah dibantu dalam Rombongan 1050.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @misnamina @mistaaja @ririn_restu

Doni mengalami kanker tulang


SUMANTA BIN RAPIK (23, Bronkitis + Gangguan Lambung + Maag Akut). Alamat : Kp. Pabuaran, RT 2/2, Ds. Pabuaran, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Sumanta atau biasa dipanggil Kang Gituk adalah anak ke-2 dari pasangan Ibu Maya dan Bapak Rapik. Sedari kecil Kang Gituk terkenal rajin dan ulet, ia tidak segan membantu pekerjaan orang tuanya di rumah, mulai dari membersihkan rumah, memasak dan mencuci piring. Hal itu mungkin dilakukan karena ia tidak memiliki saudara perempuan, sehingga ia lah yang membantu ibunya di rumah. Baktinya pada orang tua justru membuat Kang Gituk sering diolok – olok bertingkah seperti perempuan, namun ia tidak memedulikannya. Kang Gituk juga harus menerima kesulitan hidup sedari kecil karena Pak Rapik hanya bekerja sebagai buruh tani dan tukang ojek yang penghasilannya hanya cukup untuk makan. Kondisi itu membuat Kang Gituk harus bekerja keras meringankan beban hidup kedua orang tuanya. Kang Gituk dan ketiga saudaranya pun tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi, mereka hanya lulus SD dan setelah itu sudah mulai berusaha mencari uang. Tak jauh dari rumah Kang Gituk terdapat tempat pengolahan barang-barang bekas, ia pun bekerja di sana sebagai buruh harian lepas meskipun penghasilannya tidak seberapa. Sayangnya, sejak dua bulan lalu Kang Gituk tidak bisa bekerja karena kondisi badanya lemah dan perutnya terasa sangat perih, jangankan untuk berjalan berdiri saja ia tidak bisa. Mulanya Kang Gituk mengira ia mengalami masuk angin, esok paginya ia dipijat oleh tukang urut, namun sakitnya tak kunjung sembuh dan sakit di perutnya semakin terasa. Akhirnya Pak Rapik memutuskan membawa Kang Gituk ke klinik untuk berobat. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan rontgen dan CT – Scan agar penyakitnya bisa diketahui. Setelah dirongten ternyata diketahui Kang Gituk mengalami bronkitis yang efeknya selain menyerang paru-paru juga terasa di lambungnya. Kang Gituk yang telah memiliki JKN – KIS PBI disarankan untuk berobat ke RSUD Kab. Tangerang agar mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Pak Rapik tetap kebingungan jika Kang Gituk harus dibawa ke RSUD, selain karena ketidaktahuannya terkait urusan administrasi, ia pun bingung untuk biaya transportasi ke sana. Selama ini Pak Rapik dibantu oleh tetangganya untuk mendampingi Kang Gituk berobat. Kurir Sedekah Rombongan merasakan kesulitan yang dialami keluarga Kang Gituk. Kurir pun menyampaikan santunan untuk operasional berobat ke RSUD. Semoga bantuan tersebut bisa meringankan beban Kang Gituk sekeluarga dan mudah-mudahan penyakitnya segera disembuhkan oleh Allah SWT, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Kang Gituk mengalami bronkitis dan lambung


PENGKI BINTI JASIH (49, Susp. Gastritis + Gangguan Ginjal). Alamat : Kp. Pabuaran, RT 2/2, Ds. Buniayu, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Ibu Pengki adalah seorang ibu rumah tangga yang ulet dan rajin. Sehari – harinya Ibu Pengki berjualan es campur dan jajanan anak-anak untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Suami Ibu Pengki bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasil yang tak menentu. Enam bulan lalu, Ibu Pengki tidak bisa berjualan lagi karena sakit yang dideritanya. Awal mulanya saat Ibu Pengki sedang berjualan, ia jatuh pingsan karena menahan sakit yang tak terhingga di bagian perut dan ulu hatinya. Setelah diperiksa dokter di klinik terdekat dan dilihat dari hasil rongtennya ternyata ada gangguan pada lambung, empedu dan ginjalnya. Dokter pun menyarankan Ibu Pengki berobat ke rumah sakit. Untunglah Ibu Pengki mempunyai Jamkesmas sehingga untuk biaya pengobatannya bisa terpenuhi, namun ia kerap kebingungan mencari uang untuk transportasi ke RSUD Tangerang. Jarak dari rumahnya ke rumah sakit cukup jauh, terkadang ia harus meminjam uang pada tetangganya agar bisa berobat. Kondisi Ibu Pengki belum banyak peningkatan, ia masih sering merasa lemah. Ibu Pengki disarankan menjalani pemeriksaan CT-Scan karena diduga rahimnya terdapat kista. Ia pun akhirnya dijadwalkan menjalani CT – Scan dan masih harus kontrol rutin. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk kebutuhan transportasi dan akomodasi berobat. Sebelumnya Ibu Pengki telah dibantu dalam Rombongan 1050.

Jumlah Bantuan: Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir: @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Bu Pengki mengalami gangguan pada lambung, empedu dan ginjalnya


SITI NURAYUNI (13, Radang Paru – Paru). Alamat : Kp. Buniayu, RT 2/1, Ds. Buniayu, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Siti Nurayuni atau biasa dipanggil Ayuni adalah seorang anak yang periang dan penuh semangat, meskipun fisiknya lemah ia selalu aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan sekolahnya. Putri bungsu dari pasangan Ibu Anih dan Bapak Santa (alm) ini tidak mau menyerah dan meratapi nasibnya, meski sakit dan sudah tidak memiliki ayah, ia terus berusaha menjalani hidup dengan bahagia dan selalu bersyukur kepada Allah SWT. Sewaktu di MI (Madrasah Ibtidaiyah), Ayuni mengikuti kamping dan lomba pramuka di kecamatan selama 3 hari dua malam, setelah itu ia mengalami sakit hingga tidak masuk sekolah selama satu minggu. sejak saat itu Ayuni sering sakit – sakitan, ia merasakan sesak saat bernapas. Lulus MI Ayuni menjalani pendidikannya di pesantren, di sana sakitnya tak kunjung membaik dan bertambah parah. Ayuni sering terserang sesak napas secara tiba-tiba terutama jika ia terlalu letih. Puncaknya terjadi sebulan yang lalu saat menjalani pelajaran olah raga. Sebelum pelajaran dimulai, sang guru mengharuskan semua siswa berlari mengelilingi lapangan, saat itu teman – temannya dikagetkan dengan suara Ayuni yang terjatuh pingsan. Setelah kejadian tersebut kondisi Ayuni semakin memburuk, tubuhnya terasa lemas dengan napas yang sangat sesak. Esoknya Ibu Anih menjemput Ayuni setelah diberi kabar oleh pihak sekolah, ia pun membawa Ayuni ke klinik. Setelah menjalani pemeriksaan rontgen, diketahui bahwa Ayuni mengalami radang paru-paru dan harus berobat jalan rutin selama tiga bulan. Ibu Anih pun merasa sedih dan bingung bagaimana ia bisa memperoleh uang untuk biaya berobat Ayuni. Ibu Anih yang kini menjadi orang tua tunggal tidak memiliki penghasilan tetap, jika pun ada hanya cukup untuk makan sehari – hari. Kurir Sedekah Rombongan pun merasakan kesulitan yang dialami Ibu Anih, bantuan awal pun diberikan untuk operasional berobat Ayuni.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 6 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @prathama_chatur @mistaaja @ririn_ restu

Ayuni mengalami radang paru-paru


DESI SUPIYANTI (8, Thalasemia). Alamat : Kp. Benda kebon, RT 1/5, Ds. Benda, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Desi Supiyanti adalah putri kedua dari pasangan Encep dan Supianah. Terlihat Desi nampak sehat seperti anak-anak pada umumnya, namun jika diperhatikan secara jelas perutnya membuncit dan badanya sangat kurus. Sejak 4 tahun lalu Desi didiagnosis dokter menderita Thalasemia atau kelainan darah dimana tubuh tidak cukup memproduksi hemoglobin sehingga kadarnya sedikit. Desi harus melakukan cuci darah dan transfusi minimal 1 bulan sekali, bahkan usianya dinyatakan dokter hanya bisa bertahan sampai umur dua puluh tahun. Beruntung Pak Encep yang bekerja sebagai karyawan honorer beserta keluarga telah memiliki KIS sehingga biaya pengobatan Desi bisa terpenuhi. Jarak tempuh dari rumah ke tempat berobat Desi di RSU Kota Tangerang cukup jauh, membuat Pak Encep harus memiliki uang untuk transportasi berobat anaknya. Terkadang Pak Encep kerepotan untuk biaya transportasi karena dalam sebulan Desi bisa 2 – 3 kali berobat. Pak Encep dan keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Allah SWT mengangkat dan menyembuhkan penyakit Desi. Kondisi Desi belum banyak mengalami perubahan, ia masih harus menjalani transfusi darah rutin yang tidak tahu pasti sampai kapan harus ia lakukan. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk pengobatan dan transfusi darah rutin. Sebelumnya Desi telah dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Desi didiagnosis dokter menderita Thalasemia


NIJAR BIN WAHYUDI (2, TB Paru + Pembengkakkan Limpa). Alamat : Kp. Rancailat, RT 2/1, Ds. Rancailat, Kec. Kresek, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Nijar adalah anak pertama dari pasangan Wahyudi dan Hayaroh. Sungguh malang nasib Nijar, baru beberapa bulan dilahirkan ia sudah menjadi anak yatim. Ironisnya ayah Nijar meninggal dikarenakan penyakit yang sekarang diderita Nijar yaitu TB paru. Setelah suaminya meninggal, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya, Ibu Hayaroh bekerja sebagai buruh harian lepas di sebuah pabrik di wilayah Sukamulya, Tangerang. Untunglah ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya sehingga Nijar bisa dijaga oleh kakek dan neneknya. Ketika lahir bayi Nijar dalam kondisi sehat, namun setelah berusia enam bulan ia mulai terkena TB paru. Awalnya Nijar terserang panas tinggi, badannya demam. Ibunya pun membawa Nijar berobat ke klinik terdekat. Setelah beberapa hari panas Nijar tak turun juga, Ibu Hayaroh akhirnya membawanya ke klinik di Kecamatan Kronjo, karena belum adanya JKN – KIS ia tidak berani membawa anaknya berobat ke rumah sakit. Dokter menyarankan Nijar untuk dirongten, dan setelah dicek hasilnya ternyata Nijar terkena TB paru dan pembengkakan limpa. Saat ini Nijar harus berobat dua kali seminggu selama enam bulan secara terus – menerus agar penyakitnya segera sembuh. Alhamdulillah Nijar telah memiliki JKN – KIS kelas III yang dapat meringankan biaya berobatnya. Penganan penyakit Nijar adalah ia harus menjalani terapi tuberkolosis dan meminum obat yang dapat melemahkan bakteri penyebab TB. Jika terapi tidak dilakukan akan berakibat fatal pada kesehatan Nijar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Orang tua Nijar harus memastikan obat diminum secara teratur dan menjaga gizi Nijar dengan baik. Selain itu, mereka juga harus memerhatikan kondisi lingkungan rumah harus terus bersih dan jauh dari polusi terutama asap rokok. Kondisi Nijar mulai membaik, berat badannya pun meningkat namun masih harus rutin berobat. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan biaya transportasi dan akomodasi berobat Nijar. Sebelumnya Nijar telah dibantu dalam Rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Nijar terkena TB paru dan pembengkakan limpa


KASREM BINTI WIRYO (73, Mata Rabun + Asam Urat). Alamat : Kp. Dadap, RT 1/3, Kelurahan Bencongan Indah, Kecamatan Kelapa Dua, Kab. Tangerang, Provinsi. Ibu Kasrem selalu setia mendampingi suaminya, Rasmani (77), di masa tuanya ia masih mencari nafkah dengan cara memulung barang bekas. Ibu Kasrem hanya tinggal bersama suaminya di gubuk yang dibangun di atas tanah milik orang lain. Sejak 2 tahun lalu, Ibu Kasrem mulai sakit di kaki dan tangannya, ia merasakan nyeri, kebal dan kesemutan. Tidak lama kemudian, penglihatan Ibu Kasrem mulai terganggu. Setelah berobat ke Puskesmas dengan menggunakan Kartu Sehat Multiguna, dari hasil pemeriksaan dokter Ibu Kasrem dinyatakan terkena sakit asam urat dan mata rabun. Kondisi Ibu Kasrem saat ini masih belum membaik dan harus menjalani kontrol setiap sebulan sekali. Kendala yang dihadapi Ibu Kasrem adalah tidak punya uang untuk ongkos berobat. Saran dokter Ibu Kasrem harus banyak istirahat, sehingga ia sudah tidak boleh memulung lagi. Hal itu membuat Ibu Kasrem tidak lai memiliki penghasilan, sedangkan anak – anaknya sudah berkeluarga hidupnya terpisah dan juga dalam kondisi kekurangan. Bapak Rasmani yang selama ini menemani sisa hidup Ibu Kasrem telah berpulang ke rahmatullah karena sakit. Kini Ibu Kasrem hanya seorang diri menghabiskan masa tuanya dalam kondisi sakit dan hidup serba kesusahan. Setelah beberapi kontrol kondisi Ibu Kasrem membaik, rasa nyeri yang dulu kerap ia alami mulai berkurang. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi berobat dan kebutuhan sehari – hari. Semoga Ibu Kasrem bisa segera pulih dari sakitnya. Sebelumnya Ibu Kasrem dibantu dalam Rombongan 1046.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_catur Tri @ririn_restu

Ibu Kasrem dinyatakan terkena sakit asam urat dan mata rabun


ONEH KARSINAH (90, Lumpuh). Alamat : Kp. Baru, RT 2/5, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Nenek Oneh sebelumnya bekerja sebagai petugas memandikan jenazah di rumah sakit, namun sejak 1 tahun yang lalu ia tidak bisa bekerja lagi karena sering sakit – sakitan. Kini Nenek Oneh hanya bisa duduk dan berbaring di tempat tidurnya. Nenek Oneh mengalami lumpuh tidak lama setelah ia tidak lagi bekerja. Saat itu Nenek Oneh sering dirawat di rumah sakit, namun kini karena keterbatasan biaya ia tidak lai berobat. Nenek Oneh tinggal bersama anaknya yang berprofesi sebagai pemulung dengan pendapatan yang hanya cukup untuk makan sehari – hari. Nenek Oneh kini hanya dapat terbaring lemah di kasurnya yang sangat usang, tubuhnya pun sangat kurus. Kondisi Nenek Oneh sempat menurun dan mengalami demam, anaknya pun membawanya ke klinik terdekat. Rencananya Nenek Oneh akan dibawa berobat lagi ke RSUD Tangerang. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk biaya hidup sehari – hari dan transportasi berobat ke RSUD. Sebelumnya Nenek Oneh dibantu pada Rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_catur @trim @ririn_restu

Nenek Oneh mengalami lumpuh


MINI MURSINAH (78, Asam urat + Pengapuran tulang). Alamat : Kp. Baru, RT 2/5, Kelurahan Koang jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Nenek Mini tinggal di gubuk kecil bersama seorang anaknya yang bernama Pak Iwan. Gubuk tersebut dibangun di tanah garapan milik tetangganya. Sejak satu tahun yang lalu Nek Mini kerap mengeluhkan sakit pada kakinya, bahkan tekadang membuatnya tidak bisa berjalan. Setelah Nek Mini dibawa berobat oleh anaknya ke rumah sakit, ia dinyatakan mengalami asam urat dan pengapuran tulang. Nek Mini dianjurkan untuk rutin kontrol setiap sebulan sekali. Nek Mini kerap kebinggungan ketika ia harus kontrol, karena penghasilan anaknya yang bekerja sebagai buruh pembuat tahu hanya cukup untuk makan sehari – hari. Walaupun kondisi Nek Mini sangat kekurangan, namun ia tidak menerima JKN – KIS bantuan dari pemerintah. Nek Mini akhirnya berobat menggunakan biaya sendiri dan belum memiliki jaminan kesehatan. Nenek Mini kini berobat ke klinik yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Ia harus menyewa tukang ojek karena tidak memungkinkan naik kendaraan umum, terlebih lagi tidak setiap waktu anaknya bisa mendampingi karena harus bekerja. Setelah beberapa kali berobat di klinik tersebut kondisi Nek Mini semakin membaik. Sakit yang dulu sering muncul kini semakin berkurang semenjak Nek Mini rutin minum obat dari dokter. Nek Mini terlihat sangat ceria karena kondisinya terus membaik, meski begitu ia masih dalam kondisi sulit untuk makan sehari – hari. Hal tersebut tidak Nek Mini keluhkan, ia selalu bersyukur atas hidupnya. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk sewa kendaraan ke klinik, menebus obat dan kebutuhan sehari – hari. Sebelumnya Nek Mini telah dibantu dalam Rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_catur @trim @ririn_restu

Nek Mini mengalami asam urat dan pengapuran tulang


SOLICHATUN BINTI NASIR (32, Pneumonia). Alamat : Kp. Bencongan, RT 7/1, Kel. Bencongan, Kec. Kelapa Dua, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Ibu Atun biasa ia dipanggil, sejak 11 bulan yang lalu menderita sakit Pneumonia (paru-paru basah). Gejala awalnya saat Ibu Atun tidur pada malam hari selalu keluar keringat dingin dan badan lemas. Sampai suatu saat Ibu Atun mengalami sesak napas yang begitu hebat hingga suaminya, Karwin, segera membawanya berobat ke dokter dekat rumah. Setelah berobat, dokter menyarankan untuk dibawa ke RSUD Tangerang. Setelah dilakukan pengecekan akhirnya Ibu Atun didiagnosis terkena Pneumonia. Saat itu Ibu Atun dirawat di RSUD Tangerang selama 1 bulan. Setelah diizinkan pulang, dokter menganjurkan Ibu Atun untuk selalu kontrol setiap bulannya. Penghasilan suami Ibu Atun sebagai pemulung tak menentu, untuk makan pun mereka kerap kekurangan. Tak jarang ketika jadwal berobat tiba, Ibu Atun terpaksa meminjam uang pada tetangga untuk ongkos ke RSUD Tangerang. Selama ini Ibu Atun berobat menggunakan JAMKESDA. Meski telah berobat rutin, kondisi Ibu Atun tidak banyak perubahan. Tubuhnya sangat kurus, dan nafsu makannya sangat berkurang. Ibu Atun sempat putus asa dan sering murung karena penyakitnya. Hal itulah yang mungkin membuat kesehatannya tak kunjung membaik. Kurir Sedekah Rombongan mendapatkan kabar bahwa Ibu Atun meninggal dunia. Kurir Sedekah Rombongan pun segera menyampaikan bantuan lanjutan untuk membantu pemulasaran jenazah dan santunan duka. Semoga amal ibadah Ibu Atun diterima Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Sebelumnya Ibu Atun telah dibantu dalam Rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 7 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @trimardiyanto @ririn_restu

Ibu Atun menderita sakit Pneumonia


HENDRI HERDIANSAH (33, TBC Paru). Alamat : Kampung Pasir, RT 11/4, Ds. Kaduhandap, Kec. Cimanuk, Kab. Pandeglang, Prov. Banten. Suami dari Elis (26) ini mengalami batuk yang tak kunjung sembuh disertai pendarahan. Sakit tersebut sudah Pak Hendri alami sejak tahun 2014 tapi hilang timbul. Pak Hendri yang bekerja sebagai kuli serabutan jarang sekali berobat, terakhir ia memeriksakan diri ke Puskesmas namun dirujuk ke RSUD. Rujukan tersebut belum juga dilakukan karena Pak Hendri tidak memiliki simpanan uang, penghasilan yang ia dapat hanya cukup untuk makan – sehari – hari dan kebutuhan kedua anaknya. Terlebih lagi semenjak sakit Pak Hendri tidak mampu bekerja berat, kondisinya lemah dengan napas yang terengah – engah. Kondisi tersebut membuat ia tidak memiliki penghasilan, sedangkan istrinya tidak bekerja. Pak Hendri dan keluarga tinggal di rumah mertuanya yang sangat sederhana. Ia belum memiliki rumah dan tidak mampu membayar sewa kontrakan. Setelah mendapat santunan dari Sedekah Rombongan, alhamdulillah Pak Hendri dapat memiliki JKN – KIS kelas III. Pak Hendri masi rutin berobat ke poli paru RSUD Pandeglang. Kurir Sedekah Rombongan kemballi menyampaikan santunan untuk transportasi berobat. Sebelumnya Pak Hendri telah dibantu dalam Rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 9 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @acik_endro_wicaksono @ririn_restu

Pak Hendri mengalami TBC Paru


ISWAH YUDI (30, Lumpuh). Alamat : Rusun BCI, Blok B Seruni 7/2/1, RT 15/16, Kel. Cengkareng Timur, Kec. Cengkareng, Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Pria yang akrab disapa Yudi ini sebelumnya dirawat di ruang perawatan Gedung Soelarto RS Fatmawati Jakarta. Kaki Yudi menderita lumpuh karena sarafnya sudah tidak memungkinkan untuk kembali normal. Awal mula sakitnya itu terjadi pada November 2014, Yudi yang bekerja sebagai kuli bangunan jatuh dari gedung lantai 2 di daerah Rempoa, Ciputat. Setelah jatuh, ia tak sadarkan diri dan segera dilarikan ke RS Sari Asih Ciputat. Yudi dirawat selama 4 hari di RS Sari Asih karena mengalami pendarahan di kepala. Yudi juga mengalami amnesia dan sering teriak-teriak di ruang perawatan. Sang istri, Indri Puspita (33) meminta agar dirujuk ke RSUD Cengkareng karena dekat dengan rumah. Oleh pihak RSUD Cengkareng, Yudi dirujuk ke RSCM Jakarta dan menjalani operasi pada tulang punggungnya. Setelah 3 hari dirawat, ia disarankan untuk melakukan kontrol selama 3 bulan di poli rehabmedis. Jarak tempuh dari rumah ke RSCM terbilang jauh dan harus berangkat sedari subuh, karena kelelahan, kondisi Yudi menurun dan tidak bisa meneruskan rawat jalan di RSCM. Selama 2 bulan, Yudi hanya berbaring di tempat tidur rumahnya hingga timbul luka di bagian pantat yang cukup besar ditambah HB Yudi menurun. Akhirnya Yudi dibawa ke RSUD Cengkareng namun ia harus dirujuk ke Poli Rehabmedis RS Fatmawati. Ketika menjalani kontrol pertama kalinya di RS Fatmawati, Yudi langsung dianjurkan untuk dirawat inap di Gedung Soelarto RS Fatmawati. Yudi dirawat selama 10 hari dan mendapatkan tranfusi darah sebanyak 2 kantong, infus zat besi dan vitamin. Dokter menyarankan Yudi untuk membeli kursi roda paraplegia, namun istrinya, Indri, merasa keberatan karena sudah tidak mempunyai biaya. Selama ini pengobatan Yudi menggunakan KIS kelas III. Awalnya Indri bekerja, namun semenjak Yudi kecelakaan ia mengundurkan diri untuk merawat suaminya. Dua anaknya dititipkan pada ibunya dan biaya kontrakan rumahnya didapatkan dari bantuan saudara-saudaranya. Alhamdulillah Sedekah Rombongan dapat membantu membelikan kursi roda untuk Yudi dan saat itu ia dapat beraktivitas di rumah dengan kursi rodanya. Tapi kini Yudi hanya dapat terbaring di tempat tidur, sebelumnya ia masih bisa beraktivitas menggunakan kursi roda. Yudi sudah mulai kembali kontrol rutin ke RS Fatmawati. Dokter menganjurkan untuk dilakukan operasi paha kanan Yudi karena engselnya mengalami pergeseran. Saat ini ia masih menjalani rawat jalan dan menjalani serangkaian pemeriksaan, sambil menunggu kepastian dilakukannya operasi. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk operasional berobat, dan keperluan perawatan luka Yudi. Yudi akan melakukan kontrol ke poli orthopedi untuk mengetahui perkembangan tulangnya. Sebelumnya Yudi telah dibantu pada Rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 10 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana via Ryan @ririn_restu

Kaki Yudi menderita lumpuh


MUHAMMAD RAFI FIRMANSYAH (3, Leukemia). Alamat : Kp. Lingkungan Tegal Buntu, Kel. Tegal Ratu, RT 16/7, Kec. Ciwandan, Kota Cilegon, Prov. Banten. Rafi adalah anak satu – satunya dari pasangan Bapak Rifki Firmansyah dan Ibu Ernawati. Sakit yang dialami Rafi bermula sebelum bulan puasa lalu. Pada 3 September 2017, Rafi dirawat selama 3 hari menggunakan JKN – KIS di RS Kurnia Cilegon. Saat itu ia menjalani tranfusi darah sebanyak 3 kantong dan tidak semuanya ditanggung BPJS. Di sana Rafi didiagnosis mengalami leukemia dan harus dirujuk ke RS Dharmais Jakarta. Orang tua Rafi urung membawanya ke RS Dharmais Jakarta karena tidak memiliki uang, pekerjaan Bapak Rifki sebagai penjaga kemanan kontrak hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari. Kondisi Rafi kembali menurun hingga dibawa ke dokter di daerah Cengkareng yang merujuknya ke RS Dharmais Jakarta. Akhirnya pada 11 September 2017 dengan menyewa mobil, Rafi berobat ke RS Dharmais Jakarta namun jaminan kesehatannya tidak bisa digunakan dan harus menggunakan jaminan umum. Orang tua Rafi saat itu tidak memiliki uang sehingga kembali pulang. Esok harinya, pada 12 September 2017 kondisi Rafi kembali menurun dan langsung dilarikan ke UGD RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dan dirawat di sana. Setelah dirawat, Rafi bersama orang tuanya kembali pulang ke rumahnya di Cilegon. Kondisi Rafi kembali menurun dan harus dirawat di RS Kurnia Cilegon. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk transportasi dan akomodasi berobat Rafi. Sebelumnya Rafi telah dibantu dalam Rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur Irma @ririn_restu

Rafi didiagnosis mengalami leukemia


ARI KASAN (36, Nefrolitiasis). Alamat : Kp. Ranca Gede, RT 9/2, Desa Jaya Sari, Kecamatan Cimarga, Kab. Lebak, Provinsi Banten. Pak Ari sehari – harinya bekerja sebagai buruh pengangkut pasir di desanya. Dari pagi hingga sore hari ia habiskan waktunya untuk mengumpulkan pasir demi mendapatkan upah yang bisa dibilang tidak sepadan dengan beratnya pekerjan yang dijalaninya. Pak Ari memiliki 1 orang putri yang masih duduk di bangku SD, sementara sang istri, Masni (32) hanya seorang ibu rumah tangga. Sakit yang diderita Pak Ari berawal pada Januari 2017. Awalnya Pak Ari merasakan sakit pada pinggang sebelah kanannya. Setelah melakukan pemeriksaan ke Poli Penyakit Dalam menggunakan KIS yang dimiliki, Pak Ari diagnosis oleh dokter mengidap penyakit nefrolitiasis atau batu ginjal. Pak Ari sempat dirawat selama 7 hari di RSUD Dr. Adjidarmo Lebak, Banten. Alhamdulilah setelah menjalani rawat inap selama sepekan kondisi Pak Ari berangsur membaik dan diperbolehkan pulang dengan catatan harus kontrol kembali untuk melihat perkembangan kondisinya. Ketiadaan biaya membuat Pak Ari tidak menjalani kontrol rutin sesuai anjuran dokter. Pak Ari menyampaikan kepada kurir Sedekah Rombongan ingin meneruskan pengobatannya yang tertunda. Alhamdulillah setelah mendapatkan bantuan dari Sedekah Rombongan, Pak Ari dapat menjalani pengobatan rutin di RSUD Dr. Adjidarmo. Pak Ari kondisinya semakin membaik, ia sudah bisa bekerja menjadi satpam di peternakan daerah Lebak. Pak Ari sampai saat ini masih harus kontrol rutin, karena kondisinya terus membaik dokter akan menindak lanjuti tindakan selanjutnya apa masih perlu dilakukan operasi atau hanya dengan terapi obat saja. Pak Ari akan menjalani serangkaian pemeriksaan ualng seperti tes darah, tes urine, dan menganalisis kembali batu pada ginjalnya. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi dan akomodasi berobat, serta biaya hidup sehari – hari. Sebelumnya Pak Ari telah dibantu dalam Rombongan 1054. Semoga Pak Ari dapat segera sembuh dan dapat kembali bekerja seperti sedia kala. Amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Pak Ari mengidap penyakit nefrolitiasis atau batu ginjal


RASIH SARAGENI (69, Bantuan Biaya Hidup). Alamat : Kp. Bangunan, RT 3/1, Desa Sarageni, Kecamatan Cimarga, Kab. Lebak, Provinsi Banten. Bu Rasih adalah seorang ibu yang sudah tidak memiliki suami dan tinggal dengan seorang anaknya di rumah panggung sederhana. Anaknya berkerja sebagai buruh tani di sawah milik tetangganya dan mendapat upah jika hasil kebun sudah dapat dipanen. Bu Rasih termasuk keluarga kurang mampu. Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bu Rasih menjual hasil sirih dan pinang atau hasil kebun lainnya, itu pun hasilnya tidak banyak karena sangat tergantung musim, dan kebun yang digarap tidak terlalu besar. Anak Ibu Rasih pun dalam kondisi kesulitan, ia hanya dapat membantu ibunya menggarap kebun, sehingga kebutuhan sehari-hari sangat sulit untuk dipenuhi. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan harian, Bu Rasih mendapatkan bantuan dari keluarga dan tetangganya. Usia Bu Rasih yang sudah semakin tua membuat ia tak lagi dapat berjalan jauh untuk menjajakan hasil kebunnya, anaknya yang terkadang membantunya berjualan tetapi lebih sering bekerja serabutan jika ada yang membutuhkan tenaganya, disamping menggarap lahan milik orang lain. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk membantu biaya hidup sehari – hari. Bu Rasih dan keluarganya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Sedekaholic dan Sedekah Rombongan. Sebelumnya Bu Rasih telah dibantu dalam Rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Bantuan tunai


MAR’I BAI (57, Hernia). Alamat : Kp. Cisempureun, RT 4/1, Desa Sarageni, Kec. Cimarga, Kab. Lebak, Provinsi Banten. Pada Maret 2017 Pak Mar’i merasakan susah buang air besar yang disertai nyeri di sekitar bagian bawah perut. Pak Mar’i akhirnya berobat ke RSUD Dr. Adjidarmo Lebak dengan KIS yang menanggung biaya pengobatannya. Pak Mar’i didiagnosis menderita hernia, ia tidak diperbolehkan bekerja berat namun demi memenuhi kebutuhan keluarga ia tetap menjalankan pekerjaannya sebagai kuli panggul di pasar. Pak Mar’i masih harus menjalani kontrol rutin, tetapi ia mengalami kesulitan karena tak ada uang untuk biaya transportasi ke rumah sakit. Sang istri, Bai (59), setiap harinya berjualan kue keliling kampung agar dapat membantu biaya pengobatan Pak Mar’i dan memenuhi kebutuhan keluarga, namun tetap saja penghasilan yang didapat hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari. Beratnya pekerjaan yang dijalani demi keluarga membuat Pak Mar’i sering mengeluh sakit. Ia sering mengalami demam dan kondisinya menurun. Pak Mar’i akhirnya menjalani operasi pada bulan Agustus dan ia masih harus berobat jalan pasca operasi sebulan sekali. Pak Mar’i tidak lagi mengalami pembengkakkan di sekitar hernianya pasca operasi, rasa nyerinya pun tidak terlalu terasa lagi. Pak Mar’i tidak diperkenankan bekerja berat, ia dianjurkan untuk beristirahat di rumah saja agar proses penyembuhannya cepat dan dapat segera beraktivitas normal kembali. Ia pun diharuskan menjaga asupan makannnya agar pulih dengan cepat. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan santunan lanjutan untuk biaya transportasi dan akomodasi pengobatan serta untuk kebutuhan sehari – hari. Sebelumnya Pak Mar’i telah dibantu dalam rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Pak Mar’i didiagnosis menderita hernia


SAHIB SARAGENI (78, Eksim). Alamat : Kp. Cisempureun, RT 4/1, Desa Sarageni, Kec. Cimarga, Kab. Lebak, Provinsi Banten. Pada Januari 2017 Pak Sahib mengalami gatal-gatal di sekujur tubuhnya hinggal kulitnya memerah. Keluarga Pak Sahib mengira itu gatal biasa sehingga tidak ada penanganan serius dan dibiarkan begitu saja. Dua minggu berlangsung gatal yang dialami Pak Sahib tidak kunjung sembuh, tetapi semakin memburuk. Hal ini membuat Pak Sahib tidak bisa bekerja lagi sebagai buruh tani karena gatal tersebut sangat mengganggu aktivitasnya. Pak Sahib akhirnya dibawa ke RSUD Dr. Adjidarmo Lebak untuk mendapatkan penanganan. Setelah melakukan pengobatan di rumah sakit Pak Sahib diberi obat luar berupa salep, namun gatal yang dialaminya tidak kunjung sambuh. Ketiadaan biaya membuat keluarga memutuskan untuk berhenti membawa Pak Sahib ke rumah sakit. Sang Istri, Bu Mae (75), hanya seorang ibu rumah tangga sedangkan anaknya, Idris (31), yang menggantikan ayahnya sebagai buruh tani penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Gatal yang dialami Pak Sahib hilang timbul. Beberapa minggu lalu ia merasakan gatal yang begitu hebat hingga mutuskan untuk menggundulkan kepalanya. Kondisi sakit kulit Pak Sahib yang sulit sembuh dimungkinkan terjadi karena keringnya kulit yang umumnya dialami para lansia. Pak sahib terus merasakan gatal hingga menimbulkan bercak dan kulitnya seperti bersisik. Pak Sahib belum berobat lagi, karena penangan yang ia dapat hanya diharuskan meminum obat untuk mengurangi gatalnya. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk membeli obat dan kebutuhan sehari – hari. Sebelumnya Pak Sahib dibantu dalam Rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Pak Sahib menderita eksim


MAD SIRA (79, Lumpuh). Alamat : Kp. Cipancur, RT 3/2, Desa. Jayasari, Kec. Cimarga, Kab. Lebak, Prov. Banten. Pak Mad Sira sudah 2 tahun lebih menderita stroke. Sakitnya berawal sejak Pak Mad Sira mengalami kecelakaan saat bekerja di kebun milik tetangganya. Pak Mad Sira terpeleset dan jatuh ke jurang dengan kedalaman hampir 20 meter. Beruntung Pak Mad Sira bisa selamat karena berpegangan pada akar pohon di sisi jurang. Sesaat setelah kecelakaan itu, Pak Mad Sira segera dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis, namun karena keterbatasan alat ia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Keterbatasan biaya dan jarak tempuh ke rumah sakit besar cukup jauh, akhirnya keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatan Pak Mad Sira secara medis. Terlebih lagi ia tidak memiliki jaminan kesehatan apapun. Selama hampir 6 bulan Pak Mad Sira menjalani pengobatan tradisional di mantri sekitar, namun bekas luka di kaki yang ia derita mengakibatkannya tidak dapat berjalan dengan normal. Alhamdulillah, setelah mendapatkan bantuan dari Sedekah Rombongan, Pak Mad Sira dapat melanjutkan pengobatannya secara medis di Puskesmas. Kondisi Pak Mad Sira membaik namun belum banyak mengalami perubahan. Pak Mad Sira tak dapat beraktivitas seperti biasa dan banyak menghabiskan waktunya di rumah. Pak Mad Sira masih rutin berobat dan menjalani terapi agar dapat kembali berjalan, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama karena usianya yang sudah lanjut. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk transportasi berobat dan biaya hidup sehari-hari. Sebelumnya Pak Mad sira telah dibantu dalam rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Pak Mad menderita lumpuh


ADUNG JAYA (58, Diabetes). Alamat : Kp. Ranca Gede, RT 9/2, Desa Jaya Sari, Kecamatan Cimarga, Kab. Lebak, Provinsi Banten. Pak Adung tiba-tiba merasakan badannya lemah dan sakit pada kaki kanannya. Kondisi tersebut tidak dihiraukannya dan ia tetap bekerja seperti biasa sebagai buruh tani di kebun milik orang lain bersama istrinya, Nurheni (53). Kondisinya yang semakin melemah itu membuat Pak Adung terjatuh hingga kakinya terluka. Luka di kaki Pak Adung tak kunjung sembuh, keluarga akhirnya membawanya ke RSUD Dr. Adjidarmo Lebak, Banten. Pak Adung didiagnosis oleh dokter menderita diabetes dan harus menjalani perawatan selama hampir 2 minggu. Pak Adung masih menjalani tahap pemulihan, namun kaki sebelah kanannya masih bengkak akibat terjatuh. Bermodalkan jaminan kesehatan KIS yang didapat dari pemerintah setempat, Pak Adung menjalani pengobatan rutin, tetapi untuk biaya transportasi dan obat-obatan yang tidak ditanggung menjadi kendala. Meskipun harus selalu menjaga kondisi kesehatannya, Pak Adung tetap memaksakan bekerja menggarap sawah meski tidak bisa bekerja terlalu berat. Hal itu ia lakukan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Pak Adung harus menjaga tubuhnya agar tidak terluka saat bekerja, karena jika ada luka akan sulit sembuh dan mengering. Pak Adung sering merasakan kesemutan dan kebas pada kakinya, penglihatannya pun sudah mulai kurang jelas. Pak Adung harus selalu berobat rutin, dan mengontrol kadar gula dan tekanan darahnya agar tetap stabil. Ia pun harus menjaga asupan makannya. Kurir Sedekah Rombongan dapat kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk operasional berobat rutin dan membantu kebutuhan sehari – hari. Sebelumnya Pak Adung dibantu dalam rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Pak Adung menderita diabetes


SITI SARAGENI (75, Bantuan Biaya Hidup). Alamat : Kp. Cipancur, RT 3/2, Desa Jayasari, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masa tua Ibu Siti hanya dihabiskan di rumah yang ditinggalinya bersmaa seorang anaknya yang bernama Sulaeman (35). Bu Siti sudah lama menjanda, sang suami meninggal pada tahun 2005. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bu Siti hanya mendapatkan bantuan dari warga sekitar tempat tinggalnya. Usia yang semakin senja membuat kondisi kesehatan Bu Siti sering menurun. Jika sakit mendera ia hanya dapat memeriksakan diri di Puskesmas terdekat. Beruntung Bu Siti telah memiliki Jamkesmas. Bu Siti menyadari bahwa beban hidup yang ditanggungnya memang tidaklah mudah. Kesulitan hidup tak membuat Bu Siti menyerah dalam menjalani kehidupannya. Sulaeman pun tak dapat membantu banyak, ia tidak mengenyam pendidikan sehingga hanya bisa bekerja serabutan, itupun jika ada yang membutuhkan tenaganya. Kondisi perekonomian Bu Siti tidak banyak mengalami perubahan, ia masih hidup dalam kondisi kesulitan, terlebih lagi di usia senjanya ia mulai sering sakit – sakitan. Bantuan lanjutan kembali disampaikan Sedekah Rombongan kepada Bu Siti untuk membantu biaya kehidupan sehari-hari. Sebelumnya Ibu Siti telah dibantu dalam rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Bantuan tunai


JASID CIPANCUR (87, Stroke). Alamat : Kp. Cipancur, RT 3/2, Desa Jayasari, Kec. Cimarga, Kab. Lebak, Prov. Banten. Kakek berusia 87 tahun ini hidup dan tinggal di sebuah rumah panggung bersama istri dan satu orang anaknya. Awal penyakit yang diderita Pak Jasid adalah ketika ia mengalami demam tinggi yang disertai batuk berdarah. Keluarga dan tetangga sempat membawa Pak Jasid ke Puskemas, namun karena keterbatasan biaya akhirnya ia tidak melanjutkan pengobatannya. Pak Jasid menderita stroke lebih dari 11 tahun, dan selama itu pula ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sang istri tercinta, Siti (80), dan anaknya, Ikhsan (45), dengan setia menjaga dan merawat Pak Jasid. Selama Pak Jasid terbaring sakit, Ikhsan lah yang menjadi tulang punggung keluarga menggantikan posisi sang ayah. Ikhsan bekerja sebagai buruh di perkebunan karet dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi Pak Jasid belum membaik, ia masih terkulai lemah di tempat tidurnya. Pengobatan untuk sakit strokenya pun sudah sullit dilakukan, karena belum ada peningkatan dan Pak Jasid hanya bisa terbaring dengan kondisi lumpuh. Keluarga hanya bisa pasrah pada kondisi Pak Jasid. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk membantu biaya hidup sehari-hari. Sebelumnya Pak Jasid dibantu pada Rombongan 1054.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Pak Jasid menderita stroke


JANI SIMIN (69, Bantuan Biaya Hidup). Alamat : Kp. Ciperag, Kec. Cimarga, Kab. Lebak, Prov. Banten. Bu Jani adalah seorang janda tua renta yang tinggal bersama seorang anaknya di sebuah rumah panggung yang sangat sederhana. Keseharian Bu Jani dihabiskan untuk mengurus ternak ayam milik tetangganya. Upah yang diperoleh Bu Jani jauh dari cukup, sehingga anaknya, Simin (41), ikut membantu mencari penghasilan dengan bekerja sebagai pengumpul pasir. Meski telah bekerja dengan begitu keras, tetap saja mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Terkadang untuk makan sehari-hari mereka mendapatkan bantuan dari tetangga. Kondisi perekonomian Bu jani semakin sulit, karena sang anak semakin tak menentu penghasilannya. Alhamdulillah, Kurir Sedekah Rombongan dapat kembali memberikan bantuan lanjutan untuk biaya hidup sehari-hari. Sebelumnya Bu Jani dibantu pada Rombongan 1043.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Bantuan tunai


SAMINAH EMED (71, Bantuan Biaya Hidup). Alamat : Kp. Cipancur, RT 3/2, Desa Jayasari, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Bu Saminah adalah seorang janda yang hanya tinggal berdua dengan anaknya, Jumris (32). Bu Saminah harus bekerja keras demi kelangsungan hidup keluarganya meskipun usianya sudah tua dan sering merasa lemah. Setiap hari Bu Saminah dan anaknya mengurus kebun dan kambing milik tetangga. Bu Saminah hidup sangat kekurangan, rumah yang ditinggalinya pun sangat kecil berdindingkan bilik dan berlantaikan tanah. Kambing tetangga yang dipeliharanya pun ditempatkan di dekat tempatnya memasak karena tak adanya lahan yang memadai yang ia miliki. Kehidupan Ibu Saminah sangat memprihatinkan, sang anak hanya bekerja serabutan di sawah milik dengan penghasilan yang tak menentu. Bu Saminah pun baru dapat merasakan jerih payahnya jika kambing milik tetangganya melahirkan. Jika tak ada uang untuk memasak, Ibu saminah hanya bisa memanfaatkan hasil kebun seadanya. Kurir Sedekah Rombongan alhamdulillah dapat kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk bantuan biaya hidup sehari – hari. Sebelumnya Ibu Saminah dibantu dalam Rombongan 1943.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 11 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @anasaramadhan @ririn_restu

Bantuan tunai


MUHAMMAD RIFKIANSYAH INDRA BEKTI (8, ADHD Kombinasi dan Gejala Autisme Ringan). Serta ZASKIA FAHIRA PERMATASARI (6, ADHD Kombinasi, Autistic Spectrum dan Retardasi Mental Sedang); ALISHA ZAHRA PERMATASARI (5, ADHD Kombinasi). Alamat : Jln. Lembang Baru IV No 12 B, RT 2/9, Kelurahan Sudimara Barat, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Prov. Banten. Ibu Ade Fitria sungguh memiliki kesabaran yang luar biasa. Bagaimana tidak, ketiga anak yang begitu ia sayangi mengalami gangguan yang sama yakni ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas dengan tipe Kombinasi. Secara kasat mata, fisik anak-anak Bu Ade terlihat seperti anak normal, namun perilaku dan psikomotor mereka berbeda. Rifki dan Zaskia banyak mengalami peningkatan, bahkan hasil tes IQ mereka meningkat dari sebelumnya. Rifki saat ini sangat suka berbicara, mencoba dan mencari tahu hal – hal baru. Zaskia sudah mulai bisa mengeja dan usianya sudah cukup untuk masuk SD. Zaskia sering mengalami urtikaria atau gatal – gatal yang hilang timbul. Dibandingkan kedua kakaknya, Alisha belum banyak peningkatan, ia belum bisa berbicara dengan baik, suka berlari – larian, dan sering mengalami tantrum padahal dosis obat penenangnya sudah ditingkatkan. Bu Ade yang selama ini berjuang demi kesembuhan anaknya juga diduga mengidap penyakit yang cukup parah dan kondisi kesehatannya semakin menurun. Ia sering mengalami pendarahan dari kemaluannya hingga tubuhnya lemas dan tidak bisa beraktivitas. Bu Ade merasa sangat sedih jika tak dapat mengurus anak – anaknya sedangkan mereka masih harus terus menjalani pengobatan. Selain itu, ayah Ibu Ade yang mengalami sakit ginjal kronis juga kondisi kesehatannya sering menurun hingga sering dirawat di rumah sakit. Rifky memiliki asma kambuhan, karena asupan makannya tidak dijaga ia sempat kembali kambuh hingga dibawa ke UGD RS Bhakti Asih Ciledug. Beban keluarga Ibu Ade bertambah karena Pak Bekti ternyata mengalami sakit jantung. Pak Bekti rencananya akan menjalani operasi, namun harus menjalani serangkaian pemeriksaan terlebih dahulu. Bu Ade juga didiagnosis mengalami kelenjar getah bening. Kondisi keluarga Bu Ade semakin memprihatinkan karena mereka diminta mengosongkan kontrakan karena menunggak uang sewa. Kondisi tersebut semakin membuat ia bingung bagaimana nasib anak – anak dan juga orang tuanya. Ketiga anak Bu Ade masih menjalani terapi dan pengobatan di poli psikiatri di RSCM Jakarta, selain itu mereka juga masih berobat di spesialis gastroenterologi karena ada keluhan pada perut mereka. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk operasional berobat rutin keluarga Ibu Ade setelah sebelumnya dibantu pada rombongan 1066.

Jumlah Bantuan : Rp1.000.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana Alvin @ririn_restu

Bantuan biaya terapi autis ADHD


DIMAS DWI NUGROHO (14, Kanker Otot + Celebral Palsy). Alamat : Jalan H. Salim, Gang Bidan, RT 9/6, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Kotamadya Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Sudah belasan tahun anak dari pasangan Agus Budi Saputro (41) yang bekerja sebagai petugas keamanan dan Nurjanah (39) yang seorang ibu rumah tangga ini menderita kanker otot dan celebral palsy. Kanker ototnya sudah tidak dapat diobati setelah menjalani dua kali protokol kemoterapi karena berdampak buruk pada sakit celebral palsy yang dideritanya. Ia akan kejang – kejang bahkan hingga tak sadarkan diri setelah menjalani kemoterapi. Beberapa bulan terakhir ini, Dimas sering masuk keluar rumah sakit akibat batuk yang tak kunjung henti dan membuat kondisinya semakin lemas. Kini ia sering mengalami sesak napas dan harus menggunakan tabung oksigen. Ia tak boleh putus minum obat sedangkan penghasilan ayahnya tak cukup untuk membeli obat yang tidak dicover BPJS. Beberapa hari yang lalu Dimas dirawat di RS Harapan Kita Jakarta karena kondisinya kembali menurun. Saat ini Dimas sudah tidak lagi menggunakan NGT. Menurut dokter, pemakaian NGT terlalu lama dapat mengakibatkan munculnya lendir yang membuat Dimas terus batuk-batuk. Pada perut Dimas dibuat lubang sebagai saluran asupan makanan. Dimas masih harus menjalani kontrol rutin untuk mengecek dan mengganti selang di perutnya. Perkembangan saat ini kondisi Dimas masih sering demam dan batuk-batuk, ia masih rutin berobat ke RSAB Harapan Kita. Dimas sempat dibawa ke UGD RSAB Harapan Kita karena demam yang terlalu tinggi serta batuk yang tak kunjung berhenti. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk operasional berobat, membeli kebutuhan Dimas seperti selang dan pampers. Sebelumnya Dimas dibantu pada rombongan 1053.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 12 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Dimas menderita kanker otot dan celebral palsy


IRWANSYAH BIN ERMANULAMSYAH (36, Diabetes). Alamat : Desa Waru Jaya RT 7/4, Kelurahan Waru Jaya, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pak Irwansyah yang merupakan putra dari pasangan Bapak Ermanulamsyah (65) dan Ibu Ropiah (55), kini sedang menderita sakit diabetes. Sakit tersebut sudah dari 1 tahun yang lalu, namun oleh Pak Irwansyah diabaikan saja. Beberapa minggu kemarin, Pak Irwansyah mengalami demam tinggi. Sebelumnya terdapat luka di kaki Pak Irwansyah yang ia anggap luka biasa saja, namun kini lukanya melebar dan terasa nyeri. Pak Irwansyah semakin lemah hingga pingsan, oleh sang adik, Bu Irma (34), ia dibawa ke klinik terdekat yang kemudian merujuknya ke rumah sakit di daerah Parung. Pak Irwansyah dirawat inap selama beberapa hari dan diperbolehkan pulang. Menurut dokter, kondisi diabetes Pak Irwansyah sudah cukup parah karena penanganannya terlambat. Dokter menyarankan agar dilakukan tindakan amputasi pada kaki Pak Irwansyah, namun ia menolaknya. Kini Pak Irwansyah hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya sembari merintih kesakitan. Ia kesulitan bangun yang mungkin juga karena berat badannya yang cukup besar. Dokter menyarankan pasca rawat inap Pak Irwansyah menjalani pembersihan luka secara rutin. Perawat nantinya akan datang ke rumah Pak Irwansyah untuk perawatan luka, namun biayanya tidak ditangggung BPJS. Pak Irwansyah bersama kedua orang tuanya, Bu Irma dan kedua adiknya tinggal di rumah kontrakan petakan yang sangat sederhana. Kedua anak Bu Irma pun tinggal bersama di kontrakan tersebut. Adik Bu Irma sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga, namun ia telah diberhentikan dari pekerjaannya sehingga kini menganggur. Saat ini Bu Irma lah yang menjadi tulang punggug keluarga dengan berjualan makanan ringan di sekolahan, ia telah menjadi janda karena suaminya telah meninggal dunia 3 tahun lalu. Bu Irma dan orang tuanya kebingungan dengan pengobatan Pak Irwansyah. Pak Irwansyah kesulitan berobat menggunakan angkutan umum, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menyewa mobil. Belum lagi terkait kebutuhan perawatan luka yang mebutuhkan ratusan ribu setiap minggunya. Kurir Sedekah Rombongan menyarankan untuk meminta bantuan pihak Puskesmas terkait perawatan lukanya. Kurir Sedekah Rombongan menyampaikan bantuan untuk operasional berobat dan perawatan luka.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 16 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Pak Irwansyah menderita diabetes


SURONO BIN ATMOREJO (45, HNP + Paraplegia Spastik). Alamat : Cipete Utara, RT 2/3, Kelurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta. Awal mula pertemuan Kurir Sedekah Rombongan dengan Pak Surono adalah saat ia dirawat inap di RS Fatmawati yang telah dijalaninya selama 5 bulan. Pak Surono mengidap penyakit HNP atau Saraf Kejepit di bagian saraf utamanya. Awalnya Pak Surono terjatuh dari gedung lantai 2 saat bekerja sebagai buruh bangunan. Pak Surono dibawa ke UGD RS Fatmawati oleh rekan-rekannya pada 26 Maret 2016. Keesokannya, Pak Surono dipindahkan ke ruang Highcare selama 2 minggu, kondisinya membaik sehingga dipindahkan ke ruang perawatan di Gedung Soelarto. Pada 28 Mei 2016, Pak Surono mendapatkan tindakan operasi di bagian leher karena pada bagian toraknya ada yang patah, selain itu untuk mengatasi saraf kejepit di bagian saraf utamanya yakni saraf penggerak. Pasca operasi Pak Surono menjalani terapi di Poli Rehabmedik untuk melatih kemandiriannya dalam beraktivitas nantinya. Istri Pak Surono, Sucianingsih (42), dengan setia selalu mendampinginya. Saat Pak Surono dirawat hingga lebih dari 5 bulan, istrinya ikut tinggal di rumah sakit sehingga pada saat itu mereka tidak memiliki tempat tinggal karena tak mampu membayar sewa kontrakan. Kondisi tersebut bahkan membuat anaknya yang berusia 6 bulan dititipkan ke pedagang minuman mengingat di usia tersebut sangat rentan terserang virus jika berada di rumah sakit. Pak Surono selama ini berobat menggunakan KIS yang dibiayai Pemda Jakarta. Kurir Sedekah Rombongan kembali bertemu dengan Pak Surono setelah dihubungi Bu Sucianingsih. Kurir pun mengunjungi Pak Surono yang kini hanya dapat terbaring di kasur usang miliknya. Berdasarkan cerita dari Bu Sucianingsih, Pak Surono sudah tidak lagi dapat berobat. Untuk melanjutkan pengobatan, Pak Surono harus memperbaharui rujukannya mulai dari Puskesmas. Kondisinya yang tidak dapat berjalan membuat ia tidak dapat berobat ke Puskesmas, sang istri pun kesulitan karena tak memiliki uang untuk transportasi berobat dan jika pun ada kondisi Pak Surono sulit dipindahkan karena merasa kesakitan. Karena terus berbaring dalam waktu yang cukup lama, membuat bokong Pak Surono terluka. Luka tersebut harus rutin dibersihkan, namun Bu Sucianingsing tak selalu memiliki uang untuk membeli cairan pembersih yang dibutuhkan. Semenjak Pak Surono sakit, Bu Sucianingsih yang menggantikannya mencari nafkah. Bu Sucianingsih berjualan makanan ringan di depan kontrakannya, hasil yang didapat berusaha ia cukupkan untuk kebutuhan sehari – hari. Pak Surono dan Bu Sucianingsih beserta ketiga anaknya terpaksa tinggal seadanya di kontrakan 1 kamar berukuran 3 x 3 meter. Kondisi tempat tinggal yang sangat sempit dan pengap tentunya tak baik bagi kesehatan Pak Surono, terlebih lagi ia memiliki anak yang masih berusia balita. Pak Surono saat ini menempati kontrakan yang baru dengan biaya yang lebih murah, namun kondisinya tak jauh berbeda dengan kontarakan sebelumnya. Bu Sucianingsih merasa berat untuk membayar kontrakan sebelumnya, sehingga ia mencari kontrakan yang lebih murah. Belum lagi ia harus memenuhi kebutuhan Pak Surono. Alhamdulillah kini Pak Surono dapat kembali berobat sebulan sekali dengan didampingi sang istri yang selalu setia. Kondisi Pak Surono masih belum banyak peningkatan, ia hanya dapat terbaring di tempat tidurnya dengan tubuh yang semakin mengurus. Pak Surono juga mengalami paraplegia spastik dimana otot – otot tubuh pada bagian yang lumpuh dalam kondisi kaku, mengalami kejang – kejang, dan pergerakannya tidak bisa dikontrol. Kaki Pak Surono sering bergerak tanpa ia sadari. Keluarga Bapak Surono mengalami musibah, anaknya yang sudah bekerja mengalami penipuan sehingga tidak mampu membantu orang tuanya membayar kontarkan yang sudah jatuh tempo. Jika kontrakan tersebut tidak dibayarkan, Bapak Surono dan keluarga diharuskan pindah. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan lanjutan untuk membantu membayar uang sewa kontrakan sebesar Rp910.000 dan untuk kebutuhan sehari – hari. Sebelumnya Pak Surono dibantu pada rombongan 1040 dan pada 5 Oktober 2017.

Jumlah Bantuan : Rp. 1.000.000,-
Tanggal : 16 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Pak Surono mengidap penyakit HNP atau Saraf Kejepit


IRWANSYAH BIN ERMANULAMSYAH (36, Diabetes). Alamat : Desa Waru Jaya RT 7/4, Kelurahan Waru Jaya, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pak Irwansyah yang merupakan putra dari pasangan Bapak Ermanulamsyah (65) dan Ibu Ropiah (55), kini sedang menderita sakit diabetes. Sakit tersebut sudah dari 1 tahun yang lalu, namun oleh Pak Irwansyah diabaikan saja. Beberapa minggu kemarin, Pak Irwansyah mengalami demam tinggi. Sebelumnya terdapat luka di kaki Pak Irwansyah yang ia anggap luka biasa saja, namun kini lukanya melebar dan terasa nyeri. Pak Irwansyah semakin lemah hingga pingsan, oleh sang adik, Bu Irma (34), ia dibawa ke klinik terdekat yang kemudian merujuknya ke rumah sakit di daerah Parung. Pak Irwansyah dirawat inap selama beberapa hari dan diperbolehkan pulang. Menurut dokter, kondisi diabetes Pak Irwansyah sudah cukup parah karena penanganannya terlambat. Dokter menyarankan agar dilakukan tindakan amputasi pada kaki Pak Irwansyah, namun ia menolaknya. Kini Pak Irwansyah hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya sembari merintih kesakitan. Ia kesulitan bangun yang mungkin juga karena berat badannya yang cukup besar. Dokter menyarankan pasca rawat inap Pak Irwansyah menjalani pembersihan luka secara rutin. Perawat nantinya akan datang ke rumah Pak Irwansyah untuk perawatan luka, namun biayanya tidak ditangggung BPJS. Pak Irwansyah bersama kedua orang tuanya, Bu Irma dan kedua adiknya tinggal di rumah kontrakan petakan yang sangat sederhana. Kedua anak Bu Irma pun tinggal bersama di kontrakan tersebut. Adik Bu Irma sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga, namun ia telah diberhentikan dari pekerjaannya sehingga kini menganggur. Saat ini Bu Irma lah yang menjadi tulang punggug keluarga dengan berjualan makanan ringan di sekolahan, ia telah menjadi janda karena suaminya telah meninggal dunia 3 tahun lalu. Bu Irma dan orang tuanya kebingungan dengan pengobatan Pak Irwansyah. Pak Irwansyah kesulitan berobat menggunakan angkutan umum, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menyewa mobil. Belum lagi terkait kebutuhan perawatan luka yang mebutuhkan ratusan ribu setiap minggunya. Pada Rabu, 18 Oktober 2017, Pak Irwansyah mengeluh sakit yang luar biasa pada kakinya. Pihak keluarga berusaha membawa ke UGD RS terdekat namun ternyata Pak Irwansyah dirujuk ke RS di wilayah Bogor karena membutuhkan ruang ICU, namun belum tersedia. Setelah mendatangi beberapa RS, ruang ICU penuh semua. Keluarga Pak Irwansyah dibawa pulang kembali dan hanya dirawat di rumah. Kondisi Pak Irwansyah semakin menurun, hingga akhirnya pada 22 Oktober 2017, ia menghembuskan napas yang terakhir. Kurir Sedekah Rombongan mendatangi keluarga Pak Irwansyah untuk memberikan semangat dan turut berduka cita atas meninggalnya Pak Irwansyah. Bantuan lanjutan diberikan untuk membantu biaya pemulasaran Jenazah. Sebelumnya Pak Irwansyah dibantu pada 16 Oktober 2017.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 22 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Pak Irwansyah menderita sakit diabetes


TUTI ALAWIYAH (38, Kanker Payudara). Alamat : Jln. Ujung Kenari, RT 7/11, Kel. Jurang Mangu Timur, Kec. Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Prov. Banten Bu Tuti tinggal sebatang kara di kontrakannya yang sangat sederhana. Suaminya pergi tanpa ada kabar, sedangkan anak satu – satunya yang berusia 5 tahun dirawat sang mertua sejak berusia 2 tahun. Sebelum sakit Bu Tuti biasa mencari uang dengan menjual minuman jahe hangat, ia berkeliling setiap harinya dari warung ke warung. Kini ia hanya bisa terbaring di tempat tidurnya yang sangat lusuh, sejak 8 bulan yang lalu ia mengalami kelumpuhan karena kondisinya yang terus memburuk. Bu Tuti mengidap kanker payudara, sebelumnya ia bisa berobat seorang diri untuk menjalani kemoterapi, namun kini ia seperti mengalami kelumpuhan, bangun pun ia tidak bisa. Sejak saat itu, Bu Tuti tak lagi rutin berobat karena tidak ada yang mendampinginya. Bersyukur pemilik kontrakan sudah membebaskan biaya sewa, Bu Tuti pun dapat tinggal secara gratis dan tak jarang ia diberikan makanan. Bu Tuti sempat disarankan dokter untuk menebus obat yang harus dikonsumsi setiap bulannya, namun karena ketiadaan biaya obat itu pun tak pernah ia tebus. Bu Tuti sangat ingin kembali berobat, tetangga yang bersimpati padanya pun akan bahu – membahu untuk mendampinginya berobat. Meski telah mempunyai JKN – KIS Mandiri kelas III, kebutuhan pengobatan Bu Tuti sangat banyak. Setiap bulan tentunya iuran JKN – KIS Bu Tuti harus dibayarkan, ia pun membutuhkan pampers karena tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya, selain itu jika harus ke rumah sakit ia harus menyewa mobil karena tidak bisa dibawa dengan angkutan umum, belum lagi untuk makan sehari – hari. Dalam berbagai kesulitan yang dihadapinya, semangat Bu Tuti untuk sembuh sangat tinggi, ia sangat ingin menghidupi anak satu – satunya yang meski tak pernah lagi ia temui, hanya foto sang anak yang ia simpan di bawah bantal yang mampu mengobati kerinduannya pada sang anak. Kurir Sedekah Rombongan yang mendapat informasi terkait Bu Tuti segera menjenguknya, kurir pun menyampaikan bantuan untuk operasional berobat. Ucapan terima kasih yang tak terhingga disertai dengan isak tangis disampaikan Bu Tuti, doa pun ia panjatkan semoga sedekaholics Sedekah Rombongan selalu mendapatkan kelimpahan rezeki, amin.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 25 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana Usman @ririn_restu

Bu Tuti menderita ca mamae


NIRAH MISTA (68, Cedera Lengan karena Terjatuh). Alamat : Kp. Kelapa Dua, Gg. 99, RT 2/3, Kel. Babakan, Kec. Setu, Kota Tangerang Selatan, Prov. Banten. Ibu Nirah adalah seorang janda, ia memiliki keterbatasan fisik dimana ia tidak dapat berjalan dengan normal dan sulit diajak berkomunikasi dengan lancar. Dengan segala keterbatasannya itu, Ibu Nirah adalah ibu yang sangat tangguh, ia tetap kuat memikul beban untuk bisa menghidupi seorang anaknya yang mengalami gangguan jiwa bernama Niwan Permana (19). Sebelumnya Ibu Nirah dan Niwan tinggal di sepetak kamar kontrakan, namun karena tidak adanya penghasilan mereka sempat hidup berpindah – pindah. Bersyukur kini ada Ibu Enjen, seorang janda yang memperkenankan Ibu Nirah dan Niwan tinggal di rumahnya. Ibu Enjen tulus hati membantu Ibu Nirah, ia tidak pernah menuntut apa – apa. Ibu Nirah merasa tak enak hati, ia berusaha membalas kebaikan yang diberikan Ibu Enjen dengan membantunya berjualan nasi uduk. Saat membantu Ibu Enjen, Ibu Nirah mengalami kecelakaan, ia terjatuh hingga terluka dan darah bercucuran pada lengannya. Kurir Sedekah Rombongan pun segera mendatangi Ibu Nirah yang saat itu belum dibawa berobat kemana – mana. Saat itu lengan Ibu Nirah hanya dibalut kain dengan darah yang terus mengalir. Kurir pun mendampingi dan membawa Ibu Nirah berobat ke Puskesmas. Ibu Nirah mendapatkan penanganan pertama, lengannya yang terluka ditangani agar tidak terus terjadi pendarahan. Dokter mengkhawatirkan Ibu Nirah mengalami patah tulang pada lengannya, karena itulah ia dirujuk ke poli orthopedi RSUD Tangerang Selatan. Meski di RSUD dapat menggunakan fasilitas kesehatan gratis menggunakan e-KTP, Bu Nirah sempat tidak mau dibawa berobat karena ia tidak memiliki uang dan tidak mau merepotkan Ibu Enjen. Ibu Nirah membutuhkan bantuan untuk menyewa mobil karena ia tidak memungkinkan dibawa dengan angkutan umum, apalagi dengan kondisinya yang kesulitan berjalan dengan normal. Ibu Enjen pun tak dapat membantu banyak, karena penghasilannya dari menjual nasi uduk hanya cukup untuk makan. Kurir merasakan kepedihan dan keharuan melihat dua orang janda yang tetap berbagi dalam kesulitan itu. Kurir pun menyampaikan bantuan untuk operasional berobat Ibu Nirah dan kebutuhan sehari – hari. Semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan beban Ibu Nirah dan ia dapat segera sembuh.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 25 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana Usman @ririn_restu

Bu Nirah menderita cedera lengan karena terjatuh


MARDIANSYAH BIN KARTA (35, Hernia). Alamat : Kp. Jati, RT 4/2, Kel. Buaran, Kec. Serpong, Kota Tangerang Selatan, Prov. Banten. Sudah hampir 4 bulan lamanya Pak Mardi mengalami sakit hernia sehingga ia tak bisa beraktivitas seperti biasa. Ayah dar 1 orang anak ini biasa mencari nafkah dengan menjadi tukang parkir. Pak Mardi adalah orang yang sangat ulet dalam memenuhi kebutuhan keluarga, demi menambah penghasilan tak jarang ia mendapat uang dari orang yang membutuhkan tenaganya, seperti membersihkan kebun, memperbaiki atap rumah, dll. Sakit hernia yang dialami Pak Mardi harus segera dioperasi, karena sakitnya itu ia tidak mampu bekerja berat. Pak Mardi tidak dapat berobat ke rumah sakit besar karena JKN – KIS yang ia miliki belum dibayarkan selama lebih dari 1 tahun. Dalam kondisi sakit, Pak Mardi harus mengungsi karena rumahnya yang rentan mengalami banjir saat hujan. Kurir Sedekah Rombongan yang mendapat informasi terkait Pak Mardi akhirnya menyampaikan bantuan untuk operasional berobat dan pembayaran iuran JKN – KIS. Semoga bantuan yang disampaikan dapat meringankan beban keluarga Pak Mardi dan semoga ia segera sembh sehingga dapat bekerja kembali.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 26 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana Usman @ririn_restu

Pak Mardi mengalami sakit hernia


SA’ANAH WAJI (72, Lumpuh). Alamat : Jln. Legoso, Gg. Dahu, RT 4/1, Kel. Pisangan, Kec. Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Prov. Banten. Enam bulan terakhir Ibu Sa’anah mengalami sakit dan hanya dapat terbaring saja. Sehari – harinya Ibu Sa’anah diurus oleh menantunya, Ibu Wati. Padahal anak Ibu Sa’anah yang juga suami Ibu Wati sudah meninggal dunia sejak 3 tahun yang lalu. Ibu Wati begitu tulus mendampingi dan merawat mertuanya, mulai dari menyuapi makanan, memandikan, menggantikan pakaian, higga membersihkan kotoran saat Ibu Sa’anah buang air. Bu Sa’anah tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya, sehingga semua aktivitasnya dilakukan di tempat tidur. Ibu Wati lah yang kini mejadi tulang punggung keluarga, ia berjualan makanan ringan untuk menyambung hidup. Penghasilan yang didapat dari berjualan tidak cukup untuk biaya sekolah anak – anaknya, sehingga anaknya yang kini bertugas menjaga warung sedangkan Ibu Wati bekerja sebagai petugas kebersihan taman di sebuah perumahan yang tak jauh dari rumahnya. Setiap pagi Ibu Wati berangkat berkerja dan sejak siang hari ia mulai mengurus mertuanya. Kondisi Ibu Sa’anah semakin melemah, napasnya terengah – engah dan kini sulit diajak berkomunikasi. Ibu Wati sangat ingin membawa mertuanya berobat ke rumah sakit, namun meski JKN – KIS telah dimiliki ia tidak mempunyai uang untuk biaya transportasi berobat. Ibu Sa’anah sangat tidak memungkinkan dibawa berobat menggunakan angkutan umum, sehinga harus menyewa mobil. Belum lagi untuk kebutuhan harian seperti pampers dan makan Ibu Sa’anah. Kurir Sedekah Rombongan bersimpati dengan kondisi Ibu Sa’anah, bantuan pun disampaikan untuk tranportasi dan akomodasi berobat Ibu Sa’anah ke rumah sakit.

Jumlah Bantuan : Rp.1.000.000,-
Tanggal : 27 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana Usman @ririn_restu

Bu Sanaah menderita lumpuh


SADIAH BINTI DARSA (24, Tumor Ganas Telinga). Alamat : Kp. Cendeleken, RT 8/2, Ds. Cikande, Kec. Jayanti, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Sadiah mengalami tumor sejak setahun yang lalu, gejala awal tumbuh benjolan di telinga seperti bisul merah dan bengkak. Selang beberapa bulan, benjolan itu semakin membesar, pecah dan mengeluarkan cairan serta bau yang sangat menyengat. Sadiah akhirnya dibawa ke Puskesmas terdekat, dokter pun memberikan rujukan ke RSUD Balaraja. Bersama orang tuanya, akhirnya Sadiah berobat ke RSUD Balaraja, dokter mendiagnosisnya mengalami tumor ganas telinga. Dokter menyatakan bahwa Sadiah membutuhkan pemeriksaan lanjutan yang tidak dapat dilakukan di RSUD Balaraja, akhirnya ia dirujuk ke RSU Tangerang yang juga merujuknya ke RSCM Jakarta. Ayah Sadiah, Bapak Darsa Warsa (67), yang berprofesi sebagai tukang ojek hanya bisa pasrah dengan keadaan putrinya karena tidak mampu membawanya berobat ke RSCM. Sang ibu pun yang bekerja sebagai tukang cuci keliling, juga tidak mampu membiayai kebutuhan transportasi ke Jakarta meski Sadiah sudah memiliki Jamkesmas. Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombongan dipertemukan dengan keluarga Sadiah, kurir pun menyampaikan bantuan sehingga Sadiah didampingi ayah dan adiknya bisa berobat ke RSCM Jakarta pada 12 September 2017 dan tinggal di RSSR Jakarta. Kondisi Sadiah semakin memburuk hingga akhirnya dilarikan ke UGD RSCM. Dari hasil berbagai pemeriksaan, kemungkinan tumor yang dialami Sadiah sudah meningkat menjadi kanker. Dokter tidak dapat melakukan tindakan lanjutan karena kondisi Sadiah yang terus memburuk. Sadiah pun akhirnya dirawat lebih dari 1 bulan karena tidak ada perkembangan. Kurir Sedekah Rombongan kembali menyampaikan bantuan untuk operasional berobat selama dirawat di RSCM dan untuk kebutuhan lainnya seperti pampers dan kebutuhan keluarga yang menunggu. Sebelumnya Sadiah telah dibantu pada Rombongan 1066 dan pada 2 Oktober 2017.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 26 Oktober 2017
Kurir : @nurmanmlana @ririn_restu

Bu Sadiah mengalami tumor ganas telinga


MASBUN BIN ADAM (72, Pembengkakkan Prostat). Alamat : Kp. Pabuaran, RT 3/2, Ds. Buniayu, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Abah Masbun kerap orang – orang memanggilnya, di usianya yang sudah semakin tua ia masih semanggat dan sanggup bekerja sebagai buruh bangunan yang membutuhkan tenaga dan fisik yang kuat. Sayangnya beberapa bulan terakhir Abah Masbun tidak bisa bekerja lagi karena prostatnya mengalami pembesaran. Dua tahun silam Abah Masbun mulai terkena prostat, setiap hari ia harus mondar – mandir puluhan kali ke kamar mandi. Dua bulan terakhir Abah Masbun harus dibawa ke RSUD Tangerang karena tidak bisa buang air kecil. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter menyarankan Abah Masbun untuk dioperasi. Setelah satu minggu menjalani rawat inap, Abah Masbun akhirnya dioprasi. Alhamdulillah Abah Masbun sudah mempunyai JKN – KIS kelas III, sehingga biaya pengobatan dan operasinya ditanggung BPJS. Abah dianjurkan kontrol setiap bulanya, namun ia kebingungan setiap jadwal kontrol tiba karena ia terkadang tidak mempunyai uang untuk biaya transportasi berobatnya. Abah juga mengalami cedera pada kakinya, sehingga semakin membuatnya tidak bisa bekerja lagi dan hanya dapat menghabiskan waktunya di rumah. Istrinya yang kini menjadi pengganti tulang punggung keluarga sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tak seberapa. Anak – anak Abah Masbun pun tak dapat membantu banyak karena juga dalam kondisi kesulitan ekonomi. Syukur Alhamdulillah Kurir Sedekah Rombonggan dipertemukan dengan Abah Masbun. Bantuan awal pun diberikan untuk biaya transportasi dan akomodasi kontrol rutin. Mudah – mudahan Abah segera sembuh dan bisa kembali bekerja.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 26 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Pak Masbun menderita prostat


SUDIN BIN SAIMUN (65, Bronchitis). Alamat : Kp. Tari Kolot, RT 4/0, Ds. Kaliasin, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Mang Sudin biasa ia dipanggil, adalah seorang yang rajin dan ulet. Setiap harinya dari pagi sampai sore hari Mang Sudin bekerja menjadi buruh tani dan mengolah sawah yang dipercayakan kepadanya. Malam harinya ia bekerja sambilan sebagai tukang ojek di Balaraja, tak jarang sampai membuatnya begadang jika sepi pelanggan. Kelelahan mencari uang dari pagi hingga malam membuat Mang Sudin kini sering sakit – sakitan. Ia kerap mengeluh sesak napas, namun tak pernah dikonsultasikan ke dokter. Selain karena ketiadaan biaya, Mang Sudin juga tidak menerima jaminan kesehatan dari pemerintah walaupun keadaan perekonomian keluarganya sangat kurang. Hingga akhirnya Mang Sudin mengalami sesak napas yang begitu hebat bahkan hingga ia tidak bisa bicara. Istri dan anak – anaknya yang merasa khawatir dengan kondisi Mang Sudin, segera membawanya ke klinik terdekat. Keluarga tidak berani membawa Mang Sudin ke rumah sakit besar karena tidak memiliki jaminan kesehatan. Setelah ditangani dokter dan dilakukan tindakan penguapan, kondisi Mang Sudin agak membaik. Mang Sudin selanjutnya menjalani pemeriksaan rontgen dan hasilnya ia dinyatakan mengidap bronchitis. Dokter menyarankan Mang Sudin kontrol rutin setiap sebulan sekali, namun ia dan keluarga mulai kebingungan jika harus mengeluarkan uang untuk berobat setiap bulannya, karena untuk makan sehari hari saja sangat kesulitan. Kurir Sedekah Rombongan pun merasakan kesusahan Mang Sudin sekeluarga dan memberikan bantuan awal guna operasional biaya pengobatanya. Mudah-mudahan bantuan tersebut bisa meringankan kesusahan Mang Sudin dan semoga penyakitnya segera disembuhkan oleh Allah SWT, amin.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 26 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Pak Sudin dinyatakan mengidap bronchitis


RIMAH BINTI ABDUL (70, Lumpuh ). Alamat : Kp. Kendayakan, RT 11/4, Ds. Legok Sukamaju, Kec. Kemiri, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Wak Rimah, kerap tetangganya memanggilnya. Sejak tujuh tahun yang lalu Wak Rimah sudah terkena stroke, sebagian tubuhnya tak bisa digerakkan. Awal mula sakitnya adalah setelah Wak Rimah terjatuh di kamar mandi. Wak Rimah segera dilarikan ke rumah sakit oleh suaminya. Setelah diperiksa, Wak Rimah dinyatakan terkena stroke. Karena sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan, Wak Rimah hanya bisa beraktivitas dengan terbatas. Wak Rimah sekarang tidak bisa membantu suaminya mencari nafkah lagi. Sebelum sakit, Wak Rimah bekerja sebagai buruh tani di desanya. Selama ini Wak Rimah membiarkan sakitnya tanpa berobat karena penghasilan suaminya sebagai buruh tani sangat sedikit, untuk makan sehari – hari pun mereka kerap kekurangan. Wak Rimah selama ini tidak mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah. Dua hari yang lalu keadaan Wak Rimah semakin memburuk. Seluruh badanya menjadi tak bisa digerakkan, namun suaminya kembali tak bisa membawanya ke dokter. Melihat kondisi Wak Rimah, Kurir Sedekah Rombongan memberikan bantuan awal untuk biaya berobat ke Dokter. Mudah-mudahan bantuan tersebut bisa bermanfaat dalam pengobatan Wak Rimah, dan mudah-mudahan penyakitnya segera diangkat oleh Allah SWT, amin.

Jumlah Bantuan : Rp.500.000,-
Tanggal : 26 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Wak Rimah sudah terkena stroke dan lumpuh


MARWAN BIN SALID (54, Pembengkakkan Prostat). Alamat : Kap. Pabuaran, RT 2/2, Ds. Buniayu, Kec. Sukamulya, Kab. Tangerang, Prov. Banten. Abah Marwan Sudah dua hari dirawat di RSUD Tangerang pasca menjalani operasi. Kamis, 26 Oktober 2017, tepatnya jam 10 pagi, Abah Marwan menjalani operasi karena terkena prostat. Hal ini terpaksa dilakukan karena kondisi Abah terus menurun. Dalam sehari Abah Marwan bisa berpuluh kali bolak – balik ke kamar mandi. Puncaknya dua minggu yang lalu, Abah Marwan sama sekali tidak bisa buang air kecil, sehingga ia sangat menderita dan kesakitan. Keluarga dibantu tetangga kemudian membawa Abah Marwan ke RSUD dan akhirnya menjalani operasi. Pasca operasi Abah Marwan dianjurkan kontrol setiap tiga hari sekali untuk mengganti selang yang dipasang sebagai alat pembuangan urine sementara. Alhamdulilah selama ini Abah Marwan tidak harus mengeluarkan biaya untuk berobat, karena semuanya ditanggung JKN – KIS kelas III yang dimilikinya. Meski begitu, Abah Marwan dan keluarga tetap kebingungan untuk kebutuhan pengobatan abah selama masih dirawat, dan untuk biaya trasnportasi rawat jalan nantinya. Abah Marwan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya transportasi karena jarak rumahnya ke RSUD cukup jauh. Kurir Sedekah Rombongan merasakan kesusahan yang dirasakan Abah Marwan dan keluarga. Kurir Sedekah Rombongan pun memberikan bantuan awal untuk kebutuhan berobat Abah selama dirawat dan biaya transportasi dan akomodasi kontrol lanjutan. Semoga bantuan tersebut bisa meringankan kesulitan Abah Marwan dan mudah-mudahan penyakitnya segera disembuhkan oleh Allah SWT, amin.

Jumlah Bantuan : Rp. 500.000,-
Tanggal : 26 Oktober 2017
Kurir :@nurmanmlana @endangmplus @pratama_chatur @mistaaja @ririn_restu

Pak Marwan menderita prostat

REKAPITULASI BANTUAN

No Nama Jumlah Bantuan
1 ABDULAH FAISAL 5,000,000
2 MUHAMMAD NUR CHOLIK 1,000,000
3 TERAPI WICARA RS FATMAWATI JAKARTA 3,000,000
4 SURONO BIN ATMOREJO 1,000,000
5 SANDRA WATI 1,000,000
6 JAHROTUL UYUN 500,000
7 MAMDUDAH BINTI TARI 500,000
8 AHMAD SYAFEI 500,000
9 MUHAMMAD FATIH MUZAKI 500,000
10 LATIFAH BINTI SALWAN 1,000,000
11 RINI PERMATASARI 1,000,000
12 NANO BIN RISA 500,000
13 ADE YULIAWATI 500,000
14 MUTIAH BINTI ABDUL MAJID 500,000
15 ULMI YANTI 500,000
16 ROMDONI BIN ENDI 500,000
17 SUMANTA BIN RAPIK 500,000
18 PENGKI BINTI JASIH 500,000
19 SITI NURAYUNI 500,000
20 DESI SUPIYANTI 500,000
21 NIJAR BIN WAHYUDI 500,000
22 KASREM BINTI WIRYO 500,000
23 ONEH KARSINAH 500,000
24 MINI MURSINAH 500,000
25 SOLICHATUN BINTI NASIR 500,000
26 HENDRI HERDIANSAH 500,000
27 ISWAH YUDI 1,000,000
28 MUHAMMAD RAFI FIRMANSYAH 500,000
29 ARI KASAN 500,000
30 RASIH SARAGENI 500,000
31 MAR’I BAI 500,000
32 SAHIB SARAGENI 500,000
33 MAD SIRA 500,000
34 ADUNG JAYA 500,000
35 SITI SARAGENI 500,000
36 JASID CIPANCUR 500,000
37 JANI SIMIN 500,000
38 SAMINAH EMED 500,000
39 MUHAMMAD RIFKIANSYAH INDRA BEKTI 1,000,000
40 DIMAS DWI NUGROHO 1,000,000
41 IRWANSYAH BIN ERMANULAMSYAH 1,000,000
42 SURONO BIN ATMOREJO 1,000,000
43 IRWANSYAH BIN ERMANULAMSYAH 1,000,000
44 TUTI ALAWIYAH 1,000,000
45 NIRAH MISTA 1,000,000
46 MARDIANSYAH BIN KARTA 1,000,000
47 SA’ANAH WAJI 1,000,000
48 SADIAH BINTI DARSA 500,000
49 MASBUN BIN ADAM 500,000
50 SUDIN BIN SAIMUN 500,000
51 RIMAH BINTI ABDUL 500,000
52 MARWAN BIN SALID 500,000
Total 40,500,000

----------------------------------------------------------------------------

Jumlah bantuan Rombongan ini : Rp. 40,500,000,-

TOTAL SEDEKAH YANG SUDAH DISALURKAN

DALAM Rombongan 1075 ROMBONGAN

Rp. 57,084,254,810,-

Mau bantu Mereka?
Silahkan transfer ke rekening SedekahRombongan

Bank BCA a/c 84655-23456
Bank Mandiri a/c 137-00111-0011-8
Bank Syariah Mandiri a/c 4111-4111-45
Bank Muamalat a/c 532-000-6666
a/n Sedekah Rombongan

Takkan berkurang harta yang disedekahkan. Ia justru akan bertambah..bertambah dan bertambah...


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *